Feeds:
Pos
Komentar

Kamulah bosnya

“Pak Dodi, ada kabar gembira nih… buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, akan cetak ulang ke-3,” demikian bunyi WA yang dikirim oleh Bu Paulin, editor Elex Media Komputindo. Tentu saja, sebuah kabar yang sangat menyenangkan. Buku ini baru terbit pada pertengahan Juli lalu. Sampai November ini, baru beredar selama lima bulan. Amat membahagiakan dalam tempo secepat itu, sudah bisa cetak ulang 3 kali.

 

Dengan fakta tersebut, buku Belajar Goblok dari Bob Sadino bisa mengklaim diri sebagai buku laris. Cetak ulang, apalagi sampai yang ke-3 dalam jangka waktu 5 bulan, termasuk kategori laris. Jumlah buku yang dicetak berkisar antara 7.500 – 10.000 eksemplar. Melihat respon pembaca yang masih tinggi, saya dan penerbit yakin buku Belajar Goblok dari Bob Sadino akan terus dicetak ulang. Sosok Om Bob menjadi penentu keberhasilan buku ini. Pemikiran, ucapan dan tindakannya sebagai seorang pengusaha, sukses menginspirasi masyarakat Indonesia.

Slide9

Jika digabungkan dengan edisi lama yang diterbitkan oleh Kintamani, maka Belajar Goblok dari Bob Sadino sudah terjual lebih dari 60.000 eksemplar. Di Indonesia, jumlah buku sebanyak itu sudah masuk kategori amat laris. Menjadi istimewa karena buku ini pertama kali terbit pada 2008 lalu. Namun isinya masih tetap relevan sampai sekarang.

 

Selain Belajar Goblok dari Bob Sadino, buku sejenis yaitu 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino juga dicetak ulang untuk yang kedua kali. Buku ini berisi kata-kata mutiara om Bob terutama tentang bisnis. Isinya adalah rangkuman dari buku Belajar Goblok dan Mereka Bilang Saya Gila.

100 wasiat via tab

Bahkan buku jiplakan yang mengupas tentang Bob Sadino, juga laris di pasaran. Berkah dari Om Bob. Semoga pahala kebaikannya mengalir kepada almarhum di alam sana.

 

 

 

 

 

Iklan

Wajah-wajah tegang dan lelah selama 4 hari pelatihan, berakhir ceria pada hari ke-5 setelah master asesor menyatakan, “Anda saya nyatakan kompeten!”. Kalimat itu muncul setelah proses cek dokumen, dan ujian praktik selama kurang lebih setengah hari. Master asesor penguji memeriksa seluruh dokumen, dan melihat langsung asesi (calon asesor) melaksanakan proses asesmen peserta. Tentu saja ketegangan melanda. Apalagi setelah diperiksa master asesor, masih banyak dokumen peserta yang dikoreksi dan harus dicetak ulang. Sebuah proses yang melelahkan dan menyita waktu.

Screenshot_2017-09-09-08-24-14-959_com.instagram.android

Sebanyak 25 orang mengikuti Pelatihan Asesor Kompetensi kerjasama Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang diselenggarakan di Puskurbuk, Balitbang Kemendikbud, Jl. Gunung Sahari, mulai 4 – 8  September 2017. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Yogya, Bandung dan Bogor, dengan latar belakang sejenis, yaitu industri penulisan. Penpro sebagai organisasi penulis Indonesia, menggagas berdirinya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang Penulis dan Editor.  Salah satu syaratnya, harus memiliki sejumlah asesor.

 

Selama pelatihan, peserta dibimbing oleh dua master  asesor yaitu Inez Mutiara Tedjosumirat dan Swystika Rahayu. Keduanya dengan telaten mengajarkan peserta bagaimana menyusun dokumen asesmen dan melaksanakan asesmen. Sebagai asesor, setiap peserta harus menguasai tiga kompetensi yaitu merencanakan dan mengorganisasi asesmen (MMA), mengembangkan perangkat asesmen (MPA), dan melaksanakan asesmen kompetensi (MAK). Ketiga kompetensi itulah yang harus dikuasai baik secara teori maupun praktik oleh setiap peserta selama 4 hari. Tak heran jika hampir setiap hari, pelatihan baru tuntas ketika matahari sudah lama tengggelam.

IMG-20170905-WA0007

Para peserta wajib membuat dua dokumen untuk MMA, MPA dan MAK, yang kemudian disimulasikan. Seseorang dinyatakan kompeten sebagai asesor, jika sudah melakukan simulasi sebanyak 3 dokumen asesmen. Dokumen ketigalah yang diuji oleh master asesor yang berbeda dengan master asesor pelatih, dan jika berhasil akan dinyatakan sebagai, “Anda kompeten sebagai asesor!”.

 

Indonesia termasuk terlambat dalam mensertifikasi profesi di berbagai bidang. Padahal, cikal bakal pentingnya sertifikasi sudah dimulai sejak 1983, 34 tahun silam. negara-negara di kawasan ASEAN khususnya Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina sudah lebih dulu menggencarkan standardisasi profesi di berbagai bidang. Indonesia menjadi kelabakan ketika kawasan bebas ASEAN berlaku pada 2015 lalu.

 

Dampaknya besar. Ketika arus masuk investasi, barang, jasa dan tenaga kerja terjadi, Indonesia mengalami ketimpangan. Misal, di bidang pertambangan dan energi. Tenaga kerja yang bisa bekerja di sana, sebagian besar harus memiliki sertifikat di bidangnya masing-masing. Tenaga kerja Indonesia masih sedikit yang memiliki sertifikat BNSP, sehingga lebih banyak tenaga kerja asing yang bekerja di sejumlah sektor tersebut. Pun di bidang perdagangan, sudah kerap terjadi, kegagalan transaksi perdagangan akibat tak adanya sertifikasi standar pada bidang tertentu.

IMG_20170908_140723_1

(“Anda kompeten sebagai asesor!” ucap pak Benny, master asesor BNSP.)

 

Profesi penulis dan editor pun bakal mengalami hal yang sama jika tidak segera diberlakukan sertifikasi profesi berstandar BNSP. Sertifikasi yang bukan hanya berlaku di dalam negeri melainkan juga di kawasan ASEAN dan global. Para pelaku industri penulisan dan penerbitan buku, wajib segera melek terhadap perkembangan zaman yang begitu cepat bergerak. Industri ini minimal harus bercermin kepada industri pariwisata, yang relatif berhasil menyesuaikan diri dalam kompetisi global.

 

Semoga berhasil.

 

Re-Launch buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” berlangsung semarak, pada Sabtu  malam (26/8/2017) di toko buku Gramedia Matraman. Seratus undangan hadir dalam acara yang dihelat oleh Ikastara Business Club (IBC), bersama Elex Media Komputindo dan toko buku Gramedia Matraman.  Acara diawali dengan penampilan Acro Yoga, Kang Rusdi and friend, dilanjutkan dengan talkshow bisnis “Otak Kiri vs Otak Kanan dalam Berwirausaha”. Sebagai pembicara adalah Chardin Trinanda – Chairman RIN Biotek Indonesia, Miftakhul Ahsan – mantan pilot Garuda & Qatar, pemilik tempat wisata Bukit Bunda Blitar dan Frans Satya Pekasa – pengusaha mebel eksportir terbaik nasional 2012 & 2013. Talkshow dipandu oleh penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” Dodi Mawardi.

para pembicara

Berikut ini, kesimpulan dari talkshow dan isi buku hasil tulisan Bahar Riand Passa, pemilik warung Ayam President Singapura.

KEGAGALAN ITU WAJAR

Riwayat hidup Frans dan Chardin sungguh layak dijadikan pelajaran. Sempat mengalami kegagalan dan bahkan kebangkrutan, beliau berdua tetap bersemangat kuat untuk bangkit. Kebangkitan Frans tercapai dengan berjuang di bidang yang sama, dan dalam waktu singkat meninggalkan kebangkrutan dan berhasil menjadi eksportir terbaik nasional 2012 & 2013. Produknya sudah tembus ke lebih dari 50 negara. Beliau bahkan memiliki 3 gerai furniture di China, negara yang memiliki 1/3 penduduk dunia. Ketika kebanyakan orang takut untuk berkompetisi di China, Frans justru melihat peluang karena ternyata orang sana “tidak sepintar” yang dibayangkan.

Untuk bangkit, Chardin memilih untuk banting setir bahkan melanglang buana dulu ke AS bekerja dari cuci piring, menjadi Chef, lalu Head Chef di Restaurant Sushi besar sehingga bisa mengumpulkan modal untuk pulang ke Indonesia dan kembali menghidupkan tim yang lama. Sekarang beliau menjadi pemborong proyek-proyek M&E dan menciptakan satu produk Hygeia di samping menjadi Founder PT. Paradua Bangun Nusantara, dengan teman seangkatannya di SMA Taruna Nusantara Magelang.

Miftah yang selama 20 tahunan menjadi pilot, ingin memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya masyarakat di sekelilingnya. Hal itu membuatnya bahagia. Seperti Bob Sadino yang memutuskan kembali ke tanah air setelah bekerja di perusahaan pelayaran di Belanda. Miftah sekarang membangun Taman Rekreasi dan Edukasi Keluarga Bukit Bunda tanpa arsitek. Beliau sendiri yang merancang, mendesain, dan juga mengawasi konstruksi. Bahkan untuk operasional sehari-hari.

relaunching buku

Bob Sadino ternyata sulit hidupnya setelah pulang ke Indonesia, apalagi ketika mobil Mercy hasil keringatnya di Eropa dan dipakai untuk mencari penghasilan tambahan sebagai taksi gelap mengalami kecelakaan dan tidak cukup dana untuk reparasi. Di tengah kesulitan, Bob Sadino memutuskan menerima tawaran teman untuk beternak ayam dan menjual telur ayam dari pintu ke pintu. Yang membedakan beliau dari peternak ayam lainnya saat itu adalah dia selalu up-to-date dengan teknologi praktis terakhir dengan cara berlangganan majalah peternakan dari Belanda. Di samping itu, metode penjualannya pun unik, dengan memberikan gimmick setangkai anggrek untuk setiap paket telor. Ternyata gimmick ini diterima dengan baik oleh konsumen awalnya yang kebanyakan ekspatriat. Di Eropa, anggrek adalah bunga yang mahal, tapi di Indonesia waktu itu harganya murah dan mudah didapatkan.

BERANI TAPI BERILMU.

Bila Bob Sadino seolah-olah hanya modal nekat dan tidak menggubris segala “best-practices” yang ada di industri yang dijalaninya, Frans dan Chardin menyarankan untuk tetap berani tapi harus berbekal dengan ilmu. Ilmu bisa bisa dipelajari dari kegagalan sendiri, atau kegagalan-kegagalan orang lain. Untuk hemat “uang sekolah”, sebaiknya kita belajar dari kegagalan orang lain juga.

Tidak semua orang dapat menanggung stress dari ketidakpastian dan kegagalan berwirausaha. Kita tidak tahu seberapa berat hidup mereka yang sekarang sukses tapi dulu berdarah-darah ketika mereka di titik nadir. Maka dari itu, kita harus sebanyak mungkin mencari ilmu sebelum masuk ke suatu usaha. Ilmu bukan hanya dari bangku sekolah, tapi bisa didapatkan dari mentor-mentor yang telah menjalankan usaha di bidang itu. Seperti yang kita baca dari riwayatnya, Bob Sadino pun sangat haus akan ilmu di bidangnya, walaupun bukan dari kampus atau sekolahan.

MEMAHAMI KEINGINAN KONSUMEN ADALAH KUNCI

Apapapun bisnis kita, konsumen adalah raja. Artinya, kita harus memahami apa yang diinginkan konsumen. Bukan apa yang kita pikir sebagai kualitas prima. Bagaimana kita mengetahuinya? Bisa dengan berinteraksi dengan konsumen atau dengan metode-metode lainnya. Bagaimana Amazon Google Facebook menjadi sebesar sekarang? Salah satunya dengan memahami secari detail keperluan konsumen mereka. Bob Sadino memahami keperluan konsumen dengan meluangkan waktunya ikut bekerja melayani Konsumen.

 

PILIHLAH PARTNER YANG TEPAT

Dari obrolan dengan narasumber di sela acara, tidak ada yang lebih buruk daripada memilih partner yang salah. Partner bisa berarti co-founder, karyawan utama, bahkan para supplier kita. Setiap partner harus dipilih dengan baik berdasarkan keterampilan yang saling melengkapi dan integritas yang tinggi.

ikastaran

TERIMAKASIH untuk Pendukung Acara!

Terimakasih untuk Bahar Riand Passa atas koordinasi kerennya atas acara ini. Trims untuk  Pratama Adieputra Suseno sebagai Event director dan Titis serta Citra Fatihah dan tim sebagai panitia yang ikut mensukseskan acara. Terimakasih Arieta Soebroto, MC acara ini yang juga memiliki usaha perkebungan bunga. Bisa dilihat di Instagram @clea_flower.  Terimakasih juga untuk Maradona & Fajar yang memberikan sponsor Kebab untuk konsumsi. Kebabnya enak dan bisa diorder delivery Instagram @JKebab_ID, WA 087875023983.

Terimakasih Sri Gusni Febriasari untuk karangan bunganya yang cantik. Untuk yang perlu bunga, bisa order di MaknaFlorist Instagram @maknaflorist, WA 081212378048.

Bagi pembaca yang mau buku Belajar Goblok dari Bob Sadino edisi baru yang disempurnakan, silakan serbu toko buku terdekat. Isinya dijamin sangat bermanfaat dan dapat mengubah paradigma Anda.

 

Slide9

Setelah terbit selama lebih dari 8 tahun melalui penerbit Kintamani, mulai 17 Juli 2017, buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, kembali terbit dengan versi edisi yang disempurnakan. Buku karya Dodi Mawardi ini, kali ini diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo, penerbit grup Gramedia.

Belajar Goblok dari Bob Sadino edisi baru

Edisi yang disempurnakan ini berisi sejumlah artikel baru, yang belum pernah dipublikasikan seputar ide, pikiran, ucapan dan tindakan Bob Sadino dalam berbisnis. Penulis juga melakukan sejumlah revisi dan penyempurnaan terhadap naskah lama yang masih mengandung sejumlah kesalahan.

Entah sudah berapa kali buku ini dicetak ulang. Ada edisi hard cover dan soft cover, yang jelas lebih dari 20 kali cetak ulang. Memang luar biasa respons masyarakat terhadap buku ini. Terima kasih buat seluruh pembaca yang sudah memberikan apresiasi terhadap karya kami dan Om Bob ini.

Edisi yang disempurnakan ini lahir karena beberapa alasan. Pertama, karena Om Bob berpesan agar ilmu dan pengalamannya tidak dibawa mati. Harus disebarkan ke sebanyak mungkin orang lain agar memberikan manfaat. Kedua, respons dari masyarakat terhadap buku Bob Sadino masih sangat tinggi, sehingga menimbulkan keinginan sejumlah rekan penulis dan penerbit untuk membuat karya tentang sosok fenomenal ini. Ketiga, sebagai upaya penulis untuk meluruskan sejumlah fakta agar tercatat abadi dalam sejarah industri buku di Indonesia.

Slide9

Silakan segera ke toko buku untuk mendapatkan buku ini, atau klik melalui toko-toko buku online. Pengusaha atau yang berminat di bidang wirausaha, wajib memiliki buku fenomenal ini.

 

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya. Buku ini bolehlah disebut sebagai ‘adik’ dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, dan buku Mereka Bilang Saya Gila.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

Silakan baca juga resensi buku ini dari seorang pembaca di sini… (www.resensi.ilarizky.com)

 

 

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Setelah sukses berbagi pengetahuan di Universitas Bina Nusantara, Akutahu.com kembali membagi ilmu menulis kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, 15 Mei lalu. Pembicaranya masih Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, penulis profesional, trainer penulisan dan mentor di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI). Sekitar 50 mahasiswa UMN, sebagian besar dari Ilmu Komunikasi, menghadiri seminar dengan tajuk “Akulah Si Penulis.”

Screenshot_2017-05-15-19-40-04_resized

Dalam kesempatan itu, Dodi Mawardi memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan 1001 macam peluang penulisan, mulai dari penulis buku, penulis di media massa, penulis di media internet sampai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk keuntungan materi dengan tulisan. Peserta sangat antusias bertanya terkait peluang-peluang tersebut, terutama peluang penulisan di media sosial dan peluang menjadi ghost writer atau co-writer.

Screenshot_2017-05-15-19-40-57_resized

Seperti dalam seminar dan workshop lainnya, Dodi Mawardi membawakan materi dengan penuh kegembiraan. Setiap materi diselingi dengan permainan khusus kata-kata (writing challenge), yang memacu adrenalin para peserta. Di setiap permainan, motivator menulis ini menghadiahi peserta terbaik dengan sejumlah buku. Panitia pun menambahinya dengan hadiah berupa bingkisan dari sponsor.

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Saya menyebutnya sebagai revolusi aspal, karena memang di sejumlah wilayah negeri ini butuh perubahan drastis terkait pembangunan jalan raya berbahan baku aspal. Banyak sekali jalan raya, baik jalan kabupaten, provinsi maupun jalan nasional yang kondisinya memprihatinkan. Atau sangat menyedihkan. Sebagian lagi sangat menyebalkan. Ah, banyak sekali kata-kata negatif yang bisa menggambarkan buruknya kondisi jalan, dan kekesalan penggunanya.

 

Tahun lalu, warga di sekitar desa Bojong Kulur Gunung Putri kabupaten Bogor berdemo. Mereka protes kepada pemkab Bogor yang dianggap tidak peduli terhadap kondisi jalan raya Ciangsana – Bojong Kulur yang berbatasan dengan Kota Bekasi. Kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor rusak parah. Sangat parah. Saya berkali-kali melewati jalan itu dan seperti memasuki wilayah ‘mimpi buruk’. Apalagi kalau hujan dan selesai hujan… wow banget kondisinya. Mirip lautan air sungai berlumpur, dengan kubangan di sana-sini. Kedalaman lubang-lubang mencapai 10-20 cm.  Dalam kecepatan rendahpun, mobil dan pemumpangnya tetap berguncang dan bergoyang tak beraturan.

 

Puncaknya, warga sekitar perbatasan itu mengancam akan pindah ‘kewarganegaraan’ dari Bogor ke Bekasi. Saking kesalnya. Memang wajar juga warga sangat marah, karena kondisi jalanan di ‘seberang’ sana, yang masuk wilayah kota Bekasi, relatif mulus. Jauh lebih baik dibanding kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor. Saya jadi teringat kondisi jalanan di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat. Jalanan di Indonesia buruk, sedangkan jalanan di wilayah Malaysia mulus. Ketika saya berkunjung ke perbatasan Malaysia – Indonesia di Malinau Kalimantan Utara, kondisi jalanan kedua negara ini memang berbeda, hehe. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa kalau Anda terbangun dari tidur nyenyak di jalan perbatasan maka Anda sudah sampai di wilayah Indonesia. Saking parahnya guncangan akibat jalan rusak.

 

Kualitas Aspal

Jika dibandingkan dengan negara lain, kenapa kualitas jalan aspal di Indonesia secara umum buruk? Saya pernah ke beberapa negara dan menikmati aspal mereka. Kualitasnya bagus, dan jarang sekali menemui jalan-jalan bolong atau rusak. Apakah karena kondisi ekonomi negara tersebut lebih baik? Entahlah…

 

Yang pasti, kondisi jalan raya di Jawa Barat dan Banten, dua wilayah yang paling sering saya lalui, terlalu banyak yang buruk dan rusak. Selain di perbatasan Bogor dan Bekasi, juga di perbatasan Depok – Bekasi, perbatasan Bogor – Cianjur (Jonggol) dan Labuan, Anyer serta sejumlah wilayah lainnya. Sedangkan Jawa Tengah, agak mendingan, meski masih banyak juga jalan rusak, termasuk di jalan Pantura. Banyak lubang di sana-sini. DKI Jakarta, relatif baik. Wajar sebagian besar bagus karena belum rusak pun, mereka rajin melapisi jalan dengan aspal baru. Masih ada beberapa bagian yang rusak, tapi relatif sedikit. Anggaran jalan raya mereka jauh lebih besar dibanding propinsi lain. Atau pemerintah pusat pun, memberikan perhatian lebih buat jalan nasional di ibukota.

 

Yang menakjubkan justru kondisi jalan di propinsi Bali. Ini pendapat pribadi saya. Saya sempat berkeliling sebagian Bali menggunakan sepeda motor dan juga roda empat. Kondisi jalannya relatif mulus. Pengendara motor bisa menikmati keindahan pulau Dewata itu dengan tenang, nyaman dan aman. Menurut seorang sahabat tokoh pemuda adat Bali, kondisi jalan di sana pasti bagus karena warga dan masyarakat adat pasti akan mengingatkan pemda jika terdapat jalan rusak. Kalau peringatan dari warga dan masyarakat adat tidak digubris, bersiaplah pemda menghadapi risiko yang lebih besar. Apalagi menurutnya, pemda tidak punya alasan untuk membiarkan jalanan rusak, karena sebagian besar pemda di sana punya pendapatan asli daerah yang memadai.

 

Alhasil, meski sebagian jalanan di Bali relatif kecil dan sempit, tapi kualitasnya bagus. Mulus. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Mungkin masih ada jalanan yang kurang mulus, tapi jumlahnya amat sedikit. Paling tidak, itulah hasil pengamatan saya pribadi.

 

Bagaimana dengan Jawa Timur?

Inilah inti dari artikel ini. Kondisi jalanan secara umum di Jawa Timur, patut diacungi jempol. Berbeda sekali dengan Jawa Barat dan Banten, hehe. Saya warga ber-KTP Banten dan lahir serta tinggal di Jawa Barat. Benar, masih ada sejumlah ruas jalan rusak juga di Jawa Timur seperti bagian utara jalur Pantura Gresik. Atau salah satu ruas jalan yang membelah sawah di wilayah Nganjuk. Rusak. Kata warga sekitar, jalan tersebut rusak karena anggarannya dikorupsi. Tentu informasi ini belum valid, meski faktanya Bupati Nganjuk sudah mendekam di rutan KPK karena menjadi tersangka kasus korupsi beberapa proyek termasuk proyek perbaikan jalan. Namun, kuantitas jalan rusak di Jawa Timur jauh lebih sedikit dibanding jalan rusak di Jawa Barat dan Banten (hasil observasi berdasarkan pengalaman berkendara).

 

Kondisi baik jalanan di Jawa Timur saya rasakan begitu memasuki wilayah Magetan (perbatasan dengan Karang Anyar Jateng), Ngawi, Madiun, lanjut ke Nganjuk, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Malang sampai ke Surabaya lalu ke Gresik dan Tuban. Di sepanjang jalur tersebut, jalanan paling mulus berada di Madiun dan terutama di Tulung Agung. Surga jalan raya deh. Di dalam perumahan-perumahan kota Madiun, kondisi jalannya pun keren-keren. Tidak kalah dengan kualitas jalan di perumahan elit Pondok Indah di Jakarta. Mulussss…

 

Seorang kawan, sebut saja mas P, sejak beberapa tahun lalu berkecimpung di industri pembangunan jalan raya berbahan aspal. Dia beroperasi di sebuah kota besar di Jawa Timur. Awalnya dia kaget mengetahui bahwa lumayan banyak permainan dalam pengadaan dan perbaikan jalan raya. Suatu hari dia dikunjungi seorang pengusaha jalan aspal dari wilayah lain. Melihat proses pencampuran aspal di tempatnya. Pengusaha tersebut kaget karena mas P mencampur aspal dengan komposisi yang ideal.

 

“Mas, kalau mau untung, campurannya jangan seperti ini. Aspalnya dikurangi…” begitu kira-kira inti dari masukan pengusaha tersebut. Pendek cerita, mas P kecewa dan sedikit marah dengan sejumlah masukan pengusaha tersebut. Jiwa mudanya bergejolak. Pelajaran kebangsaan yang dipelajari di sekolahnya, terusik.

“Pak, tanpa curang pun saya sudah untung kok. Kenapa harus curang?” tanyanya sewot. Jawaban tersebut membuat kaget sang pengusaha.

“Saya berbisnis ini untuk membangun bangsa dan negara pak. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi…” ujarnya mantap. Membuat pengusaha tadi mati kutu dan segera pamit.

Terkesan sok nasionalis, namun faktanya memang begitu. Mas P membangun jalan dengan kejujuran tingkat tinggi. Campuran aspal dan berbagai bahan lainnya dia peroleh dari insinyur di ITS, hasil uji laboratorium. Dengan formula tersebut, dia bangun jalan dengan kualitas baik. Secara bisnis, dia mengaku masih bisa meraup untung sampai 30%. Berapa persen keuntungan pengusaha curang itu ya?

“Kualitas jalan tersebut bisa bertahan sampai 10 tahun!” katanya yakin.

 

Mendengar kisah sang kawan, kepala saya berputar-putar ke sejumlah fakta tentang jalan aspal. Banyak korupsi di jalan aspal. Begitulah kira-kira kesimpulan hasil gabungan dari sejumlah fakta tersebut. Ada pengusaha yang mengurangi campuran aspalnya, seperti kisah di atas. Ada juga pengusaha yang mengurangi lem aspal, sehingga aspal tidak merekat dengan sempurna. Ada juga yang mengurangi ketebalan aspalnya, sehingga mudah terkelupas dan rusak. Dan beragam fakta lainnya. Hal itu di luar aksi kongkalikong dengan pejabat terkait.

 

Tak heran jika di sejumlah jalan yang baru dibangun atau diperbaiki, dalam waktu singkat, dalam hitungan bulan, sudah rusak kembali. Pasti rusak kembali karena kualitas aspalnya kemungkinan besar di bawah standar! Kualitas yang tidak sesuai dengan spek, beban jalan dan cuaca.

 

Ah, saya jadi berkhayal dan bermimpi andaikan sebagian besar pengusaha seperti mas P, maka kualitas aspal di Jawa Barat dan Banten pun akan menjadi lebih baik dan tidak cepat rusak. Ah, andaikan para kepala daerah di Jawa Barat dan Banten menengok kondisi jalan di Jawa Timur dan Bali, seharusnya mereka sedikit malu…

 

Ah…  revolusi aspal!