Feeds:
Pos
Komentar

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

 

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Setelah sukses berbagi pengetahuan di Universitas Bina Nusantara, Akutahu.com kembali membagi ilmu menulis kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, 15 Mei lalu. Pembicaranya masih Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, penulis profesional, trainer penulisan dan mentor di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI). Sekitar 50 mahasiswa UMN, sebagian besar dari Ilmu Komunikasi, menghadiri seminar dengan tajuk “Akulah Si Penulis.”

Screenshot_2017-05-15-19-40-04_resized

Dalam kesempatan itu, Dodi Mawardi memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan 1001 macam peluang penulisan, mulai dari penulis buku, penulis di media massa, penulis di media internet sampai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk keuntungan materi dengan tulisan. Peserta sangat antusias bertanya terkait peluang-peluang tersebut, terutama peluang penulisan di media sosial dan peluang menjadi ghost writer atau co-writer.

Screenshot_2017-05-15-19-40-57_resized

Seperti dalam seminar dan workshop lainnya, Dodi Mawardi membawakan materi dengan penuh kegembiraan. Setiap materi diselingi dengan permainan khusus kata-kata (writing challenge), yang memacu adrenalin para peserta. Di setiap permainan, motivator menulis ini menghadiahi peserta terbaik dengan sejumlah buku. Panitia pun menambahinya dengan hadiah berupa bingkisan dari sponsor.

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Saya menyebutnya sebagai revolusi aspal, karena memang di sejumlah wilayah negeri ini butuh perubahan drastis terkait pembangunan jalan raya berbahan baku aspal. Banyak sekali jalan raya, baik jalan kabupaten, provinsi maupun jalan nasional yang kondisinya memprihatinkan. Atau sangat menyedihkan. Sebagian lagi sangat menyebalkan. Ah, banyak sekali kata-kata negatif yang bisa menggambarkan buruknya kondisi jalan, dan kekesalan penggunanya.

 

Tahun lalu, warga di sekitar desa Bojong Kulur Gunung Putri kabupaten Bogor berdemo. Mereka protes kepada pemkab Bogor yang dianggap tidak peduli terhadap kondisi jalan raya Ciangsana – Bojong Kulur yang berbatasan dengan Kota Bekasi. Kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor rusak parah. Sangat parah. Saya berkali-kali melewati jalan itu dan seperti memasuki wilayah ‘mimpi buruk’. Apalagi kalau hujan dan selesai hujan… wow banget kondisinya. Mirip lautan air sungai berlumpur, dengan kubangan di sana-sini. Kedalaman lubang-lubang mencapai 10-20 cm.  Dalam kecepatan rendahpun, mobil dan pemumpangnya tetap berguncang dan bergoyang tak beraturan.

 

Puncaknya, warga sekitar perbatasan itu mengancam akan pindah ‘kewarganegaraan’ dari Bogor ke Bekasi. Saking kesalnya. Memang wajar juga warga sangat marah, karena kondisi jalanan di ‘seberang’ sana, yang masuk wilayah kota Bekasi, relatif mulus. Jauh lebih baik dibanding kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor. Saya jadi teringat kondisi jalanan di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat. Jalanan di Indonesia buruk, sedangkan jalanan di wilayah Malaysia mulus. Ketika saya berkunjung ke perbatasan Malaysia – Indonesia di Malinau Kalimantan Utara, kondisi jalanan kedua negara ini memang berbeda, hehe. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa kalau Anda terbangun dari tidur nyenyak di jalan perbatasan maka Anda sudah sampai di wilayah Indonesia. Saking parahnya guncangan akibat jalan rusak.

 

Kualitas Aspal

Jika dibandingkan dengan negara lain, kenapa kualitas jalan aspal di Indonesia secara umum buruk? Saya pernah ke beberapa negara dan menikmati aspal mereka. Kualitasnya bagus, dan jarang sekali menemui jalan-jalan bolong atau rusak. Apakah karena kondisi ekonomi negara tersebut lebih baik? Entahlah…

 

Yang pasti, kondisi jalan raya di Jawa Barat dan Banten, dua wilayah yang paling sering saya lalui, terlalu banyak yang buruk dan rusak. Selain di perbatasan Bogor dan Bekasi, juga di perbatasan Depok – Bekasi, perbatasan Bogor – Cianjur (Jonggol) dan Labuan, Anyer serta sejumlah wilayah lainnya. Sedangkan Jawa Tengah, agak mendingan, meski masih banyak juga jalan rusak, termasuk di jalan Pantura. Banyak lubang di sana-sini. DKI Jakarta, relatif baik. Wajar sebagian besar bagus karena belum rusak pun, mereka rajin melapisi jalan dengan aspal baru. Masih ada beberapa bagian yang rusak, tapi relatif sedikit. Anggaran jalan raya mereka jauh lebih besar dibanding propinsi lain. Atau pemerintah pusat pun, memberikan perhatian lebih buat jalan nasional di ibukota.

 

Yang menakjubkan justru kondisi jalan di propinsi Bali. Ini pendapat pribadi saya. Saya sempat berkeliling sebagian Bali menggunakan sepeda motor dan juga roda empat. Kondisi jalannya relatif mulus. Pengendara motor bisa menikmati keindahan pulau Dewata itu dengan tenang, nyaman dan aman. Menurut seorang sahabat tokoh pemuda adat Bali, kondisi jalan di sana pasti bagus karena warga dan masyarakat adat pasti akan mengingatkan pemda jika terdapat jalan rusak. Kalau peringatan dari warga dan masyarakat adat tidak digubris, bersiaplah pemda menghadapi risiko yang lebih besar. Apalagi menurutnya, pemda tidak punya alasan untuk membiarkan jalanan rusak, karena sebagian besar pemda di sana punya pendapatan asli daerah yang memadai.

 

Alhasil, meski sebagian jalanan di Bali relatif kecil dan sempit, tapi kualitasnya bagus. Mulus. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Mungkin masih ada jalanan yang kurang mulus, tapi jumlahnya amat sedikit. Paling tidak, itulah hasil pengamatan saya pribadi.

 

Bagaimana dengan Jawa Timur?

Inilah inti dari artikel ini. Kondisi jalanan secara umum di Jawa Timur, patut diacungi jempol. Berbeda sekali dengan Jawa Barat dan Banten, hehe. Saya warga ber-KTP Banten dan lahir serta tinggal di Jawa Barat. Benar, masih ada sejumlah ruas jalan rusak juga di Jawa Timur seperti bagian utara jalur Pantura Gresik. Atau salah satu ruas jalan yang membelah sawah di wilayah Nganjuk. Rusak. Kata warga sekitar, jalan tersebut rusak karena anggarannya dikorupsi. Tentu informasi ini belum valid, meski faktanya Bupati Nganjuk sudah mendekam di rutan KPK karena menjadi tersangka kasus korupsi beberapa proyek termasuk proyek perbaikan jalan. Namun, kuantitas jalan rusak di Jawa Timur jauh lebih sedikit dibanding jalan rusak di Jawa Barat dan Banten (hasil observasi berdasarkan pengalaman berkendara).

 

Kondisi baik jalanan di Jawa Timur saya rasakan begitu memasuki wilayah Magetan (perbatasan dengan Karang Anyar Jateng), Ngawi, Madiun, lanjut ke Nganjuk, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Malang sampai ke Surabaya lalu ke Gresik dan Tuban. Di sepanjang jalur tersebut, jalanan paling mulus berada di Madiun dan terutama di Tulung Agung. Surga jalan raya deh. Di dalam perumahan-perumahan kota Madiun, kondisi jalannya pun keren-keren. Tidak kalah dengan kualitas jalan di perumahan elit Pondok Indah di Jakarta. Mulussss…

 

Seorang kawan, sebut saja mas P, sejak beberapa tahun lalu berkecimpung di industri pembangunan jalan raya berbahan aspal. Dia beroperasi di sebuah kota besar di Jawa Timur. Awalnya dia kaget mengetahui bahwa lumayan banyak permainan dalam pengadaan dan perbaikan jalan raya. Suatu hari dia dikunjungi seorang pengusaha jalan aspal dari wilayah lain. Melihat proses pencampuran aspal di tempatnya. Pengusaha tersebut kaget karena mas P mencampur aspal dengan komposisi yang ideal.

 

“Mas, kalau mau untung, campurannya jangan seperti ini. Aspalnya dikurangi…” begitu kira-kira inti dari masukan pengusaha tersebut. Pendek cerita, mas P kecewa dan sedikit marah dengan sejumlah masukan pengusaha tersebut. Jiwa mudanya bergejolak. Pelajaran kebangsaan yang dipelajari di sekolahnya, terusik.

“Pak, tanpa curang pun saya sudah untung kok. Kenapa harus curang?” tanyanya sewot. Jawaban tersebut membuat kaget sang pengusaha.

“Saya berbisnis ini untuk membangun bangsa dan negara pak. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi…” ujarnya mantap. Membuat pengusaha tadi mati kutu dan segera pamit.

Terkesan sok nasionalis, namun faktanya memang begitu. Mas P membangun jalan dengan kejujuran tingkat tinggi. Campuran aspal dan berbagai bahan lainnya dia peroleh dari insinyur di ITS, hasil uji laboratorium. Dengan formula tersebut, dia bangun jalan dengan kualitas baik. Secara bisnis, dia mengaku masih bisa meraup untung sampai 30%. Berapa persen keuntungan pengusaha curang itu ya?

“Kualitas jalan tersebut bisa bertahan sampai 10 tahun!” katanya yakin.

 

Mendengar kisah sang kawan, kepala saya berputar-putar ke sejumlah fakta tentang jalan aspal. Banyak korupsi di jalan aspal. Begitulah kira-kira kesimpulan hasil gabungan dari sejumlah fakta tersebut. Ada pengusaha yang mengurangi campuran aspalnya, seperti kisah di atas. Ada juga pengusaha yang mengurangi lem aspal, sehingga aspal tidak merekat dengan sempurna. Ada juga yang mengurangi ketebalan aspalnya, sehingga mudah terkelupas dan rusak. Dan beragam fakta lainnya. Hal itu di luar aksi kongkalikong dengan pejabat terkait.

 

Tak heran jika di sejumlah jalan yang baru dibangun atau diperbaiki, dalam waktu singkat, dalam hitungan bulan, sudah rusak kembali. Pasti rusak kembali karena kualitas aspalnya kemungkinan besar di bawah standar! Kualitas yang tidak sesuai dengan spek, beban jalan dan cuaca.

 

Ah, saya jadi berkhayal dan bermimpi andaikan sebagian besar pengusaha seperti mas P, maka kualitas aspal di Jawa Barat dan Banten pun akan menjadi lebih baik dan tidak cepat rusak. Ah, andaikan para kepala daerah di Jawa Barat dan Banten menengok kondisi jalan di Jawa Timur dan Bali, seharusnya mereka sedikit malu…

 

Ah…  revolusi aspal!

karakter-di-jalanan

“Ayah, kenapa dia buang sampah ke jalan raya?” tanya anak bontot saya serius.

“Mungkin karena dia tidak punya tempat sampah di mobilnya,” jawab saya menebak-nebak.

“Menurut kamu, buang sampah ke jalan raya, bagus nggak?” saya balik bertanya.

“Ya jelas nggak dong Yah. Buang sampah itu ke tempatnya, bukan ke jalan raya. Jalan raya kan bukan tempat sampah…” ujarnya nyerocos.

 

Sahabat, saya senang mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan mengendarai mobil, ke berbagai tempat. Baik di dalam kota maupun ke luar kota. Selama di perjalanan, saya bisa berinteraksi dengan anak-anak secara dekat dan hangat. Nyaris tak ada batasan. Suasananya sungguh berbeda dibanding interaksi di rumah. Hal lainnya adalah kita bisa menemukan banyak kejadian yang tidak bisa ditemukan di rumah. Contohnya, orang-orang yang sembarangan buat sampah di jalan raya di atas. Sebuah perilaku negatif. Namun kita bisa mengubahnya menjadi positif untuk bangun karakter anak.

 

Kami memang sering sekali berjumpa dengan pengendara mobil, termasuk mobil mewah, yang sembarangan membuang sampah. Penumpangnya juga kadang-kadang demikian. Tidak hanya sekali dua kali. Tapi berkali-kali, dan di berbagai tempat.

 

Kepada anak-anak saya selalu mengatakan, “Tuh lihat masih ada orang yang sembarangan buang sampah. Dia pikir jalan raya dan alam semesta ini adalah tempat sampah. Apakah kalian mau berperilaku seperti orang itu?”

Anak-anak menggeleng.

 

Kejadian nyata di depan mata, akan lebih dalam terekam oleh otak dan pikiran anak-anak. Tinggal kita sebagai orangtua, memberikan makna yang benar terhadap kejadian tersebut, agar hati anak-anak pun menjadi benar. Perilaku negatif itu menjadi bermakna positif. Inilah esensi membentuk karakter anak. Bukan hanya teori melainkan juga praktik. Sebagai tindakan nyata hal tersebut, di mobil, kami menyediakan tempat sampah khusus. Sehingga kami, tidak pernah membuang sampah sembarangan.

 

Di lain waktu, kami juga menjumpai pengendara yang ugal-ugalan di jalan tol. Ada yang pindah lajur sembarangan tanpa menyalakan lampu sen. Pindah lajur padahal garis pemisahnya tidak putus-putus. Ada juga yang menyalip dari bahu jalan. Atau ada juga mobil pelan yang berjalan di lajur paling kanan. Hal-hal semacam itu, dilihat langsung oleh anak-anak. Setiap kali hal tersebut terjadi, saya memberikan sederet kalimat untuk memberikan makna positif.

 

“Nak, pindah lajur tanpa kasih sen itu berbahaya buat dirinya dan orang lain pengendara di belakangnya. Memberikan lampu sen artinya memberi tahu kepada pengendara lain. Kita gak boleh seenaknya pindah-pindah lajur…”

 

Pada kesempatan berikutnya, anak-anaklah yang sudah bisa memberikan sederet kalimat bermakna setiap kali menjumpai kejadian seperti itu. “Tuh Yah, dia sembarangan pindah lajur…”

 

——-

 

Jalan raya di Indonesia ini bisa menjadi sarana pembentukan karakter. Jalan raya kita kaya akan beragam peristiwa. Boleh dikatakan, jalan raya adalah potret kehidupan bangsa ini. Jenis perilaku apapun ada di jalan raya. Bahkan yang terburuk sekalipun. Bayangkan jika anak-anak kita menyaksikan potret perilaku tersebut tanpa bimbingan orangtua? Hmmm, bisa jadi mereka akan meniru perilaku-perilaku buruk di jalan. Sehingga akan menjadi warisan negatif turun temurun.

 

Orangtua punya peran penting dalam membangun karakter anak. Luangkan sedikit waktu, tenaga dan pikiran selama mengendarai, untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada anak, sesuai momentum yang terjadi. Bukan hal mudah memang, apalagi jika kita juga harus konsentrasi menyetir. Kadang terganggu juga oleh pertanyaan-pertanyaan bertubi dari anak-anak kita. Di sinilah perlunya kerjasama orangtua (suami istri).

 

Saya sungguh sepakat dengan pakar parenting ibu Elly Risman, yang menyarankan orantua untuk lebih sering pelesiran bersama anak-anaknya. Pelesiran, berwisata, naik kendaraan sendiri atau umum bersama, akan membuat hubungan orangtua – anak makin bagus. Orangtua – anak juga bisa mengalami berbagai kejadian bersama-sama, memahami bersama-sama, dan memecahkan masalah bersama setiap kali menghadapi problem. Seperti cerita saya di jalan raya di atas, pada moment kebersamaan ini, orangtua punya kesempatan amat besar untuk memasukkan nilai-nilai positif kepada anak, tanpa terasa seperti menasihati atau menggurui.

 

Mari kita bangun karakter positif anak-anak kita!

Kapanpun dan di manapun. Mulai saat ini juga.

 

pendidikan-karakter

Konflik yang nyaris tiada ujung akhir-akhir ini, membuat resah berbagai kalangan. Konflik kali ini memang unik, karena tidak terkait dengan separatisme, kekuatan bersenjata dan sejenisnya. Konflik lebih banyak berhubungan dengan kebhinekaan dan SARA dengan bumbu intelektualitas para pihak yang terlibat plus teknologi terkini. Hal yang menarik, karena kita berada di zaman maju dan modern dengan intelektual yang lebih baik, tapi tetap berkonflik ala masa lalu. Masing-masing pihak merasa benar sendiri dan cenderung memaksakan dalam menyuarakan kepentingannya. Sebuah fakta yang akan dicatat dalam lembaran sejarah bangsa ini. Sejumlah kalangan mulai menyuarakan keresahannya, seperti kelompok-kelompok keagamaan, nasionalis dan kaum cendekia.

 

Saya melihat dari sisi yang berbeda. Mungkin bukan akar, tapi mengarah ke akar, yaitu faktor pendidikan usia dini dan dasar. Mari kita tengok bagaimana materi (kurikulum) pendidikan kita saat ini dan beberapa dekade ke belakang. Saat-saat ketika pihak-pihak yang sekarang sudah punya panggung sebagai orang dewasa berkonflik, mengenyam pendidikan. Mungkin termasuk di dalamnya saya sendiri. Sejak bangku TK (dulu belum ada atau belum banyak PAUD), kita sudah dijejali dengan muatan pendidikan akademis (khususnya kognitif serta termasuk di dalamnya keterampilan/keahlian). Sedangkan pendidikan karakter, relatif dangkal.

 

Padahal, berdasarkan hasil kajian banyak kalangan dan pendapat sebagian pakar pendidikan serta parenting, yang lebih penting ditanamkan pada usia dini dan dasar adalah pendidikan karakter. Bukan pendidikan akademis. Apalagi pendidikan karakter membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibanding pendidikan akademis. Sebuah penelitian menyebutkan, pendidikan karakter wajib tertanam dalam diri setiap manusia sejak usia 0 tahun sampai usia 15 tahun.

 

Karakter inilah yang akan menjadi pondasi dan pijakan seorang manusia, dalam mengarungi kehidupan. Dan pendidikan karakter, tidak hanya melulu dilakukan oleh sekolah/lembaga pendidikan formal, melainkan juga keterlibatan secara aktif orangtua dan lingkungan sekitarnya. “Butuh orang sekampung untuk mendidik karakter seorang anak,” kira-kira demikianlah untuk menggambarkan betapa pentingnya pendidikan karakter.

 

Silakan Anda telusuri sendiri pendidikan yang kita dapatkan selama ini, sejak PAUD, TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Pendidikan apakah yang lebih banyak kita terima? Keseimbangan antara pendidikan akademis dan karakter, timpang. Pendidikan karakter cenderung terabaikan, atau porsinya sangat tidak memadai. Orangtua (termasuk saya dulu hehe) begitu khawatir ketika anak kita yang duduk di kelas 1 SD, belum bisa membaca. Galau saat anak kita duduk di kelas 2 SD, belum bisa berhitung. Resah saat sudah kelas 6 SD, belum tahu ibukota propinsi Sumatera Barat.

 

Tapi terkesan biasa saja, saat anak belum biasa membuang sampah pada tempatnya; Tidak peduli pada orang yang lebih tua atau kurang mampu; Gagap ketika harus menghargai pendapat orang lain; Terbiasa mengejek dan menghina teman sekelasnya…

 

Padahal, bekal mengarungi kehidupan bukan melulu akademis atau keterampilan. Bekal hidup paling mahal adalah karakter dirinya, yang syarat dengan kemampuan pengendalian emosi, pengelolaan daya pikir/nalar, serta spiritualitasnya. Hal tersebut inilah yang menurut saya, menjadi cikal bakal penyebab kenapa sejak Era Reformasi, bangsa kita belum juga menemukan titik keseimbangan baru, untuk tinggal landas membangun bangsanya secara bersama-sama. Mengedepankan kepentingan umum, dibanding kepentingan diri (ego) dan kelompoknya. Kita masih terlalu sibuk mengurusi ego, ketersinggungan SARA, dan sejenisnya, lalu berkonflik.

 

Lihatlah sejumlah negara lain, yang pendidikan karakternya sudah relatif baik. Misal di sejumlah negara skandinavia (Eropa bagian utara). Sejak usia dini, mereka dijejali dengan pendidikan karakter, sesuai dengan apa yang mereka yakini (karakter setiap bangsa berbeda-beda, meski sebagian besar tetap sama dan berlaku universal). Finlandia selalu menjadi contoh pendidikan karakter usia dini sampai umur 15 tahun.  Pendidikan dini dan dasar menyeimbangkan antara pola pikir (mindset), soft skill (termasuk karakter di dalamnya) dan life skill. Hasilnya, negara-negara skandinavia selalu menempati urutan teratas sebagai: negara paling bersih, negara paling rapi, negara paling bebas korupsi, dan negara yang warganya paling bahagia. Dan yang pasti, di sana: minim konflik. Problem solving menjadi salah satu materi pembelajaran utama di sekolah. Dan konflik serta kekerasan, bukan jalan keluar masalah!

 

Namun, saya optimistis. Kondisi sekarang ini di Indonesia akan segera berlalu. Mulai muncul generasi baru yang sudah mendapatkan pendidikan karakter memadai, yang bibit-bibit berikutnya masih terus dipupuk sampai sekarang. Makin banyak sekolah yang lebih mengedepankan dan menyeimbangkan pendidikan karakter dengan akademis. Makin banyak pula orangtua yang sadar tentang pendidikan karakter.

 

Semoga para pemimpin bangsa ini di berbagai bidang kehidupan, politik, sosial, ekonomi, budaya, agama, militer dan sebagainya, makin memberikan perhatian yang nyata terhadap pendidikan karakter. Bukan sekadar slogan atau jargon, tapi benar-benar merealisasikannya. Para pemimpin itu juga harus sadar bahwa pemikiran, ucapan, dan perbuatan mereka mencerminkan karakternya, serta menjadi cermin buat seluruh bangsa, termasuk anak-anak kita.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/pendidikan-karakter-manjur-kurangi-konflik_58883044907a61c910ed7fcc

 

2018, Perlukah Sumpah Pemuda Baru Untuk Indonesia?

oleh Dodi Mawardi

foto-bendera-merah-putih-raksasa-akan-dikibarkan-di-lokasi-deklarasi-gam

Keindonesiaan bangsa ini benar-benar sedang diuji. Sejak Jokowi naik ke tahta kekuasaan, PR besar pemerintah adalah merawat kebhinekaan. Indonesia ibarat sebuah pohon besar yang sangat rindang, beragam dahan dan ranting, serta berbuah lebat. Banyak pihak kepincut untuk memetik buah-buahan tersebut. Bahkan, kalau perlu mengijonnya. Kebhinekaan Indonesia sudah mengalami pasang surut, selama puluhan tahun sejak kemerdekaan. Padahal, kebhinekaan itu sudah ditanam dan dipupuk sejak 1928, ketika sumpah pemuda dikumandangkan.

 

Menengok catatan sejarah bangsa ini, ada satu hal yang menarik. Pada 1908, orang-orang se-Nusantara yang belum menjadi Indonesia, menunjukkan kebangkitan diri dalam berjuang melawan penjajah, lewat lahirnya Boedi Utomo. Perjuangan melawan penjajah berubah strategi dari hanya perjuang fisik, ditambah dengan perjuangan intelektual dan diplomasi. Semangat persatuan mulai mekar. Momentum itu diabadikan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Nama dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, wajib dikenang sebagai pelopornya.

 

20 tahun kemudian, strategi non fisik tersebut semakin mengerucut dalam semangat kebersamaan lewat pemuda-pemuda bervisi jauh ke depan, dalam bentuk Sumpah Pemuda (1928). Semangat mereka muncul berkat gerakan Boedi Utomo. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menyelenggarakan kongres untuk menyatukan Indonesia. Pada kongres pertama 1928, perwakilan pemuda dari seluruh Indonesia hadir dan menyatakan sumpah yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda.  Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb., hadir serta pengamat dari pemuda Tiong Hoa yaitu Kwee Thiam Hong dkk.

 

Kebhinekaan kita melebur dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sejarah bangsa sudah memberikan cermin kepada kita, tentang cikal bakal negeri ini yang dibangun dari keberagaman. Nenek moyang kita bersatu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kemerdekaan dari penjajahan. Hasilnya, 1945 Indonesia benar-benar merdeka. 17 tahun setelah Sumpah Pemuda berkumandang. 37 tahun setelah strategi perjuangan berubah.

 

Sekarang, Indonesia mengalami ujian hebat. Sesungguhnya terjadi sejak 1990-an, ketika rakyat tidak lagi mau dipimpin oleh rezim otoriter. 1998, dipelopori oleh mahasiswa (dan pemuda), kita mengubah diri (reformasi), mengganti rezim otoriter dengan pemerintahan demokratis. Kita memasuki era baru, semangat baru, era Reformasi. Semangat itu seharusnya terus ada dalam diri bangsa ini seperti yang ditunjukkan pemuda Indonesia pada masa lalu. Saat itu pun, pasti terjadi banyak perbedaan dan selisih paham. Namun, dengan satu tujuan yang sama, semuanya bisa disatukan.

 

Melihat kondisi sekarang, saya jadi flashback ke 1928. Tahun depan, yaitu 2018, persis 20 tahun setelah terjadinya Reformasi. Pemuda Indonesia pada masa 1928, menguatkan tekad kembali untuk bersatu yang dimulai oleh Boedi Utomo 20 tahun sebelumnya. Menyemaikan semangat 1908, agar terus menjadi pegangan dalam perjuangan memerdekaan Indonesia. Apakah 2018 ini kita juga harus kembali merevitalisasi semangat 1998? Semangat Reformasi? Menumbuhkan kembali tujuan dan cita-cita Reformasi yang sekarang seperti dilupakan oleh sebagian anak bangsa.

 

Jika 2018, kita kembali bersama-sama bersumpah menyatakan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa plus satu tujaun bersama, maka cita-cita Reformasi akan tercapai. Sama seperti cita-cita Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Bung Karno dan lain-lain, yang terwujud pada 1945. Indonesia merdeka. Cita-cita Reformasi bukan tidak mungkin akan terwujud atau mulai terwujud pada tahun 2035 (jika mengikuti pola 1908 – 1928 – 1945 — 1998 – 2018 – 2035). Ingat, pada tahun 2035, Indonesia sedang berada pada kondisi surplus penduduk produktif yang mencapai sekitar 65% total penduduk. Bonus demografi yang dimulai sejak tahun 2020 nanti.

 

Bonus demografi itu akan benar-benar menguntungkan, jika kita menyiapkan mereka dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan, termasuk pemahaman tentang kebangsaan. Ingat, dr. Wahidin mengubah strategi perjuangan fisik/kekerasan menjadi perjuangan intelektual dan diplomasi pada 1908, lebih dari 100 tahun lalu. Jadi kalau sekarang kita masih menggunakan hanya intelektual dan diplomasi, maka hal itu sudah basi. Apalagi jika menggunakan strategi kekerasan, fisik dan otot, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Kuno banget!

 

Kita butuh strategi yang jauh lebih baik dibanding otot (kekerasan/fisik) dan lebih maju dibanding otak (intelektual/diplomasi). Apa itu?

 

Ah ayo kita bersumpah dulu untuk tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa… plus satu cita-cita bersama!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

????

Miftakhul Ahsan dan penulis

Dia adalah mantan pilot Qatar Airways. Sebelumnya, dia mengabdi di maskapai Garuda Indonesia. Lebih dari 20 tahun menjalani profesi tersebut, dan membawanya melanglang buana. Kini, dia tak lagi mengawaki pesawat. Sejak beberapa bulan silam, dia memutuskan berhenti, untuk mengabdi di kampung halamannya. Sebuah bukit kapur disulapnya menjadi tempat wisata yang menarik. Miftakhul Ahsan, nama mantan pilot tersebut. Dia punya cita-cita luhur untuk berkarya di kampung, mengembangkan bisnis wisata edukasi. Miftah lahir di Tulung Agung, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Blitar, lokasi tempat wisata yang sedang dirintisnya.

Sekilas, lokasi wisata ini sama sekali tidak menjanjikan. Panas dan gersang. Demikian kesan kami ketika berkunjung ke sana. Debu masih leluasa beterbangan. Lokasinya persis di perbatasan Blitar dan Tulung Agung, di kecamatan Kademangan. Di wilayah ini terdapat bukit-bukit yang berderet-deret, seolah memisahkan wilayah pantai dengan daratan. Sebelah kiri adalah wilayah perkotaan Tulung Agung dan Blitar, sedangkan di balik bukitnya adalah wilayah menuju pantai selatan.

bukit-bunda-4

Di salah satu bukit itulah, Miftah mulai berkreasi. Dia menyebutnya sebagai Bukit Bunda, yang dituliskannya di atas salah satu bukit, mirip dengan tulisan Hollywood di Los Angeles sana. Setiap pengunjung yang baru datang, pasti akan bisa langsung melihat tulisan raksasa tersebut. Kenapa namanya Bukit Bunda? …”Biar semua orang bertanya,” katanya terkekeh. Blitar memang terkenal dengan wisata bukit. Di sana, juga ada Bukit Teletubbies (deretan bukit dengan rumput hijau royo-royo mirip bukit dalam film anak Teletubbies) dan Bukit Bintang (dari bukit ini pengunjung dapat leluasa dan jelas melihat bintang di malam hari serta menikmati pemandangan kota Blitar dari ketinggian).

Jika dua bukit wisata lainnya adalah wisata natural – apa adanya – maka Bukit Bunda adalah hasil paduan kondisi alam dengan kreativitas sang pilot. Dia membelah-belah bukit tersebut, menjadikannya layak daki, bahkan bisa dilalui kendaraan bermotor dan mampu memberikan kesan berbeda. Pekerjaannya belum selesai. Baru 40%. Namun, jumlah pengunjung yang datang membludak. Miftah menyediakan sejumlah spot fotografi yang sulit ditemukan di tempat lain. Keren. Dan langsung menjadi tempat favorit kalangan muda di Blitar dan Tulung Agung.

bukit-bunda-blitar-2

Jika Miftah sebagai pengelola menyebut lokasi wisatanya sebagai Bukit Bunda, mungkin pengunjung – terutama kalangan muda – akan berbeda pendapat. Sebagian mereka menyebutnya sebagai Bukit Cinta. Banyak spot romantis di sana. Bahkan ke depan, lulusan SMA Taruna Nusantara itu sedang membelah sebuah bukit lagi, akan membuat jembatan yang menyambungkan bukit yang terbelah itu. Dia menamakannya sebagai jembatan cinta, karena di jembatan itu, pengunjung dapat mengabadikan cinta mereka dengan pasangannya. Romantis sekali.

Di kaki bukit, pengelola menyediakan tempat kuliner yang bercita rasa tinggi, baik dari sisi desain maupun menunya. Terasa sekali, sentuhan seorang pilot yang sudah menginjak banyak kota di belahan bumi manapun. Dia meramunya menjadi sebuah tempat yang asyik, untuk kongkow para pengunjung. Menikmati makanan dan minuman, sambil merasakan suasana yang berbeda dilengkapi sebuah layar raksasa yang membelakangi bukit. Pengunjung yang lelah berfoto di kaki-kaki bukit yang menanjak atau di puncak bukit yang eksotis atau memanfaatkan motor trail dan mobil Komodo mengelilingi bukit, bisa beristirahat nyaman di tempat-tempat makan itu.

bukit-bunda-blitar

Hebatnya, dia merangkul warga sekitar untuk berperan besar dalam pengelolaan Bukit Bunda. Tenaga kerja yang berjumlah lebih dari 20 orang adalah warga setempat. Penyedia makanan juga warga setempat. Benar-benar memberdayakan orang-orang sekampungnya. Sebuah hal luar biasa, yang dapat menjadi contoh buat orang-orang hebat dan pintar di kota besar untuk kembali membangun kampung halamannya. Pulang ke desa, memberdayakan dan memampukan warga desa. Dengan kreativitas, Anda sangat bisa menciptakan peluang besar di desa. Miftakhul Ahsan, mantan pilot Qatar Airways dan Garuda Indonesia itu, sudah membuktikannya. Merealisasikan impian-impiannya!