Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Curhat’ Category

Saya menyebutnya sebagai revolusi aspal, karena memang di sejumlah wilayah negeri ini butuh perubahan drastis terkait pembangunan jalan raya berbahan baku aspal. Banyak sekali jalan raya, baik jalan kabupaten, provinsi maupun jalan nasional yang kondisinya memprihatinkan. Atau sangat menyedihkan. Sebagian lagi sangat menyebalkan. Ah, banyak sekali kata-kata negatif yang bisa menggambarkan buruknya kondisi jalan, dan kekesalan penggunanya.

 

Tahun lalu, warga di sekitar desa Bojong Kulur Gunung Putri kabupaten Bogor berdemo. Mereka protes kepada pemkab Bogor yang dianggap tidak peduli terhadap kondisi jalan raya Ciangsana – Bojong Kulur yang berbatasan dengan Kota Bekasi. Kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor rusak parah. Sangat parah. Saya berkali-kali melewati jalan itu dan seperti memasuki wilayah ‘mimpi buruk’. Apalagi kalau hujan dan selesai hujan… wow banget kondisinya. Mirip lautan air sungai berlumpur, dengan kubangan di sana-sini. Kedalaman lubang-lubang mencapai 10-20 cm.  Dalam kecepatan rendahpun, mobil dan pemumpangnya tetap berguncang dan bergoyang tak beraturan.

 

Puncaknya, warga sekitar perbatasan itu mengancam akan pindah ‘kewarganegaraan’ dari Bogor ke Bekasi. Saking kesalnya. Memang wajar juga warga sangat marah, karena kondisi jalanan di ‘seberang’ sana, yang masuk wilayah kota Bekasi, relatif mulus. Jauh lebih baik dibanding kondisi jalan di wilayah Kab. Bogor. Saya jadi teringat kondisi jalanan di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan Barat. Jalanan di Indonesia buruk, sedangkan jalanan di wilayah Malaysia mulus. Ketika saya berkunjung ke perbatasan Malaysia – Indonesia di Malinau Kalimantan Utara, kondisi jalanan kedua negara ini memang berbeda, hehe. Ada anekdot yang menyebutkan bahwa kalau Anda terbangun dari tidur nyenyak di jalan perbatasan maka Anda sudah sampai di wilayah Indonesia. Saking parahnya guncangan akibat jalan rusak.

 

Kualitas Aspal

Jika dibandingkan dengan negara lain, kenapa kualitas jalan aspal di Indonesia secara umum buruk? Saya pernah ke beberapa negara dan menikmati aspal mereka. Kualitasnya bagus, dan jarang sekali menemui jalan-jalan bolong atau rusak. Apakah karena kondisi ekonomi negara tersebut lebih baik? Entahlah…

 

Yang pasti, kondisi jalan raya di Jawa Barat dan Banten, dua wilayah yang paling sering saya lalui, terlalu banyak yang buruk dan rusak. Selain di perbatasan Bogor dan Bekasi, juga di perbatasan Depok – Bekasi, perbatasan Bogor – Cianjur (Jonggol) dan Labuan, Anyer serta sejumlah wilayah lainnya. Sedangkan Jawa Tengah, agak mendingan, meski masih banyak juga jalan rusak, termasuk di jalan Pantura. Banyak lubang di sana-sini. DKI Jakarta, relatif baik. Wajar sebagian besar bagus karena belum rusak pun, mereka rajin melapisi jalan dengan aspal baru. Masih ada beberapa bagian yang rusak, tapi relatif sedikit. Anggaran jalan raya mereka jauh lebih besar dibanding propinsi lain. Atau pemerintah pusat pun, memberikan perhatian lebih buat jalan nasional di ibukota.

 

Yang menakjubkan justru kondisi jalan di propinsi Bali. Ini pendapat pribadi saya. Saya sempat berkeliling sebagian Bali menggunakan sepeda motor dan juga roda empat. Kondisi jalannya relatif mulus. Pengendara motor bisa menikmati keindahan pulau Dewata itu dengan tenang, nyaman dan aman. Menurut seorang sahabat tokoh pemuda adat Bali, kondisi jalan di sana pasti bagus karena warga dan masyarakat adat pasti akan mengingatkan pemda jika terdapat jalan rusak. Kalau peringatan dari warga dan masyarakat adat tidak digubris, bersiaplah pemda menghadapi risiko yang lebih besar. Apalagi menurutnya, pemda tidak punya alasan untuk membiarkan jalanan rusak, karena sebagian besar pemda di sana punya pendapatan asli daerah yang memadai.

 

Alhasil, meski sebagian jalanan di Bali relatif kecil dan sempit, tapi kualitasnya bagus. Mulus. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok. Mungkin masih ada jalanan yang kurang mulus, tapi jumlahnya amat sedikit. Paling tidak, itulah hasil pengamatan saya pribadi.

 

Bagaimana dengan Jawa Timur?

Inilah inti dari artikel ini. Kondisi jalanan secara umum di Jawa Timur, patut diacungi jempol. Berbeda sekali dengan Jawa Barat dan Banten, hehe. Saya warga ber-KTP Banten dan lahir serta tinggal di Jawa Barat. Benar, masih ada sejumlah ruas jalan rusak juga di Jawa Timur seperti bagian utara jalur Pantura Gresik. Atau salah satu ruas jalan yang membelah sawah di wilayah Nganjuk. Rusak. Kata warga sekitar, jalan tersebut rusak karena anggarannya dikorupsi. Tentu informasi ini belum valid, meski faktanya Bupati Nganjuk sudah mendekam di rutan KPK karena menjadi tersangka kasus korupsi beberapa proyek termasuk proyek perbaikan jalan. Namun, kuantitas jalan rusak di Jawa Timur jauh lebih sedikit dibanding jalan rusak di Jawa Barat dan Banten (hasil observasi berdasarkan pengalaman berkendara).

 

Kondisi baik jalanan di Jawa Timur saya rasakan begitu memasuki wilayah Magetan (perbatasan dengan Karang Anyar Jateng), Ngawi, Madiun, lanjut ke Nganjuk, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Malang sampai ke Surabaya lalu ke Gresik dan Tuban. Di sepanjang jalur tersebut, jalanan paling mulus berada di Madiun dan terutama di Tulung Agung. Surga jalan raya deh. Di dalam perumahan-perumahan kota Madiun, kondisi jalannya pun keren-keren. Tidak kalah dengan kualitas jalan di perumahan elit Pondok Indah di Jakarta. Mulussss…

 

Seorang kawan, sebut saja mas P, sejak beberapa tahun lalu berkecimpung di industri pembangunan jalan raya berbahan aspal. Dia beroperasi di sebuah kota besar di Jawa Timur. Awalnya dia kaget mengetahui bahwa lumayan banyak permainan dalam pengadaan dan perbaikan jalan raya. Suatu hari dia dikunjungi seorang pengusaha jalan aspal dari wilayah lain. Melihat proses pencampuran aspal di tempatnya. Pengusaha tersebut kaget karena mas P mencampur aspal dengan komposisi yang ideal.

 

“Mas, kalau mau untung, campurannya jangan seperti ini. Aspalnya dikurangi…” begitu kira-kira inti dari masukan pengusaha tersebut. Pendek cerita, mas P kecewa dan sedikit marah dengan sejumlah masukan pengusaha tersebut. Jiwa mudanya bergejolak. Pelajaran kebangsaan yang dipelajari di sekolahnya, terusik.

“Pak, tanpa curang pun saya sudah untung kok. Kenapa harus curang?” tanyanya sewot. Jawaban tersebut membuat kaget sang pengusaha.

“Saya berbisnis ini untuk membangun bangsa dan negara pak. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi…” ujarnya mantap. Membuat pengusaha tadi mati kutu dan segera pamit.

Terkesan sok nasionalis, namun faktanya memang begitu. Mas P membangun jalan dengan kejujuran tingkat tinggi. Campuran aspal dan berbagai bahan lainnya dia peroleh dari insinyur di ITS, hasil uji laboratorium. Dengan formula tersebut, dia bangun jalan dengan kualitas baik. Secara bisnis, dia mengaku masih bisa meraup untung sampai 30%. Berapa persen keuntungan pengusaha curang itu ya?

“Kualitas jalan tersebut bisa bertahan sampai 10 tahun!” katanya yakin.

 

Mendengar kisah sang kawan, kepala saya berputar-putar ke sejumlah fakta tentang jalan aspal. Banyak korupsi di jalan aspal. Begitulah kira-kira kesimpulan hasil gabungan dari sejumlah fakta tersebut. Ada pengusaha yang mengurangi campuran aspalnya, seperti kisah di atas. Ada juga pengusaha yang mengurangi lem aspal, sehingga aspal tidak merekat dengan sempurna. Ada juga yang mengurangi ketebalan aspalnya, sehingga mudah terkelupas dan rusak. Dan beragam fakta lainnya. Hal itu di luar aksi kongkalikong dengan pejabat terkait.

 

Tak heran jika di sejumlah jalan yang baru dibangun atau diperbaiki, dalam waktu singkat, dalam hitungan bulan, sudah rusak kembali. Pasti rusak kembali karena kualitas aspalnya kemungkinan besar di bawah standar! Kualitas yang tidak sesuai dengan spek, beban jalan dan cuaca.

 

Ah, saya jadi berkhayal dan bermimpi andaikan sebagian besar pengusaha seperti mas P, maka kualitas aspal di Jawa Barat dan Banten pun akan menjadi lebih baik dan tidak cepat rusak. Ah, andaikan para kepala daerah di Jawa Barat dan Banten menengok kondisi jalan di Jawa Timur dan Bali, seharusnya mereka sedikit malu…

 

Ah…  revolusi aspal!

Read Full Post »

Belajar Korupsi Sejak di Bangku Sekolah

“Kalau masu k sekolah itu, siapkan saja Rp 10 juta,” ujar seorang pria, kepada orang tua salah satu siswa.
“Mahal amat..” sahutnya. “Biasanya hanya Rp 7 juta.”
Anaknya hanya melongo mendengar pembicaraan tersebut. Dia sadar benar, bahwa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, orang tuanya harus membayar sejumlah uang. Cara seperti itu juga dilakukan orang tua teman-temannya.

Secuplik fenomena itu ramai terjadi pada bulan Juni. Sebulan sebelum mulainya tahun ajaran baru. Atau beberapa bulan sebelumnya. Marak terjadi setelah proses seleksi selesai. Sebagian siswa yang tidak lulus mencari cara lain untuk bisa masuk ke sekolah favorit, biasanya sekolah negeri terbaik di sebuah wilayah.

Sekolah negeri? Masih bisa kongkalikong? Ya, itu fakta. Tak terbantahkan. Meski bukti tertulis tak ada, kalau KPK mau menyadap pembicaraan telepon mereka, bukti itu bisa dengan mudah didapat. Atau dengan pola jebakan, pasti bisa dibuktikan. Berdasarkan observasi sekilas di berbagai wilayah, sogok menyogok masuk sekolah ini, sudah biasa. Amat biasa. Anak-anak kita pun sudah pintar belajar menyogok, sejak dini. Mengerikan.

Bahkan di salah satu sekolah terbaik (paling tidak versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) praktik sogok menyogok ini, diduga kuat juga terjadi. Sekolah terbaik yang mana? Itu lho, sekolah yang selalu masuk 10 terbaik nasional dalam beberapa tahun terakhir, yaitu SMA Taruna Nusantara. Hah? Masa? Kaget? Dugaan itu menyeruak sejak sekolah unggulan itu berubah pola dari sekolah gratis menjadi sekolah berbayar. Bayarnya lumayan tinggi, pertama kali berubah pada 2003/2004 lalu, uang masuk Rp 20 juta, dan iuran perbulan Rp 3juta. Sebelum tahun 2003, siswa yang masuk diseleksi amat ketat dan tidak melibatkan uang sepeserpun. Selama belajar, gratis.

SMA TN ini berada di bawah Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, yang kemudian sejak 2007 melebur menjadi Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan Kementerian Pertahanan. Angka masuk ke SMA TN makin membengkak. Bahkan ada jalur khusus buat siswa yang mampu membayar Rp 60juta. Disinyalir terjadi sejumlah kongkalikong antara panitia seleksi dengan orang tua siswa berpunya. Maka, uang resmi dan tidak resmi pun bergulir deras. Angkanya mulai Rp 50juta sampai ratusan juta rupiah. Mantap.

Sekolah ini adalah sekolah unggulan, sekolah yang mencetak siswa berbudi pekerti luhur dan berkarakter. Oleh pendirinya yaitu LB Moerdani, sekolah ini dibangun dengan tujuan untuk mencetak calon pemimpin. Tak heran jikasekitar setengah lulusannya masuk akademi militer/akademi kepolisian. Nah, jika sekolah terbaik saja sudah mulai mengenal budaya sogok menyogok, bagaimana nasib di sekolah lainnya? Jika sekolah calon pemimpin sudah mengajari siswanya untuk belajar korupsi, bagaimana nasib bangsa ini di kemudian hari?

Korupsi marak di dunia pendidikan kita. Marak. Maka pantas jika sejumlah survey dalam beberapa tahun terakhir menempatkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu sarang korupsi. Ironis sekali ya?!

Dodi Mawardi
Penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”

*Tulisan ini dikirim ke sejumlah media sosial, media cetak, elektronik dan semua channel media internet yang ada.
* Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pihak manapun.

Read Full Post »

Ciputat 2008 – 2010.

Sebuah perusahaan properti berniat mengubah sebuah situ (danau buatan) menjadi perumahan. Warga sekitar protes. Pemda setempat kemudian turun tangan. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah ironi. Perusahaan itu tetap melenggang. Pagar dibangun, masyarakat tidak bisa masuk ke situ, yang semakin dangkal dan mulai diurug oleh pengembang tersebut. Protes warga menjadi-jadi. Pemda yang lebih tinggi turun tangan. Situ tidak jadi diurug dan sampai sekarang masih terbengkalai, serta tak jelas statusnya. Situ bukan, karena sudah amat dangkal, berisi pepohonan dan rumput serta gundukan tanah. Lahan properti juga bukan, karena aktivitas pengurugan sudah berhenti.

 

Fenomena semacam itu sudah terjadi berkali-kali. Jika warga diam, atau kurang kuat maka situ tersebut akan menjadi pemukiman. Di wilayah lain sudah terbukti, situ berubah menjadi perumahan, pusat belanja atau bangunan lainnya. Situ dianggap lahan tak berfungsi, dan kalah bermanfaat dibanding bangunan. Cara berpikir itu melekat di benak (sebagian) pengusaha properti, (sebagian) birokrat, dan (sebagian) masyarakat kita saat ini. Cara berpikir itu kemudian menjadi lebih kuat, didorong oleh kepentingan ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Padahal, cara berpikir seperti itu jauh tertinggal dibanding pola pikir orang Belanda, yang dulu menjajah bangsa ini. Merekalah yang pertama kali membangun dan kemudian merawat situ-situ di sekitar Jabodetabek. Pemerintah Indonesia kemudian menambah jumlah situ buatan tersebut dan memelihara rawa. Sayang seribu sayang, meski jumlahnya lebih banyak, luasnya jauh lebih sedikit dibanding masa lalu (data LIPI: total situ 1940 lebih luas 40% dibanding total luas situ tahun 2000). Dugaan paling kuat adalah banyak situ yang kegerogoti lahannya oleh pembangunan gedung.

Resapan Air Berkurang

Resapan air menjadi salah satu unsur penting penyebab timbulnya banjir. Air hujan dengan intensitas tinggi, pasti akan meluap kemana-mana, jika daya resap tanah berkurang. Situ dan rawa menjadi tempat paling potensial untuk menyerap air. Jabodetabek membutuhkan tempat resapan air yang memadai, agar air hujan bisa ditampung dan tidak mengalir serta meluap kemana-mana. Dengan adanya resapan, maka air hujan adalah berkah dan tidak akan pernah dianggap sebagai bencana.

(Bencana kekeringan karena ketiadaan hujan)

Pola pikir resapan air juga kacau balau di kawasan hulu, yaitu kawasan Bogor, khususnya Puncak. Puncak adalah wilayah perbukitan dan pegunungan sumber dari mengalirnya sejumlah sungai di Jabodetabek. Para ahli lingkungan sepakat, kawasan Puncak harus menjadi tempat utama resapan air hujan. Itulah sebabnya dalam peraturan tata ruang, kawasan Puncak adalah kawasan terlindung. Pohon-pohon di sana harus semakin banyak jumlahnya, agar mampu menyerap hujan. Faktanya apa yang terjadi?

 

Pola pikir sehat kalah oleh urusan ekonomi dan lain sebagainya. Sampai sekarang, orang-orang berduit masih berduyun-duyun mencari tanah di kawasan Puncak untuk membangun villa. Lebih parah lagi, karena pembangunan villa mereka lakukan dengan cara kongkalikong perizinan mulai dari IMB sampai dampak lingkungan (amdal). Al hasil, kawasan Puncak tidak layak lagi disebut sebagai hutan pohon. Dia lebih cocok disebut sebagai hutan villa.

Vila 2

Bahkan pada tahun 2012 ini, kawasan Puncak dan sekitarnya mulai menjadi incaran developer besar. Vimala Resort garapan Agung Podomoro Grup mulai diluncurkan. Lokasinya di kawasan Gadog, kaki dari wilayah Puncak. Di lokasi yang nyaris sama juga akan segera hadir kondominium Aston.  Entahlah apa yang ada di kepala para penguasa kita, baik di pusat maupun di daerah. Ketika banjir datang, siapa yang layak disalahkan?

Sungai Digerogoti

Manusia zaman sekarang memang edan. Sesuai dengan ramalan Ronggowarsito. Entahlah saya termasuk di dalamnya atau tidak?  Yang jelas, selain menggeroti lahan situ, rawa dan daerah resapan, manusia kita juga menggerogoti sungai. Saya ingat betul ketika hidup di daerah sekitar Cianjur yang dilewati sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Penduduk tahun 1970-an – 1980-an, masih sangat disiplin tidak hidup di bantara sungai. Mereka membiarkan bantaran sungai yang lebarnya mungkin dua kali lipat lebar sungai. Sawah dan ladang utama, berada di luar kawasan bantara.

 

Mereka belajar dari alam, karena sejak zaman dahulu kala, air sungai pada waktu-waktu tertentu (terutama jika hujan deras turun di hulu) akan meluap. Luapan airnya bisa sebanyak 3 sampai 5 kali lipat aliran biasa. Seluruh bantaran yang sangat lebar itu, ikut terendam air. Arusnya amat deras (Orang sekitar Citarum dan anak sungainya menyebut kejadian itu sebagai ‘caah’). Batu-batu besar bisa dibawa menggelinding oleh arus itu. Apalagi manusia atau ternak. Mereka tahu hal tersebut dan tak mungkin memanfaatkan bantaran untuk pertanian, perkebunan, peternakan atau bahkan untuk tempat tinggal. Pelajaran dari alam sangat berharga dan mereka ikuti secara turun temurun. Tidak ada yang berani melanggar, karena risikonya terlalu besar.

Lalu apa yang terjadi sekarang? Anda bisa melihat sendiri bukan? Bantara sungai di kota-kota besar, khususnya di Jakarta sudah musnah, hilang dan tak berbekas. Tak ada lagi bantaran yang luas idealnya (mungkin) dua kali lebar sungai. Semuanya berubah menjaid hunian atau bentuk kepentingan ekonomi lainnya. Lebar sungai menyempit. Logika orang sehat pasti akan mengatakan, hak wilayah air terganggu. Kemana air itu akan mengalir pada saat ‘caah’ terjadi? ‘Caah’ itu sejak zaman dahulu sudah terjadi dan akan selalu terjadi. Itu sudah hukum alam. Jumlah air sungai akan meningkat pada saat-saat tertentu, khususnya ketika hujan turun di wilayah hulu.

Lebih parah lagi karena sepanjang aliran sungai, kearifan lokal kita sudah nyaris hilang. Bantaran dijarah, buang sampah sembarangan ke sungai, limbah pabrik juga mengalir ke sana. Tinggallah orang yang berdiam di hilir, yang akan terkena dampak paling besar. Ditambah lagi deritanya, karena yang berdiam di hilir pun setali tiga uang atau bahkan lebih parah pola pikirnya dibanding mereka yang berdiam di hulu. Padahal, orang yang dihilir katanya berpendidikan lebih tinggi dan mengaku lebih berbudaya dibanding orang hulu.

Introspeksi Yuk!

Penderitaan warga Jakarta akibat banjir akan terus terjadi sepanjang tidak ada kebijakan radikal dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Harus ada kebijakan radikal. Jangan lagi menyalahkan kawasan hulu, karena yang merusak adalah orang-orang hilir sendiri. Pemerintah harus tegas membuat kebijakan dan menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Hanya itu yang akan mengurangi banjir atau bencana terkait lainnya.

Misalnya:

Beranikah pemerintah melarang pembangunan vila di kawasan hulu? Stop sekarang juga!

Berani tidak pemerintah melarang pembangunan resort, hotel dan sejenisnya di sana? Stop sekarang juga!

Berani tidak pemerintah membongkar seluruh vila yang tidak sesuai peruntukannya? Lakukan sekarang juga!

Beranikah pemerintah menghentikan pembangunan fisik di Jakarta? Pembangunan gedung di Jakarta sudah membabi buta, karena tidak sesuai lagi dengan  tata kota yang baik. Jumlah bangunan dan lahan hijau sama sekali tidak seimbang. Harus ada kebijakan radikal. Apa perlu dibuat KPB, Komisi Pemberantas Banjir? Semacam KPK-nya untuk urusan banjir, yang menegakkan aturan agar tidak banjir lagi dan membasmi penyebab banjir.

KPB

Berani tidak memindahkan seluruh penduduk di bantaran kali?

Berani tidak menghukum pembuang sampah sembarangan ke sungai?

Berani tidak menghukum pencuri lahan situ dan rawa?

Pemerintah akan berfungsi kalau bersikap tegas, bukan plintat plintut tidak karuan.

Saya kok pesimis. Pemerintah kita tidak berani. Masyarakat kita juga tidak berani berubah secara radikal. Pemerintah dan masyarakat, sami mawon. Ya kalau begitu selamat menikmati banjir, terutama banjir parah yang siklusnya 5-6 tahunan. Jangan menyalahkan pihak lain. Wong bencana ini kita sendiri yang membuatnya.

Anda tidak akan mendapatkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa, kalau masih menyalahkan pihak lain, apalagi kalau menyalahkan Tuhan, yang selalu menyertakan berkahnya dalam setiap hujan yang diturunkannya.

(Nggak habis pikir, hujan kok dianggap bencana!)

Read Full Post »

Dosa vs Prestasi PSSI-nya Nurdin Halid

 

PSSI berlaku sangat tegas terhadap kehadiran Liga Primer Indonesia (LPI). Mereka menganggap LPI sebagai kompetisi gelap yang tidak sesuai dengan aturan organisasi dan undang-undang yang berlaku. Sayang sikap tegas PSSI itu bertolak belakang dengan semangat publik, yang sudah kadung kecewa dengan tindak-tanduk sebagian besar pengurus PSSI, selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Nurdin Halid. Apalagi, berkali-kali PSSI pun tidak taat terhadap aturan organisasi di atasnya (FIFA) atau aturan yang dibuatnya sendiri.

 

Nah, di bawah ini kita bisa lihat perbandingan antara dosa-dosa PSSI-nya Nurdin Halid dengan prestasinya. Mana yang lebih dominan? Tentu publik sudah tahu jawabannya. Tapi biar adil, mari kita telaah satu persatu, baik dosa-dosanya maupun prestasinya. Analisis ini belum tentu akurat karena hanya berdasarkan data-data sekunder, seperti berita-berita di media massa dan pengamatan penulis saja.

 

Dosa-dosa PSSI-nya Nurdin Halid

  • Ketua Umumnya Terlibat Kriminal

Nurdin Halid Ketua Umum PSSI pernah dipenjara beberapa tahun dalam kasus korupsi dengan nilai lebih dari Rp 200 miliar. Itu terjadi ketika dia sudah menjabat sebagai ketua umum. Dan selama dipenjara, dia tetap memimpin organisasi tersebut. Jelas-jelas hal ini melanggar statuta FIFA, bahwa ketua umum organisasi sepakbola tertinggi di setiap negara, tidak boleh terlibat kasus kriminal apalagi pernah dipenjara. Terakhir, KOI (KONI) juga membuat aturan dalam dalam AD/ART-nya bahwa pengurus induk olahraga tidak boleh narapidana atau yang pernah terlibat kasus hukum.

 

  • Memanipulasi Statuta FIFA

Beberapa kali PSSI ketahuan memanipulasi statuta FIFA untuk sejumlah kasus, termasuk tentang kongres, hak anggota dan status ketua umumnya. Tapi meski sudah ketahuan, mereka tetap bergeming dengan pendirian, bahwa mereka tidak bersalah. Info belakangan menyebutkan, PSSI – AFC dan FIFA kongkalikong untuk menyetujui Nurdin tetap memimpin PSSI.

 

  • Menolak Rekomendasi Kongres Sepakbola Nasional

Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang digagas masyarakat pecinta bola dan didukung oleh pemerintahan SBY, merekomendasikan agar PSSI  segera mereformasi dan mereorganisai secara internal. Kenyataannya sampai sekarang, rekomendasi no 1 dari 7 butir rekomendasi itu, tidak pernah dilakukan.

 

  • Manipulasi Kompetisi

Katanya kompetisi Indonesia Super Leage adalah kompetisi profesional. Tapi kenyataannya masih banyak klub yang berstatus amatir. Biaya kompetisi dari APBD.  Yang profesional siapa?

 

  • Tidak Adil dalam Hak Siar Televisi

PSSI mendapatkan hak siar televisi senilai Rp 100 miliar dalam durasi waktu 10 tahun. Artinya setiap tahun televisi membayar sebesar Rp 10 miliar. Yang memgalir ke klub hanya Rp 25 juta per pertandingan yang disiarkan langsung. Masih banyak sisa hak siar yang dimakan sendiri oleh PSSI. Silahkan hitung, Rp 10 miliar dibagi Rp 25 juta = 400. Berapa jumlah pertandingan yang disiarkan langsung? Tentu saja jauh di bawah angka 400 pertandingan.

 

  • Mengambil Sebagian Besar Keuntungan Kompetisi

Selain dari hak siar, PSSI juga mendapatkan sejumlah sponsor mulai dari sponsor utama sampai sponsor pendamping dan sponsor kecil-kecil. Sponsor utama saja tahun 2010 menggelontorkan dana lebih dari Rp 40 miliar. Total pemasukan dari semua sponsor pasti di atas Rp 50 miliar. Berapa yang dibagi ke klub?  Tidak ada alias NOL! Mereka baru menambah jatah buat klub setelah hadirnya LPI, karena takut klub pindah ke kompetisi tersebut. Tapi tetap saja, pembagiannya selalu melar dari jadwal.

 

Itu belum termasuk pemasukan dari sponsor piala liga (Copa) dan divisi utama, yang kalau digabung angkanya hampir sama dengan jumlah pemasukan di ISL.

 

  • Menunggak Berbagai Hadiah

Final kompetisi ISL dan Copa berlangsung misalnya pada bulan Juli. Maka sampai bulan September, hadiahnya belum cair juga. Klub harus berteriak-teriak dulu, agar hadiahnya cair. Pekerjaan rutin PSSI, menunggak pembayaran hadiah. Aneh. Apalagi jumlah hadiah dibanding sponsorship yang mereka peroleh sangat jomplang. Juara I Rp 1,5 M (Bandingkan jumlah sponsorship). Bandingkan pula dengan prosentase hadiah (bukan jumlahnya) di Liga Champion Eropa yang dibagi oleh UEFA.

 

  • Menunggak Berbagai Kewajiban Utang

Selain menunggak pembayaran hadiah, PSSI juga hobi menunggak pembayaran untuk berbagai kewajiban. Misal pada beberapa kesempatan, mereka gemar menunda pembayaran hotel untuk menginap.

 

  • Tidak Punya Prestasi Selama Kepengurusan.

INI DOSA PALING BESAR. Tidak punya prestasi apapun. Paling hebat, melaju ke final Piala AFF. Titik. Tak ada yang lain. Tapi aibnya banyak. Misal kalau dari Laos di Sea Games, dan kalah dari Timor Leste di level junior. Padahal pada periode sebelumnya, tim junior kita sempat jadi macan Asia.

Yang mampu membuat prestasi justru para suporter. Lihatlah pada putaran final Piala Asia 2007, suporter Indonesia membuat bulu kuduk berdiri, heroik, antusias dan penuh semangat. Hal serupa terjadi pada Piala AFF 2010. Kembali penonton menjadi pemenangnya. Garuda Di Dadaku berkumandang tiada henti, dan nasionalisme bangkit kembali.

 

  • Mengulangi Kesalahan Mengirim Tim Berlatih ke Luar Negeri

Pengurus sebelumnya sudah dianggap gagal mengirim tim ke luar negeri untuk berlatih. Eh, diulang lagi pada masa kepengurusan ini. Katanya sih berbeda. Tapi hasilnya kemungkinan besar tidak akan jauh berbeda. Berlatih di Belanda, kemudian ke Uruguay. Tetap saja yang dikirim sebuah tim lengkap.

Kalau mau, kirim saja secara individual ke sekolah-sekolah sepakbola paling top seperti Barcelona atau MU. Pemain hebat tidak tercipta dalam sebuah tim, tapi secara individu dulu. Mana ada sebuah tim nasional berasal dari segerombolan pemain yang sejak kecil terus berada dalam satu tim sampai dewasa?

 

  • Gagal Regenerasi Pengurus

Sebagian pengurus PSSI sekarang adalah warisan masa lalu. Contoh paling kentara adalah Nugraha Besoes. Dari sejak saya masih SD (rentang waktu SD saya tahun 1981-1987) sampai sekarang, dia tetap menjabat sebagai Sekjen PSSI. Nggak ada yang lain ya?

 

  • Gagal Mengubah Klub-klub Menjadi Profesional

PSSI gagal mengubah klub-klub anggota ISL menjadi profesional. Hanya segelintir dari mereka yang berubah dari amatir menjadi profesional, dari perkumpulan menjadi PT. Sisanya masih menyusu di APBD.

 

  • Gagal Menjadi Anggota EXCO AFC.

Nurdin Halid baru saja gagal menjadi anggota EXCO AFC. Sebelumnya Indonesia punya Dali Taher sebagai anggota. Nurdin kalah bersaing dengan orang Myanmar. Siapa juga yang mau memilih Nurdin yang mantan terpidana kasus korupsi? Para petinggi AFC dan pengurus organisasi sepakbola negara-negara Asia, lebih waras cara berpikirnya.

 

  • Tidak Pernah Ikut Asian Games

Selama kepengurusan PSSI Nurdin Halid, tidak pernah ikut serta dalam Asian Games. Apapun alasannya, ini menunjukkan kegagalan lobi dan negosiasi PSSI ke pengurus KONI dan pemerintah.

 

  • Gagal Mendapatkan Simpati Publik

Ini juga menjadi salah satu KEGAGALAN TERBESAR. Bayangkan, ketika tim nasional mampu menarik perhatian publik, PSSI-nya tetap dikecam. Ironis. Seharusnya PSSI (pengurus sekarang) sudah bisa bercermin.

 

  • Gagal Meningkatkan Mutu Klub.

Katanya ISL diselenggarakan untuk meningkatkan mutu klub profesional. Tapi lihatlah kiprah klub Indonesia di ajang Piala Champion Asia? Hancur lebur. Oleh klub Thailand dan Singapura saja kalah. Apalagi oleh klub-klub Korea dan Jepang, kalahnya seringkali sangat telak seperti 0-8 atau 0-11. Malah bikin malu.

Kenapa begitu? Salah satu penyebabnya karena setiap klub yang juara ISL, maka pada musim berikutnya amburadul, karena ditinggal para pemainnya. Mereka hanya dikontrak selama semusim. Musim berikutnya, para pemain mencari kontrak yang lebih baik!

 

  • Gagal Membina Pemain Muda.

Mana pemain muda Indonesia? Mana kompetisi anak muda/junior? Yang menyelenggarakan malah bukan PSSI. Piala Medco, Liga Kompas-Gramedia, dan lainnya, bukan bikinan PSSI. Piala Suratin sudah lenyap entah kemana.

 

  • Peringkat Indonesia Lebih Rendah

Sebelum tahun 2000-an, peringkat Indonesia sempat berada pada posisi 90-an. Kemudian merosot karena jumlah negara bertambah (pecahan Uni Sovyet dan Eropa Timur). Sekarang makin merosot di posisi 130-an. Piala AFF 2010, hanya menambah memerbaiki peringkat sedikit saja.

 

  • Lebih Banyak Pemain Asing di Liga

Jumlah pemain asing yang berlaga di kompetisi ISL per klub 5 orang! Di divisi utama 3 orang. Ternyata dana APBD yang dikucurkan ke klub, sebagian besar dinikmati pemain asing, karena nilai kontrak mereka tinggi! Ironis ya.

 

Prestasi PSSI-nya Nurdin Halid

1. Menjadikan LSI sebagai Kompetisi Terbaik ke-8 di Asia

Prestasi ini tidak bisa dibantah, karena faktanya ISL dianggap sebagai salah satu yang terbaik di kawasan Asia oleh AFC. ISL mengalahkan kompetisi di Malaysia, Singapura dan sejumlah negara bola seperti Vietnam, dan negara di Timur Tengah. Tapi kita tidak tahu persis, kriterianya apa. Stadion layak? Profesional? Mutu pemain? Rasanya, layak dipertanyakan. Makanya, menteri olahraga Malaysia melarang tops skorer AFF 2010 Safee, bermain di ISL. Katanya, kualitasnya tidak lebih baik dibanding liga Malaysia.

 

2. Menggugah Nasionalisme

Prestasi ini bisa digugat habis. Karena siapapun pengurusnya, kalau tim nasional bermain baik, pasti suporter akan berjingkrak dan mengobarkan semangat nasionalisme. Di hampir seluruh dunia yang suka bola, memang demikianlah faktanya.

 

3. Menyelenggarakan Piala Asia 2007 dengan Sukses

Ya bolehlah penyelenggaraan Piala Asia 2007 disebut sukses. Tapi sukses penyelenggaraan tidak dibarengi prestasi timnas. Walaupun bermain baik, timnasnya keok di penyisihan grup.

 

4. Meningkatkan kualitas tim nasional (Debatable).

Ini juga layak didebat. Benar, sekarang timnas tidak pernah kalah telak seperti jaman dulu ketika menghadapi tim besar. Misalnya kalah 0-7 dari Thailand, 0-5 dari China, atau 1-6 dari Saudi. Sekarang kita sering kalah tipis dari mereka, bahkan bisa mengimbangi. Misal 0-0 dengan Australia, 2-1 vs Bahrain, 0-1 lawan Korea, atau 1-2 versus Arab Saudi.

Tapi sayang untuk level yang lain, kita tetap jeblok. Kalah 0-2 dari Laos dan Timor Leste.

 

5. Naturalisasi Pemain

Berhasilkah? Baru Cristian Gonzales kayaknya yang bisa dinaturalisasi. Menyimak perjalanan negara lain, naturalisasi ini jamak dilakukan. Jangan juga kita bicara, “Ngapain naturalasasi, pemain kita juga banyak yang bagus.” Yeee, kalau banyak yang bagus, sudah dari dulu kali kita jadi juara! Kita butuh naturalisasi seperti Jepang pada awal kebangkitannya, atau Qatar yang sekarang jadi tuan rumah Piala Asia dan akan jadi tuan rumah Piala Dunia. Jerman, Italia, dan sejumlah negara besar sepakbola juga pernah menaturalisasi pemain.

 

6. Kesulitan mencari apa lagi prestasi PSSI… bisa bantu?

Tolong dibantu dong, sebutkan prestasi yang lainnya. Saya sudah buntu nih…

 

Dodi Mawardi

Pecinta sepakbola

Mantan jurnalis, Penulis buku dan Dosen UI serta Interstudi

Read Full Post »

Wartawan dan Suap

“Ah basi…”
Boleh saja Anda menganggap judul tulisan ini demikian, mengingat sudah bukan rahasia lagi, bahwa banyak wartawan yang biasa menerima suap. Atau yang lebih keren dengan sebutan penerima amplop. Sehingga muncul sebutan wartawan amplop. Tapi yakinlah saudara-saudaraku, masih banyak juga wartawan yang anti amplop.

Artikel ini muncul terkait liputan tentang Artalyta ‘calon Ratu Suap’ Suryani, yang gencar sejak Mei lalu. Apalagi setelah beredanya percakapan telepon orang dekat Syamsul Nursalim ini dengan para petinggi kejaksaan agung. Liputan wartawan makin berwarna dan semarak. Lihat saja di pengadilan! Pengunjungnya selalu membludak, khususnya terdiri dari banyak wartawan.

Ternyata, dalam hampir setiap sidang Artalyta, selalu tersedia makan siang gratis buat seluruh pengunjung. Mungkin juga termasuk buat tersangka dan pengacaranya, jaksa, hakim dan pegawai pengadilan. Mungkin lho… Kalau wartawan? Sudah pasti, sebagian dari mereka menikmati makan siang gratis ini.

Dari mana makanan ini berasal? Apakah pengadilan sudah kaya raya menyediakan sajian khas berselera buat pengunjung? Sepengalaman saya dulu meliput di pengadilan, belum pernah ada bagi-bagi makanan gratis seperti itu. Lalu dari siapa?

Oh… ternyata dari ‘calon Ratu Suap’!
Seorang wanita muda cantik dan bersih terlihat sibuk di ruang pengadilan. Dialah yang mengkoordinir pembagian makanan itu. Bukan… dia bukan Artalyta, melainkan menantunya. Tentu sepengetahuan ibu mertuanya. Tujuannya? Biar pengunjung tidak keroncongan saat menunggu dan mengikuti sidang. Tujuan yang sangat mulia bukan?

Ah… namanya juga tersangka penyuap. Ada-ada saja usahanya untuk mendapatkan simpati pengunjung. Meski dengan cara terselubung semacam itu: menyuap juga.

Lalu apa hubungannya dengan wartawan?
Ini dia fokus dari artikel ini. Sejak dulu sampai sekarang, sebagian wartawan dari sebagian media massa paling senang meliput acara, yang menguntungkan mereka. Salah satunya, jika ada penyelenggara yang mengadakan kegiatan bertepatan dengan jam makan siang.
“Lumayan makan siang gratis!” kata seorang wartawan.
“Mengurangi biaya makan…” kata yang lain.

Maka jangan heran jika para penyelenggara acara (EO) atau perusahaan humas atau humas sebuah perusahaan, punya jadwal pasti dalam setiap mengadakan kegiatan atau jumpa pers. Kalau tidak jam makan siang, ya jam makan malam. Jangan coba-coba membuat acara jam 9 pagi selesai jam 11 siang, atau mulai jam 2 siang selesai jam 5 sore. Dijamin hanya sedikit wartawan yang datang.
“Ah cuma snack doang…” ujar beberapa wartawan.

Berkat makanan gratis ini, saya jamin persidangan Artalyta akan semakin ramai pengunjung. Termasuk, semakin ramai didatangi wartawan. Sebuah liputan di Trans TV menunjukkan hal tersebut. Sang reporter dengan riang gembiranya melaporkan persidangan Artalyta sambil menikmati makanan dan minuman gratisnya. Tak lupa, kameramannya juga mengambil gambar puluhan wartawan yang sedang asyik bersantap siang. Menyantap makanan yang berasal dari terdakwa kasus penyuapan. Tak terasa, mereka juga sudah disuap…

Untuk kasus semacam ini, saya teringat rekan-rekan wartawan di Amerika sana. Terlepas baik buruknya citra negeri Paman Sam itu, untuk kisah yang satu ini bolehlah menjadi cermin. Konon, sebagian besar wartawan di sana enggan menikmati makan siang di lokasi tempat liputan mereka, khususnya yang disediakan oleh penyelenggara acara.
“Kami dibekali uang makan oleh kantor…” begitu alasan mereka.
“Kami tidak mau terpengaruh sedikitpun oleh penyelenggara kegiatan,” demikian alasan lainnya.

Cerita lainnya lebih dahsyat lagi. Sebagian besar media top di Amerika, membiayai sendiri para wartawannya jika mengikuti kunjungan kenegaraan sang presiden ke negara lain. Mereka menolak dibiayai dengan anggaran kepresidenan! Beda ya dengan di sini!

Jadi kesimpulannya, selamat menikmati opera suap yang akan semakin melebar ke mana-mana. Thanks to KPK yang dipimpin mantan jaksa, yang berani mengobok-obok mantan kantornya sendiri. “Hati-hati pak… banyak yang sakit hati.”

Ikut berduka cita untuk sebagian wartawan, yang seharusnya tidak ikut serta dalam opera suap ini, tapi sudah terlanjur basah menikmati suapan para pembikin berita.

Read Full Post »

Listrik oh Listrik

Hari ini… saya luar biasa suntuk. Kesel, mangkel, pegel… semua campur aduk menjadi satu. Satu hal yang menyebabkan itu semuanya. “Listrik mati” dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Dan matinya listrik ini, datang begitu saja tanpa pemberitahuan. Mungkin PLN menganggap semua pelanggan sudah dianggap tahu, karena media massa sudah memberitakan bahwa Jawa dan Bali akan mendapatkan pemadaman bergiliran. (Meski operator di call center PLN 123 menolak pemadaman itu sebagai disebut giliran, melainkan hanya pemeliharaan – sakarepmulah!)

Alasan resminya jelas. Negeri kaya raya sumber daya alam ini, mengalami krisis listrik. “Pasokan batu bara tersendat…” demikian alasannya beberapa bulan lalu.
“Persediaan BBM menipis…” itu alasan berikutnya.
“Banyak pembangkit mengalami kerusakan…” alasan lainnya.
Entah apalagi alasan selanjutnya yang bakal dijejalkan petinggi PLN kepada masyarakat.

Seperti saya ungkapkan di atas, akibat matinya listrik ini, saya menjadi suntuk luar biasa. Saya bekerja di rumah mengandalkan satu unit komputer. Hidup mati saya tergantung komputer ini, yang menghasilkan belasan suku kata setiap bulannya. Komputer butuh listrik. Kalau listrik tidak ada, maka komputer saya seperti seonggok sampah tak berguna. Kadang saya melamun, “Kok teknologi makin tinggi malah makin bikin sengsara?” Dulu nenek moyang kita tidak butuh listrik untuk menulis. Cukup selembar kertas dan pena. Atau sebuah mesin ketik manual tanpa energi buatan. Mereka toh mampu menghasilkan karya-karya hebat.

Lha, sekarang saya tersiksa akibat komputer tanpa listrik!

Saya rugi moril dan materil. Belum lagi tambahan biaya pulsa, karena tiba-tiba saya harus bertelepon dan sms lebih banyak dari biasanya untuk mengisi waktu. Masih harus ditambah ongkos sewa rental komputer yang jaraknya cukup jauh (ongkos BBM juga) karena wilayah yang terkena giliran pemadaman cukup luas. Saya harus tetap menulis, karena inilah pekerjaan saya. Wajar jika para pengusaha garmen dan industri lain protes kepada PLN, karena mereka rugi Rp miliaran akibat pemadaman listrik ini. PLN menjawab, “Mohon maklum kami juga selalu merugi!”

Padahal satu hari sebelumnya, saya baru mendengar informasi dari radio bisnis PAS FM. “Peusahaan listrik di India Tata… meraih keuntungan tahun ini… meningkat dibanding tahun lalu.” Demikian penyiar PAS menyampaikan informasinya.
Aneh saya pikir!
Kok bisa perusahaan listrik India itu untung?
Pasti bohong!
Atau PAS FM yang salah kutip berita.

Lihat PLN! Tidak ada ceritanya mereka mendapatkan untung. Padahal PLN monopoli. Sedangkan perusahaan listrik India Tata, tidak monopoli. Masih ada perusahaan lain yang memasok energi di negeri tersebut. Pasti berita itu keliru!

Sejak dulu PLN selalu rugi bukan?
Sampai sekarang pun mereka masih rugi!
Tahun lalu saja mereka minta subsidi Rp belasan triliun.

Makanya, listrik di rumah saya hari ini mati selama 10 jam dan bergiliran di daerah lainnya. Tidak mungkin bisnis listrik menguntungkan. Kalau menguntungkan, pasti operator di call center PLN 123 tidak perlu memberi nasihat di akhir percakapan:

“Pak nanti kalau listriknya sudah menyala, mohon untuk menghemat. Pukul 17 sampai 22, paling tidak mematikan dua buah lampu. Terima kasih sudah menghubungi PLN…”

Mana ada perusahaan menguntungkan seperti Tata di India, meminta pelanggannya untuk berhemat. Betulkan PLN???

Read Full Post »

Jujur, saya terkejut luar biasa tatkala mendengar informasi, serombongan manusia KAYA RAYA dan ber-PENDIDIKAN TINGGI, yang menggunakan motor mewah Harley Davidson, menerobos masuk jalan tol Jagorawi. Imajinasiku langsung melayang ke dalam kepala para pengendara lain dan khususnya petugas pintu tol.

Petugas jalan tol:
“Maaf, motor dilarang masuk jalan tol! Apakah bapak-bapak tidak melihat papan aturan yang jelas-jelas menuliskan aturan tersebut?”

Petugas tersebut bertanya dengan penuh sopan santun sambil menunduk-nunduk, saking hormatnya kepada para PENGGEDE tersebut.

Kepala suku Harley:
“Ya saya tahu! Tapi kamu tahu tidak siapa saya?”

Lelaki setengah baya yang tampaknya kepala rombongan HD itu, membuka helmnya, lalu turun dan mencengkeram kerah baju petugas jalan tol.
Mendapatkan reaksi yang sudah terduga tersebut, sang petugas kaget bukan kepalang (Karena dia merasa sudah bertanya dengan sangat sopan. Biasanya, kalau ada sepeda motor atau sepeda ontel atau tukang siomay mencoba masuk tol, dia akan memperlihatkan kegagahannya dan kecongkakannya. Tidak kalah dibanding kepala suku HD itu).

Petugas jalan tol:
“Oh maaf… pak, kalau saya tidak mengenal bapak. Tapi aturannya begitu pak. Motor dilarang melintas di jalan tol…”

Makin merunduklah petugas ini, meski di belakangnya ada beberapa anak buah yang siap mendukungnya.
Kepala suku HD:
“Kamu berani melarang saya lewat… saya bisa membuat kamu tidak punya pekerjaan lagi tahu. Saya bisa telpon bos kamu, biar kamu di-PHK.”

Ancaman yang sadis, mengandung intimidasi dan teror mental luar biasa. Membuat hati para petugas jalan tol ciut. Mereka tidak biasa menghadapi teror semacam itu. Bahkan tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus, untuk menghadapinya.

Karena takut kehilangan pekerjaan atau alasan tidak masuk akal lainnya, maka meski melewati sedikit hadangan – para pengendara motor mewah, status sosial A dan A+, pendidikan minimal S1 plus plus juga, bahkan sebagian mungkin levelnya di atas S3 – bisa melenggang gembira mencicipi jalan tol. Mereka tidak peduli dengan cibiran para pengendara roda empat, roda enam atau roda 12 yang masih waras otaknya.

Itu imajinasiku yang pertama. Khayalan yang kedua adalah para petugas sudah mendapatkan ‘perintah’ dari atasannya, untuk membiarkan para PEMBESAR dan DEN BAGUS itu lewat. Soalnya, mereka sudah lebih dulu mengancam atasan petugas jalan tol itu. Imajinasi lainnya, petugas jalan tol mendapatkan sogokan! Mungkin mereka berjanji akan meminjamkan sepeda motor idaman tersebut, barang semenit dua menit digunakan oleh para petugas jalan tol.

Owalah, kok imajinasinya makin ngawur ya…!
Tapi, begitulah di negeri penuh ironi ini. Orang-orang kaya yang tidak ‘waras’ atau meminjam istilah Ronggowarsito “orang gila di jaman edan” akan memenangkan kehidupan. Sedangkan orang terpinggirkan seperti tukang siomay yang setiap hari bekeliling komplek dengan sepedanya, paling banter draw atau seri. Dia sulit memenangkan kehidupan ini. Jangankan lewat di jalan tol, menerobos portal di komplek perumahan saja, dia mengalami kesulitan besar. Dia tidak bisa ‘mengancam’ petugas pembuka portal, sekalipun dengan sogokan sepiring siomay!

Read Full Post »

Amerika dilanda krisis dan resesi. Pemerintahan mereka bahkan menerapkan sebuah aturan, yang mungkin akan dianggap lucu atau mengada-ada, bila diberlakukan pada keadaan normal. “Setiap kendaraan bermotor, maksimal hanya boleh melaju dengan kecepatan 60 mil/jam.” Demikian bunyi aturan itu.

Apa urusan pemerintah dengan kecepatan berkendara?

Aturan itu berlaku dan tanpa ‘perlawanan’ berarti dari masyarakat, karena kondisi saat itu (sekitar tahun 1970-an) Amerika kekurangan bahan bakar minyak. Negara-negara Timur Tengah memboikot pengiriman minyak ke Amerika, terkait konflik Arab-Israel. Untuk menghemat BBM, pemerintah Amerika melakukan berbagai cara, antara lain pembatasan kecepatan berkendara tersebut. Secara teori, kecepatan berkendara memang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar. Pada kecepatan tertentu akan diperoleh penggunaan bahan bakar paling hemat.

Awal Januari 2007, saya berkesempatan mengunjungi Balikpapan, sebuah kota yang konon berdiri karena minyak. Di sana tidak ada penduduk asli, karena semuanya datang ke sana gara-gara minyak. Di kota yang – ramai tidak, sepi juga tidak – ini, saya mengerjakan proyek penulisan untuk sebuah perusahaan minyak multinasional. Dalam mencari bahan tulisan, dilakukanlah beberapa kali wawancara ke berbagai desa selama seminggu.

Di perjalanan ke tempat-tempat wawancara, sopir perusahaan itu begitu santun dan sopan dalam berkendara. Tidak sekalipun mereka ugal-ugalan seperti sopir metromini atau bus antar kota. Saya taksir kecepatan para sopir perusahaan tersebut, tidak pernah lebih dari 100 km/jam. Bahkan di jalan yang lurus dan lengang sekalipun, mereka tetap menjaga kecepatannya.

Awalnya saya sangat kagum dengan attitude para sopir tersebut. Wah orang Balikpapan luar biasa disiplin berkendara. Tapi melihat kendaraan lain yang melaju sangat kencang, pujian itu sedikut tercemar. Berarti bukan sopirnya… Mungkin perusahaan tempat mereka bekerja. Apa yang dilakukan perusahaan itu sehingga otak sopir-sopirnya begitu bersih dari keinginan ngebut di jalan? Pasti sebuah pelatihan atau proses cuci otak yang luar biasa. Paling tidak, mereka mendapatkan bekal yang cukup sehingga menjadi sopir yang santun d jalan raya.

Kekaguman saya akhirnya berubah. Berubah menjadi kian besar dan berpusat hanya pada perusahaan asing tersebut. Selidik punya selidik, perusahaan minyak itu menerapkan sebuah aturan yang mirip seperti pemerintahan Amerika di atas. Setiap sopir dilarang berkendara melebihi kecepatan 80 km/jam. Siapa yang disiplin dengan aturan itu akan mendapatkan hadiah. Sebaliknya yang paling tidak disiplin juga akan mendapatkan hukuman. Luar biasa!

Bagaimana cara mereka menjaga kedisiplinan sopir? Bukankah sulit mengetahui mereka ugal-ugalan atau tidak? Teknologi menjadi jawabannya. Pada setiap mobil tersebut, ditempeli sebuah alat mirip GPS di taksi Blue Bird. Bedanya, alat pencatat kecepatan itu tertempel tepat diatas kemudi. Kalau sopir menginjak gas terlalu dalam dan melebihi 80 km/jam, maka alat itu akan mencatatnya. Bahkan, sopir dan penumpang mobil itu akan langsung tahu kalau melangar aturan, karena begitu jarum kecepatan melewati angka 80 km, akan terdengar bunyi cit cit seperti tikus berebut makanan.
“Wah lewat tuh pak…” pekik saya, beberapa kali ketika suara itu berbunyi. Pak sopir hanya tersenyum, lalu mengurangi injakan pedal gasnya saat itu juga.

Mereka sama sekali tidak bisa berbohong! Perusahaan pun akan mencatat sopir yang sering mengerem mendadak. Alat tadi bisa mengetahui pengereman mendadak, lalu mencatatnya dan mengeluarkan bunyi persis seperti kelebihan kecepatan tadi. Luar biasa! Mereka yang disiplin mendapatkan hadiah bermacam-macam barang dari perusahaan. Sebaliknya yang sering tidak disiplin, kinerjanya dianggap buruk dan berdampak pada peningkatan jenjang karirnya.

Begitu mengetahui kebijakan tersebut, saya langsung teringat pada aturan di Amerika. Yang satu berjalan karena keadaan kepepet, yang satu terlaksana dengan baik karena bantuan teknologi serta strategi reward punishment sebuah perusahaan dalam efisiensi. Keduanya, sukses mencapai dua hal penting. Pertama, penghematan bahan bakar dan kedua, mengurangi tingkat kecelakaan.

Saya jadi ingat lagi beberapa tulisan di jalan tol, yang berbunyi “Batas kecepatan maksimal 100 km minimal 60 km.” Di jalan tol yang lain, batas maksimumnya hanya 80 km/jam. Tapi Anda sudah tahu bukan faktanya? Kebanyakan pengendara memacu mobilnya dengan kecepatan overdosis! Pantes boros BBM dan terlalu sering terjadi kecelakaan…

Read Full Post »

Ironi di Lumbung Minyak

Hamparan tabung-tabung raksasa, terlihat jelas dari angkasa memenuhi sepanjang pantai kota Balikpapan. Pemandangan serupa juga terdapat di pantai antara Balikpapan dan Samarinda, yang melewati kabupaten Kutai Kartanegara. Tabung-tabung raksasa itu merupakan tempat penyimpanan minyak, yang disuling dari tanah dan laut Kalimantan Timur. Jumlahnya sangat banyak dan menyumbang sepersekian produksi minyak di Indonesia. Boleh disebut, Balikpapan sebagai salah satu lumbung minyak mentah terbesar.

Tapi hari ini, 7 Januari 2008, saya menemukan kejadian yang bertolak belakang dengan fakta di atas. Di sebuah jalan di Samarinda, sebuah pemandangan unik terjadi. Puluhan warga antri minyak tanah, hehehe…

Apakah ada pembagian minyak tanah gratis? Kan mereka penghasil minyak mentah yang melimpah. Mungkin ada perusahaan yang berbaik hati setahun sekali bagi-bagi minyak gratis. Eh ternyata bukan. Antrian itu akibat langkanya minyak tanah di Samarinda. Bukan hanya di Samarinda melainkan juga di Balikpapan dan kota-kota lain di seluruh Indonesia. Mungkin bila kota lain yang jauh dari sumber minyak masih bisa ‘dimaklumi’, tapi kalau antrian minyak langka ini terjadi di dekat sumur-sumur minyak, apa kata dunia?

Hmm… di kabupaten Kutai Kartanegara lebih parah lagi karena bukan hanya antrian minyak tanah yang langka. Warga juga tersiksa kekurangan pasokan listrik, hampir tiap hari ada pemadaman. Sementara di pulau Jawa, khususnya Jabotabek yang tidak punya sumber minyak bumi, listrik menyala sampai jauh tanpa henti. Kenapa di lokasi tempat penyulingan minyak, listrik justru byar pet. Bukankah di pembangkit listrik salah satu bahan bakar utamanya adalah minyak? Aneh…

Warga sekitar akhirnya biasa mengalami byar pet listrik ini. Seperti puasa nabi Daud, sehari menyala sehari mati. Mereka sampai punya jadwal lengkap matinya lampu PLN ini, mirip jadwal imsak bulan puasa atau jadwal pertandingan sepakbola Piala Dunia, yang ditempel di dinding rumah mereka.

Jelas warga dirugikan. Alat-alat elektronik menjadi rusak lebih cepat daripada seharusnya. Alat canggih sekalipun akan kaget bila harus kehilangan kekuatan secara tiba-tiba. Secara hukum, mereka berhak menggugat.

Aneh… aneh… aneh…

Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara adalah wilayah yang kaya dengan sumber daya alam. Energi dari perut buminya melimpah ruah. Mereka memang lebih makmur dibanding sebagian besar wilayah lain di negeri ini. Setiap desanya saja mendapatkan subsidi sekitar Rp 2 miliar pertahun. Pegawai rendahan sudah tidak mau lagi digaji dibawah Rp 1 juta. Tapi kok untuk urusan energi, mereka malah ketinggalan. Minyak tanah harus mengantri, listrikpun sulit untuk dinikmati.

Mereka hanya bisa menikmati tabung-tabung minyak raksasa yang memenuhi pantai…

Owalah, tragis!

Read Full Post »

Dasyat dan luar biasa, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hanya itu yang bisa kuperbuat menyaksikan sebuah fenomena hidup, sekelompok orang di sekitar kawah Gunung Ijen. Di mana lokasi pasti kawah Gunung Ijen? Aku tidak tahu pasti dan tidak berusaha memastikannya. Silahkan Anda buka sendiri peta atau bertanya kepada sanak famili di Jawa Timur.

Ada apa di kawah Gunung Ijen, sehingga aku harus mengatakan dasyat dan luar biasa bahkan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Coba Anda bayangkan ya… Puluhan laki-laki tua dan muda, hilir mudik berjalan kaki sejauh 1 kilometer, dari kawah di puncak Gunung Ijen ke kaki gunung. Dalam sehari, mereka bisa bolak balik 2 sampai 3 kali. Kalau masih kuat kadang lebih dari itu. Istilah bolak balik itu di antara para sopir bis atau angkutan umum, mungkin disebut sebagai rit. Satu kali bolak balik sama dengan 1 rit. Apa istimewanya bolak balik naik turun gunung? Ya istimewa dong! Coba Anda lakukan naik turun gunung sekali saja… Saya jamin napas akan ngos-ngosan. Apalagi kalau baru pertama kali melakukannya.

Decak kagum akan muncul ketika tahu apa yang mereka bawa selama perjalanan bolak-balik itu. Anda pikir mereka kurang kerjaan hanya bolak balik tanpa tujuan? Di atas pundak mereka, melintang sebatang belahan bambu yang dikedua ujungnya tergantung wadah yang berisi belerang. Mereka adalah kuli pengangkut bahan baku belerang yang digali di kawah gunung dan dibawa ke kaki gunung. Pundak mereka menjadi alat untuk mengangkut belerang dengan pikulan. Di kaki gunung sudah menunggu beberapa truk yang hilir mudik membawa belerang ke pabrik.

Dalam satu kali angkut, setiap orang mampu membawa bahan baku belerang seberat rata-rata 70 kg. Seorang kuli yang sudah berumur, hanya bisa mengangkut 50 kg saja. Tapi mereka yang lebih muda, bisa dengan mudah memikul beban sampai 120 kg. Bayangkan kembali bagaimana para kuli ini berjalan di atas jalur yang tidak rata, terjal, tebing-tebing karena menanjak ke kawah lalu turun lagi ke kaki gunung. Tanah yang dipijak sama sekali tidak rata, karena kebanyakan justru patahan-patahan batu karang yang tersusun tidak beraturan. Betis mereka terlihat bergetar hebat setiap kali melangkah, menahan beban di atasnya plus panas terik matahari yang membakar. Dan kalau Anda sempat melihat pundak-pundak para kuli itu… waw, mirip otot-otot Ade Rai yang binaragawan.

Selintas sempat juga terpikir, seandainya para kuli super ini menjadi atlet binaraga atau lebih tepat atlet angkat besi dan angkat berat, rasanya mereka tidak akan kalah oleh lifter-lifter China. Beban 120 kg bukan hanya diangkat, melainkan juga dibawa berjalan sejauh lebih kurang 1 km. Silahkan Anda lihat atlet angkat berat, mereka hanya mampu menahan beban di tangannya dalam hitungan detik saja. Luar biasa bukan? Kita memang tidak pernah kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah mereka yang sungguh-sungguh mencari para sumber daya itu.

Kekaguman bertambah karena para kuli itu rata-rata anak atau saudara dari kuli-kuli sebelumnya. Jadi, mereka mengarungi profesi kuli panggul bahan baku belerang secara turun temurun. Jangan heran bila di sana ada kuli yang usianya di atas 50 tahun, tapi banyak juga yang baru berumur 20-an. Bisa jadi mereka adalah anak beranak. Kesetiaan dan loyalitas tinggi, mungkin bisa disebut demikian dalam istilah manajemen modern. Padahal, buat orang modern, mungkin heran bagaimana mungkin mereka bisa loyal terhadap pekerjaan yang sangat berat tersebut?

Memang secara kasat mata terlihat sangat berat. Tapi tidak ada keluhan secuilpun dari mulut mereka. Meski harus menahan panas terik, terjalnya jalan dan beban berat di pundak (dalam arti sesungguhnya), para kuli itu menunjukkan kepada dunia makna penting dari kerja keras, loyalitas dan totalitas. Sekali Anda memilih sebuah jalan, maka nikmati jalan itu dan bekerjalah sebaik mungkin.

Read Full Post »