Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘festival penulis’

20151030_085657_resized

Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Ruangan masih sepi. Namun, pelan tapi pasti, sejumlah orang mulai berdatangan. Mereka langsung memilih deretan kursi paling depan. Terus… berurutan sampai ke belakang. Acara baru dimulai jam 9 pagi, tapi seperempat jam sebelum acara, ruangan sudah penuh. MC pun mengabarkan, acara akan dimulai tepat jam 9. MC lalu mengingatkan kepada seluruh audien untuk menyimak acara, dan mematikan nada suara handphone.

Sebagian besar audien patuh terhadap “perintah” MC. Begitu acara dimulai, semua diam. Tak ada sedikitpun suara dari audien. Mereka menyimak setiap kata dari para pembicara. Kadang tertawa dan tersenyum, jika isi pembicaraan lucu. Lalu kembali diam. Sebagian dari mereka memegang buku kecil dan pulpen. Tak jarang mereka menggoreskan pulpen tersebut di kertas, ketika mendengar sebuah info yang menurut mereka penting.

Meski diam, terlihat sekali mereka antusias. Mereka mendengarkan dengan aktif; Mendengarkan dengan efektif;  Mencatat; Menyimak; Memberikan atensi dan respek. Meski mereka datang berdua atau bertiga dan duduk bersebelahan, tak pernah sekalipun diantara mereka berdialog, ketika panelis di depan berbicara.

20151030_151601_resized

Fakta itu berlangsung hampir di seluruh tempat diskusi dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud 2015. Pengunjung betul-betul berkomitmen untuk berdiskusi, mendapatkan pengetahuan dan informasi dari para pembicara. Mereka baru bicara ketika dipersilakan untuk bicara, bertanya dan berdiskusi. Selain itu, diam. Mendengarkan.

Pernah pada salah satu sesi diskusi, terdengar suara HP berdering. Tidak keras, tapi terdengar. Begitu dilihat, ternyata orang Indonesia yang melakukannya. Sedangkan sebagian besar audien lainnya adalah warga negara asing, terutama berasal dari Australia  dan mayoritas adalah orang lanjut usia. Mereka punya HP… tapi HP merekapun sama dengan tuannya; diam juga.

……

Susahnya Diam

Diam dan mendengarkan ternyata hal yang sulit ditemukan di negeri kita. Saya mengajar di sebuah kampus terkemuka di Jakarta. Setiap kali mengajar, selalu saja ada mahasiswa yang mencuri-curi untuk mengobrol dengan teman sebelahnya atau teman di depannya. Kadang saya mengatakan, “Hei… Anda boleh mengobrol, tapi gunakan SMS atau WA saja.” Sebagai isyarat bahwa tindakan mengobrol ketika orang lain bicara adalah tidak sopan dan seringkali mengganggu.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, menghormati orang lain, yang lebih tua dan terutama yang lebih tinggi kedudukannya. Seorang pelayan tidak akan berani membuka mulut atau bahkan mendongakkan kepalanya, ketika tuannya berbicara. Seorang anak tak akan membalas tatapan atau ucapan orangtuanya dengan cara tak sopan. Pun para abdi dan pegawai, pasti akan diam ketika atasan mereka berbicara. Sikap menghormati orang lain, sangat dijunjung tinggi oleh sebagian besar nenek moyang kita.

Tapi ternyata semua itu tinggal sejarah. Sulit menemukan fakta bahwa orang Indonesia masa kini menghormati orang lain dengan cara seperti yang ditunjukkan pengunjung warga negara asing dalam Ubud Writers & Readers Festival. Sangat sederhana, cukup diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara. Tidak butuh usaha ekstra keras untuk melakukan. Cukup komitmen saja untuk mau melakukannya.

Kamis (5/11) kemarin saya mendapatkan undangan dari sebuah penerbit untuk menghadiri acara penganugerahan penghargaan kepada para pengusaha sosial. Acara itu diisi pula dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah nama besar, diantaranya Rhenald Khasali. Selama acara, mulai dari sambutan-sambutan termasuk dari Prof Subroto (mantan presiden OPEC), sampai diskusi, hadirin tidak pernah diam. Suara mereka mengobrol, terutama di bagian belakang mirip seperti segerombolan lebah yang mencari kembang. Beruntung, suara speaker cukup keras, sehingga mampu mengimbangi lebah-lebah tersebut.

Diajari Diam Sejak Belia

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Kenapa hanya untuk mendengarkan orang lain saja, kita merasa susah sekali?

Padahal, sikap menghormati dan menghargai orang lain diawali dengan mendengarkan. Sikap diam ini ternyata menjadi sangat krusial dan penting. Diam ketika orang lain berbicara. Diam untuk mendengarkan.

Akhirnya saya berdiskusi dengan teman asal Australia, Toby. Saya tanyakan apa yang diajarkan oleh sekolah dan orangtua mereka, berkaitan dengan diam dan mendengarkan ini. Jawabannya sungguh sederhana. “Kami sudah terbiasa begitu sejak kecil. Kalau ada orang lain berbicara, kita harus mendengarkan. Kalau masih bicara juga, akan diperingatkan. Kalau sudah diperingatkan masih tidak diam juga akan diusir!”

Tugas seseorang yang berperan sebagai peserta ketika datang menghadiri sebuah acara, atau diskusi, adalah diam dan mendengarkan. Jika tidak mau diam dan mendengarkan, lebih baik tidak datang. Atau segera keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu orang lain di ruang tersebut yang mau mendengarkan.

20151029_093014_resized

PR besar buat saya dan para praktisi pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar plus buat para orangtua. Biarlah para orang dewasa yang sekarang sudah kadung sulit mendengarkan orang lain. Biarlah mereka menyadari sendiri betapa buruknya sikap tersebut. Tapi, jangan sampai anak-anak yang sekarang masih belia, bersikap sama seperti itu. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar dan tepat, bahwa menghormati orang lain adalah penting. Dan salah satu tanda menghormati orang lain adalah diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara.

20151028_174416_resized

Pelajaran besar yang didapatkan dari Ubud Writers & Readers Festival, bukan hanya tentang buku dan pengetahuan yang diberikan para pembicara. Bukan pula hanya pengetahuan tentang kepiawaian panitia dalam mengelola acara. Melainkan juga sikap dan tindakan para pengunjung festival tersebut.

Dodi Mawardi

Penulis, Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Iklan

Read Full Post »

20151029_091924_resized

Perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2015 (UWRF) berlangsung semarak. Setiap venue acara selalu dipenuhi pengunjung. Selama festival 4 hari, panitia menyelenggarakan tidak kurang dari 200 acara, tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar tempat acara berdekatan. Kapasitas tempat acara bervariasi mulai dari 100 kursi sampai lebih dari 500 kursi.

Panitia seolah memanjakan pengunjung. Pada waktu bersamaan, terdapat 3 acara di tiga tempat berbeda. Pengunjung dipersilakan memilih acara yang disukainya. Pun demikian jika tidak suka dengan sebuah acara, bisa dengan mudah berganti tempat dengan mudah. Pengunjung hanya diharuskan membeli tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua acara utama. Pada beberapa acara khusus, panitia mengenakan tiket berbeda.

Untuk pengunjung asal Indonesia, panitia menetapkan tarif Rp 600.000 untuk empat hari kegiatan. Sedangkan untuk warga negara asing non Asean berlaku tarif Rp 4.000.000,-.

20151029_094235_resized

Pada hari pertama UWRF ini, sebagian besar pengunjung berasal dari luar negeri. Hanya segelintir warga negara Indonesia. Mereka terutama berasal dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Sisanya berasal dari sejumlah negara Asia. Secara kasat mata, boleh dikatakan 80% pengunjung adalah warga asing.

Hal ini memang sesuai dengan tujuan panitia menyelenggarakan UWRF, yang dimulai pada 2003 lalu. Janet DeNeefe, pencetus acara ini, mengadakan festival untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang sempat turun drastis pasca serangan teror bom pada 2002. Janet yang bersuamikan pria Bali (Ketut Suardhana) sudah lama tinggal di pulau Dewata dan bangga menyelenggarakan festival menulis di Indonesia. Di negeri asalnya – Australia – festival menulis merupakan sebuah acara tahunan yang ada hampir semua kota besar di sana.

Meski demikian, tentu saja sebagai tuan rumah, jumlah pengunjung asal Indonesia seharusnya lebih banyak. Di antara segelintir orang Indonesia tersebut, pengunjung yang asli orang Bali, lebih sedikit lagi. Budaya literasi dan melek ilmu pengetahuan memang masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia.

Orang Bali adalah tuan rumah dan panitia yang hebat dalam penyelenggaraan acara intelektual tersebut. Apresiasi yang tinggi buat mereka!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional, Pengelola Sekolah Alam Cikeas

Read Full Post »

20151028_191749_resized

 

Tepuk tangan riuh undangan merespon penampilan kompilasi tarian dari berbagai daerah, menandai dibukanya pesta penulis terbesar di Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival 2015, pada Rabu malam (28/10). Tarian dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Bali, Maluku dan Papua sengaja ditampilkan panitia, sesuai dengan tema festival “17.000 Islands of Imagination”. Tema yang juga dipakai oleh Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015.

 

Ratusan undangan yang sebagian besar adalah penulis serta pelaku industri literasi, memenuhi tempat pembukaan di Puri Agung Ubud. Bali yang terkenal dengan budayanya, menjadi lebih semarak berkat hadirnya kekayaan budaya Indonesai dari bebagai daerah.

 

Pada perhelatan ke 12 ini, panitia mengundang tidak kurang dari 150 penulis dari berbagai negara, untuk berdiskusi dan berbagi ilmu dalam sekitar 200 event selama festival. Meski sempat tergganggu dengan isu sensitif peringatan tragedi 1965 menjelang pembukaan, panitia tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan seluruh acara sesuai izin yang dikeluarkan pemerintah setempat.

20151028_174420_resized

Dalam pembukaan tersebut, hadir seluruh muspida kabupaten Gianyar sebagai bukti dukungan pemerintah terhadap festival yang ikut serta menghidupkan kembali pariwisata Bali tersebut. Kehadiran pemerintah dalam pembukaan itu sekaligus menepis rumor sejumlah kalangan yang menyebutkan bahwa pemerintah melakukan tekanan terhadap panitia festival.

 

Mulai Kamis 29 Oktober, sejumlah acara sudah siap memanjakan para pecinta buku sampai Minggu 1 November. Dari jadwal yang dirilis panitia, terdapat beberapa acara yang menarik seperti penampilan Glenn Fredly yang mewakili budaya literasi Maluku, serta hadirnya seniman Dayak dan beberapa budaya lainnya. Tak ketinggalan peluncuran sejumlah buku serta workshop seputar dunia literasi akan melengkapi dahaga pecinta buku, termasuk sesi khusus dengan penulis muda multitalenta Raditya Dika.

 

Info selengkapnya bisa Anda klik di www.ubudwritersfestival.com

Read Full Post »

Bumi makin merana. Bumi kian meringis. Manusia harus bertindak untuk menyelamatkan bumi, rumah manusia satu-satunya. Tidak ada kata terlambat. Yayasan Bhakti Suratto/YBS (yang menaungi Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas dan Rumah Peduli Anak TKI) bersama Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) dan Rayakultura, menunjukkan kepedulian terhadap bumi dengan membentuk Laskar Pena Hijau (LPH), pada Sabtu 22 Agustus 2015 di kampus Sekolah Alam Cikeas – Puri Cikeas.

Tentang Laskar Pena Hijau

Laskar Pena Hijau adalah komunitas penulis (sastra dan non sastra) yang peduli terhadap lingkungan hidup. Mereka akan menulis beragam isu tentang lingkungan, juga bermain drama dan pentas, pembacaan puisi serta gerakan langsung pro lingkungan seperti penanaman pohon dan pembersihan sampah.

 

YBS memberikan beasiswa pelatihan Pena Hijau kepada 30 penulis yang berasal dari beragam kalangan, dengan mentor sastrawan Naning Pranoto. Pelatihan berlangsung setiap Sabtu, dimulai sejak 22 Agustus lalu. Setelah selesai pelatihan, seluruh anggota Laskar Pena Hijau wajib menulis dan mengkampanyekan semangat kepedulian terhadap lingkungan, melalui beragam media massa, internet dan media sosial.

Ketua Umum YBS – Suratto Siswodihardjo mendukung penuh gerakan ini. “Selama ini kami sudah melakukan gerakan peduli hijau dengan membangun Sekolah Alam Cikeas pada 2006 lalu. Kini kami ingin terus melakukannya dengan fokus pada konservasi alam, konservasi manusia dan konservasi budaya…”

 

Naning Pranoto, motor penggerak sastra hijau lewat Rayakultura.net mengaku gembira dengan kerjasama dan pembentukan Laskar Pena Hijau. “Cukup sulit mencari pihak yang mau mendukung gerakan sastra hijau. Saya bersyukur bisa bekerja sama untuk merawat dan melestarikan bumi, rumah kita satu-satunya.”

Pengelola Sekolah Menulis Kreattif Indonesia – Dodi Mawardi mengungkapkan, gerakan peduli lingkungan sangat tepat jika digaungkan melalui tulisan, baik sastra maupun non sastra. “Tulisan memiliki efek yang luar biasa. Maka, sungguh tepat jika gerakan peduli bumi dikampanyekan lewat tulisan. Kita punya banyak penulis hebat, yang jika disinergikan untuk tujuan mulia, maka haslnya akan luar biasa!”

 

Para peserta beasiswa penulisan Laskar Pena Hijau berasal dari beragam kalangan, mulai dari sastrawan, wartawan, penulis, blogger, pengusaha, guru, mahasiswa, pelajar sampai ibu rumah tangga. Karena keterbatasan lokasi, maka peserta angkatan pertama ini lebih banyak berasal dari wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Tugas Laskar Pena Hijau selain mengkampanyekan peduli lingkungan juga ikut mensukseskan pergelaran Indonesia Green Writers Festival 2016 mendatang.

 

Dikutip dari http;//www.ilmumenulis.com

Read Full Post »

Di seluruh dunia, terdapat ratusan festival Penulis. Festival penulis bukan hanya milik negara-negara maju, yang melek literasinya tinggi. Namun ternyata, sejumlah negara berkembang pun mampu menyelenggarakan festival penulis yang menarik perhatian dunia.

Berikut ini adalah 10 festival penulis yang direkomendasikan oleh Lisa Dempster, Direktur Melbourne Writers Festival, yang dikombinasikan dengan olah data tim redaksi IlmuMenulis.Com.

  1. Jaipur Leterary Festival (India).

India memang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat penerbitan buku yang tinggi. Setiap tahun, negara itu mampu menghasikan lebih dari 75.000 judul buku. Meski berlangsung di Jaipur India, namun festival ini pertama kali diselenggarakan oleh Will Dalrymple, seorang penulis terkemuka asal Inggris. Festival ini mengkombinasikan antara melek sastra dengan musik, plus berbagai pemikiran provokatif tentang dunia penulisan, yang tentu saja dipenuhi dengan debat antara penulis dan pengunjung. Festival ini biasanya berlangsung setiap Januari. Mau tahu lebih lengkap silakan kunjungi websitenya http://www.jaipurliteraturefestival.org

  1. Bookworm International Literary Festival Beijing (China)

Sebuah festival buku dan penulisnya yang berlangsung di toko buku Bookworm yang terletak di Beijing dan beberapa kota lain di China. Festival ini berjalan selama dua minggu, diisi dengan diskusi dan talkshow yang menghadirkan para penulis lokal dan internasional. Tahun 2015 ini, Bookworm Festival sudah berlangsung untuk ke-9 kalinya, pada bulan Maret lalu. Info lengkap klikhttp://www.bookwormfestival.com

 

  1. PEN World Voices Festival (USA)

Salah satu festival literatur terbesar di dunia, yang berlangsung setiap April sampai Mei di New York Amerika Serikat. PEN sendiri adalah sebuah oganisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan hukum. Mereka aktif memberikan bantuan hukum kepada para penulis di seluruh dunia, terutama penulis yang mengalami tekanan dari penguasa. Sudah pasti festival ini menyuarakan kebebasan menulis dalam berbagai diskusi, talkshow dan debatnya. Info lanjutan silakan klikhttp://www.worldvoices.pen.org

  1. Etonnant Voyageurs (Perancis)

Bagi Anda yang menyukai tulisan perjalanan (travel writing), inilah festival yang tepat. Apalagi festival ini berlangsung di salah satu negara tujuan wisata utama dunia, yaitu Perancis. Sambil jalan-jalan, sambil nambah ilmu menulis. Kota tempat penyelenggaran festival ini adalah St. Malo, salah satu tempat bersejarah di Perancis. Selain diskusi dan seminar tentang menulis, di sana juga akan mendapatkan suguhan festival film serta pasar buku yang sangat besar! Mau kesana? Catat pelaksanaannya setiap Februari atau Maret. Untuk lebih lengkap silakan deh bukahttp://www.Etonnants-voyageurs.com

  1. International  Literary Festival  of  Paraty (FLIP), Brazil 

Festival penulis di Brasil ini hanya berlangsung 5 hari. Namun, penyelenggara mampu mengadakan banyak sekali acara berkualitas mulai dari debat, show, eksebisi, workshop, film screening, sampai presentasi berbagai pihak. Tidak akan menyesal deh, kalau Anda sempat menghadiri acara ini. Nah… FLIP ini berlangsung setiap Juli sampai Agustus. Pas buat masa liburan orang Indonesia bukan? Coba deh klik infonya di http://www.flip.org.br

  1. Edinburgh International Book Festival (Scotland) 

Meski ada kata buku dalam festivalnya, tapi ini bukan pameran buku apalagi jualan buku lho ya. Justru festival di Edinburg inilah yang paling asli dan awal, dalam hal festival penulis serta literatur. Bahkan, festival paling tua ini juga termasuk yang paling sukses dalam menarik perhatian para penulis top dunia. Jadi, kalau Anda bisa hadir di berbagai festival lain, belum lengkap kalau tidak bisa datang ke festival di Skotlandia ini. Apalagi di kawasan ini, sekarang sudah lahir penulis paling kaya sepanjang sejarah, JK. Rowling!  Duh, asyik banget kalau bisa hadir di sini setiap Agustus.  https://www.edbookfest.co.uk

  1. Book Passage Travel Writers & Photographers Conference, San Francisco (USA)   

Lagi lagi sebuah festival literasi buat kalangan penulis perjalanan plus penggemar fotografi. Pencetus acaranya adalah penulis perjalanan legendaris Amerika, Don George. Sudahlah kalau Anda penulis travel dan pehobi fotografi, wajib hadiri fetsival yang satu ini setiap Agustus.  http://www.bookpassage.com/travel-writers-photographers-conference

  1. Ubud Writers and Readers Festival (Indonesia)

Wah, kita boleh bangga lho ternyata festival penulis dan pembaca di Ubud, termasuk yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Ubud merupakan salah satu kawasan wisata paling eksotis di Bali. Jadi, selain mendapatkan pencerahan tentang menulis dan membaca, pengunjung juga bisa menikmati Ubud. Klop deh. Cari ilmu sambil jalan-jalan. Keren. Festival Ubud ini berlangsung setiap Oktober. Buka yuk situsnya di http://www.ubudwritersfestival.com

  1. Melbourne Writers Festival (Australia) 

Salah satu festival penulis terbesar di Australia. Selain di Melbourne, Australi juga kaya akan festival penulis di berbagai kota lainnya seperti Sydney dan Perth. Melbourne sebagai salah satu kota terbesar di negeri Kanguru tersebut, layak menjadi salah satu pilihan tujuan para penulis.  Event ini berlangsung setiap Agustus, http://www.mwf.com.au

  1. The Guardian Hay Festival of Literature, Wales

Salah satu festival buku dan penulis yang sayang kalau dilewatkan. Mantan presiden AS, Bill Clinton menyebut festival ini bagaikan festival musik Woodstock. Hmmm…  Sejumlah pihak menjuluki Hay (tempat berlangsungnya festival) sebagai Mekkahnya buku. Nah lho, keren banget pasti. Festival berlangsung setiap bulan Mei. Dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai May in Hay. Klik http://hayfestival.com

Dikutip dari http://www.ilmumenulis.com

Read Full Post »

Budaya menulis dan membaca di Australia tak perlu diragukan lagi. Jangan heran, karena sebagian besar orang Australia berasal dari Eropa, terutama kawasan Britania, yang sejak lama sudah melek huruf, melek baca dan melek menulis. Salah satu bukti dari budaya tersebut adalah maraknya festival penulis (writer festival) di negeri tersebut. Boleh dikatakan, semua kota di Australia punya even festival penulis, yang rutin digelar setiap tahun.

Bulan Mei ini misalnya, Kota Sydney sedang semarak dengan Sydney Writers Festival 2015. Ratusan penulis dari berbagai negara hadir dalam acara tersebut. Nama-nama yang hadir bukan penulis sembarangan, melainkan penulis-penulis top baik fiksi maupun non fiksi. Sebut saja misalnya Richard Flanagan – salah satu novelis terbaik Australia, Mohsin Hamid – penulis terkenal Pakistan, atau Atul Gawande – penulis di New Yorker.

Selain Sydney, kota lain seperti Melbourne, Perth, dan Brisbane juga punya ajang serupa, Writers Festival, setiap tahun. Bahkan kota-kota yang lebih kecil pun seperti Victoria dan Newcastle, punya festival penulis. Tampaknya kota-kota di Australia berlomba-lomba mengadakan acara tersebut dan mengundang penulis-penulis terkenal. Dan hebatnya, kota-kota tersebut menyelenggarakan festival penulis pada waktu yang berbeda. Sydney misalnya berlangsung pada bulan Mei, lalu Brisbane pada Juni, dan Melbourne pada bulan Agustus. Sebuah sinergi yang luar biasa.

Pada setiap festival itu, pengunjung mendapatkan pengetahuan, inspirasi serta motivasi dari banyak penulis buku, serta pelaku industrinya. Beragam diskusi, talkshow dan seminar berlangsung dengan meriah, namun penuh dengan manfaat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beruntung… sejak beberapa tahun silam, Indonesia punya festival penulis yang rutin berlangsung setiap tahun, yaitu Ubud Writers Festival. Belakangan namanya diubah menjadi Ubud Writers and Readers Festival. Acara ini berlangsung setiap akhir tahun, biasanya pada bulan Oktober atau November. Tahun ini, Ubud Writers and Readers Festival berlangsung mulai 28 Oktober sampai 1 November 2015.

Namun hanya Ubud itulah festival penulis yang berjalan rutin. Sedangkan di kota lain, tidak ada festival penulis. Yang ada adalah pameran buku, untuk memenuhi dahaga industri dalam berjualan buku. Bukan memenuhi dahaga ilmu pengetahuan yang menjadi roh sesungguhnya dari sebuah buku.

Semoga kelak, ada lagi kota lain di Indonesia yang menyelenggarakan festival penulis buku secara rutin!

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis Buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Co writer, ghost writer dan trainer penulisan.

dodimawardi@ilmumenulis.com

dodimawardi@penuliskreatif.net

Read Full Post »