Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Televisi Kita’ Category

Kompilasi

 

Ejekan, cemoohan dan olok-olok netizen kembali marak terhadap kesalahan tulisan di televisi dalam memberitakan sebuah peristiwa. Salah satu yang paling menarik, terjadi jelang Idul Fitri tahun ini. Sasaran olok-olok adalah kesalahan penulisan waktu Idul Fitri yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebuah stasiun TV menulis tahunnya adalah 2019. Para netizen pun menyebutkan bahwa lebaran tahun ini ditunda hingga 3 tahun lagi. Sedangkan stasiun TV yang lain menulis tanggal 6 Juni sebagai hari lebaran, dari yang seharusnya 6 Juli. Netizen kompak mengolok-oloknya dan menyebut hari raya Idul Fitri telah berlalu.

 

Kesalahan demi kesalahan tulisan di televisi yang menyertai sebuah berita atau tayangan berita itu sendiri, kerap terjadi. Sebagian besar kesalahan sangat mendasar. “Kok begitu saja salah?” kira-kira begitu pertanyaannya. Seharusnya tidak salah, kok salah. Running text (berita tulisan bergerak dari kanan ke kiri layar) dan atribusi (teks judul berita atau nama narasumber) menjadi sumber masalah besar di televisi kita saat ini. Kualitasnya layak dipertanyakan.

 

Saya bukan penonton yang nyandu televisi. Hanya mengamati. Sesekali. Khususnya acara-acara informasi. Hanya sesekali menonton saja, sudah terlalu sering menemukan kesalahan tulisan pada semua stasiun TV, baik TV berita maupun non berita. Bukan hanya kesalahan ketik (typo) kata-kata biasa, melainkan kesalahan data dan fakta. Kadang kita terkekeh membaca kesalahan-kesalahan tersebut. Saya yakin Anda juga pernah menemukan kesalahan yang lucu-lucu tersebut.

 

Dugaan terkuat kenapa kesalahan itu terjadi adalah terburu-burunya sang penulis teks tersebut. Setiap kali tergesa-gesa maka hasilnya pasti tidak maksimal. Dalam hal apapun. Dan itu sudah seperti hukum alam. Maka, orangtua kita selalu memberi nasihat agar kita tidak terburu-buru dalam mengerjakan apapun. Para penulis teks di televisi cenderung terburu-buru dalam bekerja.

 

Penyebab selanjutnya adalah tidak adanya editor (tukang edit, penyunting, pengawas) hasil tulisan para penulis tersebut. Tidak ada cek dan ricek. Posisi penulis teks di televisi memang cenderung terabaikan. Dianggap remeh temeh. Sehingga, tanpa atasan yang sungguh-sungguh memelototi hasil kerja mereka. Naskah-naskah pendek di layar itu dianggap sebagai pelengkap saja. Asal ada.

 

Penyebab berikutnya adalah kualitas para penulis naskah tersebut. Setahu saya, level mereka beberapa tingkat di bawah reporter. Televisi tidak merekrut mereka dengan seleksi yang ketat. Tidak juga dengan syarat yang tinggi. “Ah hanya penulis naskah-naskah pendek. Siapapun seharusnya bisa.” Kira-kira demikian sudut pandangnya. Benar-benar dianggap sepele.

 

Maka, jangan heran jika pemirsa akan selalu disuguhi kesalahan demi kesalahan tulis di televisi. Kesalahan yang justru sangat menghibur, kadang lebih ‘menyegarkan’ dibanding para komika (stand up comedy) dan lebih menyenangkan ketimbang cerita sinetron. Pesta bullying para netizen pun seperti mendapatkan bahan bakarnya.

 

Pengelola televisi, mohon tingkatkan kualitas para penulis teksnya!

 

 

 

 

Read Full Post »

Komentator Sepakbola TV, Bukan Orang Sembarangan

Sebuah pelajaran berharga untuk pengelola televisi di tanah air, dalam memilih komentator atau pengamat sepakbola. Pada tayangan pertandingan persahabatan antara Indonesia vs Palestina, Senin 22 Agustus 2011 kemarin, pelajaran itu sangat terasa kentalnya. SCTV dengan berani memilih Nus Tuanakota sebagai penyiar yang melaporkan langsung pertandingan tersebut. Terasa sangat berbeda dengan penyiar biasanya.
Kenapa ya?

Nus Tuanakotta merupakan penyiar senior yang sudah lama berkiprah mulai dari RRI sampai TVRI. Dia terbiasa melaporkan langsung berbagai kegiatan olahraga. Teori siaran dan praktiknya bisa dilakoninya dengan baik. Ketika masih di TVRI beberapa dekade silam – saya masih duduk di bangku SD dan SMP – gaya siaran Nus ini nyaris sama dengan para penyiar lainnya. Mereka punya gaya yang mirip-mirip. Suara ngebas, berirama dan harmonis dengan gambar, sehingga menunjang kenikmatan penonton dalam menyaksikan pertandingan. Mungkin sebagian dari kita ingat dengan Bung Sambas, yang sangat khas dalam membawakan siaran langsung olahraga mulai dari sepakbola sampai bulutangkis.Mereka jarang sekali melakukan kesalahan ucap atau fakta.

Pada tayangan tersebut, berkali-kali teman duet siaran Nus yaitu wartawan sepakbola Bung Kesit, salah menyampaikan fakta. Wasit menunjuk sepak pojok, dia mengatakan pelanggaran. Pada saat bersamaan, Nus dengan tepat menyebut corner kick karena dia melihat dengan penuh konsentrasi gerak tubuh sang wasit. Demikian pula ketika terjadi pelanggaran, off side dan beberapa fakta lainnya. Nus dengan tepat menyebutkan berbagai fakta. Bahkan, dia juga dengan lancar melaporkan jalannya pertandingan, menggambarkan aliran bola meski tidak detil, menyebut nama pemain yang memegang bola dengan akurat, berteriak histeris ketika bola nyaris masuk ke gawang, dan mengaduh ketika ada pelanggaran. Dia membawa penonton masuk ke irama dan suasana pertandingan. Ketika gol terjadi, Nus berteriak menyesali gol karena gawang Indonesia yang kebobolan.

Saya sangat yakin, para penyiar sekelas Sambas dan Nus Tuanakota, tidak muncul dan punya kemampuan bagus seperti itu dengan seketika. Mereka pasti rajin berlatih dan belajar serta praktik selama bertahun-tahun. Mereka dibekali pengetahuan yang memadai tentang cara siaran, dan mendapatkan mentor-mentor terbaik, serta pasti selalu terus belajar. Berbeda dengan para komentator yang banyak beredar di sejumlah televisi swasta.

Gaya bicara mereka relatif sering mengganggu kenikmatan menonton sepakbola, karena mereka tidak dibekali cara siaran yang baik. Pada level ini, tampaknya televisi hanya mengutamakan gambar yang standar broadcast, tapi mengabaikan suara yang juga seharusnya standar broadcast. Mereka ribut sendiri, menyampaikan banyak fakta yang tidak berhubungan dengan moment di lapangan, gagal menyebutkan fakta akurat, salah ucap, salah fakta dan yang paling krusial; tidak mampu masuk ke dalam atmosfer pertandingan. Saya sering mengecilkan suara penyiar/komentator, ketika menonton sepakbola dalam negeri. Dan melakukan hal serupa jika pertandingan manca negara gagal menampilkan suara komentator dari tempat asalnya.

Contoh di Luar Negeri
Di negeri asal sepakbola yaitu Inggris, profesi komentator sepakbola termasuk sangat bergengsi. Setiap stasiun televisi dan penyelenggara siaran resmi Liga Inggris, memilih dengan sangat ketat para komentatornya. Sama sekali tidak serampangan dan asal pilih. Mereka disaring dari sejumlah nominator terdiri dari penyiar profesional dan mantan pemain sepakbola. Mereka dikontrak dalam durasi waktu tertentu dan bisa saja didepak di tengah jalan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pernah terjadi seorang komentator dipecat gara-gara melecehkan seorang hakim garis perempuan. Andy Gray dan rekan duetnya Richard Keys melontarkan guyonan yang mungkin dianggapnya biasa saja, tapi dianggap banyak orang, pengamat dan terutama sang hakim garis sangat melecehkan. Nama mereka selalu muncul dalam setiap siaran pertandingan, dan gaya mereka siaran nyaris sama. Suara yang layak siar, berirama, penuh wibawa, pengetahuan dan wawasan memadai tentang sepakbola, serta mampu membawa penonton ke dalam suasana pertandingan lewat suaranya. Hanya mendengar suara mereka tanpa melihat gambarnya saja, kita sudah terhibur.

Jujur saya merindukan penyiar tayangan langsung sepakbola sekelas Sambas atau Nus Tuanakota. Semoga para pengelola televisi lebih ketat lagi dalam menyaring para penyiar dan komentator khususnya untuk tayangan siaran langsung sepakbola. Biar selain bisa menikmati umpan dan gol yang cantik, juga mendengar suara yang berirama dan nyaman di telinga.

Read Full Post »

“Saya punya istri tiga…” ujar seorang lelaki muda mulai bercerita tentang kisah hidupnya. Maka mengalirlah sebuah kisah dramatis berakhir pilu, tentang dia dan keluarganya. Perjalanan hidupnya pasti mengundang iba, karena dipenuhi dengan duka dan air mata. Dijamin, siapapun yang menyimak kisahnya akan ikut merasakan betapa pahitnya nasib lelaki tersebut. Kisah ini dihadirkan sebuah stasiun televisi swasta sebagai sebuah kisah nyata dan diberi judul program “Bukan Sinetron”. Dari judulnya, pemirsa pasti sudah paham bahwa acara realiti show ini adalah kisah-kisah nyata yang pasti akan menguras air mata.

Tapi apa yang terjadi beberapa hari setelah episode lelaki beristri tiga ini ditayangkan? “Hei kawan, kau masuk televisi ya. Kulihat di acara Bukan Sinetron,” ujar seorang pria muda kepada lelaki yang beristri tiga tadi. “He he, elu nonton ya. Lumayan dapat honor buat uang jajan,” kata si penganut poligami itu, enteng. “Wah ajak-ajak dong, gue juga mau masuk teve,” rengek temannya. “Ok nanti elo gue ajak…” tukasnya dengan gembira.

Ternyata, menjadi pemeran sebuah tokoh di acara-acara reality show, merupakan salah satu ladang pekerjaan baru. Mereka bergabung dengan sebuah production house atau agen pemain, lalu bersiap-siaplah mengisi acara reality show yang tersebar di hampir semua stasiun televisi. Skenario sudah dibuat sedemikian dramatisnya, dan para pemain itu tinggal berakting seadanya. Mereka bukan pemain film profesional, sehingga aktingnya terlihat canggung dan kaku.

Sejatinya, reality show merupakan acara faktual meski masih tergolong jenis program artistik bukan jurnalistik. Namun, sesuai namanya reality, maka apa yang ditampilkan merupakan kisah nyata. Tapi faktanya, hampir semua jenis acara itu berisi kebohongan besar para pembuatnya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, dengan mudahnya menggaet para pemain pemula untuk memerankan berbagai kisah rekayasa yang diolah seakan-akan nyata. Pemirsa pun tertipu. Ikut larut dalam kisah rekayasa itu, bahkan tak jarang turut meneteskan air mata. Penipuan dan kebohongan publik yang luar biasa.

Menjadi Trend
Rekayasa program semacam itu ternyata sudah menjadi trend dalam industri televisi di Indonesia. Silahkan sebutkan acara reality show yang pernah Anda tonton. Yakinlah sebagian besar dari mereka adalah rekayasa. Misal acara Bukan Sinetron tadi, atau sejenis acara Termehek-mehek, hipnotis, jodoh-jodohan dan sebagainya. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih mempertahankan keasliannya, seperti konsep yang mereka usung pada episode-episode awal.

Sebelumnya, rekayasa seperti ini juga terjadi pada acara-acara misteri, yang sempat menjadi kesukaan pemirsa beberapa tahun silam. Penampakan-penampakan makhluk halus, dibuat seperti nyata agar memberi kesan dramatis kepada pemirsa. Faktanya, sebagian besar dari program itu berisi kebohongan. Seorang pemeran yang penulis ketahui persis, menceritakan bagaimana dia disuruh menggerak-gerakan jendela dengan seutas tali, agar terlihat seperti bergerak sendiri. Atas perannya tersebut, ia mendapatkan imbalan.

Trend kebohongan publik seperti itu masih terus berkembang hingga saat ini, bahkan makin merajalela. Tak heran jika banyak agen yang berubah fungsi atau melebarkan sayapnya, dari awalnya sebagai penyedia pemeran untuk film dan sinetron, menjadi penyedia calon pemeran acara reality show. Keuntungan yang mereka dapatkan cukup menggiurkan!

Infotainment Rekayasa
Bagaimana dengan program infotainment? Acara yang selalu mendapatkan sorotan publik karena isinya hanya gosip dan isu seputar para selebritas. Kalangan ulama mengatakan sebagian acara ini haram, karena berisi ghibah, yaitu memperbincangkan keburukan orang lain yang belum tentu kebenarannya. Sudah pasti benar pun kalau keburukan itu bersifat pribadi dan tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik, ketika disebarkan tetap masuk kategori ghibah. Apalagi jika gosip itu tidak benar.

Praktik di lapangan sungguh membuat miris. Banyak sekali info, yang sama sekali tidak berdasar, hanya berasa dari sms yang beredar di kalangan selebritas dan pekerja infotainment. Tidak jarang mereka menciptakan sendiri gosip tersebut, lalu menyebarkannya. Seolah mengamini istilah gosip, yang makin digosok makin sip. Seorang selebritas yang mulai turun pamornya, atau sedang sepi order-an, tanpa sungkan meminta pekerja infotainment untuk menggosipkannya. Atau dia sendiri yang membuat gosip untuk dirinya sendiri. Bisa pula sebuah perusahaan hiburan untuk kepentingan publikasi dan promosi produknya, sengaja menciptakan gosip yang menarik perhatian publik.

Dan yang paling parah adalah perilaku sebagia pekerja infotainmennya. Lihatlah di televisi saat ini, ada berapa banyak program infotainment. Mereka tayang terus menerus setiap hari tanpa libur. Artinya harus selalu ada gosip dan info yang ditayangkan. Apa yang terjadi ketika sepi gosip dan info tentang selebritas? Tak ada cara lain kecuali menciptakan gosip itu. Ada selebritas yang senang dengan gosip rekayasa itu, tapi tak jarang juga selebritas menjadi korbannya.

Program Jurnalistik pun Terkena Imbasnya
Praktik kebohongan seperti itu ternyata tidak hanya dilakukan para praktisi televisi untuk program artistik (hiburan), melainkan juga acara-acara informasi dan berita (jurnalistik). Dalam teori ilmu komunikasi massa, disebutkan dengan jelas dan gamblang bahwa berita adalah sebuah fakta atau data yang bisa dibuktikan kebenarannya dan mempunyai dampak terhadap publik. Kata kuncinya adalah fakta.

Beberapa tahun silam, publik dikejutkan dengan temuan berbagai perilaku curang para pedagang, mulai dari pedagang bakso dengan daging tikus sampai tukang melon atau semangka suntikan. Tentu saja fakta tersebut membuat geger sebagian masyarakat, terutama para pedagang yang tidak melakukan tindakan seperti dalam acara tersebut. Selidik punya selidik, memang benar ada sejumlah pedagang yang berpratik kotor, tapi jumlahnya sedikit. Namun dalam tayangan tersebut seolah-olah, praktik itu sudah merajalela. Dalam program itu juga diperlihatkan bagaimana cara-cara pembuatan penganan oleh pedagang, yang ternyata hasil rekayasa.

Sebuah grup mafia penyedia berita sensasional semacam itu, dengan rapi gentayangann menawarkan program tersebut kepada stasiun televisi. Beberapa diantaranya sudah sukses dan ditayangkan. Mereka sudah sangat berpengalaman, sehingga hasil liputannya seolah berdasarkan fakta, padahal sebagian besar hasil rekayasa. Lagi-lagi publik yang menjadi korbannya.

Program informasi kriminal pun setali tiga uang. Praktik kebohongan juga berkali-kali tejadi dan malah menjadi salah satu modus pekerja media. Mereka punya acara harian berisi informasi kriminal. Logikanya, mereka akan senang jika slot informasi kriminal tersebut selalu terpenuhi. Tapi fakta harian kadang tidak selalu sesuai harapan. Ada hari-hari tertentu yang sepi dari kejadian kriminal, dan bisa berakibat pada tak terisinya slot program. Para pemburu informasipun selalu ditarget untuk mendapatkan sebuah liputan atau lebih. Harus. Kalau tidak dapat, risikonya adalah catatan kinerjanya ditulis buruk.

Alhasil, lagi-lagi rekayasa menjadi jalan keluar. Seperti kisah seorang produser yang tahu persis kelakukan anak buahnya. Setiap kali mangkal di sebuah pos polsek misalnya, jika sampai jam tertentu tidak ada laporan kriminal, maka tim reporter bekerja sama dengan aparat untuk membuat berita. Macam-macam bentuknya. Ada yang sengaja menggerebek sebuah tempat judi, atau menjaring PSK (pekerja seks komersial) dan sejenisnya. Maka jangan heran jika pada acara-cara penggerebekan yang seharusnya bersifat rahasia itu, awak media info kriminal, ikut menyertai petugas dengan kamera dan lampunya yang terang benderang di tengah kegelapan.

Akibat Persaingan Industri
Semua ini terjadi akibat persaingan industri televisi yang kian ketat. Setiap stasiun berloma-lomba menyajikan program yang paling menarik buat publik. Tapi mereka kadang menghalalkan segala cara, dan melupakan etika, sehingga dampak program tersebut kepada masyarakat dinomor-sekiankan. Praktik-praktik semacam itu masih terus terjadi sampai detik ini, dan masyarakat, kita, para pengawasn dan pemerhati, seolah tidak berdaya menghadapi kondisi ini. “Anjing menggonggong kafilah berlalu,” mungkin begitu pendirian mereka.

Ah entahlah, Indonesia memang makin edan!

Read Full Post »

“Rekan Achir, silahkan dengan laporan Anda,” ucap pembawa acara Liputan 6, Duma.
“Baik, Duma terima kasih. Saat ini, saya sedang berada di kawasan…”

Cuplikan dialog di atas merupakan salah satu penggalan proses laporan langsung berita di sebuah stasiun televisi. Sudah menjadi kebiasaan kebanyakan stasiun televisi atau radio, untuk berdialog atau membuat semacam kata pengantar sebelum laporan langsung terjadi. Mereka biasanya saling menyebut nama masing-masing, sebagai sapaan yang memperlancar proses dialog.

“Rekan Duma, sampai laporan ini kami sampaikan…” ucap Achir melanjutkan laporannya, “Kembali ditemukan seorang korban tewas…”

Kembali nama anchor disebut reporter dalam laporannya, ketika menjawab pertanyaan anchor. Di beberapa stasiun televisi dan radio, anchor atau penyiar seringkali memberikan pertanyaan lanjutan setelah reporter memberikan laporan langsungnya. Dan celakanya, mereka seperti berdialog berdua dan melupakan para penonton atau pendengar. Si reporter seolah-olah memberikan informasi kepada presenternya, bukan kepada pemirsa.

Mengabaikan Pendengar atau Penonton
Sebuah kesalahan fatal yang sering terjadi ketika reporter di lapangan dan penyiar di studio berdialog. Mereka seolah berbicara berdua saja, sedangkan penonton dan pendengar diabaikan. Padahal, laporan reporter bukan untuk penyiar melainkan bagi kepentingan publik (penonton dan pendengar). Seharusnya, mereka menyapa atau menyebut pemirsa dalam contoh kalimat di atas.

Misal:
“Ya pemirsa, sampai laporan ini kami informasikan kepada Anda, sudah kembali ditemukan satu korban tewas…”

Jadi, meski yang bertanya adalah penyiar, seorang reporter tetap harus memberikan jawaban buat pemirsa, bukan untuk penyiar. Kenapa? Karena mereka siaran untuk publik. Jangan pernah sekali-kali mengabaikan pemirsa.   Mereka butuh disapa, disentuh, dan diwakili kepentingannya. Setiap laporan, setiap informasi, setiap pertanyaan dari kru televisi, selalu dan harus mewakili kepentingan publik. Kita bisa melihat apakah pertanyaan seorang pembawa acara atau reporter, berkualitas atau tidak, dari isinya. Jika isinya mewakili pertanyaan publik, kita pasti akan senang dan menganggap pertanyaannya berkualitas. Sebaliknya, jika pertanyaannya kebanyakan pertanyaan titipan dari yang berkepentingan (bukan publik) yang biasanya tidak mewakili publik, kita pasti kecewa dan menganggap pertanyaannya tidak bermutu.

Demikian pula ketika reportase langsung. Seorang penyiar dan reporter di lapangan, seyogyanya berbicara kepada pemirsa mereka, bukan asyik berdialog antar mereka sendiri. Apalagi melaporkan apa yang dilihat, didengar dan diperolehnya di lapangan, untuk presenter di studio.

Salah kaprah!

Dodi Mawardi
Penulis, Pengajar dan Pengamat Media Mass Elektronik

Read Full Post »

Rabu malam kemarin (Rabu, 12 November 2008) saya terpaksa melek lebih lama dari biasanya. Ghalibnya saya memejamkan mata sebelum jam 12 malam. Tapi kali ini tidak. Saya membuka mata dan menuliskan curahan hati ini sampai lewat jam 1 malam, karena tidak mampu menahan gejolak.


Tengah malam itu, SCTV menampilkan diskusi yang sangat menarik, pengaruh media massa terhadap publik yang dipicu oleh kasus eksekusi Amrozi dan kawan-kawan serta pembunuhan mutilasi.


Hati saya ‘remuk’ mendengar komentar dari sebagian pembicara yang jumlahnya mencapai 10 orang. Mereka adalah petinggi televisi (Karni Ilyas-Uni Lubis-Iskandar Siahaan), petinggi koran (dari Kompas), pengamat media massa (Agus Sudibyo/Veven) dan pakar sosiologi (Imam Prasojo) serta dari KPI (Don Bosco) dan Dewan Pers (Bambang Harimurti).


Sebagai orang media (walaupun jauh lebih junior dibanding para pembicara) saya merasa sedih mendengar pikiran sebagian dari mereka.


Pertama, mereka meragukan pengaruh media massa terhadap publik. Atau cenderung meremehkan dampak media. Sebuah keraguan/peremehtemehan yang dilandasi oleh kesombongan dan industri.


Kesombongan karena merasa sudah melakukan tugas sesuai aturan. Industri karena mereka berlomba-lomba menampilkan acara yang paling menarik buat publik sehingga mampu menghasilkan iklan. Mereka lupa prinsip dasar bisnis, bahwa kata terakhir ada di tangan konsumen. Dalam media massa maka pemegang kuasa utama adalah pembaca, penonton atau pendengar. Mereka juga lupa bahwa konten dan kemasan mereka punya nilai tertentu. Yang jika keliru, maka dampaknya pun akan berbeda.



Kok bisa meragukan dan meremehkan kekuatan/peengaruh media?

Lalu buat apa ada iklan di media massa? buat apa kita lelah merancang publikasi melalui media massa?


Kalau orang media sendiri meragukan dampak media massa, lalu kenapa menarik pihak lain untuk beriklan dengan iming-iming dampak yang besar?

BODOH SEKALI!



Simak perkataan Iskandar Siahan dari Liputan 6 SCTV. Dia ‘menyalahkan’ IMAM PRASOJO sebagai akademisi agar jangan hanya berkomentar tapi juga membuat lebih banyak riset tentang dampak media. Lagi-lagi menunjukkan kebodohan orang media.


Tolong buka buku, browsing internet, dan masuklah ke perpustakaan. Sudah banyak riset tentang dampak media massa dan sudah terbukti bahwa media massa memang punya dampak besar. Besar kecilnya tergantung jenis medianya. Anda yang malas membaca!


Kedua, mereka (sebagian orang media massa) memang selalu merasa benar. Tidak mau dikritik, tidak mau disalahkan dan selalu terlalu mudah menyalahkan pihak lain; Menyalahkan aparat keamanan, menyudutkan pemerintah dan pihak lain yang bisa dikambinghitamkan.


Uni Lubis petinggi televisi itu sempat menyalahkan aparat yang menceritakan proses eksekusi Amrozi.

Kira-kira begini kutipannya: ”Dia menceritakan Amrozi membuka matanya ketika eksekusi dilakukan. Buat apa dia menceritakan itu? Seolah-olah Amrozi adalah gagah berani???”


Sayang sekali pertanyaan itu muncul dari seorang Uni Lubis yang seharusnya sudah kenyang pengalaman. Pertanyaan saya sederhana saja, ”KENAPA ANDA MENYIARKAN INFORMASI (tepatnya pernyataan) SAMPAH SEPERTI ITU?”


Apakah publik hanya menjadi tempat sampah buat media? Saring dulu dong. Olah dulu semua informasi sebelum disampaikan ke publik. Sekali lagi, publik bukan tong sampah!


Anda – teman-teman wartawan – dididik tinggi-tinggi untuk mampu mengolah dan menyaring informasi, agar publik mendapatkan informasi bermutu tinggi. Bukan INFORMASI SAMPAH! Kalau hanya menyampaikan informasi sampah, office boy juga bisa. Tak perlu tenaga wartawan berpendidikan minimal S1.


Karni Ilyas yang sebelumnya sempat saya kagumi, ternyata juga setali tiga uang. Dia lebih parah lagi, selain menyepelekan dampak tayangan mereka, juga menyalahkan publik yang punya persepsi keliru terhadap tayangan media massa.


Alamaaaaak…



Mau dibawa kemana bangsa ini, kalau orang-orang media massa yang bangga menyebut diri sebagai pilar kelima negara ini, punya pendirian seperti itu.


Ah, haruskah saya malu menjadi orang media massa!

Read Full Post »

“Halo pemirsa apa kabar? Aduh semoga Anda semua baik-baik saja hari ini…Dan akan lebih baik lagi karena sekarang Anda ditemani oleh saya… dalam acara kesayangan kita semua…”

Sapaan semacam itu mungkin terasa biasa saja. Toh hampir semua penyiar televisi memberikan sapaan itu, setiap kali membuka acara hiburan. Tapi, sapaan itu menjadi istimewa karena yang menyampaikannya adalah seorang lelaki. Lelaki tulen. Yang membuatnya tidak tulen adalah gaya bicaranya dan gerak tubuhnya yang kemayu. Kemayu = cenderung kewanita-wanitaan.

Ternyata, pembawa acara kemayu jenis ini sangat disukai pemirsa. Kata siapa? Saya tidak pernah mendengar siapapun yang berkata itu, tapi fakta lah yang berbicara. Hampir semua stasiun televisi, menampilkan satu atau dua presenter kemayu yang membawakan acara hiburan. Bisa program infotainment, reality show atau talkshow. Bahkan televisi yang punya cap khusus sebagai tv berita dan tv pemilu pun, ikut-ikutan menampilkan penyiar kemayu.

Artinya apa? Pemirsa memang menyukainya, karena pengelola tv pasti memertimbangkan alasan itu sebagai dasar memilih pembawa acara kemayu. Mungkin rating program yang dibawakan pria kemayu, lebih tinggi ketimbang program lainnya. Padahal, tidak sedikit pemirsa yang jijik melihat penyiar kemayu.

Sayang pengelola tv tidak pernah memikirkan dampak jangka panjangnya. Diakui atau tidak, televisi telah ikut serta menyebarkan perilaku tidak normal dari seorang anak manusia kepada publik. Perilaku semacam itu – lelaki kemayu – merupakan hal yang tidak normal, yang jika disebarluaskan akan menimbulkan banyak efek negatif. Saya akui, faktanya memang ada manusia berjenis kelamin lelaki yang dari sananya memang ditakdirkan untuk kemayu. Hormon-hormon kelelakian mereka mungkin kurang, sehingga cenderung kewanita-wanitaan.

Tapi tidak untuk mereka yang memanfaatkan kekemayuannya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Mereka mengeksploitasi diri dan rela dieksploitasi oleh industri kapitalis yang bernama televisi. Eksploitasi ini cukup mengganggu beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya.

Apa jadinya negeri ini jika anak-anak lelaki seantero nusantara, terpengaruh dengan gaya kemayu para lelaki tulen tersebut? 50% pria Indonesia pada beberapa tahun mendatang adalah lelaki kemayu. Anda rela menerima kenyataan itu? Saya sih tidak mampu membayangkannya!

Saya ngeri menyaksikan suatu saat Indonesia tercinta menjadi negeri para banci. Walaupun saat ini, banyak dari kita yang sudah bertindak banci dalam segala hal.

Read Full Post »

Saya punya mentor jurnalistik yang sangat hebat. Namanya Andreas Harsono. Beberapa tahun silam, saya sering berkomunikasi langsung dengannya. Satu hal yang saya ingat betul pelajaran berharga darinya adalah… janganlah jadi wartawan yang pemalas. Jadilah wartawan yang rajin, selalu ingin tahu tapi tidak sok tahu, dan anggaplah pembaca/pendengar/pemirsa kita adalah orang-orang pintar. Sampai sekarang, wejangan itu masih saya terapkan, meskipun saya sudah jauh menarik diri dari pers. Sekarang saya menjadi penulis independen, yang tidak terikat dengan lembaga apapun dan tidak terikat untuk menulis apapun.

Apa yang diwanti-wanti mentor saya itu memang marak terjadi di dunia pers, terutama sejak masa reformasi bergulir.  Media massa tumbuh subur, sedangkan sumber daya manusianya masih kurang. Secara kuantitas mencukupi karena banyak sekali pengangguran yang butuh pekerjaan. Tapi dari segi kualitas, jelas masih sangat timpang. Banyak sekali wartawan dadakan, yang sama sekali belum bisa menulis ketika mulai menjalani profesi wartawan. Banyak juga wartawan yang baru training sehari dua hari, lalu langsung terjun ke lapangan.

Sebenarnya sudah banyak contoh wartawan malas, yang sering saya ungkap. Tapi hari ini, kembali saya terusik dengan wartawan malas ini ketika melihat Berita Nusantara di TVRI. Saya jarang melihat stasiun TV milik publik tersebut. Begitu menonton, sebuah fakta wartawan malas langsung keluar.

Seorang reporter mewawancarai petani tambak di Jambi, yang terkena banjir. Naskah yang dibacakannya menyebutkan, kerugian petani itu akibat banjir mencapai puluhan juta rupiah. Lalu muncullah petikan wawancaranya. Seorang bapak tua pemilik tambak,
“Ditambak itu ada sekitar 15 ribu ekor (bibit) ikan. Habis semuanya…”
“Jadi kerugiannya berapa pak?” tanya sang reporter.
“Hitung aja mbak, 15 ribu dikali 200 rupiah per ekor. Ya sekitar 300 ribu, eh 30 juta…” papar pak tani itu.

Saya yakin Anda tidak semalas reporter tersebut. Silahkan bantu reporter itu untuk menghitung, karena dia malas untuk menghitung kembali. Jelas angkanya bukan 30 juta, melainkan hanya Rp 3 juta.

Banyak sekali reporter semacam ini, yang malas mencerna kembali apa yang diucapkan narasumber. Mereka hanya mau disuapi plus dikunyahkan sekalian. Contoh diatas kebetulan adalah contoh yang sangat mudah, karena menyangkut angka. Jangankan reporter sekelas TVRI daerah Jambi, wartawan sekaliber koran Kompas pun, beberapa kali melakukan kekeliruan semacam itu. Menyebut angka juta tertukar dengan miliar atau sebaliknya.

Lihatlah wartawan-wartawan politik atau nasional. Apa yang mereka dapatkan dari narasumber, itulah yang disampaikan kepada publik. Tanpa saringan sama sekali. Hanya segelintir media yang membuat saringan, melakukan cover both side dan memberikan informasi berkualitas kepada publik. Bukan hanya informasi adu mulut antar tokoh, yang sering membual dan isinya hanya sampah. Publik tidak butuh sampah. Publik butuh informasi berkualitas yang sudah diolah oleh koki-koki (wartawan) bermutu.

Semoga ke depan wartawan kita tidak lebih malas daripada kebanyakan wartawan sekarang.

Read Full Post »

Sulit, bahkan mungkin sangat sulit menemukan sebuah keluarga tanpa televisi di rumahnya. Anda pasti harus masuk ke pelosok kampung paling terpencil, baru menemukan sebuah rumah tanpa televisi – kalau Anda beruntung. Faktanya menunjukkan demikian, karena televisi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Bahkan mereka yang belum masuk kategori modern pun, atau yang ikut-ikutan modern, juga menjadikan televisi sebagai bagian dari gaya hidupnya. Saya seringkali menemukan fakta, mereka yang masuk kategori dibawah garis kemiskinan toh masih memiliki pesawat televisi di rumahnya, meski hitam putih.

Televisi menjadi teman dalam menjalani aktivitas masyarakat. Sayang, teman yang satu ini seringkali seperti berbulu domba tapi berhati srigala. Yang tampak bagus-bagus dan melambungkan angan-angan serta fantasi, tapi sesungguhnya sebagian besar hanyalah fantasi kosong bahkan berisi racun mematikan. Pemirsa seringkali disuguhi tontotan yang menyegarkan, membuat tertawa, diajak merenung dan bersedih, tegang serta segala macam perasaan lainnya. Tapi ujung-ujungnya membuat pemirsa malas, tidak produktif bahkan kadang menyebabkan perilaku destruktif. Yang sayangnya, jarang sekali disadari oleh pemirsa sendiri.

Saya pernah mencoba menghilangkan televisi dari rumah. Istri sudah setuju. Sedangkan anak kami masih kecil (baru berusia 3 tahun) sehingga belum mengerti. Tapi upaya itu gagal. Hanya bertahan beberapa hari saja, karena kemudian orang tua saya menghadiahi kami sebuah televisi baru. Owalah… bagaimana menolak pemberian orang tua? Akhirnya kebiasaan saya menonton siaran langsung sepakbola manca negara kembali menggelora dan kerap mendapatkan ledekan dari istri. Sekarang, di rumah kami (bergabung lagi dengan orang tua) malah ada tiga pesawat televisi. Untungnya, tidak seorangpun dari kami kecanduan.

Hanya sesekali saja saya melihat tayangan sepakbola. Itupun cuma yang sore hari, atau dibawah jam 10 malam. Silahkan hitung, berapa banyak tayangan sepakbola dibawah jam 10 malam, khususnya di akhir pekan. Istri saya sama sekali tidak suka sinetron, malah merasa jijik dengan sebagian besar sinema elektronik itu. Dua anak-anak sedang gemar-gemarnya menonton, tapi mereka menuruti jadwal yang kami buat, meski sesekali kecolongan. Sedangkan orang tua kami, tidak mungkin menjadi pencandu televisi karena lebih suka mendekatkan diri pada ilahi. Pembantu? Mana mungkin mencandu, karena waktu mereka sangat terbatas untuk menonton.

Keluarga yang seperti kami, mungkin banyak jumlahnya, yaitu yang memiliki televisi lebih dari satu di rumahnya. Para tetangga di kompleks kami saja, rata-rata punya dua buah pesawat televisi. Kebiasaan inilah yang mungkin membuat para produsen televisi sumringah. Bayangkan setiap tahun mereka selalu mengalami kenaikan penjualan sampai 20 persen. Apalagi menjelang event-even tertentu seperti Piala Dunia Sepakbola, jualan mereka melonjak tajam. Tapi kami tidak tahu, apakah mereka yang punya televisi lebih dari satu, mencandu atau tidak. Karena berbagai fakta menunjukkan, candu justru lebih banyak terjadi pada masyarakat menengah bawah.

Meski gagal menghilangkan televisi dari rumah, saya tidak kecewa. Karena dengan kondisi sekarang, saya akan lebih mudah mencoba kembali pada suatu hari nanti. Teman saya seorang pengusaha donat sudah membuktikan, tanpa televisi mereka justru bisa hidup lebih nyaman. Sebuah upaya yang kembali meneguhkan niat saya untuk mengikuti langkahnya.

Ketika dia berniat menyingkirkan televisi dari rumahnya, teman pengusaha ini mendapatkan penolakan luar biasa dari anggota keluarga. Istrinya langsung cemberut dan menentang rencana itu. Dia bagaimanapun, masih suka televisi terutama acara-acara yang berkaitan dengan wanita. Anak-anaknya yang lima orang, tiga diantara belajar di SD, terang-terangan berontak. “Ayah sewenang-wenang!” demikian mereka mengumpat. Tapi rencana itu jalan terus.

Sehari dua hari, keluarga itu seperti kuburan. Masing-masing dari mereka bungkam dengan bibir ditekuk ke bawah, manyun dan cemberut. Tidak ada lagi suara berisik speaker televisi yang membuat anggota keluarga itu membisu atau tertawa. Bisu yang sekarang lain karena mereka masih memendam kekecewaan mendalam. Sebagian anak-anak sengaja pergi ke rumah tetangga, untuk menonton tv. Sesuai dengan perkiraan istrinya, ketika menolak rencana, “Nanti anak-anak lebih sering ke rumah tetangga.” Seperti mengancam, yang dijawab dengan enteng oleh teman pengusaha itu, “Biarin deh, dengan begitu mereka akan lebih sering bersosialisasi dengan tetangga.”

Hari-hari berikutnya, mulai muncul aktivitas yang selama ini tidak ada. Sudah tidak bisa lagi, karena anak-anak mencari kesibukannya masing-masing. Ada yang bergabung dan bermain petak umpet. Ada yang belajar bersama. Ada juga yang lebih suka mengurung diri di kamarnya. Tetap dengan mulut terkunci rapat, karena masih menyesalkan hilangnya si kotak ajaib teman hidup dari rumahnya. “Ayah jahat,” batin mereka.

Tapi sebulan kemudian, semuanya berubah total. Istrinya justru berbalik memuji langkah sang suami. Lho kenapa? “Dulu anak-anak susah sekali disuruh mengerjakan PR. Alasannya mau nonton ini dulu atau itu dulu. Bangun pagi juga susah sekali, karena tidurnya kemalaman nonton acara teve,” ungkanya menjelaskan. “Sekarang, mereka lebih mudah diatur. Bangun pagi kompak dan lebih pagi. Kita jadi selalu bisa sholat subuh berjamaah…” katanya tulus. “Dulu wah, sulit sekali membangunkan mereka…”

Suami mana yang tidak senang dengan hasil seperti itu. Perjuangannya melawan penentangan keluarganya sendiri berujung menggembirakan. Sejak saat itu, dia tambah yakin bahwa kehadiran televisi telah membuat keluarganya kurang teratur. Jadwal dan aturan yang dibuatnya selalu mentah karena satu alasan, bentrok dengan acara televisi. Belum lagi dampak moral yang membuat sebagian anaknya bertingkah laku seperti adegan di teve.

Beberapa bulan kemudian, dampak ketiadaan televisi di rumahnya itu semakin membanggakan. Prestasi anak-anaknya di sekolah membaik secara drastis. Mereka masuk ke dalam daftar siswa berprestasi dengan peringkat sangat baik. Minimal 10 besar. Padahal sebelumnya, boro-boro 10 besar. Nilai-nilanya saja pas-pasan. Kenapa bisa begitu? Ternyata, ketiadaan televisi membuat mereka lebih leluasa beraktivitas dan belajar. Sebelum berangkat ke sekolah, mereka tidak lagi menonton teve melainkan membuka-buka buku pelajaran. Demikian pula sepulang sekolah. Teve benar-benar sudah terhapus dari memori mereka. Sebagai gantinya, teman pengusaha itu menyediakan komputer dan buku, untuk memanjakan anak-anaknya.

Anda mau mencobanya?

Read Full Post »

Orang yang satu ini boleh disebut sebagai salah satu pentolan hebat di dunia pertelevisian. Jabatan-jabatan bergengsi pernah digenggamnya di sejumlah stasiun televisi swasta nasional. Dia memang punya kemampuan lebih khususnya pada program-program berita dibanding SDM lain di Indonesia. Setiap program berita atau informasi yang dikemasnya, selalu mendapatkan respon positif dari masyarakat. Padahal dia sendiri tidak pintar berbicara di depan publik atau di depan kamera. Tapi kehebatannya meramu acara, luar biasa. Maka jangan heran bila dia dengan mudah melompat dari satu stasiun ke stasiun lainnya.

Saya lumayan kenal dekat dengannya, karena kami sama-sama pengajar di sebuah perguruan tinggi. Saya mengajar mata kuliah untuk penyiaran radio, sedangkan dia memberikan materi siaran televisi. Meski jarang berkomunikasi secara langsung, tapi berkali-kali kami sempat saling berkirim email. Saya biasanya yang mendahului mengirim email, karena saya lebih junior sehingga butuh banyak bantuan dan informasi dari orang sekelas dia.

Sempat pula kami berdiskusi tentang efek siaran televisi, yang menurut saya lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaat. Tentu saja sebagai praktisi teve, dia mengajukan berbagai alasan, yang intinya menolak disebut sebagai pembawa mudharat. Tergantung penonton sendiri dalam menyikapi sebuah tayangan, apakag diterima bulat-bulat atau disaring dulu. Begitu alasannya. Walaupun lebih jauh dia mengakui, masih ada beberapa program yang sama sekali tidak bermafaat.

Tapi dari kolega yang lain saya sempat mendapatkan informasi mengejutkan tentangnya. Katanya, sang direktur itu melarang anaknya menonton siaran di televisi tempatnya bekerja. Lho… kenapa? Bukankah dia ikut merancang acara di stasiun televisinya? Kalau dia yakin acaranya baik, bagus dan bermanfaat, kenapa anaknya dilarang menonton. Memang anaknya masih kecil, tapi seperti kata pengelola teve, kana masih banyak acara anak yang baik, yang ditempatkan pada jam-jam anak. Seharusnya tidak ada alasan direktur tersebut melarang anaknya menonton televisinya sendiri.

Apa boleh buat, saya menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Dan jawaban yang diberikan sama sekali tidak mengejutkan. Inilah yang dilakukan oleh para pengamat dan aktivis yang anti siaran televisi negatif, yaitu melarang anaknya menonton, karena acara itu tidak mendidik. Direktur itu setuju, bahwa banyak acara teve yang tidak sesuai untuk dikonsumsi anak-anak, bahkan program yang ada di televisinya sendiri. Dia khawatir, anaknya akan terkontaminasi oleh racun-racun yang merambat melalui gelombang elektromagnetik tersebut.

Larangan itu berlaku untuk semua tayangan televisi Indonesia. Dia hanya membolehkan anaknya yang masih kecil itu untuk melihat tayangan discovery channel atau animal planet. Kedua stasiun teve ini, hanya menayangkan dokumenter, pendidikan alam dan kehidupan satwa. Hampir sebagian besar orang sepakat, tayangan tersebut lumayan baik buat dikonsumsi. Meskipun tetap saja, diam terpaku di depan televisi bukanlah kebiasaan yang dianjurkan.

Melihat kenyataan itu, saya mau tidak mau harus mengelus dada. Bahkan dengan keras, karena ironis sekali. Seorang pembuat program televisi, melarang anaknya melihat hasil ramuan sang ayah. Jika dia yakin ramuannya baik, pasti tidak akan melarang. Lalu bagaimana dengan puluhan juta anak lainnya, yang karena tidak tahu atau karena ketidakpedulian orang tuanya, dengan sukarela melahap tayangan-tayangan tidak bermutu itu?

Read Full Post »

 Sebenarnya saya sebal dengan sastrawati yang satu ini. Dia menulis beberapa novel dengan isi yang tidak mendidik bangsa ini, untuk menghormati budaya luhur dan tata krama sopan santun. Dia justru menulis cerita yang terlalu berat dengan budaya Amerika, yang bebas dan individualistis. Tapi dia juga kebablasan dalam mencerna budaya bangsa lain tersebut. Karena di Amerika sendiri, masih banyak orang dan kelompok yang tetap menjaga diri dari kebabablasan kebebasan dan individualistis. Sejumlah pengamat sastra dari negara lain menyebut kelompok sastrawati ini sebagai penulis birahi. Ya karena isi novelnya melulu tentang hubungan seksual yang bebas, yang digambarkan secara gamblang tanpa ada rasa ketimuran.  

Tapi bukan itu yang akan dibahas di sini. Karena seperti tertulis di judul, ternyata sastrawati pluralis itu sepakat mencap televisi sebagai media negatif. Bukan hanya isinya, melainkan juga sifat medianya yang membuat orang selalu merindukannya. Televisi tanpa menyebutkan baik buruknya isi program, mampu mengubah alur hidup seseorang. Dia rela meninggalkan tempat kerja, hanya untuk memburu acara yang disukainya, Extravaganza misalnya. Orang mau melakukan apa saja, agar tidak terlewat dengan tayangan

siaran langsung Piala Eropa atau Piala Dunia. Televisi menjadi sebuah candu.

 

Kantor-kantor pun harus mengeringkan air matanya karena ditinggal sepi pegawai, ketika Piala Dunia berlangsung di Amerika 1994 lalu. Kantor kosong tersebut bukan terjadi di Amerika, melainkan di sini di Indonesia. Negara yang tidak punya tim sepakbola bagus, yang tidak ikut serta pada pesta tersebut, tapi warganya sangat gemar main bola tendang itu. Mereka rela diam beberapa saat di rumah, untuk menyaksikan siaran langsung di pagi hari. Kalau pun pertandingannya malam, mereka terpaksa terlambat sampai di tempat kerja.

 

Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa televisi sudah membuat manusia kecanduan. Bahkan, kata sang sastrawati itu, candu televisi mungkin lebih berbahaya dibanding candu rokok atau candu lainnya. Candu rokok hanya merugikan dirinya sendiri, atau orang dekat di sekelilingnya. Tapi candu televisi lebih jauh dampaknya. Jelas merugikan dirinya sendiri, orang di sekitarnya dan masyarakat yang lebih luas lagi. Contoh kantor yang kosong itu buktinya. 

 

Akibat candu televisi, produktivitas masyarakat menurun. Memang belum ada survey yang sangat valid tentang pernyataan tersebut. Tapi cobalah Anda diam sehari di rumah pada hari kerja, lalu simaklah tingkat laku pembantu rumah Anda tanpa sepengetahuan mereka. Pasti ada saat-saat tertentu, sang pembatu tergopoh-gopoh menggapai remote control dan meninggalkan pekerjaannya. Dia sedang kecanduan sebuah judul sinetron atau kalau dulu telenovela – Maria Marcedes. Mau tdak mau, dia untuk sementara melupakan pekerjaannya.

 

Saya sendiri pernah mengalami candu itu. Rasanya luar biasa! Karena jiwa ini berdetak lebih kencang ketika menjelang siaran langsung sepakbola, yang timnya saya sukai. Kalau menjelang jam itu saya belum sampai di rumah… hmm, tidak bisa merasa tenang. Ketika sudah sampai di rumah, semua urusan dilupakan. Yang penting segera duduk manis di depan televisi lalu menikmati tayangan itu. Candu itu bahkan sempat membuat saya sengsara, karena harus bangun tengah malam atau melek terus karena takut terlewat.

 

Efek negatif candu itu sangat terasa sekarang, ketika saya menekuni dunia tulis menulis. Andaikan masih kecanduan menonton acara favorit itu, pasti saya tidak akan bisa menyelesaikan setiap tulisan. Dan setahu saya, memang tidak ada penulis yang kecanduan menonton televisi. Pola acara televisi yang linear (sesuai urutan waktu) sehingga pemirsa tidak bisa memilih, pasti akan mengganggu aktivitas menulis. Misalkan mau melihat siaran langsung sepakbola bermutu di Eropa, ya mau tidak mau harus jam 1 atau jam 2 pagi. Kalau mau lihat film box office, ya harus jam 9 atau 10 malam. Wah repot bila harus diklopkan dengan kebiasaan menulis. Maka saya bersyukur, candu itu tidak terlalu kuat menancap di benak saya.

 

Nah kalau sekarang masih banyak diantara Anda yang kecanduan menonton televisi, segeralah insyaf. Malu sekali rasanya bila dalam sebuah keluarga ada pertempuran hebat gara-gara rebutan remote control. Ibu ingin lihat telenovela/sinetron, ayah mau melihat sepakbola sedangkan anaknya merengek menonton film kartun. Bahkan sempat terdengar kabar, akibat rebutan tontonan tersebut berakibat fatal karena diwarnai aksi kekerasan. Sadarlah bahwa orang sekelas sastrawati di atas yang sangat liberal, pluralis dan individualistis saja, tidak mau menjadi budak televisi. Tidak mau kecanduan si kotak ajaib itu. Masa Anda yang masih memegang erat adat ketimuran, justru termakan teve. 

 

Read Full Post »

Older Posts »