Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dodi mawardi’

Setelah terbit selama lebih dari 8 tahun melalui penerbit Kintamani, mulai 17 Juli 2017, buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, kembali terbit dengan versi edisi yang disempurnakan. Buku karya Dodi Mawardi ini, kali ini diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo, penerbit grup Gramedia.

Belajar Goblok dari Bob Sadino edisi baru

Edisi yang disempurnakan ini berisi sejumlah artikel baru, yang belum pernah dipublikasikan seputar ide, pikiran, ucapan dan tindakan Bob Sadino dalam berbisnis. Penulis juga melakukan sejumlah revisi dan penyempurnaan terhadap naskah lama yang masih mengandung sejumlah kesalahan.

Entah sudah berapa kali buku ini dicetak ulang. Ada edisi hard cover dan soft cover, yang jelas lebih dari 20 kali cetak ulang. Memang luar biasa respons masyarakat terhadap buku ini. Terima kasih buat seluruh pembaca yang sudah memberikan apresiasi terhadap karya kami dan Om Bob ini.

Edisi yang disempurnakan ini lahir karena beberapa alasan. Pertama, karena Om Bob berpesan agar ilmu dan pengalamannya tidak dibawa mati. Harus disebarkan ke sebanyak mungkin orang lain agar memberikan manfaat. Kedua, respons dari masyarakat terhadap buku Bob Sadino masih sangat tinggi, sehingga menimbulkan keinginan sejumlah rekan penulis dan penerbit untuk membuat karya tentang sosok fenomenal ini. Ketiga, sebagai upaya penulis untuk meluruskan sejumlah fakta agar tercatat abadi dalam sejarah industri buku di Indonesia.

Slide9

Silakan segera ke toko buku untuk mendapatkan buku ini, atau klik melalui toko-toko buku online. Pengusaha atau yang berminat di bidang wirausaha, wajib memiliki buku fenomenal ini.

 

Read Full Post »

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya. Buku ini bolehlah disebut sebagai ‘adik’ dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, dan buku Mereka Bilang Saya Gila.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

Silakan baca juga resensi buku ini dari seorang pembaca di sini… (www.resensi.ilarizky.com)

 

 

Read Full Post »

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Read Full Post »

Setelah sukses berbagi pengetahuan di Universitas Bina Nusantara, Akutahu.com kembali membagi ilmu menulis kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, 15 Mei lalu. Pembicaranya masih Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, penulis profesional, trainer penulisan dan mentor di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI). Sekitar 50 mahasiswa UMN, sebagian besar dari Ilmu Komunikasi, menghadiri seminar dengan tajuk “Akulah Si Penulis.”

Screenshot_2017-05-15-19-40-04_resized

Dalam kesempatan itu, Dodi Mawardi memberikan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan 1001 macam peluang penulisan, mulai dari penulis buku, penulis di media massa, penulis di media internet sampai bagaimana memanfaatkan media sosial untuk keuntungan materi dengan tulisan. Peserta sangat antusias bertanya terkait peluang-peluang tersebut, terutama peluang penulisan di media sosial dan peluang menjadi ghost writer atau co-writer.

Screenshot_2017-05-15-19-40-57_resized

Seperti dalam seminar dan workshop lainnya, Dodi Mawardi membawakan materi dengan penuh kegembiraan. Setiap materi diselingi dengan permainan khusus kata-kata (writing challenge), yang memacu adrenalin para peserta. Di setiap permainan, motivator menulis ini menghadiahi peserta terbaik dengan sejumlah buku. Panitia pun menambahinya dengan hadiah berupa bingkisan dari sponsor.

Read Full Post »

Sekitar 50 mahasiswa dan siswa SMU di kawasan Jakarta menghadiri workshop Akulah Si Penulis pada Sabtu 29 April 2017, di aula kampus Binus Anggrek Jakarta Barat. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Akutahu.com bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti Ikatan Alumni Mahasiswa UI (Iluni) dan Binus Center. Workhsop dipandu oleh pelatih/penulis profesional Dodi Mawardi (penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino).

18161124_1180068282103622_1968372220287778816_n

Dodi memperkenalkan profesi menulis sebagai sebuah pilihan hidup, yang layak untuk dijalani. Dia memberikan trik dan tip bagaimana memanfaatkan peluang di bidang penulisan mulai dari penulis buku, penulis artikel sampai penulis media sosial yang sedang marak saat ini. Para peserta juga diiming-imingi dengan potensi penghasilan dari menulis, yang cukup menggiurkan. “Profesi apapun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan hasil optimal,” ucap Dodi.

18253337_234503317029015_905229439271436288_n

Dalam kesempatan itu, Dodi juga mengajak peserta untuk bermain kata dan kalimat melalui sejumlah permainan. Ternyata, workshop menulis bisa juga menjadi sebuah kegiatan menarik dan menghibur. Apalagi pada setiap games, selalu disertai dengan guyuran hadiah dari panitia. Di akhir acara, setiap peserta ditantang untuk menulis sebuah artikel dengan tema yang dipilih secara acak oleh panitia.

Read Full Post »

 

Slide1

Kaget. Kesal. Sedih. Senang… campur aduk ketika melihat sebuah buku yang mengupas tentang Bob Sadino, pengusaha eksentrik yang sudah meninggal dunia awal tahun 2015 lalu. Sudah banyak buku yang membahas sosok unik tersebut. Tapi, buku yang satu ini beda. Sebagai penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, saya bisa membandingkan isi tulisan terkait sang pengusaha tersebut. Apakah sama atau beda? Lihat daftar isinya, sudut pandang tulisannya, naskahnya, foto-fotonya, judul setiap babnya, hanya sekilas pun bisa tahu bedanya.

 

Buku berjudul “Bob Sadino – Goblok Pangkal Kaya” ini sejak awal sudah mencurigakan. Saya bolak balik halaman depan dan belakangnya. Saya baca penerbitnya “Genesis Learning” Yogyakarta.  Lalu saya lihat penulisnya, Weni Wisteria. Baru baca daftar isinya saja, kecurigaan saya makin mencuat. Hmmm, ada yang salah dengan buku ini. Lalu saya baca satu persatu secara sekilas bab per babnya. Waduh!

Slide4

Buku ini benar-benar menjiplak buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa mencapai 80%, kalau tidak bisa disebut 100%. Isinya sama.. Sudut pandangnya sama. Bab-babnya juga sama. Penulisnya berupaya mengacaukan urutan bab dan pembahasan. Tapi sungguh sangat jelas terlihat. Penulisnya ‘kopas’ naskah Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu mengubahnya sedikit-sedikit atau menambah dan mengurangi sedikit-sedikit. Misal, kata dapat diganti bisa. Atau kalimat awal ditambahi dengan satu sampai dua kata, dengan tujuan tidak sama persis. Tapi susunan kalimat demi kalimatnya sama. Dengan fakta –fakta tersebut, penulisnya berusaha mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil karyanya.

Slide2

Bahkan pada beberapa bagian, penulisnya dengan sangat ‘cerdas’ mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung dan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung. Persis seperti pelajaran bahasa Indonesia level SD dan SMP.  Sebuah upaya yang berbahaya, karena dia tidak memiliki bukti rekaman wawancara dengan Bob Sadino.

 

Tentu saja kesal melihat kenyataan tersebut, karena meski buku Belajar Goblok dari Bob Sadino disebutkan dalam daftar pustaka bersanding dengan sejumlah buku lainnya, tapi isi buku ini jelas-jelas menjiplak. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  Prof. Dr. Felicia Utorodewo, salah satu ciri plagiarisme adalah “Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.” Bahkan kata pengantar dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino pun yang ditulis oleh Prof.  Dr. Didik J. Rachbini disadur dan dijadikan salah satu bab. Tidak kreatif. Seperti tidak punya ide baru. Tidak ada upaya pembeda. Parah.

20160828_184714_resized

Sedih… karena penulis buku ini mengaku lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Saya mengenal sejumlah alumni Komunikasi UGM. Mereka sangat berkualitas dan menjunjung tinggi kaidah akademis. Sulit menerima kenyataan bahwa lulusan kampus terbaik itu melakukan plagiarisme. Semoga pengakuan yang tertulis di halaman belakang buku tersebut tidak benar.

 

Fenomena plagiarisme ini memang sudah memprihatinkan di negeri kita. Tak usah melihat di website atau buku populer, dalam pembuatan karya ilmiah pun berulang kali terjadi penjiplakan. Sejumlah orang hebat pernah diduga dan sebagian mengakui sudah melakukan aksi plagiat. Sebuah aksi yang sangat memalukan dalam dunia akademis dan perbukuan.

 

Tapi saya senang, hehe… berarti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino ini memang sukses. Bukan hanya karena menyangkut sosok Bob Sadino yang memang fenomenal, melainkan juga karena cara penulisan, alur, dan gaya bahasanya ditiru orang lain. Penjiplak tidak mungkin mau begitu saja meniru tulisan tersebut jika tidak sesuai dengan seleranya (atau penerbitnya) bukan?  Itu saja yang sedikit menghibur…

 

Buat penerbit Genesis (@penerbitgenesis) dan penulisnya Hana Wisteria, jangan khawatir… saya tidak akan menempuh jalur hukum. Pasti bakal melelahkan. Keluar energi banyak pula berupa waktu, tenaga, pikiran dan mungkin materi. Tapi sebelum Anda mengakui dan menyesali perbuatan tersebut, saya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakbenaran itu melalui tulisan. Terus menerus.

 

Saya tidak tahu dengan penerbit Kintamani yang mempublikasikan buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Apakah mereka keberatan atau tidak. Sudah lama kami tidak berinteraksi. Bahkan ketika buku tersebut dicetak ulang berkali-kali pun, penulis tidak pernah diberi tahu. Bagi saya, buku tersebut adalah anugerah luas biasa. Hanya terima kasih sebesar-besarnya yang teriring buat almarhum Om Bob beserta keluarganya, yang telah mengizinkan saya untuk membedah “pelajaran hidup” yang mahal dalam diri beliau. Semoga Allah Swt., memberikan balasan terbaik buat Om…

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

20151030_085657_resized

Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Ruangan masih sepi. Namun, pelan tapi pasti, sejumlah orang mulai berdatangan. Mereka langsung memilih deretan kursi paling depan. Terus… berurutan sampai ke belakang. Acara baru dimulai jam 9 pagi, tapi seperempat jam sebelum acara, ruangan sudah penuh. MC pun mengabarkan, acara akan dimulai tepat jam 9. MC lalu mengingatkan kepada seluruh audien untuk menyimak acara, dan mematikan nada suara handphone.

Sebagian besar audien patuh terhadap “perintah” MC. Begitu acara dimulai, semua diam. Tak ada sedikitpun suara dari audien. Mereka menyimak setiap kata dari para pembicara. Kadang tertawa dan tersenyum, jika isi pembicaraan lucu. Lalu kembali diam. Sebagian dari mereka memegang buku kecil dan pulpen. Tak jarang mereka menggoreskan pulpen tersebut di kertas, ketika mendengar sebuah info yang menurut mereka penting.

Meski diam, terlihat sekali mereka antusias. Mereka mendengarkan dengan aktif; Mendengarkan dengan efektif;  Mencatat; Menyimak; Memberikan atensi dan respek. Meski mereka datang berdua atau bertiga dan duduk bersebelahan, tak pernah sekalipun diantara mereka berdialog, ketika panelis di depan berbicara.

20151030_151601_resized

Fakta itu berlangsung hampir di seluruh tempat diskusi dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud 2015. Pengunjung betul-betul berkomitmen untuk berdiskusi, mendapatkan pengetahuan dan informasi dari para pembicara. Mereka baru bicara ketika dipersilakan untuk bicara, bertanya dan berdiskusi. Selain itu, diam. Mendengarkan.

Pernah pada salah satu sesi diskusi, terdengar suara HP berdering. Tidak keras, tapi terdengar. Begitu dilihat, ternyata orang Indonesia yang melakukannya. Sedangkan sebagian besar audien lainnya adalah warga negara asing, terutama berasal dari Australia  dan mayoritas adalah orang lanjut usia. Mereka punya HP… tapi HP merekapun sama dengan tuannya; diam juga.

……

Susahnya Diam

Diam dan mendengarkan ternyata hal yang sulit ditemukan di negeri kita. Saya mengajar di sebuah kampus terkemuka di Jakarta. Setiap kali mengajar, selalu saja ada mahasiswa yang mencuri-curi untuk mengobrol dengan teman sebelahnya atau teman di depannya. Kadang saya mengatakan, “Hei… Anda boleh mengobrol, tapi gunakan SMS atau WA saja.” Sebagai isyarat bahwa tindakan mengobrol ketika orang lain bicara adalah tidak sopan dan seringkali mengganggu.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, menghormati orang lain, yang lebih tua dan terutama yang lebih tinggi kedudukannya. Seorang pelayan tidak akan berani membuka mulut atau bahkan mendongakkan kepalanya, ketika tuannya berbicara. Seorang anak tak akan membalas tatapan atau ucapan orangtuanya dengan cara tak sopan. Pun para abdi dan pegawai, pasti akan diam ketika atasan mereka berbicara. Sikap menghormati orang lain, sangat dijunjung tinggi oleh sebagian besar nenek moyang kita.

Tapi ternyata semua itu tinggal sejarah. Sulit menemukan fakta bahwa orang Indonesia masa kini menghormati orang lain dengan cara seperti yang ditunjukkan pengunjung warga negara asing dalam Ubud Writers & Readers Festival. Sangat sederhana, cukup diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara. Tidak butuh usaha ekstra keras untuk melakukan. Cukup komitmen saja untuk mau melakukannya.

Kamis (5/11) kemarin saya mendapatkan undangan dari sebuah penerbit untuk menghadiri acara penganugerahan penghargaan kepada para pengusaha sosial. Acara itu diisi pula dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah nama besar, diantaranya Rhenald Khasali. Selama acara, mulai dari sambutan-sambutan termasuk dari Prof Subroto (mantan presiden OPEC), sampai diskusi, hadirin tidak pernah diam. Suara mereka mengobrol, terutama di bagian belakang mirip seperti segerombolan lebah yang mencari kembang. Beruntung, suara speaker cukup keras, sehingga mampu mengimbangi lebah-lebah tersebut.

Diajari Diam Sejak Belia

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Kenapa hanya untuk mendengarkan orang lain saja, kita merasa susah sekali?

Padahal, sikap menghormati dan menghargai orang lain diawali dengan mendengarkan. Sikap diam ini ternyata menjadi sangat krusial dan penting. Diam ketika orang lain berbicara. Diam untuk mendengarkan.

Akhirnya saya berdiskusi dengan teman asal Australia, Toby. Saya tanyakan apa yang diajarkan oleh sekolah dan orangtua mereka, berkaitan dengan diam dan mendengarkan ini. Jawabannya sungguh sederhana. “Kami sudah terbiasa begitu sejak kecil. Kalau ada orang lain berbicara, kita harus mendengarkan. Kalau masih bicara juga, akan diperingatkan. Kalau sudah diperingatkan masih tidak diam juga akan diusir!”

Tugas seseorang yang berperan sebagai peserta ketika datang menghadiri sebuah acara, atau diskusi, adalah diam dan mendengarkan. Jika tidak mau diam dan mendengarkan, lebih baik tidak datang. Atau segera keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu orang lain di ruang tersebut yang mau mendengarkan.

20151029_093014_resized

PR besar buat saya dan para praktisi pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar plus buat para orangtua. Biarlah para orang dewasa yang sekarang sudah kadung sulit mendengarkan orang lain. Biarlah mereka menyadari sendiri betapa buruknya sikap tersebut. Tapi, jangan sampai anak-anak yang sekarang masih belia, bersikap sama seperti itu. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar dan tepat, bahwa menghormati orang lain adalah penting. Dan salah satu tanda menghormati orang lain adalah diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara.

20151028_174416_resized

Pelajaran besar yang didapatkan dari Ubud Writers & Readers Festival, bukan hanya tentang buku dan pengetahuan yang diberikan para pembicara. Bukan pula hanya pengetahuan tentang kepiawaian panitia dalam mengelola acara. Melainkan juga sikap dan tindakan para pengunjung festival tersebut.

Dodi Mawardi

Penulis, Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Read Full Post »

20151101_203600_resized

Tepuk tangan riuh merespon tarian api (fire dance) menjadi puncak dari Ubud Writers & Readers Festival 2015. Panitia menyuguhkan sejumlah tarian tradisional dengan klimaksnya adalah tarian api pada penutupan festival Minggu (1/11) di Museum Antonio Blanco. Sejumlah penari, pria dan wanita, membawa sejumlah obor menyala-nyala, di tangan. Sebagian menyemburkan api dari mulut. Sebagian memutar-mutar gelang raksasa berapi di pinggangnya. Sungguh semarak. Mencengangkan. Membuat seluruh penonton – yang 80% orang asing – terpesona.

Pesona pula yang mencuat dari benak seluruh pengunjung festival tersebut. Selama 4 hari mereka dibuai oleh diskusi berkualitas, bedah buku, bedah film, peluncuran buku dan kegiatan spesial lainnya. “Terlalu banyak pilihan,” demikian ucap Catherine, seorang pengunjung asal Australia, mengomentari banyaknya acara dalam festival kali ini. Tentu komentar bernada positif.

Catherine mewakili pendapat sebagian besar pengunjung festival. Mereka puas. Mereka akan kembali lagi tahun depan. Sebagian dari mereka, sudah berkali-kali menghadiri Ubud Writers Festival. Dan tidak pernah bosan. Panitia selalu mampu menyuguhkan acara dengan variasi yang memuaskan pengunjung. Tahun ini, tema festival adalah 17.000 Islands of Imagination. Tak heran jika tema-tema diskusi dan acara lainnya, berkaitan erat dengan imajinasi tentang Indonesia.

20151029_200213_resized

Menurut Janet DeNeefe, ketua penyelenggara festival, tahun ini lebih banyak penulis dan pelaku industri kreatif Indonesia yang dihadirkan. Selain penulis, editor, dan penerbit, festival juga mengundang sejumlah pakar dan praktisi perfilman. Misalnya Nia Dinata, sineas senior ikut serta mengupas industri perfilman Indonesia. Bahkan penyanyi Glenn Fredly pun hadir ke sana bukan untuk melantunkan suaranya, melainkan diskusi tentang proses kreatif film Beta Maluku: Cahaya dari Timur.

Panitia ingin memberikan panggung yang lebih luas kepada pelaku industri kreatif Indonesia. 16 penulis baru pun diundang secara khusus untuk tampil di sana. Mereka, penulis-penulis baru berbakat dan berpotensi. Selain itu, sejumlah penulis terkemuka juga dihadirkan, bahkan menjadi bintang dalam festival kali ini. Eka Kurniawan misalnya, novelis yang disebut-sebut sebagai Pramudya Ananta Toer baru. Di Ubud, Eka didapuk sebagai kurator yang menyeleksi penulis-penulis baru. Beberapa sesi juga disediakan khusus untuk Eka.

20151030_160640_resized

Yang paling menyedot perhatian adalah Raditya Dika, pemuda multitalenta. Dia penulis buku-buku jenaka, stand up comedy, sutradara dan pemain film. Di Ubud, Radit berbicara dalam beberapa sesi. Setiap sesinya, selalu ramai. Tidak ada kursi kosong. Sebagian audiens adalah anak-anak usia remaja – kebanyakan perempuan. Seru, ramai dan kocak. Bahkan pengunjung dari berbagai negara pun terpukau oleh gaya bahasa Dika yang seru dan isinya yang seringkali mengocok perut. Dibanding penulis lain Indonesia yang hadir di sana, bahasa Inggris Radit bisa dibilang yang paling bagus. Apalagi dia juga pernah kuliah di Australia, sehingga dengan mudah mampu membuat pengunjung asal Australia terpingkal-pingkal.

Untuk urusan menampilkan penulis dan pelaku industri kreatif lokal, panitia festival Ubud bisa disebut berhasil. Selain yang berlevel nasional, panitia juga sukses menampilkan pelaku lokal. Sejumlah pelaku lokal bukan hanya berasal dari Jakarta dan Jawa, melainkan juga dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Madura dan tentu saja Bali. Dua buah film dokumenter karya sineas asal Sumatera Utara, Erick Est membuat pengunjung terpukau. Satu bercerita tentang Janggan, salah satu jenis layang-layang legendaris di Bali, dan satu lagi tentang Suku Dayak di Long Saan Malinau Kalimantan Utara.

Namun… bagaimana dengan pengunjung? Jumlah pengunjung festival Ubud selalu melewati angka 20 ribu orang. Pun demikian tahun ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung asal luar negeri selalu dominan. Angkanya berkisar antara 80% – 90%. Sisanya adalah orang Indonesia. Minoritas di negeri sendiri.

Ketut Suardhana, dedengkot penyelenggara festival tersenyum getir ketika berdiskusi tentang pengunjung asal Indonesia. Senyuman yang menyiratkan keprihatinan. Jumlah pengunjung asal Indonesia, selalu minim dalam setiap penyelenggaraan festival. Padahal, panitia sudah menyiasati banyak hal, agar jumlah pengunjung domestik meningkat. Misalnya dengan mengundang lebih banyak pelaku lokal yang tampil. Atau dalam hal tiket. Harga tiket untuk pengunjung domestik, jauh lebih murah dibanding pengunjung asing. Bandingkan saja, Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) untuk warga negara asing dan Rp 600.000 (enam ratus ribu rupiah) buat orang Indonesia, untuk festival selama 4 hari. Jauh bukan bedanya?!

20151029_094235_resized

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya festival ini untuk siapa? Jika berdasarkan fakta selama 12 kali penyelenggaraan Ubud Writers Festival, tampaknya lebih dirasakan manfaatnya oleh warga negara asing, khususnya orang Australia. Mereka memang haus ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian besar dari warga Australia yang datang adalah yang berusia di atas 50 tahun. Artinya mereka tetap haus pengetahuan, meski usia sudah tidak muda lagi. Setiap kali mengikuti diskusi, para senior ini duduk di deretan paling depan, menyimak dengan saksama dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Tak jarang mereka pun melontarkan pertanyaan.

Kenapa warga Indonesia enggan datang ke festival menulis? Bukan rahasia lagi jika tingkat melek intelektual kita masih rendah. Penghargaan terhadap kaum intelektual pun relatif rendah. Kita masih jauh lebih menghargai dan berani membayar mahal para penghibur, dibanding para intelektual, apalagi penulis. Itulah kenapa acara-acara hiburan seperti sinetron atau pertunjukan musik, dengan tarif setinggi apapun, selalu dipenuhi pengunjung lokal. Sedangkan acara-acara intelektual sepi. Hal yang berbeda dengan yang terjadi di negara maju. Di Austtalia misalnya, hampir setiap kota memiliki festival menulis setiap tahun, dan selalu ramai pengunjung.

Butuh waktu panjang untuk meningkatkan kesadaran belajar bangsa ini. Tapi, Ubud Writers & Readers Festival akan datang lagi tahun depan. Tidak peduli apakah jumlah pengunjung Indonesia akan naik atau tidak. Tak peduli cibiran dari kanan dan kiri. Mereka terus berbuat dan berbenah. Mereka menyuarakan lewat corong intelektual tentang wangi Indonesia melalui festival intelektual, yang sudah dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu dari 10 festival menulis di dunia yang wajib dikunjungi pecinta intelektual.

Matur Suksma!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional

Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Read Full Post »

20151029_091924_resized

Perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2015 (UWRF) berlangsung semarak. Setiap venue acara selalu dipenuhi pengunjung. Selama festival 4 hari, panitia menyelenggarakan tidak kurang dari 200 acara, tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar tempat acara berdekatan. Kapasitas tempat acara bervariasi mulai dari 100 kursi sampai lebih dari 500 kursi.

Panitia seolah memanjakan pengunjung. Pada waktu bersamaan, terdapat 3 acara di tiga tempat berbeda. Pengunjung dipersilakan memilih acara yang disukainya. Pun demikian jika tidak suka dengan sebuah acara, bisa dengan mudah berganti tempat dengan mudah. Pengunjung hanya diharuskan membeli tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua acara utama. Pada beberapa acara khusus, panitia mengenakan tiket berbeda.

Untuk pengunjung asal Indonesia, panitia menetapkan tarif Rp 600.000 untuk empat hari kegiatan. Sedangkan untuk warga negara asing non Asean berlaku tarif Rp 4.000.000,-.

20151029_094235_resized

Pada hari pertama UWRF ini, sebagian besar pengunjung berasal dari luar negeri. Hanya segelintir warga negara Indonesia. Mereka terutama berasal dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Sisanya berasal dari sejumlah negara Asia. Secara kasat mata, boleh dikatakan 80% pengunjung adalah warga asing.

Hal ini memang sesuai dengan tujuan panitia menyelenggarakan UWRF, yang dimulai pada 2003 lalu. Janet DeNeefe, pencetus acara ini, mengadakan festival untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang sempat turun drastis pasca serangan teror bom pada 2002. Janet yang bersuamikan pria Bali (Ketut Suardhana) sudah lama tinggal di pulau Dewata dan bangga menyelenggarakan festival menulis di Indonesia. Di negeri asalnya – Australia – festival menulis merupakan sebuah acara tahunan yang ada hampir semua kota besar di sana.

Meski demikian, tentu saja sebagai tuan rumah, jumlah pengunjung asal Indonesia seharusnya lebih banyak. Di antara segelintir orang Indonesia tersebut, pengunjung yang asli orang Bali, lebih sedikit lagi. Budaya literasi dan melek ilmu pengetahuan memang masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia.

Orang Bali adalah tuan rumah dan panitia yang hebat dalam penyelenggaraan acara intelektual tersebut. Apresiasi yang tinggi buat mereka!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional, Pengelola Sekolah Alam Cikeas

Read Full Post »

Goresan Hijau Cikeas untuk Dunia

Inspiratif! Empat puluhan pecinta lingkungan dipersatukan dalam derap langkah dan cita-cita agung untuk merawat dan melestarikan bumi. Mereka adalah orang-orang terpilih yang akan dipersiapkan untuk mengawal gerakan Laskar Pena Hijau (LPH). Yayasan Bhakti Suratto (YBS) – Sekolah Alam Cikeas bekerjasama dengan Rayakultura membaktikan beasiswa pelatihan Menulis Kreatif bergenre Sastra Hijau, untuk memandu hati dan mempertajam pena para calon anggota laskar tersebut.

Sejak tanggal 22 Agustus hingga 26 September 2015 yang lalu di Gedung Serbaguna Sekolah Alam Cikeas, para penggagas LPH mendadar peserta untuk mempersiapkan diri menjadi Duta Lingkungan sejati. Drs. H. Suratto Siswodihardjo ketua umum YBS membagikan kerinduannya tentang bagaimana terlibat untuk merawat dan melestarikan bumi melalui tindakan nyata. “Diam adalah mati, orang hidup harus bergerak!” Tuturnya, begitu menginspirasi. Laki-laki yang masih berkobar-kobar semangatnya di usianya yang ke 71 tahun ini menantang para peserta untuk berkarya melalui tulisan. “Dengan menulis kita dapat menggenggam dunia sekaligus akhirat, karena lewat tulisan kita dapat menyebarkan kebaikan.” Imbuhnya.

Apa yang ia paparkan bukanlah isapan jempol semata, YBS yang ia dirikan sejak tahun 2006 telah melakukan berbagai aksi nyata kemanusiaan berupa Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas dan Rumah Peduli Anak TKI. Kini melalui dukungannya terhadap Laskar Pena Hijau ia ingin memperkuat gerakan konservasi alam, konservasi manusia dan konservasi budaya.

Dodi Mawardi direktur eksekutif YBS sekaligus dosen dan penulis multi talenta adalah sosok penting dalam pendirian Laskar Pena Hijau. Paparnya, “Melalui gerakan LPH yayasan ingin memperluas rengkuhan kiprah lestari bumi hingga tataran nasional dan internasional.” Laki-laki 40 an tahun yang bercita-cita menulis 1000 judul buku tersebut mengisahkan cerita di balik gagasan cemerlang gerakan LPH. Alkisah ia bertemu secara maya dengan seorang penulis Sastrawi Hijau Naning Pranoto yang telah ia visualisasikan sejak tahun 2006. Sepak terjang Naning yang mempunyai nama panggung ‘Mbok Noto’ – sosok sastrawan, dosen, motivator dan pengasuh Rayakultura tersebut dirasa sangat sehaluan dengan visi-misi YBS tentang merawat dan melestarikan bumi. Dari situlah gagasan beasiswa penulisan hijau yang awalnya lebih difokuskan untuk mempersiapkan “Indonesia International Green Writers Festival 2016” menggelinding lebih besar dan berjangka panjang dengan lahirnya Laskar Pena Hijau. Gerakan ini diharapkan akan terus mendedikasikan sumbang sihnya untuk lestari Ibu Pertiwi, melalui suara dan goresan-goresan sejuk pena hijau yang senantiasa akan mengaliri nadi penghuni bumi.

Naning dan Dodi, mendapatkan pohon jambu dari peserta LPH

Awak LPH dihimpun dari berbagai kalangan yang cukup beragam seperti ibu rumah tangga, guru, siswa, jurnalis, penulis fiksi, penulis non fiksi dan sebagainya. Hal ini mensimbolisasikan ajakan bahwa siapa saja dapat bergandeng tangan untuk melakukan kampanye Peduli Lingkungan.

Setelah mengikuti pelatihan penulisan hijau selama enam kali, para peserta yang memenuhi syarat dikukuhkan menjadi anggota Laskar Pena Hijau. Mereka adalah Duta Lingkungan yang akan bertugas menjadi penggerak Kampanye Hijau melalui karya-karya tulis yang akan dilahirkan. Tulisan-tulisan bertema hijau akan disebarluaskan melalui berbagai media seperti website, blog, facebook,twitter, televisi, radio dan lain-lain. Spirit kampanye hidup hirau hijau juga diharapkan terus melekat pada setiap insan LPH tersebut.

Setelah diwisuda, LPH angkatan pertama akan diluncurkan pada Hari Pohon tanggal 21 November 2015. Selanjutnya mereka akan terus bekerja untuk mempersiapkan pagelaran akbar “Indonesia International Green Writers Festival 2016”. Kesempatan tersebut diharapkan akan menjadi peristiwa monumental di mana berbagai kalangan pemerhati lingkungan dan sastrawan hijau nasional maupun internasional akan berhimpun untuk menggelorakan suara yang sama: “Ayo rawat dan lestarikan bumi, rumah tinggal kita bersama!” Kegiatan akan diisi dengan seminar, pameran buku, bedah buku, pembacaan puisi, monolog hijau dan lain sebagainya. Dan puncaknya akan diadakan deklarasi pernyataan tekad bersama.

Dodi dan Naning terus menggelorakan semangat bahwa Indonesia sebagai negara terbesar ke 2 keanekaragam hayatinya setelah Brazil sudah saatnya tampil makin percaya diri untuk menggaungkan aksi Peduli Hijau. Gerakan LPH yang bermarkas di Sekolah Alam Cikeas diharapkan akan menjadi ‘episentrum’ guncangan kampanye Peduli Lingkungan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang hidup hirau hijau. Suara dan aksinya didoakan agar terus beresonansi, menggema dan menggelitik menyadarkan dunia. Goresan Lestari Bumi dari Cikeas untuk Indonesia dan Dunia ayo terus kita dukung!

Susana Srini – Anggota Laskar Pena Hijau

Read Full Post »

Older Posts »