Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Indonesia’

 

2018, Perlukah Sumpah Pemuda Baru Untuk Indonesia?

oleh Dodi Mawardi

foto-bendera-merah-putih-raksasa-akan-dikibarkan-di-lokasi-deklarasi-gam

Keindonesiaan bangsa ini benar-benar sedang diuji. Sejak Jokowi naik ke tahta kekuasaan, PR besar pemerintah adalah merawat kebhinekaan. Indonesia ibarat sebuah pohon besar yang sangat rindang, beragam dahan dan ranting, serta berbuah lebat. Banyak pihak kepincut untuk memetik buah-buahan tersebut. Bahkan, kalau perlu mengijonnya. Kebhinekaan Indonesia sudah mengalami pasang surut, selama puluhan tahun sejak kemerdekaan. Padahal, kebhinekaan itu sudah ditanam dan dipupuk sejak 1928, ketika sumpah pemuda dikumandangkan.

 

Menengok catatan sejarah bangsa ini, ada satu hal yang menarik. Pada 1908, orang-orang se-Nusantara yang belum menjadi Indonesia, menunjukkan kebangkitan diri dalam berjuang melawan penjajah, lewat lahirnya Boedi Utomo. Perjuangan melawan penjajah berubah strategi dari hanya perjuang fisik, ditambah dengan perjuangan intelektual dan diplomasi. Semangat persatuan mulai mekar. Momentum itu diabadikan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Nama dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, wajib dikenang sebagai pelopornya.

 

20 tahun kemudian, strategi non fisik tersebut semakin mengerucut dalam semangat kebersamaan lewat pemuda-pemuda bervisi jauh ke depan, dalam bentuk Sumpah Pemuda (1928). Semangat mereka muncul berkat gerakan Boedi Utomo. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menyelenggarakan kongres untuk menyatukan Indonesia. Pada kongres pertama 1928, perwakilan pemuda dari seluruh Indonesia hadir dan menyatakan sumpah yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda.  Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb., hadir serta pengamat dari pemuda Tiong Hoa yaitu Kwee Thiam Hong dkk.

 

Kebhinekaan kita melebur dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sejarah bangsa sudah memberikan cermin kepada kita, tentang cikal bakal negeri ini yang dibangun dari keberagaman. Nenek moyang kita bersatu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kemerdekaan dari penjajahan. Hasilnya, 1945 Indonesia benar-benar merdeka. 17 tahun setelah Sumpah Pemuda berkumandang. 37 tahun setelah strategi perjuangan berubah.

 

Sekarang, Indonesia mengalami ujian hebat. Sesungguhnya terjadi sejak 1990-an, ketika rakyat tidak lagi mau dipimpin oleh rezim otoriter. 1998, dipelopori oleh mahasiswa (dan pemuda), kita mengubah diri (reformasi), mengganti rezim otoriter dengan pemerintahan demokratis. Kita memasuki era baru, semangat baru, era Reformasi. Semangat itu seharusnya terus ada dalam diri bangsa ini seperti yang ditunjukkan pemuda Indonesia pada masa lalu. Saat itu pun, pasti terjadi banyak perbedaan dan selisih paham. Namun, dengan satu tujuan yang sama, semuanya bisa disatukan.

 

Melihat kondisi sekarang, saya jadi flashback ke 1928. Tahun depan, yaitu 2018, persis 20 tahun setelah terjadinya Reformasi. Pemuda Indonesia pada masa 1928, menguatkan tekad kembali untuk bersatu yang dimulai oleh Boedi Utomo 20 tahun sebelumnya. Menyemaikan semangat 1908, agar terus menjadi pegangan dalam perjuangan memerdekaan Indonesia. Apakah 2018 ini kita juga harus kembali merevitalisasi semangat 1998? Semangat Reformasi? Menumbuhkan kembali tujuan dan cita-cita Reformasi yang sekarang seperti dilupakan oleh sebagian anak bangsa.

 

Jika 2018, kita kembali bersama-sama bersumpah menyatakan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa plus satu tujaun bersama, maka cita-cita Reformasi akan tercapai. Sama seperti cita-cita Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Bung Karno dan lain-lain, yang terwujud pada 1945. Indonesia merdeka. Cita-cita Reformasi bukan tidak mungkin akan terwujud atau mulai terwujud pada tahun 2035 (jika mengikuti pola 1908 – 1928 – 1945 — 1998 – 2018 – 2035). Ingat, pada tahun 2035, Indonesia sedang berada pada kondisi surplus penduduk produktif yang mencapai sekitar 65% total penduduk. Bonus demografi yang dimulai sejak tahun 2020 nanti.

 

Bonus demografi itu akan benar-benar menguntungkan, jika kita menyiapkan mereka dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan, termasuk pemahaman tentang kebangsaan. Ingat, dr. Wahidin mengubah strategi perjuangan fisik/kekerasan menjadi perjuangan intelektual dan diplomasi pada 1908, lebih dari 100 tahun lalu. Jadi kalau sekarang kita masih menggunakan hanya intelektual dan diplomasi, maka hal itu sudah basi. Apalagi jika menggunakan strategi kekerasan, fisik dan otot, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Kuno banget!

 

Kita butuh strategi yang jauh lebih baik dibanding otot (kekerasan/fisik) dan lebih maju dibanding otak (intelektual/diplomasi). Apa itu?

 

Ah ayo kita bersumpah dulu untuk tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa… plus satu cita-cita bersama!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

 

Menurut seorang kolumnis Hawe Setiawan, bahasa Indonesia itu ajaib. Penuh mistik. Kenapa? Karena bahasa Indonesia mampu menyatukan bangsa Indonesia yang amat beragam ini. Ketika saya membaca pendapatnya, kening saya berkerut. Sambil bergumam, benar juga ya… bahasa Indonesia itu keren. Bisa menjadi pemersatu bangsa, dan layak menjadi pilar kelima yang gencar dikampanyekan MPR yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Bahasa Indonesia memang ajaib. Mungkin juga disebut sakti dan lebih sakti dibanding Pancasila, yang setiap tanggal 1 Juni sering disebut sakti. Bayangkan… Indonesia ini memiliki lebih dari 400 suku bangsa dengan ragam 700-an bahasa. Banyak sekali. Jika bahasa di seluruh dunia disatukan, maka jumlahnya tidak akan mencapai sebanyak itu. Kalau tidak percaya, silakan hitung sendiri, hehe…

 

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa induknya yaitu Melayu, yang digunakan oleh sebagian masyarakat Kalimantan, Sumatera dan Semenanjung Malaka. Ingat ya, bahasa Indonesia bukan bahasa suku mayoritas yaitu Jawa. Secara logika, seharusnya bahasa yang dipakai di Indonesia adalah bahasa Jawa, karena penggunanya jauuuh lebih banyak dibanding pengguna bahasa Melayu. Tapi ajaib! Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia-lah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Orang Jawa tidak pernah terdengar memprotes kebijakan para pendiri bangsa.

 

Tak salah jika kemudian bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan, seperti yang tercantum dalam Sumpah Pemuda. Bahasa yang satu ini memang ajaib. Semua suku bangsa yang memiliki beragam bahasa itu, legowo saja menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama. Tidak perlu pakai senjata dan penjajahan untuk menyebarkan bahasa Indonesia dari Aceh sampai ke Papua dan dari Talaud sampai ke Rote.

 

Di belahan bumi manapun, bahasa suku mayoritaslah yang biasanya menjadi bahasa utama. Lalu berurutan sesuai jumlah suku bangsanya. Kalau menilik Indonesia maka seharusnya bahasa Jawa yang menjadi bahasa utama, kemudian disusul bahasa Sunda, dan baru bahasa Melayu lalu bahasa lainnya. Tengok di Jepang, bahasa utama mereka adalah bahasa suku mayoritas yang jumlahnya lebih dari 90%. Lihat pula di China, India dan negara lainnya. Bahasa penduduk mayoritaslah yang dijadikan sebagai bahasa resmi. Sebagian besar demikian.

 

Kalau ada negara yang menggunakan bahasa Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol yang bukan bahasa ibu mereka sebagai bahasa resmi, hal itu terjadi akibat penjajahan. Banyak negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang menggunakan bahasa-bahasa dari Eropa tersebut sebagai bahasa resmi, karena dulu pernah lama dijajah oleh negara-negara tersebut.

 

Indonesia beda. Masyarakat kita dan para pendiri bangsa, meski sebagian fasih berbahasa Belanda (yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun), tidak menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi, atau bahasa kedua dan ketiga. Bahasa Indonesia sakti, karena mampu menaklukkan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan negeri ini. Para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia saat itu, secara aklamasi memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

 

Sakti bukan? Jadi selain Pancasila, yang juga sakti adalah bahasa Indonesia. Menurut saya pribadi, bahasa Indonesia layak menjadi PILAR KELIMA bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Dengan satu bahasa, kita sukses menjalin begitu banyak perbedaan, menjaga toleransi, hidup berdampingan dan merasa senasib sepenanggungan dengan cita-cita luhur yang sama.

 

Tanpa paksaan dan apalagi penjajahan, seluruuh rakyat Indonesia dengan sukarela dan suka cita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa sehari-hari. Bahasa Indonesia ajaib dan sakti. Dan yang lebih hebat lagi adalah rakyat Indonesia yang mampu menahan egonya, untuk tidak memaksakan bahasa sukunya masing-masing sebagai bahasa resmi negara. Hebat.

 

Yang setuju angkat tangan!

 

 

 

Read Full Post »

Bertubi-tubi negeri ini mendapatkan ujian toleransi, baik toleransi beragama maupun toleransi atas perbedaan suku, rasa dan antar golongan (SARA). Sejak Indonesia merdeka, SARA memang menjadi salah satu hal paling sensitif. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun, masalah SARA sami mawon, hal yang sangat sensitif.

Ketika beberapa tahun lalu, Indonesia memperoleh sebuah penghargaan sebagai negara paling toleran di dunia, bukan berarti tanpa gejolak intoleransi. Tapi mungkin dibanding negara lain, Indonesia masih lebih baik. Apalagi perbedaan SARA di negeri ini amat besar. Beragam agama, ratusan suku bangsa, dan mungkin ratusan pula perbedaan antar golongan lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara paling beragam di muka bumi ini.

Sesungguhnya, kita sudah relatif berhasil menekan intoleransi. Buktinya, mayoritas kita masih bisa hidup damai dan tenang, baik mayoritas maupun minoritas. Prosentase intoleransi jika diangkakan relatif kecil. Tapi, intoleransi tidak boleh hanya dihitung berdasarkan angka-angka saja. Terdapat level yang lebih penting daripada itu, yaitu kualitas intoleransi. Sejauh ini, level kualitas intoleransi kita mulai mengkhawatirkan.

PR menganga di depan mata kita, khususnya buat para guru dan orangtua. Guru-guru lama sudah mulai pensiun, yaitu guru-guru yang memproduksi generasi produktif sekarang. Generasi yang saat ini menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini sudah lahir generasi baru guru-guru yang berpikir lebih maju, lebih kreatif dan lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Guru-guru sekarang bisa menjadi lebih baik dibanding guru sebelumnya, atau sebaliknya lebih buruk, dalam sejumlah hal, termasuk pendidikan toleransi SARA.

Pun demikian dengan orangtua. Generasi produktif saat ini sudah menjadi orangtua yang melek teknologi, melek globalisasi dalam banyak hal, melek budaya, dan melek segalanya, termasuk dalam pola mendidik/mengasuh anak (parenting) yang kian marak khususnya di kota-kota besar. Orangtua generasi Z – sebut saja demikian – juga memiliki cara pandang yang berbeda dalam hal toleransi SARA. Mereka lebih terbuka, berpikiran maju, mau bertukar pikiran dan bersilang pendapat.

Hal-hal tersebut berkelindan dengan kutub sebaliknya, yang memiliki fanatisme amat sempit dalam SARA, khususnya agama. Mereka berpikir bahwa golongannya yang paling benar, paling eksis, dan berhak menyalahkan golongan lain, bahkan bertindak keras terhadapnya. Sisi ekstrim dari fanatisme sempit inilah yang melahirkan apa yang disebut dunia barat sebagai terorisme. Istilah yang sesungguhnya sudah lama hadir, untuk menyebut siapapun yang menghalalkan kekerasan untuk meneror pihak lain, dengan alasan-alasan ideologis.

Guru dan orangtua generasi Z, punya tugas berat, bagaimana memberikan pemahaman tentang toleransi SARA kepada anak-anak. Mereka juga menghadapi dua kutub yang amat bertolak belakang, namun kerap berkelindan. Yaitu kutub terbuka dan penuh toleransi (bahkan kadang bablas toleransi) dengan kutub sebaliknya yang menganut fanatisme sempit bahkan ekstrim serta tentu saja intoleran.

Dalam era internet dan medsos seperti saat ini, kedua kutub itu dengan mudahnya masuk dan merasuk ke kepala siapapun. Termasuk anak-anak. Amat berbahaya, karena saringan kepala anak-anak masih lemah. Apalagi jika orangtua dan guru, terlambat atau belum pernah atau jarang, memberikan pemahaman yang tepat tentang toleransi SARA, sehingga anak tak punya saringan pikiran yang memadai.

Kita melihat saat ini, relatif mudah meletupkan intoleransi dengan pemantik tertentu. Lebih mudah lagi berkat wabah medsos di seantero kolong jagat, termasuk di Indonesia. Jika generasi Z dan generasi berikutnya sudah memiliki pemahaman yang baik, tentu letupan intolernasi tak perlu lagi terjadi. Walaupun, harus kita akui, di negara yang sudah maju pendidikan dan pengajarannya seperti di Amerika, Eropa dan Ausrtalia pun, intoleransi SARA masih kerap terjadi. Dalam banyak hal dan aspek toleransi, justru bangsa kita lebih baik, sehingga sempat mendapatkan penghargaan tadi.

Sebagai orang yang punya anak, dan berkecimpung di dunia pendidikan, kami tak henti-hentinya memberikan pemahaman positif kepada anak-anak agar selalu menjaga toleransi SARA dengan siapapun. Perbedaan adalah sebuah rahmat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita wajib saling menghormati, menghargai, memahami, tepo seliro dalam banyak hal. Bukan hanya lewat kata-kata melainkan juga dalam tindakan nyata.

Guru dan orangtua menjadi ujung tombak agar negeri ini tetap menjadi bangsa yang punya toleransi SARA  tinggi. Bangsa yang dihargai dan dihormati bangsa lain karenanya. Bangsa yang nyaman ditinggali oleh semua warganya yang beragam dan berbeda ini, sejak lahir sampai akhir hayatnya.

Seperti syair lagu Indonesia Pusaka:

….

Di sana tempat lahir beta.

Dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua.

Tempat akhir menutup mata.

….

Semoga selalu demikian, kini, selamanya.

 

 

Read Full Post »

 

Jaya Suprana: “Yang Datang ke Sini Harusnya Al Gore”

Itu kalimat pembuka sambutan Pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana saat akan memberikan sertifikat rekor MURI kepada Sekolah Alam Cikeas (SAC) pada hari Minggu, 17/3 di Cikeas sekaligus penutupan Indonesia Digital Book Fair 2013. Sertifikat diberikan atas keberhasilan SAC mencetak buku yang ditulis oleh 155 siswa PG-TK-SD SAC yang langsung menjadi buku dan e-book hanya dalam waktu 7 jam. Karya ini menjadi buku pertama dengan penulis terbanyak sekaligus waktu pembuatan tercepat di Indonesia.

Rekor MURI - SAC

“Yang datang ke sini harusnya Al Gore, sebab karya-karya semacam ini hanya bisa muncul kalau ada orang-orang ‘gila’ di belakangnya,” ujar Jaya Suprana. Al Gore adalah mantan Wapres Amerika yang menjadi tokoh gerakan lingkungan. Menurut Jaya Suprana, konsep pendidikan berbasis alam saat ini telah menjadi konsep dunia. Sesuatu yang bisa cepat dipelajari melalui eksperimen di alam, tidak perlu lagi lama-lama dipelajari di sekolah.

Jaya Suprana di SAC

Kepada Suratto Siswodihardjo Ketua Umum Gerakan Nasional Kepedulian Sosial (GNKS) yang membawahi Sekolah Alam Cikeas, Jaya Suprana  mengatakan bahwa rekor buku dengan penulis terbanyak sekaligus waktu tercepat yang dibuat anak-anak SAC ini bukan saja mencetak rekor Indonesia tetapi juga sebagai yang pertama kali di dunia.
“Dengan berat hati saya tolak Rekor Indonesia untuk pencapaian ini. Tapi saya nyatakan ini sebagai Rekor Dunia,” ujar Jaya disambut tepuk tangan meriah 1000-an audiens yang hadir.

Buku Rekor Muri Alam Sahabatku

Anak anak

 

Buku ini diproses dan dicetak dalam waktu 7 jam dengan bantuan penuh dari Mizan Digital Publishing serta Penerbit Noura yang terkenal dengan Penulis Cilik Punya Karya (PCPK). Juga dibantu oleh percetakan on demand “Digiodigital”. Buku dengan judul “Alam Sahabatku” ini sudah bisa diunduh secara gratis di http://www.qbaca.com toko buku digital milik PT. Telkom.

Read Full Post »

Aplikasi Buatan Indonesia Jadi Juara Dunia

 

KOMPAS.com — Dua developer (pengembang aplikasi) dari Indonesia memenangkan kontes “Create for Millions” yang diadakan oleh Nokia. Berita gembira untuk Indonesia ini diumumkan oleh Nokia bersamaan dengan ajang teknologi Mobile World Congress 2012 yang berlangsung di Barcelona, Spanyol.

Adalah Mico Wendy dengan aplikasi Baby Write Number yang menjadi pemenang utama untuk kategori “Access to Knowledge” dan Kemas Dimas Ramanditya dengan aplikasi TransJakarta S40 yang menjadi pemenang ketiga untuk kategori “In The Know”.

Kontes pembuatan aplikasi untuk ponsel Nokia berbasis S40 ini sebelumnya telah digelar dalam skala nasional dan terpilih tiga perwakilan Indonesia untuk bertarung di tingkat internasional. Dua aplikasi di antaranya memenangkan kontes ini.

Aplikasi Baby Write Number merupakan aplikasi yang membantu orang tua mengajarkan anak-anak usia pra-sekolah untuk mengenal dan menuliskan angka.

Sedangkan aplikasi TransJakarta S40 adalah aplikasi yang membantu pengguna bus transjakarta untuk mengetahui jadwal bus dan kondisi halte-halte bus transjakarta di Jakarta.

“Kontes ini membantu strategi Nokia untuk mengidentifikasi konten yang relevan di skala lokal, yang bisa berjalan di platform Java dan Web Apps Nokia Series 40,” ungkap Nokia dalam posting-an blognya.

Dua pemenang dari Indonesia ini diundang Nokia untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan dalam acara Nokia Developer Day di Mobile World Congress (MWC) Barcelona, Spanyol, Senin (27/2/2012).

Para pemenang utama di masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah uang 50.000 euro (sekitar Rp 615 juta) dan mendapat kesempatan promosi secara global di jaringan Nokia.

Indonesia cukup banyak mengirimkan aplikasi dalam kompetisi “Create for Millions” ini, yakni 149 aplikasi. Jumlah ini menempatkan Indonesia menjadi urutan kedua terbanyak setelah India.

Dari 149 aplikasi, terpilih tiga aplikasi untuk maju ke tingkat internasional. Sayangnya, aplikasi Urban Fatburner Macho! (untuk kategori Fun and Games), yang dibuat oleh Agate Studio, dikalahkan oleh developer dari negara lain.

Berikut adalah daftar nama-nama pemenang Nokia’s 2011 Create for Millions Developer Contest:

Access to Knowledge:
1. “Baby Write Number” oleh Mico Wendy, Indonesia
2. “myQR.Card” oleh Damian Dominiak, Polandia
3. “YouTube Teletext” oleh David Bello, Kolombia

Emotional Closeness:
1. “I’m Feeling..!” oleh Mohammed Diab, Mesir
2. “Soundtracker Radio” oleh Daniele Calabrese, Amerika Serikat
3. “Qeep” oleh Stefanie Merten, Jerman

Fun and Games:
1. “Sushi Loop” oleh Kosti Rytkönen, Finlandia
2. “Sandbox” oleh Alexander Fürgut, Jerman
3. “Crash Test Dummies 2” oleh Ledicia Perez, Inggris

In the Know:
1. “AroundMe” oleh James Mwai, Kenya
2. “HeatMap” oleh David Bello, Kolombia
3. “TransJakarta S40” oleh Kemas Dimas Ramanditya, Indonesia

Selain para pemenang ini, ada pula kategori terbaik, yakni:
Best Series 40 Location-based App: “Locago” oleh Patric Nordström dari Swedia.
Best Series 40 Touch-based App: “Sandbox” oleh Alexander Fürgut dari Jerman.
Best Series 40 Web App: “AroundMe” oleh James Mwai dari Kenya dan “HeatMap” oleh David Bello dari Kolombia.

Read Full Post »

Daud Jordan Rebut Juara Dunia dan Chris John Pertahankan Gelar Super Champion WBA

 

Dua petinju profesional Indonesia masing masing Chris John dan Daud Jordan tampil gemilang di Marina Bay Sands Singapura. Daud “Cino” Jordan berhasil menjadi juara dunia kelas bulu versi International Boxing Organization (IBO) dengan kemenangan Knock-Out (K.O) atas petinju asal Filipina, Lorenzo Villanueva. Daud Jordan menang K.O di ronde ke-2.

 

Sementara Chris John masih tetap perkasa mempertahankan sabuk gelar juara Super Champion kelas bulu versi WBA ke-16 kali dengan mengalahkan petinju asal Jepang, Shoji Kimura. Petinju dengan julukan The Dragon ini menang angka mutlak atas Shoji Kimura. Chris John akan segera membuat rekor baru, karena sudah 16 kali mempertahankan gelar juara dunia. Tidak banyak orang bisa berprestasi seperti Chris. Mantap.

 

Dengan demikian, Indonesia sudah melahirkan lima juara dunia tinju. Sebelumnya ada Elyas Pical, Nico Thomas, dan M. Rachman.

Hebat. Siapa menyusul?

Read Full Post »

Komentator Sepakbola TV, Bukan Orang Sembarangan

Sebuah pelajaran berharga untuk pengelola televisi di tanah air, dalam memilih komentator atau pengamat sepakbola. Pada tayangan pertandingan persahabatan antara Indonesia vs Palestina, Senin 22 Agustus 2011 kemarin, pelajaran itu sangat terasa kentalnya. SCTV dengan berani memilih Nus Tuanakota sebagai penyiar yang melaporkan langsung pertandingan tersebut. Terasa sangat berbeda dengan penyiar biasanya.
Kenapa ya?

Nus Tuanakotta merupakan penyiar senior yang sudah lama berkiprah mulai dari RRI sampai TVRI. Dia terbiasa melaporkan langsung berbagai kegiatan olahraga. Teori siaran dan praktiknya bisa dilakoninya dengan baik. Ketika masih di TVRI beberapa dekade silam – saya masih duduk di bangku SD dan SMP – gaya siaran Nus ini nyaris sama dengan para penyiar lainnya. Mereka punya gaya yang mirip-mirip. Suara ngebas, berirama dan harmonis dengan gambar, sehingga menunjang kenikmatan penonton dalam menyaksikan pertandingan. Mungkin sebagian dari kita ingat dengan Bung Sambas, yang sangat khas dalam membawakan siaran langsung olahraga mulai dari sepakbola sampai bulutangkis.Mereka jarang sekali melakukan kesalahan ucap atau fakta.

Pada tayangan tersebut, berkali-kali teman duet siaran Nus yaitu wartawan sepakbola Bung Kesit, salah menyampaikan fakta. Wasit menunjuk sepak pojok, dia mengatakan pelanggaran. Pada saat bersamaan, Nus dengan tepat menyebut corner kick karena dia melihat dengan penuh konsentrasi gerak tubuh sang wasit. Demikian pula ketika terjadi pelanggaran, off side dan beberapa fakta lainnya. Nus dengan tepat menyebutkan berbagai fakta. Bahkan, dia juga dengan lancar melaporkan jalannya pertandingan, menggambarkan aliran bola meski tidak detil, menyebut nama pemain yang memegang bola dengan akurat, berteriak histeris ketika bola nyaris masuk ke gawang, dan mengaduh ketika ada pelanggaran. Dia membawa penonton masuk ke irama dan suasana pertandingan. Ketika gol terjadi, Nus berteriak menyesali gol karena gawang Indonesia yang kebobolan.

Saya sangat yakin, para penyiar sekelas Sambas dan Nus Tuanakota, tidak muncul dan punya kemampuan bagus seperti itu dengan seketika. Mereka pasti rajin berlatih dan belajar serta praktik selama bertahun-tahun. Mereka dibekali pengetahuan yang memadai tentang cara siaran, dan mendapatkan mentor-mentor terbaik, serta pasti selalu terus belajar. Berbeda dengan para komentator yang banyak beredar di sejumlah televisi swasta.

Gaya bicara mereka relatif sering mengganggu kenikmatan menonton sepakbola, karena mereka tidak dibekali cara siaran yang baik. Pada level ini, tampaknya televisi hanya mengutamakan gambar yang standar broadcast, tapi mengabaikan suara yang juga seharusnya standar broadcast. Mereka ribut sendiri, menyampaikan banyak fakta yang tidak berhubungan dengan moment di lapangan, gagal menyebutkan fakta akurat, salah ucap, salah fakta dan yang paling krusial; tidak mampu masuk ke dalam atmosfer pertandingan. Saya sering mengecilkan suara penyiar/komentator, ketika menonton sepakbola dalam negeri. Dan melakukan hal serupa jika pertandingan manca negara gagal menampilkan suara komentator dari tempat asalnya.

Contoh di Luar Negeri
Di negeri asal sepakbola yaitu Inggris, profesi komentator sepakbola termasuk sangat bergengsi. Setiap stasiun televisi dan penyelenggara siaran resmi Liga Inggris, memilih dengan sangat ketat para komentatornya. Sama sekali tidak serampangan dan asal pilih. Mereka disaring dari sejumlah nominator terdiri dari penyiar profesional dan mantan pemain sepakbola. Mereka dikontrak dalam durasi waktu tertentu dan bisa saja didepak di tengah jalan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pernah terjadi seorang komentator dipecat gara-gara melecehkan seorang hakim garis perempuan. Andy Gray dan rekan duetnya Richard Keys melontarkan guyonan yang mungkin dianggapnya biasa saja, tapi dianggap banyak orang, pengamat dan terutama sang hakim garis sangat melecehkan. Nama mereka selalu muncul dalam setiap siaran pertandingan, dan gaya mereka siaran nyaris sama. Suara yang layak siar, berirama, penuh wibawa, pengetahuan dan wawasan memadai tentang sepakbola, serta mampu membawa penonton ke dalam suasana pertandingan lewat suaranya. Hanya mendengar suara mereka tanpa melihat gambarnya saja, kita sudah terhibur.

Jujur saya merindukan penyiar tayangan langsung sepakbola sekelas Sambas atau Nus Tuanakota. Semoga para pengelola televisi lebih ketat lagi dalam menyaring para penyiar dan komentator khususnya untuk tayangan siaran langsung sepakbola. Biar selain bisa menikmati umpan dan gol yang cantik, juga mendengar suara yang berirama dan nyaman di telinga.

Read Full Post »

Pesan Awal Tahun Penulis

“Buku Gurita Cikeas, Laris Manis…”
Demikian salah satu judul artikel di sebuah portal berita internet. Isinya mengulas tentang sebuah buku yang ditulis oleh sosiolog Universitas Satya Wacana George Yunus Aditjondro, yang laku dan dicari banyak pembaca. Buku ini menarik perhatian masyarakat karena isinya menguliti praktik dugaan korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh presiden dan kroninya.

Buat saya dan seharusnya sebagian besar penulis buku, berita ini menjadi kabar baik. Kenapa kabar baik? Bukan, bukan kabar baik tentang upaya pembongkaran korupsi, melainkan kabar baik tentang besarnya animo masyarakat terhadap buku ini. Fenomena ini jelas bertolak belakang dengan persepsi selama ini yang mengatakan bahwa orang Indonesia malas membaca. Atau analisis lain yang menyebutkan daya beli orang Indonesia masih sangat rendah. Dua hal tersebut dibantah oleh hadirnya buku Gurita Cikeas. Dalam hitungan hari, buku ini terjual habis dan terus dicetak ulang. Artinya, masyarakat masih terus mencari buku ini, membelinya dan membacanya.

Nah, melihat fenomena tersebut, saya menyimpulkan lagi bahwa pasar buku di Indonesia sangat empuk. Beberapa tulisan saya sebelumnya sudah menyebutkan, bahwa pasar buku di Indonesia sangat potensial. Jauh lebih potensial dibanding pasar buku di negara maju. Buku Gurita memperkuat opini tentang potensialnya pasar Indonesia. Bayangkan saja, dalam tempo tidak lebih dari seminggu, buku yang dicetak ribuan eksemplar ludes diburu pembaca.

Sekali lagi, bagi saya dan mungkin Anda penulis buku atau calon penulis buku, pesan buku Gurita sangat jelas. Langkah kita menulis buku tidak keliru. Apapun tujuan kita dalam menulis, pasar buku memang sangat menjanjikan. Dengan syarat, menulis buku yang temanya sesuai dengan keinginan atau kebutuhan masyarakat, punya manfaat buat pembaca dan sesuai dengan norma serta kaidah yang berlaku.

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis buku, atau menunda menulis buku atau mengurungkan niat atau melemahkan niat menulis buku. Segeralah tuntaskan buku Anda, dan rasakan dampak dasyatnya. Baik dampak berupa keuntungan materi/non materi, keuntungan melejitnya nama Anda maupun keuntungan mendapatkan pahala karena berbagi ilmu kepada sesama.

Tendean, 12 Januari 2010

Dodi Mawardi
Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Read Full Post »

Amerika dilanda krisis dan resesi. Pemerintahan mereka bahkan menerapkan sebuah aturan, yang mungkin akan dianggap lucu atau mengada-ada, bila diberlakukan pada keadaan normal. “Setiap kendaraan bermotor, maksimal hanya boleh melaju dengan kecepatan 60 mil/jam.” Demikian bunyi aturan itu.

Apa urusan pemerintah dengan kecepatan berkendara?

Aturan itu berlaku dan tanpa ‘perlawanan’ berarti dari masyarakat, karena kondisi saat itu (sekitar tahun 1970-an) Amerika kekurangan bahan bakar minyak. Negara-negara Timur Tengah memboikot pengiriman minyak ke Amerika, terkait konflik Arab-Israel. Untuk menghemat BBM, pemerintah Amerika melakukan berbagai cara, antara lain pembatasan kecepatan berkendara tersebut. Secara teori, kecepatan berkendara memang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar. Pada kecepatan tertentu akan diperoleh penggunaan bahan bakar paling hemat.

Awal Januari 2007, saya berkesempatan mengunjungi Balikpapan, sebuah kota yang konon berdiri karena minyak. Di sana tidak ada penduduk asli, karena semuanya datang ke sana gara-gara minyak. Di kota yang – ramai tidak, sepi juga tidak – ini, saya mengerjakan proyek penulisan untuk sebuah perusahaan minyak multinasional. Dalam mencari bahan tulisan, dilakukanlah beberapa kali wawancara ke berbagai desa selama seminggu.

Di perjalanan ke tempat-tempat wawancara, sopir perusahaan itu begitu santun dan sopan dalam berkendara. Tidak sekalipun mereka ugal-ugalan seperti sopir metromini atau bus antar kota. Saya taksir kecepatan para sopir perusahaan tersebut, tidak pernah lebih dari 100 km/jam. Bahkan di jalan yang lurus dan lengang sekalipun, mereka tetap menjaga kecepatannya.

Awalnya saya sangat kagum dengan attitude para sopir tersebut. Wah orang Balikpapan luar biasa disiplin berkendara. Tapi melihat kendaraan lain yang melaju sangat kencang, pujian itu sedikut tercemar. Berarti bukan sopirnya… Mungkin perusahaan tempat mereka bekerja. Apa yang dilakukan perusahaan itu sehingga otak sopir-sopirnya begitu bersih dari keinginan ngebut di jalan? Pasti sebuah pelatihan atau proses cuci otak yang luar biasa. Paling tidak, mereka mendapatkan bekal yang cukup sehingga menjadi sopir yang santun d jalan raya.

Kekaguman saya akhirnya berubah. Berubah menjadi kian besar dan berpusat hanya pada perusahaan asing tersebut. Selidik punya selidik, perusahaan minyak itu menerapkan sebuah aturan yang mirip seperti pemerintahan Amerika di atas. Setiap sopir dilarang berkendara melebihi kecepatan 80 km/jam. Siapa yang disiplin dengan aturan itu akan mendapatkan hadiah. Sebaliknya yang paling tidak disiplin juga akan mendapatkan hukuman. Luar biasa!

Bagaimana cara mereka menjaga kedisiplinan sopir? Bukankah sulit mengetahui mereka ugal-ugalan atau tidak? Teknologi menjadi jawabannya. Pada setiap mobil tersebut, ditempeli sebuah alat mirip GPS di taksi Blue Bird. Bedanya, alat pencatat kecepatan itu tertempel tepat diatas kemudi. Kalau sopir menginjak gas terlalu dalam dan melebihi 80 km/jam, maka alat itu akan mencatatnya. Bahkan, sopir dan penumpang mobil itu akan langsung tahu kalau melangar aturan, karena begitu jarum kecepatan melewati angka 80 km, akan terdengar bunyi cit cit seperti tikus berebut makanan.
“Wah lewat tuh pak…” pekik saya, beberapa kali ketika suara itu berbunyi. Pak sopir hanya tersenyum, lalu mengurangi injakan pedal gasnya saat itu juga.

Mereka sama sekali tidak bisa berbohong! Perusahaan pun akan mencatat sopir yang sering mengerem mendadak. Alat tadi bisa mengetahui pengereman mendadak, lalu mencatatnya dan mengeluarkan bunyi persis seperti kelebihan kecepatan tadi. Luar biasa! Mereka yang disiplin mendapatkan hadiah bermacam-macam barang dari perusahaan. Sebaliknya yang sering tidak disiplin, kinerjanya dianggap buruk dan berdampak pada peningkatan jenjang karirnya.

Begitu mengetahui kebijakan tersebut, saya langsung teringat pada aturan di Amerika. Yang satu berjalan karena keadaan kepepet, yang satu terlaksana dengan baik karena bantuan teknologi serta strategi reward punishment sebuah perusahaan dalam efisiensi. Keduanya, sukses mencapai dua hal penting. Pertama, penghematan bahan bakar dan kedua, mengurangi tingkat kecelakaan.

Saya jadi ingat lagi beberapa tulisan di jalan tol, yang berbunyi “Batas kecepatan maksimal 100 km minimal 60 km.” Di jalan tol yang lain, batas maksimumnya hanya 80 km/jam. Tapi Anda sudah tahu bukan faktanya? Kebanyakan pengendara memacu mobilnya dengan kecepatan overdosis! Pantes boros BBM dan terlalu sering terjadi kecelakaan…

Read Full Post »

Ironi di Lumbung Minyak

Hamparan tabung-tabung raksasa, terlihat jelas dari angkasa memenuhi sepanjang pantai kota Balikpapan. Pemandangan serupa juga terdapat di pantai antara Balikpapan dan Samarinda, yang melewati kabupaten Kutai Kartanegara. Tabung-tabung raksasa itu merupakan tempat penyimpanan minyak, yang disuling dari tanah dan laut Kalimantan Timur. Jumlahnya sangat banyak dan menyumbang sepersekian produksi minyak di Indonesia. Boleh disebut, Balikpapan sebagai salah satu lumbung minyak mentah terbesar.

Tapi hari ini, 7 Januari 2008, saya menemukan kejadian yang bertolak belakang dengan fakta di atas. Di sebuah jalan di Samarinda, sebuah pemandangan unik terjadi. Puluhan warga antri minyak tanah, hehehe…

Apakah ada pembagian minyak tanah gratis? Kan mereka penghasil minyak mentah yang melimpah. Mungkin ada perusahaan yang berbaik hati setahun sekali bagi-bagi minyak gratis. Eh ternyata bukan. Antrian itu akibat langkanya minyak tanah di Samarinda. Bukan hanya di Samarinda melainkan juga di Balikpapan dan kota-kota lain di seluruh Indonesia. Mungkin bila kota lain yang jauh dari sumber minyak masih bisa ‘dimaklumi’, tapi kalau antrian minyak langka ini terjadi di dekat sumur-sumur minyak, apa kata dunia?

Hmm… di kabupaten Kutai Kartanegara lebih parah lagi karena bukan hanya antrian minyak tanah yang langka. Warga juga tersiksa kekurangan pasokan listrik, hampir tiap hari ada pemadaman. Sementara di pulau Jawa, khususnya Jabotabek yang tidak punya sumber minyak bumi, listrik menyala sampai jauh tanpa henti. Kenapa di lokasi tempat penyulingan minyak, listrik justru byar pet. Bukankah di pembangkit listrik salah satu bahan bakar utamanya adalah minyak? Aneh…

Warga sekitar akhirnya biasa mengalami byar pet listrik ini. Seperti puasa nabi Daud, sehari menyala sehari mati. Mereka sampai punya jadwal lengkap matinya lampu PLN ini, mirip jadwal imsak bulan puasa atau jadwal pertandingan sepakbola Piala Dunia, yang ditempel di dinding rumah mereka.

Jelas warga dirugikan. Alat-alat elektronik menjadi rusak lebih cepat daripada seharusnya. Alat canggih sekalipun akan kaget bila harus kehilangan kekuatan secara tiba-tiba. Secara hukum, mereka berhak menggugat.

Aneh… aneh… aneh…

Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara adalah wilayah yang kaya dengan sumber daya alam. Energi dari perut buminya melimpah ruah. Mereka memang lebih makmur dibanding sebagian besar wilayah lain di negeri ini. Setiap desanya saja mendapatkan subsidi sekitar Rp 2 miliar pertahun. Pegawai rendahan sudah tidak mau lagi digaji dibawah Rp 1 juta. Tapi kok untuk urusan energi, mereka malah ketinggalan. Minyak tanah harus mengantri, listrikpun sulit untuk dinikmati.

Mereka hanya bisa menikmati tabung-tabung minyak raksasa yang memenuhi pantai…

Owalah, tragis!

Read Full Post »

Older Posts »