Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buku’ Category

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

 

Read Full Post »

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Read Full Post »

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Read Full Post »

Setelah sukses berbagi pengetahuan di Universitas Bina Nusantara, Akutahu.com kembali membagi ilmu menulis kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, 15 Mei lalu. Pembicaranya masih Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, penulis profesional, trainer penulisan dan mentor di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI). Sekitar 50 mahasiswa UMN, sebagian besar dari Ilmu Komunikasi, menghadiri seminar dengan tajuk “Akulah Si Penulis.”

Screenshot_2017-05-15-19-40-04_resized

Dalam kesempatan itu, Dodi Mawardi memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan 1001 macam peluang penulisan, mulai dari penulis buku, penulis di media massa, penulis di media internet sampai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk keuntungan materi dengan tulisan. Peserta sangat antusias bertanya terkait peluang-peluang tersebut, terutama peluang penulisan di media sosial dan peluang menjadi ghost writer atau co-writer.

Screenshot_2017-05-15-19-40-57_resized

Seperti dalam seminar dan workshop lainnya, Dodi Mawardi membawakan materi dengan penuh kegembiraan. Setiap materi diselingi dengan permainan khusus kata-kata (writing challenge), yang memacu adrenalin para peserta. Di setiap permainan, motivator menulis ini menghadiahi peserta terbaik dengan sejumlah buku. Panitia pun menambahinya dengan hadiah berupa bingkisan dari sponsor.

Read Full Post »

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Read Full Post »

Ha ha… tertawa dulu ya sebelum tertawa itu dilarang. Inilah fenomena dahsyat kreativitas orang Indonesia yang mewabah sampai ke seantero dunia. Dan kreativitas itu… sungguh sangat sederhana. Tidak perlu yang rumit-rumit. Cukup om telolet om.

telolet-telolet

Media sosial telah menjadi sarana warga dunia untuk mengekspresikan apapun. Baik positif mauupun negatif. Fenomena om telolet om sungguh positif. Dia lahir dari bawah, dari kelas yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya, akan mampu mengguncang dunia. Meminjam istilah sosiologi, fenomena ini berasal dari kaum jelata dan proletar.

 

Manusia generasi sekarang kembali ke khittahnya yaitu kesederhanaan. Bahagia itu sederhana. Hanya mendapatkan klakson yang diminta pun, sudah bahagia. Kreativitas itu sederhana. Hanya dengan tulisan lusuh di karton saja, sudah kreatif. Hanya memainkan klakson bus saja, sudah kreatif.

 

Dan yang lebih penting lagi, fenomena om telolet om, mampu menyatukan seluruh dunia berupa trending topic di twitter, heboh di facebook, download rame-rame di youtube dan gemuruh di media sosial lainnya. Media sosial mampu menyatukan kelas bawah — bahkan sangat bawah — dengan kelas menengah serta kaum elit di negeri ini, bahkan kaum sosialita papan amat atas di manca negara.

 

Medsos mampu menyatukan dan melupakan semua perbedaan. Siapapun bisa kena wabah om telolet om, tanpa pandang bulu, warna kulit, ideologi, agama, politik dan lain segalanya. Dunia butuh hal-hal semacam ini. Manusia memerlukan refreshing sederhana, yang membahagiakan.

 

Kita bosan dan jenuh dengan kekerasan, perbedaan dan konflik. Penduduk medsos dunia yang masih normal dan waras otaknya: menolak intoleransi, menolak konflik politik di Suriah — Allepo, menolak konflik Sara di Rohingya, menolak hujatan terhadap pihak-pihak yang berseberangan dan sejenisnya.

 

Fenomena om telolet om, pada salah satu sisinya mirip dengan gerakan 212. Manusia Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang Indonesia mayoritas suka damai, suka toleransi, suka membahagiakan orang lain, kreatif, suka hal-hal yang menyejukkan, dan dengan bersuka cita bergaul dengan masyarakat dunia.

 

Lihatlah sekarang, tanpa melihat latar belakang, semua warga dunia terkena demam om telolet om. Indonesia bisa mengguncang dunia, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mengguncang dengan aksi damai ala 212, mengguncang dengan on telolet om, dengan sepakbola AFF, atau nanti — optimistis — dengan aksi-aksi lain yang luar biasa, menyejukkan, positif dan membahagiakan dengan cara sederhana.

Saya cinta Indonesia!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/om-telolet-om-toleransi-yang-mendunia_585b46a06e7e61a30d229004

Read Full Post »

Judul di atas adalah benar-benar sebuah pertanyaan, yang membutuhkan jawaban dari kalangan intelektual. Khususnya mereka yang sudah bergelar doktor (S3) dan menyandang predikat profesor. Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut. Melainkan merinci lebih jauh terkait pertanyaan tersebut. Kenapa?

Jumlah judul buku yang beredar di negeri ini setiap tahun berkisar 25.000 – 30.000 judul. Setara dengan jumlah judul buku yang beredar di Malaysia atau Vietnam, yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding Indonesia. Dari jumlah judul buku itu, tidak sampai setengahnya (dugaan kuat penulis) ditulis oleh mereka yang tidak menyandang gelar S3 atau profesor. Data dari pemerintah menguatkan dugaan itu.

kenapa-profesor-malas-menulis

Menurut pemerintah jumlah jurnal internasional hasil karya para doktor dan profesor di Indonesia hanya sekitar 9.000 judul pertahun. Juuuuh di bawah Malaysia yang lebih dari 23.000 judul. Kalah dari Singapura dan Thailand yang berkisar belasan ribu judul. Jangan bandingkan dengan negara maju. Malu. Terlalu jauh.

Padahal jumlah doktor dan profesor di Indonesia yang tercatat di kementrian sebanyak 31.000 orang. Jika kita anggap jurnal tersebut dibuat masing-masing oleh satu orang, maka masih ada 22.000 doktor dan profesor yang tidak menulis karya ilmiah di jurnal internasional. Mereka ngapain saja?

Tentu banyak alasan, kendala, hambatan dan tetek bengek lainnya yang bisa diajukan. Menurut para motivator, orang yang malas melakukan sesuatu pasti memiliki 1001 alasan untuk tidak melakukannya. Alasan untuk melakukan, kalah jauh baik secara kualitas maupun kuantitas dibanding alasan untuk tidak melakukan. Hal inilah yang tampaknya terjadi pada kaum intelektual Indonesia. Alasan untuk tidak membuat karya tulis di jurnal internasional, terlalu banyak dan terlalu mantap.

Kalau saya berdiskusi dengan teman-teman di kampus (akademisi), begitu banyak alasan tersebut. Mulai dari hal teknis, non teknis, psikologis, materi dan lain sebagainya. Banyak sekali. Padahal sebagian kampus – terutama kampus negeri – sudah mengalokasikan sejumlah dana, untuk mendukung penelitian dan pembuatan karya tulis. Dana yang masih dianggap terlalu kecil oleh teman-teman akademisi. Walaupun kalau dibandingkan dengan pemasukan saya – sebagai penulis profesional berbasis projek buku/artikel – jumlahnya lumayan juga. Alias tidak terlalu kecil. Ya, kalau diperbesar akan lebih baik, meski belum tentu juga mampu memacu mereka untuk menulis karya ilmiah.

Saya belum S2, walaupun bertekad menuju S3 pada beberapa tahun mendatang. Selama 10 tahun berkarir di bidang penulisan, sudah menghasilkan lebih dari 60 judul buku (setahun 6 buku, dua bulan 1 buku) dan ribuan artikel plus buku teks kuliah. Teman-teman saya penulis buku, sebagian besar masih S1, sebagian kecil S2 dan sebagian amat kecil S3. Kenapa yang S3 lebih sedikit menulis ya?

Apapun alasannya, apapun dalihnya, apapun kondisinya, faktanya adalah jumlah karya tulis yang dihasilkan oleh kaum tertinggi intelektual Indonesia yaitu para doktor dan profesor, masih sangat minim. Sulit dibantah. Baik dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk karya tulis di jurnal internasional.

Mungkin pak Jokowi perlu juga membuat secara khusus revolusi mental kalangan top intelektual tersebut, agar mau lebih rajin menghasilkan karya ilmiah dan tidak hanya mengerjakan proyek-proyek saja! Kaum top intelektual, mengemban tanggung jawab besar untuk menularkan ilmu pengetahuan, wawasan dan mindset positif mereka kepada generasi penerus bangsa ini.

Read Full Post »

 

Slide1

Kaget. Kesal. Sedih. Senang… campur aduk ketika melihat sebuah buku yang mengupas tentang Bob Sadino, pengusaha eksentrik yang sudah meninggal dunia awal tahun 2015 lalu. Sudah banyak buku yang membahas sosok unik tersebut. Tapi, buku yang satu ini beda. Sebagai penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, saya bisa membandingkan isi tulisan terkait sang pengusaha tersebut. Apakah sama atau beda? Lihat daftar isinya, sudut pandang tulisannya, naskahnya, foto-fotonya, judul setiap babnya, hanya sekilas pun bisa tahu bedanya.

 

Buku berjudul “Bob Sadino – Goblok Pangkal Kaya” ini sejak awal sudah mencurigakan. Saya bolak balik halaman depan dan belakangnya. Saya baca penerbitnya “Genesis Learning” Yogyakarta.  Lalu saya lihat penulisnya, Weni Wisteria. Baru baca daftar isinya saja, kecurigaan saya makin mencuat. Hmmm, ada yang salah dengan buku ini. Lalu saya baca satu persatu secara sekilas bab per babnya. Waduh!

Slide4

Buku ini benar-benar menjiplak buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa mencapai 80%, kalau tidak bisa disebut 100%. Isinya sama.. Sudut pandangnya sama. Bab-babnya juga sama. Penulisnya berupaya mengacaukan urutan bab dan pembahasan. Tapi sungguh sangat jelas terlihat. Penulisnya ‘kopas’ naskah Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu mengubahnya sedikit-sedikit atau menambah dan mengurangi sedikit-sedikit. Misal, kata dapat diganti bisa. Atau kalimat awal ditambahi dengan satu sampai dua kata, dengan tujuan tidak sama persis. Tapi susunan kalimat demi kalimatnya sama. Dengan fakta –fakta tersebut, penulisnya berusaha mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil karyanya.

Slide2

Bahkan pada beberapa bagian, penulisnya dengan sangat ‘cerdas’ mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung dan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung. Persis seperti pelajaran bahasa Indonesia level SD dan SMP.  Sebuah upaya yang berbahaya, karena dia tidak memiliki bukti rekaman wawancara dengan Bob Sadino.

 

Tentu saja kesal melihat kenyataan tersebut, karena meski buku Belajar Goblok dari Bob Sadino disebutkan dalam daftar pustaka bersanding dengan sejumlah buku lainnya, tapi isi buku ini jelas-jelas menjiplak. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  Prof. Dr. Felicia Utorodewo, salah satu ciri plagiarisme adalah “Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.” Bahkan kata pengantar dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino pun yang ditulis oleh Prof.  Dr. Didik J. Rachbini disadur dan dijadikan salah satu bab. Tidak kreatif. Seperti tidak punya ide baru. Tidak ada upaya pembeda. Parah.

20160828_184714_resized

Sedih… karena penulis buku ini mengaku lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya mengenal sejumlah alumni Komunikasi UGM. Mereka sangat berkualitas dan menjunjung tinggi kaidah akademis. Sulit menerima kenyataan bahwa lulusan kampus terbaik itu melakukan plagiarisme. Semoga pengakuan yang tertulis di halaman belakang buku tersebut tidak benar.

 

Fenomena plagiarisme ini memang sudah memprihatinkan di negeri kita. Tak usah melihat di website atau buku populer, dalam pembuatan karya ilmiah pun berulang kali terjadi penjiplakan. Sejumlah orang hebat pernah diduga dan sebagian mengakui sudah melakukan aksi plagiat. Sebuah aksi yang sangat memalukan dalam dunia akademis dan perbukuan.

 

Tapi saya senang, hehe… berarti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino ini memang sukses. Bukan hanya karena menyangkut sosok Bob Sadino yang memang fenomenal, melainkan juga karena cara penulisan, alur, dan gaya bahasanya ditiru orang lain. Penjiplak tidak mungkin mau begitu saja meniru tulisan tersebut jika tidak sesuai dengan seleranya (atau penerbitnya) bukan?  Itu saja yang sedikit menghibur…

 

Buat penerbit Genesis (@penerbitgenesis) dan penulisnya Hana Wisteria, jangan khawatir… saya tidak akan menempuh jalur hukum. Pasti bakal melelahkan. Keluar energi banyak pula berupa waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi. Tapi sebelum Anda mengakui dan menyesali perbuatan tersebut, saya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakbenaran itu melalui tulisan. Terus menerus.

 

Saya tidak tahu dengan penerbit Kintamani yang mempublikasikan buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Apakah mereka keberatan atau tidak. Sudah lama kami tidak berinteraksi. Bahkan ketika buku tersebut dicetak ulang berkali-kali pun, penulis tidak pernah diberi tahu. Bagi saya, buku tersebut adalah anugerah luas biasa. Hanya terima kasih sebesar-besarnya yang teriring buat almarhum Om Bob beserta keluarganya, yang telah mengizinkan saya untuk membedah “pelajaran hidup” yang mahal dalam diri beliau. Semoga Allah Swt., memberikan balasan terbaik buat Om…

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

Read Full Post »

“Profesi penulis itu sulit. Sulit dijadikan sumber pendapatan.”

 

Demikian pendapat seorang kawan non penulis, yang diamini seorang kawan lain yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Pendapat umum yang dipercayai kebenarannya bahwa profesi menulis memang tidak menjanjikan.

 

Masak sih?

Kok banyak juga yang berhasil menjadikan menulis sebagai profesinya?

Mereka penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai sumber utama penghidupan.

02 - penulis produktif

 

Ternyata, inilah sejumlah strategi jitu mereka, bagaimana bisa menjadikan menulis sebagai profesi utama yang menghasilkan dan mensejahterakan.

 

  1. Kuasai dulu dong ilmu (teori dan praktik) tentang menulis. Terserah Anda mau kuasai ilmu menulis akademis, populer, fiksi atau non fiksi. Pokoknya kuasai, sehingga sambil mata terpejampun Anda tetap bisa menulis.
  2. Tentukan tujuan. Misal mau menjadi penulis profesional yang … (tujuan materi atau non materi). Tujuan ini biasanya menjadi sumber motivasi utama dalam menjalani profesi apapun. Saya sendiri menentukan tujuan menjalani profesi menulis (awalnya) dengan patokan pendapatan di kantor lama. Tahun pertama, sama dengan pendapatan di kantor lama. Tahun kedua, dua kali lipat. Tahun ketiga, tiga kali lipat dan seterusnya.
  3. Rumuskan dan rencanakan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Contoh:

Anda punya target pendapatan sebagai seorang penulis pro adalah Rp 10.000.000,- setiap bulan. Sebuah angka yang lumayan tinggi bukan? Setara dengan gaji pokok pegawai pajak level staf deh, hehe… Maka, kita harus menentukan jenis tulisan apa yang bisa memenuhi target tersebut. Yuk kita rinci satu persatu.

 

Tulisan bentuk artikel/cerita pendek (cerpen), nilainya adalah sekitar Rp 200.000,- sampai Rp 3.000.000,- per tulisan. Kita ambil angka terendah yaitu Rp 200.000,-/artikel/cerpen. Berapa artikel yang harus ditulis dalam sebulan agar mampu menghasilkan Rp 10.000.000,-? Ambil kalkulator gih! Hitung… Harus mampu menulis 50 artikel/cerpen dalam sebulan. Atau 2 tulisan per hari. Mampukah? Secara teori bisa tapi praktiknya sulit. Anda harus mengirim ke media cetak/online yang berbeda-beda bukan?!

 

Berikutnya, naskah dalam bentuk buku/novel, dengan jumlah 150-250 halaman, nilainya adalah kisaran Rp 10.000.000 – Rp 25.000.000, (dihitung dari rata-rata harga buku Rp 30an rb – Rp 70an rb). Jumlah cetakan pertama berkisar 2000-5000 eksemplar. Dengan data tersebut, maka kita cukup menulis 1 judul buku setiap bulan, untuk meraih pendapatan sesuai target. Secara teori bisa, tapi praktiknya sulit. Walaupun banyak juga yang sudah mampu melakukannya, terutama yang sudah cukup senior. Hitungan ini belum termasuk jika buku/novelnya dicetak ulang. Tapi harus jaga-jaga juga, siapa tahu bukunya tidak laku…

 

08 - Royalti Buku

Dua bidang penulisan di atas adalah yang paling umum dikerjakan oleh penulis profesional. Untuk mencapai target, silakan utak-atik berapa jumlah artikel/cerpen berbayar yang harus ditulis dan berapa jumlah buku/novelnya. Jika dikombinasikan, hasilnya bisa saja cukup menulis 10 artikel/cerpen dan ¾ buku setiap bulannya. Atau mungkin harus 2 buku/novel perbulan. Silakan hitung hasilnya sesuai rumus pada paragraf sebelumnya dengan pertimbangan sejumlah kemungkinan, seperti tidak laku atau cetak ulang.

 

Dengan pengetahuan tentang tarif dan honor menulis, maka irama kerja kita menjadi lebih terarah. Apalagi pasti kita juga akan menemukan peluang-peluang lain di bidang penulisan yang bisa dimasuki.

 

Misal, menulis artikel di media sosial. Banyak pihak yang butuh branding. Media sosial menjadi salah satu jembatan pesan branding tersebut. Mereka berani membayar penulis, dengan prinsip ‘yang penting brandnya makin kuat dan terkenal’. Media sosial bukan hanya facebook dan twitter, tapi juga laman bebas isi seperti Kompasiana atau Detikforum.

 

Atau peluang menyediakan jasa penulisan naskah artikel/buku buat pihak lain. Anda menjadi penulis pendamping (co writer) atau penulis bayangan (ghost writer). Jangan bayangkan yang jau-jauh dan besar dulu. Karena semua penulis profesional dan senior, pada mulanya juga melalui tahap-tahap awal. Bantu orang lain dengan tarif murah dulu atau mungkin sharing royalti. Lama-lama nama kita akan naik nilanya, yang otomatis akan mendongkrak nilai kontrak!

 

Satu lagi, jangan lupa untuk selalu dekat dengan penerbit. Penerbit yang setiap bulan memproduksi banyak buku, bukan penerbit yang hanya terbitkan satu dua buku perbulan. Dengan penerbit Anda bisa bekerjasama. Penerbit butuh naskah dan biasanya mereka sudah punya daftar tema buku apa saja yang harus terbit selama setahun, selain tema-tema sesuai tren yang berkembang. Anda bisa menjadi penyedia naskah sesuai pesanan tema dari penerbit. Kalau Anda benar-benar serius menjalani profesi menulis, seharusnya bisa memenuhi pesanan 6-12 buku pertahun buat sebuah penerbit. Sudah banyak yang melakukan!

 

Kalau mau serius menjadi penulis profesional, ya memang harus sungguh-sungguh juga dalam melakukannya, plus strategi yang benar. Menjadi penulis profesional, bukan menjadi pekerja biasa seperti karyawan. Penulis profesional lebih mirip dengan penyanyi atau MC, yang biasa disebut self employee (pekerja independen). Dia kadang mirip seperti pengusaha. Memproduksi sesuatu, lalu memasarkannya. Sebuah produk kadang gagal kadang berhasil. Jadi, mental yang dibutuhkan seorang penulis profesional bukan mental karyawan/buruh, melainkan mental pengusaha, atau minimal mental pekerja independen.

 

Semoga bermanfaat!

 

 

 

Read Full Post »

Older Posts »