Ketika saya pertama kali berniat menulis buku, maka tujuan pertama saya adalah INGIN MEMBUKTIKAN bahwa saya bisa menulis buku. Tujuan ini begitu kuat mendorong dan memotivasi saya, untuk mewujudkan buku tersebut. Saya yakin saya bisa. Orang lain bisa kenapa saya tidak?
Berkat tujuan ini, seluruh potensi saya kerahkan untuk mewujudkannya. Sejak dulu, saya yakin setiap apa yang saya inginkan jika dilaksanakan dengan baik, fokus dan selalu memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, maka akan tercapai. Keyakinan ini saya tanamkan dalam diri, dengan selalu merenungkannya setiap hari, lalu diimplementasikan ke dalam tindakan.
Alhamdulillah, tujuan itu tercapai dalam tempo yang tidak terlalu lama. Benar kata para penulis buku The Secret atau The Law of Attraction, jika kita punya tujuan dan fokus pada tujuan itu dalam HATI, UCAPAN dan TINDAKAN, maka seluruh alam akan mendukung. Ada saja pihak yang tertarik mendukung tujuan saya tersebut. Mulai dari teman pengusaha, teman sepermainan sampai teman baru di penerbitan.
Nah, bagi Anda yang sekarang masih belum ‘mampu’ mewujudkan bukunya, alangkah baiknya jika kembali merenungkan apa tujuan membuat buku tersebut. Terserah Anda, yang penting tujuan itu mampu memberikan motivasi kuat. Seperti dalam artikel terdahulu, saya meyebutkan banyak sekali manfaat tulisan/buku bagi setiap profesi, mulai dari karyawan sampai pengusaha. Bisa saja manfaat-manfaat itu dijadikan tujuan. Dan tujuan itu, jika sudah tercapai, bisa berubah dengan tujuan baru untuk buku berikutnya.
Setelah tujuan INGIN MEMBUKTIKAN bahwa saya bisa menulis buku tercapai, untuk buku-buku berikutnya saya mengubah tujuan tersebut. Yaitu MENJADIKAN MENULIS BUKU sebagai profesi. Tujuan yang satu ini makin menguatkan motivasi menulis, karena yakin potensi bidang ini sangat menjanjikan. Saya terlecut untuk membuktikan, bahwa menulis buku memang bisa menjadi profesi, setara dengan profesi lainnya. Kasarnya, kalau saya tidak menulis buku, maka saya dan keluarga tidak bisa makan!
So, segera rumuskan tujuan menulis buku Anda, agar semakin terpacu untuk mewujudkannya. Kian kuat tujuan itu tertanam dalam jiwa, semakin giat pula kita menulis buku. Sebaliknya, jika tujuannya hanya ALA KADARNYA, maka proses menulis pun akan ALA KADARNYA = jadi syukur, tidak jadi ya tidak apa-apa!
Kalau itu yang terjadi, lebih baik LUPAKAN keinginan memiliki buku sendiri!
Selamat menulis buku!
Dodi Mawardi
Mentor Menulis Profec Author Club