Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dodi mawardi’

20151101_203600_resized

Tepuk tangan riuh merespon tarian api (fire dance) menjadi puncak dari Ubud Writers & Readers Festival 2015. Panitia menyuguhkan sejumlah tarian tradisional dengan klimaksnya adalah tarian api pada penutupan festival Minggu (1/11) di Museum Antonio Blanco. Sejumlah penari, pria dan wanita, membawa sejumlah obor menyala-nyala, di tangan. Sebagian menyemburkan api dari mulut. Sebagian memutar-mutar gelang raksasa berapi di pinggangnya. Sungguh semarak. Mencengangkan. Membuat seluruh penonton – yang 80% orang asing – terpesona.

Pesona pula yang mencuat dari benak seluruh pengunjung festival tersebut. Selama 4 hari mereka dibuai oleh diskusi berkualitas, bedah buku, bedah film, peluncuran buku dan kegiatan spesial lainnya. “Terlalu banyak pilihan,” demikian ucap Catherine, seorang pengunjung asal Australia, mengomentari banyaknya acara dalam festival kali ini. Tentu komentar bernada positif.

Catherine mewakili pendapat sebagian besar pengunjung festival. Mereka puas. Mereka akan kembali lagi tahun depan. Sebagian dari mereka, sudah berkali-kali menghadiri Ubud Writers Festival. Dan tidak pernah bosan. Panitia selalu mampu menyuguhkan acara dengan variasi yang memuaskan pengunjung. Tahun ini, tema festival adalah 17.000 Islands of Imagination. Tak heran jika tema-tema diskusi dan acara lainnya, berkaitan erat dengan imajinasi tentang Indonesia.

20151029_200213_resized

Menurut Janet DeNeefe, ketua penyelenggara festival, tahun ini lebih banyak penulis dan pelaku industri kreatif Indonesia yang dihadirkan. Selain penulis, editor, dan penerbit, festival juga mengundang sejumlah pakar dan praktisi perfilman. Misalnya Nia Dinata, sineas senior ikut serta mengupas industri perfilman Indonesia. Bahkan penyanyi Glenn Fredly pun hadir ke sana bukan untuk melantunkan suaranya, melainkan diskusi tentang proses kreatif film Beta Maluku: Cahaya dari Timur.

Panitia ingin memberikan panggung yang lebih luas kepada pelaku industri kreatif Indonesia. 16 penulis baru pun diundang secara khusus untuk tampil di sana. Mereka, penulis-penulis baru berbakat dan berpotensi. Selain itu, sejumlah penulis terkemuka juga dihadirkan, bahkan menjadi bintang dalam festival kali ini. Eka Kurniawan misalnya, novelis yang disebut-sebut sebagai Pramudya Ananta Toer baru. Di Ubud, Eka didapuk sebagai kurator yang menyeleksi penulis-penulis baru. Beberapa sesi juga disediakan khusus untuk Eka.

20151030_160640_resized

Yang paling menyedot perhatian adalah Raditya Dika, pemuda multitalenta. Dia penulis buku-buku jenaka, stand up comedy, sutradara dan pemain film. Di Ubud, Radit berbicara dalam beberapa sesi. Setiap sesinya, selalu ramai. Tidak ada kursi kosong. Sebagian audiens adalah anak-anak usia remaja – kebanyakan perempuan. Seru, ramai dan kocak. Bahkan pengunjung dari berbagai negara pun terpukau oleh gaya bahasa Dika yang seru dan isinya yang seringkali mengocok perut. Dibanding penulis lain Indonesia yang hadir di sana, bahasa Inggris Radit bisa dibilang yang paling bagus. Apalagi dia juga pernah kuliah di Australia, sehingga dengan mudah mampu membuat pengunjung asal Australia terpingkal-pingkal.

Untuk urusan menampilkan penulis dan pelaku industri kreatif lokal, panitia festival Ubud bisa disebut berhasil. Selain yang berlevel nasional, panitia juga sukses menampilkan pelaku lokal. Sejumlah pelaku lokal bukan hanya berasal dari Jakarta dan Jawa, melainkan juga dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Madura dan tentu saja Bali. Dua buah film dokumenter karya sineas asal Sumatera Utara, Erick Est membuat pengunjung terpukau. Satu bercerita tentang Janggan, salah satu jenis layang-layang legendaris di Bali, dan satu lagi tentang Suku Dayak di Long Saan Malinau Kalimantan Utara.

Namun… bagaimana dengan pengunjung? Jumlah pengunjung festival Ubud selalu melewati angka 20 ribu orang. Pun demikian tahun ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung asal luar negeri selalu dominan. Angkanya berkisar antara 80% – 90%. Sisanya adalah orang Indonesia. Minoritas di negeri sendiri.

Ketut Suardhana, dedengkot penyelenggara festival tersenyum getir ketika berdiskusi tentang pengunjung asal Indonesia. Senyuman yang menyiratkan keprihatinan. Jumlah pengunjung asal Indonesia, selalu minim dalam setiap penyelenggaraan festival. Padahal, panitia sudah menyiasati banyak hal, agar jumlah pengunjung domestik meningkat. Misalnya dengan mengundang lebih banyak pelaku lokal yang tampil. Atau dalam hal tiket. Harga tiket untuk pengunjung domestik, jauh lebih murah dibanding pengunjung asing. Bandingkan saja, Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) untuk warga negara asing dan Rp 600.000 (enam ratus ribu rupiah) buat orang Indonesia, untuk festival selama 4 hari. Jauh bukan bedanya?!

20151029_094235_resized

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya festival ini untuk siapa? Jika berdasarkan fakta selama 12 kali penyelenggaraan Ubud Writers Festival, tampaknya lebih dirasakan manfaatnya oleh warga negara asing, khususnya orang Australia. Mereka memang haus ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian besar dari warga Australia yang datang adalah yang berusia di atas 50 tahun. Artinya mereka tetap haus pengetahuan, meski usia sudah tidak muda lagi. Setiap kali mengikuti diskusi, para senior ini duduk di deretan paling depan, menyimak dengan saksama dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Tak jarang mereka pun melontarkan pertanyaan.

Kenapa warga Indonesia enggan datang ke festival menulis? Bukan rahasia lagi jika tingkat melek intelektual kita masih rendah. Penghargaan terhadap kaum intelektual pun relatif rendah. Kita masih jauh lebih menghargai dan berani membayar mahal para penghibur, dibanding para intelektual, apalagi penulis. Itulah kenapa acara-acara hiburan seperti sinetron atau pertunjukan musik, dengan tarif setinggi apapun, selalu dipenuhi pengunjung lokal. Sedangkan acara-acara intelektual sepi. Hal yang berbeda dengan yang terjadi di negara maju. Di Austtalia misalnya, hampir setiap kota memiliki festival menulis setiap tahun, dan selalu ramai pengunjung.

Butuh waktu panjang untuk meningkatkan kesadaran belajar bangsa ini. Tapi, Ubud Writers & Readers Festival akan datang lagi tahun depan. Tidak peduli apakah jumlah pengunjung Indonesia akan naik atau tidak. Tak peduli cibiran dari kanan dan kiri. Mereka terus berbuat dan berbenah. Mereka menyuarakan lewat corong intelektual tentang wangi Indonesia melalui festival intelektual, yang sudah dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu dari 10 festival menulis di dunia yang wajib dikunjungi pecinta intelektual.

Matur Suksma!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional

Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Iklan

Read Full Post »

20151029_091924_resized

Perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2015 (UWRF) berlangsung semarak. Setiap venue acara selalu dipenuhi pengunjung. Selama festival 4 hari, panitia menyelenggarakan tidak kurang dari 200 acara, tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar tempat acara berdekatan. Kapasitas tempat acara bervariasi mulai dari 100 kursi sampai lebih dari 500 kursi.

Panitia seolah memanjakan pengunjung. Pada waktu bersamaan, terdapat 3 acara di tiga tempat berbeda. Pengunjung dipersilakan memilih acara yang disukainya. Pun demikian jika tidak suka dengan sebuah acara, bisa dengan mudah berganti tempat dengan mudah. Pengunjung hanya diharuskan membeli tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua acara utama. Pada beberapa acara khusus, panitia mengenakan tiket berbeda.

Untuk pengunjung asal Indonesia, panitia menetapkan tarif Rp 600.000 untuk empat hari kegiatan. Sedangkan untuk warga negara asing non Asean berlaku tarif Rp 4.000.000,-.

20151029_094235_resized

Pada hari pertama UWRF ini, sebagian besar pengunjung berasal dari luar negeri. Hanya segelintir warga negara Indonesia. Mereka terutama berasal dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Sisanya berasal dari sejumlah negara Asia. Secara kasat mata, boleh dikatakan 80% pengunjung adalah warga asing.

Hal ini memang sesuai dengan tujuan panitia menyelenggarakan UWRF, yang dimulai pada 2003 lalu. Janet DeNeefe, pencetus acara ini, mengadakan festival untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang sempat turun drastis pasca serangan teror bom pada 2002. Janet yang bersuamikan pria Bali (Ketut Suardhana) sudah lama tinggal di pulau Dewata dan bangga menyelenggarakan festival menulis di Indonesia. Di negeri asalnya – Australia – festival menulis merupakan sebuah acara tahunan yang ada hampir semua kota besar di sana.

Meski demikian, tentu saja sebagai tuan rumah, jumlah pengunjung asal Indonesia seharusnya lebih banyak. Di antara segelintir orang Indonesia tersebut, pengunjung yang asli orang Bali, lebih sedikit lagi. Budaya literasi dan melek ilmu pengetahuan memang masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia.

Orang Bali adalah tuan rumah dan panitia yang hebat dalam penyelenggaraan acara intelektual tersebut. Apresiasi yang tinggi buat mereka!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional, Pengelola Sekolah Alam Cikeas

Read Full Post »

Goresan Hijau Cikeas untuk Dunia

Inspiratif! Empat puluhan pecinta lingkungan dipersatukan dalam derap langkah dan cita-cita agung untuk merawat dan melestarikan bumi. Mereka adalah orang-orang terpilih yang akan dipersiapkan untuk mengawal gerakan Laskar Pena Hijau (LPH). Yayasan Bhakti Suratto (YBS) – Sekolah Alam Cikeas bekerjasama dengan Rayakultura membaktikan beasiswa pelatihan Menulis Kreatif bergenre Sastra Hijau, untuk memandu hati dan mempertajam pena para calon anggota laskar tersebut.

Sejak tanggal 22 Agustus hingga 26 September 2015 yang lalu di Gedung Serbaguna Sekolah Alam Cikeas, para penggagas LPH mendadar peserta untuk mempersiapkan diri menjadi Duta Lingkungan sejati. Drs. H. Suratto Siswodihardjo ketua umum YBS membagikan kerinduannya tentang bagaimana terlibat untuk merawat dan melestarikan bumi melalui tindakan nyata. “Diam adalah mati, orang hidup harus bergerak!” Tuturnya, begitu menginspirasi. Laki-laki yang masih berkobar-kobar semangatnya di usianya yang ke 71 tahun ini menantang para peserta untuk berkarya melalui tulisan. “Dengan menulis kita dapat menggenggam dunia sekaligus akhirat, karena lewat tulisan kita dapat menyebarkan kebaikan.” Imbuhnya.

Apa yang ia paparkan bukanlah isapan jempol semata, YBS yang ia dirikan sejak tahun 2006 telah melakukan berbagai aksi nyata kemanusiaan berupa Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas dan Rumah Peduli Anak TKI. Kini melalui dukungannya terhadap Laskar Pena Hijau ia ingin memperkuat gerakan konservasi alam, konservasi manusia dan konservasi budaya.

Dodi Mawardi direktur eksekutif YBS sekaligus dosen dan penulis multi talenta adalah sosok penting dalam pendirian Laskar Pena Hijau. Paparnya, “Melalui gerakan LPH yayasan ingin memperluas rengkuhan kiprah lestari bumi hingga tataran nasional dan internasional.” Laki-laki 40 an tahun yang bercita-cita menulis 1000 judul buku tersebut mengisahkan cerita di balik gagasan cemerlang gerakan LPH. Alkisah ia bertemu secara maya dengan seorang penulis Sastrawi Hijau Naning Pranoto yang telah ia visualisasikan sejak tahun 2006. Sepak terjang Naning yang mempunyai nama panggung ‘Mbok Noto’ – sosok sastrawan, dosen, motivator dan pengasuh Rayakultura tersebut dirasa sangat sehaluan dengan visi-misi YBS tentang merawat dan melestarikan bumi. Dari situlah gagasan beasiswa penulisan hijau yang awalnya lebih difokuskan untuk mempersiapkan “Indonesia International Green Writers Festival 2016” menggelinding lebih besar dan berjangka panjang dengan lahirnya Laskar Pena Hijau. Gerakan ini diharapkan akan terus mendedikasikan sumbang sihnya untuk lestari Ibu Pertiwi, melalui suara dan goresan-goresan sejuk pena hijau yang senantiasa akan mengaliri nadi penghuni bumi.

Naning dan Dodi, mendapatkan pohon jambu dari peserta LPH

Awak LPH dihimpun dari berbagai kalangan yang cukup beragam seperti ibu rumah tangga, guru, siswa, jurnalis, penulis fiksi, penulis non fiksi dan sebagainya. Hal ini mensimbolisasikan ajakan bahwa siapa saja dapat bergandeng tangan untuk melakukan kampanye Peduli Lingkungan.

Setelah mengikuti pelatihan penulisan hijau selama enam kali, para peserta yang memenuhi syarat dikukuhkan menjadi anggota Laskar Pena Hijau. Mereka adalah Duta Lingkungan yang akan bertugas menjadi penggerak Kampanye Hijau melalui karya-karya tulis yang akan dilahirkan. Tulisan-tulisan bertema hijau akan disebarluaskan melalui berbagai media seperti website, blog, facebook,twitter, televisi, radio dan lain-lain. Spirit kampanye hidup hirau hijau juga diharapkan terus melekat pada setiap insan LPH tersebut.

Setelah diwisuda, LPH angkatan pertama akan diluncurkan pada Hari Pohon tanggal 21 November 2015. Selanjutnya mereka akan terus bekerja untuk mempersiapkan pagelaran akbar “Indonesia International Green Writers Festival 2016”. Kesempatan tersebut diharapkan akan menjadi peristiwa monumental di mana berbagai kalangan pemerhati lingkungan dan sastrawan hijau nasional maupun internasional akan berhimpun untuk menggelorakan suara yang sama: “Ayo rawat dan lestarikan bumi, rumah tinggal kita bersama!” Kegiatan akan diisi dengan seminar, pameran buku, bedah buku, pembacaan puisi, monolog hijau dan lain sebagainya. Dan puncaknya akan diadakan deklarasi pernyataan tekad bersama.

Dodi dan Naning terus menggelorakan semangat bahwa Indonesia sebagai negara terbesar ke 2 keanekaragam hayatinya setelah Brazil sudah saatnya tampil makin percaya diri untuk menggaungkan aksi Peduli Hijau. Gerakan LPH yang bermarkas di Sekolah Alam Cikeas diharapkan akan menjadi ‘episentrum’ guncangan kampanye Peduli Lingkungan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang hidup hirau hijau. Suara dan aksinya didoakan agar terus beresonansi, menggema dan menggelitik menyadarkan dunia. Goresan Lestari Bumi dari Cikeas untuk Indonesia dan Dunia ayo terus kita dukung!

Susana Srini – Anggota Laskar Pena Hijau

Read Full Post »

Kursus Spesial Privat dan Jadi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) selalu berinovasi dalam melayani kebutuhan belajar menulis kreatif. Setelah sukses dengan Kelas Penulis PRO dan Writerpreneur, kini SMKI membuka kelas SPESIAL PRIVAT dan JADI. Kelas ini khusus buat Anda yang sungguh-sungguh mau belajar menulis dan menerbitkan buku, dengan sentuhan lebih personal (modifikasi dari kelas Penulis PRO dan Writerpreneur). Anda akan dibimbing secara khusus oleh Dodi Mawardi – mentor penulis profesional yang sudah terbukti berhasil menulis dan menerbitkan puluhan judul buku, serta sudah sukses membimbing puluhan penulis baru.

Benefit kelas PRIVAT:

  1. Lebih personal
  2. Dibimbing secara ketat
  3. Metode mentoring dan coaching
  4. Naskah sampai jadi
  5. Didampingi bertemu dengan penerbit
  6. Waktu/jadwal pertemuan fleksibel

Jumlah pertemuan minimal 6X (tergantung kecepatan peserta dalam menuntaskan naskah)

Lokasi pertemuan di kelas SMKI komplek Sekolah Alam Cikeas – Cibubur.

Biaya hanya Rp 10.000.000,- (sekali bayar saja).

Benefit tambahan:

Gratis konsultasi penulisan seumur hidup melalui beragam media spt WA, SMS, email dll

Segera daftarkan diri Anda sekarang juga karena kuota tiap bulan sangat terbatas.

Hanya untuk Anda yang benar-benar serius mau belajar menulis dan menerbitkan buku.

Pendaftaran Hubungi:

sekolahmenulis@gmail.com

081285874272 (sms only)

Read Full Post »

123 PRESTASI INDONESIA YANG MENGGUNCANG DUNIA

123 PRESTASI INDONESIA YANG MENGGUNCANG DUNIA

  • Penulis : PENA KREATIVA
  • 272 Halaman
  • ISBN : 978-602-372-006-4
  • Published: 01 September 2015

Buku ini berisi beragam prestasi Indonesia (besar dan kecil) sejak dulu sampai sekarang. Sebagian sudah kita ketahui bersama, sebagian lagi mungkin jarang kita dengar. Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menggugah semangat seluruh bangsa agar terus maju membangun Indonesia!

– Anak-anak dan remaja Indonesia wajib membaca buku in

– Orang tua yang punya anak dan remaja wajib membaca buku ini

– Guru-guru dan sekolah wajib memiliki buku ini

 “Sesungguhnya Indonesia itu memang keren dan hebat. Ayolah kita semakin sadar dan lalu bangkit dengan potensi bangsa seperti yang tertulis di buku ini. Bravo Indonesia!”

Drs. Cecep Iskandar, M.Pd.

Guru SMA Taruna Nusantara Magelang

“Indonesia adalah negara besar, dan tentunya juga memiliki potensi serta prestasi besar. Melalui buku ini, semakin saya mengetahui bahwa kita sudah memiliki begitu banyak prestasi besar. Mari kita tingkatkan lagi prestasi-prestasi itu menjadi lebih besar, dengan membuat prestasi-prestasi baru demi kejayaan Indonesia. Pertahanan terbaik adalah menjadi kuat dalam berbagai bidang. Bukan hanya kekuatan militernya saja.”

Letkol Inf. Agus Bhakti

Dandim 0910/Malinau Kalimantan Utara

“Keren! Menggugah kita agar selalu memberikan motivasi kepada generasi muda bangsa, untuk terus maju dan berkarya. Jayalah Indonesiaku!”

Dr. techn. Wikan Danar Ssunindyo, ST., MSc.

Ddosen Institut Teknologi Bandung

“Indonesia adalah negara besar dengan sejarah panjang yang mengagumkan. Adalah wajar jika kita bangga dan terpacu untuk berkarya yang terbaik bagi bangsa ini. Ini buku ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia dapat berkiprah tinggi di kancah internasional. Maju terus Indonesiaku!”

Teuku Faisal Fathani, ST., MT., PhD.

Dosen dan peneliti senior Kebencanaan Universitas Gadjah Mada

“Motivasi itu bisa dari dalam atau dari luar. Motivasi terbaik memang datang dari diri sendiri. Tapi tidak semua orang bisa. Nah, buku ini bisa menjadi sumber motivasi penting dari luar diri kita. Bahwa Indonesia (termasuk kita) bisa berprestasi tinggi, asal ada kemauan dan kerja keras.”

Frans S. Pekasa

Pakar SEO dan penerima Primaniyarta Award 2012 & 2013 (penghargaan eksportir terbaik nasional dari Presiden Republik Indonesia)

“Buku ini bagus sebagai inpsirasi dan motivasi bagi seluruh generassi penerus bangsa. Mereka harus tahu bahwa Indonesia itu memang keren dan tidak kalah dibanding bangsa lain!”

Kapten Miftahul Aksan

Pilot Qatar Airways

“Kita harus terus-menerus meningkatkan potensi bangsa agar menjadi maju dan sejahtera. Isi buku ini dapat menjadi sumber inspirasi buat kita agar semakin keras bekerja, berkarya, dan berusaha. Indonesia pasti bisa!”

Anton Sukartono Suratto

Anggota DPR RI

“Buku ini sangat menghargai prestasi anak bangsa. Bagus buat memotivasi dan menginspirasi sebanyak mungkin orang Indonesia, agar berprestasi juga di level internasional.”

Jackie Ambadar

Pemilik Le Monde, Entrepreneur of The Year 2004

“Buku ini berisi kepedulian penulisnya terhadap masa depan bangsa. Juga memotivasi semua orang untuk berkarya dan maju dalam berbagai bidang. Buku ini dan buku-buku berikutnya membuktikan kepedulian itu. Lanjutkan pak Dodi!”

Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc.

Pemilik bisnis Langgara Grup

“Isi bukunya keren. Data-data lengkapnya akan menggugah kesadaran kita bahwa Indonesia itu memang keren. Banyak hal yang baru saya tahu setelah baca buku ini. Beneran, keren!”

Bambang Suharno

Pendiri Indonesia Entrepreneur Society

Penulis buku Mega Bestseller Mulai Bisnis dari Nol

——————————

Pena Kreativa adalah agensi naskah yang digawangi oleh Dodi Mawardi, pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia, penulis lebih dari 50 judul buku, termasuk buku bestseller Belajar Goblok dari Bob Sadino, Sales Kaya Sales Miskin, dan Property Cash Machine.

—————————–

Read Full Post »

BEASISWA PELATIHAN MENULIS LINGKUNGAN
Laskar Pena Hijau 2015

 

Kesempatan Langka!
Yayasan Bhakti Suratto bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Rayakultura, memberikan beasiswa pelatihan penulisan hijau kepada 30 orang terpilih.
Pelatihan berlangsung selama 6x pertemuan di Cibubur Jakarta, dengan materi tentang ilmu menulis (fiksi/non fiksi), jurnalistik dan bentuk tulisan lainnya dengan semangat pelestarian lingkungan.

 

Daftarkan diri Anda melalui email:
sekolahmenulis@gmail.com
Paling lambat 12 Agustus 2015
Sertakan CV Anda.
Judul email: Laskar Pena Hijau

 

Syarat:
– Usia minimal 17 tahun
– Mampu berbahasa Indonesia lisan/tulisan
– Pernah menulis di media massa dan atau rajin menulis di website/blog.
– Minat besar di bidang penulisan lingkungan (fiksi/non fiksi)
– Bersedia menjadi anggota Laskar Pena Hijau.
– Lampirkan karya tulis yang pernah dimuat di media massa atau cantumkan alamat web/blog.

Mentor: Naning Pranoto, Farick Ziat dan Dodi Mawardi

Mari Kita Rawat dan Lestarikan Bumi. Rumah Kita Satu-satunya!

 

 

Salam Pena Hijau

 

 

Beasiswa Menulis Lingkungan Laskar Pena Hijau

Read Full Post »

Kaver Raksasa 24 x 15

 

 

Air mata, darah, dan bahkan nyawa, biasanya menjadi harga yang harus dibayar oleh sebuah revolusi. Sejarah mencatat, banyak sekali peristiwa besar yang dikategorikan sebagai revolusi, menelan korban banyak nyawa manusia. Termasuk revolusi yang terjadi di Indonesia pada 1965 lalu. Sebuah revolusi yang mengubah peta kepemimpinan di negeri ini. Bagaimana dengan revolusi dari desa perbatasan?

 

Jangan pernah membayangkan revolusi dari desa perbatasan dengan air mata darah apalagi nyawa. Revolusi ini lebih banyak menelan keringat, tenaga dan terutama pikiran. Bahkan penggagasnya berharap revolusi yang terjadi lebih mengedepankan perubahan drastis dalam hal paradigma dan hati. Dr. Yansen TP., MSi., Bupati Malinau Kalimantan Utara menggagas sebuah gerakan perubahan dalam pola pembangunan di wilayahnya. Biasanya pembangunan berjalan dari atas ke bawah, ide dan perencanaan dari atas, pelaksananya pun pihak yang ditunjuk atas, walaupun yang harus menikmatinya adalah rakyat di bawah.

 

Bupati Malinau mengubah pola itu menjadi kebalikannya. Ide dan perencanaan dilakukan oleh masyarakat. Pun demikian pelaksanaannya. Masyarakatlah subyek pembangunan. Dari rakyat, oleh rakyat dan hasilnya pun dinikmati oleh rakyat. Perubahan paradigma ini tidak mudah, karena sebagian besar aparat kita sudah lama menjalankan pembangunan dari atas. Perubahan paradigma ini sulit karena selama ini rakyat tidak pernah mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk melaksanakan sendiri pembangunannya.

 

Sungguh menarik dan layak menjadi perhatian, karena upaya perubahan paradigma ini bukan berasal dari kota besar atau propinsi besar, bukan pula dari pusat-pusat kekuasaan. Perubahan paradigma ini berasal dari sebuah kabupaten pelosok di bagian utara Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu Kabupaten Malinau. Itulah sebabnya, gerakan perubahan paradigma pola pembangunan ini layak disebut sebagai revolusi dari desa perbatasan.

 

Malinau sudah menjalankan pola pembangunan dengan paradigma yang berbeda tersebut sejak 2011. Sang Bupati Malinau menjadi konseptor sekaligus penggerak utama pola baru ini, yang sesungguhnya sesuai dengan roh Undang-undang Desa no. 6 2014. Bupati Malinau sudah 3 tahun lebih cepat daripada undang-undang tersebut. Bukan sekadar wacana, melainkan sudah melaksanakannya. Selama 2011-2014, sudah banyak hasil yang diperoleh berkat perubahan pola pembangunan tersebut.

 

Yang paling nyata adalah turunnya tingkat kemiskinan dari di atas 20% pada 2010, menjadi tinggal 10% pada 2014. Sebuah pencapaian yang cukup signifikan. Sebagai perbandingan, secara nasional tingkat kemiskinan selama 10 tahun kepemimpinan SBY, hanya turun sedikit saja dari 16% menjadi sekitar 11%. Pencapaian Malinau sama dengan dua kali lipat keberhasilan secara nasional.

 

Jika disurvey dan diriset, maka partisipasi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan, juga meningkat drastis. Sebagian besar masyarakat desa di Malinau, kini melek pembangunan. Pemda melalui perubahan paradigma ini, memfungsikan pemerintahan desa sebagai penggerak utama pembangunan dengan melibatkan masyarakat desanya sebagai aktor utama. Pemda menyerahkan sekitar 31 kewenangan pemerintahannya kepada desa. Bandingkan dengan pemda wilayah lain yang hanya menyerahkan sekitar 11 kewenangan. Malinau 3 kali lipat lebih banyak. Tak heran jika salah satu poin utama pembangunan di Malinau adalah saatnya percaya kepada rakyat. Percaya kepada rakyat untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunannya. Merekalah yang tahu persis apa kebutuhan dan masalah mereka. Mereka pula yang lebih tahu bagaimana mengatasinya. Pemda lebih bersifat sebagai fasilitator.

 

Dr. Yansen TP., MSi., sebagai bupati, bukan hanya birokrat, melainkan juga praktisi dan akademisi sekaligus. Ia sudah berpengalaman menjalankan roda pemerintahan mulai dari tingkat desa, kecamatan sampai bupati. Karirnya panjang sejak puluhan tahun silam di pemerintahan. Tak salah jika makalah disertasi S3-nya adalah tentang perubahan pola pembangunan. Dia menyebutnya sebagai Gerakan Desa Membangun (Gerdema). Disertasi ini mendapatkan predikat cum laude ketika diuji di Universitas Brawijaya Malang, dan mendapatkan apresiasi dari sejumlah guru besar ilmu pemerintahan.

 

Apresiasi itu meningkat tajam, karena sejak 2011, Yansen mempraktikkan hasil disertasinya tersebut dalam program pembangunan di Malinau. Jadilah Gerdema atau Gerakan Desa Membangun sebagai program utama di kabupaten perbatasan itu. Jadilah Gerdema sebagai panduan dan acuan dalam melaksanakan pembangunan, yang ternyata dalam 3 tahun pelaksanaannya menuai hasil yang sangat menggembirakan. Gerdema bukan sekadar pola pembangunan. Gerdema sudah betul-betul layak disebut sebagai revolusi paradigma dan revolusi mental. Sebuah Revolusi dari Desa Perbatasan… dan semua pemikiran sang bupati tersebut, kini terangkum dalam buku Revolusi dari Desa.

 

Buku Revolusi dari Desa – Saatnya dalam pembangunan percaya kepada rakyat, karya Dr. Yansen TP., MSi., (editor Dodi Mawardi) terbitan Elex Media Komputindo – Gramedia Grup, sudah tersebar di seluruh toko buku Gramedia sejak 13 Oktober 2014. Buku ini diluncurkan di Malinau, pada Jumat kemarin 17 Oktober 2014.

 

 

 

Read Full Post »

Mulai hari Kamis sampai Sabtu, 27 Feb – 1 Maret 2014, Sekolah Alam Cikeas menggelar pameran buku bertajuk “Book Fair 2014, Be A Writer Be An Entrepreneur.” Selama 3 hari, pengunjung bisa mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar menulis, workshop jurnalistik sampai belanja buku berkualitas dari beragam penerbit seperti Gramedia, MIzan dan lain sebagainya. Panitia juga akan meluncurkan lebih dari 50 judul buku, karya siswa, orang tua dan guru Sekolah Alam Cikeas.

Acara Book Fair SAC

Oh ya, ada juga seminar motivasi sukses bersama pendiri Kubik Leadership dan komunitas Sukses Mulia – Indrawan Nugroho. Sayang kalau dilewatkan. Sejumlah penulis juga akan hadir di acara ini, antara lain Dodi Mawardi (penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia), Inna Inong (penulis produktif buku anak), Achi TM (penulis novel) dan Imran Laha (penulis buku anak).

Yuk kunjungi Book Fair SAC! Ajak teman, saudara, anak dan semuanya ke Sekolah Alam Cikeas.

Tahun lalu, Book Fair di SAC meraup kesuksesan dengan tajuk Indonesia Digital Book Fair, berupa Rekor Dunia MURI untuk rekor penulisan buku tercepat.

Read Full Post »

 

Kisah Alumni SMKI yang Berhasil Menulis Buku

Tyas AN Sukses Menulis buku “A to Z Dunia Kuliner”

 

Wanita yang satu ini mengikuti kursus menulis di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) pada tahun 2011. Lokasi kursus waktu itu bukan di Plasa Tendean, kantor SMKI pertama, melainkan di kediaman seorang alumni SMKI yaitu ibu Dewi Kusuma (almarhum), yang terletak di kawasan Radio Dalam Jakarta Selatan. Dari kursus itulah, Tyas AN, atau biasa disapa Tyas, berhasil merampungkan buku pertamanya “A to Z Dunia Kuliner” dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia.

 

Menulis adalah sebuah proses. Begitu pula belajar menulisnya. Tyas harus rajin dan penuh komitmen mengikuti kursus sebanyak 12 kali pertemuan sesuai dengan Metode 12 PAS, yang dikembangkan pendiri SMKI, Dodi Mawardi. Selama itu pula, Tyas membuat kerangka tulisan tentang dunia kuliner. Ia juga harus wawancara dengan sejumlah pakar bidang kuliner untuk melengkapi bahan bukunya. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan Tyas sebelumnya. Ia juga dipertemukan oleh SMKI dengan editor-editor penerbit Elex Media (Gramedia Grup).

 

20 - Tyas AN

Dengan kerja keras dan mengikuti proses, Tyas berhasil menerbitkan buku tersebut pada 2013. Sebuah buku yang sudah diimpikannya sejak lama. Sebelum menulis buku tersebut, Tyas memang punya minat yang besar terhadap dunia kuliner (masakan). Ia sempat membuka cafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.

 

Selamat Tyas, semoga bukunya bermanfaat buat orang lain.

Ditunggu buku buku berikutnya!

 

 

 

 

Read Full Post »

Perhelatan Indonesia Digital Book Fair 2013 selama 5 hari mulai 13 Maret sampai 17 Maret berlangsung sukses di Sekolah Alam Cikeas, Gunung Putri Bogor. Jumlah peserta sesuai dengan target panitia yaitu 30 stand yang terdiri dari 20 stand buku dan 10 stand non buku.

Pencetak Rekor Muri

20 stand buku antara lain berasal dari Gramedia (toko buku Botani Square), Mizan, Agromedia, Penebar Swadaya, penerbit Obor, Salamadani, Kutubuku.com, Grollier, Pustaka Lebah, Annida Online dan percetakan on demand DigioDigital.

Gunung Putri-20130316-01359

Pameran juga dimeriahkan oleh beberapa bedah buku dan seminar. Bedah buku menampilkan Akmal N. Basral dengan novel Tadarus Cinta Buya Pujangga, Marina Novianti kumpulan puisi Aku Mati di Pantai dengan moderator Naning Pranoto dan Fita Cakra dengan novel Marigold Girl School.

Puncak dari pameran buku digital kali ini adalah mencetak rekor MURI untuk penulisan buku karangan anak terbanyak sekaligus tercepat dicetak versi e-book dan hardcopy. Pendiri MURI Jaya Suprana langsung menyerahkan sertifikat MURI dan bukan hanya sebagai rekor Indonesia melainkan rekor dunia. Proses pencetakan rekor dunia MURI ini dibantu oleh Mizan Digital Publishing, Noura Books, Digiodigital dan http://www.Qbaca.com.

Gunung Putri-20130316-01363

Segenap panitia IDBF 2013 dan Sekolah Alam Cikeas serta Gerakan Nasional Kepedulian Sosial (GNKS) mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh pendukung acara. Khususnya kepada para sponsor yaitu PT. Telkom, PT. Baya, PT. Biofarma, PT. Sytek, dan Smarfren serta pendukung lainnya seperti Republika Online, Lite FM dan Frissian Flag.

Semoga pelaksanaan berikutnya akan lebih baik. sampai jumpa tahun depan!

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »