Jujur, saya terkejut luar biasa tatkala mendengar informasi, serombongan manusia KAYA RAYA dan ber-PENDIDIKAN TINGGI, yang menggunakan motor mewah Harley Davidson, menerobos masuk jalan tol Jagorawi. Imajinasiku langsung melayang ke dalam kepala para pengendara lain dan khususnya petugas pintu tol.
Petugas jalan tol:
“Maaf, motor dilarang masuk jalan tol! Apakah bapak-bapak tidak melihat papan aturan yang jelas-jelas menuliskan aturan tersebut?”
Petugas tersebut bertanya dengan penuh sopan santun sambil menunduk-nunduk, saking hormatnya kepada para PENGGEDE tersebut.
Kepala suku Harley:
“Ya saya tahu! Tapi kamu tahu tidak siapa saya?”
Lelaki setengah baya yang tampaknya kepala rombongan HD itu, membuka helmnya, lalu turun dan mencengkeram kerah baju petugas jalan tol.
Mendapatkan reaksi yang sudah terduga tersebut, sang petugas kaget bukan kepalang (Karena dia merasa sudah bertanya dengan sangat sopan. Biasanya, kalau ada sepeda motor atau sepeda ontel atau tukang siomay mencoba masuk tol, dia akan memperlihatkan kegagahannya dan kecongkakannya. Tidak kalah dibanding kepala suku HD itu).
Petugas jalan tol:
“Oh maaf… pak, kalau saya tidak mengenal bapak. Tapi aturannya begitu pak. Motor dilarang melintas di jalan tol…”
Makin merunduklah petugas ini, meski di belakangnya ada beberapa anak buah yang siap mendukungnya.
Kepala suku HD:
“Kamu berani melarang saya lewat… saya bisa membuat kamu tidak punya pekerjaan lagi tahu. Saya bisa telpon bos kamu, biar kamu di-PHK.”
Ancaman yang sadis, mengandung intimidasi dan teror mental luar biasa. Membuat hati para petugas jalan tol ciut. Mereka tidak biasa menghadapi teror semacam itu. Bahkan tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus, untuk menghadapinya.
Karena takut kehilangan pekerjaan atau alasan tidak masuk akal lainnya, maka meski melewati sedikit hadangan – para pengendara motor mewah, status sosial A dan A+, pendidikan minimal S1 plus plus juga, bahkan sebagian mungkin levelnya di atas S3 – bisa melenggang gembira mencicipi jalan tol. Mereka tidak peduli dengan cibiran para pengendara roda empat, roda enam atau roda 12 yang masih waras otaknya.
Itu imajinasiku yang pertama. Khayalan yang kedua adalah para petugas sudah mendapatkan ‘perintah’ dari atasannya, untuk membiarkan para PEMBESAR dan DEN BAGUS itu lewat. Soalnya, mereka sudah lebih dulu mengancam atasan petugas jalan tol itu. Imajinasi lainnya, petugas jalan tol mendapatkan sogokan! Mungkin mereka berjanji akan meminjamkan sepeda motor idaman tersebut, barang semenit dua menit digunakan oleh para petugas jalan tol.
Owalah, kok imajinasinya makin ngawur ya…!
Tapi, begitulah di negeri penuh ironi ini. Orang-orang kaya yang tidak ‘waras’ atau meminjam istilah Ronggowarsito “orang gila di jaman edan” akan memenangkan kehidupan. Sedangkan orang terpinggirkan seperti tukang siomay yang setiap hari bekeliling komplek dengan sepedanya, paling banter draw atau seri. Dia sulit memenangkan kehidupan ini. Jangankan lewat di jalan tol, menerobos portal di komplek perumahan saja, dia mengalami kesulitan besar. Dia tidak bisa ‘mengancam’ petugas pembuka portal, sekalipun dengan sogokan sepiring siomay!
yah emang udah lazim Pak di sini ..,yang kaya yang punya kuasa..ya udah kita pasrah aja serahin semuanya kepada Tuhan,biar Tuhan yang membalas,dan jangan lupa berdoa mudah2an kita juga sempet jadi orang kaya biar ga bisa sembarangan ditindas sama mereka…hehe,tar klo mereka nanya ke kita “kamu ga tau siapa saya?” kita bsa jawab ” ngga tuh abis saya ga punya waktu buat mencari tahu anda siapa?hehehe…
Saya yakin, Tya memang bukan orang seperti pengendara Harley Davidson itu. Semoga Anda benar-benar menjadi orang kaya. Kaya harta, kaya ilmu dan kaya hati.