Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kursus Menulis’ Category

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Iklan

Read Full Post »

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Read Full Post »

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Read Full Post »

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

Read Full Post »

“Profesi penulis itu sulit. Sulit dijadikan sumber pendapatan.”

 

Demikian pendapat seorang kawan non penulis, yang diamini seorang kawan lain yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Pendapat umum yang dipercayai kebenarannya bahwa profesi menulis memang tidak menjanjikan.

 

Masak sih?

Kok banyak juga yang berhasil menjadikan menulis sebagai profesinya?

Mereka penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai sumber utama penghidupan.

02 - penulis produktif

 

Ternyata, inilah sejumlah strategi jitu mereka, bagaimana bisa menjadikan menulis sebagai profesi utama yang menghasilkan dan mensejahterakan.

 

  1. Kuasai dulu dong ilmu (teori dan praktik) tentang menulis. Terserah Anda mau kuasai ilmu menulis akademis, populer, fiksi atau non fiksi. Pokoknya kuasai, sehingga sambil mata terpejampun Anda tetap bisa menulis.
  2. Tentukan tujuan. Misal mau menjadi penulis profesional yang … (tujuan materi atau non materi). Tujuan ini biasanya menjadi sumber motivasi utama dalam menjalani profesi apapun. Saya sendiri menentukan tujuan menjalani profesi menulis (awalnya) dengan patokan pendapatan di kantor lama. Tahun pertama, sama dengan pendapatan di kantor lama. Tahun kedua, dua kali lipat. Tahun ketiga, tiga kali lipat dan seterusnya.
  3. Rumuskan dan rencanakan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Contoh:

Anda punya target pendapatan sebagai seorang penulis pro adalah Rp 10.000.000,- setiap bulan. Sebuah angka yang lumayan tinggi bukan? Setara dengan gaji pokok pegawai pajak level staf deh, hehe… Maka, kita harus menentukan jenis tulisan apa yang bisa memenuhi target tersebut. Yuk kita rinci satu persatu.

 

Tulisan bentuk artikel/cerita pendek (cerpen), nilainya adalah sekitar Rp 200.000,- sampai Rp 3.000.000,- per tulisan. Kita ambil angka terendah yaitu Rp 200.000,-/artikel/cerpen. Berapa artikel yang harus ditulis dalam sebulan agar mampu menghasilkan Rp 10.000.000,-? Ambil kalkulator gih! Hitung… Harus mampu menulis 50 artikel/cerpen dalam sebulan. Atau 2 tulisan per hari. Mampukah? Secara teori bisa tapi praktiknya sulit. Anda harus mengirim ke media cetak/online yang berbeda-beda bukan?!

 

Berikutnya, naskah dalam bentuk buku/novel, dengan jumlah 150-250 halaman, nilainya adalah kisaran Rp 10.000.000 – Rp 25.000.000, (dihitung dari rata-rata harga buku Rp 30an rb – Rp 70an rb). Jumlah cetakan pertama berkisar 2000-5000 eksemplar. Dengan data tersebut, maka kita cukup menulis 1 judul buku setiap bulan, untuk meraih pendapatan sesuai target. Secara teori bisa, tapi praktiknya sulit. Walaupun banyak juga yang sudah mampu melakukannya, terutama yang sudah cukup senior. Hitungan ini belum termasuk jika buku/novelnya dicetak ulang. Tapi harus jaga-jaga juga, siapa tahu bukunya tidak laku…

 

08 - Royalti Buku

Dua bidang penulisan di atas adalah yang paling umum dikerjakan oleh penulis profesional. Untuk mencapai target, silakan utak-atik berapa jumlah artikel/cerpen berbayar yang harus ditulis dan berapa jumlah buku/novelnya. Jika dikombinasikan, hasilnya bisa saja cukup menulis 10 artikel/cerpen dan ¾ buku setiap bulannya. Atau mungkin harus 2 buku/novel perbulan. Silakan hitung hasilnya sesuai rumus pada paragraf sebelumnya dengan pertimbangan sejumlah kemungkinan, seperti tidak laku atau cetak ulang.

 

Dengan pengetahuan tentang tarif dan honor menulis, maka irama kerja kita menjadi lebih terarah. Apalagi pasti kita juga akan menemukan peluang-peluang lain di bidang penulisan yang bisa dimasuki.

 

Misal, menulis artikel di media sosial. Banyak pihak yang butuh branding. Media sosial menjadi salah satu jembatan pesan branding tersebut. Mereka berani membayar penulis, dengan prinsip ‘yang penting brandnya makin kuat dan terkenal’. Media sosial bukan hanya facebook dan twitter, tapi juga laman bebas isi seperti Kompasiana atau Detikforum.

 

Atau peluang menyediakan jasa penulisan naskah artikel/buku buat pihak lain. Anda menjadi penulis pendamping (co writer) atau penulis bayangan (ghost writer). Jangan bayangkan yang jau-jauh dan besar dulu. Karena semua penulis profesional dan senior, pada mulanya juga melalui tahap-tahap awal. Bantu orang lain dengan tarif murah dulu atau mungkin sharing royalti. Lama-lama nama kita akan naik nilanya, yang otomatis akan mendongkrak nilai kontrak!

 

Satu lagi, jangan lupa untuk selalu dekat dengan penerbit. Penerbit yang setiap bulan memproduksi banyak buku, bukan penerbit yang hanya terbitkan satu dua buku perbulan. Dengan penerbit Anda bisa bekerjasama. Penerbit butuh naskah dan biasanya mereka sudah punya daftar tema buku apa saja yang harus terbit selama setahun, selain tema-tema sesuai tren yang berkembang. Anda bisa menjadi penyedia naskah sesuai pesanan tema dari penerbit. Kalau Anda benar-benar serius menjalani profesi menulis, seharusnya bisa memenuhi pesanan 6-12 buku pertahun buat sebuah penerbit. Sudah banyak yang melakukan!

 

Kalau mau serius menjadi penulis profesional, ya memang harus sungguh-sungguh juga dalam melakukannya, plus strategi yang benar. Menjadi penulis profesional, bukan menjadi pekerja biasa seperti karyawan. Penulis profesional lebih mirip dengan penyanyi atau MC, yang biasa disebut self employee (pekerja independen). Dia kadang mirip seperti pengusaha. Memproduksi sesuatu, lalu memasarkannya. Sebuah produk kadang gagal kadang berhasil. Jadi, mental yang dibutuhkan seorang penulis profesional bukan mental karyawan/buruh, melainkan mental pengusaha, atau minimal mental pekerja independen.

 

Semoga bermanfaat!

 

 

 

Read Full Post »

Penulis Kere - Sopir taksi

Tahukah Anda seberapa sering seorang sopir taksi bekerja dalam sebulan?

Tahukah Anda seberapa banyak produsen sepatu memproduksi sepatunya dalam sebulan?

 

Jawabannya:

Sopir taksi bekerja dalam sebulan hampir setiap hari. Di sebuah perusahaan taksi, sopir menggunakan rumus 2 – 1. Dua hari bekerja sehari libur. Setiap kali bekerja, bukan nine to five seperti orang kantoran, melainkan dari jam 5 pagi sampai jam 1 dinihari atau lebih. Hasilnya? Alhamdulillah, bisa menafkahi keluarga. Sebagian mampu menabung dan berinvestasi properti. Sebagian lainnya, bisa punya mobil taksi sendiri.

 

Bagaimana dengan perusahaan produsen sepatu? Ketika dia bisa menawarkan sepatu dengan model paling tren, maka sepatunya laris. Produksi makin banyak. Namun, kalau tidak sesuai tren dan tidak sesuai selera konsumen, produksi menurun. Perusahaan sepatu akan sukses dan bertahan, kalau terus menerus berproduksi karena sepatunya laku. Hasilnya, sang pengusaha akan menikmati keuntungan besar.

 

Seharusnya demikian pula penulis. Apakah dia seorang penulis profesi (seperti sopir taksi) atau penulis yang pebisnis seperti pengusaha sepatu. Kalau mau sukses dan mampu menafkahi keluarga dari kegiatan menulis, maka dia harus seperti sopir taksi dan pengusaha sepatu tadi. Bekerja rutin dan memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Produksi tulisan yang sesuai dengan pesanan atau klop dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sesungguhnya rumusnya sesederhana itu.

 

Sayang sekali, banyak penulis yang malas dan buta terhadap hukum alam. Belum tentu sebulan sekali mengirim naskah ke penerbit. Lah, mau makan apa? Hasil dari satu buku saja belum tentu mampu menghidupi keluarga untuk sebulan. Mikir dan berhitung dong. Belum tentu juga menulis artikel yang dibayar  (apakah media massa atau pihak lain) setiap hari. Lalu mau dapat pemasukan dari mana? Mikir dan berhitung dong.

 

Kenapa sopir taksi mampu menghidupi keluarganya setiap hari? Karena dia sudah berhitung atau dihitungkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, agar dia bekerja hampir setiap hari. Salah satu perusahaan taksi misalnya menjanjikan penghasilan sebesar Rp 165.000 per hari kepada sopirnya, atau sekitar Rp 3.000.000 per bulan. Lebih tinggi dari sebagian besar batas upah minimum.

 

Anda yang berprofesi penulis atau akan terjun di dunia menulis, berteriak-teriak susah menjadi penulis, tapi tidak setiap hari menulis? Tidak setiap hari berproduksi? Tidak setiap hari menawarkan jasa Anda? Tidak setiap hari menjajakan karya Anda? Tidak setiap hari bekerja keras, cerdas dan ikhlas?  Hmmm… mikir dan berhitung dong.

 

Kalau mau jadi penulis profesional yang mampu menafkahi keluarga dari menulis, mulai sekarang rajinlah menulis. Setiap hari harus menulis. Dan… tulisannya harus sudah pasti mendapatkan imbalan. Emang ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang secara gratisan? (Ada pas promo ya? Atau program PR perusahaan seperti Blue Bird tempo hari, he he).

Penulis Kere 2

Jika mau menjadi penulis pebisnis (writerpreneur), maka berpoduksilah setiap hari. Tawarkan dan jajakan karya Anda kepada pihak lain. Sesuaikan produk Anda dengan selera orang lain, dengan kualitas yang memadai. Kalau tulisan Anda buruk, siapa yang mau beli? Sama seperti produsen sepatu, siapa yang mau beli sepatu yang baru dipakai seminggu sudah rusak? Produsen sepatu juga memproduksi sepatu sesuai dengan optimalnya kapasitas pabrik.

 

Tips agar menjadi penulis keren bukan penulis kere:

  1. Harus menulis setiap hari.
  2. Rajinlah menulis yang hasilnya pasti dibayar.
  3. Berproduksilah sesering mungkin dengan kualitas terjaga.
  4. Jajakan dan tawarkan karya Anda sesering mungkin.
  5. Semakin kreatif dan cerdas (smart) dalam menulis dan menjual tulisan.

 

Selesai.

Read Full Post »

 Penulis Kere

Sebutlah namanya George, seorang bule yang banting setir dari karyawan menjadi pengusaha. Pilihannya adalah menjadi pengusaha makanan. Setelah pilah-pilih akhirnya dia memutuskan menjadi pedagang pecel lele pinggir jalan. Baru tiga hari jualan, George patah arang karena hanya satu dua orang yang beli pecel lelenya. Rugi.

 

Dia beralih menjajaki jualan bakso. Pilihannya sama, mangkal di pinggir jalan. Dalam tujuh hari, dia kembali gulung tikar karena baksonya tidak laku. Masih rugi. Goerge belum menyerah, dia kembali mencoba peruntungannya dengan berjualan burger. Siapa tahu lebih laku karena tampangnya yang bule cocok dengan burger, makanan khas orang bule. Siapa nyana, selama 15 hari berdagang hanya terjual segelintir burger. Rugi lagi.

 

Alhasil, George menyimpulkan bahwa bisnis makanan tidak menjanjikan. Buktinya, dia gagal setelah mencoba tiga macam jenis usaha makanan. Kesimpulan lainnya, ternyata jualan makan tidak mudah. Sulit mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut.

 

Kira-kira demikianlah gambaran yang menimpa sebagian orang yang mencoba peruntungan di dunia tulis menulis. Banyak yang menyimpulkan bahwa profesi menulis atau bisnis menulis tidak prospektif dan tidak menjanjikan. Sulit mendapatkan keuntungan apalagi dalam jumlah besar dari menulis. Kesimpulan yang diambil karena setelah menulis satu dua buku, tapi tidak laku. Atau selalu gagal mengirim artikel ke media massa. Atau royalti dan honor yang terlalu sedikit.

 

Mirip seperti George yang gagal berdagang makanan lalu menyimpulkan bahwa bisnis itu tidak prospektif. Padahal Anda tahu bukan, faktanya tidak demikian. Berapa banyak pengusaha makanan yang sukses? Buanyak! Pedagang sukses bakso, pecel lele dan burger, berserakan di seantero negeri. Yang gagal? Juga banyak. Bahkan mungkin orang-orang seperti George lebih banyak dibanding yang sukses.

 

Pun demikian dunia menulis. Berapa banyak yang sukses dalam bidang ini? Buanyak. Meskipun, seperti bisnis makanan, yang gagal tentu lebih banyak dibanding yang sukses. Tampaknya memang hukum alamnya demikian. Seperti sebuah piramida, jumlah yang sukses lebih sedikit dibanding yang gagal. Jumlah mereka yang amat sukses lebih sedikit lagi dibanding yang sukses.

 

Pertanyaannya, kenapa khusus buat industri menulis, dianggap lebih tidak menjanjikan hanya karena banyak penulis gagal dan kere? Dugaan saya, karena penulis kere menuliskan kegagalannya. Minimal curhat karena dia penulis he he. Sedangkan para pebisnis bakso, pecel lele atau burger, jarang-jarang yang menuliskan kegagalannya. Alhasil, sudah menjadi rahasia publik bahwa banyak penulis adalah kere! Nempel deh persepsi tersebut di benak banyak orang.

 

Padahal, di bidang apapun Anda berkecimpung hukumnya tetap sama: siapa yang sungguh-sungguh, persisten dan konsisten maka dia akan berhasil. Siapa yang mau terus belajar, bersabar, berproses, memerbaiki diri, maka dia berpeluang lebih besar untuk sukses. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang dicapai dengan leha-leha. Tidak ada yang tanpa rentetan kegagalan dan kekecewaan.

 

Kenapa penulis banyak yang kere dan gagal?

Pertanyaan yang sama, kenapa banyak pedagang yang juga kere dan gagal?

Kenapa banyak pengusaha yang juga gagal dan bangkrut?

Penulis Kere - gagal

Data statistik di Amerika Serikat, 80 persen pengusaha gagal pada 18 bulan pertama. Serem bukan datanya. Yang bisa lolos dan bertahan setelah 18 bulan hanya 20 persen! Tapi yang kemudian bisa bertahan selama 5 tahun, hanya 20% dari yang 20% itu. Lebih serem lagi ya.

 

Kalau data itu dipakai untuk industri menulis, maka hanya 20% penulis yang bisa berhasil meneruskan langkahnya sampai lebih dari 18 bulan. Dan hanya 20% dari yang berhasil itu, yang mampu bertahan di industri menulis setelah 5 tahun. Penulis yang kere dan gagal jumlahnya lebih banyak bukan?!

 

Profesi menulis sama seperti profesi pengusaha. Dia memproduksi sesuatu (barang atau jasa) dan kemudian memasarkannya. Kalau Anda belum menyadari status tersebut dan hanya menjadi kuli sebagai penulis, maka siap-siaplah mendapatkan pemasukan yang terbatas dan menambah daftar deretan penulis kere.

 

Tips buat penulis pemula yang mau jadi penulis sukses, bukan penulis kere:

  1. Buka lebar-lebar mata dan telinga,
  2. Perbanyak wawasan
  3. Rajin menambah ilmu baru,
  4. Mau memanfaatkan peluang dan kesempatan
  5. Jalin pertemanan dan network seluas mungkin
  6. Mau berproses
  7. Pantang menyerah!

 

Bersambung ke Ironi Penulis Kere (bag II)

 

 

 

Read Full Post »

 

“Kapan ibu akan menulis buku?” tanya mentor Dodi Mawardi.

“Hmmm…” sang ibu guru berpikir sejenak sambil tersenyum.

“Setelah tahu ilmu pak…” jawabnya kemudian.

Demikianlah sekelumit pembukaan “Seribu Guru Menulis Buku” program pelatihan Yayasan Bhakti Suratto (YBS)  dan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) yang berlangsung di SDN 13 Mekarjaya Sukmajaya Depok, pada 27 Februari 2016. Kepala SD tersebut Supardi, sangat antusias mengajak para gurunya untuk ikut serta dalam pelatihan tersebut. Jumlah guru dan staf seluruhnya adalah 17 orang, sedangkan yang ikut serta sebanyak 12 orang.

 

Supardi menjelaskan bahwa pengetahuan dan keahlian menulis sangat dibutuhkan para guru, terutama untuk meningkatkan kinerja dan menunjang kenaikan pangkat. Namun, nyaris tidak ada pelatihan khusus menulis yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Kehadiran program Seribu Guru Menulis Buku menjadi seperti keran air yang menyegarkan bagi para guru.

20160227_093956_resized

Para guru melahap seluruh materi pelatihan selama 3 x 90 menit, sejak pukul 09 pagi hingga pukul 14.30. Mereka tampak semangat mengikuti semua arahan mentor Dodi Mawardi, yang sudah berpengalaman menulis lebih dari 50 judul buku. Selain membongkar mental blok, para guru juga diajak untuk menemukan ide tulisan, merancang kerangka tulisan dan menulis sebuah artikel.

 

SDN 13 Mekarjaya Sukmajaya Depok menjadi sekolah pertama yang menangkap peluang program pelatihan gratis “Seribu Guru Menulis Buku”, yang akan disusul oleh sekolah-sekolah lainnya di kawasan kota Bogor, kabupaten Bogor, Depok dan Bekasi.  Bagi Anda para guru, silakan undang kami ke sekolah Anda dan dapatkan pengalaman pelatihan yang menyenangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menulis Anda (SMS ke 081285874272, ketik 1000 Guru spasi Nama Sekolah).

Di akhir sesi pelatihan, para guru sudah menemukan sejumlah ide menulis buku, dan mereka berjanji untuk merealisasikan buku tersebut. Semoga!

Seribu Guru Menulis Buku, semoga memacu Sejuta Siswa Merangkai Kata.

 

 

Read Full Post »

  1.  

    1. Penulis buku non fiksi. Penulis buku akan mendapatkan penghasilan dari royalti buku dari penerbit, jual putus naskah dari penerbit, atau yang lebih menggiurkan lagi yaitu menjadi penulis pendamping (co writer) dan penulis bayangan (ghost writer). Bayaran untuk penulis pendamping dan penulis bayangan, cukup menggiurkan tergantung kualitas Anda. Di Indonesia, kisarannya mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 300 juta perbuku. Kalau mau bisnis bidang penulisan, maka jasa naskah untuk penerbit, co writer dan ghost writer cukup menjanjikan.

    2. Penulis novel. Penulis novel biasanya mendapatkan royalti dari penerbit. Makin rajin menulis novel makin besar peluang untuk mendapatkan royalti. Syukur-syukur jika salah satu atau seluruh novelnya menjadi bestseller. Satu novel dengan penjualan standar antara 5.000 – 10.000 eksemplar kira-kira menghasilkan pemasukan buat penulisnya pada kisaran angka Rp 5juta – Rp20juta per buku (tergantung harga jual).

    3. Penulis cerpen. Penulis cerpen mendapatkan pemasukan dari buku dan media cetak. Buku kumpulan cerpen meski kalah pamor dibanding novel, tetap diminati pembaca. Sedangkan pemasukan dari media cetak, berasal dari pemuatan cerpen oleh sejumlah media cetak yang memiliki rubrik cerpan pada setiap akhir pekan. Satu cerpen dihargai antara Rp 200ribu – Rp1.000.000 (tergantung kebijakan media cetaknya). Anda harus rajin menulis cerpen dan mengirimkannya ke media cetak di seluruh Indonesia jika ingin menerima pemasukan rutin setiap hari/bulan.
    4. Penulis artikel. Penulis artikel mendapatkan pemasukan dari media cetak/media online yang memuat artikel-artikelnya. Penulis artikel lebih punya peluang dibanding penulis cerpen di media cetak, karena media cetak menyediakan halaman setiap hari untuk artikel dan hanya akhir pekan untuk cerpen. Sebuah artikel dihargai Rp 200.000 – Rp 3.000.000 (tergantung kebijakan masing-masing media). Sekarang peluang penulis artikel bertambah dengan makin maraknya media internet.

    5. Penulis puisi. Penulis puisi mendapatkan pemasukan dari puisi-puisi yang dibukukan atau diterbitkan oleh media cetak. Dibanding novel dan cerpen, buku puisi memang kalah pamor dan rata-rata kalah dalam jumlah penjualan. Begitu pula peluang di media cetak, karena rubrik puisi relatif jarang. Namun, jika Anda rajin dan punya kualitas, profesi penulis puisi tetap menjanjikan.

    6. Penulis medsos. Hadirnya media sosial memberikan warna baru dalam industri penulisan di Indonesia. Peluang-peluang baru bermunculan. Saat ini banyak pihak yang rela membayar orang lain untuk mengisi medsosnya baik twitter, facebook atau medsos lainnya secara rutin setiap hari. Biasanya mereka yang berprofesi sebagai publik figur baik artis, pejabat maupun politisi.

    7. Penulis Perjalanan. Profesi yang baru hadir belakangan di Indonesia. Mereka biasanya freelancer yang menjual tulisannya kepada pihak lain, baik penerbit maupun media massa. Selain itu, kisah-kisah perjalanan mereka juga seringkali menjadi buku yang laris sehingga memberikan royalti lumayan buat penulisnya. Penulis perjalanan akan lebih mumpuni jika disertai dengan kemampuan fotografi yang memadai.

    8. Penulis Biografi. Sebenarnya profesi ini termasuk ke dalam penulis buku, namun belakangan makin spesifik karena hanya menggarap buku-buku biografi baik tokoh publik maupun non publik. Banyak orang dari berbagai kalangan, ingin memiliki buku biografi dan penulis jenis inilah yang memanfaatkan peluang tersebut. Kisaran biaya penulisan beragam mulai dari yang minim senilai Rp 25.000.000 sampai kelas jumbo senilai Rp 200juta atau lebih per proyek buku. Menggiurkan bukan?

    9. Penulis pidato. Ada ya penulis pidato? Oo ada. Meski jumlahnya tidak sebanyak profesi penulis yang lainnya. Sebagian lagi profesi ini disambi dengan pekerjaan lain. Profesor Yusril Ihza salah satu contoh penulis pidato, meski profesi utamanya bukan itu. Yang dituliskan pidatonya juga bukan sembarangan melainkan seorang presiden yaitu Soeharto. Presiden, gubernur, walikota dan pejabat tinggi publik lainnya biasanya memiliki penulis pidato masing-masing. Berapa penghasilan mereka? Tergantung kelasnya. Kalau sekelas Yusril, tentu penghasilan sekali menulis pidato, bisa jadi lebih besar daripada gaji seorang manajer!

    10. Penulis iklan. Jangan lupakan profesi yang satu ini, meski biasanya melekat pada seseorang yang bekerja di biro iklan. Mereka dibayar berdasarkan iklan yang tayang. Yang paling menantang dari penulis iklan adalah menciptakan tagline yang mudah diingat orang. Berapa penghasilan mereka? Secara umum, penghasilan orang iklan (termasuk penulis naskah) lebih besar dibanding penghasilan para penulis di bidang lain.

    11. Penulis naskah lagu. Profesi yang satu ini sudah ada sejak lama. Biasanya penulis lirik lagu juga menguasai musik, meski tidak harus demikian. Pada sejumlah lagu Bimbo misalnya, liriknya ditulis oleh sejumlah sastrawan atau penyair. Tapi musiknya dibikin oleh Bimbo sendiri. Akan lebih lengkap memang, jika penulis naskah lagu sekaligus mahir membuat musiknya. Dia adalah pencipta lagu.

    12. Jurnalis. Salah satu profesi penulis yang paling tua di kolong langit. Ada jurnalis yang bekerja tetap di sebuah perusahaan media massa, ada pula jurnalis yang bekerja parttime atau bahkan freelance.

    13. Penulis running text di TV. Profesi yang baru muncul belakangan setelah makin banyaknya jumlah stasiun televisi. Nyaris semua stasiun televisi baik tv berita maupun hiburan, tv nasional maupun lokal, memiliki program running text yaitu informasi terbaru singkat satu kalimat yang muncul bergerak dari kanan ke kiri di layar tv bagian bawah.

    14. Pelatih di bidang penulisan. Semakin maju peradaban dan tingkat intelektual sebuah bangsa, maka semakin besar kebutuhan akan tulisan. Setiap orang akan berlomba-lomba meningkatkan kualitas tulisannya dan menciptakan sebanyak mungkin karya tulis. Sebuah peluang besar bagi praktisi penulisan untuk terjun sebagai pelatihan bidang penulisan.

    Masih adakah profesi dan peluang lain di bidang penulisan? Silakan tambahkan.

    Atau mention @dodimawardi pada akun twitter Anda.

    Dapatkan pula #ilmumenulis setiap hari dari akun twitter @dodimawardi

Read Full Post »

Poster 1000 Guru Menulis Buku kcl

Yayasan Bhakti Suratto (YBS) bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) membuat program pelatihan menulis buku untuk guru SD, SMP, SMA/SMK/MAN secara gratis. Pelatihan ini terdiri dari dua jenis program yaitu tim YBS dan SMKI menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan gratis di sekolah masing-masing dan mengundang guru-guru sekolah untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan YBS/SMKI di kampus Sekolah Alam Cikeas.

 

Kedua jenis program tersebut sama-sama memberikan pelatihan lengkap tentang menulis buku untuk para guru, mulai dari menyiapkan mental sebagai penulis, penggalian ide, merancang buku, sampai berkenalan dengan penerbit. Tidak hanya sampai di situ, panitia juga akan melanjutkan program dengan metode mentoring sampai para guru mampu menerbitkan bukunya.

 

Setiap pertemuan terdiri dari 3 sesi masing-masing 90-120 menit, yaitu:

  1. Sesi membongkar mental blok dan sejumlah hambatan dalam menulis.
  2. Sesi merancang buku mulai dari penggalian ide yang layak terbit dan layak jual sampai membuat kerangka tulisan.
  3. Sesi latihan menulis.

 

Program ini akan dipandu secara langsung oleh Dodi Mawardi, penulis lebih dari 50 judul buku (termasuk Belajar Goblok dari Bob Sadino & Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas) yang juga Direktur Eksekutif YBS, serta pendiri SMKI, bersama sejumlah praktisi penulisan baik penulis profesional maupun jurnalis.

 

Manfaatkan program ini, dan silakan sebarkan informasi ini kepada yang membutuhkan.

Tidak ada syarat apapun untuk mengikuti program ini. Untuk tahap awal ini, program akan lebih terfokus untuk sekolah-sekolah di kawasan Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok.

 

 

Info lebih lanjut, hub:

081285874272 (sms saja)

sekolahmenulis@gmail.com

Read Full Post »

Older Posts »