Feeds:
Pos
Komentar

pendidikan-karakter

Konflik yang nyaris tiada ujung akhir-akhir ini, membuat resah berbagai kalangan. Konflik kali ini memang unik, karena tidak terkait dengan separatisme, kekuatan bersenjata dan sejenisnya. Konflik lebih banyak berhubungan dengan kebhinekaan dan SARA dengan bumbu intelektualitas para pihak yang terlibat plus teknologi terkini. Hal yang menarik, karena kita berada di zaman maju dan modern dengan intelektual yang lebih baik, tapi tetap berkonflik ala masa lalu. Masing-masing pihak merasa benar sendiri dan cenderung memaksakan dalam menyuarakan kepentingannya. Sebuah fakta yang akan dicatat dalam lembaran sejarah bangsa ini. Sejumlah kalangan mulai menyuarakan keresahannya, seperti kelompok-kelompok keagamaan, nasionalis dan kaum cendekia.

 

Saya melihat dari sisi yang berbeda. Mungkin bukan akar, tapi mengarah ke akar, yaitu faktor pendidikan usia dini dan dasar. Mari kita tengok bagaimana materi (kurikulum) pendidikan kita saat ini dan beberapa dekade ke belakang. Saat-saat ketika pihak-pihak yang sekarang sudah punya panggung sebagai orang dewasa berkonflik, mengenyam pendidikan. Mungkin termasuk di dalamnya saya sendiri. Sejak bangku TK (dulu belum ada atau belum banyak PAUD), kita sudah dijejali dengan muatan pendidikan akademis (khususnya kognitif serta termasuk di dalamnya keterampilan/keahlian). Sedangkan pendidikan karakter, relatif dangkal.

 

Padahal, berdasarkan hasil kajian banyak kalangan dan pendapat sebagian pakar pendidikan serta parenting, yang lebih penting ditanamkan pada usia dini dan dasar adalah pendidikan karakter. Bukan pendidikan akademis. Apalagi pendidikan karakter membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibanding pendidikan akademis. Sebuah penelitian menyebutkan, pendidikan karakter wajib tertanam dalam diri setiap manusia sejak usia 0 tahun sampai usia 15 tahun.

 

Karakter inilah yang akan menjadi pondasi dan pijakan seorang manusia, dalam mengarungi kehidupan. Dan pendidikan karakter, tidak hanya melulu dilakukan oleh sekolah/lembaga pendidikan formal, melainkan juga keterlibatan secara aktif orangtua dan lingkungan sekitarnya. “Butuh orang sekampung untuk mendidik karakter seorang anak,” kira-kira demikianlah untuk menggambarkan betapa pentingnya pendidikan karakter.

 

Silakan Anda telusuri sendiri pendidikan yang kita dapatkan selama ini, sejak PAUD, TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Pendidikan apakah yang lebih banyak kita terima? Keseimbangan antara pendidikan akademis dan karakter, timpang. Pendidikan karakter cenderung terabaikan, atau porsinya sangat tidak memadai. Orangtua (termasuk saya dulu hehe) begitu khawatir ketika anak kita yang duduk di kelas 1 SD, belum bisa membaca. Galau saat anak kita duduk di kelas 2 SD, belum bisa berhitung. Resah saat sudah kelas 6 SD, belum tahu ibukota propinsi Sumatera Barat.

 

Tapi terkesan biasa saja, saat anak belum biasa membuang sampah pada tempatnya; Tidak peduli pada orang yang lebih tua atau kurang mampu; Gagap ketika harus menghargai pendapat orang lain; Terbiasa mengejek dan menghina teman sekelasnya…

 

Padahal, bekal mengarungi kehidupan bukan melulu akademis atau keterampilan. Bekal hidup paling mahal adalah karakter dirinya, yang syarat dengan kemampuan pengendalian emosi, pengelolaan daya pikir/nalar, serta spiritualitasnya. Hal tersebut inilah yang menurut saya, menjadi cikal bakal penyebab kenapa sejak Era Reformasi, bangsa kita belum juga menemukan titik keseimbangan baru, untuk tinggal landas membangun bangsanya secara bersama-sama. Mengedepankan kepentingan umum, dibanding kepentingan diri (ego) dan kelompoknya. Kita masih terlalu sibuk mengurusi ego, ketersinggungan SARA, dan sejenisnya, lalu berkonflik.

 

Lihatlah sejumlah negara lain, yang pendidikan karakternya sudah relatif baik. Misal di sejumlah negara skandinavia (Eropa bagian utara). Sejak usia dini, mereka dijejali dengan pendidikan karakter, sesuai dengan apa yang mereka yakini (karakter setiap bangsa berbeda-beda, meski sebagian besar tetap sama dan berlaku universal). Finlandia selalu menjadi contoh pendidikan karakter usia dini sampai umur 15 tahun.  Pendidikan dini dan dasar menyeimbangkan antara pola pikir (mindset), soft skill (termasuk karakter di dalamnya) dan life skill. Hasilnya, negara-negara skandinavia selalu menempati urutan teratas sebagai: negara paling bersih, negara paling rapi, negara paling bebas korupsi, dan negara yang warganya paling bahagia. Dan yang pasti, di sana: minim konflik. Problem solving menjadi salah satu materi pembelajaran utama di sekolah. Dan konflik serta kekerasan, bukan jalan keluar masalah!

 

Namun, saya optimistis. Kondisi sekarang ini di Indonesia akan segera berlalu. Mulai muncul generasi baru yang sudah mendapatkan pendidikan karakter memadai, yang bibit-bibit berikutnya masih terus dipupuk sampai sekarang. Makin banyak sekolah yang lebih mengedepankan dan menyeimbangkan pendidikan karakter dengan akademis. Makin banyak pula orangtua yang sadar tentang pendidikan karakter.

 

Semoga para pemimpin bangsa ini di berbagai bidang kehidupan, politik, sosial, ekonomi, budaya, agama, militer dan sebagainya, makin memberikan perhatian yang nyata terhadap pendidikan karakter. Bukan sekadar slogan atau jargon, tapi benar-benar merealisasikannya. Para pemimpin itu juga harus sadar bahwa pemikiran, ucapan, dan perbuatan mereka mencerminkan karakternya, serta menjadi cermin buat seluruh bangsa, termasuk anak-anak kita.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/pendidikan-karakter-manjur-kurangi-konflik_58883044907a61c910ed7fcc

Iklan

 

2018, Perlukah Sumpah Pemuda Baru Untuk Indonesia?

oleh Dodi Mawardi

foto-bendera-merah-putih-raksasa-akan-dikibarkan-di-lokasi-deklarasi-gam

Keindonesiaan bangsa ini benar-benar sedang diuji. Sejak Jokowi naik ke tahta kekuasaan, PR besar pemerintah adalah merawat kebhinekaan. Indonesia ibarat sebuah pohon besar yang sangat rindang, beragam dahan dan ranting, serta berbuah lebat. Banyak pihak kepincut untuk memetik buah-buahan tersebut. Bahkan, kalau perlu mengijonnya. Kebhinekaan Indonesia sudah mengalami pasang surut, selama puluhan tahun sejak kemerdekaan. Padahal, kebhinekaan itu sudah ditanam dan dipupuk sejak 1928, ketika sumpah pemuda dikumandangkan.

 

Menengok catatan sejarah bangsa ini, ada satu hal yang menarik. Pada 1908, orang-orang se-Nusantara yang belum menjadi Indonesia, menunjukkan kebangkitan diri dalam berjuang melawan penjajah, lewat lahirnya Boedi Utomo. Perjuangan melawan penjajah berubah strategi dari hanya perjuang fisik, ditambah dengan perjuangan intelektual dan diplomasi. Semangat persatuan mulai mekar. Momentum itu diabadikan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Nama dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, wajib dikenang sebagai pelopornya.

 

20 tahun kemudian, strategi non fisik tersebut semakin mengerucut dalam semangat kebersamaan lewat pemuda-pemuda bervisi jauh ke depan, dalam bentuk Sumpah Pemuda (1928). Semangat mereka muncul berkat gerakan Boedi Utomo. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menyelenggarakan kongres untuk menyatukan Indonesia. Pada kongres pertama 1928, perwakilan pemuda dari seluruh Indonesia hadir dan menyatakan sumpah yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda.  Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb., hadir serta pengamat dari pemuda Tiong Hoa yaitu Kwee Thiam Hong dkk.

 

Kebhinekaan kita melebur dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sejarah bangsa sudah memberikan cermin kepada kita, tentang cikal bakal negeri ini yang dibangun dari keberagaman. Nenek moyang kita bersatu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kemerdekaan dari penjajahan. Hasilnya, 1945 Indonesia benar-benar merdeka. 17 tahun setelah Sumpah Pemuda berkumandang. 37 tahun setelah strategi perjuangan berubah.

 

Sekarang, Indonesia mengalami ujian hebat. Sesungguhnya terjadi sejak 1990-an, ketika rakyat tidak lagi mau dipimpin oleh rezim otoriter. 1998, dipelopori oleh mahasiswa (dan pemuda), kita mengubah diri (reformasi), mengganti rezim otoriter dengan pemerintahan demokratis. Kita memasuki era baru, semangat baru, era Reformasi. Semangat itu seharusnya terus ada dalam diri bangsa ini seperti yang ditunjukkan pemuda Indonesia pada masa lalu. Saat itu pun, pasti terjadi banyak perbedaan dan selisih paham. Namun, dengan satu tujuan yang sama, semuanya bisa disatukan.

 

Melihat kondisi sekarang, saya jadi flashback ke 1928. Tahun depan, yaitu 2018, persis 20 tahun setelah terjadinya Reformasi. Pemuda Indonesia pada masa 1928, menguatkan tekad kembali untuk bersatu yang dimulai oleh Boedi Utomo 20 tahun sebelumnya. Menyemaikan semangat 1908, agar terus menjadi pegangan dalam perjuangan memerdekaan Indonesia. Apakah 2018 ini kita juga harus kembali merevitalisasi semangat 1998? Semangat Reformasi? Menumbuhkan kembali tujuan dan cita-cita Reformasi yang sekarang seperti dilupakan oleh sebagian anak bangsa.

 

Jika 2018, kita kembali bersama-sama bersumpah menyatakan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa plus satu tujaun bersama, maka cita-cita Reformasi akan tercapai. Sama seperti cita-cita Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Bung Karno dan lain-lain, yang terwujud pada 1945. Indonesia merdeka. Cita-cita Reformasi bukan tidak mungkin akan terwujud atau mulai terwujud pada tahun 2035 (jika mengikuti pola 1908 – 1928 – 1945 — 1998 – 2018 – 2035). Ingat, pada tahun 2035, Indonesia sedang berada pada kondisi surplus penduduk produktif yang mencapai sekitar 65% total penduduk. Bonus demografi yang dimulai sejak tahun 2020 nanti.

 

Bonus demografi itu akan benar-benar menguntungkan, jika kita menyiapkan mereka dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan, termasuk pemahaman tentang kebangsaan. Ingat, dr. Wahidin mengubah strategi perjuangan fisik/kekerasan menjadi perjuangan intelektual dan diplomasi pada 1908, lebih dari 100 tahun lalu. Jadi kalau sekarang kita masih menggunakan hanya intelektual dan diplomasi, maka hal itu sudah basi. Apalagi jika menggunakan strategi kekerasan, fisik dan otot, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Kuno banget!

 

Kita butuh strategi yang jauh lebih baik dibanding otot (kekerasan/fisik) dan lebih maju dibanding otak (intelektual/diplomasi). Apa itu?

 

Ah ayo kita bersumpah dulu untuk tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa… plus satu cita-cita bersama!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

????

Miftakhul Ahsan dan penulis

Dia adalah mantan pilot Qatar Airways. Sebelumnya, dia mengabdi di maskapai Garuda Indonesia. Lebih dari 20 tahun menjalani profesi tersebut, dan membawanya melanglang buana. Kini, dia tak lagi mengawaki pesawat. Sejak beberapa bulan silam, dia memutuskan berhenti, untuk mengabdi di kampung halamannya. Sebuah bukit kapur disulapnya menjadi tempat wisata yang menarik. Miftakhul Ahsan, nama mantan pilot tersebut. Dia punya cita-cita luhur untuk berkarya di kampung, mengembangkan bisnis wisata edukasi. Miftah lahir di Tulung Agung, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Blitar, lokasi tempat wisata yang sedang dirintisnya.

Sekilas, lokasi wisata ini sama sekali tidak menjanjikan. Panas dan gersang. Demikian kesan kami ketika berkunjung ke sana. Debu masih leluasa beterbangan. Lokasinya persis di perbatasan Blitar dan Tulung Agung, di kecamatan Kademangan. Di wilayah ini terdapat bukit-bukit yang berderet-deret, seolah memisahkan wilayah pantai dengan daratan. Sebelah kiri adalah wilayah perkotaan Tulung Agung dan Blitar, sedangkan di balik bukitnya adalah wilayah menuju pantai selatan.

bukit-bunda-4

Di salah satu bukit itulah, Miftah mulai berkreasi. Dia menyebutnya sebagai Bukit Bunda, yang dituliskannya di atas salah satu bukit, mirip dengan tulisan Hollywood di Los Angeles sana. Setiap pengunjung yang baru datang, pasti akan bisa langsung melihat tulisan raksasa tersebut. Kenapa namanya Bukit Bunda? …”Biar semua orang bertanya,” katanya terkekeh. Blitar memang terkenal dengan wisata bukit. Di sana, juga ada Bukit Teletubbies (deretan bukit dengan rumput hijau royo-royo mirip bukit dalam film anak Teletubbies) dan Bukit Bintang (dari bukit ini pengunjung dapat leluasa dan jelas melihat bintang di malam hari serta menikmati pemandangan kota Blitar dari ketinggian).

Jika dua bukit wisata lainnya adalah wisata natural – apa adanya – maka Bukit Bunda adalah hasil paduan kondisi alam dengan kreativitas sang pilot. Dia membelah-belah bukit tersebut, menjadikannya layak daki, bahkan bisa dilalui kendaraan bermotor dan mampu memberikan kesan berbeda. Pekerjaannya belum selesai. Baru 40%. Namun, jumlah pengunjung yang datang membludak. Miftah menyediakan sejumlah spot fotografi yang sulit ditemukan di tempat lain. Keren. Dan langsung menjadi tempat favorit kalangan muda di Blitar dan Tulung Agung.

bukit-bunda-blitar-2

Jika Miftah sebagai pengelola menyebut lokasi wisatanya sebagai Bukit Bunda, mungkin pengunjung – terutama kalangan muda – akan berbeda pendapat. Sebagian mereka menyebutnya sebagai Bukit Cinta. Banyak spot romantis di sana. Bahkan ke depan, lulusan SMA Taruna Nusantara itu sedang membelah sebuah bukit lagi, akan membuat jembatan yang menyambungkan bukit yang terbelah itu. Dia menamakannya sebagai jembatan cinta, karena di jembatan itu, pengunjung dapat mengabadikan cinta mereka dengan pasangannya. Romantis sekali.

Di kaki bukit, pengelola menyediakan tempat kuliner yang bercita rasa tinggi, baik dari sisi desain maupun menunya. Terasa sekali, sentuhan seorang pilot yang sudah menginjak banyak kota di belahan bumi manapun. Dia meramunya menjadi sebuah tempat yang asyik, untuk kongkow para pengunjung. Menikmati makanan dan minuman, sambil merasakan suasana yang berbeda dilengkapi sebuah layar raksasa yang membelakangi bukit. Pengunjung yang lelah berfoto di kaki-kaki bukit yang menanjak atau di puncak bukit yang eksotis atau memanfaatkan motor trail dan mobil Komodo mengelilingi bukit, bisa beristirahat nyaman di tempat-tempat makan itu.

bukit-bunda-blitar

Hebatnya, dia merangkul warga sekitar untuk berperan besar dalam pengelolaan Bukit Bunda. Tenaga kerja yang berjumlah lebih dari 20 orang adalah warga setempat. Penyedia makanan juga warga setempat. Benar-benar memberdayakan orang-orang sekampungnya. Sebuah hal luar biasa, yang dapat menjadi contoh buat orang-orang hebat dan pintar di kota besar untuk kembali membangun kampung halamannya. Pulang ke desa, memberdayakan dan memampukan warga desa. Dengan kreativitas, Anda sangat bisa menciptakan peluang besar di desa. Miftakhul Ahsan, mantan pilot Qatar Airways dan Garuda Indonesia itu, sudah membuktikannya. Merealisasikan impian-impiannya!

 

Menurut seorang kolumnis Hawe Setiawan, bahasa Indonesia itu ajaib. Penuh mistik. Kenapa? Karena bahasa Indonesia mampu menyatukan bangsa Indonesia yang amat beragam ini. Ketika saya membaca pendapatnya, kening saya berkerut. Sambil bergumam, benar juga ya… bahasa Indonesia itu keren. Bisa menjadi pemersatu bangsa, dan layak menjadi pilar kelima yang gencar dikampanyekan MPR yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Bahasa Indonesia memang ajaib. Mungkin juga disebut sakti dan lebih sakti dibanding Pancasila, yang setiap tanggal 1 Juni sering disebut sakti. Bayangkan… Indonesia ini memiliki lebih dari 400 suku bangsa dengan ragam 700-an bahasa. Banyak sekali. Jika bahasa di seluruh dunia disatukan, maka jumlahnya tidak akan mencapai sebanyak itu. Kalau tidak percaya, silakan hitung sendiri, hehe…

 

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa induknya yaitu Melayu, yang digunakan oleh sebagian masyarakat Kalimantan, Sumatera dan Semenanjung Malaka. Ingat ya, bahasa Indonesia bukan bahasa suku mayoritas yaitu Jawa. Secara logika, seharusnya bahasa yang dipakai di Indonesia adalah bahasa Jawa, karena penggunanya jauuuh lebih banyak dibanding pengguna bahasa Melayu. Tapi ajaib! Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia-lah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Orang Jawa tidak pernah terdengar memprotes kebijakan para pendiri bangsa.

 

Tak salah jika kemudian bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan, seperti yang tercantum dalam Sumpah Pemuda. Bahasa yang satu ini memang ajaib. Semua suku bangsa yang memiliki beragam bahasa itu, legowo saja menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama. Tidak perlu pakai senjata dan penjajahan untuk menyebarkan bahasa Indonesia dari Aceh sampai ke Papua dan dari Talaud sampai ke Rote.

 

Di belahan bumi manapun, bahasa suku mayoritaslah yang biasanya menjadi bahasa utama. Lalu berurutan sesuai jumlah suku bangsanya. Kalau menilik Indonesia maka seharusnya bahasa Jawa yang menjadi bahasa utama, kemudian disusul bahasa Sunda, dan baru bahasa Melayu lalu bahasa lainnya. Tengok di Jepang, bahasa utama mereka adalah bahasa suku mayoritas yang jumlahnya lebih dari 90%. Lihat pula di China, India dan negara lainnya. Bahasa penduduk mayoritaslah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Sebagian besar demikian.

 

Kalau ada negara yang menggunakan bahasa Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol yang bukan bahasa ibu mereka sebagai bahasa resmi, hal itu terjadi akibat penjajahan. Banyak negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang menggunakan bahasa-bahasa dari Eropa tersebut sebagai bahasa resmi, karena dulu pernah lama dijajah oleh negara-negara tersebut.

 

Indonesia beda. Masyarakat kita dan para pendiri bangsa, meski sebagian fasih berbahasa Belanda (yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun), tidak menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi, atau bahasa kedua dan ketiga. Bahasa Indonesia sakti, karena mampu menaklukkan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan negeri ini. Para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia saat itu, secara aklamasi memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

 

Sakti bukan? Jadi selain Pancasila, yang juga sakti adalah bahasa Indonesia. Menurut saya pribadi, bahasa Indonesia layak menjadi PILAR KELIMA bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Dengan satu bahasa, kita sukses menjalin begitu banyak perbedaan, menjaga toleransi, hidup berdampingan dan merasa senasib sepenanggungan dengan cita-cita luhur yang sama.

 

Tanpa paksaan dan apalagi penjajahan, seluruuh rakyat Indonesia dengan sukarela dan suka cita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia ajaib dan sakti. Dan yang lebih hebat lagi adalah rakyat Indonesia yang mampu menahan egonya, untuk tidak memaksakan bahasa sukunya masing-masing sebagai bahasa resmi negara. Hebat.

 

Yang setuju angkat tangan!

 

 

 

Ha ha… tertawa dulu ya sebelum tertawa itu dilarang. Inilah fenomena dahsyat kreativitas orang Indonesia yang mewabah sampai ke seantero dunia. Dan kreativitas itu… sungguh sangat sederhana. Tidak perlu yang rumit-rumit. Cukup om telolet om.

telolet-telolet

Media sosial telah menjadi sarana warga dunia untuk mengekspresikan apapun. Baik positif mauupun negatif. Fenomena om telolet om sungguh positif. Dia lahir dari bawah, dari kelas yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya, akan mampu mengguncang dunia. Meminjam istilah sosiologi, fenomena ini berasal dari kaum jelata dan proletar.

 

Manusia generasi sekarang kembali ke khittahnya yaitu kesederhanaan. Bahagia itu sederhana. Hanya mendapatkan klakson yang diminta pun, sudah bahagia. Kreativitas itu sederhana. Hanya dengan tulisan lusuh di karton saja, sudah kreatif. Hanya memainkan klakson bus saja, sudah kreatif.

 

Dan yang lebih penting lagi, fenomena om telolet om, mampu menyatukan seluruh dunia berupa trending topic di twitter, heboh di facebook, download rame-rame di youtube dan gemuruh di media sosial lainnya. Media sosial mampu menyatukan kelas bawah — bahkan sangat bawah — dengan kelas menengah serta kaum elit di negeri ini, bahkan kaum sosialita papan amat atas di manca negara.

 

Medsos mampu menyatukan dan melupakan semua perbedaan. Siapapun bisa kena wabah om telolet om, tanpa pandang bulu, warna kulit, ideologi, agama, politik dan lain segalanya. Dunia butuh hal-hal semacam ini. Manusia memerlukan refreshing sederhana, yang membahagiakan.

 

Kita bosan dan jenuh dengan kekerasan, perbedaan dan konflik. Penduduk medsos dunia yang masih normal dan waras otaknya: menolak intoleransi, menolak konflik politik di Suriah — Allepo, menolak konflik Sara di Rohingya, menolak hujatan terhadap pihak-pihak yang berseberangan dan sejenisnya.

 

Fenomena om telolet om, pada salah satu sisinya mirip dengan gerakan 212. Manusia Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang Indonesia mayoritas suka damai, suka toleransi, suka membahagiakan orang lain, kreatif, suka hal-hal yang menyejukkan, dan dengan bersuka cita bergaul dengan masyarakat dunia.

 

Lihatlah sekarang, tanpa melihat latar belakang, semua warga dunia terkena demam om telolet om. Indonesia bisa mengguncang dunia, seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mengguncang dengan aksi damai ala 212, mengguncang dengan on telolet om, dengan sepakbola AFF, atau nanti — optimistis — dengan aksi-aksi lain yang luar biasa, menyejukkan, positif dan membahagiakan dengan cara sederhana.

Saya cinta Indonesia!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/penuliskreatif/om-telolet-om-toleransi-yang-mendunia_585b46a06e7e61a30d229004

Judul di atas adalah benar-benar sebuah pertanyaan, yang membutuhkan jawaban dari kalangan intelektual. Khususnya mereka yang sudah bergelar doktor (S3) dan menyandang predikat profesor. Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut. Melainkan merinci lebih jauh terkait pertanyaan tersebut. Kenapa?

Jumlah judul buku yang beredar di negeri ini setiap tahun berkisar 25.000 – 30.000 judul. Setara dengan jumlah judul buku yang beredar di Malaysia atau Vietnam, yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding Indonesia. Dari jumlah judul buku itu, tidak sampai setengahnya (dugaan kuat penulis) ditulis oleh mereka yang tidak menyandang gelar S3 atau profesor. Data dari pemerintah menguatkan dugaan itu.

kenapa-profesor-malas-menulis

Menurut pemerintah jumlah jurnal internasional hasil karya para doktor dan profesor di Indonesia hanya sekitar 9.000 judul pertahun. Juuuuh di bawah Malaysia yang lebih dari 23.000 judul. Kalah dari Singapura dan Thailand yang berkisar belasan ribu judul. Jangan bandingkan dengan negara maju. Malu. Terlalu jauh.

Padahal jumlah doktor dan profesor di Indonesia yang tercatat di kementrian sebanyak 31.000 orang. Jika kita anggap jurnal tersebut dibuat masing-masing oleh satu orang, maka masih ada 22.000 doktor dan profesor yang tidak menulis karya ilmiah di jurnal internasional. Mereka ngapain saja?

Tentu banyak alasan, kendala, hambatan dan tetek bengek lainnya yang bisa diajukan. Menurut para motivator, orang yang malas melakukan sesuatu pasti memiliki 1001 alasan untuk tidak melakukannya. Alasan untuk melakukan, kalah jauh baik secara kualitas maupun kuantitas dibanding alasan untuk tidak melakukan. Hal inilah yang tampaknya terjadi pada kaum intelektual Indonesia. Alasan untuk tidak membuat karya tulis di jurnal internasional, terlalu banyak dan terlalu mantap.

Kalau saya berdiskusi dengan teman-teman di kampus (akademisi), begitu banyak alasan tersebut. Mulai dari hal teknis, non teknis, psikologis, materi dan lain sebagainya. Banyak sekali. Padahal sebagian kampus – terutama kampus negeri – sudah mengalokasikan sejumlah dana, untuk mendukung penelitian dan pembuatan karya tulis. Dana yang masih dianggap terlalu kecil oleh teman-teman akademisi. Walaupun kalau dibandingkan dengan pemasukan saya – sebagai penulis profesional berbasis projek buku/artikel – jumlahnya lumayan juga. Alias tidak terlalu kecil. Ya, kalau diperbesar akan lebih baik, meski belum tentu juga mampu memacu mereka untuk menulis karya ilmiah.

Saya belum S2, walaupun bertekad menuju S3 pada beberapa tahun mendatang. Selama 10 tahun berkarir di bidang penulisan, sudah menghasilkan lebih dari 60 judul buku (setahun 6 buku, dua bulan 1 buku) dan ribuan artikel plus buku teks kuliah. Teman-teman saya penulis buku, sebagian besar masih S1, sebagian kecil S2 dan sebagian amat kecil S3. Kenapa yang S3 lebih sedikit menulis ya?

Apapun alasannya, apapun dalihnya, apapun kondisinya, faktanya adalah jumlah karya tulis yang dihasilkan oleh kaum tertinggi intelektual Indonesia yaitu para doktor dan profesor, masih sangat minim. Sulit dibantah. Baik dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk karya tulis di jurnal internasional.

Mungkin pak Jokowi perlu juga membuat secara khusus revolusi mental kalangan top intelektual tersebut, agar mau lebih rajin menghasilkan karya ilmiah dan tidak hanya mengerjakan proyek-proyek saja! Kaum top intelektual, mengemban tanggung jawab besar untuk menularkan ilmu pengetahuan, wawasan dan mindset positif mereka kepada generasi penerus bangsa ini.

Bertubi-tubi negeri ini mendapatkan ujian toleransi, baik toleransi beragama maupun toleransi atas perbedaan suku, rasa dan antar golongan (SARA). Sejak Indonesia merdeka, SARA memang menjadi salah satu hal paling sensitif. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun, masalah SARA sami mawon, hal yang sangat sensitif.

Ketika beberapa tahun lalu, Indonesia memperoleh sebuah penghargaan sebagai negara paling toleran di dunia, bukan berarti tanpa gejolak intoleransi. Tapi mungkin dibanding negara lain, Indonesia masih lebih baik. Apalagi perbedaan SARA di negeri ini amat besar. Beragam agama, ratusan suku bangsa, dan mungkin ratusan pula perbedaan antar golongan lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara paling beragam di muka bumi ini.

Sesungguhnya, kita sudah relatif berhasil menekan intoleransi. Buktinya, mayoritas kita masih bisa hidup damai dan tenang, baik mayoritas maupun minoritas. Prosentase intoleransi jika diangkakan relatif kecil. Tapi, intoleransi tidak boleh hanya dihitung berdasarkan angka-angka saja. Terdapat level yang lebih penting daripada itu, yaitu kualitas intoleransi. Sejauh ini, level kualitas intoleransi kita mulai mengkhawatirkan.

PR menganga di depan mata kita, khususnya buat para guru dan orangtua. Guru-guru lama sudah mulai pensiun, yaitu guru-guru yang memproduksi generasi produktif sekarang. Generasi yang saat ini menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini sudah lahir generasi baru guru-guru yang berpikir lebih maju, lebih kreatif dan lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Guru-guru sekarang bisa menjadi lebih baik dibanding guru sebelumnya, atau sebaliknya lebih buruk, dalam sejumlah hal, termasuk pendidikan toleransi SARA.

Pun demikian dengan orangtua. Generasi produktif saat ini sudah menjadi orangtua yang melek teknologi, melek globalisasi dalam banyak hal, melek budaya, dan melek segalanya, termasuk dalam pola mendidik/mengasuh anak (parenting) yang kian marak khususnya di kota-kota besar. Orangtua generasi Z – sebut saja demikian – juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam hal toleransi SARA. Mereka lebih terbuka, berpikiran maju, mau bertukar pikiran dan bersilang pendapat.

Hal-hal tersebut berkelindan dengan kutub sebaliknya, yang memiliki fanatisme amat sempit dalam SARA, khususnya agama. Mereka berpikir bahwa golongannya yang paling benar, paling eksis, dan berhak menyalahkan golongan lain, bahkan bertindak keras terhadapnya. Sisi ekstrim dari fanatisme sempit inilah yang melahirkan apa yang disebut dunia barat sebagai terorisme. Istilah yang sesungguhnya sudah lama hadir, untuk menyebut siapapun yang menghalalkan kekerasan untuk meneror pihak lain, dengan alasan-alasan ideologis.

Guru dan orangtua generasi Z, punya tugas berat, bagaimana memberikan pemahaman tentang toleransi SARA kepada anak-anak. Mereka juga menghadapi dua kutub yang amat bertolak belakang, namun kerap berkelindan. Yaitu kutub terbuka dan penuh toleransi (bahkan kadang bablas toleransi) dengan kutub sebaliknya yang menganut fanatisme sempit bahkan ekstrim serta tentu saja intoleran.

Dalam era internet dan medsos seperti saat ini, kedua kutub itu dengan mudahnya masuk dan merasuk ke kepala siapapun. Termasuk anak-anak. Amat berbahaya, karena saringan kepala anak-anak masih lemah. Apalagi jika orangtua dan guru, terlambat atau belum pernah atau jarang, memberikan pemahaman yang tepat tentang toleransi SARA, sehingga anak tak punya saringan pikiran yang memadai.

Kita melihat saat ini, relatif mudah meletupkan intoleransi dengan pemantik tertentu. Lebih mudah lagi berkat wabah medsos di seantero kolong jagat, termasuk di Indonesia. Jika generasi Z dan generasi berikutnya sudah memiliki pemahaman yang baik, tentu letupan intolernasi tak perlu lagi terjadi. Walaupun, harus kita akui, di negara yang sudah maju pendidikan dan pengajarannya seperti di Amerika, Eropa dan Ausrtalia pun, intoleransi SARA masih kerap terjadi. Dalam banyak hal dan aspek toleransi, justru bangsa kita lebih baik, sehingga sempat mendapatkan penghargaan tadi.

Sebagai orang yang punya anak, dan berkecimpung di dunia pendidikan, kami tak henti-hentinya memberikan pemahaman positif kepada anak-anak agar selalu menjaga toleransi SARA dengan siapapun. Perbedaan adalah sebuah rahmat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita wajib saling menghormati, menghargai, memahami, tepo seliro dalam banyak hal. Bukan hanya lewat kata-kata melainkan juga dalam tindakan nyata.

Guru dan orangtua menjadi ujung tombak agar negeri ini tetap menjadi bangsa yang punya toleransi SARA  tinggi. Bangsa yang dihargai dan dihormati bangsa lain karenanya. Bangsa yang nyaman ditinggali oleh semua warganya yang beragam dan berbeda ini, sejak lahir sampai akhir hayatnya.

Seperti syair lagu Indonesia Pusaka:

….

Di sana tempat lahir beta.

Dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua.

Tempat akhir menutup mata.

….

Semoga selalu demikian, kini, selamanya.

 

 

“Pendengar, jika Anda mengalami sakit kepala… segera minum XXXX, obat sakit kepala yang sudah terbukti manjur. XXXX mengandung paracetamol dalam dosis yang tepat, dilengkapi dengan cafein. XXXX dengan cepat bereaksi menyembuhkan sakit kepala Anda. Tidak perlu ragu-ragu lagi, minum saja XXXX begitu Anda mengalami sakit kepala. XXXX terbukti majur! Sakit kepala XXXX obatnya.”

 

Pernahkah Anda mendengar iklan semacam itu? Yang disampaikan langsung oleh penyiar. Jenis iklan yang disampaikan langsung oleh penyiar dengan hanya membacakan atau menyampaikan secara monolog seperti itu disebut dengan adlib.

 

Adlib berasal dari kata adlibitum dalam bahasa Latin yang berarti spontan atau tanpa persiapan namun penuh improvisasi. Sebagian praktisi radio menyebutnya sebagai adlip, atau iklan bibir karena menganggap iklan tersebut hanya berupa suara langsung penyiarnya tanpa dibumbui bunyi/suara lainnya. Sebuah anggapan keliru.

apa-itu-adlib

Sejumlah stasiun radio menilai adlib lebih tinggi dibanding iklan spot. Dan memang demikian seharusnya. Walaupun sebagian radio lainnya, menganggap adlib sama saja dengan spot atau malah menilainya lebih rendah. Penilaian itu bisa dilihat dari berapa tarif pemasangan adlib di radio tersebut. Misalnya di sebuah stasiun radio ternama di Jakarta. Adlib dihargai Rp 650.000/sekali tayang.  Sedangkan iklan spot, hanya dihargai Rp 550.000/sekali tayang. Artinya, nilai pemasangan adlib lebih tinggi Rp 100.000 atau 20% dibanding iklan spot.

 

Kenapa adlib seharusnya dihargai lebih tinggi? Betikut ini penjelasannya.

  1. Adlib adalah iklan yang ditempatkan tidak di slot iklan, melainkan pada saat penyiar berbicara dengan materi-materi sesuai jenis acaranya. Biasanya, pendengar akan pindah frekuensi begitu iklan mengudara pada slot tertentu. Namun, karena adlib tidak berada di slot tersebut maka pendengar tidak akan sempat mengganti frekuensinya. Sebagai perbandingan, lihatlah iklan sejenis ini di televisi. Mereka menyebutnya sebagai build in product, yaitu sebuah produk yang ditampilkan di dalam materi siaran. Misal di meja penyiar atau melekat pada penyiar/pengisi acara dalam bentuk baju, topi dan lainnya. Build in product tidak di slot iklan, tapi berada dalam program. Penonton tidak dalam posisi untuk memindahkan channel televisinya. Nilai iklan semacam ini lebih mahal dibanding iklan spot.
  2. Adlib melekat dengan materi siaran. Karena melekat sebagai materi siaran, maka pendengar cenderung tidak merasa bahwa hal tersebut adalah iklan. Mereka baru sadar, setelah penyiar kesayangannya menyelesaikan materi tersebut. Kreativitas penggawa radio terutama produser dan penyiar, berperan sangat besar dalam menciptakan adlib yang efektif.
  3. Karakter penyiar akan melekat pada adlib tersebut. Biasanya penyiar radio memiliki penggemar sendiri, yang punya kedekatan emosional. Bahkan banyak pendengar yang ngefans dengan seorang penyiar. Ketika penyiar tersebut berbicara, maka isi pembicaraannya akan diperhatikan oleh pendengar (terutama fansnya). Gaya penyiar seharusnya menjadi nilai lebih dari sebuah adlib. Masing-masing penyiar punya karakter yang khas dan berbeda.

 

Tiga hal tersebut menjadi keunggulan adlib dibanding iklan biasa, atau iklan spot. Wajar jika harganya lebih tinggi. Walaupun di sejumlah radio (atau kebanyakan radio?), adlib tidak memiliki kelebihan dibanding iklan spot. Bahkan cara penyampaiannya pun tidak berbeda dengan sekadar ‘membaca iklan’.

 

Padahal, seharusnya adlib tidak demikian. Adlib radio seharusnya disampaikan:

  • Secara spontan. Penyiar menyampaikan iklan secara spontan pada saat acara masih berlangsung dan bukan di slot iklan.
  • Penuh improvisasi. Penyiar bebas untuk berimprovisasi dalam menyampaikan iklannya, sesuai dengan gaya siarannya masing-masing.
  • Seolah-olah tanpa perencanaan. Ingat, seolah-olah. Padahal, penyiar sudah menyiapkan secara matang (tentu saja dibantu produser atau direktur program).

 

Beberapa tips di bawah ini, layak dipertimbangkan penyiar radio yang akan menyampaikan adlib.

  1. Bukan iklan baca atau membaca naskah iklan. Naskah adlib tidak boleh sekadar dibacakan. Tidak ada nilai plusnya. Pengiklan tidak mendapatkan kelebihan dari adlib tersebut. Padahal harus membayar lebih mahal bukan?
  2. Wajib tidak dirasakan oleh pendengar sebagai iklan. Wajib. Sehingga pendengar akan merasa nyaman-nyaman saja ketika mendengar adlib tersebut. Mereka baru sadar jika penyiar menyampaikan iklan, setelah adlib tersebut selesai disampaikan. Kalau sejak awal adlib sudah dirasakan sebagai iklan, maka adlib tersebut GAGAL.
  3. Punya beragam variasi penyampaian untuk sebuah iklan. Adlib bukan spot. Bukan iklan baca. Setiap adlib punya cara penyampaian yang berbeda, tergantung siapa penyiar yang mendapatkan tugas menyampaikannya. Beda penyiar beda pula gayanya.
  4. KREATIF DONG! Namanya juga iklan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, penggawa radio wajib ain untuk menyampaikan adlib secara kreatif. Kalau tidak kreatif, bukan orang radio namanya…

 

Contoh naskah adlib yang TIDAK kreatif:

“Bosan dengan seminar bisnis yang begitu-begitu saja? Kecewa dengan training yang kurang berhasil mengubah cara pandang Anda? Terlalu banyak teori? Atau tidak jauh berbeda dengan yang ada di televisi?

 

Dodi Jaya Seminar solusinya!

Dan seterusnya…”

 

 

Contoh naskah adlib yang LEBIH kreatif:

“Lagu We Are The Champion dari  Queen baru saja berlalu. Kalau denger lagu itu, saya selalu teringat masa kejayaan hehe. Dulu, saya juara lho. Juara kelas. Ayo siapa diantara Anda yang dulu juga juara kelas? Masih ingat kan?

 

Nah, sekarang saya juga mau dong anak-anak saya juga juara. Juara di bidang apapun, termasuk meneruskan kejayaan saya di sekolah dulu, juara kelas! Tapi bagaimana caranya ya?

 

Ah saya ingat… ada sebuah formula spesial yang bisa membuat anak Anda juara, yaitu Beleketektek.  Bukan obat lho. Tapi sebuah formula khusus untuk menambah daya ingat anak menjadi lebih kuat. Anak menjadi lebih berkonsentasi sehinga bisa menyerap pelajaran sekolah dengan lebih baik.  Beleketektek cocok buat anak-anak juara.

 

Sekarang kalau saya dengar lagu We Are The Champion dari Queen tadi, selalu ingat Beleketektek untuk membuat anak saja jadi juara!

 

Apakah Anda bisa membedakan kedua naskah tersebut?

Selamat mencoba!

 

 

 

 

 

 

Sebuah organisasi bisnis penulisan yang terus berkembang, membutuhkan tenaga muda multitalenta yang mau belajar dan berkarya sebagai REPORTER/PENULIS/PARTNER.

 

Syarat-syarat:

  • Pendidikan S1
  • Fresh graduate dipertimbangkan
  • Usia maksimal 28 tahun
  • Lebih diutamakan belum menikah
  • Lebih diutamakan lulusan ilmu Komunikasi (jurnalistik) atau berpengalaman di bidang jurnalistik
  • Menguasai internet (konten dan teknis)
  • Lancar menulis bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (punya pengalaman menulis di media kampus atau media lainnya)
  • Punya kemampuan disain grafis akan jadi nilai plus.
  • Punya SIM A atau bisa mengendarai kendaraan roda 4.
  • Kreatif dan inovatif
  • Punya jiwa entrepreneurship.

 

Lingkup pekerjaan:

  • Menggali informasi dari narasumber melalui wawancara dan sumber pustaka/internet.
  • Menuliskan hasil wawancara narasumber dan sumber pustaka/internet.
  • Menulis, mengedit dan menyusun naskah buku.
  • Menulis dan mengedit naskah media blog dan website.
  • Mencari dan menemukan peluang baru di industri penulisan.

 

Kompensasi:

  • Gaji Tetap Memadai
  • Komisi/Bonus Menarik
  • Royalti Menjanjikan
  • Bagi Hasil Prospektif
  • Peluang Penghasilan Tambahan
  • Pendidikan, Pelatihan, Mentoring dan Coaching bidang penulisan/pengembangan diri.

 

Kirimkan lamaran Anda ke sekolahmenulis@gmail.com paling lambat 28 Oktober 2016.

Sertakan CV, sertifikat keahlian (kalau ada), lampiran karya tulis (kalau ada) dan foto diri.

 

 

Slide1

Kaget. Kesal. Sedih. Senang… campur aduk ketika melihat sebuah buku yang mengupas tentang Bob Sadino, pengusaha eksentrik yang sudah meninggal dunia awal tahun 2015 lalu. Sudah banyak buku yang membahas sosok unik tersebut. Tapi, buku yang satu ini beda. Sebagai penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, saya bisa membandingkan isi tulisan terkait sang pengusaha tersebut. Apakah sama atau beda? Lihat daftar isinya, sudut pandang tulisannya, naskahnya, foto-fotonya, judul setiap babnya, hanya sekilas pun bisa tahu bedanya.

 

Buku berjudul “Bob Sadino – Goblok Pangkal Kaya” ini sejak awal sudah mencurigakan. Saya bolak balik halaman depan dan belakangnya. Saya baca penerbitnya “Genesis Learning” Yogyakarta.  Lalu saya lihat penulisnya, Weni Wisteria. Baru baca daftar isinya saja, kecurigaan saya makin mencuat. Hmmm, ada yang salah dengan buku ini. Lalu saya baca satu persatu secara sekilas bab per babnya. Waduh!

Slide4

Buku ini benar-benar menjiplak buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa mencapai 80%, kalau tidak bisa disebut 100%. Isinya sama.. Sudut pandangnya sama. Bab-babnya juga sama. Penulisnya berupaya mengacaukan urutan bab dan pembahasan. Tapi sungguh sangat jelas terlihat. Penulisnya ‘kopas’ naskah Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu mengubahnya sedikit-sedikit atau menambah dan mengurangi sedikit-sedikit. Misal, kata dapat diganti bisa. Atau kalimat awal ditambahi dengan satu sampai dua kata, dengan tujuan tidak sama persis. Tapi susunan kalimat demi kalimatnya sama. Dengan fakta –fakta tersebut, penulisnya berusaha mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil karyanya.

Slide2

Bahkan pada beberapa bagian, penulisnya dengan sangat ‘cerdas’ mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung dan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung. Persis seperti pelajaran bahasa Indonesia level SD dan SMP.  Sebuah upaya yang berbahaya, karena dia tidak memiliki bukti rekaman wawancara dengan Bob Sadino.

 

Tentu saja kesal melihat kenyataan tersebut, karena meski buku Belajar Goblok dari Bob Sadino disebutkan dalam daftar pustaka bersanding dengan sejumlah buku lainnya, tapi isi buku ini jelas-jelas menjiplak. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  Prof. Dr. Felicia Utorodewo, salah satu ciri plagiarisme adalah “Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.” Bahkan kata pengantar dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino pun yang ditulis oleh Prof.  Dr. Didik J. Rachbini disadur dan dijadikan salah satu bab. Tidak kreatif. Seperti tidak punya ide baru. Tidak ada upaya pembeda. Parah.

20160828_184714_resized

Sedih… karena penulis buku ini mengaku lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya mengenal sejumlah alumni Komunikasi UGM. Mereka sangat berkualitas dan menjunjung tinggi kaidah akademis. Sulit menerima kenyataan bahwa lulusan kampus terbaik itu melakukan plagiarisme. Semoga pengakuan yang tertulis di halaman belakang buku tersebut tidak benar.

 

Fenomena plagiarisme ini memang sudah memprihatinkan di negeri kita. Tak usah melihat di website atau buku populer, dalam pembuatan karya ilmiah pun berulang kali terjadi penjiplakan. Sejumlah orang hebat pernah diduga dan sebagian mengakui sudah melakukan aksi plagiat. Sebuah aksi yang sangat memalukan dalam dunia akademis dan perbukuan.

 

Tapi saya senang, hehe… berarti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino ini memang sukses. Bukan hanya karena menyangkut sosok Bob Sadino yang memang fenomenal, melainkan juga karena cara penulisan, alur, dan gaya bahasanya ditiru orang lain. Penjiplak tidak mungkin mau begitu saja meniru tulisan tersebut jika tidak sesuai dengan seleranya (atau penerbitnya) bukan?  Itu saja yang sedikit menghibur…

 

Buat penerbit Genesis (@penerbitgenesis) dan penulisnya Hana Wisteria, jangan khawatir… saya tidak akan menempuh jalur hukum. Pasti bakal melelahkan. Keluar energi banyak pula berupa waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi. Tapi sebelum Anda mengakui dan menyesali perbuatan tersebut, saya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakbenaran itu melalui tulisan. Terus menerus.

 

Saya tidak tahu dengan penerbit Kintamani yang mempublikasikan buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Apakah mereka keberatan atau tidak. Sudah lama kami tidak berinteraksi. Bahkan ketika buku tersebut dicetak ulang berkali-kali pun, penulis tidak pernah diberi tahu. Bagi saya, buku tersebut adalah anugerah luas biasa. Hanya terima kasih sebesar-besarnya yang teriring buat almarhum Om Bob beserta keluarganya, yang telah mengizinkan saya untuk membedah “pelajaran hidup” yang mahal dalam diri beliau. Semoga Allah Swt., memberikan balasan terbaik buat Om…