Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dodi mawardi’

19072019 - Foto - Pelatihan Literasi Media - Formasi lengkap

Bias dan pelintiran berita begitu marak di media massa mainstream terutama media daring. Sedangkan di medsos, berita bohong (hoax) dan pemutarbalikan fakta (spin) yang jadi rajanya. Plus ujaran kebencian (hate speech).

 

Itulah fakta yang terjadi saat ini dan membutuhkan pendidikan literasi media untuk membantu mengatasinya. Literasi media bukan obat, bukan pula jurus simsalabim dalam menghadapi gonjang-ganjing di media sosial. Namun, literasi media akan menghambat sebaran berita palsu, bohong, pelintiran, sampai ujaran kebencian dan fitnah. Dengan melek media, maka warga medsos akan lebih kritis dalam menerima setiap pesan di HP-nya, baik yang dikirimkan via website, email, facebook, instagram, whatsapp, atau media lainnya.

 

Dinamika media sosial yang begitu semarak dalam konotasi negatif, tentu saja mengkhawatirkan banyak pihak, terutama pemerintah. Bagaimana pun, pemerintah punya kewajiban untuk menjaga situasi dan kondisi negara tetap aman terkendali. Media sosial – terutama pada masa pemilu – terbukti ikut serta memengaruhi situasi dan kondisi. Pada sejumlah momentum, pemerintah kelabakan dalam menyikapinya.

 

Selain pemerintah, sejumlah pihak lainnya pun ketar-ketir dengan perkembangan  media massa, terutama para pengelola media massa arus utama seperti surat kabar konvensional, televisi konvensional dan stasiun radio. Sejumlah hasil riset menunjukkan, pola akses informasi masyarakat mengalami perubahan signifikan. Media sosial menjelma menjadi media arus utama sumber informasi masyarakat. Ternyata, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di hampir semua negara di dunia. Kolaborasi informasi melalui teknologi siber, menjadi kekuatan baru sekaligus ancaman jika tak dikelola dengan benar.

 

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sangat peduli dengan literasi media. Sejak Senin (16 Juli) sampai Jumat (19 Juli 2019), BSSN menyelenggarakan Pelatihan Literasi Media untuk tim inti salah satu direktoratnya. Hadir sebagai pemateri yaitu dari Media Kernell Indonesia, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indoensia), dan Dodi Mawardi (penulis, mantan wartawan, dan akademisi komunikasi). Selama sepekan, tim inti BSSN mendapatkan gambaran nyata dan utuh tentang literasi media dan peran pentingnya dalam mengatasi gencarnya mal-informasi di media, terutama media sosial.

 

Kami semua sepakat, era medsos semakin membuka mata kita bahwa literasi media teramat penting untuk bangsa ini. Mau tahu tentang literasi media? Silakan tanya Mbah Google.

 

Iklan

Read Full Post »

belajar-goblok-ke-london-book-fair-5c9062283ba7f7204157ceb2

Ada banyak pameran buku yang menarik untuk dikunjungi. Kalau di Indonesia, Anda bisa mengunjungi Indonesia Internasional Book Fair, atau Jakarta Book Fair, atau Indonesia Islamic Book Fair yang baru berlangsung beberapa pekan lalu. Bahkan penerbit terkemuka di negeri ini, Gramedia, tak ketinggalan membuat pameran sendiri yaitu Gramedia Book Fair. Pameran itu biasanya berlangsung selama sepekan, dan rutin dilakukan setiap tahun.

Bagaimana kalau di luar negeri? Wow, tentu saja lebih banyak lagi ya. Yang paling terkenal adalah Frankfurt Book Fair di Jerman. Setiap negara di Eropa, seperti juga di Indonesia, menyelanggarakan banyak pameran buku. Namun, yang menarik perhatian dunia internasional hanya beberapa. Yang paling terkenal ya itu tadi, di Frankfurt Jerman. Setiap tahun, jumlah pesertanya membludak dari seluruh dunia. Bahkan, Frankfurt Book Fair menjadi salah satu barometer industri buku dunia. Mereka disebut sebagai Mekahnya industri buku dunia. Kalah tuh pameran buku di Amerika, atau negara di Eropa lainnya, Jepang atau China.

Nah, kali ini saya mau membahas secara khusus London Book Fair (LBF), yang baru berakhir 15 Maret kemarin. Sebuah pameran buku berskala besar dan internasional, yang kalau level Eropa hanya kalah oleh Frankfurt Book Fair. Pesertanya berasal dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Setiap tahun, sejumlah penebit besar Indonesia ikut serta memasarkan beragam judul buku dalam pameran tersebut. Tahun ini, LBF sudah diselenggarakan untuk yang ke-48 kalinya. Tahun berapa tuh pertama kali diselenggarakan?

Tahun lalu, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang tampil di panggung utama. Tahun ini, Indonesia tetap mendapatkan perhatian khusus dari penyelenggara. Apalagi pemerintah Inggris dan Indonesia juga mendukung penuh. Tidak kurang dari 12 penulis Indonesia tampil di LBF dengan beragam tema. Panitia juga memberikan penghargaan kepada 2 pihak dari Indonesia, yang dianggap memiliki potensi dan prestasi baik di industri buku. Keren kan?

Saya tidak ikut serta ke sana. Walau pun selalu bermimpi untuk ikut serta dalam pameran buku internasional seperti Frankfurt atau London. Tapi salah satu buku karya saya, yaitu Belajar Goblok dari Bob Sadino, ikut berpartisipasi. Ya begitulah kalau penulis. Meski penulisnya tak ikut, karyanya bolehlah menjadi wakil, hehe.

Alhamdulilah, sebuah kebanggaan khusus bisa tampil di sana. Ini adalah buku pertama saya yang ikut dalam pameran internasional. Semoga ke depan ada lagi karya lain yang bisa meramaikan panggung buku dunia.

Belajar Goblok ini memang unik. Sebuah buku berisi pemikiran, ucapan dan tindakan Bob Sadino dalam berbisnis. Buku ini menjadi inspirasi, karena sosok Om Bob memang inspiratif. Sejak diterbitkan pada 2008 lalu, buku ini terus menerus dicetak ulang hingga sekarang. Bahkan buku edisi barunya, yang diterbitkan Elexmedia Komputindo (Gramedia Group) pada Juli 2017, sampai saat ini sudah dicetak ulang sebanyak 6 kali. Respon pembaca masih cukup tinggi terhadap buku ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya buat pembaca, penerbit, editor serta toko buku dan tentu saja Kompasiana.

Yang pasti, kehadiran Belajar Goblok di London Book Fair 2019 menjadi penyemangat baru bagi saya untuk terus berkarya mewarnai bangsa ini dengan hal-hal positif. Hanya itulah yang bisa saya lakukan untuk negara, selain menjadi warga negara yang disiplin membayar pajak dan berperilaku baik dengan selalu taat hukum.

 

Tulisan ini juga dimuat di

https://www.kompasiana.com/penuliskreatif/5c9061b50b531c1c06679442/belajar-goblok-ke-london-book-fair-2019#

Read Full Post »

Wajah-wajah tegang dan lelah selama 4 hari pelatihan, berakhir ceria pada hari ke-5 setelah master asesor menyatakan, “Anda saya nyatakan kompeten!”. Kalimat itu muncul setelah proses cek dokumen, dan ujian praktik selama kurang lebih setengah hari. Master asesor penguji memeriksa seluruh dokumen, dan melihat langsung asesi (calon asesor) melaksanakan proses asesmen peserta. Tentu saja ketegangan melanda. Apalagi setelah diperiksa master asesor, masih banyak dokumen peserta yang dikoreksi dan harus dicetak ulang. Sebuah proses yang melelahkan dan menyita waktu.

Screenshot_2017-09-09-08-24-14-959_com.instagram.android

Sebanyak 25 orang mengikuti Pelatihan Asesor Kompetensi kerjasama Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang diselenggarakan di Puskurbuk, Balitbang Kemendikbud, Jl. Gunung Sahari, mulai 4 – 8  September 2017. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Yogya, Bandung dan Bogor, dengan latar belakang sejenis, yaitu industri penulisan. Penpro sebagai organisasi penulis Indonesia, menggagas berdirinya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang Penulis dan Editor.  Salah satu syaratnya, harus memiliki sejumlah asesor.

 

Selama pelatihan, peserta dibimbing oleh dua master  asesor yaitu Inez Mutiara Tedjosumirat dan Swystika Rahayu. Keduanya dengan telaten mengajarkan peserta bagaimana menyusun dokumen asesmen dan melaksanakan asesmen. Sebagai asesor, setiap peserta harus menguasai tiga kompetensi yaitu merencanakan dan mengorganisasi asesmen (MMA), mengembangkan perangkat asesmen (MPA), dan melaksanakan asesmen kompetensi (MAK). Ketiga kompetensi itulah yang harus dikuasai baik secara teori maupun praktik oleh setiap peserta selama 4 hari. Tak heran jika hampir setiap hari, pelatihan baru tuntas ketika matahari sudah lama tengggelam.

IMG-20170905-WA0007

Para peserta wajib membuat dua dokumen untuk MMA, MPA dan MAK, yang kemudian disimulasikan. Seseorang dinyatakan kompeten sebagai asesor, jika sudah melakukan simulasi sebanyak 3 dokumen asesmen. Dokumen ketigalah yang diuji oleh master asesor yang berbeda dengan master asesor pelatih, dan jika berhasil akan dinyatakan sebagai, “Anda kompeten sebagai asesor!”.

 

Indonesia termasuk terlambat dalam mensertifikasi profesi di berbagai bidang. Padahal, cikal bakal pentingnya sertifikasi sudah dimulai sejak 1983, 34 tahun silam. negara-negara di kawasan ASEAN khususnya Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina sudah lebih dulu menggencarkan standardisasi profesi di berbagai bidang. Indonesia menjadi kelabakan ketika kawasan bebas ASEAN berlaku pada 2015 lalu.

 

Dampaknya besar. Ketika arus masuk investasi, barang, jasa dan tenaga kerja terjadi, Indonesia mengalami ketimpangan. Misal, di bidang pertambangan dan energi. Tenaga kerja yang bisa bekerja di sana, sebagian besar harus memiliki sertifikat di bidangnya masing-masing. Tenaga kerja Indonesia masih sedikit yang memiliki sertifikat BNSP, sehingga lebih banyak tenaga kerja asing yang bekerja di sejumlah sektor tersebut. Pun di bidang perdagangan, sudah kerap terjadi, kegagalan transaksi perdagangan akibat tak adanya sertifikasi standar pada bidang tertentu.

IMG_20170908_140723_1

(“Anda kompeten sebagai asesor!” ucap pak Benny, master asesor BNSP.)

 

Profesi penulis dan editor pun bakal mengalami hal yang sama jika tidak segera diberlakukan sertifikasi profesi berstandar BNSP. Sertifikasi yang bukan hanya berlaku di dalam negeri melainkan juga di kawasan ASEAN dan global. Para pelaku industri penulisan dan penerbitan buku, wajib segera melek terhadap perkembangan zaman yang begitu cepat bergerak. Industri ini minimal harus bercermin kepada industri pariwisata, yang relatif berhasil menyesuaikan diri dalam kompetisi global.

 

Semoga berhasil.

 

Read Full Post »

Re-Launch buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” berlangsung semarak, pada Sabtu  malam (26/8/2017) di toko buku Gramedia Matraman. Seratus undangan hadir dalam acara yang dihelat oleh Ikastara Business Club (IBC), bersama Elex Media Komputindo dan toko buku Gramedia Matraman.  Acara diawali dengan penampilan Acro Yoga, Kang Rusdi and friend, dilanjutkan dengan talkshow bisnis “Otak Kiri vs Otak Kanan dalam Berwirausaha”. Sebagai pembicara adalah Chardin Trinanda – Chairman RIN Biotek Indonesia, Miftakhul Ahsan – mantan pilot Garuda & Qatar, pemilik tempat wisata Bukit Bunda Blitar dan Frans Satya Pekasa – pengusaha mebel eksportir terbaik nasional 2012 & 2013. Talkshow dipandu oleh penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” Dodi Mawardi.

para pembicara

Berikut ini, kesimpulan dari talkshow dan isi buku hasil tulisan Bahar Riand Passa, pemilik warung Ayam President Singapura.

KEGAGALAN ITU WAJAR

Riwayat hidup Frans dan Chardin sungguh layak dijadikan pelajaran. Sempat mengalami kegagalan dan bahkan kebangkrutan, beliau berdua tetap bersemangat kuat untuk bangkit. Kebangkitan Frans tercapai dengan berjuang di bidang yang sama, dan dalam waktu singkat meninggalkan kebangkrutan dan berhasil menjadi eksportir terbaik nasional 2012 & 2013. Produknya sudah tembus ke lebih dari 50 negara. Beliau bahkan memiliki 3 gerai furniture di China, negara yang memiliki 1/3 penduduk dunia. Ketika kebanyakan orang takut untuk berkompetisi di China, Frans justru melihat peluang karena ternyata orang sana “tidak sepintar” yang dibayangkan.

Untuk bangkit, Chardin memilih untuk banting setir bahkan melanglang buana dulu ke AS bekerja dari cuci piring, menjadi Chef, lalu Head Chef di Restaurant Sushi besar sehingga bisa mengumpulkan modal untuk pulang ke Indonesia dan kembali menghidupkan tim yang lama. Sekarang beliau menjadi pemborong proyek-proyek M&E dan menciptakan satu produk Hygeia di samping menjadi Founder PT. Paradua Bangun Nusantara, dengan teman seangkatannya di SMA Taruna Nusantara Magelang.

Miftah yang selama 20 tahunan menjadi pilot, ingin memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya masyarakat di sekelilingnya. Hal itu membuatnya bahagia. Seperti Bob Sadino yang memutuskan kembali ke tanah air setelah bekerja di perusahaan pelayaran di Belanda. Miftah sekarang membangun Taman Rekreasi dan Edukasi Keluarga Bukit Bunda tanpa arsitek. Beliau sendiri yang merancang, mendesain, dan juga mengawasi konstruksi. Bahkan untuk operasional sehari-hari.

relaunching buku

Bob Sadino ternyata sulit hidupnya setelah pulang ke Indonesia, apalagi ketika mobil Mercy hasil keringatnya di Eropa dan dipakai untuk mencari penghasilan tambahan sebagai taksi gelap mengalami kecelakaan dan tidak cukup dana untuk reparasi. Di tengah kesulitan, Bob Sadino memutuskan menerima tawaran teman untuk beternak ayam dan menjual telur ayam dari pintu ke pintu. Yang membedakan beliau dari peternak ayam lainnya saat itu adalah dia selalu up-to-date dengan teknologi praktis terakhir dengan cara berlangganan majalah peternakan dari Belanda. Di samping itu, metode penjualannya pun unik, dengan memberikan gimmick setangkai anggrek untuk setiap paket telor. Ternyata gimmick ini diterima dengan baik oleh konsumen awalnya yang kebanyakan ekspatriat. Di Eropa, anggrek adalah bunga yang mahal, tapi di Indonesia waktu itu harganya murah dan mudah didapatkan.

BERANI TAPI BERILMU.

Bila Bob Sadino seolah-olah hanya modal nekat dan tidak menggubris segala “best-practices” yang ada di industri yang dijalaninya, Frans dan Chardin menyarankan untuk tetap berani tapi harus berbekal dengan ilmu. Ilmu bisa bisa dipelajari dari kegagalan sendiri, atau kegagalan-kegagalan orang lain. Untuk hemat “uang sekolah”, sebaiknya kita belajar dari kegagalan orang lain juga.

Tidak semua orang dapat menanggung stress dari ketidakpastian dan kegagalan berwirausaha. Kita tidak tahu seberapa berat hidup mereka yang sekarang sukses tapi dulu berdarah-darah ketika mereka di titik nadir. Maka dari itu, kita harus sebanyak mungkin mencari ilmu sebelum masuk ke suatu usaha. Ilmu bukan hanya dari bangku sekolah, tapi bisa didapatkan dari mentor-mentor yang telah menjalankan usaha di bidang itu. Seperti yang kita baca dari riwayatnya, Bob Sadino pun sangat haus akan ilmu di bidangnya, walaupun bukan dari kampus atau sekolahan.

MEMAHAMI KEINGINAN KONSUMEN ADALAH KUNCI

Apapapun bisnis kita, konsumen adalah raja. Artinya, kita harus memahami apa yang diinginkan konsumen. Bukan apa yang kita pikir sebagai kualitas prima. Bagaimana kita mengetahuinya? Bisa dengan berinteraksi dengan konsumen atau dengan metode-metode lainnya. Bagaimana Amazon Google Facebook menjadi sebesar sekarang? Salah satunya dengan memahami secari detail keperluan konsumen mereka. Bob Sadino memahami keperluan konsumen dengan meluangkan waktunya ikut bekerja melayani Konsumen.

 

PILIHLAH PARTNER YANG TEPAT

Dari obrolan dengan narasumber di sela acara, tidak ada yang lebih buruk daripada memilih partner yang salah. Partner bisa berarti co-founder, karyawan utama, bahkan para supplier kita. Setiap partner harus dipilih dengan baik berdasarkan keterampilan yang saling melengkapi dan integritas yang tinggi.

ikastaran

TERIMAKASIH untuk Pendukung Acara!

Terimakasih untuk Bahar Riand Passa atas koordinasi kerennya atas acara ini. Trims untuk  Pratama Adieputra Suseno sebagai Event director dan Titis serta Citra Fatihah dan tim sebagai panitia yang ikut mensukseskan acara. Terimakasih Arieta Soebroto, MC acara ini yang juga memiliki usaha perkebungan bunga. Bisa dilihat di Instagram @clea_flower.  Terimakasih juga untuk Maradona & Fajar yang memberikan sponsor Kebab untuk konsumsi. Kebabnya enak dan bisa diorder delivery Instagram @JKebab_ID, WA 087875023983.

Terimakasih Sri Gusni Febriasari untuk karangan bunganya yang cantik. Untuk yang perlu bunga, bisa order di MaknaFlorist Instagram @maknaflorist, WA 081212378048.

Bagi pembaca yang mau buku Belajar Goblok dari Bob Sadino edisi baru yang disempurnakan, silakan serbu toko buku terdekat. Isinya dijamin sangat bermanfaat dan dapat mengubah paradigma Anda.

 

Slide9

Read Full Post »

Setelah terbit selama lebih dari 8 tahun melalui penerbit Kintamani, mulai 17 Juli 2017, buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, kembali terbit dengan versi edisi yang disempurnakan. Buku karya Dodi Mawardi ini, kali ini diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo, penerbit grup Gramedia.

Belajar Goblok dari Bob Sadino edisi baru

Edisi yang disempurnakan ini berisi sejumlah artikel baru, yang belum pernah dipublikasikan seputar ide, pikiran, ucapan dan tindakan Bob Sadino dalam berbisnis. Penulis juga melakukan sejumlah revisi dan penyempurnaan terhadap naskah lama yang masih mengandung sejumlah kesalahan.

Entah sudah berapa kali buku ini dicetak ulang. Ada edisi hard cover dan soft cover, yang jelas lebih dari 20 kali cetak ulang. Memang luar biasa respons masyarakat terhadap buku ini. Terima kasih buat seluruh pembaca yang sudah memberikan apresiasi terhadap karya kami dan Om Bob ini.

Edisi yang disempurnakan ini lahir karena beberapa alasan. Pertama, karena Om Bob berpesan agar ilmu dan pengalamannya tidak dibawa mati. Harus disebarkan ke sebanyak mungkin orang lain agar memberikan manfaat. Kedua, respons dari masyarakat terhadap buku Bob Sadino masih sangat tinggi, sehingga menimbulkan keinginan sejumlah rekan penulis dan penerbit untuk membuat karya tentang sosok fenomenal ini. Ketiga, sebagai upaya penulis untuk meluruskan sejumlah fakta agar tercatat abadi dalam sejarah industri buku di Indonesia.

Slide9

Silakan segera ke toko buku untuk mendapatkan buku ini, atau klik melalui toko-toko buku online. Pengusaha atau yang berminat di bidang wirausaha, wajib memiliki buku fenomenal ini.

 

Read Full Post »

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya. Buku ini bolehlah disebut sebagai ‘adik’ dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, dan buku Mereka Bilang Saya Gila.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

Silakan baca juga resensi buku ini dari seorang pembaca di sini… (www.resensi.ilarizky.com)

 

 

Read Full Post »

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Read Full Post »

Setelah sukses berbagi pengetahuan di Universitas Bina Nusantara, Akutahu.com kembali membagi ilmu menulis kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, 15 Mei lalu. Pembicaranya masih Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, penulis profesional, trainer penulisan dan mentor di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI). Sekitar 50 mahasiswa UMN, sebagian besar dari Ilmu Komunikasi, menghadiri seminar dengan tajuk “Akulah Si Penulis.”

Screenshot_2017-05-15-19-40-04_resized

Dalam kesempatan itu, Dodi Mawardi memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan 1001 macam peluang penulisan, mulai dari penulis buku, penulis di media massa, penulis di media internet sampai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk keuntungan materi dengan tulisan. Peserta sangat antusias bertanya terkait peluang-peluang tersebut, terutama peluang penulisan di media sosial dan peluang menjadi ghost writer atau co-writer.

Screenshot_2017-05-15-19-40-57_resized

Seperti dalam seminar dan workshop lainnya, Dodi Mawardi membawakan materi dengan penuh kegembiraan. Setiap materi diselingi dengan permainan khusus kata-kata (writing challenge), yang memacu adrenalin para peserta. Di setiap permainan, motivator menulis ini menghadiahi peserta terbaik dengan sejumlah buku. Panitia pun menambahinya dengan hadiah berupa bingkisan dari sponsor.

Read Full Post »

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Read Full Post »

 

Slide1

Kaget. Kesal. Sedih. Senang… campur aduk ketika melihat sebuah buku yang mengupas tentang Bob Sadino, pengusaha eksentrik yang sudah meninggal dunia awal tahun 2015 lalu. Sudah banyak buku yang membahas sosok unik tersebut. Tapi, buku yang satu ini beda. Sebagai penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, saya bisa membandingkan isi tulisan terkait sang pengusaha tersebut. Apakah sama atau beda? Lihat daftar isinya, sudut pandang tulisannya, naskahnya, foto-fotonya, judul setiap babnya, hanya sekilas pun bisa tahu bedanya.

 

Buku berjudul “Bob Sadino – Goblok Pangkal Kaya” ini sejak awal sudah mencurigakan. Saya bolak balik halaman depan dan belakangnya. Saya baca penerbitnya “Genesis Learning” Yogyakarta.  Lalu saya lihat penulisnya, Weni Wisteria. Baru baca daftar isinya saja, kecurigaan saya makin mencuat. Hmmm, ada yang salah dengan buku ini. Lalu saya baca satu persatu secara sekilas bab per babnya. Waduh!

Slide4

Buku ini benar-benar menjiplak buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa mencapai 80%, kalau tidak bisa disebut 100%. Isinya sama.. Sudut pandangnya sama. Bab-babnya juga sama. Penulisnya berupaya mengacaukan urutan bab dan pembahasan. Tapi sungguh sangat jelas terlihat. Penulisnya ‘kopas’ naskah Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu mengubahnya sedikit-sedikit atau menambah dan mengurangi sedikit-sedikit. Misal, kata dapat diganti bisa. Atau kalimat awal ditambahi dengan satu sampai dua kata, dengan tujuan tidak sama persis. Tapi susunan kalimat demi kalimatnya sama. Dengan fakta –fakta tersebut, penulisnya berusaha mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil karyanya.

Slide2

Bahkan pada beberapa bagian, penulisnya dengan sangat ‘cerdas’ mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung dan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung. Persis seperti pelajaran bahasa Indonesia level SD dan SMP.  Sebuah upaya yang berbahaya, karena dia tidak memiliki bukti rekaman wawancara dengan Bob Sadino.

 

Tentu saja kesal melihat kenyataan tersebut, karena meski buku Belajar Goblok dari Bob Sadino disebutkan dalam daftar pustaka bersanding dengan sejumlah buku lainnya, tapi isi buku ini jelas-jelas menjiplak. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  Prof. Dr. Felicia Utorodewo, salah satu ciri plagiarisme adalah “Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.” Bahkan kata pengantar dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino pun yang ditulis oleh Prof.  Dr. Didik J. Rachbini disadur dan dijadikan salah satu bab. Tidak kreatif. Seperti tidak punya ide baru. Tidak ada upaya pembeda. Parah.

20160828_184714_resized

Sedih… karena penulis buku ini mengaku lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya mengenal sejumlah alumni Komunikasi UGM. Mereka sangat berkualitas dan menjunjung tinggi kaidah akademis. Sulit menerima kenyataan bahwa lulusan kampus terbaik itu melakukan plagiarisme. Semoga pengakuan yang tertulis di halaman belakang buku tersebut tidak benar.

 

Fenomena plagiarisme ini memang sudah memprihatinkan di negeri kita. Tak usah melihat di website atau buku populer, dalam pembuatan karya ilmiah pun berulang kali terjadi penjiplakan. Sejumlah orang hebat pernah diduga dan sebagian mengakui sudah melakukan aksi plagiat. Sebuah aksi yang sangat memalukan dalam dunia akademis dan perbukuan.

 

Tapi saya senang, hehe… berarti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino ini memang sukses. Bukan hanya karena menyangkut sosok Bob Sadino yang memang fenomenal, melainkan juga karena cara penulisan, alur, dan gaya bahasanya ditiru orang lain. Penjiplak tidak mungkin mau begitu saja meniru tulisan tersebut jika tidak sesuai dengan seleranya (atau penerbitnya) bukan?  Itu saja yang sedikit menghibur…

 

Buat penerbit Genesis (@penerbitgenesis) dan penulisnya Hana Wisteria, jangan khawatir… saya tidak akan menempuh jalur hukum. Pasti bakal melelahkan. Keluar energi banyak pula berupa waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi. Tapi sebelum Anda mengakui dan menyesali perbuatan tersebut, saya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakbenaran itu melalui tulisan. Terus menerus.

 

Saya tidak tahu dengan penerbit Kintamani yang mempublikasikan buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Apakah mereka keberatan atau tidak. Sudah lama kami tidak berinteraksi. Bahkan ketika buku tersebut dicetak ulang berkali-kali pun, penulis tidak pernah diberi tahu. Bagi saya, buku tersebut adalah anugerah luas biasa. Hanya terima kasih sebesar-besarnya yang teriring buat almarhum Om Bob beserta keluarganya, yang telah mengizinkan saya untuk membedah “pelajaran hidup” yang mahal dalam diri beliau. Semoga Allah Swt., memberikan balasan terbaik buat Om…

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

Older Posts »