Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Televisi Kita’ Kategori

Komentator Sepakbola TV, Bukan Orang Sembarangan Sebuah pelajaran berharga untuk pengelola televisi di tanah air, dalam memilih komentator atau pengamat sepakbola. Pada tayangan pertandingan persahabatan antara Indonesia vs Palestina, Senin 22 Agustus 2011 kemarin, pelajaran itu sangat terasa kentalnya. SCTV dengan berani memilih Nus Tuanakota sebagai penyiar yang melaporkan langsung pertandingan tersebut. Terasa sangat berbeda [...]

Untuk mentranslate bahasa

“Saya punya istri tiga…” ujar seorang lelaki muda mulai bercerita tentang kisah hidupnya. Maka mengalirlah sebuah kisah dramatis berakhir pilu, tentang dia dan keluarganya. Perjalanan hidupnya pasti mengundang iba, karena dipenuhi dengan duka dan air mata. Dijamin, siapapun yang menyimak kisahnya akan ikut merasakan betapa pahitnya nasib lelaki tersebut. Kisah ini dihadirkan sebuah stasiun televisi [...]

Untuk mentranslate bahasa

“Rekan Achir, silahkan dengan laporan Anda,” ucap pembawa acara Liputan 6, Duma. “Baik, Duma terima kasih. Saat ini, saya sedang berada di kawasan…” Cuplikan dialog di atas merupakan salah satu penggalan proses laporan langsung berita di sebuah stasiun televisi. Sudah menjadi kebiasaan kebanyakan stasiun televisi atau radio, untuk berdialog atau membuat semacam kata pengantar sebelum [...]

Untuk mentranslate bahasa

Rabu malam kemarin (Rabu, 12 November 2008) saya terpaksa melek lebih lama dari biasanya. Ghalibnya saya memejamkan mata sebelum jam 12 malam. Tapi kali ini tidak. Saya membuka mata dan menuliskan curahan hati ini sampai lewat jam 1 malam, karena tidak mampu menahan gejolak. Tengah malam itu, SCTV menampilkan diskusi yang sangat menarik, pengaruh media [...]

Untuk mentranslate bahasa

“Halo pemirsa apa kabar? Aduh semoga Anda semua baik-baik saja hari ini…Dan akan lebih baik lagi karena sekarang Anda ditemani oleh saya… dalam acara kesayangan kita semua…” Sapaan semacam itu mungkin terasa biasa saja. Toh hampir semua penyiar televisi memberikan sapaan itu, setiap kali membuka acara hiburan. Tapi, sapaan itu menjadi istimewa karena yang menyampaikannya [...]

Untuk mentranslate bahasa

Wartawan Malas

Saya punya mentor jurnalistik yang sangat hebat. Namanya Andreas Harsono. Beberapa tahun silam, saya sering berkomunikasi langsung dengannya. Satu hal yang saya ingat betul pelajaran berharga darinya adalah… janganlah jadi wartawan yang pemalas. Jadilah wartawan yang rajin, selalu ingin tahu tapi tidak sok tahu, dan anggaplah pembaca/pendengar/pemirsa kita adalah orang-orang pintar. Sampai sekarang, wejangan itu [...]

Untuk mentranslate bahasa

Sulit, bahkan mungkin sangat sulit menemukan sebuah keluarga tanpa televisi di rumahnya. Anda pasti harus masuk ke pelosok kampung paling terpencil, baru menemukan sebuah rumah tanpa televisi – kalau Anda beruntung. Faktanya menunjukkan demikian, karena televisi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Bahkan mereka yang belum masuk kategori modern pun, atau yang ikut-ikutan [...]

Untuk mentranslate bahasa

Orang yang satu ini boleh disebut sebagai salah satu pentolan hebat di dunia pertelevisian. Jabatan-jabatan bergengsi pernah digenggamnya di sejumlah stasiun televisi swasta nasional. Dia memang punya kemampuan lebih khususnya pada program-program berita dibanding SDM lain di Indonesia. Setiap program berita atau informasi yang dikemasnya, selalu mendapatkan respon positif dari masyarakat. Padahal dia sendiri tidak [...]

Untuk mentranslate bahasa

Sastrawati: Televisi adalah Candu!

 Sebenarnya saya sebal dengan sastrawati yang satu ini. Dia menulis beberapa novel dengan isi yang tidak mendidik bangsa ini, untuk menghormati budaya luhur dan tata krama sopan santun. Dia justru menulis cerita yang terlalu berat dengan budaya Amerika, yang bebas dan individualistis. Tapi dia juga kebablasan dalam mencerna budaya bangsa lain tersebut. Karena di Amerika [...]

Untuk mentranslate bahasa

Saya Tidak Mau Bekerja di Stasiun TV

Saya tidak mau bekerja di stasiun teve!  “Saya tidak mau bekerja di televisi!” “Kenapa?” tanya beberapa teman. “Karena saya menganggap televisi terlalu banyak racunnya.” “Ah masa? Bukannya karena selalu gagal mau masuk kerja kesana?” sergah kawan lainnya. Saya memang pernah sekali melamar ke sebuah stasiun televisi mengharapkan menjadi tenaga reporter di sana. Tapi gagal bersaing [...]

Untuk mentranslate bahasa

Tulisan yang Lebih Tua »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.