Feeds:
Tulisan
Komentar

Archive for Juli, 2008

Ketika mendapatkan ide, sebagian calon penulis bersorak gembira, karena ternyata mencari ide yang layak menjadi tulisan tidak mudah. Tapi bagi sebagian calon penulis lainnya, justru sebaliknya. Dia tetap tidak bergembira meski ide sudah didapat. Kenapa? Dia bingung setelah mendapatkan ide, so what?! “Mau mulai dari mana?”

Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan dari mereka yang berniat menulis buku, tentang tahapan selanjutnya setelah memiliki ide. Bahkan, sebagian dari mereka mengatakan, bukan hanya punya ide tapi sudah punya bahan buku yang lengkap. Sebagian masih ada dalam kepala, sebagian lagi bahan-bahan itu berserak dalam berbagai bentuk. Tapi… “Saya mulai dari mana?” tanya mereka.

Apa jawaban saya untuk pertanyaan semacam itu?
Biasanya saya akan menjawab sekenanya, “Ya tulis aja semuanya!”
Hehehe… “Jawaban sadis,” ujar mereka.

Tapi memang sesungguhnya itulah jawaban terbaik. Mulai saja menulis. Apalagi jika bahannya sudah ada di kepala dan sudah dikuasai. Apalagi yang ditunggu? Tulis saja semuanya sampai habis. Urusan lain belakangan. Urusan bukunya akan menjadi apa, belakangan. Urusan struktur bukunya seperti apa, nanti saja. Yang penting, semua bahan tersebut sudah terikat dalam bentuk TULISAN.

Besok atau lusa kena penyakit lupa, kena gegar otak atau bahannya lenyap ditelan bumi, baru tahu!!! Apakah kita yakin semua bahan yang sekarang dimiliki akan terus bersama kita? Hanya tulisan yang bisa mengikat semuanya!

Secara teori, tahap selanjutnya dalam menulis buku setelah penemuan ide adalah pengembangan ide. Agar, apa yang akan kita tulis mencakup semua hal terkait ide awal. Jangan sampai terlewatkan yang mengakibatkan tidak komprehensifnya buku yang akan kita buat. Dalam pengembangan ide, biasanya kita akan menggali semua hal yang berhubugan dengan ide tersebut. Misalnya, seorang guru punya ide menulis tentang cara pengajaran terbaik. Ide ini bisa dikembangkan dengan berbagai metode, seperti pohon ide atau mind mapping. Atau tulis saja semuanya seperti dicontohkan dibawah ini.

Cara pengajaran terbaik akan mengupas:
1. Gurunya itu sendiri, pengalaman sendiri.
2. Sekolahnya.
3. Ruang kelas.
4. Siswanya.
5. Materi pelajaran.
6. Cara mengajar.
7. Dasar-dasar yang harus dimiliki.
8. Cara pengajaran yang umum selama ini.
9. Perbandingan cara pengajaran.
10. Contoh dari pihak lain, negara lain, berbagai sekolah.
11. Contoh cara-cara pengajaran terbaik.
12. Hasil pengajaran dengan cara terbaik ini.
13. dst

Keluarkan semuanya sampai mentok. Jangan ada yang terlewat. Pikirkan lagi, gali dan terus kembangkan. Ada yang mirip-mirip, tidak masalah. Tulis saja semuanya. Kembangkan terus.

14. Pengalaman beberapa siswa yang mendapatkan pengajaran terbaik.
15. Perbandingan pengalaman siswa terbaik dan bukan terbaik.
16. Pengalaman guru terbaik dan bukan terbaik.
17. Langkah demi langkah cara pengajaran terbaik.
18. apalagi…

Sudah mentok?
Kalau sudah mentok, baru kita berhenti mengembangkan ide. Biasanya ketika kita kembali membaca hasil pengembangan ide ini, akan muncul ide-ide lainnya. Tidak masalah, tulis saja. Nanti akan kita pilah-pilah lagi, mana yang bisa benar-benar menjadi bagian dari buku ini atau tidak.

Tahap ini sepertinya sepele dan gampang. Toh hanya mengeluarkan point-pointnya saja. Tapi, karena sepele dan gampang, banyak yang menyepelekan dan mengabaikannya. Akibatnya fatal, bukunya tidak jadi-jadi, karena bingung memulai dari mana, seperti pertanyaan di atas.

So, jangan lupa mengembangkan ide.
Selamat mencoba!

Dodi Mawardi
Mentor Menulis Profec Author Club

Read Full Post »

Pada tahap pertama, saya sudah mewanti-wanti agar kta memiliki tujuan khusus dalam menulis buku. Tujuan itu punya dampak yang sangat kuat dalam memotivasi kita untuk menyelesaikan buku tersebut. Bukan rahasia lagi, kalau kita bukan penulis profesional maka banyak kendala ketika hendak menuntaskan buku itu. Maka tujuan khusus yang spesifik akan mampu mengurai berbagai kendala. Penulis profesional juga punya banyak kendala, sama seperti Anda, tapi semua kendala itu musnah karena tuntutan profesi.

Setelah memiliki tujuan yang jelas, langkah selanjutnya adalah memilih tema apa yang akan ditulis. Biasanya, ini beriringan dengan tujuan. Bisa saja tujuan baru muncul setelah punya ide. Atau sebaliknya. Bagi kita penulis pemula, lebih baik punya ide dulu baru kemudian merumuskan tujuan untuk memerkuat ide tersebut. Tapi, bukan berarti keinginan untuk berbagi sebagai tujuan, tidak bisa dilakukan lebih awal. Banyak penulis yang memang ingin berbagi, meski belum punya ide yang jelas.

Banyak orang yang bingung dan mengatakan tidak punya ide.
“Mau menulis apa?”
“Saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa.”
“Siapa yg mau membaca tulisan saya?”
Itu semua merupakan keluhan para pecundang. Saya yakin orang optimis selalu punya sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Saya juga yakin Anda adalah orang optimis.

PERTAMA, lihatlah diri sendiri.
1. Pengalaman.
Setiap kita pasti memiliki pengalaman. Coba ceritakan pengalaman Anda kepada anak, istri/suami, sodara atau teman. Adakah yang mau mendengarkan pengalaman Anda? Kalau masih ada yang mau berarti pengalaman Anda menarik, dan mungkin bermanfaat. Tentu saja pengalaman yang menarik dan bermanfaat akan menjadi sebuah ide buku yang potensial.
Bahkan pengalaman yang sebelumnya dianggap biasa saja, bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa. Apalagi pengalaman luar biasa! Seorang anak kecil korban perang dunia kedua yang menuliskan pengalamannya selama dalam pengejaran Nazi, menjadi buah bibir setelah anak itu meninggal. Anne Frank demikian nama gadis beli tersebut, menuliskan semua pengalaman sehari-harinya dalam sebuah diari. Dan diari tersebut kemudian menjadi buku laris.

2. Prestasi.
Kalau Anda punya prestasi, ceritakanlah prestasi itu kepada orang lain. Niatkan tulisan tersebut agar menjadi contoh buat orang lain, sehingga bisa berprestasi seperti Anda. Jangan takut terlampaui orang lain. Orang paling berprestasi adalah yang mampu mencetak sebanyak mungkin orang lain yang lebih berprestasi.

3. Keahlian.
Anda punya keahlian? Yes… jaman sekarang kalau tidak punya keahlian, bakal terlindas persaingan. Keahlian adalah modal. Modal menjalani kehidupan. Nah, dalam menulis ternyata keahlian menjadi salah satu ide yang paling potensial. Ceritakanlah seluruh keahlian Anda dalam sebuah buku. Dan yakinlah orang lain yang mengambil manfaat dari keahlian tersebut. Lihatlah di toko buku, banyak buku yang berisi tentang keahlian penulisnya. Ada buku tentang cara menjual, cara membangun rumah, dekorasi, komputer dan lain sebagainya. Semua melulu tentang keahlian. Apa keahlian Anda? Segera bagi kepada orang lain melalui tulisan! Saya sedang melakukannya…

4. Ide/pikiran/gagasan.
Jika Anda tidak punya pengalaman (sebenarnya mustahil), atau tidak punya keahlian (kebangetan kalau ini terjadi), jangan khawatir. Masih ada hal lain yang bisa menjadi ide tulisan menarik yaitu ide atau gagasan. Manfaatkan ilmu yang Anda miliki untuk menggagas sebuah hal. Atau sekedar mengomentari/membahas hal yang Anda sukai. Banyak buku yang berisi hanya ide atau gagasan saja (teori) dari penulisnya. Anda punya peluang untuk itu.

Empat hal itu berasal dari diri sendiri. Sesungguhnya masih banyak yang lainnya jika Anda bisa mengeksploitasi diri sendiri.

KEDUA, lihat orang sekitar.
Apa yang menarik pada orang sekitar Anda? Sama seperti dari diri sendiri, biasanya yang menarik dari orang lain adalah pengalaman, keahlian atau prestasi mereka.

Beberapa peserta workshop menulis yang masih bingung dengan dirinya sendiri, mengajukan ide menulis tentang orang lain. Ada yang ingin menulis biografi tokoh idolanya, ada juga yang mau menceritakan sosok kenalannya yang sangat inspiratif. Bahkan ada yang mengisahkan perjalanan ibunya sendiri, dilengkapi dengan cerita perjuangan ibu-ibu yang lain. Tak usah berkecil hati, ide semacam itu tetap menarik. Lihatlah serial Chicken Soup! Isinya adalah cerita inspiratif tentang orang lain.

KETIGA, sudahlah dari 2 sumber itu saja sudah cukup banyak ide yang bisa tergali. Jika Anda sungguh-sungguh mau menulis dan sudah punya tujuan untuk itu, saya yakin dari sumber diri sendiri dan orang sekitar saja, pasti akan muncul belasan ide.

Jadi, tidak ada alasan tidak punya ide untuk menulis.
Selamat menulis buku!

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.731 pengikut lainnya.