Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Campur Wangi’ Category

Wajah-wajah tegang dan lelah selama 4 hari pelatihan, berakhir ceria pada hari ke-5 setelah master asesor menyatakan, “Anda saya nyatakan kompeten!”. Kalimat itu muncul setelah proses cek dokumen, dan ujian praktik selama kurang lebih setengah hari. Master asesor penguji memeriksa seluruh dokumen, dan melihat langsung asesi (calon asesor) melaksanakan proses asesmen peserta. Tentu saja ketegangan melanda. Apalagi setelah diperiksa master asesor, masih banyak dokumen peserta yang dikoreksi dan harus dicetak ulang. Sebuah proses yang melelahkan dan menyita waktu.

Screenshot_2017-09-09-08-24-14-959_com.instagram.android

Sebanyak 25 orang mengikuti Pelatihan Asesor Kompetensi kerjasama Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang diselenggarakan di Puskurbuk, Balitbang Kemendikbud, Jl. Gunung Sahari, mulai 4 – 8  September 2017. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Yogya, Bandung dan Bogor, dengan latar belakang sejenis, yaitu industri penulisan. Penpro sebagai organisasi penulis Indonesia, menggagas berdirinya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang Penulis dan Editor.  Salah satu syaratnya, harus memiliki sejumlah asesor.

 

Selama pelatihan, peserta dibimbing oleh dua master  asesor yaitu Inez Mutiara Tedjosumirat dan Swystika Rahayu. Keduanya dengan telaten mengajarkan peserta bagaimana menyusun dokumen asesmen dan melaksanakan asesmen. Sebagai asesor, setiap peserta harus menguasai tiga kompetensi yaitu merencanakan dan mengorganisasi asesmen (MMA), mengembangkan perangkat asesmen (MPA), dan melaksanakan asesmen kompetensi (MAK). Ketiga kompetensi itulah yang harus dikuasai baik secara teori maupun praktik oleh setiap peserta selama 4 hari. Tak heran jika hampir setiap hari, pelatihan baru tuntas ketika matahari sudah lama tengggelam.

IMG-20170905-WA0007

Para peserta wajib membuat dua dokumen untuk MMA, MPA dan MAK, yang kemudian disimulasikan. Seseorang dinyatakan kompeten sebagai asesor, jika sudah melakukan simulasi sebanyak 3 dokumen asesmen. Dokumen ketigalah yang diuji oleh master asesor yang berbeda dengan master asesor pelatih, dan jika berhasil akan dinyatakan sebagai, “Anda kompeten sebagai asesor!”.

 

Indonesia termasuk terlambat dalam mensertifikasi profesi di berbagai bidang. Padahal, cikal bakal pentingnya sertifikasi sudah dimulai sejak 1983, 34 tahun silam. negara-negara di kawasan ASEAN khususnya Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina sudah lebih dulu menggencarkan standardisasi profesi di berbagai bidang. Indonesia menjadi kelabakan ketika kawasan bebas ASEAN berlaku pada 2015 lalu.

 

Dampaknya besar. Ketika arus masuk investasi, barang, jasa dan tenaga kerja terjadi, Indonesia mengalami ketimpangan. Misal, di bidang pertambangan dan energi. Tenaga kerja yang bisa bekerja di sana, sebagian besar harus memiliki sertifikat di bidangnya masing-masing. Tenaga kerja Indonesia masih sedikit yang memiliki sertifikat BNSP, sehingga lebih banyak tenaga kerja asing yang bekerja di sejumlah sektor tersebut. Pun di bidang perdagangan, sudah kerap terjadi, kegagalan transaksi perdagangan akibat tak adanya sertifikasi standar pada bidang tertentu.

IMG_20170908_140723_1

(“Anda kompeten sebagai asesor!” ucap pak Benny, master asesor BNSP.)

 

Profesi penulis dan editor pun bakal mengalami hal yang sama jika tidak segera diberlakukan sertifikasi profesi berstandar BNSP. Sertifikasi yang bukan hanya berlaku di dalam negeri melainkan juga di kawasan ASEAN dan global. Para pelaku industri penulisan dan penerbitan buku, wajib segera melek terhadap perkembangan zaman yang begitu cepat bergerak. Industri ini minimal harus bercermin kepada industri pariwisata, yang relatif berhasil menyesuaikan diri dalam kompetisi global.

 

Semoga berhasil.

 

Iklan

Read Full Post »

Bertubi-tubi negeri ini mendapatkan ujian toleransi, baik toleransi beragama maupun toleransi atas perbedaan suku, rasa dan antar golongan (SARA). Sejak Indonesia merdeka, SARA memang menjadi salah satu hal paling sensitif. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun, masalah SARA sami mawon, hal yang sangat sensitif.

Ketika beberapa tahun lalu, Indonesia memperoleh sebuah penghargaan sebagai negara paling toleran di dunia, bukan berarti tanpa gejolak intoleransi. Tapi mungkin dibanding negara lain, Indonesia masih lebih baik. Apalagi perbedaan SARA di negeri ini amat besar. Beragam agama, ratusan suku bangsa, dan mungkin ratusan pula perbedaan antar golongan lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara paling beragam di muka bumi ini.

Sesungguhnya, kita sudah relatif berhasil menekan intoleransi. Buktinya, mayoritas kita masih bisa hidup damai dan tenang, baik mayoritas maupun minoritas. Prosentase intoleransi jika diangkakan relatif kecil. Tapi, intoleransi tidak boleh hanya dihitung berdasarkan angka-angka saja. Terdapat level yang lebih penting daripada itu, yaitu kualitas intoleransi. Sejauh ini, level kualitas intoleransi kita mulai mengkhawatirkan.

PR menganga di depan mata kita, khususnya buat para guru dan orangtua. Guru-guru lama sudah mulai pensiun, yaitu guru-guru yang memproduksi generasi produktif sekarang. Generasi yang saat ini menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini sudah lahir generasi baru guru-guru yang berpikir lebih maju, lebih kreatif dan lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Guru-guru sekarang bisa menjadi lebih baik dibanding guru sebelumnya, atau sebaliknya lebih buruk, dalam sejumlah hal, termasuk pendidikan toleransi SARA.

Pun demikian dengan orangtua. Generasi produktif saat ini sudah menjadi orangtua yang melek teknologi, melek globalisasi dalam banyak hal, melek budaya, dan melek segalanya, termasuk dalam pola mendidik/mengasuh anak (parenting) yang kian marak khususnya di kota-kota besar. Orangtua generasi Z – sebut saja demikian – juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam hal toleransi SARA. Mereka lebih terbuka, berpikiran maju, mau bertukar pikiran dan bersilang pendapat.

Hal-hal tersebut berkelindan dengan kutub sebaliknya, yang memiliki fanatisme amat sempit dalam SARA, khususnya agama. Mereka berpikir bahwa golongannya yang paling benar, paling eksis, dan berhak menyalahkan golongan lain, bahkan bertindak keras terhadapnya. Sisi ekstrim dari fanatisme sempit inilah yang melahirkan apa yang disebut dunia barat sebagai terorisme. Istilah yang sesungguhnya sudah lama hadir, untuk menyebut siapapun yang menghalalkan kekerasan untuk meneror pihak lain, dengan alasan-alasan ideologis.

Guru dan orangtua generasi Z, punya tugas berat, bagaimana memberikan pemahaman tentang toleransi SARA kepada anak-anak. Mereka juga menghadapi dua kutub yang amat bertolak belakang, namun kerap berkelindan. Yaitu kutub terbuka dan penuh toleransi (bahkan kadang bablas toleransi) dengan kutub sebaliknya yang menganut fanatisme sempit bahkan ekstrim serta tentu saja intoleran.

Dalam era internet dan medsos seperti saat ini, kedua kutub itu dengan mudahnya masuk dan merasuk ke kepala siapapun. Termasuk anak-anak. Amat berbahaya, karena saringan kepala anak-anak masih lemah. Apalagi jika orangtua dan guru, terlambat atau belum pernah atau jarang, memberikan pemahaman yang tepat tentang toleransi SARA, sehingga anak tak punya saringan pikiran yang memadai.

Kita melihat saat ini, relatif mudah meletupkan intoleransi dengan pemantik tertentu. Lebih mudah lagi berkat wabah medsos di seantero kolong jagat, termasuk di Indonesia. Jika generasi Z dan generasi berikutnya sudah memiliki pemahaman yang baik, tentu letupan intolernasi tak perlu lagi terjadi. Walaupun, harus kita akui, di negara yang sudah maju pendidikan dan pengajarannya seperti di Amerika, Eropa dan Ausrtalia pun, intoleransi SARA masih kerap terjadi. Dalam banyak hal dan aspek toleransi, justru bangsa kita lebih baik, sehingga sempat mendapatkan penghargaan tadi.

Sebagai orang yang punya anak, dan berkecimpung di dunia pendidikan, kami tak henti-hentinya memberikan pemahaman positif kepada anak-anak agar selalu menjaga toleransi SARA dengan siapapun. Perbedaan adalah sebuah rahmat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita wajib saling menghormati, menghargai, memahami, tepo seliro dalam banyak hal. Bukan hanya lewat kata-kata melainkan juga dalam tindakan nyata.

Guru dan orangtua menjadi ujung tombak agar negeri ini tetap menjadi bangsa yang punya toleransi SARA  tinggi. Bangsa yang dihargai dan dihormati bangsa lain karenanya. Bangsa yang nyaman ditinggali oleh semua warganya yang beragam dan berbeda ini, sejak lahir sampai akhir hayatnya.

Seperti syair lagu Indonesia Pusaka:

….

Di sana tempat lahir beta.

Dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua.

Tempat akhir menutup mata.

….

Semoga selalu demikian, kini, selamanya.

 

 

Read Full Post »

IMG-20160731-WA0006_resized

Dengan niat mengkampanyekan peduli lingkungan, Yayasan Bhakti Suratto (YBS) membentuk Komunitas Stand Up Comedy Hijau, pada Sabtu 30/07, lalu di kampus Sekolah Alam Cikeas. Saat ini, Stand Up Comedy sedang tren dan digandrungi kalangan remaja. YBS menilai, tren tersebut dapat dikolaborasikan dengan kampanye peduli lingkungan, sehingga Stand Up Comedy memiliki nilai tambah dan manfaat buat masyarakat.

IMG-20160731-WA0004_resized.jpg

Hadir dalam deklarasi komunitas tersebut, pentolan stand up comedy Indro Warkop, Sutradara Comic 8 & Warkop Reborn Anggy Umbara, Ketua Umum YBS Suratto Siswodihardjo, Pembina YBS dan Anggota DPRRI Anton Suratto, Direktur Eksekutif YBS Dodi Mawardi dan komunitas Stand Up Comedy dari Cileungsi, Cibinong, Bogor, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Cikarang dan Tangerang Selatan.

 

Ketua Umum Yayasan Bhakti Suratto, Suratto Siswodihardjo mengungkapkan, yayasannya amat peduli pada konservasi alam, konservasi budaya dan konservasi manusia. Kolaborasi antara komunitas stand up comedy dan kampanye lingkungan, sangat pas dengan kepedulian yayasan tersebut.

IMG-20160731-WA0005_resized

Deklarasi tersebut mengawali lomba Stand Up Comedy, dengan tema lingkungan hidup, pendidikan dan nasionalisme. Indro dan Anggy menjadi juri untuk lomba tersebut. Lomba tersebut diikuti oleh 37 peserta dari kategori umum dan pelajar. Keluar sebagai juaranya adalah komika dari komunitas Stand Up Comedy Cileungsi dan Jakarta Timur.

 

Read Full Post »

Juli tahun 2016 ini, Yayasan Bhakti Suratto (YBS) merayakan hari lahirnya yang ke-10. Yayasan ini menaungi Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas, dan Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia (RPATKI). Sejak bergabung dengan YBS pada 2012 lalu, energi positif saya makin mengental. Sang pendiri, penggagas dan Ketua Umum YBS Suratto Siswodihardjo tak henti menyebarkan virus positif, peduli dan berbagi setiap saat. Dalam rangka 10 tahun ini, YBS menyelenggarakan lomba Stand Up Comedy pada Sabtu 30 Juli 2016 dengan tema khusus lingkungan hidup, pendidikan dan nasionalisme. Lomba ini terbuka untuk umum memperebutkan hadiah Rp 10 juta. Juri yang ambil bagian pada lomba ini bukan juri sembarangan melainkan dua tokoh yang sedang ‘digandrungi’ yaitu Indro Warkop dan Anggy Umbara (Sutradara Comic 8).

New Baliho Stand Up Comedy

Acara tersebut akan digelar di Amphy Theater Sekolah Alam Cikeas. Terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran untuk menontonnya. Kalau peserta, dikenai biaya Rp 15.000,- saja. Selain lomba Stand Up Comedy, YBS juga mengadakan Sunatan Massal, Donor Darah, Bazar barang layak pakai, tukar sampah dengan sembako dan lomba bayi sehat.

 

Read Full Post »

Semangat pagi… semangat menulis buku.

Suatu hari, Yanti berkunjung ke toko buku Gramedia. Di pintu masuk ia sudah melihat berderet buku baru. Bagus bagus. Di sebelahnya berjejer pula buku buku laris. Yanti tak henti-hentinya memandangi seluruh karya karya itu. Namun belum ada satu pun yang menarik perhatiannya.

Dia bergerak ke belakang, menyusuri rak rak buku masakan. Yanti memang hobi memasak. Matanya tertuju pada sebuah buku, yang menurut logika Yanti, tidak bagus. “Hah.., buku seperti itu. Isinya? Duh, kalau hanya seperti ini, saya juga bisa nulis buku ini…”

17 - ejek buku

Yanti terus bergerak ke rak rak lainnya. Dia kembali menemukan sejumlah buku yang, “tidak deh.” Buku buku yang terlalu cetek ilmunya dan terlalu sederhana untuk menjadi buku. Yang menurutnya, kalau bikin buku buku seperti itu, dia juga bisa.

“Anda sendiri sudah menulis buku?” tanya saya.

“Belum…” jawabnya tersipu malu.

Sampai sekarang, bertahun tahun sejak pertemuan itu, Yanti belum juga menulis buku. Sedangkan naskah naskah sederhana, naskah naskah yang level keilmuannya cetek, terus menerus diproduksi penerbit menjadi buku dan dipajang di toko sampai sekarang. Kenapa? Karena sebagian besar pembaca berada pada level pemula.

Selamat menulis buku!

Catatan:
Di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), siswa tidak diajarkan mengejek atau menghina buku. Siswa diajarkan untuk menghasilkan buku dan memberikan penghargaan kepadanya.

Read Full Post »

Buat Anda siswa siswi SMK, atau guru-guru SMK… atau yang punya teman, kerabat, saudara yang belajar dan mengajar di SMK, ada info SANGAT MENARIK nih. Character Building Center (CBC) yang berpusat di Sekolah Alam Cikeas, menyelenggarakan Kontes Wirausaha antar SMK se-Kabupaten Bogor, mulai Oktober 2013. Hadiahnya yahud lho, berupa modal kerja dengan total sampai Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Ikutan Yuk!

Info pendaftaran 021-94800033.

Publikasi Kontes Wirausaha Antar SMK 01

 

Poster Kontes 02

Read Full Post »

Disiplin itu Wajib!

Tidak Ada Sukses Tanpa Disiplin

Seharusnya semua orang sudah tahu dan sadar, bahwa “tidak ada keberhasilan tanpa disiplin!” Pengetahuan ini sudah disebarkan dan diajarkan sejak masih TK sampai perguruan tinggi. Setiap pejabat pun selalu mengatakan kedisiplinan kepada para pegawainya. Guru menyampaikan pesan serupa terhadap anak didiknya. Ustad dan pemuka agama lain pun tak lupa mengutarakan petuah ini kepada para jemaahnya.

Lalu kenapa disiplin seperti tong kosong yang nyaring bunyinya? Dia ada tapi hanya sebatas teori yang tidak pernah dipraktikkan. Lihatlah di jalanan, pengendara yang notabene berpendidikan lumayan dan bahkan tinggi, baru disiplin kalau ada polisi. Mereka berubah menjadi liar, jika polisi tidak ada. Tengok pula di sekolahan, para murid hanya taat aturan jika di hadapannya berdiri seorang guru. Kondisinya berubah drastis, begitu guru beranjak dari tempatnya. Perhatikan pula para pegawai khususnya PNS, yang mau disiplin demi diperhatikan atasan, tapi tak ada lagi aturan saat atasan tidak di tempatnya. Yang masih bisa diandalkan kedisiplinannya mungkin hanya para tentara, meski kadang pada saat tertentu mereka juga liar.

Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini? Disiplin merupakan salah satu sikap positif yang harus ada sebagai salah satu syarat keberhasilan. Tanpa attitude yang satu ini, mustahil sebuah keberhasilan diraih. Disiplin yang dimaksud lebih bertitik tolak pada disiplin pribadi, bukan disiplin kelompok atau kerumunan. Disiplin pribadi mengharuskan setiap orang mampu mengendalikan dirinya sendiri tanpa tekanan dari pihak luar.

Seorang penyanyi seperti Hadad Alwi tidak mungkin menggapai kesuksesan, jika tidak disiplin berlatih seriap hari beberapa jam. Atlet hebat sekelas Taufik Hidayat, mustahil menjadi juara jika tidak menguras tenaga untuk berlatih secara rutin. Demikian pula seorang penulis, tak perlu bermimpi menghasilkan buku jika tidak terus menerus disiplin menulis setiap saat. Begitu pula seorang pelukis, dia harus disiplin menggoreskan kuasnya.

Jika kondisi sekarang adalah sebagian besar manusia Indonesia tidak memiliki disiplin pribadi, sudah pasti hasilnya adalah kegagalan. Semakin besar jumlah manusia gagal, maka secara berkelompok pun akan gagal. Tanpa disiplin pribadi, tidak ada disiplin kelompok. Tanpa disiplin kelompok maka tidak ada disiplin sebagai sebuah bangsa. Jangan heran jika bangsa Indonesia lebih banyak mengalami kegagalan karena tidak memenuhi syarat, yaitu tingkat kedisiplinan yang rendah.

Agustus 2010
Saung penulis, Banjarwaru-Ciawi-Bogor

Read Full Post »