Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Radioku’ Category

“Pendengar, jika Anda mengalami sakit kepala… segera minum XXXX, obat sakit kepala yang sudah terbukti manjur. XXXX mengandung paracetamol dalam dosis yang tepat, dilengkapi dengan cafein. XXXX dengan cepat bereaksi menyembuhkan sakit kepala Anda. Tidak perlu ragu-ragu lagi, minum saja XXXX begitu Anda mengalami sakit kepala. XXXX terbukti majur! Sakit kepala XXXX obatnya.”

 

Pernahkah Anda mendengar iklan semacam itu? Yang disampaikan langsung oleh penyiar. Jenis iklan yang disampaikan langsung oleh penyiar dengan hanya membacakan atau menyampaikan secara monolog seperti itu disebut dengan adlib.

 

Adlib berasal dari kata adlibitum dalam bahasa Latin yang berarti spontan atau tanpa persiapan namun penuh improvisasi. Sebagian praktisi radio menyebutnya sebagai adlip, atau iklan bibir karena menganggap iklan tersebut hanya berupa suara langsung penyiarnya tanpa dibumbui bunyi/suara lainnya. Sebuah anggapan keliru.

apa-itu-adlib

Sejumlah stasiun radio menilai adlib lebih tinggi dibanding iklan spot. Dan memang demikian seharusnya. Walaupun sebagian radio lainnya, menganggap adlib sama saja dengan spot atau malah menilainya lebih rendah. Penilaian itu bisa dilihat dari berapa tarif pemasangan adlib di radio tersebut. Misalnya di sebuah stasiun radio ternama di Jakarta. Adlib dihargai Rp 650.000/sekali tayang.  Sedangkan iklan spot, hanya dihargai Rp 550.000/sekali tayang. Artinya, nilai pemasangan adlib lebih tinggi Rp 100.000 atau 20% dibanding iklan spot.

 

Kenapa adlib seharusnya dihargai lebih tinggi? Betikut ini penjelasannya.

  1. Adlib adalah iklan yang ditempatkan tidak di slot iklan, melainkan pada saat penyiar berbicara dengan materi-materi sesuai jenis acaranya. Biasanya, pendengar akan pindah frekuensi begitu iklan mengudara pada slot tertentu. Namun, karena adlib tidak berada di slot tersebut maka pendengar tidak akan sempat mengganti frekuensinya. Sebagai perbandingan, lihatlah iklan sejenis ini di televisi. Mereka menyebutnya sebagai build in product, yaitu sebuah produk yang ditampilkan di dalam materi siaran. Misal di meja penyiar atau melekat pada penyiar/pengisi acara dalam bentuk baju, topi dan lainnya. Build in product tidak di slot iklan, tapi berada dalam program. Penonton tidak dalam posisi untuk memindahkan channel televisinya. Nilai iklan semacam ini lebih mahal dibanding iklan spot.
  2. Adlib melekat dengan materi siaran. Karena melekat sebagai materi siaran, maka pendengar cenderung tidak merasa bahwa hal tersebut adalah iklan. Mereka baru sadar, setelah penyiar kesayangannya menyelesaikan materi tersebut. Kreativitas penggawa radio terutama produser dan penyiar, berperan sangat besar dalam menciptakan adlib yang efektif.
  3. Karakter penyiar akan melekat pada adlib tersebut. Biasanya penyiar radio memiliki penggemar sendiri, yang punya kedekatan emosional. Bahkan banyak pendengar yang ngefans dengan seorang penyiar. Ketika penyiar tersebut berbicara, maka isi pembicaraannya akan diperhatikan oleh pendengar (terutama fansnya). Gaya penyiar seharusnya menjadi nilai lebih dari sebuah adlib. Masing-masing penyiar punya karakter yang khas dan berbeda.

 

Tiga hal tersebut menjadi keunggulan adlib dibanding iklan biasa, atau iklan spot. Wajar jika harganya lebih tinggi. Walaupun di sejumlah radio (atau kebanyakan radio?), adlib tidak memiliki kelebihan dibanding iklan spot. Bahkan cara penyampaiannya pun tidak berbeda dengan sekadar ‘membaca iklan’.

 

Padahal, seharusnya adlib tidak demikian. Adlib radio seharusnya disampaikan:

  • Secara spontan. Penyiar menyampaikan iklan secara spontan pada saat acara masih berlangsung dan bukan di slot iklan.
  • Penuh improvisasi. Penyiar bebas untuk berimprovisasi dalam menyampaikan iklannya, sesuai dengan gaya siarannya masing-masing.
  • Seolah-olah tanpa perencanaan. Ingat, seolah-olah. Padahal, penyiar sudah menyiapkan secara matang (tentu saja dibantu produser atau direktur program).

 

Beberapa tips di bawah ini, layak dipertimbangkan penyiar radio yang akan menyampaikan adlib.

  1. Bukan iklan baca atau membaca naskah iklan. Naskah adlib tidak boleh sekadar dibacakan. Tidak ada nilai plusnya. Pengiklan tidak mendapatkan kelebihan dari adlib tersebut. Padahal harus membayar lebih mahal bukan?
  2. Wajib tidak dirasakan oleh pendengar sebagai iklan. Wajib. Sehingga pendengar akan merasa nyaman-nyaman saja ketika mendengar adlib tersebut. Mereka baru sadar jika penyiar menyampaikan iklan, setelah adlib tersebut selesai disampaikan. Kalau sejak awal adlib sudah dirasakan sebagai iklan, maka adlib tersebut GAGAL.
  3. Punya beragam variasi penyampaian untuk sebuah iklan. Adlib bukan spot. Bukan iklan baca. Setiap adlib punya cara penyampaian yang berbeda, tergantung siapa penyiar yang mendapatkan tugas menyampaikannya. Beda penyiar beda pula gayanya.
  4. KREATIF DONG! Namanya juga iklan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, penggawa radio wajib ain untuk menyampaikan adlib secara kreatif. Kalau tidak kreatif, bukan orang radio namanya…

 

Contoh naskah adlib yang TIDAK kreatif:

“Bosan dengan seminar bisnis yang begitu-begitu saja? Kecewa dengan training yang kurang berhasil mengubah cara pandang Anda? Terlalu banyak teori? Atau tidak jauh berbeda dengan yang ada di televisi?

 

Dodi Jaya Seminar solusinya!

Dan seterusnya…”

 

 

Contoh naskah adlib yang LEBIH kreatif:

“Lagu We Are The Champion dari  Queen baru saja berlalu. Kalau denger lagu itu, saya selalu teringat masa kejayaan hehe. Dulu, saya juara lho. Juara kelas. Ayo siapa diantara Anda yang dulu juga juara kelas? Masih ingat kan?

 

Nah, sekarang saya juga mau dong anak-anak saya juga juara. Juara di bidang apapun, termasuk meneruskan kejayaan saya di sekolah dulu, juara kelas! Tapi bagaimana caranya ya?

 

Ah saya ingat… ada sebuah formula spesial yang bisa membuat anak Anda juara, yaitu Beleketektek.  Bukan obat lho. Tapi sebuah formula khusus untuk menambah daya ingat anak menjadi lebih kuat. Anak menjadi lebih berkonsentasi sehinga bisa menyerap pelajaran sekolah dengan lebih baik.  Beleketektek cocok buat anak-anak juara.

 

Sekarang kalau saya dengar lagu We Are The Champion dari Queen tadi, selalu ingat Beleketektek untuk membuat anak saja jadi juara!

 

Apakah Anda bisa membedakan kedua naskah tersebut?

Selamat mencoba!

 

 

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

“Rekan Achir, silahkan dengan laporan Anda,” ucap pembawa acara Liputan 6, Duma.
“Baik, Duma terima kasih. Saat ini, saya sedang berada di kawasan…”

Cuplikan dialog di atas merupakan salah satu penggalan proses laporan langsung berita di sebuah stasiun televisi. Sudah menjadi kebiasaan kebanyakan stasiun televisi atau radio, untuk berdialog atau membuat semacam kata pengantar sebelum laporan langsung terjadi. Mereka biasanya saling menyebut nama masing-masing, sebagai sapaan yang memperlancar proses dialog.

“Rekan Duma, sampai laporan ini kami sampaikan…” ucap Achir melanjutkan laporannya, “Kembali ditemukan seorang korban tewas…”

Kembali nama anchor disebut reporter dalam laporannya, ketika menjawab pertanyaan anchor. Di beberapa stasiun televisi dan radio, anchor atau penyiar seringkali memberikan pertanyaan lanjutan setelah reporter memberikan laporan langsungnya. Dan celakanya, mereka seperti berdialog berdua dan melupakan para penonton atau pendengar. Si reporter seolah-olah memberikan informasi kepada presenternya, bukan kepada pemirsa.

Mengabaikan Pendengar atau Penonton
Sebuah kesalahan fatal yang sering terjadi ketika reporter di lapangan dan penyiar di studio berdialog. Mereka seolah berbicara berdua saja, sedangkan penonton dan pendengar diabaikan. Padahal, laporan reporter bukan untuk penyiar melainkan bagi kepentingan publik (penonton dan pendengar). Seharusnya, mereka menyapa atau menyebut pemirsa dalam contoh kalimat di atas.

Misal:
“Ya pemirsa, sampai laporan ini kami informasikan kepada Anda, sudah kembali ditemukan satu korban tewas…”

Jadi, meski yang bertanya adalah penyiar, seorang reporter tetap harus memberikan jawaban buat pemirsa, bukan untuk penyiar. Kenapa? Karena mereka siaran untuk publik. Jangan pernah sekali-kali mengabaikan pemirsa.   Mereka butuh disapa, disentuh, dan diwakili kepentingannya. Setiap laporan, setiap informasi, setiap pertanyaan dari kru televisi, selalu dan harus mewakili kepentingan publik. Kita bisa melihat apakah pertanyaan seorang pembawa acara atau reporter, berkualitas atau tidak, dari isinya. Jika isinya mewakili pertanyaan publik, kita pasti akan senang dan menganggap pertanyaannya berkualitas. Sebaliknya, jika pertanyaannya kebanyakan pertanyaan titipan dari yang berkepentingan (bukan publik) yang biasanya tidak mewakili publik, kita pasti kecewa dan menganggap pertanyaannya tidak bermutu.

Demikian pula ketika reportase langsung. Seorang penyiar dan reporter di lapangan, seyogyanya berbicara kepada pemirsa mereka, bukan asyik berdialog antar mereka sendiri. Apalagi melaporkan apa yang dilihat, didengar dan diperolehnya di lapangan, untuk presenter di studio.

Salah kaprah!

Dodi Mawardi
Penulis, Pengajar dan Pengamat Media Mass Elektronik

Read Full Post »

“Demikian tadi sebuah lagu yang sangat indah dari Gita Gutawa berjudul Tak Perlu Keliling Dunia…”

Suara penyiar sebuah radio terdengar nyaring memberi tahu audiens tentang sebuah lagu yang baru saja berkumandang. Terdengar normal dan wajar. Sebagai pendengar, kita biasa disuguhi informasi tentang sebuah lagu. Meski kadang, banyak juga penyiar dan radio yang alpa memberi tahu judul lagu dan penyanyinya.

Tapi tahukah Anda bahwa informasi penyiar di atas membuat sejumlah orang bermuram durja? Siapa mereka? Coba Anda ingat-ingat siapa sajakah yang terlibat dalam proses pembuatan sebuah lagu? Dalam buku “Hits Maker, Panduan Lengkap Menjadi Produser Rekaman Jempolan” karya pemilik Musica Studio Sendjaja Widjaja, disebutkan banyak sekali pihak yang terlibat, mulai dari produser, penata musik, pemain musik, penyanyi sampai pencipta lagu. Nah, dalam sebagian besar siaran di radio, penyiar biasanya hanya menyebut nama penyanyi dan lagunya. Lalu bagaimana dengan pencipta lagunya?

Inilah yang menjadi penyebab murungnya para pencipta lagu. Karya mereka, buah kerja kreatif mereka, seolah-olah tidak diakui dan tidak dihargai. Yang melonjak popularitasnya hanyalah judul lagu dan penyanyinya. Sedangkan pencipta lagu, bagaikan habis manis sepah dibuang. Tak diperhitungkan sama sekali. Padahal, tanpa mereka tidak ada lagu tersebut.

Bandingkan dengan tayangan lagu di televisi. Sebut saja video klip yang banyak sekali muncul di berbagai stasiun televisi. Beberapa detik video klip tersaji sudah muncul sederet kalimat pemberitahuan kepada pemirsa, apa judul lagunya, siapa penyanyinya, recording company-nya plus nama pencipta lagunya. Lengkap. Pemberitahuan ini kembali diulang menjelang berakhirnya video klip tersebut. Sedangkan di radio tidak. Kenapa ya? Padahal, sejumlah pakar menyebut salah satu karakteristik radio adalah identik dengan musik. Tapi penghargaan insan radio terhadap musik tidak sebaik televisi.

Kasus Iwan Fals

Awal 2010 ini, penyanyi legendaris Iwan Fals mendapatkan cobaan lagi. Dia dituduh mengabaikan hak pihak lain karena mengklaim lagu “Bencana Alam” yang sering dinyanyikannya sebagai hasil karyanya sendiri. Padahal lagu itu merupakan karya Totok Gunarto. Dalam berbagai kesempatan, terutama ketika tampil di televisi, lagu tersebut ditulis sebagai ciptaan Iwan Fals. Totok Gunarto menggugat Iwan Fals dan meminta ganti rugi.

Jika menilik kasus tersebut – tak peduli apakah Iwan Fals benar atau salah – kita bisa belajar banyak. Bangsa ini memang harus belajar menghormati dan memahami hak cipta orang lain. Lebih khusus lagi buat media massa yang seharusnya menjadi penggerak utama sosialisasi dan edukasi berbagai hal untuk masyarakat. Radio memegang peranan kunci dalam hal edukasi tentang hak atas kekayaan intelektual bidang musik.

Alangkah indahnya jika setiap penyiar radio memahami hal ini, dan selalu menyebutkan sebuah lagu tidak hanya judul dan penyanyinya saja melainkan juga pencipta lagunya. Jangan hanya pencipta lagu yang terkenal sekelas Melly Guslaw, Beby Romeo, Dewiq atau Anang, yang disebutkan. Tapi pencipta lagu lain pun tetap disebutkan karena ada hak melekat pada setiap mereka atas lagu ciptaannya.

Seperti juga di televisi, sebaiknya setiap radio, setiap penyiar, menyebutkan judul, nama penyanyi dan penciptanya plus kalau perlu dengan perusahaan rekamannya, sebelum dan setelah lagu itu diputar. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebutkannya. Kecuali jika radio dan penyiarnya tidak mau belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi dalam menghargai karya orang lain.

Ciputat, 17 Februari 2010.

Read Full Post »

“One o three point eight…”

Demikian bunyi jingle stasiun id’s dari sebuah radio pada frekuensi 103,8 FM. Beberapa bulan lalu, radio ini masih melengkapi jinglenya dengan “One o three point eight, Pesona FM…” Tapi sejak sebulan atau dua bulan lalu (saya tidak tahu persis…) jingle lengkap itu hilang, dan yang tersisa hanya penyebutan frekuensinya.

Ada apakah gerangan?

Bukan hanya itu keganjilan yang bisa kita simak pada frekuensi tersebut. Selama mereka siaran dari pagi hingga malam, tak ada seorang pun suara penyiar yang muncul! Lho, ini stasiun radio atau tape/CD? Semua radio pasti ada penyiarnya, bahkan radio yang baru berdiri sekalipun. Tapi di 103,8 FM ini, yang ada hanya lagu (campuran antara lagu barat dan Indonesia). Terus menerus lagu tanpa diselingi iklan, tanpa suara penyiar, tanpa disela apapun. Buat para pecinta musik, mungkin frekuensi ini menjadi surga buat telinganya, karena terhindar dari cuap-cuap sebagian besar penyiar radio yang semakin tidak karuan.

Pesona FM kemana?

Bagi Anda yang bukan penggemar radio di Jakarta, mungkin biasa saja dengan hilangnya Pesona FM dari jagat frekuensi 88 – 108 Mega Hertz. Tapi buat mereka yang sudah kadung jatuh hati pada stasiun ini, tentu akan merasa kehilangan. Sudah bukan rahasia jika radio memiliki penggemar fanatik, yang kadang tindak tanduknya sulit diterima akal sehat.

Saya yakin benar, Pesona FM memiliki penggemar sendiri yang fanatik. Radio ini memang khas. Mereka menyasar segmen keluarga, khususnya para ibu rumah tangga. Bukan, radio ini bukan radio wanita seperti Female atau Women atau U FM. Dia khas, buat para ibu rumah tangga. Lagu-lagu yang diputar pun cenderung slow dan romantis, kalau tidak boleh dibilang gemulai, karakter milik para ibu. Mereka menyajikan beragam acara khusus yang dipersembahkan untuk menemani para ibu beraktivitas di rumah!

Memang betul, radio ini tidak pernah sepopuler radio Trijaya, Elshinta, Sonora atau bahkan radio Kayu Manis. Radio ini juga tidak pernah beranjak dari urutan puluhan dalam rating yang dibikin AC Nielsen di Jakarta. Pesona adalah radio medioker. Setengah industri, setengah hobi. Tapi hebatnya, mereka mampu bertahan dalam jangka waktu yang lumayan panjang.

Umur Pesona FM – kalau memang benar sekarang mati – jauh mengungguli radio SK (Suara Kejayaan), Agustina, Atthahiriyah, Radio S, dan lain sebagainya radio-radio yang sudah almarhum. Meski tentu bukan prestasi gemilang kalau kemudian mereka tetap mati dan berganti kulit atau berganti kepemilikan.

Tanda-tanda kematian sebuah radio adalah seperti yang sekarang bisa kita simak di 103,8 FM. Tidak ada penyiar, tidak ada iklan, tidak ada yang lain kecuali lagu. Hanya sebagai syarat saja tetap mengudara, agar masih terdengar dan eksis. Masih ada beberapa kemungkinan lain, di luar kematian. Misalnya, berubah format, berganti kepemilikan (pemilik baru bisa saja meneruskan nama Pesona), dan kemungkinan lainnya.

Walau begitu, pertanyaan tetap ada apakah dengan Pesona FM?

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar kasak kusuk sejumlah penyiar Pesona. Mereka mengeluhkan kondisi radio tersebut yang tidak bagus. Perhatian pengelola kurang, manajemen kacau, program juga mandek yang ujung-ujungnya berakibat pada minimnya iklan. Saya tidak tahu apakah kasak kusuk tersebut valid atau tidak. Yang jelas, sekarang tanda-tanda kebenaran informasi itu mulai terlihat. Pesona FM hilang dari udara!

Industri atau Hobi?

Saat ini, secara umum industri radio menunjukkan grafik yang menggairahkan. Salah satu tanda makin majunya industri radio adalah dengan bergabungnya mereka dalam kelompok-kelompok usaha. Dengan bersatu, tentu kekuatan mereka dalam tawar menawar posisi dengan pihak lain menjadi lebih kuat. Mau tidak mau, pengelolaannya pun harus berubah total. Tidak pada tempatnya jika sebuah kelompok yang berisi beberapa radio, mengelola dengan cara tradisional seperti dulu. Mereka harus profesional.

Namun perubahan itu tidak serta merta menyeret seluruh radio. Masih banyak radio yang berdiri sendiri dan tetap asyik masyuk dengan ciri khasnya sejak lama yaitu tradisional, hobi atau gengsi. Dengarlah sejumlah radio yang minim iklan tapi tetap eksis. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membiayai kegiatan radio? Memang biaya radio jauh lebih murah dibanding TV atau Koran, tapi tetap saja, biaya adalah biaya.

Saya melihat Pesona FM selama ini masih berada di gerbong belakang industri radio. Mereka kalah cepat, kalah gesit dalam menyongsong perubahan sehingga ”tersingkir” dari persaingan. Mungkin sekarang beberapa kelompok radio besar seperti Elshinta, Sonora, Jaringan Delta-Female, Prambors, MRA, Trijaya Network dan MNC sedang berancang-ancang untuk merebut hati Pesona FM beserta para pendengar setianya….

Read Full Post »

“Udah deh nggak usah detik-detikan dan kapan-kapan lagi, klik rileks dot com sekarang juga…”

Demikian bunyi sebuah iklan radio yang kerap saya dengar sejak Januari 2009 kemarin. Mungkin terdengar biasa saja bagi Anda yang belum familiar dengan dunia dotcom. Tapi menjadi sangat tidak biasa untuk publik yang sudah karib dengan Detik.com dan Kapanlagi.com. Iklan tersebut jelas-jelas menyindir dua situs internet, yang sudah lebih dulu populer. Bahkan, Detik.com sampai sekarang masih menjadi situs berita paling populer di Indonesia.

Iklan semacam ini sah-sah saja dilakukan, yaitu dengan menyindir atau lebih parah lagi, menjelekkan produk lain. Namun dari sisi etika, lain lagi ceritanya. Pengelola Rileks.com pasti tidak punya niat buruk terhadap situs lain. Tapi saya yakin mereka sadar bahwa iklan semacam itu akan menimbulkan efek yang kurang baik, khususnya dari sisi etika. ”Iklan kok menyindir produk lain!” sebut salah seorang pendengar.

Saya pribadi menjadi tidak simpati kepada produk yang iklannya menjelekkan produk lain. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang demikian. Banyak orang lainnya juga yang tidak suka terhadap iklan semacam itu. Seharusnya para kreatif iklan dan juga produsen memerhatikan sisi psikologis ini. Selain juga iklan demikian menyinggung etika.

Sesungguhnya iklan Rileks.com tersebut masih jauh lebih santun dibanding sebuah iklan lainnya, yang menurut saya kelewatan dalam menjelekkan produk lain. Iklannya sampai tulisan ini dibuat masih wara-wiri di sejumlah media. Begini bunyi taglinenya, yang di iklan radio disuarakan oleh voicer dengan si suara berat langganan iklan lainnya.

”Kopi koooo song nyaring bunyinya… capek deh”

Dalam iklan itu tokoh-tokohnya menyindir sebuah produk dengan sangat low context, alias langsung tanpa tedeng aling-aling dan bukan sekedar sindiran. Dialog mereka jelas-jelas menyebutkan sebuah produk lain yang kebetulan adalah penguasa pasar. Simak dialognya:

”Itu tuh kalau orang sering makan kopi kosong!”

”Kopi kooo song….”

Kopiko sudah merajai produk permen dengan cita rasa kopi selama bertahun-tahun. Beberapa perusahaan lain berusaha menggoyang dominasi mereka tapi selalu gagal. Entahlah apakah iklan ini bentuk frustrasi para pesaing Kopiko atau ekspresi lainnya. Yang jelas, iklan semacam ini secara etika sangat tidak layak ditiru dan bakal membodohi otak cerdas konsumen.

Seperti terhadap iklan Rileks.com, saya pun tidak mau bersimpati pada produk ini. Bahkan mencobanya pun tidak mau. Dan Anda sudah membuktikan ucapan saya ini, karena menyebut produknya pun dalam tulisan ini saya tidak mau.

Kreativitas memang tanpa batas, tapi kreatif tanpa etika seharusnya tidak diberi tempat di muka bumi ini.

Anda pernah mendengar, melihat dan membaca iklan-iklan lain semacam ini? Silahkan sharing di sini.

Ciputat, 15 Februari 2009

Read Full Post »

Berdasarkan pengalaman penulis dan dari berbagai sumber bacaan.

PERSIAPAN

    1. KUASAI MASALAH.

    Anda melakukan bunuh diri jika melakukan interview tanpa menguasai permasalahannya. Banyak narasumber yang punya hobi bertanya balik kepada interviewer. Jika Anda tidak bisa menjawab, wawancara pasti berakhir sebelum Anda memulainya. Penguasaan masalah juga penting untuk menghasilkan wawancara yang bermutu. Penguasaan masalah akan menghasilkan pertanyaan bermutu dan sesuai dengan pertanyaan yang diinginkan oleh pendengar.

    2. PELAJARI SOSOK NARASUMBER.

      Bukan hanya masalahnya yang harus dikuasai, sosok narasumbernya pun harus diketahui secara pasti. Bagaimana mungkin Anda akan percaya pada ucapan seseorang jika Anda tidak tahu persis siapa yang diwawancara. Selain itu, banyak manfaat jika kita mengenal lebih dalam tentang sosok narasumber. Dalam banyak kasus, pengetahuan kita tentang narasumber sering menjadi ice breaker (pemecah kekakuan atau kebuntuan) yang luar biasa. Kita harus tahu hobinya, latar belakang pekerjaan/pendidikan, agama, keluarganya dll.

      3. PELAJARI LOKASI INTERVIEW

        Lokasi interview sangat penting dipelajari oleh reporter radio dan juga televisi. Buat wartawan cetak bisa jadi tidak terlalu penting. Dalam banyak kasus, reporter radio mengalami kesulitan karena salah menentukan lokasi interview. Karena misalnya, terlalu ramai, ruangannya berdengung dll. Ingat, radio butuh suara yang bagus.

        4. PERSIAPKAN ALAT PEREKAM DENGAN SEMPURNA

          Alat perekam adalah istri pertama reporter radio, sama seperti kamera untuk fotografer dan bedil untuk tentara. Oleh karena itu, alat perekam harus dipersiapkan secara sempurna. Jangan sampai terjadi kekurangan atau kesalahan alat perekam sehingga interview batal. Baterei dan kaset/cd misalnya, harus diperhitungkan berapa lama daya tahannya. Kalau menggunakan perekam digital, berapa banyak kapasitas harddisknya.

          5. BUAT DAFTAR PERTANYAAN

            Jangan pernah sombong mengatakan ”Semua pertanyaan sudah ada di kepala saya!” Ingatan manusia ada batasnya. Bahkan pena yang sudah melemah sekalipun, tetap lebih baik dibanding ingatan yang paling hebat. Demikian pepatah China mengatakan. Jadi buatlah daftar pertanyaan. Paling tidak garis besar atau pointernya saja.

            SELAMA WAWANCARA

              1. PERHATIKAN TEMPAT WAWANCARA.

              Lagi-lagi hal pertama yang harus diperhatikan adalah lokasi wawancara. Ini sangat penting untuk seorang reporter radio, karena kondisi lokasi berpengaruh terhadap interview. Lihatlah apakah ada bunyi-bunyian yang mengganggu seperti suara kipas angin atau AC. Jika lokasi wawancara adalah kantor atau rumah narasumber, selain bunyi-bunyian itu perhatikan juga aksesoris ruangan, apakah ada yang menarik perhatian. Mungkin saja aksesoris/pajangan seperti lukisan menjadi ice breaker dalam interview.

              2. PERIKSA KEMBALI ALAT PEREKAM.

                Meski sudah dipersiapkan secara sempurna sebelumnya, kita harus kembali memeriksa alat perekam sekaligus mulai mengoperasikannya. Jangan pernah sok yakin semuanya sudah beres, tanpa sebelumnya mengecek kembali. Banyak kasus, penyepelean semacam itu menimbulkan penyesalan tak berguna.

                3. GUNAKAN HEADPHONE/EARPHONE.

                  Standar interview di lapangan untuk reporter radio adalah gunakan readphone (lebih dianjurkan) atau earphone. Seperti itu kamera televisi yang ada tanda bahwa objek di depannya terekam dengan baik, maka alat perekam juga harus demikian. Penanda bahwa suara terekam dengan baik adalah dengan mendengarnya melalui headphone. Apakah suara narasumber sudah cukup besar? Atau terlalu besar? Juga untuk mengetahui secara pasti, bahwa rekaman ini berjalan normal.

                  4. PERHATIKAN KONDISI NARASUMBER.

                    Ketika janjian wawancara, kondisi narasumber sehat walafiat. Siapa yang tahu pas wawancara ternyata kurang sehat. Misalnya flu ringan, sehingga suaranya menjadi sengau. Tentu ini berpengaruh karena radio adalah suara. Atau dia beberapa telepon genggam yang berpotensi mengganggu selama wawancara. Mintalah dia untuk mematikannya… JANGAN LUPA MATIKAN PULA HP KITA SENDIRI.

                    5. AJUKAN PERTANYAAN MUDAH TERLEBIH DAHULU UNTUK INTERVIEW PANJANG (MENGGALI INFORMASI) DAN SIMPAN PERTANYAAN PALING SULIT DI AKHIR WAWANCARA.

                      Jika kita interview untuk penggalian informasi dan tidak dilakukan secara live, maka inilah yang harus dilakukan. Kita harus sebanyak mungkin mendapatkan informasi dari narasumber. Jika pertanyaan sulit diajukan di depan, maka berisiko besar. Mungkin saja narasumber tidak terima dengan pertanyaan sulit itu dan marah. Akibatnya, pertanyaan lain tidak sempat disampaikan. Masih beruntung jika dia tidak marah dan hanya mengatakan, ”NO COMMENT!”

                      6. AJUKAN PERTANYAAN PALING MENARIK DI AWAL JIKA INTERVIEW LIVE DENGAN DURASI TERBATAS.

                        Berbeda dengan interview di lapangan dan tidak live, maka interview live justru harus mengajukan pertanyaan paling menarik di awal. Pertanyaan sulit mungkin disampaikan ditengah-tengah. Wawancara live harus memerhatikan unsur-unsur pertunjukan, seperti alurnya. Kapan harus klimaks kapan antiklimaks dan seterusnya.

                        7. JANGAN PERNAH MENGAJUKAN DUA PERTANYAAN SEKALIGUS.

                          Hal ini masih sering dilakukan oleh reporter pemula. Memang ini sifat dari reporter pemula yang belum tahu ilmu interview. Kadang sok tahu… adalah bodoh mengajukan dua pertanyaan sekaligus dalam satu kesempatan. Sebagus apapun dua pertanyaan tersebut, jika disampaikan sekaligus maka pertanyaan kedua-lah yang akan dijawab narasumber. Jadi pertanyaan pertamanya mubazir.

                          8. PERTANYAAN TERBAIK KADANG HANYA SATU KATA, YAITU: KENAPA? ATAU BAGAIMANA?

                            Penyakit reporter radio dengan tujuan agar terlihat pintar (padahal sebaliknya) adalah mengajukan pertanyaan panjang. Dia memberikan beberapa fakta dulu (kadang beropini) barulah pertanyaan intinya di belakang. Ini bukan bentuk pertanyaan yang baik. Pertanyaan terbaik justru kadang hanya satu kata yaitu MENGAPA? Makanya ”Tanya kenapa?” kata sebuah iklan.

                            9. SETARAKAN DIRI DENGAN NARASUMBER.

                              Ini ada kaitannya dengan budaya TIMUR kita. Setiap kali bertemu dengan orang lebih tinggi pangkat dan kedudukannya, maka kita harus menghormatinya sedikit lebih banyak dibanding kepada orang biasa. Jika Anda seorang jurnalis, buang sifat ini. Anda mewakili pendengar dalam jumlah banyak. Kondisi mereka beragam, dan mungkin ada juga yang lebih tinggi pangkat dan kedudukannya dibanding narasumber tersebut. Jadi Anda bukan Anda sendiri ketika bertugas sebagai interviewer. Salah satu tanda penyetaraan terlihat dari sapaan, yaitu gunakan kata Anda… bukan Tuan, Nyonya atau Bapak.

                              10. JANGAN BURU-BURU MATIKAN ALAT PEREKAM.

                                Biasalah, sifat buruk kita adalah maunya buru-buru dan instant, termasuk ketika interview seseorang. Belum selesai wawancara (= berpisah dengan narasumber) kita sudah buru-buru mematikan alat perekam. Stop! Jangan lakukan itu lagi. Selama Anda masih berada bersama narasumber, alat perekam tetap ’on’. Siapa tahu ucapan terbaik dari narasumber justru muncul pada saat itu, saat ketika alat perekam biasanya sudah dimatikan.

                                SETELAH WAWANCARA.

                                  1. CATAT NAMA NARASUMBER DAN IDENTITAS LENGKAPNYA.

                                  Ini kadang disepelekan. Padahal nama seseorang sudah dibuat selamatannya ketika masih kecil. Jadi jangan pernah salah menyebut atau mengeja nama narasumber. Salah satu caranya dengan mencatat namanya langsung dari orangnya. Tanyakan cara pelafalannya seperti apa, jika namanya agak unik. Catat nomor kontaknya, agar database kita semakin banyak dan mudah menghubunginya kembali di kemudian hari. Siapa hasil wawancara hari itu masih kurang memuaskan.

                                  2. PERIKSA HASIL REKAMAN SAAT ITU JUGA.

                                    Periksa hasil rekaman saat itu juga, ketika narasumber masih bersama Anda. Akan menyita waktu dan tenaga, jika hasil wawancara diketahui cacat setelah berpisah dengan narasumber.

                                    3. UCAPKAN TERIMA KASIH DAN MINTA KESEDIAAN UNTUK WAWANCARA BERIKUTNYA.

                                      Standar sekali ya… ucapan terima kasih. Ah biasalah ini. Tapi kadang, kita lupa melakukannya dengan ikhlas. Sering agak terpaksa. Jika narasumber mengetahui kondisi Anda seperti itu, jangan harap dia mau kembali diwawancarai.

                                      Selamat berkarya!!!

                                      Read Full Post »

                                      OPENING TUNE:

                                      Durasi sekitar 10 sampai 15 detik.

                                      1. Opening Tune atau Signature Tune tanpa vokal.
                                      2. Opening Tune atau Siganture Tune dengan vokal.

                                      Contoh naskah OT/ST dengan vokal:

                                      ”Warta Berita… Kumpulan Berita Terbaru Hari ini”

                                      ”Info pagi… Info pagi…”

                                      ”Breaking News…”

                                      “News Update…”

                                      BRIDGING TUNE:

                                      1. BT tanpa vokal.
                                      2. BT dengan vokal.

                                      Bridging biasanya memiliki musik yang sama dengan opening tune, tapi dengan durasi yang lebih pendek. Hanya sekitar 5 detik. Tapi terbuka juga kemungkinan menggunakan musik yang berbeda tapi tetap satu warna.

                                      Penggunaan bridging untuk penutup atau pembuka setiap segmen.

                                      Contoh naskah BT dengan vokal:

                                      ”Elshinta News and Talk”

                                      ”News Update”

                                      Bridging penutup segment:

                                      “News Update akan segera kembali…”

                                      Bridging pembuka segment:

                                      “Kembali dalam News Update…”

                                      CLOSING TUNE:

                                      Seperti Opening Tune, Closing tune punya durasi 10 – 15 detik. Musiknya bisa sama atau berbeda dengan opening tune. Kebanyakan, sama dengan opening.

                                      1. CT tanpa vokal.
                                      2. CT dengan vokal.

                                      Contoh naskah CT sama dengan naskah Opening Tune.

                                      CONTINUITY TUNE:

                                      Sebuah tune yang jarang digunakan di radio, tapi sudah sangat jamak dilakukan di televisi. Di TV, biasanya dalam bentuk display acara apa yang akan tayang berikutnya, setelah acara yang satu selesai.

                                      Di radio, acara selanjutnya seringkali tidak diketahui. Hanya pendengar setia yang tahu, acara apa berikutnya. Sebagian radio mulai melakukan pemberitahuan dalam bentuk teaser oleh penyiar acara sebelumnya.

                                      Continuity Tune harus berisi vokal. Musinya pun harus khas yang berbeda dengan tune yang lain.

                                      Contoh naskah CT:

                                      ”Baru saja Anda simak Warta Berita, selanjutnya segera Anda nikmati acara MUSIK PAGI, bersama….”

                                      ”Sebentar lagi kita ikuti Talkshow Interaktif bersama Wimar Witoelar”

                                      Biasanya CONTINUITY TUNE muncul jika acaranya bersponsor.

                                      Contoh:

                                      “Segera Anda simak talkshow interaktif tentang susu bayi yang dipersembahkan oleh Dancow, selamat mengikuti…”

                                      Continuity Tune muncul sebelum Opening Tune/Signature Tune.

                                      SMASH TUNE:

                                      Sebuah musik singkat yang berfungsi sebagai pemisah antara satu informasi ke informasi berikutnya. Atau antara vokal dengan musik, atau antara tema yang berbeda. Fungsinya sebagai penanda bahwa penyiar menyampaikan sesuatu yang berbeda. Fungsi lain memberikan variasi kepada pendengar agar tidak jenuh.

                                      Durasi hanya sekitar 2 sampai 3 detik. Berupa instrument musik seperti bunyi drum, atau campuran drum dengan instrumen musik lainnya.

                                      Fungsinya: untuk menandai perubahan tema atau isi siaran dan menarik perhatian pendengar.

                                      Read Full Post »

                                      Radio yang satu ini memang fenomenal! Namanya GEN FM, mengudara pada frekuensi 98,7. Baru muncul dalam hitungan dua tiga tahun saja, radio yang menyasar kaum muda ini mampu menjulang dan mengalahkan radio lain yang lebih dulu mapan. Menurut survey Nielsen, per Maret/April GEN FM menduduki posisi teratas untuk jumlah pendengar. LUAR BIASA!!!

                                      Selama ini, posisi teratas tidak pernah jauh dari sejumlah radio dangdut atau yang berkaitan dengan dangdut dan pendengar kelas menengah bawah seperti SPFM atau Bens Radio. Radio mapan yang sempat pula berada di puncak sekelas Sonora atau Elshinta. Keempat stasiun radio tersebut sudah berumur. Rata-rata lahir pada 1970-an. Sedangkan GEN FM? Seperti disebutkan diawal, baru seumur jagung.

                                      Apa rahasianya?
                                      Mungkin ini juga menjadi pertanyaan banyak pendengar dan juga praktisi radio lainnya. Apa sih rahasia GEN FM sehingga bisa melejit dalam waktu singkat? Apakah mereka betul-betul melejit? Atau akan kembali mereduk dalam beberapa waktu ke depan?

                                      Berikut analisis saya:
                                      1. Musik.
                                      GEN FM memilih segmen pecinta musik Indonesia dengan sangat tepat. Artinya, mereka hanya memutar lagu-lagu populer saja. Lagu tidak populer, lupakan GEN FM. Sehingga, pola pemutaran lagu di radio ini cenderung menerabas patokan yang biasa dijalankan radio lain. Misalnya, sebuah lagu bisa saja diputar lebih dari 2 atau 3 kali dalam sehari, jika lagu itu memang sangat disukai pendengar. Selama ini, sebuah radio cenderung membatasi munculnya sebuah lagu.

                                      2. Format Siaran.
                                      Pengelola GEN sangat jeli menerapkan format siaran yang ringan, santai dan menghibur. Kadang sangat kreatif dan tidak terpikirkan oleh radio lain. Maka jangankan radio kompetitornya yang sama-sama mengandalkan musik Indonesia, radio lain yang membidik segmen anak muda pun bisa dilewati. Silahkan dengar para penyiar GEN, mereka cenderung sedikit bicara. Saya sering mengitung durasi obrolan atau cuap-cuap penyiar GEN, tidak pernah lebih dari 7 menit. Durasi ini sesuai dengan hasil banyak survey tentang daya tahan telinga mendengarkan sesuatu yang sama. Sebenarnya, survey ini sudah diketahui oleh banyak praktisi radio, tapi cenderung diabaikan. Coba saja dengar radio lain, yang penyiarnya sangat suka bicara dalam waktu sangat panjang (lebih dari 10 menit).
                                      Bahkan, ketika interaksi dengan pendengarpun, GEN mampu membuat obrolan yang simpel, tidak bertele-tele namun tetap asyik didengar. Berbeda sekali dengan kebanyakan radio, yang pendengarnya bisa mengudara seenak mulutnya.
                                      Saya pikir, format ini sesuai dengan GEN FM di Malaysia, karena di sana pun menuai sukses serupa. FYI, GEN merupakan hasil kerja sama Grup Mahaka dengan Astro Malaysia, yang memiliki radio GEN di Malaysia.
                                      3. Punya Ciri Khas.
                                      Radio lain kebanyakan tidak punya ciri khas. GEN? Punya. Ciri khas ini penting untuk memerkuat citra radio tersebut. Dan GEN memposisikan diri sebagai radio gaul anak muda yang kreatif dan kadang GOKIL. Acara ’Salah Sambung’ menjadi salah satu ciri khasnya. Tempat saya dulu bekerja – DELTA FM – punya ciri khas berupa insert agama yang tidak menggurui (sekarang sudah tidak ada). Saat itu, insert agama semacam itu tidak dimiliki radio lain, dan sangat digemari pendengar.

                                      4. Kembali ke Khitahnya.
                                      Ada beberapa jenis siaran di GEN yang kembali memerkuat karakter radio, yang hanya didengar selintas, hanya suara dan mampu membangkitkan imajinasi. Jika Anda menonton televisi, maka setiap saat stasiun televisi itu bisa menunjukkan siapa mereka, acara apa yang sedang ditonton dan acara selanjutnya, kapan saja setiap saat. Lalu bagaimana dengan radio? Bagaimana cara pendengar tahu radio apa yang sedang disimaknya, acara apa yang didengarnya dan acara apa yang akan dinikmati berikutnya? GEN selangkah lebih maju dengan memutarkan cuplikan lagu-lagu yang akan diputar satu jam berikutnya. Saya tidak pernah mendengar teaser semacam ini di radio lain.

                                      5. Selalu BEDA.
                                      Saya melihat GEN selalu ingin berbeda dengan radio lain. Keinginan itu begitu kuat terasa dalam setiap outputnya, yang enerjik dan dinamis. Penyiarnya tidak pernah kekurangan bahan untuk berbicara, semua selalu mengalir lancar. Saya kira, GEN memersiapkan siarannya dengan sangat matang. Dugaan saya, tidak ada siarannya yang dilakukan secara spontan. Semua terencana!

                                      Perbedaan itu juga terlihat dari kerjasama GEN dengan TVOne. Jika radio lain memposisikan diri lebih rendah kastanya dengan televisi, maka GEN mampu menunjukkan bahwa radio juga SETARA dengan teve. Silahkan simak acara ’Satu-satunya’ yang disiarkan bersama oleh GEN FM dan TVOne setiap hari Senin sampai Jumat jam 13.30 – 14.30. Di acara tersebut, penyiarnya selalu menyatakan bahwa siaran ini dilakukan bersama. Sekali lagi bersama. Bukan GEN merelay TVOne atau sebaliknya. Bukti siaran bersama itu terlihat pula dari beberapa segmen acara di GEN yang masuk ke dalam materi siaran ’Satu-satunya’. Acara yang memang dibuat secara bersama-sama. Selama ini, banyak radio yang hanya ’nyantol’ saja dengan merelay program milik TV.

                                      Meski penuh dengan kelebihan sehingga menjadikan GEN FM melesat, ada juga beberapa kelemahannya. Tak ada gading yang tak retak bukan? Misalnya ketika menyebutkan nomor telepon (apalagi nomor telepon pengiklan), para penyiar GEN seperti ’nyuekin’ pendengar, karena hanya sekali sebut dan dengan tempo yang sangat cepat.
                                      Mana mungkin pendengar Anda bisa mengingat nomor-nomor telepon sekali sebut itu?

                                      Dodi Mawardi
                                      Staf Pengajar Penyiaran UI dan Interstudi

                                      Read Full Post »

                                      Sejak pertama kali muncul ke muka bumi ini, radio langsung memiliki karakter khas yang tidak dimiliki media lain. Yaitu kecepatan dalam menyampaikan informasi. Disamping ciri khas lain yaitu Theater of Mind dan Personal, kecepatan ini menjadi keunggulan utama radio. Belum ada media lain yang mampu menandinginya, sampai saat ini.

                                      Tapi di Indonesia, kelebihan utama radio tersebut nyaris lenyap. Beberapa radio justru berkolaborasi dengan media televisi, yang tingkat kecepatan penyampaian informasinya masih dibawah radio. Banyak radio yang bangga jika merelay siaran televisi! Jika menilik kecepatan dalam menyampaikan informasi, seharusnya televisi yang merelay radio, bukan sebaliknya. Di beberapa negara maju, relay radio terhadap televisi bukan berupa kumpulan berita atau buletin berita. Mungkin talkshow atau siaran langsung. Jika menyangkut berita, justru banyak televisi yang mengutip radio.

                                      Sebagian radio berkilah, kerja sama relay dengan televisi sangat menguntungkan karena akan meningkatkan image radio tersebut. Pertama, nama radio akan selalu disebutkan oleh penyiar di televisi. Ini promosi yang luar biasa karena jangkauan sebuah stasiun televisi biasanya lebih luas dibanding radio bersangkutan. Kedua, mendapatkan informasi tambahan yang mungkin tidak dimiliki radio tersebut (biasanya bagi radio yang tidak memiliki banyak SDM di bagian redaksi). Tapi, faktor pertama yang lebih kuat, sehingga cenderung mengabaikan kualitas siaran.

                                      Untuk menyusun sebuah paket informasi, televisi membutuhkan waktu berjam-jam. Paling hebat, berita yang muncul di paket buletin berita televisi adalah informasi yang terjadi satu jam sebelumnya. Jadi buat pendengar radio, sesungguhnya informasi tersebut sudah basi, karena radio yang baik akan langsung menyiarkan informasi beberapa saat setelah peristiwanya terjadi.

                                      Saya pernah mendengar sebuah paket berita televisi di radio. Rasanya… lucu sekali. Penulisan naskah televisi tergantung pada gambar. Sedangkan penulisan naskah radio, tergantung pada suara. Dua hal yang bertolak belakang, karena suara tidak bergambar, sedangkan sebagian besar gambar tidak bersuara (kalaupun bersuara, seringkali tidak jelas menggambarkan apa).

                                      Penyiar televisi membacakan naskah… lalu muncullah gambar. Selama 5 detik, penyiar tersebut berhenti bersuara. Gambarlah yang terus ditayangkan. Di radio, 5 detik tanpa suara sudah termasuk kategori dead air. Kondisi ketika ruang udara pendengar Anda sunyi senyap dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa kemungkinan; bisa operatornya lambat memutar paket selanjutnya, bisa karena penyiarnya lupa materi siaran, bisa karena komputernya hang dan lain sebagainya. Tapi kondisi itu sama sekali tidak diharapkan.

                                      Tapi ketika merelay siaran televisi, kondisi itu seringkali terjadi. Tidak mungkin penyiar televisi terus menerus bicara. Dia pasti berhenti pada saat gambar-gambar menarik ditampilkan. Apa menariknya gambar-gambar tersebut buat pendengar radio??? Yang ada hanyalah ruang dengar kosong! Mending jika gambar yang ditampilkan memiliki suara.

                                      Pernah juga saya mendengar relay televisi di radio, yang membuat saya mesem-mesem sendiri. Penyiar televisinya berkata, ”Pemirsa berikut kami tampilkan nama-nama korban kecelakaan tersebut…” Maka muncullah (belasan nama korban di layar diiringi) backsound lagu intrumental selama 10 sampai 15 detik. Yang terdengar di radio hanya backsound musiknya. Gambar yang memperlihatkan nama-nama korban tersebut tidak ada! Lucu sekali relay tersebut…

                                      Lebih gawat (atau lucu?) lagi, karena banyak juga televisi yang menampilkan data semacam itu tanpa diiringi musik instrumental. Jadi selama 10-15 detik, pendengar hanya menikmati angin atau paling banter mendengarkan suara tarikan nafas penyiar televisi. Sangat merugikan! Sangat naif!

                                      Seharusnya, radio itu menyiapkan penyiar di studio yang selalu siap sedia, selama relay siaran berita televisi tersebut berlangsung. Jika televisi hanya memperlihatkan data, diagram, daftar nama dan lain-lain dalam bentuk tulisan/gambar, bisa segera membantu dengan cara membacakannya. Pendengar pasti akan sangat terbantu. Selama ini kami pendengar hanya mampu berimajinasi hehehe…

                                      Kalau radio tanpa suara, bukan radio namanya!

                                      Read Full Post »

                                      1. Tentukan tema. Semua masalah bisa diangkat menjadi feature radio. Mulai dari masalah sosial, personal, politik, ekonomi, budaya dll. Tidak ada batasan tema apa yang bisa atau tidak bisa dijadikan bahan feature. Yang penting, bisa disajikan dengan sangat menarik!

                                      2. Tentukan sudut pandang (angle). Sebuah tema bisa diulas dari 1001 macam sudut pandang. Kreativitas pembuatan feature berawal dari pemilihan tema dan penentuan sudut pandang.
                                      3. Pastikan data-data pendukung bisa dikumpulkan (riset). Riset ini menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah liputan. Apalagi feature yang berdurasi lebih panjang dibanding program informasi lainnya. Di negara maju, radio-radio menampilkan feature berdurasi rata-rata 30 menit sampai 60 menit. Di Indonesia, sebagian besar baru mampu membuat feature dengan durasi 5 – 10 menit saja.
                                      4. Tentukan narasumber dan waktu wawancara. Pastikan narasumber adalah sumbe utama dalam tema ini bukan narasumber kedua atau malah hanya pengamat saja (narasumber ketiga). Narasumber akan berpengaruh terhadap bobot feature Anda.
                                      5. Siapkan daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber. Jangan pernah sekali-sekali sombong dengan tidak menyiapkan daftar pertanyaan.
                                      6. Pilih suara-suara atau bunyi atau musik yang akan dijadikan pelengkap feature. Tentukan sejak awal, bahkan sebelum naskah dibuat.
                                      7. Pastikan suara/bunyi dan musik tersebut dapat diperoleh. Jangan pernah mencampuradukan suara/bunyi yang dibuat-buat seolah asli dari narasumber/peristiwa. Misalnya kejadian bom Bali, Anda memilih bunyi bom yang mudah dicari di internet atau dari film. Bila suara bom itu yang Anda pilih tanpa memberitahu pendengar bahwa suara itu bukan suara bom Bali, maka Anda telah membohongi publik. Demikian pula pemilihan musik latar feature tersebut, tidak boleh sembarangan.
                                      8. Kumpulkan seluruh bahan-bahan selengkap mungkin.
                                      9. Buatlah naskah berdasarkan tema, sudut pandang, hasil riset, hasil wawancara dan suara/bunyi pendukung. Kadang ada juga yang sudah membuat naskah (draft/naskah kasar) terlebih dahulu.
                                      10. Pilih insert (potongan suara narasumber). Pastikan insert yang terpilih adalah yang terbaik (patokannya: penting atau sangat menarik).
                                      11. Panjang insert harus dibatasi. Patokannya: begitu kuping merasa bosan mendengar suara insert itu, segera potong. Biasanya paling panjang 1 menit. Rata-rata 30 detik saja.
                                      12. Bacalah keras-keras naskah yang sudah dibuat. Jangan pernah merasa naskah Anda sudah sempurna. Pasti akan ada revisi dan perbaikan. Dibaca keras berfungsi sebagai: 1. Editing buat telinga karena begitu telinga mengatakan tidak enak didengar berarti naskah itu harus diganti. 2. Sharing kepada orang disekitar Anda, yang diharapkan akan memberikan feedback kalau naskah Anda keliru.
                                      13. Rekam suara (voice over). Pilih suara yang cocok untuk feature tersebut. Tidak semua narator cocok untuk feature dengan tema tertentu (misalnya tema yang bersifat sedih, gembira atau sinis).
                                      14. Gabungkan (miksing) vo dengan insert dan suara pendukung.
                                      15. Berkreasilah! Manjakan telinga pendengar Anda dengan feature tersebut. Seorang yang bersifat perfeksionis pasti akan lama memiksing sebuah karya feature radio. Seperti melukis, membuat feature radio juga membutuhkan pengerahan daya dan upaya yang kreatif. Tapi ingat, setiap feature radio selalu dibatasi oleh durasi dan deadline!

                                      Read Full Post »

                                      Older Posts »