Sejak pertama kali muncul ke muka bumi ini, radio langsung memiliki karakter khas yang tidak dimiliki media lain. Yaitu kecepatan dalam menyampaikan informasi. Disamping ciri khas lain yaitu Theater of Mind dan Personal, kecepatan ini menjadi keunggulan utama radio. Belum ada media lain yang mampu menandinginya, sampai saat ini.
Tapi di Indonesia, kelebihan utama radio tersebut nyaris lenyap. Beberapa radio justru berkolaborasi dengan media televisi, yang tingkat kecepatan penyampaian informasinya masih dibawah radio. Banyak radio yang bangga jika merelay siaran televisi! Jika menilik kecepatan dalam menyampaikan informasi, seharusnya televisi yang merelay radio, bukan sebaliknya. Di beberapa negara maju, relay radio terhadap televisi bukan berupa kumpulan berita atau buletin berita. Mungkin talkshow atau siaran langsung. Jika menyangkut berita, justru banyak televisi yang mengutip radio.
Sebagian radio berkilah, kerja sama relay dengan televisi sangat menguntungkan karena akan meningkatkan image radio tersebut. Pertama, nama radio akan selalu disebutkan oleh penyiar di televisi. Ini promosi yang luar biasa karena jangkauan sebuah stasiun televisi biasanya lebih luas dibanding radio bersangkutan. Kedua, mendapatkan informasi tambahan yang mungkin tidak dimiliki radio tersebut (biasanya bagi radio yang tidak memiliki banyak SDM di bagian redaksi). Tapi, faktor pertama yang lebih kuat, sehingga cenderung mengabaikan kualitas siaran.
Untuk menyusun sebuah paket informasi, televisi membutuhkan waktu berjam-jam. Paling hebat, berita yang muncul di paket buletin berita televisi adalah informasi yang terjadi satu jam sebelumnya. Jadi buat pendengar radio, sesungguhnya informasi tersebut sudah basi, karena radio yang baik akan langsung menyiarkan informasi beberapa saat setelah peristiwanya terjadi.
Saya pernah mendengar sebuah paket berita televisi di radio. Rasanya… lucu sekali. Penulisan naskah televisi tergantung pada gambar. Sedangkan penulisan naskah radio, tergantung pada suara. Dua hal yang bertolak belakang, karena suara tidak bergambar, sedangkan sebagian besar gambar tidak bersuara (kalaupun bersuara, seringkali tidak jelas menggambarkan apa).
Penyiar televisi membacakan naskah… lalu muncullah gambar. Selama 5 detik, penyiar tersebut berhenti bersuara. Gambarlah yang terus ditayangkan. Di radio, 5 detik tanpa suara sudah termasuk kategori dead air. Kondisi ketika ruang udara pendengar Anda sunyi senyap dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa kemungkinan; bisa operatornya lambat memutar paket selanjutnya, bisa karena penyiarnya lupa materi siaran, bisa karena komputernya hang dan lain sebagainya. Tapi kondisi itu sama sekali tidak diharapkan.
Tapi ketika merelay siaran televisi, kondisi itu seringkali terjadi. Tidak mungkin penyiar televisi terus menerus bicara. Dia pasti berhenti pada saat gambar-gambar menarik ditampilkan. Apa menariknya gambar-gambar tersebut buat pendengar radio??? Yang ada hanyalah ruang dengar kosong! Mending jika gambar yang ditampilkan memiliki suara.
Pernah juga saya mendengar relay televisi di radio, yang membuat saya mesem-mesem sendiri. Penyiar televisinya berkata, ”Pemirsa berikut kami tampilkan nama-nama korban kecelakaan tersebut…” Maka muncullah (belasan nama korban di layar diiringi) backsound lagu intrumental selama 10 sampai 15 detik. Yang terdengar di radio hanya backsound musiknya. Gambar yang memperlihatkan nama-nama korban tersebut tidak ada! Lucu sekali relay tersebut…
Lebih gawat (atau lucu?) lagi, karena banyak juga televisi yang menampilkan data semacam itu tanpa diiringi musik instrumental. Jadi selama 10-15 detik, pendengar hanya menikmati angin atau paling banter mendengarkan suara tarikan nafas penyiar televisi. Sangat merugikan! Sangat naif!
Seharusnya, radio itu menyiapkan penyiar di studio yang selalu siap sedia, selama relay siaran berita televisi tersebut berlangsung. Jika televisi hanya memperlihatkan data, diagram, daftar nama dan lain-lain dalam bentuk tulisan/gambar, bisa segera membantu dengan cara membacakannya. Pendengar pasti akan sangat terbantu. Selama ini kami pendengar hanya mampu berimajinasi hehehe…
Kalau radio tanpa suara, bukan radio namanya!
berita tv disiarin di radio. wah… jaka sembung naik ojek.[ gak nyambug jack....]. tapi, sempat terlintas dibenak saya, klo gambar / pernyataan narasumber di tv itu, bisa jadi semacam voice actuality atau sound beat. lalu naskah beritanya dibikin lebih pas untuk telinga. mungkin ini dapat membantu, tapi tak banyak menolong.
soal menambah prestise klo relay tv untuk kepentingan promosi. rasa sekarang jarang, radio perelay disebutin saat acara. paling, logonya nongol setelah kredit title muncul. secara, skr eranya radio lokal plus pengiklan lokal. jadi untuk apa relay brita tv.
Salam,
Betul mas Ary. Jaka Sembung makan dondong. Nggak nyambung dong! Tapi karena GENGSI radio di Indonesia masih dibawah televisi, maka banyak radio yang relaaaa merelay acara televisi.
Ada contoh bagus sebenarnya, yang dilakukan Gen FM. Bentuknya bukan relay, tapi siaran bareng. Lihat acaranya setiap hari Senin – Jumat jam 13.30-14.30 di TVOne. Itu baru kolaborasi yang setara…
Wasalam,
iya mas, itu dulu sambungannya acaranya : angga dan ah..saya lupa penyiar yang satu lagi, klo ga salah nongol di antv [sekarang satu kelompok jadi bisa tuker - tukeran program kali ya ]. sebelumnya juga ada ‘power of abu – abu’ di sctv kolaborasi ama prambors.
tapi, program satu – satunya di tv One kadang kurang mangakomodasi pendengar radio. dalam amatan saya, kalo pas tangga lagu cuma nayangin video klipnya. tampilan di bisa video klip ama tulisan nomor peringkat. tapi klo di radio cuma kedengaran suara potongan klip lagu ama semacam smash gitu.
jadi lebih baik, di bagian itu ditambahin suara agar pendengar tahu posisi / peringkat lagu.
salam
Pak Dodi…! saya adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Swaata di Jakarta. Saya pengen tau, sejarah pertama kaloborasi antara Tv dan Raduio di Indonesia itu sendiri dimulai kapan? PAk Dodi punya referensi tentang hal relay antara tv dan radio yang dapat dibaca,? Saya sedang menyelesaikan Tugas akhir saya, dengan objek penelitian “relay tv dan radio”. sekarang ini sudah banyak statio tv dan radio bekerja sama untuk menyiarkan suatu program acara secara bersama-sama.
Mas Lolo, saya nggak punya tuh datanya. Coba browsing juga belum dapat… Maaf ya.
kebanyakan radio relay dengan televisi itu, hanya untuk berita aja mas… seperti radio daerah / kabupaten sudah saatnya membuat berita sendiri…
Saya setuju dengan Anda.