Ketika mendapatkan ide, sebagian calon penulis bersorak gembira, karena ternyata mencari ide yang layak menjadi tulisan tidak mudah. Tapi bagi sebagian calon penulis lainnya, justru sebaliknya. Dia tetap tidak bergembira meski ide sudah didapat. Kenapa? Dia bingung setelah mendapatkan ide, so what?! “Mau mulai dari mana?”
Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan dari mereka yang berniat menulis buku, tentang tahapan selanjutnya setelah memiliki ide. Bahkan, sebagian dari mereka mengatakan, bukan hanya punya ide tapi sudah punya bahan buku yang lengkap. Sebagian masih ada dalam kepala, sebagian lagi bahan-bahan itu berserak dalam berbagai bentuk. Tapi… “Saya mulai dari mana?” tanya mereka.
Apa jawaban saya untuk pertanyaan semacam itu?
Biasanya saya akan menjawab sekenanya, “Ya tulis aja semuanya!”
Hehehe… “Jawaban sadis,” ujar mereka.
Tapi memang sesungguhnya itulah jawaban terbaik. Mulai saja menulis. Apalagi jika bahannya sudah ada di kepala dan sudah dikuasai. Apalagi yang ditunggu? Tulis saja semuanya sampai habis. Urusan lain belakangan. Urusan bukunya akan menjadi apa, belakangan. Urusan struktur bukunya seperti apa, nanti saja. Yang penting, semua bahan tersebut sudah terikat dalam bentuk TULISAN.
Besok atau lusa kena penyakit lupa, kena gegar otak atau bahannya lenyap ditelan bumi, baru tahu!!! Apakah kita yakin semua bahan yang sekarang dimiliki akan terus bersama kita? Hanya tulisan yang bisa mengikat semuanya!
Secara teori, tahap selanjutnya dalam menulis buku setelah penemuan ide adalah pengembangan ide. Agar, apa yang akan kita tulis mencakup semua hal terkait ide awal. Jangan sampai terlewatkan yang mengakibatkan tidak komprehensifnya buku yang akan kita buat. Dalam pengembangan ide, biasanya kita akan menggali semua hal yang berhubugan dengan ide tersebut. Misalnya, seorang guru punya ide menulis tentang cara pengajaran terbaik. Ide ini bisa dikembangkan dengan berbagai metode, seperti pohon ide atau mind mapping. Atau tulis saja semuanya seperti dicontohkan dibawah ini.
Cara pengajaran terbaik akan mengupas:
1. Gurunya itu sendiri, pengalaman sendiri.
2. Sekolahnya.
3. Ruang kelas.
4. Siswanya.
5. Materi pelajaran.
6. Cara mengajar.
7. Dasar-dasar yang harus dimiliki.
8. Cara pengajaran yang umum selama ini.
9. Perbandingan cara pengajaran.
10. Contoh dari pihak lain, negara lain, berbagai sekolah.
11. Contoh cara-cara pengajaran terbaik.
12. Hasil pengajaran dengan cara terbaik ini.
13. dst
Keluarkan semuanya sampai mentok. Jangan ada yang terlewat. Pikirkan lagi, gali dan terus kembangkan. Ada yang mirip-mirip, tidak masalah. Tulis saja semuanya. Kembangkan terus.
14. Pengalaman beberapa siswa yang mendapatkan pengajaran terbaik.
15. Perbandingan pengalaman siswa terbaik dan bukan terbaik.
16. Pengalaman guru terbaik dan bukan terbaik.
17. Langkah demi langkah cara pengajaran terbaik.
18. apalagi…
Sudah mentok?
Kalau sudah mentok, baru kita berhenti mengembangkan ide. Biasanya ketika kita kembali membaca hasil pengembangan ide ini, akan muncul ide-ide lainnya. Tidak masalah, tulis saja. Nanti akan kita pilah-pilah lagi, mana yang bisa benar-benar menjadi bagian dari buku ini atau tidak.
Tahap ini sepertinya sepele dan gampang. Toh hanya mengeluarkan point-pointnya saja. Tapi, karena sepele dan gampang, banyak yang menyepelekan dan mengabaikannya. Akibatnya fatal, bukunya tidak jadi-jadi, karena bingung memulai dari mana, seperti pertanyaan di atas.
So, jangan lupa mengembangkan ide.
Selamat mencoba!
Dodi Mawardi
Mentor Menulis Profec Author Club
Di tunggu bukunya Dod. Thank 4 the comment. Kalau ada proyek2 kabari ya. hehehe