Feeds:
Pos
Komentar

Saya menyebutnya sebagai revolusi aspal, karena memang di sejumlah wilayah negeri ini butuh perubahan drastis terkait pembangunan jalan raya berbahan baku aspal. Banyak sekali jalan raya, baik jalan kabupaten, provinsi maupun jalan nasional yang kondisinya memprihatinkan. Atau sangat menyedihkan. Sebagian lagi sangat menyebalkan. Ah, banyak sekali kata-kata negatif yang bisa menggambarkan buruknya kondisi jalan, dan kekesalan penggunanya.

 

Tahun lalu, warga di sekitar desa Bojong Kulur Gunung Putri kabupaten Bogor berdemo. Mereka protes kepada pemkab Bogor yang dianggap tidak peduli terhadap kondisi jalan raya Ciangsana – Bojong Kulur yang berbatasan dengan Kota Bekasi. Kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor rusak parah. Sangat parah. Saya berkali-kali melewati jalan itu dan seperti memasuki wilayah ‘mimpi buruk’. Apalagi kalau hujan dan selesai hujan… wow banget kondisinya. Mirip lautan air sungai berlumpur, dengan kubangan di sana-sini. Kedalaman lubang-lubang mencapai 10-20 cm.  Dalam kecepatan rendahpun, mobil dan pemumpangnya tetap berguncang dan bergoyang tak beraturan.

 

Puncaknya, warga sekitar perbatasan itu mengancam akan pindah ‘kewarganegaraan’ dari Bogor ke Bekasi. Saking kesalnya. Memang wajar juga warga sangat marah, karena kondisi jalanan di ‘seberang’ sana, yang masuk wilayah kota Bekasi, relatif mulus. Jauh lebih baik dibanding kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor. Saya jadi teringat kondisi jalanan di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat. Jalanan di Indonesia buruk, sedangkan jalanan di wilayah Malaysia mulus. Ketika saya berkunjung ke perbatasan Malaysia – Indonesia di Malinau Kalimantan Utara, kondisi jalanan kedua negara ini memang berbeda, hehe. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa kalau Anda terbangun dari tidur nyenyak di jalan perbatasan maka Anda sudah sampai di wilayah Indonesia. Saking parahnya guncangan akibat jalan rusak.

 

Kualitas Aspal

Jika dibandingkan dengan negara lain, kenapa kualitas jalan aspal di Indonesia secara umum buruk? Saya pernah ke beberapa negara dan menikmati aspal mereka. Kualitasnya bagus, dan jarang sekali menemui jalan-jalan bolong atau rusak. Apakah karena kondisi ekonomi negara tersebut lebih baik? Entahlah…

 

Yang pasti, kondisi jalan raya di Jawa Barat dan Banten, dua wilayah yang paling sering saya lalui, terlalu banyak yang buruk dan rusak. Selain di perbatasan Bogor dan Bekasi, juga di perbatasan Depok – Bekasi, perbatasan Bogor – Cianjur (Jonggol) dan Labuan, Anyer serta sejumlah wilayah lainnya. Sedangkan Jawa Tengah, agak mendingan, meski masih banyak juga jalan rusak, termasuk di jalan Pantura. Banyak lubang di sana-sini. DKI Jakarta, relatif baik. Wajar sebagian besar bagus karena belum rusak pun, mereka rajin melapisi jalan dengan aspal baru. Masih ada beberapa bagian yang rusak, tapi relatif sedikit. Anggaran jalan raya mereka jauh lebih besar dibanding propinsi lain. Atau pemerintah pusat pun, memberikan perhatian lebih buat jalan nasional di ibukota.

 

Yang menakjubkan justru kondisi jalan di propinsi Bali. Ini pendapat pribadi saya. Saya sempat berkeliling sebagian Bali menggunakan sepeda motor dan juga roda empat. Kondisi jalannya relatif mulus. Pengendara motor bisa menikmati keindahan pulau Dewata itu dengan tenang, nyaman dan aman. Menurut seorang sahabat tokoh pemuda adat Bali, kondisi jalan di sana pasti bagus karena warga dan masyarakat adat pasti akan mengingatkan pemda jika terdapat jalan rusak. Kalau peringatan dari warga dan masyarakat adat tidak digubris, bersiaplah pemda menghadapi risiko yang lebih besar. Apalagi menurutnya, pemda tidak punya alasan untuk membiarkan jalanan rusak, karena sebagian besar pemda di sana punya pendapatan asli daerah yang memadai.

 

Alhasil, meski sebagian jalanan di Bali relatif kecil dan sempit, tapi kualitasnya bagus. Mulus. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Mungkin masih ada jalanan yang kurang mulus, tapi jumlahnya amat sedikit. Paling tidak, itulah hasil pengamatan saya pribadi.

 

Bagaimana dengan Jawa Timur?

Inilah inti dari artikel ini. Kondisi jalanan secara umum di Jawa Timur, patut diacungi jempol. Berbeda sekali dengan Jawa Barat dan Banten, hehe. Saya warga ber-KTP Banten dan lahir serta tinggal di Jawa Barat. Benar, masih ada sejumlah ruas jalan rusak juga di Jawa Timur seperti bagian utara jalur Pantura Gresik. Atau salah satu ruas jalan yang membelah sawah di wilayah Nganjuk. Rusak. Kata warga sekitar, jalan tersebut rusak karena anggarannya dikorupsi. Tentu informasi ini belum valid, meski faktanya Bupati Nganjuk sudah mendekam di rutan KPK karena menjadi tersangka kasus korupsi beberapa proyek termasuk proyek perbaikan jalan. Namun, kuantitas jalan rusak di Jawa Timur jauh lebih sedikit dibanding jalan rusak di Jawa Barat dan Banten (hasil observasi berdasarkan pengalaman berkendara).

 

Kondisi baik jalanan di Jawa Timur saya rasakan begitu memasuki wilayah Magetan (perbatasan dengan Karang Anyar Jateng), Ngawi, Madiun, lanjut ke Nganjuk, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Malang sampai ke Surabaya lalu ke Gresik dan Tuban. Di sepanjang jalur tersebut, jalanan paling mulus berada di Madiun dan terutama di Tulung Agung. Surga jalan raya deh. Di dalam perumahan-perumahan kota Madiun, kondisi jalannya pun keren-keren. Tidak kalah dengan kualitas jalan di perumahan elit Pondok Indah di Jakarta. Mulussss…

 

Seorang kawan, sebut saja mas P, sejak beberapa tahun lalu berkecimpung di industri pembangunan jalan raya berbahan aspal. Dia beroperasi di sebuah kota besar di Jawa Timur. Awalnya dia kaget mengetahui bahwa lumayan banyak permainan dalam pengadaan dan perbaikan jalan raya. Suatu hari dia dikunjungi seorang pengusaha jalan aspal dari wilayah lain. Melihat proses pencampuran aspal di tempatnya. Pengusaha tersebut kaget karena mas P mencampur aspal dengan komposisi yang ideal.

 

“Mas, kalau mau untung, campurannya jangan seperti ini. Aspalnya dikurangi…” begitu kira-kira inti dari masukan pengusaha tersebut. Pendek cerita, mas P kecewa dan sedikit marah dengan sejumlah masukan pengusaha tersebut. Jiwa mudanya bergejolak. Pelajaran kebangsaan yang dipelajari di sekolahnya, terusik.

“Pak, tanpa curang pun saya sudah untung kok. Kenapa harus curang?” tanyanya sewot. Jawaban tersebut membuat kaget sang pengusaha.

“Saya berbisnis ini untuk membangun bangsa dan negara pak. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi…” ujarnya mantap. Membuat pengusaha tadi mati kutu dan segera pamit.

Terkesan sok nasionalis, namun faktanya memang begitu. Mas P membangun jalan dengan kejujuran tingkat tinggi. Campuran aspal dan berbagai bahan lainnya dia peroleh dari insinyur di ITS, hasil uji laboratorium. Dengan formula tersebut, dia bangun jalan dengan kualitas baik. Secara bisnis, dia mengaku masih bisa meraup untung sampai 30%. Berapa persen keuntungan pengusaha curang itu ya?

“Kualitas jalan tersebut bisa bertahan sampai 10 tahun!” katanya yakin.

 

Mendengar kisah sang kawan, kepala saya berputar-putar ke sejumlah fakta tentang jalan aspal. Banyak korupsi di jalan aspal. Begitulah kira-kira kesimpulan hasil gabungan dari sejumlah fakta tersebut. Ada pengusaha yang mengurangi campuran aspalnya, seperti kisah di atas. Ada juga pengusaha yang mengurangi lem aspal, sehingga aspal tidak merekat dengan sempurna. Ada juga yang mengurangi ketebalan aspalnya, sehingga mudah terkelupas dan rusak. Dan beragam fakta lainnya. Hal itu di luar aksi kongkalikong dengan pejabat terkait.

 

Tak heran jika di sejumlah jalan yang baru dibangun atau diperbaiki, dalam waktu singkat, dalam hitungan bulan, sudah rusak kembali. Pasti rusak kembali karena kualitas aspalnya kemungkinan besar di bawah standar! Kualitas yang tidak sesuai dengan spek, beban jalan dan cuaca.

 

Ah, saya jadi berkhayal dan bermimpi andaikan sebagian besar pengusaha seperti mas P, maka kualitas aspal di Jawa Barat dan Banten pun akan menjadi lebih baik dan tidak cepat rusak. Ah, andaikan para kepala daerah di Jawa Barat dan Banten menengok kondisi jalan di Jawa Timur dan Bali, seharusnya mereka sedikit malu…

 

Ah…  revolusi aspal!

karakter-di-jalanan

“Ayah, kenapa dia buang sampah ke jalan raya?” tanya anak bontot saya serius.

“Mungkin karena dia tidak punya tempat sampah di mobilnya,” jawab saya menebak-nebak.

“Menurut kamu, buang sampah ke jalan raya, bagus nggak?” saya balik bertanya.

“Ya jelas nggak dong Yah. Buang sampah itu ke tempatnya, bukan ke jalan raya. Jalan raya kan bukan tempat sampah…” ujarnya nyerocos.

 

Sahabat, saya senang mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan mengendarai mobil, ke berbagai tempat. Baik di dalam kota maupun ke luar kota. Selama di perjalanan, saya bisa berinteraksi dengan anak-anak secara dekat dan hangat. Nyaris tak ada batasan. Suasananya sungguh berbeda dibanding interaksi di rumah. Hal lainnya adalah kita bisa menemukan banyak kejadian yang tidak bisa ditemukan di rumah. Contohnya, orang-orang yang sembarangan buat sampah di jalan raya di atas. Sebuah perilaku negatif. Namun kita bisa mengubahnya menjadi positif untuk bangun karakter anak.

 

Kami memang sering sekali berjumpa dengan pengendara mobil, termasuk mobil mewah, yang sembarangan membuang sampah. Penumpangnya juga kadang-kadang demikian. Tidak hanya sekali dua kali. Tapi berkali-kali, dan di berbagai tempat.

 

Kepada anak-anak saya selalu mengatakan, “Tuh lihat masih ada orang yang sembarangan buang sampah. Dia pikir jalan raya dan alam semesta ini adalah tempat sampah. Apakah kalian mau berperilaku seperti orang itu?”

Anak-anak menggeleng.

 

Kejadian nyata di depan mata, akan lebih dalam terekam oleh otak dan pikiran anak-anak. Tinggal kita sebagai orangtua, memberikan makna yang benar terhadap kejadian tersebut, agar hati anak-anak pun menjadi benar. Perilaku negatif itu menjadi bermakna positif. Inilah esensi membentuk karakter anak. Bukan hanya teori melainkan juga praktik. Sebagai tindakan nyata hal tersebut, di mobil, kami menyediakan tempat sampah khusus. Sehingga kami, tidak pernah membuang sampah sembarangan.

 

Di lain waktu, kami juga menjumpai pengendara yang ugal-ugalan di jalan tol. Ada yang pindah lajur sembarangan tanpa menyalakan lampu sen. Pindah lajur padahal garis pemisahnya tidak putus-putus. Ada juga yang menyalip dari bahu jalan. Atau ada juga mobil pelan yang berjalan di lajur paling kanan. Hal-hal semacam itu, dilihat langsung oleh anak-anak. Setiap kali hal tersebut terjadi, saya memberikan sederet kalimat untuk memberikan makna positif.

 

“Nak, pindah lajur tanpa kasih sen itu berbahaya buat dirinya dan orang lain pengendara di belakangnya. Memberikan lampu sen artinya memberi tahu kepada pengendara lain. Kita gak boleh seenaknya pindah-pindah lajur…”

 

Pada kesempatan berikutnya, anak-anaklah yang sudah bisa memberikan sederet kalimat bermakna setiap kali menjumpai kejadian seperti itu. “Tuh Yah, dia sembarangan pindah lajur…”

 

——-

 

Jalan raya di Indonesia ini bisa menjadi sarana pembentukan karakter. Jalan raya kita kaya akan beragam peristiwa. Boleh dikatakan, jalan raya adalah potret kehidupan bangsa ini. Jenis perilaku apapun ada di jalan raya. Bahkan yang terburuk sekalipun. Bayangkan jika anak-anak kita menyaksikan potret perilaku tersebut tanpa bimbingan orangtua? Hmmm, bisa jadi mereka akan meniru perilaku-perilaku buruk di jalan. Sehingga akan menjadi warisan negatif turun temurun.

 

Orangtua punya peran penting dalam membangun karakter anak. Luangkan sedikit waktu, tenaga dan pikiran selama mengendarai, untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada anak, sesuai momentum yang terjadi. Bukan hal mudah memang, apalagi jika kita juga harus konsentrasi menyetir. Kadang terganggu juga oleh pertanyaan-pertanyaan bertubi dari anak-anak kita. Di sinilah perlunya kerjasama orangtua (suami istri).

 

Saya sungguh sepakat dengan pakar parenting ibu Elly Risman, yang menyarankan orantua untuk lebih sering pelesiran bersama anak-anaknya. Pelesiran, berwisata, naik kendaraan sendiri atau umum bersama, akan membuat hubungan orangtua – anak makin bagus. Orangtua – anak juga bisa mengalami berbagai kejadian bersama-sama, memahami bersama-sama, dan memecahkan masalah bersama setiap kali menghadapi problem. Seperti cerita saya di jalan raya di atas, pada moment kebersamaan ini, orangtua punya kesempatan amat besar untuk memasukkan nilai-nilai positif kepada anak, tanpa terasa seperti menasihati atau menggurui.

 

Mari kita bangun karakter positif anak-anak kita!

Kapanpun dan di manapun. Mulai saat ini juga.

 

pendidikan-karakter

Konflik yang nyaris tiada ujung akhir-akhir ini, membuat resah berbagai kalangan. Konflik kali ini memang unik, karena tidak terkait dengan separatisme, kekuatan bersenjata dan sejenisnya. Konflik lebih banyak berhubungan dengan kebhinekaan dan SARA dengan bumbu intelektualitas para pihak yang terlibat plus teknologi terkini. Hal yang menarik, karena kita berada di zaman maju dan modern dengan intelektual yang lebih baik, tapi tetap berkonflik ala masa lalu. Masing-masing pihak merasa benar sendiri dan cenderung memaksakan dalam menyuarakan kepentingannya. Sebuah fakta yang akan dicatat dalam lembaran sejarah bangsa ini. Sejumlah kalangan mulai menyuarakan keresahannya, seperti kelompok-kelompok keagamaan, nasionalis dan kaum cendekia.

 

Saya melihat dari sisi yang berbeda. Mungkin bukan akar, tapi mengarah ke akar, yaitu faktor pendidikan usia dini dan dasar. Mari kita tengok bagaimana materi (kurikulum) pendidikan kita saat ini dan beberapa dekade ke belakang. Saat-saat ketika pihak-pihak yang sekarang sudah punya panggung sebagai orang dewasa berkonflik, mengenyam pendidikan. Mungkin termasuk di dalamnya saya sendiri. Sejak bangku TK (dulu belum ada atau belum banyak PAUD), kita sudah dijejali dengan muatan pendidikan akademis (khususnya kognitif serta termasuk di dalamnya keterampilan/keahlian). Sedangkan pendidikan karakter, relatif dangkal.

 

Padahal, berdasarkan hasil kajian banyak kalangan dan pendapat sebagian pakar pendidikan serta parenting, yang lebih penting ditanamkan pada usia dini dan dasar adalah pendidikan karakter. Bukan pendidikan akademis. Apalagi pendidikan karakter membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibanding pendidikan akademis. Sebuah penelitian menyebutkan, pendidikan karakter wajib tertanam dalam diri setiap manusia sejak usia 0 tahun sampai usia 15 tahun.

 

Karakter inilah yang akan menjadi pondasi dan pijakan seorang manusia, dalam mengarungi kehidupan. Dan pendidikan karakter, tidak hanya melulu dilakukan oleh sekolah/lembaga pendidikan formal, melainkan juga keterlibatan secara aktif orangtua dan lingkungan sekitarnya. “Butuh orang sekampung untuk mendidik karakter seorang anak,” kira-kira demikianlah untuk menggambarkan betapa pentingnya pendidikan karakter.

 

Silakan Anda telusuri sendiri pendidikan yang kita dapatkan selama ini, sejak PAUD, TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Pendidikan apakah yang lebih banyak kita terima? Keseimbangan antara pendidikan akademis dan karakter, timpang. Pendidikan karakter cenderung terabaikan, atau porsinya sangat tidak memadai. Orangtua (termasuk saya dulu hehe) begitu khawatir ketika anak kita yang duduk di kelas 1 SD, belum bisa membaca. Galau saat anak kita duduk di kelas 2 SD, belum bisa berhitung. Resah saat sudah kelas 6 SD, belum tahu ibukota propinsi Sumatera Barat.

 

Tapi terkesan biasa saja, saat anak belum biasa membuang sampah pada tempatnya; Tidak peduli pada orang yang lebih tua atau kurang mampu; Gagap ketika harus menghargai pendapat orang lain; Terbiasa mengejek dan menghina teman sekelasnya…

 

Padahal, bekal mengarungi kehidupan bukan melulu akademis atau keterampilan. Bekal hidup paling mahal adalah karakter dirinya, yang syarat dengan kemampuan pengendalian emosi, pengelolaan daya pikir/nalar, serta spiritualitasnya. Hal tersebut inilah yang menurut saya, menjadi cikal bakal penyebab kenapa sejak Era Reformasi, bangsa kita belum juga menemukan titik keseimbangan baru, untuk tinggal landas membangun bangsanya secara bersama-sama. Mengedepankan kepentingan umum, dibanding kepentingan diri (ego) dan kelompoknya. Kita masih terlalu sibuk mengurusi ego, ketersinggungan SARA, dan sejenisnya, lalu berkonflik.

 

Lihatlah sejumlah negara lain, yang pendidikan karakternya sudah relatif baik. Misal di sejumlah negara skandinavia (Eropa bagian utara). Sejak usia dini, mereka dijejali dengan pendidikan karakter, sesuai dengan apa yang mereka yakini (karakter setiap bangsa berbeda-beda, meski sebagian besar tetap sama dan berlaku universal). Finlandia selalu menjadi contoh pendidikan karakter usia dini sampai umur 15 tahun.  Pendidikan dini dan dasar menyeimbangkan antara pola pikir (mindset), soft skill (termasuk karakter di dalamnya) dan life skill. Hasilnya, negara-negara skandinavia selalu menempati urutan teratas sebagai: negara paling bersih, negara paling rapi, negara paling bebas korupsi, dan negara yang warganya paling bahagia. Dan yang pasti, di sana: minim konflik. Problem solving menjadi salah satu materi pembelajaran utama di sekolah. Dan konflik serta kekerasan, bukan jalan keluar masalah!

 

Namun, saya optimistis. Kondisi sekarang ini di Indonesia akan segera berlalu. Mulai muncul generasi baru yang sudah mendapatkan pendidikan karakter memadai, yang bibit-bibit berikutnya masih terus dipupuk sampai sekarang. Makin banyak sekolah yang lebih mengedepankan dan menyeimbangkan pendidikan karakter dengan akademis. Makin banyak pula orangtua yang sadar tentang pendidikan karakter.

 

Semoga para pemimpin bangsa ini di berbagai bidang kehidupan, politik, sosial, ekonomi, budaya, agama, militer dan sebagainya, makin memberikan perhatian yang nyata terhadap pendidikan karakter. Bukan sekadar slogan atau jargon, tapi benar-benar merealisasikannya. Para pemimpin itu juga harus sadar bahwa pemikiran, ucapan, dan perbuatan mereka mencerminkan karakternya, serta menjadi cermin buat seluruh bangsa, termasuk anak-anak kita.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/pendidikan-karakter-manjur-kurangi-konflik_58883044907a61c910ed7fcc

 

2018, Perlukah Sumpah Pemuda Baru Untuk Indonesia?

oleh Dodi Mawardi

foto-bendera-merah-putih-raksasa-akan-dikibarkan-di-lokasi-deklarasi-gam

Keindonesiaan bangsa ini benar-benar sedang diuji. Sejak Jokowi naik ke tahta kekuasaan, PR besar pemerintah adalah merawat kebhinekaan. Indonesia ibarat sebuah pohon besar yang sangat rindang, beragam dahan dan ranting, serta berbuah lebat. Banyak pihak kepincut untuk memetik buah-buahan tersebut. Bahkan, kalau perlu mengijonnya. Kebhinekaan Indonesia sudah mengalami pasang surut, selama puluhan tahun sejak kemerdekaan. Padahal, kebhinekaan itu sudah ditanam dan dipupuk sejak 1928, ketika sumpah pemuda dikumandangkan.

 

Menengok catatan sejarah bangsa ini, ada satu hal yang menarik. Pada 1908, orang-orang se-Nusantara yang belum menjadi Indonesia, menunjukkan kebangkitan diri dalam berjuang melawan penjajah, lewat lahirnya Boedi Utomo. Perjuangan melawan penjajah berubah strategi dari hanya perjuang fisik, ditambah dengan perjuangan intelektual dan diplomasi. Semangat persatuan mulai mekar. Momentum itu diabadikan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Nama dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, wajib dikenang sebagai pelopornya.

 

20 tahun kemudian, strategi non fisik tersebut semakin mengerucut dalam semangat kebersamaan lewat pemuda-pemuda bervisi jauh ke depan, dalam bentuk Sumpah Pemuda (1928). Semangat mereka muncul berkat gerakan Boedi Utomo. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menyelenggarakan kongres untuk menyatukan Indonesia. Pada kongres pertama 1928, perwakilan pemuda dari seluruh Indonesia hadir dan menyatakan sumpah yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda.  Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb., hadir serta pengamat dari pemuda Tiong Hoa yaitu Kwee Thiam Hong dkk.

 

Kebhinekaan kita melebur dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sejarah bangsa sudah memberikan cermin kepada kita, tentang cikal bakal negeri ini yang dibangun dari keberagaman. Nenek moyang kita bersatu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kemerdekaan dari penjajahan. Hasilnya, 1945 Indonesia benar-benar merdeka. 17 tahun setelah Sumpah Pemuda berkumandang. 37 tahun setelah strategi perjuangan berubah.

 

Sekarang, Indonesia mengalami ujian hebat. Sesungguhnya terjadi sejak 1990-an, ketika rakyat tidak lagi mau dipimpin oleh rezim otoriter. 1998, dipelopori oleh mahasiswa (dan pemuda), kita mengubah diri (reformasi), mengganti rezim otoriter dengan pemerintahan demokratis. Kita memasuki era baru, semangat baru, era Reformasi. Semangat itu seharusnya terus ada dalam diri bangsa ini seperti yang ditunjukkan pemuda Indonesia pada masa lalu. Saat itu pun, pasti terjadi banyak perbedaan dan selisih paham. Namun, dengan satu tujuan yang sama, semuanya bisa disatukan.

 

Melihat kondisi sekarang, saya jadi flashback ke 1928. Tahun depan, yaitu 2018, persis 20 tahun setelah terjadinya Reformasi. Pemuda Indonesia pada masa 1928, menguatkan tekad kembali untuk bersatu yang dimulai oleh Boedi Utomo 20 tahun sebelumnya. Menyemaikan semangat 1908, agar terus menjadi pegangan dalam perjuangan memerdekaan Indonesia. Apakah 2018 ini kita juga harus kembali merevitalisasi semangat 1998? Semangat Reformasi? Menumbuhkan kembali tujuan dan cita-cita Reformasi yang sekarang seperti dilupakan oleh sebagian anak bangsa.

 

Jika 2018, kita kembali bersama-sama bersumpah menyatakan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa plus satu tujaun bersama, maka cita-cita Reformasi akan tercapai. Sama seperti cita-cita Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Bung Karno dan lain-lain, yang terwujud pada 1945. Indonesia merdeka. Cita-cita Reformasi bukan tidak mungkin akan terwujud atau mulai terwujud pada tahun 2035 (jika mengikuti pola 1908 – 1928 – 1945 — 1998 – 2018 – 2035). Ingat, pada tahun 2035, Indonesia sedang berada pada kondisi surplus penduduk produktif yang mencapai sekitar 65% total penduduk. Bonus demografi yang dimulai sejak tahun 2020 nanti.

 

Bonus demografi itu akan benar-benar menguntungkan, jika kita menyiapkan mereka dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan, termasuk pemahaman tentang kebangsaan. Ingat, dr. Wahidin mengubah strategi perjuangan fisik/kekerasan menjadi perjuangan intelektual dan diplomasi pada 1908, lebih dari 100 tahun lalu. Jadi kalau sekarang kita masih menggunakan hanya intelektual dan diplomasi, maka hal itu sudah basi. Apalagi jika menggunakan strategi kekerasan, fisik dan otot, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Kuno banget!

 

Kita butuh strategi yang jauh lebih baik dibanding otot (kekerasan/fisik) dan lebih maju dibanding otak (intelektual/diplomasi). Apa itu?

 

Ah ayo kita bersumpah dulu untuk tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa… plus satu cita-cita bersama!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

????

Miftakhul Ahsan dan penulis

Dia adalah mantan pilot Qatar Airways. Sebelumnya, dia mengabdi di maskapai Garuda Indonesia. Lebih dari 20 tahun menjalani profesi tersebut, dan membawanya melanglang buana. Kini, dia tak lagi mengawaki pesawat. Sejak beberapa bulan silam, dia memutuskan berhenti, untuk mengabdi di kampung halamannya. Sebuah bukit kapur disulapnya menjadi tempat wisata yang menarik. Miftakhul Ahsan, nama mantan pilot tersebut. Dia punya cita-cita luhur untuk berkarya di kampung, mengembangkan bisnis wisata edukasi. Miftah lahir di Tulung Agung, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Blitar, lokasi tempat wisata yang sedang dirintisnya.

Sekilas, lokasi wisata ini sama sekali tidak menjanjikan. Panas dan gersang. Demikian kesan kami ketika berkunjung ke sana. Debu masih leluasa beterbangan. Lokasinya persis di perbatasan Blitar dan Tulung Agung, di kecamatan Kademangan. Di wilayah ini terdapat bukit-bukit yang berderet-deret, seolah memisahkan wilayah pantai dengan daratan. Sebelah kiri adalah wilayah perkotaan Tulung Agung dan Blitar, sedangkan di balik bukitnya adalah wilayah menuju pantai selatan.

bukit-bunda-4

Di salah satu bukit itulah, Miftah mulai berkreasi. Dia menyebutnya sebagai Bukit Bunda, yang dituliskannya di atas salah satu bukit, mirip dengan tulisan Hollywood di Los Angeles sana. Setiap pengunjung yang baru datang, pasti akan bisa langsung melihat tulisan raksasa tersebut. Kenapa namanya Bukit Bunda? …”Biar semua orang bertanya,” katanya terkekeh. Blitar memang terkenal dengan wisata bukit. Di sana, juga ada Bukit Teletubbies (deretan bukit dengan rumput hijau royo-royo mirip bukit dalam film anak Teletubbies) dan Bukit Bintang (dari bukit ini pengunjung dapat leluasa dan jelas melihat bintang di malam hari serta menikmati pemandangan kota Blitar dari ketinggian).

Jika dua bukit wisata lainnya adalah wisata natural – apa adanya – maka Bukit Bunda adalah hasil paduan kondisi alam dengan kreativitas sang pilot. Dia membelah-belah bukit tersebut, menjadikannya layak daki, bahkan bisa dilalui kendaraan bermotor dan mampu memberikan kesan berbeda. Pekerjaannya belum selesai. Baru 40%. Namun, jumlah pengunjung yang datang membludak. Miftah menyediakan sejumlah spot fotografi yang sulit ditemukan di tempat lain. Keren. Dan langsung menjadi tempat favorit kalangan muda di Blitar dan Tulung Agung.

bukit-bunda-blitar-2

Jika Miftah sebagai pengelola menyebut lokasi wisatanya sebagai Bukit Bunda, mungkin pengunjung – terutama kalangan muda – akan berbeda pendapat. Sebagian mereka menyebutnya sebagai Bukit Cinta. Banyak spot romantis di sana. Bahkan ke depan, lulusan SMA Taruna Nusantara itu sedang membelah sebuah bukit lagi, akan membuat jembatan yang menyambungkan bukit yang terbelah itu. Dia menamakannya sebagai jembatan cinta, karena di jembatan itu, pengunjung dapat mengabadikan cinta mereka dengan pasangannya. Romantis sekali.

Di kaki bukit, pengelola menyediakan tempat kuliner yang bercita rasa tinggi, baik dari sisi desain maupun menunya. Terasa sekali, sentuhan seorang pilot yang sudah menginjak banyak kota di belahan bumi manapun. Dia meramunya menjadi sebuah tempat yang asyik, untuk kongkow para pengunjung. Menikmati makanan dan minuman, sambil merasakan suasana yang berbeda dilengkapi sebuah layar raksasa yang membelakangi bukit. Pengunjung yang lelah berfoto di kaki-kaki bukit yang menanjak atau di puncak bukit yang eksotis atau memanfaatkan motor trail dan mobil Komodo mengelilingi bukit, bisa beristirahat nyaman di tempat-tempat makan itu.

bukit-bunda-blitar

Hebatnya, dia merangkul warga sekitar untuk berperan besar dalam pengelolaan Bukit Bunda. Tenaga kerja yang berjumlah lebih dari 20 orang adalah warga setempat. Penyedia makanan juga warga setempat. Benar-benar memberdayakan orang-orang sekampungnya. Sebuah hal luar biasa, yang dapat menjadi contoh buat orang-orang hebat dan pintar di kota besar untuk kembali membangun kampung halamannya. Pulang ke desa, memberdayakan dan memampukan warga desa. Dengan kreativitas, Anda sangat bisa menciptakan peluang besar di desa. Miftakhul Ahsan, mantan pilot Qatar Airways dan Garuda Indonesia itu, sudah membuktikannya. Merealisasikan impian-impiannya!

 

Menurut seorang kolumnis Hawe Setiawan, bahasa Indonesia itu ajaib. Penuh mistik. Kenapa? Karena bahasa Indonesia mampu menyatukan bangsa Indonesia yang amat beragam ini. Ketika saya membaca pendapatnya, kening saya berkerut. Sambil bergumam, benar juga ya… bahasa Indonesia itu keren. Bisa menjadi pemersatu bangsa, dan layak menjadi pilar kelima yang gencar dikampanyekan MPR yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Bahasa Indonesia memang ajaib. Mungkin juga disebut sakti dan lebih sakti dibanding Pancasila, yang setiap tanggal 1 Juni sering disebut sakti. Bayangkan… Indonesia ini memiliki lebih dari 400 suku bangsa dengan ragam 700-an bahasa. Banyak sekali. Jika bahasa di seluruh dunia disatukan, maka jumlahnya tidak akan mencapai sebanyak itu. Kalau tidak percaya, silakan hitung sendiri, hehe…

 

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa induknya yaitu Melayu, yang digunakan oleh sebagian masyarakat Kalimantan, Sumatera dan Semenanjung Malaka. Ingat ya, bahasa Indonesia bukan bahasa suku mayoritas yaitu Jawa. Secara logika, seharusnya bahasa yang dipakai di Indonesia adalah bahasa Jawa, karena penggunanya jauuuh lebih banyak dibanding pengguna bahasa Melayu. Tapi ajaib! Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia-lah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Orang Jawa tidak pernah terdengar memprotes kebijakan para pendiri bangsa.

 

Tak salah jika kemudian bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan, seperti yang tercantum dalam Sumpah Pemuda. Bahasa yang satu ini memang ajaib. Semua suku bangsa yang memiliki beragam bahasa itu, legowo saja menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama. Tidak perlu pakai senjata dan penjajahan untuk menyebarkan bahasa Indonesia dari Aceh sampai ke Papua dan dari Talaud sampai ke Rote.

 

Di belahan bumi manapun, bahasa suku mayoritaslah yang biasanya menjadi bahasa utama. Lalu berurutan sesuai jumlah suku bangsanya. Kalau menilik Indonesia maka seharusnya bahasa Jawa yang menjadi bahasa utama, kemudian disusul bahasa Sunda, dan baru bahasa Melayu lalu bahasa lainnya. Tengok di Jepang, bahasa utama mereka adalah bahasa suku mayoritas yang jumlahnya lebih dari 90%. Lihat pula di China, India dan negara lainnya. Bahasa penduduk mayoritaslah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Sebagian besar demikian.

 

Kalau ada negara yang menggunakan bahasa Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol yang bukan bahasa ibu mereka sebagai bahasa resmi, hal itu terjadi akibat penjajahan. Banyak negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang menggunakan bahasa-bahasa dari Eropa tersebut sebagai bahasa resmi, karena dulu pernah lama dijajah oleh negara-negara tersebut.

 

Indonesia beda. Masyarakat kita dan para pendiri bangsa, meski sebagian fasih berbahasa Belanda (yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun), tidak menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi, atau bahasa kedua dan ketiga. Bahasa Indonesia sakti, karena mampu menaklukkan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan negeri ini. Para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia saat itu, secara aklamasi memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

 

Sakti bukan? Jadi selain Pancasila, yang juga sakti adalah bahasa Indonesia. Menurut saya pribadi, bahasa Indonesia layak menjadi PILAR KELIMA bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Dengan satu bahasa, kita sukses menjalin begitu banyak perbedaan, menjaga toleransi, hidup berdampingan dan merasa senasib sepenanggungan dengan cita-cita luhur yang sama.

 

Tanpa paksaan dan apalagi penjajahan, seluruuh rakyat Indonesia dengan sukarela dan suka cita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia ajaib dan sakti. Dan yang lebih hebat lagi adalah rakyat Indonesia yang mampu menahan egonya, untuk tidak memaksakan bahasa sukunya masing-masing sebagai bahasa resmi negara. Hebat.

 

Yang setuju angkat tangan!

 

 

 

Ha ha… tertawa dulu ya sebelum tertawa itu dilarang. Inilah fenomena dahsyat kreativitas orang Indonesia yang mewabah sampai ke seantero dunia. Dan kreativitas itu… sungguh sangat sederhana. Tidak perlu yang rumit-rumit. Cukup om telolet om.

telolet-telolet

Media sosial telah menjadi sarana warga dunia untuk mengekspresikan apapun. Baik positif mauupun negatif. Fenomena om telolet om sungguh positif. Dia lahir dari bawah, dari kelas yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya, akan mampu mengguncang dunia. Meminjam istilah sosiologi, fenomena ini berasal dari kaum jelata dan proletar.

 

Manusia generasi sekarang kembali ke khittahnya yaitu kesederhanaan. Bahagia itu sederhana. Hanya mendapatkan klakson yang diminta pun, sudah bahagia. Kreativitas itu sederhana. Hanya dengan tulisan lusuh di karton saja, sudah kreatif. Hanya memainkan klakson bus saja, sudah kreatif.

 

Dan yang lebih penting lagi, fenomena om telolet om, mampu menyatukan seluruh dunia berupa trending topic di twitter, heboh di facebook, download rame-rame di youtube dan gemuruh di media sosial lainnya. Media sosial mampu menyatukan kelas bawah — bahkan sangat bawah — dengan kelas menengah serta kaum elit di negeri ini, bahkan kaum sosialita papan amat atas di manca negara.

 

Medsos mampu menyatukan dan melupakan semua perbedaan. Siapapun bisa kena wabah om telolet om, tanpa pandang bulu, warna kulit, ideologi, agama, politik dan lain segalanya. Dunia butuh hal-hal semacam ini. Manusia memerlukan refreshing sederhana, yang membahagiakan.

 

Kita bosan dan jenuh dengan kekerasan, perbedaan dan konflik. Penduduk medsos dunia yang masih normal dan waras otaknya: menolak intoleransi, menolak konflik politik di Suriah — Allepo, menolak konflik Sara di Rohingya, menolak hujatan terhadap pihak-pihak yang berseberangan dan sejenisnya.

 

Fenomena om telolet om, pada salah satu sisinya mirip dengan gerakan 212. Manusia Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang Indonesia mayoritas suka damai, suka toleransi, suka membahagiakan orang lain, kreatif, suka hal-hal yang menyejukkan, dan dengan bersuka cita bergaul dengan masyarakat dunia.

 

Lihatlah sekarang, tanpa melihat latar belakang, semua warga dunia terkena demam om telolet om. Indonesia bisa mengguncang dunia, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mengguncang dengan aksi damai ala 212, mengguncang dengan on telolet om, dengan sepakbola AFF, atau nanti — optimistis — dengan aksi-aksi lain yang luar biasa, menyejukkan, positif dan membahagiakan dengan cara sederhana.

Saya cinta Indonesia!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/om-telolet-om-toleransi-yang-mendunia_585b46a06e7e61a30d229004

Judul di atas adalah benar-benar sebuah pertanyaan, yang membutuhkan jawaban dari kalangan intelektual. Khususnya mereka yang sudah bergelar doktor (S3) dan menyandang predikat profesor. Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut. Melainkan merinci lebih jauh terkait pertanyaan tersebut. Kenapa?

Jumlah judul buku yang beredar di negeri ini setiap tahun berkisar 25.000 – 30.000 judul. Setara dengan jumlah judul buku yang beredar di Malaysia atau Vietnam, yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding Indonesia. Dari jumlah judul buku itu, tidak sampai setengahnya (dugaan kuat penulis) ditulis oleh mereka yang tidak menyandang gelar S3 atau profesor. Data dari pemerintah menguatkan dugaan itu.

kenapa-profesor-malas-menulis

Menurut pemerintah jumlah jurnal internasional hasil karya para doktor dan profesor di Indonesia hanya sekitar 9.000 judul pertahun. Juuuuh di bawah Malaysia yang lebih dari 23.000 judul. Kalah dari Singapura dan Thailand yang berkisar belasan ribu judul. Jangan bandingkan dengan negara maju. Malu. Terlalu jauh.

Padahal jumlah doktor dan profesor di Indonesia yang tercatat di kementrian sebanyak 31.000 orang. Jika kita anggap jurnal tersebut dibuat masing-masing oleh satu orang, maka masih ada 22.000 doktor dan profesor yang tidak menulis karya ilmiah di jurnal internasional. Mereka ngapain saja?

Tentu banyak alasan, kendala, hambatan dan tetek bengek lainnya yang bisa diajukan. Menurut para motivator, orang yang malas melakukan sesuatu pasti memiliki 1001 alasan untuk tidak melakukannya. Alasan untuk melakukan, kalah jauh baik secara kualitas maupun kuantitas dibanding alasan untuk tidak melakukan. Hal inilah yang tampaknya terjadi pada kaum intelektual Indonesia. Alasan untuk tidak membuat karya tulis di jurnal internasional, terlalu banyak dan terlalu mantap.

Kalau saya berdiskusi dengan teman-teman di kampus (akademisi), begitu banyak alasan tersebut. Mulai dari hal teknis, non teknis, psikologis, materi dan lain sebagainya. Banyak sekali. Padahal sebagian kampus – terutama kampus negeri – sudah mengalokasikan sejumlah dana, untuk mendukung penelitian dan pembuatan karya tulis. Dana yang masih dianggap terlalu kecil oleh teman-teman akademisi. Walaupun kalau dibandingkan dengan pemasukan saya – sebagai penulis profesional berbasis projek buku/artikel – jumlahnya lumayan juga. Alias tidak terlalu kecil. Ya, kalau diperbesar akan lebih baik, meski belum tentu juga mampu memacu mereka untuk menulis karya ilmiah.

Saya belum S2, walaupun bertekad menuju S3 pada beberapa tahun mendatang. Selama 10 tahun berkarir di bidang penulisan, sudah menghasilkan lebih dari 60 judul buku (setahun 6 buku, dua bulan 1 buku) dan ribuan artikel plus buku teks kuliah. Teman-teman saya penulis buku, sebagian besar masih S1, sebagian kecil S2 dan sebagian amat kecil S3. Kenapa yang S3 lebih sedikit menulis ya?

Apapun alasannya, apapun dalihnya, apapun kondisinya, faktanya adalah jumlah karya tulis yang dihasilkan oleh kaum tertinggi intelektual Indonesia yaitu para doktor dan profesor, masih sangat minim. Sulit dibantah. Baik dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk karya tulis di jurnal internasional.

Mungkin pak Jokowi perlu juga membuat secara khusus revolusi mental kalangan top intelektual tersebut, agar mau lebih rajin menghasilkan karya ilmiah dan tidak hanya mengerjakan proyek-proyek saja! Kaum top intelektual, mengemban tanggung jawab besar untuk menularkan ilmu pengetahuan, wawasan dan mindset positif mereka kepada generasi penerus bangsa ini.

Bertubi-tubi negeri ini mendapatkan ujian toleransi, baik toleransi beragama maupun toleransi atas perbedaan suku, rasa dan antar golongan (SARA). Sejak Indonesia merdeka, SARA memang menjadi salah satu hal paling sensitif. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun, masalah SARA sami mawon, hal yang sangat sensitif.

Ketika beberapa tahun lalu, Indonesia memperoleh sebuah penghargaan sebagai negara paling toleran di dunia, bukan berarti tanpa gejolak intoleransi. Tapi mungkin dibanding negara lain, Indonesia masih lebih baik. Apalagi perbedaan SARA di negeri ini amat besar. Beragam agama, ratusan suku bangsa, dan mungkin ratusan pula perbedaan antar golongan lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara paling beragam di muka bumi ini.

Sesungguhnya, kita sudah relatif berhasil menekan intoleransi. Buktinya, mayoritas kita masih bisa hidup damai dan tenang, baik mayoritas maupun minoritas. Prosentase intoleransi jika diangkakan relatif kecil. Tapi, intoleransi tidak boleh hanya dihitung berdasarkan angka-angka saja. Terdapat level yang lebih penting daripada itu, yaitu kualitas intoleransi. Sejauh ini, level kualitas intoleransi kita mulai mengkhawatirkan.

PR menganga di depan mata kita, khususnya buat para guru dan orangtua. Guru-guru lama sudah mulai pensiun, yaitu guru-guru yang memproduksi generasi produktif sekarang. Generasi yang saat ini menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini sudah lahir generasi baru guru-guru yang berpikir lebih maju, lebih kreatif dan lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Guru-guru sekarang bisa menjadi lebih baik dibanding guru sebelumnya, atau sebaliknya lebih buruk, dalam sejumlah hal, termasuk pendidikan toleransi SARA.

Pun demikian dengan orangtua. Generasi produktif saat ini sudah menjadi orangtua yang melek teknologi, melek globalisasi dalam banyak hal, melek budaya, dan melek segalanya, termasuk dalam pola mendidik/mengasuh anak (parenting) yang kian marak khususnya di kota-kota besar. Orangtua generasi Z – sebut saja demikian – juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam hal toleransi SARA. Mereka lebih terbuka, berpikiran maju, mau bertukar pikiran dan bersilang pendapat.

Hal-hal tersebut berkelindan dengan kutub sebaliknya, yang memiliki fanatisme amat sempit dalam SARA, khususnya agama. Mereka berpikir bahwa golongannya yang paling benar, paling eksis, dan berhak menyalahkan golongan lain, bahkan bertindak keras terhadapnya. Sisi ekstrim dari fanatisme sempit inilah yang melahirkan apa yang disebut dunia barat sebagai terorisme. Istilah yang sesungguhnya sudah lama hadir, untuk menyebut siapapun yang menghalalkan kekerasan untuk meneror pihak lain, dengan alasan-alasan ideologis.

Guru dan orangtua generasi Z, punya tugas berat, bagaimana memberikan pemahaman tentang toleransi SARA kepada anak-anak. Mereka juga menghadapi dua kutub yang amat bertolak belakang, namun kerap berkelindan. Yaitu kutub terbuka dan penuh toleransi (bahkan kadang bablas toleransi) dengan kutub sebaliknya yang menganut fanatisme sempit bahkan ekstrim serta tentu saja intoleran.

Dalam era internet dan medsos seperti saat ini, kedua kutub itu dengan mudahnya masuk dan merasuk ke kepala siapapun. Termasuk anak-anak. Amat berbahaya, karena saringan kepala anak-anak masih lemah. Apalagi jika orangtua dan guru, terlambat atau belum pernah atau jarang, memberikan pemahaman yang tepat tentang toleransi SARA, sehingga anak tak punya saringan pikiran yang memadai.

Kita melihat saat ini, relatif mudah meletupkan intoleransi dengan pemantik tertentu. Lebih mudah lagi berkat wabah medsos di seantero kolong jagat, termasuk di Indonesia. Jika generasi Z dan generasi berikutnya sudah memiliki pemahaman yang baik, tentu letupan intolernasi tak perlu lagi terjadi. Walaupun, harus kita akui, di negara yang sudah maju pendidikan dan pengajarannya seperti di Amerika, Eropa dan Ausrtalia pun, intoleransi SARA masih kerap terjadi. Dalam banyak hal dan aspek toleransi, justru bangsa kita lebih baik, sehingga sempat mendapatkan penghargaan tadi.

Sebagai orang yang punya anak, dan berkecimpung di dunia pendidikan, kami tak henti-hentinya memberikan pemahaman positif kepada anak-anak agar selalu menjaga toleransi SARA dengan siapapun. Perbedaan adalah sebuah rahmat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita wajib saling menghormati, menghargai, memahami, tepo seliro dalam banyak hal. Bukan hanya lewat kata-kata melainkan juga dalam tindakan nyata.

Guru dan orangtua menjadi ujung tombak agar negeri ini tetap menjadi bangsa yang punya toleransi SARA  tinggi. Bangsa yang dihargai dan dihormati bangsa lain karenanya. Bangsa yang nyaman ditinggali oleh semua warganya yang beragam dan berbeda ini, sejak lahir sampai akhir hayatnya.

Seperti syair lagu Indonesia Pusaka:

….

Di sana tempat lahir beta.

Dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua.

Tempat akhir menutup mata.

….

Semoga selalu demikian, kini, selamanya.

 

 

“Pendengar, jika Anda mengalami sakit kepala… segera minum XXXX, obat sakit kepala yang sudah terbukti manjur. XXXX mengandung paracetamol dalam dosis yang tepat, dilengkapi dengan cafein. XXXX dengan cepat bereaksi menyembuhkan sakit kepala Anda. Tidak perlu ragu-ragu lagi, minum saja XXXX begitu Anda mengalami sakit kepala. XXXX terbukti majur! Sakit kepala XXXX obatnya.”

 

Pernahkah Anda mendengar iklan semacam itu? Yang disampaikan langsung oleh penyiar. Jenis iklan yang disampaikan langsung oleh penyiar dengan hanya membacakan atau menyampaikan secara monolog seperti itu disebut dengan adlib.

 

Adlib berasal dari kata adlibitum dalam bahasa Latin yang berarti spontan atau tanpa persiapan namun penuh improvisasi. Sebagian praktisi radio menyebutnya sebagai adlip, atau iklan bibir karena menganggap iklan tersebut hanya berupa suara langsung penyiarnya tanpa dibumbui bunyi/suara lainnya. Sebuah anggapan keliru.

apa-itu-adlib

Sejumlah stasiun radio menilai adlib lebih tinggi dibanding iklan spot. Dan memang demikian seharusnya. Walaupun sebagian radio lainnya, menganggap adlib sama saja dengan spot atau malah menilainya lebih rendah. Penilaian itu bisa dilihat dari berapa tarif pemasangan adlib di radio tersebut. Misalnya di sebuah stasiun radio ternama di Jakarta. Adlib dihargai Rp 650.000/sekali tayang.  Sedangkan iklan spot, hanya dihargai Rp 550.000/sekali tayang. Artinya, nilai pemasangan adlib lebih tinggi Rp 100.000 atau 20% dibanding iklan spot.

 

Kenapa adlib seharusnya dihargai lebih tinggi? Betikut ini penjelasannya.

  1. Adlib adalah iklan yang ditempatkan tidak di slot iklan, melainkan pada saat penyiar berbicara dengan materi-materi sesuai jenis acaranya. Biasanya, pendengar akan pindah frekuensi begitu iklan mengudara pada slot tertentu. Namun, karena adlib tidak berada di slot tersebut maka pendengar tidak akan sempat mengganti frekuensinya. Sebagai perbandingan, lihatlah iklan sejenis ini di televisi. Mereka menyebutnya sebagai build in product, yaitu sebuah produk yang ditampilkan di dalam materi siaran. Misal di meja penyiar atau melekat pada penyiar/pengisi acara dalam bentuk baju, topi dan lainnya. Build in product tidak di slot iklan, tapi berada dalam program. Penonton tidak dalam posisi untuk memindahkan channel televisinya. Nilai iklan semacam ini lebih mahal dibanding iklan spot.
  2. Adlib melekat dengan materi siaran. Karena melekat sebagai materi siaran, maka pendengar cenderung tidak merasa bahwa hal tersebut adalah iklan. Mereka baru sadar, setelah penyiar kesayangannya menyelesaikan materi tersebut. Kreativitas penggawa radio terutama produser dan penyiar, berperan sangat besar dalam menciptakan adlib yang efektif.
  3. Karakter penyiar akan melekat pada adlib tersebut. Biasanya penyiar radio memiliki penggemar sendiri, yang punya kedekatan emosional. Bahkan banyak pendengar yang ngefans dengan seorang penyiar. Ketika penyiar tersebut berbicara, maka isi pembicaraannya akan diperhatikan oleh pendengar (terutama fansnya). Gaya penyiar seharusnya menjadi nilai lebih dari sebuah adlib. Masing-masing penyiar punya karakter yang khas dan berbeda.

 

Tiga hal tersebut menjadi keunggulan adlib dibanding iklan biasa, atau iklan spot. Wajar jika harganya lebih tinggi. Walaupun di sejumlah radio (atau kebanyakan radio?), adlib tidak memiliki kelebihan dibanding iklan spot. Bahkan cara penyampaiannya pun tidak berbeda dengan sekadar ‘membaca iklan’.

 

Padahal, seharusnya adlib tidak demikian. Adlib radio seharusnya disampaikan:

  • Secara spontan. Penyiar menyampaikan iklan secara spontan pada saat acara masih berlangsung dan bukan di slot iklan.
  • Penuh improvisasi. Penyiar bebas untuk berimprovisasi dalam menyampaikan iklannya, sesuai dengan gaya siarannya masing-masing.
  • Seolah-olah tanpa perencanaan. Ingat, seolah-olah. Padahal, penyiar sudah menyiapkan secara matang (tentu saja dibantu produser atau direktur program).

 

Beberapa tips di bawah ini, layak dipertimbangkan penyiar radio yang akan menyampaikan adlib.

  1. Bukan iklan baca atau membaca naskah iklan. Naskah adlib tidak boleh sekadar dibacakan. Tidak ada nilai plusnya. Pengiklan tidak mendapatkan kelebihan dari adlib tersebut. Padahal harus membayar lebih mahal bukan?
  2. Wajib tidak dirasakan oleh pendengar sebagai iklan. Wajib. Sehingga pendengar akan merasa nyaman-nyaman saja ketika mendengar adlib tersebut. Mereka baru sadar jika penyiar menyampaikan iklan, setelah adlib tersebut selesai disampaikan. Kalau sejak awal adlib sudah dirasakan sebagai iklan, maka adlib tersebut GAGAL.
  3. Punya beragam variasi penyampaian untuk sebuah iklan. Adlib bukan spot. Bukan iklan baca. Setiap adlib punya cara penyampaian yang berbeda, tergantung siapa penyiar yang mendapatkan tugas menyampaikannya. Beda penyiar beda pula gayanya.
  4. KREATIF DONG! Namanya juga iklan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, penggawa radio wajib ain untuk menyampaikan adlib secara kreatif. Kalau tidak kreatif, bukan orang radio namanya…

 

Contoh naskah adlib yang TIDAK kreatif:

“Bosan dengan seminar bisnis yang begitu-begitu saja? Kecewa dengan training yang kurang berhasil mengubah cara pandang Anda? Terlalu banyak teori? Atau tidak jauh berbeda dengan yang ada di televisi?

 

Dodi Jaya Seminar solusinya!

Dan seterusnya…”

 

 

Contoh naskah adlib yang LEBIH kreatif:

“Lagu We Are The Champion dari  Queen baru saja berlalu. Kalau denger lagu itu, saya selalu teringat masa kejayaan hehe. Dulu, saya juara lho. Juara kelas. Ayo siapa diantara Anda yang dulu juga juara kelas? Masih ingat kan?

 

Nah, sekarang saya juga mau dong anak-anak saya juga juara. Juara di bidang apapun, termasuk meneruskan kejayaan saya di sekolah dulu, juara kelas! Tapi bagaimana caranya ya?

 

Ah saya ingat… ada sebuah formula spesial yang bisa membuat anak Anda juara, yaitu Beleketektek.  Bukan obat lho. Tapi sebuah formula khusus untuk menambah daya ingat anak menjadi lebih kuat. Anak menjadi lebih berkonsentasi sehinga bisa menyerap pelajaran sekolah dengan lebih baik.  Beleketektek cocok buat anak-anak juara.

 

Sekarang kalau saya dengar lagu We Are The Champion dari Queen tadi, selalu ingat Beleketektek untuk membuat anak saja jadi juara!

 

Apakah Anda bisa membedakan kedua naskah tersebut?

Selamat mencoba!