Feeds:
Pos
Komentar

 

Slide1

Kaget. Kesal. Sedih. Senang… campur aduk ketika melihat sebuah buku yang mengupas tentang Bob Sadino, pengusaha eksentrik yang sudah meninggal dunia awal tahun 2015 lalu. Sudah banyak buku yang membahas sosok unik tersebut. Tapi, buku yang satu ini beda. Sebagai penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, saya bisa membandingkan isi tulisan terkait sang pengusaha tersebut. Apakah sama atau beda? Lihat daftar isinya, sudut pandang tulisannya, naskahnya, foto-fotonya, judul setiap babnya, hanya sekilas pun bisa tahu bedanya.

 

Buku berjudul “Bob Sadino – Goblok Pangkal Kaya” ini sejak awal sudah mencurigakan. Saya bolak balik halaman depan dan belakangnya. Saya baca penerbitnya “Genesis Learning” Yogyakarta.  Lalu saya lihat penulisnya, Weni Wisteria. Baru baca daftar isinya saja, kecurigaan saya makin mencuat. Hmmm, ada yang salah dengan buku ini. Lalu saya baca satu persatu secara sekilas bab per babnya. Waduh!

Slide4

Buku ini benar-benar menjiplak buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa mencapai 80%, kalau tidak bisa disebut 100%. Isinya sama.. Sudut pandangnya sama. Bab-babnya juga sama. Penulisnya berupaya mengacaukan urutan bab dan pembahasan. Tapi sungguh sangat jelas terlihat. Penulisnya ‘kopas’ naskah Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu mengubahnya sedikit-sedikit atau menambah dan mengurangi sedikit-sedikit. Misal, kata dapat diganti bisa. Atau kalimat awal ditambahi dengan satu sampai dua kata, dengan tujuan tidak sama persis. Tapi susunan kalimat demi kalimatnya sama. Dengan fakta –fakta tersebut, penulisnya berusaha mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil karyanya.

Slide2

Bahkan pada beberapa bagian, penulisnya dengan sangat ‘cerdas’ mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung dan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung. Persis seperti pelajaran bahasa Indonesia level SD dan SMP.  Sebuah upaya yang berbahaya, karena dia tidak memiliki bukti rekaman wawancara dengan Bob Sadino.

 

Tentu saja kesal melihat kenyataan tersebut, karena meski buku Belajar Goblok dari Bob Sadino disebutkan dalam daftar pustaka bersanding dengan sejumlah buku lainnya, tapi isi buku ini jelas-jelas menjiplak. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  Prof. Dr. Felicia Utorodewo, salah satu ciri plagiarisme adalah “Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.” Bahkan kata pengantar dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino pun yang ditulis oleh Prof.  Dr. Didik J. Rachbini disadur dan dijadikan salah satu bab. Tidak kreatif. Seperti tidak punya ide baru. Tidak ada upaya pembeda. Parah.

20160828_184714_resized

Sedih… karena penulis buku ini mengaku lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya mengenal sejumlah alumni Komunikasi UGM. Mereka sangat berkualitas dan menjunjung tinggi kaidah akademis. Sulit menerima kenyataan bahwa lulusan kampus terbaik itu melakukan plagiarisme. Semoga pengakuan yang tertulis di halaman belakang buku tersebut tidak benar.

 

Fenomena plagiarisme ini memang sudah memprihatinkan di negeri kita. Tak usah melihat di website atau buku populer, dalam pembuatan karya ilmiah pun berulang kali terjadi penjiplakan. Sejumlah orang hebat pernah diduga dan sebagian mengakui sudah melakukan aksi plagiat. Sebuah aksi yang sangat memalukan dalam dunia akademis dan perbukuan.

 

Tapi saya senang, hehe… berarti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino ini memang sukses. Bukan hanya karena menyangkut sosok Bob Sadino yang memang fenomenal, melainkan juga karena cara penulisan, alur, dan gaya bahasanya ditiru orang lain. Penjiplak tidak mungkin mau begitu saja meniru tulisan tersebut jika tidak sesuai dengan seleranya (atau penerbitnya) bukan?  Itu saja yang sedikit menghibur…

 

Buat penerbit Genesis (@penerbitgenesis) dan penulisnya Hana Wisteria, jangan khawatir… saya tidak akan menempuh jalur hukum. Pasti bakal melelahkan. Keluar energi banyak pula berupa waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi. Tapi sebelum Anda mengakui dan menyesali perbuatan tersebut, saya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakbenaran itu melalui tulisan. Terus menerus.

 

Saya tidak tahu dengan penerbit Kintamani yang mempublikasikan buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Apakah mereka keberatan atau tidak. Sudah lama kami tidak berinteraksi. Bahkan ketika buku tersebut dicetak ulang berkali-kali pun, penulis tidak pernah diberi tahu. Bagi saya, buku tersebut adalah anugerah luas biasa. Hanya terima kasih sebesar-besarnya yang teriring buat almarhum Om Bob beserta keluarganya, yang telah mengizinkan saya untuk membedah “pelajaran hidup” yang mahal dalam diri beliau. Semoga Allah Swt., memberikan balasan terbaik buat Om…

 

 

 

 

 

 

 

 

Kompilasi

 

Ejekan, cemoohan dan olok-olok netizen kembali marak terhadap kesalahan tulisan di televisi dalam memberitakan sebuah peristiwa. Salah satu yang paling menarik, terjadi jelang Idul Fitri tahun ini. Sasaran olok-olok adalah kesalahan penulisan waktu Idul Fitri yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebuah stasiun TV menulis tahunnya adalah 2019. Para netizen pun menyebutkan bahwa lebaran tahun ini ditunda hingga 3 tahun lagi. Sedangkan stasiun TV yang lain menulis tanggal 6 Juni sebagai hari lebaran, dari yang seharusnya 6 Juli. Netizen kompak mengolok-oloknya dan menyebut hari raya Idul Fitri telah berlalu.

 

Kesalahan demi kesalahan tulisan di televisi yang menyertai sebuah berita atau tayangan berita itu sendiri, kerap terjadi. Sebagian besar kesalahan sangat mendasar. “Kok begitu saja salah?” kira-kira begitu pertanyaannya. Seharusnya tidak salah, kok salah. Running text (berita tulisan bergerak dari kanan ke kiri layar) dan atribusi (teks judul berita atau nama narasumber) menjadi sumber masalah besar di televisi kita saat ini. Kualitasnya layak dipertanyakan.

 

Saya bukan penonton yang nyandu televisi. Hanya mengamati. Sesekali. Khususnya acara-acara informasi. Hanya sesekali menonton saja, sudah terlalu sering menemukan kesalahan tulisan pada semua stasiun TV, baik TV berita maupun non berita. Bukan hanya kesalahan ketik (typo) kata-kata biasa, melainkan kesalahan data dan fakta. Kadang kita terkekeh membaca kesalahan-kesalahan tersebut. Saya yakin Anda juga pernah menemukan kesalahan yang lucu-lucu tersebut.

 

Dugaan terkuat kenapa kesalahan itu terjadi adalah terburu-burunya sang penulis teks tersebut. Setiap kali tergesa-gesa maka hasilnya pasti tidak maksimal. Dalam hal apapun. Dan itu sudah seperti hukum alam. Maka, orangtua kita selalu memberi nasihat agar kita tidak terburu-buru dalam mengerjakan apapun. Para penulis teks di televisi cenderung terburu-buru dalam bekerja.

 

Penyebab selanjutnya adalah tidak adanya editor (tukang edit, penyunting, pengawas) hasil tulisan para penulis tersebut. Tidak ada cek dan ricek. Posisi penulis teks di televisi memang cenderung terabaikan. Dianggap remeh temeh. Sehingga, tanpa atasan yang sungguh-sungguh memelototi hasil kerja mereka. Naskah-naskah pendek di layar itu dianggap sebagai pelengkap saja. Asal ada.

 

Penyebab berikutnya adalah kualitas para penulis naskah tersebut. Setahu saya, level mereka beberapa tingkat di bawah reporter. Televisi tidak merekrut mereka dengan seleksi yang ketat. Tidak juga dengan syarat yang tinggi. “Ah hanya penulis naskah-naskah pendek. Siapapun seharusnya bisa.” Kira-kira demikian sudut pandangnya. Benar-benar dianggap sepele.

 

Maka, jangan heran jika pemirsa akan selalu disuguhi kesalahan demi kesalahan tulis di televisi. Kesalahan yang justru sangat menghibur, kadang lebih ‘menyegarkan’ dibanding para komika (stand up comedy) dan lebih menyenangkan ketimbang cerita sinetron. Pesta bullying para netizen pun seperti mendapatkan bahan bakarnya.

 

Pengelola televisi, mohon tingkatkan kualitas para penulis teksnya!

 

 

 

 

IMG-20160731-WA0006_resized

Dengan niat mengkampanyekan peduli lingkungan, Yayasan Bhakti Suratto (YBS) membentuk Komunitas Stand Up Comedy Hijau, pada Sabtu 30/07, lalu di kampus Sekolah Alam Cikeas. Saat ini, Stand Up Comedy sedang tren dan digandrungi kalangan remaja. YBS menilai, tren tersebut dapat dikolaborasikan dengan kampanye peduli lingkungan, sehingga Stand Up Comedy memiliki nilai tambah dan manfaat buat masyarakat.

IMG-20160731-WA0004_resized.jpg

Hadir dalam deklarasi komunitas tersebut, pentolan stand up comedy Indro Warkop, Sutradara Comic 8 & Warkop Reborn Anggy Umbara, Ketua Umum YBS Suratto Siswodihardjo, Pembina YBS dan Anggota DPRRI Anton Suratto, Direktur Eksekutif YBS Dodi Mawardi dan komunitas Stand Up Comedy dari Cileungsi, Cibinong, Bogor, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Cikarang dan Tangerang Selatan.

 

Ketua Umum Yayasan Bhakti Suratto, Suratto Siswodihardjo mengungkapkan, yayasannya amat peduli pada konservasi alam, konservasi budaya dan konservasi manusia. Kolaborasi antara komunitas stand up comedy dan kampanye lingkungan, sangat pas dengan kepedulian yayasan tersebut.

IMG-20160731-WA0005_resized

Deklarasi tersebut mengawali lomba Stand Up Comedy, dengan tema lingkungan hidup, pendidikan dan nasionalisme. Indro dan Anggy menjadi juri untuk lomba tersebut. Lomba tersebut diikuti oleh 37 peserta dari kategori umum dan pelajar. Keluar sebagai juaranya adalah komika dari komunitas Stand Up Comedy Cileungsi dan Jakarta Timur.

 

Juli tahun 2016 ini, Yayasan Bhakti Suratto (YBS) merayakan hari lahirnya yang ke-10. Yayasan ini menaungi Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas, dan Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia (RPATKI). Sejak bergabung dengan YBS pada 2012 lalu, energi positif saya makin mengental. Sang pendiri, penggagas dan Ketua Umum YBS Suratto Siswodihardjo tak henti menyebarkan virus positif, peduli dan berbagi setiap saat. Dalam rangka 10 tahun ini, YBS menyelenggarakan lomba Stand Up Comedy pada Sabtu 30 Juli 2016 dengan tema khusus lingkungan hidup, pendidikan dan nasionalisme. Lomba ini terbuka untuk umum memperebutkan hadiah Rp 10 juta. Juri yang ambil bagian pada lomba ini bukan juri sembarangan melainkan dua tokoh yang sedang ‘digandrungi’ yaitu Indro Warkop dan Anggy Umbara (Sutradara Comic 8).

New Baliho Stand Up Comedy

Acara tersebut akan digelar di Amphy Theater Sekolah Alam Cikeas. Terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran untuk menontonnya. Kalau peserta, dikenai biaya Rp 15.000,- saja. Selain lomba Stand Up Comedy, YBS juga mengadakan Sunatan Massal, Donor Darah, Bazar barang layak pakai, tukar sampah dengan sembako dan lomba bayi sehat.

 

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

“Profesi penulis itu sulit. Sulit dijadikan sumber pendapatan.”

 

Demikian pendapat seorang kawan non penulis, yang diamini seorang kawan lain yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Pendapat umum yang dipercayai kebenarannya bahwa profesi menulis memang tidak menjanjikan.

 

Masak sih?

Kok banyak juga yang berhasil menjadikan menulis sebagai profesinya?

Mereka penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai sumber utama penghidupan.

02 - penulis produktif

 

Ternyata, inilah sejumlah strategi jitu mereka, bagaimana bisa menjadikan menulis sebagai profesi utama yang menghasilkan dan mensejahterakan.

 

  1. Kuasai dulu dong ilmu (teori dan praktik) tentang menulis. Terserah Anda mau kuasai ilmu menulis akademis, populer, fiksi atau non fiksi. Pokoknya kuasai, sehingga sambil mata terpejampun Anda tetap bisa menulis.
  2. Tentukan tujuan. Misal mau menjadi penulis profesional yang … (tujuan materi atau non materi). Tujuan ini biasanya menjadi sumber motivasi utama dalam menjalani profesi apapun. Saya sendiri menentukan tujuan menjalani profesi menulis (awalnya) dengan patokan pendapatan di kantor lama. Tahun pertama, sama dengan pendapatan di kantor lama. Tahun kedua, dua kali lipat. Tahun ketiga, tiga kali lipat dan seterusnya.
  3. Rumuskan dan rencanakan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Contoh:

Anda punya target pendapatan sebagai seorang penulis pro adalah Rp 10.000.000,- setiap bulan. Sebuah angka yang lumayan tinggi bukan? Setara dengan gaji pokok pegawai pajak level staf deh, hehe… Maka, kita harus menentukan jenis tulisan apa yang bisa memenuhi target tersebut. Yuk kita rinci satu persatu.

 

Tulisan bentuk artikel/cerita pendek (cerpen), nilainya adalah sekitar Rp 200.000,- sampai Rp 3.000.000,- per tulisan. Kita ambil angka terendah yaitu Rp 200.000,-/artikel/cerpen. Berapa artikel yang harus ditulis dalam sebulan agar mampu menghasilkan Rp 10.000.000,-? Ambil kalkulator gih! Hitung… Harus mampu menulis 50 artikel/cerpen dalam sebulan. Atau 2 tulisan per hari. Mampukah? Secara teori bisa tapi praktiknya sulit. Anda harus mengirim ke media cetak/online yang berbeda-beda bukan?!

 

Berikutnya, naskah dalam bentuk buku/novel, dengan jumlah 150-250 halaman, nilainya adalah kisaran Rp 10.000.000 – Rp 25.000.000, (dihitung dari rata-rata harga buku Rp 30an rb – Rp 70an rb). Jumlah cetakan pertama berkisar 2000-5000 eksemplar. Dengan data tersebut, maka kita cukup menulis 1 judul buku setiap bulan, untuk meraih pendapatan sesuai target. Secara teori bisa, tapi praktiknya sulit. Walaupun banyak juga yang sudah mampu melakukannya, terutama yang sudah cukup senior. Hitungan ini belum termasuk jika buku/novelnya dicetak ulang. Tapi harus jaga-jaga juga, siapa tahu bukunya tidak laku…

 

08 - Royalti Buku

Dua bidang penulisan di atas adalah yang paling umum dikerjakan oleh penulis profesional. Untuk mencapai target, silakan utak-atik berapa jumlah artikel/cerpen berbayar yang harus ditulis dan berapa jumlah buku/novelnya. Jika dikombinasikan, hasilnya bisa saja cukup menulis 10 artikel/cerpen dan ¾ buku setiap bulannya. Atau mungkin harus 2 buku/novel perbulan. Silakan hitung hasilnya sesuai rumus pada paragraf sebelumnya dengan pertimbangan sejumlah kemungkinan, seperti tidak laku atau cetak ulang.

 

Dengan pengetahuan tentang tarif dan honor menulis, maka irama kerja kita menjadi lebih terarah. Apalagi pasti kita juga akan menemukan peluang-peluang lain di bidang penulisan yang bisa dimasuki.

 

Misal, menulis artikel di media sosial. Banyak pihak yang butuh branding. Media sosial menjadi salah satu jembatan pesan branding tersebut. Mereka berani membayar penulis, dengan prinsip ‘yang penting brandnya makin kuat dan terkenal’. Media sosial bukan hanya facebook dan twitter, tapi juga laman bebas isi seperti Kompasiana atau Detikforum.

 

Atau peluang menyediakan jasa penulisan naskah artikel/buku buat pihak lain. Anda menjadi penulis pendamping (co writer) atau penulis bayangan (ghost writer). Jangan bayangkan yang jau-jauh dan besar dulu. Karena semua penulis profesional dan senior, pada mulanya juga melalui tahap-tahap awal. Bantu orang lain dengan tarif murah dulu atau mungkin sharing royalti. Lama-lama nama kita akan naik nilanya, yang otomatis akan mendongkrak nilai kontrak!

 

Satu lagi, jangan lupa untuk selalu dekat dengan penerbit. Penerbit yang setiap bulan memproduksi banyak buku, bukan penerbit yang hanya terbitkan satu dua buku perbulan. Dengan penerbit Anda bisa bekerjasama. Penerbit butuh naskah dan biasanya mereka sudah punya daftar tema buku apa saja yang harus terbit selama setahun, selain tema-tema sesuai tren yang berkembang. Anda bisa menjadi penyedia naskah sesuai pesanan tema dari penerbit. Kalau Anda benar-benar serius menjalani profesi menulis, seharusnya bisa memenuhi pesanan 6-12 buku pertahun buat sebuah penerbit. Sudah banyak yang melakukan!

 

Kalau mau serius menjadi penulis profesional, ya memang harus sungguh-sungguh juga dalam melakukannya, plus strategi yang benar. Menjadi penulis profesional, bukan menjadi pekerja biasa seperti karyawan. Penulis profesional lebih mirip dengan penyanyi atau MC, yang biasa disebut self employee (pekerja independen). Dia kadang mirip seperti pengusaha. Memproduksi sesuatu, lalu memasarkannya. Sebuah produk kadang gagal kadang berhasil. Jadi, mental yang dibutuhkan seorang penulis profesional bukan mental karyawan/buruh, melainkan mental pengusaha, atau minimal mental pekerja independen.

 

Semoga bermanfaat!

 

 

 

Penulis Kere - Sopir taksi

Tahukah Anda seberapa sering seorang sopir taksi bekerja dalam sebulan?

Tahukah Anda seberapa banyak produsen sepatu memproduksi sepatunya dalam sebulan?

 

Jawabannya:

Sopir taksi bekerja dalam sebulan hampir setiap hari. Di sebuah perusahaan taksi, sopir menggunakan rumus 2 – 1. Dua hari bekerja sehari libur. Setiap kali bekerja, bukan nine to five seperti orang kantoran, melainkan dari jam 5 pagi sampai jam 1 dinihari atau lebih. Hasilnya? Alhamdulillah, bisa menafkahi keluarga. Sebagian mampu menabung dan berinvestasi properti. Sebagian lainnya, bisa punya mobil taksi sendiri.

 

Bagaimana dengan perusahaan produsen sepatu? Ketika dia bisa menawarkan sepatu dengan model paling tren, maka sepatunya laris. Produksi makin banyak. Namun, kalau tidak sesuai tren dan tidak sesuai selera konsumen, produksi menurun. Perusahaan sepatu akan sukses dan bertahan, kalau terus menerus berproduksi karena sepatunya laku. Hasilnya, sang pengusaha akan menikmati keuntungan besar.

 

Seharusnya demikian pula penulis. Apakah dia seorang penulis profesi (seperti sopir taksi) atau penulis yang pebisnis seperti pengusaha sepatu. Kalau mau sukses dan mampu menafkahi keluarga dari kegiatan menulis, maka dia harus seperti sopir taksi dan pengusaha sepatu tadi. Bekerja rutin dan memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Produksi tulisan yang sesuai dengan pesanan atau klop dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sesungguhnya rumusnya sesederhana itu.

 

Sayang sekali, banyak penulis yang malas dan buta terhadap hukum alam. Belum tentu sebulan sekali mengirim naskah ke penerbit. Lah, mau makan apa? Hasil dari satu buku saja belum tentu mampu menghidupi keluarga untuk sebulan. Mikir dan berhitung dong. Belum tentu juga menulis artikel yang dibayar  (apakah media massa atau pihak lain) setiap hari. Lalu mau dapat pemasukan dari mana? Mikir dan berhitung dong.

 

Kenapa sopir taksi mampu menghidupi keluarganya setiap hari? Karena dia sudah berhitung atau dihitungkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, agar dia bekerja hampir setiap hari. Salah satu perusahaan taksi misalnya menjanjikan penghasilan sebesar Rp 165.000 per hari kepada sopirnya, atau sekitar Rp 3.000.000 per bulan. Lebih tinggi dari sebagian besar batas upah minimum.

 

Anda yang berprofesi penulis atau akan terjun di dunia menulis, berteriak-teriak susah menjadi penulis, tapi tidak setiap hari menulis? Tidak setiap hari berproduksi? Tidak setiap hari menawarkan jasa Anda? Tidak setiap hari menjajakan karya Anda? Tidak setiap hari bekerja keras, cerdas dan ikhlas?  Hmmm… mikir dan berhitung dong.

 

Kalau mau jadi penulis profesional yang mampu menafkahi keluarga dari menulis, mulai sekarang rajinlah menulis. Setiap hari harus menulis. Dan… tulisannya harus sudah pasti mendapatkan imbalan. Emang ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang secara gratisan? (Ada pas promo ya? Atau program PR perusahaan seperti Blue Bird tempo hari, he he).

Penulis Kere 2

Jika mau menjadi penulis pebisnis (writerpreneur), maka berpoduksilah setiap hari. Tawarkan dan jajakan karya Anda kepada pihak lain. Sesuaikan produk Anda dengan selera orang lain, dengan kualitas yang memadai. Kalau tulisan Anda buruk, siapa yang mau beli? Sama seperti produsen sepatu, siapa yang mau beli sepatu yang baru dipakai seminggu sudah rusak? Produsen sepatu juga memproduksi sepatu sesuai dengan optimalnya kapasitas pabrik.

 

Tips agar menjadi penulis keren bukan penulis kere:

  1. Harus menulis setiap hari.
  2. Rajinlah menulis yang hasilnya pasti dibayar.
  3. Berproduksilah sesering mungkin dengan kualitas terjaga.
  4. Jajakan dan tawarkan karya Anda sesering mungkin.
  5. Semakin kreatif dan cerdas (smart) dalam menulis dan menjual tulisan.

 

Selesai.

Ironi Penulis Kere

 Penulis Kere

Sebutlah namanya George, seorang bule yang banting setir dari karyawan menjadi pengusaha. Pilihannya adalah menjadi pengusaha makanan. Setelah pilah-pilih akhirnya dia memutuskan menjadi pedagang pecel lele pinggir jalan. Baru tiga hari jualan, George patah arang karena hanya satu dua orang yang beli pecel lelenya. Rugi.

 

Dia beralih menjajaki jualan bakso. Pilihannya sama, mangkal di pinggir jalan. Dalam tujuh hari, dia kembali gulung tikar karena baksonya tidak laku. Masih rugi. Goerge belum menyerah, dia kembali mencoba peruntungannya dengan berjualan burger. Siapa tahu lebih laku karena tampangnya yang bule cocok dengan burger, makanan khas orang bule. Siapa nyana, selama 15 hari berdagang hanya terjual segelintir burger. Rugi lagi.

 

Alhasil, George menyimpulkan bahwa bisnis makanan tidak menjanjikan. Buktinya, dia gagal setelah mencoba tiga macam jenis usaha makanan. Kesimpulan lainnya, ternyata jualan makan tidak mudah. Sulit mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut.

 

Kira-kira demikianlah gambaran yang menimpa sebagian orang yang mencoba peruntungan di dunia tulis menulis. Banyak yang menyimpulkan bahwa profesi menulis atau bisnis menulis tidak prospektif dan tidak menjanjikan. Sulit mendapatkan keuntungan apalagi dalam jumlah besar dari menulis. Kesimpulan yang diambil karena setelah menulis satu dua buku, tapi tidak laku. Atau selalu gagal mengirim artikel ke media massa. Atau royalti dan honor yang terlalu sedikit.

 

Mirip seperti George yang gagal berdagang makanan lalu menyimpulkan bahwa bisnis itu tidak prospektif. Padahal Anda tahu bukan, faktanya tidak demikian. Berapa banyak pengusaha makanan yang sukses? Buanyak! Pedagang sukses bakso, pecel lele dan burger, berserakan di seantero negeri. Yang gagal? Juga banyak. Bahkan mungkin orang-orang seperti George lebih banyak dibanding yang sukses.

 

Pun demikian dunia menulis. Berapa banyak yang sukses dalam bidang ini? Buanyak. Meskipun, seperti bisnis makanan, yang gagal tentu lebih banyak dibanding yang sukses. Tampaknya memang hukum alamnya demikian. Seperti sebuah piramida, jumlah yang sukses lebih sedikit dibanding yang gagal. Jumlah mereka yang amat sukses lebih sedikit lagi dibanding yang sukses.

 

Pertanyaannya, kenapa khusus buat industri menulis, dianggap lebih tidak menjanjikan hanya karena banyak penulis gagal dan kere? Dugaan saya, karena penulis kere menuliskan kegagalannya. Minimal curhat karena dia penulis he he. Sedangkan para pebisnis bakso, pecel lele atau burger, jarang-jarang yang menuliskan kegagalannya. Alhasil, sudah menjadi rahasia publik bahwa banyak penulis adalah kere! Nempel deh persepsi tersebut di benak banyak orang.

 

Padahal, di bidang apapun Anda berkecimpung hukumnya tetap sama: siapa yang sungguh-sungguh, persisten dan konsisten maka dia akan berhasil. Siapa yang mau terus belajar, bersabar, berproses, memerbaiki diri, maka dia berpeluang lebih besar untuk sukses. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang dicapai dengan leha-leha. Tidak ada yang tanpa rentetan kegagalan dan kekecewaan.

 

Kenapa penulis banyak yang kere dan gagal?

Pertanyaan yang sama, kenapa banyak pedagang yang juga kere dan gagal?

Kenapa banyak pengusaha yang juga gagal dan bangkrut?

Penulis Kere - gagal

Data statistik di Amerika Serikat, 80 persen pengusaha gagal pada 18 bulan pertama. Serem bukan datanya. Yang bisa lolos dan bertahan setelah 18 bulan hanya 20 persen! Tapi yang kemudian bisa bertahan selama 5 tahun, hanya 20% dari yang 20% itu. Lebih serem lagi ya.

 

Kalau data itu dipakai untuk industri menulis, maka hanya 20% penulis yang bisa berhasil meneruskan langkahnya sampai lebih dari 18 bulan. Dan hanya 20% dari yang berhasil itu, yang mampu bertahan di industri menulis setelah 5 tahun. Penulis yang kere dan gagal jumlahnya lebih banyak bukan?!

 

Profesi menulis sama seperti profesi pengusaha. Dia memproduksi sesuatu (barang atau jasa) dan kemudian memasarkannya. Kalau Anda belum menyadari status tersebut dan hanya menjadi kuli sebagai penulis, maka siap-siaplah mendapatkan pemasukan yang terbatas dan menambah daftar deretan penulis kere.

 

Tips buat penulis pemula yang mau jadi penulis sukses, bukan penulis kere:

  1. Buka lebar-lebar mata dan telinga,
  2. Perbanyak wawasan
  3. Rajin menambah ilmu baru,
  4. Mau memanfaatkan peluang dan kesempatan
  5. Jalin pertemanan dan network seluas mungkin
  6. Mau berproses
  7. Pantang menyerah!

 

Bersambung ke Ironi Penulis Kere (bag II)

 

 

 

 

“Kapan ibu akan menulis buku?” tanya mentor Dodi Mawardi.

“Hmmm…” sang ibu guru berpikir sejenak sambil tersenyum.

“Setelah tahu ilmu pak…” jawabnya kemudian.

Demikianlah sekelumit pembukaan “Seribu Guru Menulis Buku” program pelatihan Yayasan Bhakti Suratto (YBS)  dan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) yang berlangsung di SDN 13 Mekarjaya Sukmajaya Depok, pada 27 Februari 2016. Kepala SD tersebut Supardi, sangat antusias mengajak para gurunya untuk ikut serta dalam pelatihan tersebut. Jumlah guru dan staf seluruhnya adalah 17 orang, sedangkan yang ikut serta sebanyak 12 orang.

 

Supardi menjelaskan bahwa pengetahuan dan keahlian menulis sangat dibutuhkan para guru, terutama untuk meningkatkan kinerja dan menunjang kenaikan pangkat. Namun, nyaris tidak ada pelatihan khusus menulis yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Kehadiran program Seribu Guru Menulis Buku menjadi seperti keran air yang menyegarkan bagi para guru.

20160227_093956_resized

Para guru melahap seluruh materi pelatihan selama 3 x 90 menit, sejak pukul 09 pagi hingga pukul 14.30. Mereka tampak semangat mengikuti semua arahan mentor Dodi Mawardi, yang sudah berpengalaman menulis lebih dari 50 judul buku. Selain membongkar mental blok, para guru juga diajak untuk menemukan ide tulisan, merancang kerangka tulisan dan menulis sebuah artikel.

 

SDN 13 Mekarjaya Sukmajaya Depok menjadi sekolah pertama yang menangkap peluang program pelatihan gratis “Seribu Guru Menulis Buku”, yang akan disusul oleh sekolah-sekolah lainnya di kawasan kota Bogor, kabupaten Bogor, Depok dan Bekasi.  Bagi Anda para guru, silakan undang kami ke sekolah Anda dan dapatkan pengalaman pelatihan yang menyenangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menulis Anda (SMS ke 081285874272, ketik 1000 Guru spasi Nama Sekolah).

Di akhir sesi pelatihan, para guru sudah menemukan sejumlah ide menulis buku, dan mereka berjanji untuk merealisasikan buku tersebut. Semoga!

Seribu Guru Menulis Buku, semoga memacu Sejuta Siswa Merangkai Kata.

 

 

  1.  

    1. Penulis buku non fiksi. Penulis buku akan mendapatkan penghasilan dari royalti buku dari penerbit, jual putus naskah dari penerbit, atau yang lebih menggiurkan lagi yaitu menjadi penulis pendamping (co writer) dan penulis bayangan (ghost writer). Bayaran untuk penulis pendamping dan penulis bayangan, cukup menggiurkan tergantung kualitas Anda. Di Indonesia, kisarannya mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 300 juta perbuku. Kalau mau bisnis bidang penulisan, maka jasa naskah untuk penerbit, co writer dan ghost writer cukup menjanjikan.

    2. Penulis novel. Penulis novel biasanya mendapatkan royalti dari penerbit. Makin rajin menulis novel makin besar peluang untuk mendapatkan royalti. Syukur-syukur jika salah satu atau seluruh novelnya menjadi bestseller. Satu novel dengan penjualan standar antara 5.000 – 10.000 eksemplar kira-kira menghasilkan pemasukan buat penulisnya pada kisaran angka Rp 5juta – Rp20juta per buku (tergantung harga jual).

    3. Penulis cerpen. Penulis cerpen mendapatkan pemasukan dari buku dan media cetak. Buku kumpulan cerpen meski kalah pamor dibanding novel, tetap diminati pembaca. Sedangkan pemasukan dari media cetak, berasal dari pemuatan cerpen oleh sejumlah media cetak yang memiliki rubrik cerpan pada setiap akhir pekan. Satu cerpen dihargai antara Rp 200ribu – Rp1.000.000 (tergantung kebijakan media cetaknya). Anda harus rajin menulis cerpen dan mengirimkannya ke media cetak di seluruh Indonesia jika ingin menerima pemasukan rutin setiap hari/bulan.
    4. Penulis artikel. Penulis artikel mendapatkan pemasukan dari media cetak/media online yang memuat artikel-artikelnya. Penulis artikel lebih punya peluang dibanding penulis cerpen di media cetak, karena media cetak menyediakan halaman setiap hari untuk artikel dan hanya akhir pekan untuk cerpen. Sebuah artikel dihargai Rp 200.000 – Rp 3.000.000 (tergantung kebijakan masing-masing media). Sekarang peluang penulis artikel bertambah dengan makin maraknya media internet.

    5. Penulis puisi. Penulis puisi mendapatkan pemasukan dari puisi-puisi yang dibukukan atau diterbitkan oleh media cetak. Dibanding novel dan cerpen, buku puisi memang kalah pamor dan rata-rata kalah dalam jumlah penjualan. Begitu pula peluang di media cetak, karena rubrik puisi relatif jarang. Namun, jika Anda rajin dan punya kualitas, profesi penulis puisi tetap menjanjikan.

    6. Penulis medsos. Hadirnya media sosial memberikan warna baru dalam industri penulisan di Indonesia. Peluang-peluang baru bermunculan. Saat ini banyak pihak yang rela membayar orang lain untuk mengisi medsosnya baik twitter, facebook atau medsos lainnya secara rutin setiap hari. Biasanya mereka yang berprofesi sebagai publik figur baik artis, pejabat maupun politisi.

    7. Penulis Perjalanan. Profesi yang baru hadir belakangan di Indonesia. Mereka biasanya freelancer yang menjual tulisannya kepada pihak lain, baik penerbit maupun media massa. Selain itu, kisah-kisah perjalanan mereka juga seringkali menjadi buku yang laris sehingga memberikan royalti lumayan buat penulisnya. Penulis perjalanan akan lebih mumpuni jika disertai dengan kemampuan fotografi yang memadai.

    8. Penulis Biografi. Sebenarnya profesi ini termasuk ke dalam penulis buku, namun belakangan makin spesifik karena hanya menggarap buku-buku biografi baik tokoh publik maupun non publik. Banyak orang dari berbagai kalangan, ingin memiliki buku biografi dan penulis jenis inilah yang memanfaatkan peluang tersebut. Kisaran biaya penulisan beragam mulai dari yang minim senilai Rp 25.000.000 sampai kelas jumbo senilai Rp 200juta atau lebih per proyek buku. Menggiurkan bukan?

    9. Penulis pidato. Ada ya penulis pidato? Oo ada. Meski jumlahnya tidak sebanyak profesi penulis yang lainnya. Sebagian lagi profesi ini disambi dengan pekerjaan lain. Profesor Yusril Ihza salah satu contoh penulis pidato, meski profesi utamanya bukan itu. Yang dituliskan pidatonya juga bukan sembarangan melainkan seorang presiden yaitu Soeharto. Presiden, gubernur, walikota dan pejabat tinggi publik lainnya biasanya memiliki penulis pidato masing-masing. Berapa penghasilan mereka? Tergantung kelasnya. Kalau sekelas Yusril, tentu penghasilan sekali menulis pidato, bisa jadi lebih besar daripada gaji seorang manajer!

    10. Penulis iklan. Jangan lupakan profesi yang satu ini, meski biasanya melekat pada seseorang yang bekerja di biro iklan. Mereka dibayar berdasarkan iklan yang tayang. Yang paling menantang dari penulis iklan adalah menciptakan tagline yang mudah diingat orang. Berapa penghasilan mereka? Secara umum, penghasilan orang iklan (termasuk penulis naskah) lebih besar dibanding penghasilan para penulis di bidang lain.

    11. Penulis naskah lagu. Profesi yang satu ini sudah ada sejak lama. Biasanya penulis lirik lagu juga menguasai musik, meski tidak harus demikian. Pada sejumlah lagu Bimbo misalnya, liriknya ditulis oleh sejumlah sastrawan atau penyair. Tapi musiknya dibikin oleh Bimbo sendiri. Akan lebih lengkap memang, jika penulis naskah lagu sekaligus mahir membuat musiknya. Dia adalah pencipta lagu.

    12. Jurnalis. Salah satu profesi penulis yang paling tua di kolong langit. Ada jurnalis yang bekerja tetap di sebuah perusahaan media massa, ada pula jurnalis yang bekerja parttime atau bahkan freelance.

    13. Penulis running text di TV. Profesi yang baru muncul belakangan setelah makin banyaknya jumlah stasiun televisi. Nyaris semua stasiun televisi baik tv berita maupun hiburan, tv nasional maupun lokal, memiliki program running text yaitu informasi terbaru singkat satu kalimat yang muncul bergerak dari kanan ke kiri di layar tv bagian bawah.

    14. Pelatih di bidang penulisan. Semakin maju peradaban dan tingkat intelektual sebuah bangsa, maka semakin besar kebutuhan akan tulisan. Setiap orang akan berlomba-lomba meningkatkan kualitas tulisannya dan menciptakan sebanyak mungkin karya tulis. Sebuah peluang besar bagi praktisi penulisan untuk terjun sebagai pelatihan bidang penulisan.

    Masih adakah profesi dan peluang lain di bidang penulisan? Silakan tambahkan.

    Atau mention @dodimawardi pada akun twitter Anda.

    Dapatkan pula #ilmumenulis setiap hari dari akun twitter @dodimawardi

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 6.681 pengikut lainnya