Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘naskah radio’

Berikut ini daftar media massa yang saya anggap lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya:

1. Smart FM: Menempati urutan pertama, karena isi siarannya penuh dengan ilmu pengetahuan, motivasi dan manfaat lainnya. Nyaris tidak ada mudharat dalam siarannya. Mereka juga tidak berafiliasi kepada kekuatan kelompok tertentu. Slogannya, “Spirit of Indonesia.”

2. Kompas: Tak bisa dimungkiri, Kompas merupakan media massa utama di negeri ini. Isi beritanya tidak pernah ekstrim, baik kanan, kiri maupun ektrim terhadap siapapun. Kecuali apa yang mereka anggap tidak benar, seperti dalam kasus Nurdin Halid dan PSSI-nya. Kritikan terhadap pemerintah selalu dilakukan dengan elegan.

3. Majalah Tempo: Media ini sangat kritis, tapi sifat kritisnya dituangkan dengan cara yang sangat cerdas. Isi informasinya penuh manfaat karena pendalaman yang memikat. Meski sangat kritis, sejauh ini majalah Tempo bebas dari kekuatan politik tertentu.

4. Daai TV: Sebuah televisi lokal yang ada di beberapa kota di Indonesia. Siarannya sangat menyejukkan, jauh dari huru hara televisi pada umumnya. Sebagian besar materi siaran berisi manfaat buat publik. Meski dikuasai oleh kelompok tertentu, tapi tetap menampilkan berbagai kepentingan kelompok lainnya.

Anda punya media yang penuh manfaat? Silahkan tambah daftarnya. Makin banyak media massa penuh manfaat, makin baik buat negeri ini.

Wasalam,

Dodi Mawardi
Pengajar Komunikasi UI dan Interstudi

Read Full Post »

“Rekan Achir, silahkan dengan laporan Anda,” ucap pembawa acara Liputan 6, Duma.
“Baik, Duma terima kasih. Saat ini, saya sedang berada di kawasan…”

Cuplikan dialog di atas merupakan salah satu penggalan proses laporan langsung berita di sebuah stasiun televisi. Sudah menjadi kebiasaan kebanyakan stasiun televisi atau radio, untuk berdialog atau membuat semacam kata pengantar sebelum laporan langsung terjadi. Mereka biasanya saling menyebut nama masing-masing, sebagai sapaan yang memperlancar proses dialog.

“Rekan Duma, sampai laporan ini kami sampaikan…” ucap Achir melanjutkan laporannya, “Kembali ditemukan seorang korban tewas…”

Kembali nama anchor disebut reporter dalam laporannya, ketika menjawab pertanyaan anchor. Di beberapa stasiun televisi dan radio, anchor atau penyiar seringkali memberikan pertanyaan lanjutan setelah reporter memberikan laporan langsungnya. Dan celakanya, mereka seperti berdialog berdua dan melupakan para penonton atau pendengar. Si reporter seolah-olah memberikan informasi kepada presenternya, bukan kepada pemirsa.

Mengabaikan Pendengar atau Penonton
Sebuah kesalahan fatal yang sering terjadi ketika reporter di lapangan dan penyiar di studio berdialog. Mereka seolah berbicara berdua saja, sedangkan penonton dan pendengar diabaikan. Padahal, laporan reporter bukan untuk penyiar melainkan bagi kepentingan publik (penonton dan pendengar). Seharusnya, mereka menyapa atau menyebut pemirsa dalam contoh kalimat di atas.

Misal:
“Ya pemirsa, sampai laporan ini kami informasikan kepada Anda, sudah kembali ditemukan satu korban tewas…”

Jadi, meski yang bertanya adalah penyiar, seorang reporter tetap harus memberikan jawaban buat pemirsa, bukan untuk penyiar. Kenapa? Karena mereka siaran untuk publik. Jangan pernah sekali-kali mengabaikan pemirsa.   Mereka butuh disapa, disentuh, dan diwakili kepentingannya. Setiap laporan, setiap informasi, setiap pertanyaan dari kru televisi, selalu dan harus mewakili kepentingan publik. Kita bisa melihat apakah pertanyaan seorang pembawa acara atau reporter, berkualitas atau tidak, dari isinya. Jika isinya mewakili pertanyaan publik, kita pasti akan senang dan menganggap pertanyaannya berkualitas. Sebaliknya, jika pertanyaannya kebanyakan pertanyaan titipan dari yang berkepentingan (bukan publik) yang biasanya tidak mewakili publik, kita pasti kecewa dan menganggap pertanyaannya tidak bermutu.

Demikian pula ketika reportase langsung. Seorang penyiar dan reporter di lapangan, seyogyanya berbicara kepada pemirsa mereka, bukan asyik berdialog antar mereka sendiri. Apalagi melaporkan apa yang dilihat, didengar dan diperolehnya di lapangan, untuk presenter di studio.

Salah kaprah!

Dodi Mawardi
Penulis, Pengajar dan Pengamat Media Mass Elektronik

Read Full Post »

“Demikian tadi sebuah lagu yang sangat indah dari Gita Gutawa berjudul Tak Perlu Keliling Dunia…”

Suara penyiar sebuah radio terdengar nyaring memberi tahu audiens tentang sebuah lagu yang baru saja berkumandang. Terdengar normal dan wajar. Sebagai pendengar, kita biasa disuguhi informasi tentang sebuah lagu. Meski kadang, banyak juga penyiar dan radio yang alpa memberi tahu judul lagu dan penyanyinya.

Tapi tahukah Anda bahwa informasi penyiar di atas membuat sejumlah orang bermuram durja? Siapa mereka? Coba Anda ingat-ingat siapa sajakah yang terlibat dalam proses pembuatan sebuah lagu? Dalam buku “Hits Maker, Panduan Lengkap Menjadi Produser Rekaman Jempolan” karya pemilik Musica Studio Sendjaja Widjaja, disebutkan banyak sekali pihak yang terlibat, mulai dari produser, penata musik, pemain musik, penyanyi sampai pencipta lagu. Nah, dalam sebagian besar siaran di radio, penyiar biasanya hanya menyebut nama penyanyi dan lagunya. Lalu bagaimana dengan pencipta lagunya?

Inilah yang menjadi penyebab murungnya para pencipta lagu. Karya mereka, buah kerja kreatif mereka, seolah-olah tidak diakui dan tidak dihargai. Yang melonjak popularitasnya hanyalah judul lagu dan penyanyinya. Sedangkan pencipta lagu, bagaikan habis manis sepah dibuang. Tak diperhitungkan sama sekali. Padahal, tanpa mereka tidak ada lagu tersebut.

Bandingkan dengan tayangan lagu di televisi. Sebut saja video klip yang banyak sekali muncul di berbagai stasiun televisi. Beberapa detik video klip tersaji sudah muncul sederet kalimat pemberitahuan kepada pemirsa, apa judul lagunya, siapa penyanyinya, recording company-nya plus nama pencipta lagunya. Lengkap. Pemberitahuan ini kembali diulang menjelang berakhirnya video klip tersebut. Sedangkan di radio tidak. Kenapa ya? Padahal, sejumlah pakar menyebut salah satu karakteristik radio adalah identik dengan musik. Tapi penghargaan insan radio terhadap musik tidak sebaik televisi.

Kasus Iwan Fals

Awal 2010 ini, penyanyi legendaris Iwan Fals mendapatkan cobaan lagi. Dia dituduh mengabaikan hak pihak lain karena mengklaim lagu “Bencana Alam” yang sering dinyanyikannya sebagai hasil karyanya sendiri. Padahal lagu itu merupakan karya Totok Gunarto. Dalam berbagai kesempatan, terutama ketika tampil di televisi, lagu tersebut ditulis sebagai ciptaan Iwan Fals. Totok Gunarto menggugat Iwan Fals dan meminta ganti rugi.

Jika menilik kasus tersebut – tak peduli apakah Iwan Fals benar atau salah – kita bisa belajar banyak. Bangsa ini memang harus belajar menghormati dan memahami hak cipta orang lain. Lebih khusus lagi buat media massa yang seharusnya menjadi penggerak utama sosialisasi dan edukasi berbagai hal untuk masyarakat. Radio memegang peranan kunci dalam hal edukasi tentang hak atas kekayaan intelektual bidang musik.

Alangkah indahnya jika setiap penyiar radio memahami hal ini, dan selalu menyebutkan sebuah lagu tidak hanya judul dan penyanyinya saja melainkan juga pencipta lagunya. Jangan hanya pencipta lagu yang terkenal sekelas Melly Guslaw, Beby Romeo, Dewiq atau Anang, yang disebutkan. Tapi pencipta lagu lain pun tetap disebutkan karena ada hak melekat pada setiap mereka atas lagu ciptaannya.

Seperti juga di televisi, sebaiknya setiap radio, setiap penyiar, menyebutkan judul, nama penyanyi dan penciptanya plus kalau perlu dengan perusahaan rekamannya, sebelum dan setelah lagu itu diputar. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebutkannya. Kecuali jika radio dan penyiarnya tidak mau belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi dalam menghargai karya orang lain.

Ciputat, 17 Februari 2010.

Read Full Post »

Mata Kuliah Produksi Berita Radio

Merancang News Buletin
– Konten/Isi Buletin
– Kemasan Isi Buletin
– Presentasi Buletin
– Benang merah Buletin
– Waktu penayangan
– Durasi

Konten/Isi Buletin
– Berita pendek
– Berita pendek berinsert
– Laporan langsung (live report)
– Interview
– Laporan panjang (News Feature, Feature, Investigasi dll)
– Editorial
– Dll

Kemasan Isi Buletin
– Dengan latar musik
– Tanpa latar musik
– Dengan banyak news reader
– Tanpa news reader
– Dengan banyak smash tune
– Tanpa smash tune
– Dll

Presentasi Buletin
– Live
– Recorded
– Satu penyiar (anchor/newspresenter)
– Dua penyiar atau lebih
– Dilengkapi dengan tune (Opening, Bridging, Closing dll)
– Tanpa tune
– Gaya bahasa
– Cara penyampaian

Benang Merah Buletin
– Ada benang merah (tema tertentu yang mendominasi)
– Tanpa benang merah (tidak ada tema isi buletin yang sama)
– Susunan/urutan berita
Waktu Penayangan
– Pagi, siang, sore atau malam.
– Sekali sehari
– Setiap jam
– Sekali sepekan?

Pertimbangan waktu penayangan adalah kebiasaan pendengar radio masing-masing.

Durasi
– 5 menit
– 10 menit
– 15 menit
– 30 menit
– 45 menit
– 60 menit

Pertimbangan durasi:
– Segmen pendengar, jenis radio, SDM, pengiklan.

Menyusun Urutan Berita
– Nilai berita (penting/menarik)
– Keterkaitan antar berita
– Keterkaitan dengan benang merah buletin
– Alur buletin

Latihan (Urutkan Berita di bawah ini)
Masyarakat lakukan Class Action kasus Situ Gintung.
Pemerintah Indonesia menangkan gugatan atas PT Newmont dalam sengketa divestasi saham.
Potensi konflik pemilu sangat besar.
Konflik Pekerja vs BUMN tahun ini naik.
Tur MU ke Indonesia Belum Jelas Waktunya.
Pemerintah akan bangun kembali Situ Gintung dan relokasi warga.
Gerindra janji berikan 1 laptop 1 mahasiswa jika menangi pemilu
Kepala Bappenas Paskah Suzeta bantah terima dana BLBI.
300 imigran gelap tewas di laut Libya.
3 Diva kebanjiran order pemilu.

“Try not to be a man/woman of success, but rather to be a man of value. ”  Albert Einstein

Read Full Post »

Dulu, banyak pendengar yang tergila-gila pada seorang penyiar radio. Semua itu terjadi hanya karena satu hal, ”Suara indah sang penyiar.” Tidak peduli wanita atau pria, ketika mendengarkan celoteh indah seorang penyiar, kepalanya langsung tidak rasional lagi. Suara itu begitu dekat, begitu hangat, dan sangat menyentuh perasaan. Tidak mendengar suaranya satu hari saja rasanya seperti setahun. Sangat tidak rasional.

Padahal para pendengar tahu, suara seringkali menipu. Di udara memang terdengar sangat merdu, berwibawa, dan memikat hati. Tapi begitu ’copy darat’ kesan indah tersebut sirna, karena ternyata si penyiar bersuara emas tersebut tampangnya tidak sesuai harapan. Beruntung bagi penyiar berwajah lumayan, mereka bisa dengan leluasa menikmati efek positif dari suara emasnya.

Tapi itu dulu. Sekali lagi dulu. Sekarang ceritanya berbeda, walaupun di beberapa kota kecil, kisah di atas masih bisa dijumpai. Kini, sebagian besar radio mulai kehilangan karakter personalnya. Sejumlah radio lebih berorientasi pada iklan ketimbang pendengarnya. Jika dulu pendengar sering dilibatkan dan kerapkali dimanjakan, maka sekarang tidak lagi. Pengelola radio mulai mengabaikan karakter personal yang sesungguhnya menjadi salah satu keunggulan radio dibanding media lain. Dan keunggulan ini tidak dimiliki oleh media massa lain. Mana ada pembaca koran tergila-gila pada wartawan?

Sebagai bukti mulai lenyapnya karakter personal di radio, bisa kita lihat dari dua sisi. Pertama gaya siaran, dan kedua kalimat sapaan kepada pendengar. Gaya siaran sekarang lebih terasa umum, tidak lagi personal. Misal, jumlah penyiar yang mengudara pada sebuah program lebih banyak dua orang ketimbang sendirian. Apalagi pada jam primetime. Bagaimana mungkin karakter personal muncul jika yang siaran berdua? Lebih heboh lagi karena biasanya penyiar yang berduet itu lebih sering asyik berdua ketimbang melibatkan pendengar. Silahkan buktikan sendiri…

Kedua, sapaan mereka kepada pendengar cenderung mengabaikan karakter personal. Ketika saya mendengar radio, maka saya akan sangat senang sekali jika penyiar menyapasaya secara khusus. Itulah mengapa, penyiar radio sering memanggil pendengar dengan kondisi yang berbeda seperti ”Buat kamu yang sedang di jalan, atau mungkin sudah sampai kantor” dll. Tapi banyak radio yang abai, karena menyebut pendengar dalam bentuk jamak. Misal ”Buat Anda semua,” ”Untuk kalian” dan sebagainya. Bagaimana mungkin saya merasa di’personal’kan jika panggilan dari penyiar seperti orang yang sedang berpidato atau ceramah.

Tapi lama-lama saya berpikir juga, apakah para pengelola radio sudah tidak peduli lagi dengan karakter personal?

Read Full Post »

Kala kecil dulu, kita sering dikata-katai oleh orang tua dengan kalimat yang diawali kata ”Jangan…”

”Jangan pergi ke sana!”
”Jangan sentuh itu…”
”Jangan naik ke meja!”

Dan ribuan jenis jangan lainnya. Ternyata, menurut pakar kesehatan dan pertumbuhan anak, kata-kata orang tua terhadap anak seperti itu tidak baik. Terlalu sering mendengar kata jangan, akan membuat pertumbuhan kreativitas anak menjadi lamban. Bahkan, bisa menguburnya sekaligus. Seram sekali! Padahal, maksud orang tua mengatakan ’jangan’ kepada anaknya tentu sangat baik, agar sang anak tidak celaka dan lain sebagainya.

Nah, kata-kata jangan pun, sampai sekarang masih terngiang di telinga kita, khususnya di telingan Anda yang suka mendengar radio atau menonton televisi. Silahkan simak kata-kata penyiar radio/tv sebelum iklan atau jeda, ”Pendengar jangan kemana-mana ya, kami pasti akan kembali!” Begitu biasanya para penyiar dengan sangat pede memberi perintah kepada pendengar setianya.

Apakah pendengar menuruti kata penyiar tersebut? Survey kecil-kecilan saya menunjukkan, bahwa sebagian besar tidak menuruti perintah itu. Saya sendiri termasuk yang muak dengan perintah penyiar semacam itu. Sambil memindahkan frekuensi radio/tv, saya berkata dengan keras, ”Terserah saya mau pindahin ke mana!”

Dulu waktu kecil saya tidak berani mengatakan penolakan semacam itu kepada orang tua, yang sering mengatakan kata ”Jangan.” Tapi itu dulu, tidak berani karena masih kecil. Penolakan hanya dilakukan dengan perilaku saja, tanpa kata-kata. Sekarang ketika sudah dewasa masih diperintah dengan kata ”Jangan” oleh penyiar radio, tentu penolakannya berbeda. Selain dengan tindakan, juga dengan kata-kata kesal hehehe.

Beberapa stasiun radio dan televisi sudah menyadari kebiasaan buruk penyiar tersebut, sehingga mereka membuat aturan: Penyiar dilarang mengucapkan kata ”Jangan kemana-mana…” Tapi stasiun radio dan tv lainnya tidak peduli. Mereka tidak mau tahu bahwa pendengar/penonton sangat kejam. Begitu hatinya tersinggung, taruhannya adalah frekuensi dipindah atau radio/tv-nya dimatikan. Kejam bukan?!

Seperti pendapat para pakar kesehatan dan pertumbuhan anak, kata-kata perintah seperti ”Jangan” tidak baik pengaruhnya terhadap manusia. Kata ini punya sifat memerintah orang lain untuk tunduk pada perintah tersebut. Kata ”Jangan” hanya efektif jika yang memberikan perintah punya kedudukan lebih tinggi dibanding yang diperintah, seperti presiden terhadap para menterinya, atau raja kepada para pembantunya. Apakah penyiar setara dengan presiden atau raja dan pendengar adalah menteri atau pembantunya? Anda sudah tahu jawabannya bukan.

Maka dalam mata kuliah penulisan naskah, saya selalu mengharamkan para mahasiswa untuk menggunakan kata ”Jangan…” dalam naskah siaran. Kreatiflah menggunakan kata lain yang lebih memanjakan kuping pendengar! Bukan dalam bentuk kalimat perintah!

GUNAKAN TEASER
Salah satu cara penyiar berkomunikasi dengan pendengar sebelum jeda adalah teaser. Serangkaian kalimat yang memberitahu pendengar tentang materi apa yang akan diperdengarkan berikutnya. Pendengar akan mendapatkan informasi yang jelas, yang akan memandunya untuk terus mendengarkan atau pindah ke frekuensi lain. Jika materi selanjutnya menarik, tentu pendengar tersebut akan tetap bertahan. Tidak perlu diperintah ”Jangan kemana-mana” pendengar tidak akan memindahkan frekuensinya.

Bandingkan jika penyiar hanya mengatakan ”Jangan kemana-mana” tanpa memberitahu materi apa yang akan disajikan berikutnya.

Dalam program apapun, teaser sangat penting. Apakah acara musik, hiburan lain, talkshow, berita atau request lagu, penyiar bisa menggunakan teaser menjelang jeda. Secara harfiah teaser berarti penggoda. Kalimat teaser adalah kalimat penggoda, yaitu yang menggoda pendengar untuk terus menyimak acara.

Di sinilah kreativitas pengelola acara dan penyiar menjadi taruhannya. Kalimat ”Pendengar, setelah break saya akan kembali dengan wawancara ekslusif bersama Britney Spears…” jelas lebih bermakna ketimbang ”Pendengar, jangan kemana-mana ya, abis break saya masih akan menemani Anda!”

Jelas bukan bedanya?

Lagi-lagi Gen FM menjadi contoh yang baik untuk urusan ini. Meski acaranya didominasi oleh musik, tapi mereka mampu membuat teaser yang ciamik dan belum pernah saya dengar di radio lain. Sebelum jeda, mereka memperdengarkan sebuah lagu yang akan diputar setelah jeda sepanjang beberapa detik saja. Tentu saja pendengar yang suka lagu tersebut, tidak akan pindah frekuensi meski harus menerima sajian iklan tersebih dahulu.

Pengelola radio ini pasti sudah mengerti fungsi teaser!

Read Full Post »

JANGAN FRUSTRASI BERANTAS KORUPSI!!!

Karya Dodi Mawardi – durasi 15 menit.

PENGANTAR (LEAD):

Sungguh ironis bila negara sebesar dan sekaya Indonesia/ justru lebih dikenal sebagai jagoan korupsi/ ketimbang sebagai jagoan berprestasi// lihat saja data dari berbagai lembaga survey/ yang selalu menempatkan Indonesia di urutan papan atas negara paling korup// Negara kaya tapi korup dan rakyatnya miskin// Meski kondisinya sudah sangat parah/ masih ada orang yang tetap bersemangat untuk memerangi korupsi// Mereka tidak mau/ anak cucu kelak juga ikut terbenam dalam budaya korupsi///

Selengkapnya kita simak hasil karya Dodi Mawardi////

MUSIK: LAGU “RAYUAN PULAU KELAPA” – INSTRUMENTAL (FADE IN – UNDER)

VO:

BEGITU INDAHNYA INDONESIA / YANG TERGAMBAR DALAM LAGU RAYUAN PULAU KELAPA – KARYA ISMAIL MARZUKI // SIMAK SAJA LIRIKNYA //

INSERT: LIRIK LAGU RAYUAN PULAU KELAPA DALAM BENTUK PUISI

MUSIK: LAGU RAYUAN PULAU KELAPA (FADE OUT)

VO:

NAMUN KESAN MENYEJUKKAN HATI ITU / SIRNA TANPA BEKAS BILA MELIHAT KONDISI INDONESIA SAAT INI // EKONOMI TERPURUK / KEMISKINAN KIAN PARAH DAN KEJAHATAN MERAJALELA// MORALPUN SEMAKIN BEJAT // ANTARA LAIN DIBUKTIKAN OLEH MASIHNYA BANGSA SEBAGAI NEGERA PALING KORUP DI DUNIA //

MUSIK: LAGU SEDIH INSTRUMENTAL (FADE IN – UNDER)

VO:

SEMUA SEKTOR SUDAH TERCEMAR BUDAYA KORUP // BAHKAN DUA LEMBAGA YANG SEHARUSNYA MENJADI TELADAN / JUGA MAIN PEPET UANG NEGARA // YA… DEPARTEMEN AGAMA DAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN / JUSTRU MENJADI DUA LAHAN UTAMA KORUPSI //

MUSIK: LAGU SEDIH (FADE OUT)

VO:

KONDISI BANGSA YANG CARUT MARUT INI / MENYEDIHKAN BANYAK ORANG // MESKI SEBAGIAN LAINNYA CUEK SAJA / DAN BAHKAN MENAMBAH CARUT MARUTNYA KEADAAN //

PENYANYI IKANG FAWZI / TERMASUK SALAH SATU YANG PERDULI TERHADAP BOBROKNYA MORAL BANGSA INI // SEBUAH LAGU DIA CIPTAKAN / KHUSUS UNTUK MENENTANG BUDAYA KORUPSI //

MUSIK: LAGU “PREMAN BERDASI” (FADE IN – UNDER)

INSERT IKANG FAWUZI 1:

Assalamualaikum wrb, saya ikang fawzi, senang sekali bisa sharing ya. Berdasarkan dari kekhawatiran bersama khusus untuk korupsi indonesia menjadi negara terkorpu ke 2 di Asia dan kelima di dunia, saingannya ya negara-negara seperti itu. Intinya kita sudah berada pada kondisi paling dasar paling bottom yang sangat memalukan, sbg bangsa yang kaya, kaya budaya, moralnya tinggi dan agamis, tapi outputnya sangat memalukan

VO:

SELAIN BERPROFESI SEBAGAI PENYANYI/ IKANG FAWZI JUGA BERKIPRAH DI DUNIA BISNIS // SEBAGAI KEPALA KELUARGA / YANG BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP ISTRI DAN ANAKNYA / IKANG SANGAT KAWATIR ATAS MASA DEPAN MEREKA//

INSERT IKANG FAWZI 2:

Kekahwatiran ini sangat mendasar karean saya tidak mau anak saya menjadi malu dan bahkan mungkin kalau kita biarkan mereka akan lebih jelek lagi dibanding sekarang. Dan saya tidak mau anak saya tidak mempunyai harga diri. Generasi mereka harus more better than me, itulah gunanya gue beragama, hidup, untuk menyediakn mereka better place sama better living.

VO:

IKANG FAWZI SADAR BETUL/ UPAYA UNTUK MEMBERANTAS KORUPSI / SANGAT BERAT / KARENA BERHADAPAN DENGAN KEKUATAN YANG DASYAT // TAPI / IKANG TIDAK PATAH SEMANGAT / GERAKAN MORAL DIGELORAKANNYA MELALUI LAGU // DIA YAKIN / PARA KORUPTOR JUGA MANUSIA //

INSERT IKANG FAWZI 3:

Saya yakin, siapapun manusia itu bukan ANJING yang tidak malu korupsi. Tapi kalau dia masih manusia pasti hati nuraninya juga malu korupsi dan cenderung untuk tdk merugikan orang lain. Jadi harapan saya sih, yang ditimpukin itu bukan hanya kantor playboy tapi juga rumah para koruptor, maksud saya ya semangatnya harus seperti itu. Benci terhadap pelaku korupsi. Tapi ini harus dikerjasamakan berantai pada semua pihak. Saya kira kalau ada perlakuan yang luar biasa, seperti revolusi atau apa, saya yakin korupsi bisa diberantas. Sekarang ini para koruptor itu tertawa-tawa saja.

MUSIK: LAGU “PREMAN BERDASI” (FADE IN – UNDER)

INSERT IKANG FAWZI 4:

Memang kondisi itu sangat menyedihkan sekali. Tapi tetap selama kita hidup harus jadi agent of change. Kalau tidak, ya tidak bisa masuk surga, ngapain aja hanya menangis,mengeluh, do nothing but complain. Saya bukan manusia seperti itu. Dan saya kira banyak orang seperti kita ini, banyak…

Dia pikir dirinya sakti seakan tak bisa mati, wajahnya masih nyengir di tv, awas PREMAN BERDASI…

MUSIK: LAGU PREMAN BERDASI (FADE OUT)

VO:

TERNYATA / SEMANGAT IKANG FAWZI TERLIHAT JUGA DI DITJEN BEA CUKAI // LEMBAGA YANG SELAMA INI DIKENAL SEBAGAI SARANG KORUPSI // BETULKAH DEMIKIAN?

SFX: SMASH

VO:

SEORANG PEGAWAI BEA CUKAI MENGAKUI / LEMBAGANYA MEMANG TERKENAL SANGAT KORUP SEJAK DULU KALA //

INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 1:

Saat ini saya sedang berdinas di salah satu bagian di ditjen bea cukai. Dan perlu diketahui sejak dulu kala yang namanya ditjen bea cukai bukan hanya di idnoensia tapi juga di negara lain, selalu berkaitan dengan keuangan negara yang nilainya sangat besar. Dilihat dari perilaku orang-orangnya, dari nilai uangnya, tentu banyak permainan, banyak kegiatan yang bisa menambah penghasilan buat petugas. Image2 ini jelas dan dibandingkan dengan lingkungannya, memang terlihat mencolok. Sehingga banyak asumsi bekerja di bea cukai suka menggeruk uang negara, sehingga jelas image yang melekat adalah image yang hitam .

VO:

ANDA SENDIRI BAGAIMANA?

Kalau buat saya pandangan semacam itu tidak masalah karena itu menjadi tantangan buat kita untuk mengikuti pendapat umum itu atau tidak. Ketika kita tidak setuju dengan pendapat umum otomotis tidak akan sehitam pandangan umum, atau paling tidak terlalu dalam ikut salah seperti selama ini yang menjadi pendapat umum itu.

VO:

DARI SOSOKNYA / PEGAWAI BEA CUKAI YANG SATU INI / BOLEHLAH DIPERCAYA // TENGOK SAJA RUMAH TIPE 45-NYA / TERLIHAT SEDERHANA// TIDAK ADA SOFA MEWAH DI SANA… // TIDAK ADA JUGA PERANGKAT ELEKTRONIK MAHAL //

SFX: SUARA AIR KOLAM DI RUMAH PEGAWAI BEA CUKAI (FADE IN – UNDER)

VO:

MEMANG ADA KOLAM IKAN DI HALAMAN RUMAHNYA //

SFX: SUARA AIR KOLAM (FADE IN - UNDER)

VO:

NAMUN / JAUH DARI KESAN MEWAH / KARENA KOLAMNYA HANYA SELUAS SETENGAH LAPANGAN TENIS MEJA //

SFX: SUARA AIR KOLAM (FADE UNDER – OUT)

VO:

PEGAWAI BEA CUKAI ITU BERCERITA TENTANG UPAYA PERBAIKAN YANG DILAKUKAN LEMBAGANYA // NAMUN SELALU MEMBENTUR TEMBOK LAIN / YANG PUNYA KEKUATAN BESAR // MEREKA MEMBEKINGI AKSI TIDAK TERPUJI / SEPERTI PENYELUNDUPAN //

INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 2:

Sering ada kejadian kalau kita melakuakn penindakan terhadap importir yang ternyata di belakangnya ada organisasi atau orang berpengaruh, basanya kita mendapat perlakuan balasan dari orang2 beking tersebut. Sehingga seerpt ada penuntutan balas, sehingga intinya kita harus mengakomodir berbagai kepentingan dan walaupun kita bertindak benar justru akan berakibat tidak baik buat institusi bea cukai sendiri.

VO:

MESKI SERING BERUSAHA BERJALAN LURUS / TANTANGAN TERNYATA LEBIH BESAR YANG MESTI DIHADAPI// SELAIN HARUS MELAWAN KEKUATAN BESAR LAIN / YANG SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM TAPI SULIT DIJAMAH // MASYARAKAT YANG TETAP MEMANDANG BUSUK BEA CUKAI / MEMBUAT BANYAK PEGAWAI SERING MERASA FRUSTRASI //

INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 3:

Yang kita lihat masih tetap menyalahkan seakan2 mereka tidak berubah, walapun belum berubah semua. Namun pandang-pandangan ini menimbulkan rasa frustrasi atau tidak nyaman gitu lho… sehingga banyak sekali pegawai yg bicara seperti ini: dari pada kita udah berubah tetap dibilangin masih tetap nerima uang dari importir namun tetap dibicarakan hitam, ya lebih baik kita ambil saja sekalian dari importir itu, toh tidak akan mengubah pandangan masyarakat terhadap kita walupun sudah berubah.

VO:

PERJALANAN MEMANG MASIH PANJANG //

MUSIK: INDONESIA PUSAKA (FADE IN – UNDER)

VO:

NAMUN / HARUSKAH SEMANGAT MENGGANYANG KORUPSI DIBIARKAN PATAH? BAGI ORANG-ORANG SEPERTI IKANG FAWZI / TENTU SAJA SEMANGAT TIDAK BOLEH PADAM // GERAKAN MENENTANG DAN MEMERANGI KORUPSI SEHARUSNYA TETAP ADA / PADA SETIAP MANUSIA INDONESIA / YANG MASIH PUNYA HATI NURANI // MANUSIA YANG MASIH BERPIKIR PANJANG UNTUK ANAK CUCUNYA KELAK // DAN BISA MENUTUP MATA DENGAN TENANG //

INSERT PUISI TEKS LAGU INDONESIA PUSAKA

MUSIK: INDONESIA PUSAKA – INSTRUMENTAL (FADE IN – OUT)

SIGN OUT:

DEMIKIAN HASIL KARYA DODI MAWARDI

LAMPIRAN

RAYUAN PULAU KELAPA - KARYA ISMAIL MARZUKI

Tanah airku Indonesia
Negri elok yang amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau Melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik-bisik Raja klana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Indonesia

INDONESIA PUSAKA - KARYA ISMAIL MARZUKI

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.735 pengikut lainnya.