Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘belajar menulis’

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Read Full Post »

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

Read Full Post »

Penulis Kere - Sopir taksi

Tahukah Anda seberapa sering seorang sopir taksi bekerja dalam sebulan?

Tahukah Anda seberapa banyak produsen sepatu memproduksi sepatunya dalam sebulan?

 

Jawabannya:

Sopir taksi bekerja dalam sebulan hampir setiap hari. Di sebuah perusahaan taksi, sopir menggunakan rumus 2 – 1. Dua hari bekerja sehari libur. Setiap kali bekerja, bukan nine to five seperti orang kantoran, melainkan dari jam 5 pagi sampai jam 1 dinihari atau lebih. Hasilnya? Alhamdulillah, bisa menafkahi keluarga. Sebagian mampu menabung dan berinvestasi properti. Sebagian lainnya, bisa punya mobil taksi sendiri.

 

Bagaimana dengan perusahaan produsen sepatu? Ketika dia bisa menawarkan sepatu dengan model paling tren, maka sepatunya laris. Produksi makin banyak. Namun, kalau tidak sesuai tren dan tidak sesuai selera konsumen, produksi menurun. Perusahaan sepatu akan sukses dan bertahan, kalau terus menerus berproduksi karena sepatunya laku. Hasilnya, sang pengusaha akan menikmati keuntungan besar.

 

Seharusnya demikian pula penulis. Apakah dia seorang penulis profesi (seperti sopir taksi) atau penulis yang pebisnis seperti pengusaha sepatu. Kalau mau sukses dan mampu menafkahi keluarga dari kegiatan menulis, maka dia harus seperti sopir taksi dan pengusaha sepatu tadi. Bekerja rutin dan memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Produksi tulisan yang sesuai dengan pesanan atau klop dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sesungguhnya rumusnya sesederhana itu.

 

Sayang sekali, banyak penulis yang malas dan buta terhadap hukum alam. Belum tentu sebulan sekali mengirim naskah ke penerbit. Lah, mau makan apa? Hasil dari satu buku saja belum tentu mampu menghidupi keluarga untuk sebulan. Mikir dan berhitung dong. Belum tentu juga menulis artikel yang dibayar  (apakah media massa atau pihak lain) setiap hari. Lalu mau dapat pemasukan dari mana? Mikir dan berhitung dong.

 

Kenapa sopir taksi mampu menghidupi keluarganya setiap hari? Karena dia sudah berhitung atau dihitungkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, agar dia bekerja hampir setiap hari. Salah satu perusahaan taksi misalnya menjanjikan penghasilan sebesar Rp 165.000 per hari kepada sopirnya, atau sekitar Rp 3.000.000 per bulan. Lebih tinggi dari sebagian besar batas upah minimum.

 

Anda yang berprofesi penulis atau akan terjun di dunia menulis, berteriak-teriak susah menjadi penulis, tapi tidak setiap hari menulis? Tidak setiap hari berproduksi? Tidak setiap hari menawarkan jasa Anda? Tidak setiap hari menjajakan karya Anda? Tidak setiap hari bekerja keras, cerdas dan ikhlas?  Hmmm… mikir dan berhitung dong.

 

Kalau mau jadi penulis profesional yang mampu menafkahi keluarga dari menulis, mulai sekarang rajinlah menulis. Setiap hari harus menulis. Dan… tulisannya harus sudah pasti mendapatkan imbalan. Emang ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang secara gratisan? (Ada pas promo ya? Atau program PR perusahaan seperti Blue Bird tempo hari, he he).

Penulis Kere 2

Jika mau menjadi penulis pebisnis (writerpreneur), maka berpoduksilah setiap hari. Tawarkan dan jajakan karya Anda kepada pihak lain. Sesuaikan produk Anda dengan selera orang lain, dengan kualitas yang memadai. Kalau tulisan Anda buruk, siapa yang mau beli? Sama seperti produsen sepatu, siapa yang mau beli sepatu yang baru dipakai seminggu sudah rusak? Produsen sepatu juga memproduksi sepatu sesuai dengan optimalnya kapasitas pabrik.

 

Tips agar menjadi penulis keren bukan penulis kere:

  1. Harus menulis setiap hari.
  2. Rajinlah menulis yang hasilnya pasti dibayar.
  3. Berproduksilah sesering mungkin dengan kualitas terjaga.
  4. Jajakan dan tawarkan karya Anda sesering mungkin.
  5. Semakin kreatif dan cerdas (smart) dalam menulis dan menjual tulisan.

 

Selesai.

Read Full Post »

 Penulis Kere

Sebutlah namanya George, seorang bule yang banting setir dari karyawan menjadi pengusaha. Pilihannya adalah menjadi pengusaha makanan. Setelah pilah-pilih akhirnya dia memutuskan menjadi pedagang pecel lele pinggir jalan. Baru tiga hari jualan, George patah arang karena hanya satu dua orang yang beli pecel lelenya. Rugi.

 

Dia beralih menjajaki jualan bakso. Pilihannya sama, mangkal di pinggir jalan. Dalam tujuh hari, dia kembali gulung tikar karena baksonya tidak laku. Masih rugi. Goerge belum menyerah, dia kembali mencoba peruntungannya dengan berjualan burger. Siapa tahu lebih laku karena tampangnya yang bule cocok dengan burger, makanan khas orang bule. Siapa nyana, selama 15 hari berdagang hanya terjual segelintir burger. Rugi lagi.

 

Alhasil, George menyimpulkan bahwa bisnis makanan tidak menjanjikan. Buktinya, dia gagal setelah mencoba tiga macam jenis usaha makanan. Kesimpulan lainnya, ternyata jualan makan tidak mudah. Sulit mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut.

 

Kira-kira demikianlah gambaran yang menimpa sebagian orang yang mencoba peruntungan di dunia tulis menulis. Banyak yang menyimpulkan bahwa profesi menulis atau bisnis menulis tidak prospektif dan tidak menjanjikan. Sulit mendapatkan keuntungan apalagi dalam jumlah besar dari menulis. Kesimpulan yang diambil karena setelah menulis satu dua buku, tapi tidak laku. Atau selalu gagal mengirim artikel ke media massa. Atau royalti dan honor yang terlalu sedikit.

 

Mirip seperti George yang gagal berdagang makanan lalu menyimpulkan bahwa bisnis itu tidak prospektif. Padahal Anda tahu bukan, faktanya tidak demikian. Berapa banyak pengusaha makanan yang sukses? Buanyak! Pedagang sukses bakso, pecel lele dan burger, berserakan di seantero negeri. Yang gagal? Juga banyak. Bahkan mungkin orang-orang seperti George lebih banyak dibanding yang sukses.

 

Pun demikian dunia menulis. Berapa banyak yang sukses dalam bidang ini? Buanyak. Meskipun, seperti bisnis makanan, yang gagal tentu lebih banyak dibanding yang sukses. Tampaknya memang hukum alamnya demikian. Seperti sebuah piramida, jumlah yang sukses lebih sedikit dibanding yang gagal. Jumlah mereka yang amat sukses lebih sedikit lagi dibanding yang sukses.

 

Pertanyaannya, kenapa khusus buat industri menulis, dianggap lebih tidak menjanjikan hanya karena banyak penulis gagal dan kere? Dugaan saya, karena penulis kere menuliskan kegagalannya. Minimal curhat karena dia penulis he he. Sedangkan para pebisnis bakso, pecel lele atau burger, jarang-jarang yang menuliskan kegagalannya. Alhasil, sudah menjadi rahasia publik bahwa banyak penulis adalah kere! Nempel deh persepsi tersebut di benak banyak orang.

 

Padahal, di bidang apapun Anda berkecimpung hukumnya tetap sama: siapa yang sungguh-sungguh, persisten dan konsisten maka dia akan berhasil. Siapa yang mau terus belajar, bersabar, berproses, memerbaiki diri, maka dia berpeluang lebih besar untuk sukses. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang dicapai dengan leha-leha. Tidak ada yang tanpa rentetan kegagalan dan kekecewaan.

 

Kenapa penulis banyak yang kere dan gagal?

Pertanyaan yang sama, kenapa banyak pedagang yang juga kere dan gagal?

Kenapa banyak pengusaha yang juga gagal dan bangkrut?

Penulis Kere - gagal

Data statistik di Amerika Serikat, 80 persen pengusaha gagal pada 18 bulan pertama. Serem bukan datanya. Yang bisa lolos dan bertahan setelah 18 bulan hanya 20 persen! Tapi yang kemudian bisa bertahan selama 5 tahun, hanya 20% dari yang 20% itu. Lebih serem lagi ya.

 

Kalau data itu dipakai untuk industri menulis, maka hanya 20% penulis yang bisa berhasil meneruskan langkahnya sampai lebih dari 18 bulan. Dan hanya 20% dari yang berhasil itu, yang mampu bertahan di industri menulis setelah 5 tahun. Penulis yang kere dan gagal jumlahnya lebih banyak bukan?!

 

Profesi menulis sama seperti profesi pengusaha. Dia memproduksi sesuatu (barang atau jasa) dan kemudian memasarkannya. Kalau Anda belum menyadari status tersebut dan hanya menjadi kuli sebagai penulis, maka siap-siaplah mendapatkan pemasukan yang terbatas dan menambah daftar deretan penulis kere.

 

Tips buat penulis pemula yang mau jadi penulis sukses, bukan penulis kere:

  1. Buka lebar-lebar mata dan telinga,
  2. Perbanyak wawasan
  3. Rajin menambah ilmu baru,
  4. Mau memanfaatkan peluang dan kesempatan
  5. Jalin pertemanan dan network seluas mungkin
  6. Mau berproses
  7. Pantang menyerah!

 

Bersambung ke Ironi Penulis Kere (bag II)

 

 

 

Read Full Post »

Poster 1000 Guru Menulis Buku kcl

Yayasan Bhakti Suratto (YBS) bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) membuat program pelatihan menulis buku untuk guru SD, SMP, SMA/SMK/MAN secara gratis. Pelatihan ini terdiri dari dua jenis program yaitu tim YBS dan SMKI menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan gratis di sekolah masing-masing dan mengundang guru-guru sekolah untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan YBS/SMKI di kampus Sekolah Alam Cikeas.

 

Kedua jenis program tersebut sama-sama memberikan pelatihan lengkap tentang menulis buku untuk para guru, mulai dari menyiapkan mental sebagai penulis, penggalian ide, merancang buku, sampai berkenalan dengan penerbit. Tidak hanya sampai di situ, panitia juga akan melanjutkan program dengan metode mentoring sampai para guru mampu menerbitkan bukunya.

 

Setiap pertemuan terdiri dari 3 sesi masing-masing 90-120 menit, yaitu:

  1. Sesi membongkar mental blok dan sejumlah hambatan dalam menulis.
  2. Sesi merancang buku mulai dari penggalian ide yang layak terbit dan layak jual sampai membuat kerangka tulisan.
  3. Sesi latihan menulis.

 

Program ini akan dipandu secara langsung oleh Dodi Mawardi, penulis lebih dari 50 judul buku (termasuk Belajar Goblok dari Bob Sadino & Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas) yang juga Direktur Eksekutif YBS, serta pendiri SMKI, bersama sejumlah praktisi penulisan baik penulis profesional maupun jurnalis.

 

Manfaatkan program ini, dan silakan sebarkan informasi ini kepada yang membutuhkan.

Tidak ada syarat apapun untuk mengikuti program ini. Untuk tahap awal ini, program akan lebih terfokus untuk sekolah-sekolah di kawasan Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok.

 

 

Info lebih lanjut, hub:

081285874272 (sms saja)

sekolahmenulis@gmail.com

Read Full Post »

20151030_085657_resized

Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Ruangan masih sepi. Namun, pelan tapi pasti, sejumlah orang mulai berdatangan. Mereka langsung memilih deretan kursi paling depan. Terus… berurutan sampai ke belakang. Acara baru dimulai jam 9 pagi, tapi seperempat jam sebelum acara, ruangan sudah penuh. MC pun mengabarkan, acara akan dimulai tepat jam 9. MC lalu mengingatkan kepada seluruh audien untuk menyimak acara, dan mematikan nada suara handphone.

Sebagian besar audien patuh terhadap “perintah” MC. Begitu acara dimulai, semua diam. Tak ada sedikitpun suara dari audien. Mereka menyimak setiap kata dari para pembicara. Kadang tertawa dan tersenyum, jika isi pembicaraan lucu. Lalu kembali diam. Sebagian dari mereka memegang buku kecil dan pulpen. Tak jarang mereka menggoreskan pulpen tersebut di kertas, ketika mendengar sebuah info yang menurut mereka penting.

Meski diam, terlihat sekali mereka antusias. Mereka mendengarkan dengan aktif; Mendengarkan dengan efektif;  Mencatat; Menyimak; Memberikan atensi dan respek. Meski mereka datang berdua atau bertiga dan duduk bersebelahan, tak pernah sekalipun diantara mereka berdialog, ketika panelis di depan berbicara.

20151030_151601_resized

Fakta itu berlangsung hampir di seluruh tempat diskusi dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud 2015. Pengunjung betul-betul berkomitmen untuk berdiskusi, mendapatkan pengetahuan dan informasi dari para pembicara. Mereka baru bicara ketika dipersilakan untuk bicara, bertanya dan berdiskusi. Selain itu, diam. Mendengarkan.

Pernah pada salah satu sesi diskusi, terdengar suara HP berdering. Tidak keras, tapi terdengar. Begitu dilihat, ternyata orang Indonesia yang melakukannya. Sedangkan sebagian besar audien lainnya adalah warga negara asing, terutama berasal dari Australia  dan mayoritas adalah orang lanjut usia. Mereka punya HP… tapi HP merekapun sama dengan tuannya; diam juga.

……

Susahnya Diam

Diam dan mendengarkan ternyata hal yang sulit ditemukan di negeri kita. Saya mengajar di sebuah kampus terkemuka di Jakarta. Setiap kali mengajar, selalu saja ada mahasiswa yang mencuri-curi untuk mengobrol dengan teman sebelahnya atau teman di depannya. Kadang saya mengatakan, “Hei… Anda boleh mengobrol, tapi gunakan SMS atau WA saja.” Sebagai isyarat bahwa tindakan mengobrol ketika orang lain bicara adalah tidak sopan dan seringkali mengganggu.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, menghormati orang lain, yang lebih tua dan terutama yang lebih tinggi kedudukannya. Seorang pelayan tidak akan berani membuka mulut atau bahkan mendongakkan kepalanya, ketika tuannya berbicara. Seorang anak tak akan membalas tatapan atau ucapan orangtuanya dengan cara tak sopan. Pun para abdi dan pegawai, pasti akan diam ketika atasan mereka berbicara. Sikap menghormati orang lain, sangat dijunjung tinggi oleh sebagian besar nenek moyang kita.

Tapi ternyata semua itu tinggal sejarah. Sulit menemukan fakta bahwa orang Indonesia masa kini menghormati orang lain dengan cara seperti yang ditunjukkan pengunjung warga negara asing dalam Ubud Writers & Readers Festival. Sangat sederhana, cukup diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara. Tidak butuh usaha ekstra keras untuk melakukan. Cukup komitmen saja untuk mau melakukannya.

Kamis (5/11) kemarin saya mendapatkan undangan dari sebuah penerbit untuk menghadiri acara penganugerahan penghargaan kepada para pengusaha sosial. Acara itu diisi pula dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah nama besar, diantaranya Rhenald Khasali. Selama acara, mulai dari sambutan-sambutan termasuk dari Prof Subroto (mantan presiden OPEC), sampai diskusi, hadirin tidak pernah diam. Suara mereka mengobrol, terutama di bagian belakang mirip seperti segerombolan lebah yang mencari kembang. Beruntung, suara speaker cukup keras, sehingga mampu mengimbangi lebah-lebah tersebut.

Diajari Diam Sejak Belia

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Kenapa hanya untuk mendengarkan orang lain saja, kita merasa susah sekali?

Padahal, sikap menghormati dan menghargai orang lain diawali dengan mendengarkan. Sikap diam ini ternyata menjadi sangat krusial dan penting. Diam ketika orang lain berbicara. Diam untuk mendengarkan.

Akhirnya saya berdiskusi dengan teman asal Australia, Toby. Saya tanyakan apa yang diajarkan oleh sekolah dan orangtua mereka, berkaitan dengan diam dan mendengarkan ini. Jawabannya sungguh sederhana. “Kami sudah terbiasa begitu sejak kecil. Kalau ada orang lain berbicara, kita harus mendengarkan. Kalau masih bicara juga, akan diperingatkan. Kalau sudah diperingatkan masih tidak diam juga akan diusir!”

Tugas seseorang yang berperan sebagai peserta ketika datang menghadiri sebuah acara, atau diskusi, adalah diam dan mendengarkan. Jika tidak mau diam dan mendengarkan, lebih baik tidak datang. Atau segera keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu orang lain di ruang tersebut yang mau mendengarkan.

20151029_093014_resized

PR besar buat saya dan para praktisi pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar plus buat para orangtua. Biarlah para orang dewasa yang sekarang sudah kadung sulit mendengarkan orang lain. Biarlah mereka menyadari sendiri betapa buruknya sikap tersebut. Tapi, jangan sampai anak-anak yang sekarang masih belia, bersikap sama seperti itu. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar dan tepat, bahwa menghormati orang lain adalah penting. Dan salah satu tanda menghormati orang lain adalah diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara.

20151028_174416_resized

Pelajaran besar yang didapatkan dari Ubud Writers & Readers Festival, bukan hanya tentang buku dan pengetahuan yang diberikan para pembicara. Bukan pula hanya pengetahuan tentang kepiawaian panitia dalam mengelola acara. Melainkan juga sikap dan tindakan para pengunjung festival tersebut.

Dodi Mawardi

Penulis, Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Read Full Post »

20151101_203600_resized

Tepuk tangan riuh merespon tarian api (fire dance) menjadi puncak dari Ubud Writers & Readers Festival 2015. Panitia menyuguhkan sejumlah tarian tradisional dengan klimaksnya adalah tarian api pada penutupan festival Minggu (1/11) di Museum Antonio Blanco. Sejumlah penari, pria dan wanita, membawa sejumlah obor menyala-nyala, di tangan. Sebagian menyemburkan api dari mulut. Sebagian memutar-mutar gelang raksasa berapi di pinggangnya. Sungguh semarak. Mencengangkan. Membuat seluruh penonton – yang 80% orang asing – terpesona.

Pesona pula yang mencuat dari benak seluruh pengunjung festival tersebut. Selama 4 hari mereka dibuai oleh diskusi berkualitas, bedah buku, bedah film, peluncuran buku dan kegiatan spesial lainnya. “Terlalu banyak pilihan,” demikian ucap Catherine, seorang pengunjung asal Australia, mengomentari banyaknya acara dalam festival kali ini. Tentu komentar bernada positif.

Catherine mewakili pendapat sebagian besar pengunjung festival. Mereka puas. Mereka akan kembali lagi tahun depan. Sebagian dari mereka, sudah berkali-kali menghadiri Ubud Writers Festival. Dan tidak pernah bosan. Panitia selalu mampu menyuguhkan acara dengan variasi yang memuaskan pengunjung. Tahun ini, tema festival adalah 17.000 Islands of Imagination. Tak heran jika tema-tema diskusi dan acara lainnya, berkaitan erat dengan imajinasi tentang Indonesia.

20151029_200213_resized

Menurut Janet DeNeefe, ketua penyelenggara festival, tahun ini lebih banyak penulis dan pelaku industri kreatif Indonesia yang dihadirkan. Selain penulis, editor, dan penerbit, festival juga mengundang sejumlah pakar dan praktisi perfilman. Misalnya Nia Dinata, sineas senior ikut serta mengupas industri perfilman Indonesia. Bahkan penyanyi Glenn Fredly pun hadir ke sana bukan untuk melantunkan suaranya, melainkan diskusi tentang proses kreatif film Beta Maluku: Cahaya dari Timur.

Panitia ingin memberikan panggung yang lebih luas kepada pelaku industri kreatif Indonesia. 16 penulis baru pun diundang secara khusus untuk tampil di sana. Mereka, penulis-penulis baru berbakat dan berpotensi. Selain itu, sejumlah penulis terkemuka juga dihadirkan, bahkan menjadi bintang dalam festival kali ini. Eka Kurniawan misalnya, novelis yang disebut-sebut sebagai Pramudya Ananta Toer baru. Di Ubud, Eka didapuk sebagai kurator yang menyeleksi penulis-penulis baru. Beberapa sesi juga disediakan khusus untuk Eka.

20151030_160640_resized

Yang paling menyedot perhatian adalah Raditya Dika, pemuda multitalenta. Dia penulis buku-buku jenaka, stand up comedy, sutradara dan pemain film. Di Ubud, Radit berbicara dalam beberapa sesi. Setiap sesinya, selalu ramai. Tidak ada kursi kosong. Sebagian audiens adalah anak-anak usia remaja – kebanyakan perempuan. Seru, ramai dan kocak. Bahkan pengunjung dari berbagai negara pun terpukau oleh gaya bahasa Dika yang seru dan isinya yang seringkali mengocok perut. Dibanding penulis lain Indonesia yang hadir di sana, bahasa Inggris Radit bisa dibilang yang paling bagus. Apalagi dia juga pernah kuliah di Australia, sehingga dengan mudah mampu membuat pengunjung asal Australia terpingkal-pingkal.

Untuk urusan menampilkan penulis dan pelaku industri kreatif lokal, panitia festival Ubud bisa disebut berhasil. Selain yang berlevel nasional, panitia juga sukses menampilkan pelaku lokal. Sejumlah pelaku lokal bukan hanya berasal dari Jakarta dan Jawa, melainkan juga dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Madura dan tentu saja Bali. Dua buah film dokumenter karya sineas asal Sumatera Utara, Erick Est membuat pengunjung terpukau. Satu bercerita tentang Janggan, salah satu jenis layang-layang legendaris di Bali, dan satu lagi tentang Suku Dayak di Long Saan Malinau Kalimantan Utara.

Namun… bagaimana dengan pengunjung? Jumlah pengunjung festival Ubud selalu melewati angka 20 ribu orang. Pun demikian tahun ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung asal luar negeri selalu dominan. Angkanya berkisar antara 80% – 90%. Sisanya adalah orang Indonesia. Minoritas di negeri sendiri.

Ketut Suardhana, dedengkot penyelenggara festival tersenyum getir ketika berdiskusi tentang pengunjung asal Indonesia. Senyuman yang menyiratkan keprihatinan. Jumlah pengunjung asal Indonesia, selalu minim dalam setiap penyelenggaraan festival. Padahal, panitia sudah menyiasati banyak hal, agar jumlah pengunjung domestik meningkat. Misalnya dengan mengundang lebih banyak pelaku lokal yang tampil. Atau dalam hal tiket. Harga tiket untuk pengunjung domestik, jauh lebih murah dibanding pengunjung asing. Bandingkan saja, Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) untuk warga negara asing dan Rp 600.000 (enam ratus ribu rupiah) buat orang Indonesia, untuk festival selama 4 hari. Jauh bukan bedanya?!

20151029_094235_resized

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya festival ini untuk siapa? Jika berdasarkan fakta selama 12 kali penyelenggaraan Ubud Writers Festival, tampaknya lebih dirasakan manfaatnya oleh warga negara asing, khususnya orang Australia. Mereka memang haus ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian besar dari warga Australia yang datang adalah yang berusia di atas 50 tahun. Artinya mereka tetap haus pengetahuan, meski usia sudah tidak muda lagi. Setiap kali mengikuti diskusi, para senior ini duduk di deretan paling depan, menyimak dengan saksama dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Tak jarang mereka pun melontarkan pertanyaan.

Kenapa warga Indonesia enggan datang ke festival menulis? Bukan rahasia lagi jika tingkat melek intelektual kita masih rendah. Penghargaan terhadap kaum intelektual pun relatif rendah. Kita masih jauh lebih menghargai dan berani membayar mahal para penghibur, dibanding para intelektual, apalagi penulis. Itulah kenapa acara-acara hiburan seperti sinetron atau pertunjukan musik, dengan tarif setinggi apapun, selalu dipenuhi pengunjung lokal. Sedangkan acara-acara intelektual sepi. Hal yang berbeda dengan yang terjadi di negara maju. Di Austtalia misalnya, hampir setiap kota memiliki festival menulis setiap tahun, dan selalu ramai pengunjung.

Butuh waktu panjang untuk meningkatkan kesadaran belajar bangsa ini. Tapi, Ubud Writers & Readers Festival akan datang lagi tahun depan. Tidak peduli apakah jumlah pengunjung Indonesia akan naik atau tidak. Tak peduli cibiran dari kanan dan kiri. Mereka terus berbuat dan berbenah. Mereka menyuarakan lewat corong intelektual tentang wangi Indonesia melalui festival intelektual, yang sudah dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu dari 10 festival menulis di dunia yang wajib dikunjungi pecinta intelektual.

Matur Suksma!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional

Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Read Full Post »

20151029_091924_resized

Perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2015 (UWRF) berlangsung semarak. Setiap venue acara selalu dipenuhi pengunjung. Selama festival 4 hari, panitia menyelenggarakan tidak kurang dari 200 acara, tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar tempat acara berdekatan. Kapasitas tempat acara bervariasi mulai dari 100 kursi sampai lebih dari 500 kursi.

Panitia seolah memanjakan pengunjung. Pada waktu bersamaan, terdapat 3 acara di tiga tempat berbeda. Pengunjung dipersilakan memilih acara yang disukainya. Pun demikian jika tidak suka dengan sebuah acara, bisa dengan mudah berganti tempat dengan mudah. Pengunjung hanya diharuskan membeli tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua acara utama. Pada beberapa acara khusus, panitia mengenakan tiket berbeda.

Untuk pengunjung asal Indonesia, panitia menetapkan tarif Rp 600.000 untuk empat hari kegiatan. Sedangkan untuk warga negara asing non Asean berlaku tarif Rp 4.000.000,-.

20151029_094235_resized

Pada hari pertama UWRF ini, sebagian besar pengunjung berasal dari luar negeri. Hanya segelintir warga negara Indonesia. Mereka terutama berasal dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Sisanya berasal dari sejumlah negara Asia. Secara kasat mata, boleh dikatakan 80% pengunjung adalah warga asing.

Hal ini memang sesuai dengan tujuan panitia menyelenggarakan UWRF, yang dimulai pada 2003 lalu. Janet DeNeefe, pencetus acara ini, mengadakan festival untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang sempat turun drastis pasca serangan teror bom pada 2002. Janet yang bersuamikan pria Bali (Ketut Suardhana) sudah lama tinggal di pulau Dewata dan bangga menyelenggarakan festival menulis di Indonesia. Di negeri asalnya – Australia – festival menulis merupakan sebuah acara tahunan yang ada hampir semua kota besar di sana.

Meski demikian, tentu saja sebagai tuan rumah, jumlah pengunjung asal Indonesia seharusnya lebih banyak. Di antara segelintir orang Indonesia tersebut, pengunjung yang asli orang Bali, lebih sedikit lagi. Budaya literasi dan melek ilmu pengetahuan memang masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia.

Orang Bali adalah tuan rumah dan panitia yang hebat dalam penyelenggaraan acara intelektual tersebut. Apresiasi yang tinggi buat mereka!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional, Pengelola Sekolah Alam Cikeas

Read Full Post »

Kursus Spesial Privat dan Jadi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) selalu berinovasi dalam melayani kebutuhan belajar menulis kreatif. Setelah sukses dengan Kelas Penulis PRO dan Writerpreneur, kini SMKI membuka kelas SPESIAL PRIVAT dan JADI. Kelas ini khusus buat Anda yang sungguh-sungguh mau belajar menulis dan menerbitkan buku, dengan sentuhan lebih personal (modifikasi dari kelas Penulis PRO dan Writerpreneur). Anda akan dibimbing secara khusus oleh Dodi Mawardi – mentor penulis profesional yang sudah terbukti berhasil menulis dan menerbitkan puluhan judul buku, serta sudah sukses membimbing puluhan penulis baru.

Benefit kelas PRIVAT:

  1. Lebih personal
  2. Dibimbing secara ketat
  3. Metode mentoring dan coaching
  4. Naskah sampai jadi
  5. Didampingi bertemu dengan penerbit
  6. Waktu/jadwal pertemuan fleksibel

Jumlah pertemuan minimal 6X (tergantung kecepatan peserta dalam menuntaskan naskah)

Lokasi pertemuan di kelas SMKI komplek Sekolah Alam Cikeas – Cibubur.

Biaya hanya Rp 10.000.000,- (sekali bayar saja).

Benefit tambahan:

Gratis konsultasi penulisan seumur hidup melalui beragam media spt WA, SMS, email dll

Segera daftarkan diri Anda sekarang juga karena kuota tiap bulan sangat terbatas.

Hanya untuk Anda yang benar-benar serius mau belajar menulis dan menerbitkan buku.

Pendaftaran Hubungi:

sekolahmenulis@gmail.com

081285874272 (sms only)

Read Full Post »

BEASISWA PELATIHAN MENULIS LINGKUNGAN
Laskar Pena Hijau 2015

 

Kesempatan Langka!
Yayasan Bhakti Suratto bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Rayakultura, memberikan beasiswa pelatihan penulisan hijau kepada 30 orang terpilih.
Pelatihan berlangsung selama 6x pertemuan di Cibubur Jakarta, dengan materi tentang ilmu menulis (fiksi/non fiksi), jurnalistik dan bentuk tulisan lainnya dengan semangat pelestarian lingkungan.

 

Daftarkan diri Anda melalui email:
sekolahmenulis@gmail.com
Paling lambat 12 Agustus 2015
Sertakan CV Anda.
Judul email: Laskar Pena Hijau

 

Syarat:
– Usia minimal 17 tahun
– Mampu berbahasa Indonesia lisan/tulisan
– Pernah menulis di media massa dan atau rajin menulis di website/blog.
– Minat besar di bidang penulisan lingkungan (fiksi/non fiksi)
– Bersedia menjadi anggota Laskar Pena Hijau.
– Lampirkan karya tulis yang pernah dimuat di media massa atau cantumkan alamat web/blog.

Mentor: Naning Pranoto, Farick Ziat dan Dodi Mawardi

Mari Kita Rawat dan Lestarikan Bumi. Rumah Kita Satu-satunya!

 

 

Salam Pena Hijau

 

 

Beasiswa Menulis Lingkungan Laskar Pena Hijau

Read Full Post »

Older Posts »