Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘buku anak’

Di seluruh dunia, terdapat ratusan festival Penulis. Festival penulis bukan hanya milik negara-negara maju, yang melek literasinya tinggi. Namun ternyata, sejumlah negara berkembang pun mampu menyelenggarakan festival penulis yang menarik perhatian dunia.

Berikut ini adalah 10 festival penulis yang direkomendasikan oleh Lisa Dempster, Direktur Melbourne Writers Festival, yang dikombinasikan dengan olah data tim redaksi IlmuMenulis.Com.

  1. Jaipur Leterary Festival (India).

India memang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat penerbitan buku yang tinggi. Setiap tahun, negara itu mampu menghasikan lebih dari 75.000 judul buku. Meski berlangsung di Jaipur India, namun festival ini pertama kali diselenggarakan oleh Will Dalrymple, seorang penulis terkemuka asal Inggris. Festival ini mengkombinasikan antara melek sastra dengan musik, plus berbagai pemikiran provokatif tentang dunia penulisan, yang tentu saja dipenuhi dengan debat antara penulis dan pengunjung. Festival ini biasanya berlangsung setiap Januari. Mau tahu lebih lengkap silakan kunjungi websitenya http://www.jaipurliteraturefestival.org

  1. Bookworm International Literary Festival Beijing (China)

Sebuah festival buku dan penulisnya yang berlangsung di toko buku Bookworm yang terletak di Beijing dan beberapa kota lain di China. Festival ini berjalan selama dua minggu, diisi dengan diskusi dan talkshow yang menghadirkan para penulis lokal dan internasional. Tahun 2015 ini, Bookworm Festival sudah berlangsung untuk ke-9 kalinya, pada bulan Maret lalu. Info lengkap klikhttp://www.bookwormfestival.com

 

  1. PEN World Voices Festival (USA)

Salah satu festival literatur terbesar di dunia, yang berlangsung setiap April sampai Mei di New York Amerika Serikat. PEN sendiri adalah sebuah oganisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan hukum. Mereka aktif memberikan bantuan hukum kepada para penulis di seluruh dunia, terutama penulis yang mengalami tekanan dari penguasa. Sudah pasti festival ini menyuarakan kebebasan menulis dalam berbagai diskusi, talkshow dan debatnya. Info lanjutan silakan klikhttp://www.worldvoices.pen.org

  1. Etonnant Voyageurs (Perancis)

Bagi Anda yang menyukai tulisan perjalanan (travel writing), inilah festival yang tepat. Apalagi festival ini berlangsung di salah satu negara tujuan wisata utama dunia, yaitu Perancis. Sambil jalan-jalan, sambil nambah ilmu menulis. Kota tempat penyelenggaran festival ini adalah St. Malo, salah satu tempat bersejarah di Perancis. Selain diskusi dan seminar tentang menulis, di sana juga akan mendapatkan suguhan festival film serta pasar buku yang sangat besar! Mau kesana? Catat pelaksanaannya setiap Februari atau Maret. Untuk lebih lengkap silakan deh bukahttp://www.Etonnants-voyageurs.com

  1. International  Literary Festival  of  Paraty (FLIP), Brazil 

Festival penulis di Brasil ini hanya berlangsung 5 hari. Namun, penyelenggara mampu mengadakan banyak sekali acara berkualitas mulai dari debat, show, eksebisi, workshop, film screening, sampai presentasi berbagai pihak. Tidak akan menyesal deh, kalau Anda sempat menghadiri acara ini. Nah… FLIP ini berlangsung setiap Juli sampai Agustus. Pas buat masa liburan orang Indonesia bukan? Coba deh klik infonya di http://www.flip.org.br

  1. Edinburgh International Book Festival (Scotland) 

Meski ada kata buku dalam festivalnya, tapi ini bukan pameran buku apalagi jualan buku lho ya. Justru festival di Edinburg inilah yang paling asli dan awal, dalam hal festival penulis serta literatur. Bahkan, festival paling tua ini juga termasuk yang paling sukses dalam menarik perhatian para penulis top dunia. Jadi, kalau Anda bisa hadir di berbagai festival lain, belum lengkap kalau tidak bisa datang ke festival di Skotlandia ini. Apalagi di kawasan ini, sekarang sudah lahir penulis paling kaya sepanjang sejarah, JK. Rowling!  Duh, asyik banget kalau bisa hadir di sini setiap Agustus.  https://www.edbookfest.co.uk

  1. Book Passage Travel Writers & Photographers Conference, San Francisco (USA)   

Lagi lagi sebuah festival literasi buat kalangan penulis perjalanan plus penggemar fotografi. Pencetus acaranya adalah penulis perjalanan legendaris Amerika, Don George. Sudahlah kalau Anda penulis travel dan pehobi fotografi, wajib hadiri fetsival yang satu ini setiap Agustus.  http://www.bookpassage.com/travel-writers-photographers-conference

  1. Ubud Writers and Readers Festival (Indonesia)

Wah, kita boleh bangga lho ternyata festival penulis dan pembaca di Ubud, termasuk yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Ubud merupakan salah satu kawasan wisata paling eksotis di Bali. Jadi, selain mendapatkan pencerahan tentang menulis dan membaca, pengunjung juga bisa menikmati Ubud. Klop deh. Cari ilmu sambil jalan-jalan. Keren. Festival Ubud ini berlangsung setiap Oktober. Buka yuk situsnya di http://www.ubudwritersfestival.com

  1. Melbourne Writers Festival (Australia) 

Salah satu festival penulis terbesar di Australia. Selain di Melbourne, Australi juga kaya akan festival penulis di berbagai kota lainnya seperti Sydney dan Perth. Melbourne sebagai salah satu kota terbesar di negeri Kanguru tersebut, layak menjadi salah satu pilihan tujuan para penulis.  Event ini berlangsung setiap Agustus, http://www.mwf.com.au

  1. The Guardian Hay Festival of Literature, Wales

Salah satu festival buku dan penulis yang sayang kalau dilewatkan. Mantan presiden AS, Bill Clinton menyebut festival ini bagaikan festival musik Woodstock. Hmmm…  Sejumlah pihak menjuluki Hay (tempat berlangsungnya festival) sebagai Mekkahnya buku. Nah lho, keren banget pasti. Festival berlangsung setiap bulan Mei. Dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai May in Hay. Klik http://hayfestival.com

Dikutip dari http://www.ilmumenulis.com

Iklan

Read Full Post »

oleh Dodi Mawardi – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

“Anda benar-benar membakar saya…” ujar seorang alumnus kursus Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI).

“Panas dong  kalau terbakar…” balas saya berkelakar, sambil terkekeh.

Lalu dia melanjutkan ceritanya bahwa sejak ikut kursus, gejolak menulisnya melonjak-lonjak. Sejumlah fakta yang saya paparkan ternyata begitu dalam menghunjam lubuk hatinya. Salah satu yang paling dalam dan selalu diingatnya adalah fakta bahwa… hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis!

Dalam setiap workshop atau pelatihan, saya memang suka sekali menampilkan fakta tersebut, untuk menghancurkan mental blok para calon penulis. Selalu saja ada alasan dari mereka, untuk tidak jadi menulis walaupun awalnya bersemangat. Mulanya berkobar-kobar ibarat Bung Tomo yang berperang melawan tentara Sekutu. Tapi beberapa waktu kemudian melempem. Motivasi menulis lenyap entah kemana.

Namun, dengan fakta bahwa hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis, peserta sedikit banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku termasuk manusia primitif atau bukan?

Anda juga mungkin akan bertanya hal serupa. Jawabannya tergantung fakta apakah Anda sudah menulis buku atau belum. Saya fokus kepada buku, karena buku merupakan karya tulis dengan nilai intelektual tertinggi, yang terpublikasi secara massal dan tersimpan terhormat di perpustakaan-perpustakaan.

Jika Anda belum memiliki buku yang Anda tulis sendiri, maka Anda termasuk manusia primitif. Kalau sudah menulis buku, maka Anda masuk kategori manusia yang tercatat dalam sejarah peradaban dunia.

Coba telusuri masa lalu kita. Sejak kapan sejarah Mesir bisa kita ketahui jejaknya? Sejak kapan sejarah nabi Adam bisa kita pelajari? Jawabnnya sederhana, sejak adanya tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan.  Sebelum manusia mengenal tulisan, kita tidak bisa belajar tentang masa lalu. Semua gelap. Hanya mengira-ngira. Hanya belajar dari bekas-bekas perkakas, yang bentuknya pun antah berantah. Itulah peninggalan manusia-manusia primitif. Sedangkan manusia bersejarah meninggalkan jejak berupa tulisan.

Seperti peserta kursus tadi, terserah Anda mau jadi manusia primitif atau manusia bersejarah!

Read Full Post »

Di sebuah rumah sederhana, terlihat seorang anak sedang bercengkrama dengan ibunya. Rio, begitu nama anak itu dan Dinda nama ibunya.

“Ma, aku mau tahu ttg kakek Dodi dong…” ujar anak itu kepada ibunya.
“Eh tumben, Rio mau tahu cerita ttg Kakek Dodi,” jawab Dinda sambil memandangi huah hatinya yang baru kelas 3 SD.

“Rio kan nggak tahu kakek Dodi spt apa. Kakek kan sudah pindah ke surga,” jawab Rio polos. Sang ibu tersenyum. Memorinya terbang ke masa masa ketika mertuanya, Kakek Dodi masih hidup.

“Itu ambil saja buku di lemari, rak paling bawah dan yang paling kanan. Ada buku karya Kakekmu. Di buku itu, ada profil kakek Dodi…”
Tanpa pikir lama, Rio langsung mengambil buku itu dan membacanya. “Wah, kakek Dodi ternyata penulis buku ya… aku tahu banyak ttg kakek.”

“Terus kalau Kakek Doni aku bisa dapat ceritanya darimana Ma…” tanya Rio setelah selesai membaca profil kakek Dodi.

“Nah, itu di lemari paling atas ada buku ttg kakek Doni. Ambil dan baca saja…” jawab Dinda. Dia bangga juga melihat rasa ingin tahu anaknya.
Kedua kakek Rio memang sudah lama tiada.

“Ma, buku yang mana?” tanya Rio sambil melihat lihat jejeran buku di lemari bagian paling atas.
“Itu di depan kamu, yang dekat Al Quran,” kata Dinda sambil menunjuk ke arah lemari.

“Mana Ma, adanya cuma buku Yasin, mengenang meninggalnya kakek Doni…” jawab Rio sambil membaca sampul buku Yasin.
“Iya, hanya itu buku yang ada kakek Doninya…”

21 - buku yasin

 

Sahabat, itulah bedanya seorang yang menulis buku dan tidak menulis buku. Anak cucu Anda akan merasakan akibatnya.

Read Full Post »

Jangan Pernah Berhenti Menulis

Jangan menyerah…
Jangan menyerah…
Jangan menyerah…

Ungkapan ini begitu terkenal sebagai pidato paling singkat yang disampaikan Perdana Menteri Inggris – Winston Churchill ketika Perang Dunia II berkobar. Dua kata sakti ini kemudian dengan sangat cantik dilantunka dalam sebuah lagu oleh grup D’Massiv. Iramanya tidak berkobar seperti Perang Dunia II, tapi tetap pas menyemangati siapapun yang sedang berjuang.

Rasanya di akhir tahun ini dan menyongsong 2010, ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan bahwa kita harus tetap penuh semangat dalam menulis. Tentu banyak hambatan dan halangan dalam menjalankan kegiatan menulis, terutama buat mereka yang menjadikan menulis hanya sebagai sampingan, atau prioritas kesekian. Tapi jangan menyerah! Teruslah menulis, sampai titik tinta penghabisan.

Target 2010
Salah satu pemacu saya sebagai penulis adalah target. Setiap tahun, saya menargetkan akan menulis berapa buku. Dalam banyak kesempatan, sudah tersebar luas target jangka panjang saya yaitu menulis 1000 (seribu) judul buku. Nah, tentu target jangka panjang itu harus diurai menjadi target tahunan, bulanan dan harian. Secara matematika, maka dalam setahun saya harus menulis sebanyak 30-an buku, dengan estimasti usia saya sampai 60-an tahun. Berarti dalam sebulan, harus selesai 3 buku, dan dalam sehari 10 halaman, dengan estimasti rata-rata buku setebal 100-an halaman.

Tahun depan, target saya adalah 30 buku dengan rincian, 6 buku sendirian, 4 buku hasil kolaborasi dan 20 buku yang ikut saya bidani prosesnya. Mulai dari menjadi editor, menjadi mentor atau siswa di Sekolah Menulis Kre@tif yang saya kelola. Selama 2010, jumlah siswa SMKI minimal 100 orang sehingga tidak muluk mengharapkan sekitar 20 diantaranya mampu menyelesaikan bukunya tepat waktu.

Selain menulis, kegiatan saya juga setumpuk. Jadi kalau Anda menuduh saya tidak sibuk, keliru besar (sibuk bukan alasan untuk tidak menulis – itu intinya). Saya masih mengajar di tiga kampus, plus mengajar di sekolah menulis online, sekolah menulis kreatif dan berbagai pelatihan. Dalam seminggu, jumlah jam mengajar saya tidak kurang dari 30 jam. Plus mengurusi tetek benget tempat kursus, melayani konsultasi, kadang siaran juga dan mengurusi percetakan buku. Masih sempat menulis? Masih banyak waktu luang kok! Waktu luang untuk menulis….

Lalu apa target Anda?
Silahkan canangkan target Anda, khususnya dalam menulis. Terserah mau menulis berapa banyak buku, yang penting segera keluar dari status sebagai manusia pra sejarah, yang sampai matinya tidak pernah menghasilkan karya, seperti buku. Raihlah predikat manusia bersejarah atau pencetak sejarah dengan menulis, menulis buku.

Ingat bangsa ini masih butuh banyak tulisan bermutu dan bermanfaat. Sayangilah ilmu dan lestarikanlah dengan cara menuliskannya. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berpesta pora dalam keburukan.

Jangan berhenti menulis
Jangan berhenti menulis
Jangan berhenti menulis

Monumenkan tulisan Anda dalam bentuk buku, karena inilah karya tulis terbaik sepanjang massa.

Selamat menulis!

Dodi Mawardi
Pengelola dan Mentor Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Read Full Post »

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia
kembali menggelar pelatihan menulis sehari.
Kali ini:

Kid Writing Tour
Belajar menulis sambil jalan-jalan ke penerbit, majalah dan percetakan

Waktu: Selasa, 22 Desember 2009
Jam: 08.30 – 17.00
Lokasi:
– Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Plasa Tendean Lt 3 Mampang.
– Majalah Mombi jalan Panjang Kebon Jeruk.
– Penerbit Elex Media Komputindo Gramedia Palmerah
– Percetakan Gramedia Palmerah.

Target peserta:
Anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, usia 9 – 15 tahun.
Atau siapapun anak-anak yang tertarik dunia tulis menulis.

Materi:
– Belajar menulis dan mengarang mulai dari kisah fiksi (cerpen) sampai pengalaman/pendapat pribadi (non fiksi).
– Mengenali industri penerbitan.
– Mengetahui industri penulisan.
– Bagaimana berhubungan dengan penerbit dan majalah.

Benefit:
– Berhubungan langsung dengan praktisi penulisan, penerbitan, media massa dan percetakan.
– Bergabung dalam komunitas penulis profesional.
– Konsultasi penulisan seumur hidup bersama Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
– Diskon 20% kursus menulis di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
– Transportasi AC, Makan Siang, Paket Buku Gratis, Paket makanan ringan, Ice Cream Break dan hadiah serta doorprize.

Investasi:
Normal Rp 450.000
Early Bird Rp 400.000 – sebelum 16 Desember 2009.
(Putra-putri member Profec berlaku early bird)

Segera ajak anak Anda bergabung di sini dan berikan keterampilan masa depan buat mereka. Tempat sangat terbatas!

Pendaftaran hubungi:
Emma 021-33556975 atau sms di 08158237831.

Read Full Post »