Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ilmu menulis’

20151030_085657_resized

Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Ruangan masih sepi. Namun, pelan tapi pasti, sejumlah orang mulai berdatangan. Mereka langsung memilih deretan kursi paling depan. Terus… berurutan sampai ke belakang. Acara baru dimulai jam 9 pagi, tapi seperempat jam sebelum acara, ruangan sudah penuh. MC pun mengabarkan, acara akan dimulai tepat jam 9. MC lalu mengingatkan kepada seluruh audien untuk menyimak acara, dan mematikan nada suara handphone.

Sebagian besar audien patuh terhadap “perintah” MC. Begitu acara dimulai, semua diam. Tak ada sedikitpun suara dari audien. Mereka menyimak setiap kata dari para pembicara. Kadang tertawa dan tersenyum, jika isi pembicaraan lucu. Lalu kembali diam. Sebagian dari mereka memegang buku kecil dan pulpen. Tak jarang mereka menggoreskan pulpen tersebut di kertas, ketika mendengar sebuah info yang menurut mereka penting.

Meski diam, terlihat sekali mereka antusias. Mereka mendengarkan dengan aktif; Mendengarkan dengan efektif;  Mencatat; Menyimak; Memberikan atensi dan respek. Meski mereka datang berdua atau bertiga dan duduk bersebelahan, tak pernah sekalipun diantara mereka berdialog, ketika panelis di depan berbicara.

20151030_151601_resized

Fakta itu berlangsung hampir di seluruh tempat diskusi dalam Festival Penulis dan Pembaca Ubud 2015. Pengunjung betul-betul berkomitmen untuk berdiskusi, mendapatkan pengetahuan dan informasi dari para pembicara. Mereka baru bicara ketika dipersilakan untuk bicara, bertanya dan berdiskusi. Selain itu, diam. Mendengarkan.

Pernah pada salah satu sesi diskusi, terdengar suara HP berdering. Tidak keras, tapi terdengar. Begitu dilihat, ternyata orang Indonesia yang melakukannya. Sedangkan sebagian besar audien lainnya adalah warga negara asing, terutama berasal dari Australia  dan mayoritas adalah orang lanjut usia. Mereka punya HP… tapi HP merekapun sama dengan tuannya; diam juga.

……

Susahnya Diam

Diam dan mendengarkan ternyata hal yang sulit ditemukan di negeri kita. Saya mengajar di sebuah kampus terkemuka di Jakarta. Setiap kali mengajar, selalu saja ada mahasiswa yang mencuri-curi untuk mengobrol dengan teman sebelahnya atau teman di depannya. Kadang saya mengatakan, “Hei… Anda boleh mengobrol, tapi gunakan SMS atau WA saja.” Sebagai isyarat bahwa tindakan mengobrol ketika orang lain bicara adalah tidak sopan dan seringkali mengganggu.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, menghormati orang lain, yang lebih tua dan terutama yang lebih tinggi kedudukannya. Seorang pelayan tidak akan berani membuka mulut atau bahkan mendongakkan kepalanya, ketika tuannya berbicara. Seorang anak tak akan membalas tatapan atau ucapan orangtuanya dengan cara tak sopan. Pun para abdi dan pegawai, pasti akan diam ketika atasan mereka berbicara. Sikap menghormati orang lain, sangat dijunjung tinggi oleh sebagian besar nenek moyang kita.

Tapi ternyata semua itu tinggal sejarah. Sulit menemukan fakta bahwa orang Indonesia masa kini menghormati orang lain dengan cara seperti yang ditunjukkan pengunjung warga negara asing dalam Ubud Writers & Readers Festival. Sangat sederhana, cukup diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara. Tidak butuh usaha ekstra keras untuk melakukan. Cukup komitmen saja untuk mau melakukannya.

Kamis (5/11) kemarin saya mendapatkan undangan dari sebuah penerbit untuk menghadiri acara penganugerahan penghargaan kepada para pengusaha sosial. Acara itu diisi pula dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah nama besar, diantaranya Rhenald Khasali. Selama acara, mulai dari sambutan-sambutan termasuk dari Prof Subroto (mantan presiden OPEC), sampai diskusi, hadirin tidak pernah diam. Suara mereka mengobrol, terutama di bagian belakang mirip seperti segerombolan lebah yang mencari kembang. Beruntung, suara speaker cukup keras, sehingga mampu mengimbangi lebah-lebah tersebut.

Diajari Diam Sejak Belia

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Kenapa hanya untuk mendengarkan orang lain saja, kita merasa susah sekali?

Padahal, sikap menghormati dan menghargai orang lain diawali dengan mendengarkan. Sikap diam ini ternyata menjadi sangat krusial dan penting. Diam ketika orang lain berbicara. Diam untuk mendengarkan.

Akhirnya saya berdiskusi dengan teman asal Australia, Toby. Saya tanyakan apa yang diajarkan oleh sekolah dan orangtua mereka, berkaitan dengan diam dan mendengarkan ini. Jawabannya sungguh sederhana. “Kami sudah terbiasa begitu sejak kecil. Kalau ada orang lain berbicara, kita harus mendengarkan. Kalau masih bicara juga, akan diperingatkan. Kalau sudah diperingatkan masih tidak diam juga akan diusir!”

Tugas seseorang yang berperan sebagai peserta ketika datang menghadiri sebuah acara, atau diskusi, adalah diam dan mendengarkan. Jika tidak mau diam dan mendengarkan, lebih baik tidak datang. Atau segera keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu orang lain di ruang tersebut yang mau mendengarkan.

20151029_093014_resized

PR besar buat saya dan para praktisi pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar plus buat para orangtua. Biarlah para orang dewasa yang sekarang sudah kadung sulit mendengarkan orang lain. Biarlah mereka menyadari sendiri betapa buruknya sikap tersebut. Tapi, jangan sampai anak-anak yang sekarang masih belia, bersikap sama seperti itu. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar dan tepat, bahwa menghormati orang lain adalah penting. Dan salah satu tanda menghormati orang lain adalah diam dan mendengarkan ketika orang lain berbicara.

20151028_174416_resized

Pelajaran besar yang didapatkan dari Ubud Writers & Readers Festival, bukan hanya tentang buku dan pengetahuan yang diberikan para pembicara. Bukan pula hanya pengetahuan tentang kepiawaian panitia dalam mengelola acara. Melainkan juga sikap dan tindakan para pengunjung festival tersebut.

Dodi Mawardi

Penulis, Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Iklan

Read Full Post »

20151101_203600_resized

Tepuk tangan riuh merespon tarian api (fire dance) menjadi puncak dari Ubud Writers & Readers Festival 2015. Panitia menyuguhkan sejumlah tarian tradisional dengan klimaksnya adalah tarian api pada penutupan festival Minggu (1/11) di Museum Antonio Blanco. Sejumlah penari, pria dan wanita, membawa sejumlah obor menyala-nyala, di tangan. Sebagian menyemburkan api dari mulut. Sebagian memutar-mutar gelang raksasa berapi di pinggangnya. Sungguh semarak. Mencengangkan. Membuat seluruh penonton – yang 80% orang asing – terpesona.

Pesona pula yang mencuat dari benak seluruh pengunjung festival tersebut. Selama 4 hari mereka dibuai oleh diskusi berkualitas, bedah buku, bedah film, peluncuran buku dan kegiatan spesial lainnya. “Terlalu banyak pilihan,” demikian ucap Catherine, seorang pengunjung asal Australia, mengomentari banyaknya acara dalam festival kali ini. Tentu komentar bernada positif.

Catherine mewakili pendapat sebagian besar pengunjung festival. Mereka puas. Mereka akan kembali lagi tahun depan. Sebagian dari mereka, sudah berkali-kali menghadiri Ubud Writers Festival. Dan tidak pernah bosan. Panitia selalu mampu menyuguhkan acara dengan variasi yang memuaskan pengunjung. Tahun ini, tema festival adalah 17.000 Islands of Imagination. Tak heran jika tema-tema diskusi dan acara lainnya, berkaitan erat dengan imajinasi tentang Indonesia.

20151029_200213_resized

Menurut Janet DeNeefe, ketua penyelenggara festival, tahun ini lebih banyak penulis dan pelaku industri kreatif Indonesia yang dihadirkan. Selain penulis, editor, dan penerbit, festival juga mengundang sejumlah pakar dan praktisi perfilman. Misalnya Nia Dinata, sineas senior ikut serta mengupas industri perfilman Indonesia. Bahkan penyanyi Glenn Fredly pun hadir ke sana bukan untuk melantunkan suaranya, melainkan diskusi tentang proses kreatif film Beta Maluku: Cahaya dari Timur.

Panitia ingin memberikan panggung yang lebih luas kepada pelaku industri kreatif Indonesia. 16 penulis baru pun diundang secara khusus untuk tampil di sana. Mereka, penulis-penulis baru berbakat dan berpotensi. Selain itu, sejumlah penulis terkemuka juga dihadirkan, bahkan menjadi bintang dalam festival kali ini. Eka Kurniawan misalnya, novelis yang disebut-sebut sebagai Pramudya Ananta Toer baru. Di Ubud, Eka didapuk sebagai kurator yang menyeleksi penulis-penulis baru. Beberapa sesi juga disediakan khusus untuk Eka.

20151030_160640_resized

Yang paling menyedot perhatian adalah Raditya Dika, pemuda multitalenta. Dia penulis buku-buku jenaka, stand up comedy, sutradara dan pemain film. Di Ubud, Radit berbicara dalam beberapa sesi. Setiap sesinya, selalu ramai. Tidak ada kursi kosong. Sebagian audiens adalah anak-anak usia remaja – kebanyakan perempuan. Seru, ramai dan kocak. Bahkan pengunjung dari berbagai negara pun terpukau oleh gaya bahasa Dika yang seru dan isinya yang seringkali mengocok perut. Dibanding penulis lain Indonesia yang hadir di sana, bahasa Inggris Radit bisa dibilang yang paling bagus. Apalagi dia juga pernah kuliah di Australia, sehingga dengan mudah mampu membuat pengunjung asal Australia terpingkal-pingkal.

Untuk urusan menampilkan penulis dan pelaku industri kreatif lokal, panitia festival Ubud bisa disebut berhasil. Selain yang berlevel nasional, panitia juga sukses menampilkan pelaku lokal. Sejumlah pelaku lokal bukan hanya berasal dari Jakarta dan Jawa, melainkan juga dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Madura dan tentu saja Bali. Dua buah film dokumenter karya sineas asal Sumatera Utara, Erick Est membuat pengunjung terpukau. Satu bercerita tentang Janggan, salah satu jenis layang-layang legendaris di Bali, dan satu lagi tentang Suku Dayak di Long Saan Malinau Kalimantan Utara.

Namun… bagaimana dengan pengunjung? Jumlah pengunjung festival Ubud selalu melewati angka 20 ribu orang. Pun demikian tahun ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung asal luar negeri selalu dominan. Angkanya berkisar antara 80% – 90%. Sisanya adalah orang Indonesia. Minoritas di negeri sendiri.

Ketut Suardhana, dedengkot penyelenggara festival tersenyum getir ketika berdiskusi tentang pengunjung asal Indonesia. Senyuman yang menyiratkan keprihatinan. Jumlah pengunjung asal Indonesia, selalu minim dalam setiap penyelenggaraan festival. Padahal, panitia sudah menyiasati banyak hal, agar jumlah pengunjung domestik meningkat. Misalnya dengan mengundang lebih banyak pelaku lokal yang tampil. Atau dalam hal tiket. Harga tiket untuk pengunjung domestik, jauh lebih murah dibanding pengunjung asing. Bandingkan saja, Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) untuk warga negara asing dan Rp 600.000 (enam ratus ribu rupiah) buat orang Indonesia, untuk festival selama 4 hari. Jauh bukan bedanya?!

20151029_094235_resized

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya festival ini untuk siapa? Jika berdasarkan fakta selama 12 kali penyelenggaraan Ubud Writers Festival, tampaknya lebih dirasakan manfaatnya oleh warga negara asing, khususnya orang Australia. Mereka memang haus ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian besar dari warga Australia yang datang adalah yang berusia di atas 50 tahun. Artinya mereka tetap haus pengetahuan, meski usia sudah tidak muda lagi. Setiap kali mengikuti diskusi, para senior ini duduk di deretan paling depan, menyimak dengan saksama dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Tak jarang mereka pun melontarkan pertanyaan.

Kenapa warga Indonesia enggan datang ke festival menulis? Bukan rahasia lagi jika tingkat melek intelektual kita masih rendah. Penghargaan terhadap kaum intelektual pun relatif rendah. Kita masih jauh lebih menghargai dan berani membayar mahal para penghibur, dibanding para intelektual, apalagi penulis. Itulah kenapa acara-acara hiburan seperti sinetron atau pertunjukan musik, dengan tarif setinggi apapun, selalu dipenuhi pengunjung lokal. Sedangkan acara-acara intelektual sepi. Hal yang berbeda dengan yang terjadi di negara maju. Di Austtalia misalnya, hampir setiap kota memiliki festival menulis setiap tahun, dan selalu ramai pengunjung.

Butuh waktu panjang untuk meningkatkan kesadaran belajar bangsa ini. Tapi, Ubud Writers & Readers Festival akan datang lagi tahun depan. Tidak peduli apakah jumlah pengunjung Indonesia akan naik atau tidak. Tak peduli cibiran dari kanan dan kiri. Mereka terus berbuat dan berbenah. Mereka menyuarakan lewat corong intelektual tentang wangi Indonesia melalui festival intelektual, yang sudah dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu dari 10 festival menulis di dunia yang wajib dikunjungi pecinta intelektual.

Matur Suksma!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional

Pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia dan Yayasan Bhakti Suratto

Read Full Post »

20151028_191749_resized

 

Tepuk tangan riuh undangan merespon penampilan kompilasi tarian dari berbagai daerah, menandai dibukanya pesta penulis terbesar di Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival 2015, pada Rabu malam (28/10). Tarian dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Bali, Maluku dan Papua sengaja ditampilkan panitia, sesuai dengan tema festival “17.000 Islands of Imagination”. Tema yang juga dipakai oleh Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015.

 

Ratusan undangan yang sebagian besar adalah penulis serta pelaku industri literasi, memenuhi tempat pembukaan di Puri Agung Ubud. Bali yang terkenal dengan budayanya, menjadi lebih semarak berkat hadirnya kekayaan budaya Indonesai dari bebagai daerah.

 

Pada perhelatan ke 12 ini, panitia mengundang tidak kurang dari 150 penulis dari berbagai negara, untuk berdiskusi dan berbagi ilmu dalam sekitar 200 event selama festival. Meski sempat tergganggu dengan isu sensitif peringatan tragedi 1965 menjelang pembukaan, panitia tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan seluruh acara sesuai izin yang dikeluarkan pemerintah setempat.

20151028_174420_resized

Dalam pembukaan tersebut, hadir seluruh muspida kabupaten Gianyar sebagai bukti dukungan pemerintah terhadap festival yang ikut serta menghidupkan kembali pariwisata Bali tersebut. Kehadiran pemerintah dalam pembukaan itu sekaligus menepis rumor sejumlah kalangan yang menyebutkan bahwa pemerintah melakukan tekanan terhadap panitia festival.

 

Mulai Kamis 29 Oktober, sejumlah acara sudah siap memanjakan para pecinta buku sampai Minggu 1 November. Dari jadwal yang dirilis panitia, terdapat beberapa acara yang menarik seperti penampilan Glenn Fredly yang mewakili budaya literasi Maluku, serta hadirnya seniman Dayak dan beberapa budaya lainnya. Tak ketinggalan peluncuran sejumlah buku serta workshop seputar dunia literasi akan melengkapi dahaga pecinta buku, termasuk sesi khusus dengan penulis muda multitalenta Raditya Dika.

 

Info selengkapnya bisa Anda klik di www.ubudwritersfestival.com

Read Full Post »

 

Nama penulis pidato menjadi buah bibir, gara-gara kesalahan Presiden Jokowi ketika menyebutkan kota kelahiran Soekarno. Jokowi menjadi bulan-bulanan publik. Namun di balik itu, ternyata terdapat seorang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, yaitu penulis pidato presiden.

 

Penulis pidato presiden tentu bukan orang sembarangan. Dia bukan penulis biasa. Dari berbagai sumber, IlmuMenulis.Com mendapatkan informasi bahwa penulis pidato Presiden Jokowi saat ini salah satunya adalah Sukardi Rinakit, seorang pakar politik yang mendukung Jokowi sejak kampanye 2014 lalu. Sukardi dikenal bernas dalam mengamati perkembangan politik Indonesia. Tak heran jika sosoknya disukai sejumlah kalangan, termasuk Jokowi dan timnya.

http://www.yosuna.com

Penulis pidato lain yang terkenal adalah Djohan Effendi dan Yusril Ihza Mahendra. Mereka menjadi penulis pidato presiden Soeharto. Untuk menjadi penulis pidato kepala negara/pemerintahan, memang dibutuhkan orang-orang yang mumpuni dalam ilmu politik, hukum dan ketatanegaraan. Pada masa pemerintahan SBY, yang dikenal luas publik sebagai penulis pidato presiden SBY adalah Dr. Dino Patti Djalal. Lagi-lagi, doi bukan orang sembarangan. Ilmu dan wawasannya sangat luas. Cerdas sudah pasti!

 

Biasanya, karir para penulis pidato kinclong. Yusril Ihza misalnya. Kemudian menjadi Menteri. Demikian pula Djohan Effendi. Dino Patti, menjadi duta besar dan kemudian wakil menteri. Di level yang sedikit lebih rendah, kita bisa melihat karir Nurhayati Assegaf, politisi Demokrat, yang sempat menjadi penulis pidato ibu negara Ani Yudhoyono. Sekarang dia menjadi petinggi Demokrat dan DPR.

 

Lalu bagaimana sebenarnya peluang profesi penulis pidato? Kalau kita lihat dari contoh-contoh di atas, sebagian besar para penulis pidato itu tidak berprofesi sebagai penulis. Mereka adalah politisi, pakar hukum, atau pakar politik yang “nyambi” menjadi penulis pidato. Profesi utama mereka bukan penulis.

 

Hal ini berbeda dengan profesi penulis pidato di negara maju seperti  Jon Favreau, penulis utama pidato presiden Barrack Obama. Dia memang berprofesi sebagai penulis. Atau Ben Rhodes, yang juga ketua tim penulis pidato khusus kebijakan luar negeri Gedung Putih. Mereka menjadikan menulis pidato sebagai profesi utama.

Jon Favreau, penulis pidato Obama (www.ciputraentrepreneurship.com)

 

Setahu saya, di Indonesia belum ada orang yang mengkhususkan diri sebagai penulis pidato. Sebagian besar hanya menjadikan penulisan pidato sebagai pekerjaan sampingan, atau mungkin batu loncatan untuk karir berikutnya.

 

Honor/Pendapatan Penulis Pidato

Sebuah pertanyaan menggelitik tentang berapa honor atau pendapatan penulis pidato? Kalau ditanyakan kepada Jon Favreau atau Ben Rhodes sudah pasti isi jawabannya akan sangat menggiurkan. Catat ya, gaji Favreau mencapai US$172.000 per tahun. Kalau dirupiahkan setara dengan Rp 2,2 Miliar. Atau sekitar Rp 185 juta per bulan. Setara dengan gaji Deputi Gubernur Bank Indonesia atau para dirut Bank BUMN!

 

Bagaimana dengan di Indonesia? Belum ada data pasti tentang honor penulis naskah pidato. Tapi sebuah fakta menarik muncul pada masa awal kepemimpinan Jokowi – Ahok di DKI Jakarta. Mereka meributkan soal anggaran penulisan naskah pidato gubernur dan wagub yang mencapai Rp 1,2 miliar per tahun. Dari angka itu berarti setiap bulan penulis pidato mendapatkan Rp 100 juta. Oh, besar juga bukan? Tapi kita belum tahu, berapa banyak jumlah penulis pidatonya.  Kemungkinan lebih dari 1 orang, karena harus membuat naskah pidato buat dua orang yaitu gubernur dan wakil gubernur. Dan satu lagi… bukan rahasia jika besaran anggaran itu biasanya tidak seluruhnya sampai ke tangan yang berhak.

 

Apalagi jika menilik fakta lain di Provinsi Jawa Tengah. Di sana, anggaran biaya penulisan naskah pidato gubernur dalam APBD setahun mencapai Rp 450 juta. Tapi perhatikan rinciannya. Ternyata, sebagian besar bukan buat honor penulisnya.

  1. Panitia pelaksana kegiatan Rp 258.912.000.
  2. Uang lembur PNS Rp 49.950.000.
  3. Belanja alat tulis kantor Rp 31.370.000,
  4. Belanja paket pengiriman Rp 7.350.000.
  5. Belanja cetak dan. penggandaan Rp. 75.418.000,
  6. Belanja makan dan minum Rp 4.800.000
  7. Belanja perjalanan dinas dalam daerah Rp 22.200.000.

 

Dugaan kuat, biaya penulis termasuk ke dalam panitia pelaksana kegiatan, yang menyedot sekitar 50% anggaran. Jangan-jangan di DKI Jakarta pun demikian.

 

Artinya, honor penulis pidato di Indonesia belum begitu menjanjikan. Apalagi masih banyak orang yang menganggap sepele naskah pidato. “Masak buat naskah pidato saja harus semahal itu?” demikian bunyi pendapat terbanyak. Tapi, ketika isi pidato presiden keliru atau tidak menarik, maka sudah pasti yang menjadi sasaran tembak adalah penulis pidatonya!

 

Bagaimana tertarik menjadi penulis naskah pidato? Awali dengan naskah pidato kepala desa, lalu camat, terus bupati, kemudian gubernur atau para menteri, anggota DPR, DPD, pemimpin perusahaan besar dan puncaknya menjadi penulis pidato presiden.

 

 

Dodi Mawardi

Pemred IlmuMenulis.Com

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis lebih dari 50 judul buku

Read Full Post »

Budaya menulis dan membaca di Australia tak perlu diragukan lagi. Jangan heran, karena sebagian besar orang Australia berasal dari Eropa, terutama kawasan Britania, yang sejak lama sudah melek huruf, melek baca dan melek menulis. Salah satu bukti dari budaya tersebut adalah maraknya festival penulis (writer festival) di negeri tersebut. Boleh dikatakan, semua kota di Australia punya even festival penulis, yang rutin digelar setiap tahun.

Bulan Mei ini misalnya, Kota Sydney sedang semarak dengan Sydney Writers Festival 2015. Ratusan penulis dari berbagai negara hadir dalam acara tersebut. Nama-nama yang hadir bukan penulis sembarangan, melainkan penulis-penulis top baik fiksi maupun non fiksi. Sebut saja misalnya Richard Flanagan – salah satu novelis terbaik Australia, Mohsin Hamid – penulis terkenal Pakistan, atau Atul Gawande – penulis di New Yorker.

Selain Sydney, kota lain seperti Melbourne, Perth, dan Brisbane juga punya ajang serupa, Writers Festival, setiap tahun. Bahkan kota-kota yang lebih kecil pun seperti Victoria dan Newcastle, punya festival penulis. Tampaknya kota-kota di Australia berlomba-lomba mengadakan acara tersebut dan mengundang penulis-penulis terkenal. Dan hebatnya, kota-kota tersebut menyelenggarakan festival penulis pada waktu yang berbeda. Sydney misalnya berlangsung pada bulan Mei, lalu Brisbane pada Juni, dan Melbourne pada bulan Agustus. Sebuah sinergi yang luar biasa.

Pada setiap festival itu, pengunjung mendapatkan pengetahuan, inspirasi serta motivasi dari banyak penulis buku, serta pelaku industrinya. Beragam diskusi, talkshow dan seminar berlangsung dengan meriah, namun penuh dengan manfaat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beruntung… sejak beberapa tahun silam, Indonesia punya festival penulis yang rutin berlangsung setiap tahun, yaitu Ubud Writers Festival. Belakangan namanya diubah menjadi Ubud Writers and Readers Festival. Acara ini berlangsung setiap akhir tahun, biasanya pada bulan Oktober atau November. Tahun ini, Ubud Writers and Readers Festival berlangsung mulai 28 Oktober sampai 1 November 2015.

Namun hanya Ubud itulah festival penulis yang berjalan rutin. Sedangkan di kota lain, tidak ada festival penulis. Yang ada adalah pameran buku, untuk memenuhi dahaga industri dalam berjualan buku. Bukan memenuhi dahaga ilmu pengetahuan yang menjadi roh sesungguhnya dari sebuah buku.

Semoga kelak, ada lagi kota lain di Indonesia yang menyelenggarakan festival penulis buku secara rutin!

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis Buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Co writer, ghost writer dan trainer penulisan.

dodimawardi@ilmumenulis.com

dodimawardi@penuliskreatif.net

Read Full Post »

Dikutip dari http://www.ilmumenulis.com

 

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar sebuah acara bertajuk Writer’s Note pada Sabtu, 25 April 2015. Acara tersebut berisi buka-bukaan dan bagi ilmu seputar industri penulisan. Hadir dalam acara tersebut sejumlah praktisi penulisan, antara lain Dodi Mawardi (pendiri SMKI dan penulis lebih dari 50 judul buku), NS. Budiana (penulis buku-buku pertanian dan peternakan), Dudun Parwanto (penulis buku biografi dan co writer/ghost writer), Senda Irawan (co writer/ghost writer) serta penerbit Rak Buku Depok.

11173326_1052146018144007_3749751602375557757_n

Para peserta berasal dari beragam kalangan dari berbagai wilayah. Bahkan ada peserta dari Yogyakarta dan Papua. Para alumni SMKI juga hadir dalam acara ini, sekaligus memberikan testimoni pengalaman mereka, dalam menelurkan buku.

 

Alpiyanto misalnya, seorang mantan guru, yang kini sukses menjadi pembicara seminar tentang metode pendidikan. Dia sukses setelah menelurkan buku berjudul “Hypno Heart Teaching”. Uniknya, Alpi tidak memasarkan bukunya lewat Gramedia atau toko buku lainnya. Dia menjual buku sekaligus seminar, sehingga pembeli bukunya adalah peserta seminar.

“Saya tidak mematok tarif biaya pembicara. Tapi syaratnya hanya membeli buku saya. Ada dari Lampung yang membeli 1000 buku, atau dari Palembang juga lebih dari 1000 buku sekali beli. Saya sekalian datang ke sana, memberikan pelatihannya…” ujar Alpi yang disambut rasa kagum oleh peserta Writer’s Note. Sampai saat ini, Alpi sudah berhasil merampungkan 6 judul buku.

10171668_10152958818593515_7204922915003568072_n

Alumni lain yang membagi pengalamannya adalah Tyas Arumsari (atau Tyas AN). Tyas berhasil menulis 3 buah buku bertema masak-memasak. “Tapi saya tidak pandai memasak dan bukan pakar memasak…” katanya polos.

Bagaimana mungkin seorang yang tidak pandai memasak berani menulis tentang dunia masakan?

“Saya mendekati chef terkenal dan mengajaknya bekerja sama…” ujarnya membuka salah satu rahasia suksesnya dalam menulis.

11138638_1052146211477321_5992275732605427566_n

Beragam informasi mengalir dalam acara yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam tersebut. Para penulis senior membagi pengalamannya kepada peserta yang belum menghasilkan buku. Para penulis pendamping (co writer dan ghost writer) juga menggambarkan bagaimana peluang besar di industri ini, yang masih terbuka lebar buat siapapun.

Alhamdulilah semua peserta dapat buku.

Acara yang seharusnya berakhir jam 12, melar sampai jam 2 siang. Mereka masih asyik untuk tukar cerita dan buka-bukaan tentang dunia penulisan. Memang mengasyikkan. Santai tapi penuh gizi. Salah seorang peserta,Adolf Siregar mengatakan, sangat senang mengikuti acara ini. “Semangat saya dalam menulis kembali membara…” ucapnya tegas.

 

Read Full Post »