Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kiat menulis’

 

Nama penulis pidato menjadi buah bibir, gara-gara kesalahan Presiden Jokowi ketika menyebutkan kota kelahiran Soekarno. Jokowi menjadi bulan-bulanan publik. Namun di balik itu, ternyata terdapat seorang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, yaitu penulis pidato presiden.

 

Penulis pidato presiden tentu bukan orang sembarangan. Dia bukan penulis biasa. Dari berbagai sumber, IlmuMenulis.Com mendapatkan informasi bahwa penulis pidato Presiden Jokowi saat ini salah satunya adalah Sukardi Rinakit, seorang pakar politik yang mendukung Jokowi sejak kampanye 2014 lalu. Sukardi dikenal bernas dalam mengamati perkembangan politik Indonesia. Tak heran jika sosoknya disukai sejumlah kalangan, termasuk Jokowi dan timnya.

http://www.yosuna.com

Penulis pidato lain yang terkenal adalah Djohan Effendi dan Yusril Ihza Mahendra. Mereka menjadi penulis pidato presiden Soeharto. Untuk menjadi penulis pidato kepala negara/pemerintahan, memang dibutuhkan orang-orang yang mumpuni dalam ilmu politik, hukum dan ketatanegaraan. Pada masa pemerintahan SBY, yang dikenal luas publik sebagai penulis pidato presiden SBY adalah Dr. Dino Patti Djalal. Lagi-lagi, doi bukan orang sembarangan. Ilmu dan wawasannya sangat luas. Cerdas sudah pasti!

 

Biasanya, karir para penulis pidato kinclong. Yusril Ihza misalnya. Kemudian menjadi Menteri. Demikian pula Djohan Effendi. Dino Patti, menjadi duta besar dan kemudian wakil menteri. Di level yang sedikit lebih rendah, kita bisa melihat karir Nurhayati Assegaf, politisi Demokrat, yang sempat menjadi penulis pidato ibu negara Ani Yudhoyono. Sekarang dia menjadi petinggi Demokrat dan DPR.

 

Lalu bagaimana sebenarnya peluang profesi penulis pidato? Kalau kita lihat dari contoh-contoh di atas, sebagian besar para penulis pidato itu tidak berprofesi sebagai penulis. Mereka adalah politisi, pakar hukum, atau pakar politik yang “nyambi” menjadi penulis pidato. Profesi utama mereka bukan penulis.

 

Hal ini berbeda dengan profesi penulis pidato di negara maju seperti  Jon Favreau, penulis utama pidato presiden Barrack Obama. Dia memang berprofesi sebagai penulis. Atau Ben Rhodes, yang juga ketua tim penulis pidato khusus kebijakan luar negeri Gedung Putih. Mereka menjadikan menulis pidato sebagai profesi utama.

Jon Favreau, penulis pidato Obama (www.ciputraentrepreneurship.com)

 

Setahu saya, di Indonesia belum ada orang yang mengkhususkan diri sebagai penulis pidato. Sebagian besar hanya menjadikan penulisan pidato sebagai pekerjaan sampingan, atau mungkin batu loncatan untuk karir berikutnya.

 

Honor/Pendapatan Penulis Pidato

Sebuah pertanyaan menggelitik tentang berapa honor atau pendapatan penulis pidato? Kalau ditanyakan kepada Jon Favreau atau Ben Rhodes sudah pasti isi jawabannya akan sangat menggiurkan. Catat ya, gaji Favreau mencapai US$172.000 per tahun. Kalau dirupiahkan setara dengan Rp 2,2 Miliar. Atau sekitar Rp 185 juta per bulan. Setara dengan gaji Deputi Gubernur Bank Indonesia atau para dirut Bank BUMN!

 

Bagaimana dengan di Indonesia? Belum ada data pasti tentang honor penulis naskah pidato. Tapi sebuah fakta menarik muncul pada masa awal kepemimpinan Jokowi – Ahok di DKI Jakarta. Mereka meributkan soal anggaran penulisan naskah pidato gubernur dan wagub yang mencapai Rp 1,2 miliar per tahun. Dari angka itu berarti setiap bulan penulis pidato mendapatkan Rp 100 juta. Oh, besar juga bukan? Tapi kita belum tahu, berapa banyak jumlah penulis pidatonya.  Kemungkinan lebih dari 1 orang, karena harus membuat naskah pidato buat dua orang yaitu gubernur dan wakil gubernur. Dan satu lagi… bukan rahasia jika besaran anggaran itu biasanya tidak seluruhnya sampai ke tangan yang berhak.

 

Apalagi jika menilik fakta lain di Provinsi Jawa Tengah. Di sana, anggaran biaya penulisan naskah pidato gubernur dalam APBD setahun mencapai Rp 450 juta. Tapi perhatikan rinciannya. Ternyata, sebagian besar bukan buat honor penulisnya.

  1. Panitia pelaksana kegiatan Rp 258.912.000.
  2. Uang lembur PNS Rp 49.950.000.
  3. Belanja alat tulis kantor Rp 31.370.000,
  4. Belanja paket pengiriman Rp 7.350.000.
  5. Belanja cetak dan. penggandaan Rp. 75.418.000,
  6. Belanja makan dan minum Rp 4.800.000
  7. Belanja perjalanan dinas dalam daerah Rp 22.200.000.

 

Dugaan kuat, biaya penulis termasuk ke dalam panitia pelaksana kegiatan, yang menyedot sekitar 50% anggaran. Jangan-jangan di DKI Jakarta pun demikian.

 

Artinya, honor penulis pidato di Indonesia belum begitu menjanjikan. Apalagi masih banyak orang yang menganggap sepele naskah pidato. “Masak buat naskah pidato saja harus semahal itu?” demikian bunyi pendapat terbanyak. Tapi, ketika isi pidato presiden keliru atau tidak menarik, maka sudah pasti yang menjadi sasaran tembak adalah penulis pidatonya!

 

Bagaimana tertarik menjadi penulis naskah pidato? Awali dengan naskah pidato kepala desa, lalu camat, terus bupati, kemudian gubernur atau para menteri, anggota DPR, DPD, pemimpin perusahaan besar dan puncaknya menjadi penulis pidato presiden.

 

 

Dodi Mawardi

Pemred IlmuMenulis.Com

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis lebih dari 50 judul buku

Iklan

Read Full Post »

Budaya menulis dan membaca di Australia tak perlu diragukan lagi. Jangan heran, karena sebagian besar orang Australia berasal dari Eropa, terutama kawasan Britania, yang sejak lama sudah melek huruf, melek baca dan melek menulis. Salah satu bukti dari budaya tersebut adalah maraknya festival penulis (writer festival) di negeri tersebut. Boleh dikatakan, semua kota di Australia punya even festival penulis, yang rutin digelar setiap tahun.

Bulan Mei ini misalnya, Kota Sydney sedang semarak dengan Sydney Writers Festival 2015. Ratusan penulis dari berbagai negara hadir dalam acara tersebut. Nama-nama yang hadir bukan penulis sembarangan, melainkan penulis-penulis top baik fiksi maupun non fiksi. Sebut saja misalnya Richard Flanagan – salah satu novelis terbaik Australia, Mohsin Hamid – penulis terkenal Pakistan, atau Atul Gawande – penulis di New Yorker.

Selain Sydney, kota lain seperti Melbourne, Perth, dan Brisbane juga punya ajang serupa, Writers Festival, setiap tahun. Bahkan kota-kota yang lebih kecil pun seperti Victoria dan Newcastle, punya festival penulis. Tampaknya kota-kota di Australia berlomba-lomba mengadakan acara tersebut dan mengundang penulis-penulis terkenal. Dan hebatnya, kota-kota tersebut menyelenggarakan festival penulis pada waktu yang berbeda. Sydney misalnya berlangsung pada bulan Mei, lalu Brisbane pada Juni, dan Melbourne pada bulan Agustus. Sebuah sinergi yang luar biasa.

Pada setiap festival itu, pengunjung mendapatkan pengetahuan, inspirasi serta motivasi dari banyak penulis buku, serta pelaku industrinya. Beragam diskusi, talkshow dan seminar berlangsung dengan meriah, namun penuh dengan manfaat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beruntung… sejak beberapa tahun silam, Indonesia punya festival penulis yang rutin berlangsung setiap tahun, yaitu Ubud Writers Festival. Belakangan namanya diubah menjadi Ubud Writers and Readers Festival. Acara ini berlangsung setiap akhir tahun, biasanya pada bulan Oktober atau November. Tahun ini, Ubud Writers and Readers Festival berlangsung mulai 28 Oktober sampai 1 November 2015.

Namun hanya Ubud itulah festival penulis yang berjalan rutin. Sedangkan di kota lain, tidak ada festival penulis. Yang ada adalah pameran buku, untuk memenuhi dahaga industri dalam berjualan buku. Bukan memenuhi dahaga ilmu pengetahuan yang menjadi roh sesungguhnya dari sebuah buku.

Semoga kelak, ada lagi kota lain di Indonesia yang menyelenggarakan festival penulis buku secara rutin!

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis Buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Co writer, ghost writer dan trainer penulisan.

dodimawardi@ilmumenulis.com

dodimawardi@penuliskreatif.net

Read Full Post »

oleh Dodi Mawardi – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

“Anda benar-benar membakar saya…” ujar seorang alumnus kursus Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI).

“Panas dong  kalau terbakar…” balas saya berkelakar, sambil terkekeh.

Lalu dia melanjutkan ceritanya bahwa sejak ikut kursus, gejolak menulisnya melonjak-lonjak. Sejumlah fakta yang saya paparkan ternyata begitu dalam menghunjam lubuk hatinya. Salah satu yang paling dalam dan selalu diingatnya adalah fakta bahwa… hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis!

Dalam setiap workshop atau pelatihan, saya memang suka sekali menampilkan fakta tersebut, untuk menghancurkan mental blok para calon penulis. Selalu saja ada alasan dari mereka, untuk tidak jadi menulis walaupun awalnya bersemangat. Mulanya berkobar-kobar ibarat Bung Tomo yang berperang melawan tentara Sekutu. Tapi beberapa waktu kemudian melempem. Motivasi menulis lenyap entah kemana.

Namun, dengan fakta bahwa hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis, peserta sedikit banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku termasuk manusia primitif atau bukan?

Anda juga mungkin akan bertanya hal serupa. Jawabannya tergantung fakta apakah Anda sudah menulis buku atau belum. Saya fokus kepada buku, karena buku merupakan karya tulis dengan nilai intelektual tertinggi, yang terpublikasi secara massal dan tersimpan terhormat di perpustakaan-perpustakaan.

Jika Anda belum memiliki buku yang Anda tulis sendiri, maka Anda termasuk manusia primitif. Kalau sudah menulis buku, maka Anda masuk kategori manusia yang tercatat dalam sejarah peradaban dunia.

Coba telusuri masa lalu kita. Sejak kapan sejarah Mesir bisa kita ketahui jejaknya? Sejak kapan sejarah nabi Adam bisa kita pelajari? Jawabnnya sederhana, sejak adanya tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan.  Sebelum manusia mengenal tulisan, kita tidak bisa belajar tentang masa lalu. Semua gelap. Hanya mengira-ngira. Hanya belajar dari bekas-bekas perkakas, yang bentuknya pun antah berantah. Itulah peninggalan manusia-manusia primitif. Sedangkan manusia bersejarah meninggalkan jejak berupa tulisan.

Seperti peserta kursus tadi, terserah Anda mau jadi manusia primitif atau manusia bersejarah!

Read Full Post »

Dikutip dari http://www.ilmumenulis.com

 

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar sebuah acara bertajuk Writer’s Note pada Sabtu, 25 April 2015. Acara tersebut berisi buka-bukaan dan bagi ilmu seputar industri penulisan. Hadir dalam acara tersebut sejumlah praktisi penulisan, antara lain Dodi Mawardi (pendiri SMKI dan penulis lebih dari 50 judul buku), NS. Budiana (penulis buku-buku pertanian dan peternakan), Dudun Parwanto (penulis buku biografi dan co writer/ghost writer), Senda Irawan (co writer/ghost writer) serta penerbit Rak Buku Depok.

11173326_1052146018144007_3749751602375557757_n

Para peserta berasal dari beragam kalangan dari berbagai wilayah. Bahkan ada peserta dari Yogyakarta dan Papua. Para alumni SMKI juga hadir dalam acara ini, sekaligus memberikan testimoni pengalaman mereka, dalam menelurkan buku.

 

Alpiyanto misalnya, seorang mantan guru, yang kini sukses menjadi pembicara seminar tentang metode pendidikan. Dia sukses setelah menelurkan buku berjudul “Hypno Heart Teaching”. Uniknya, Alpi tidak memasarkan bukunya lewat Gramedia atau toko buku lainnya. Dia menjual buku sekaligus seminar, sehingga pembeli bukunya adalah peserta seminar.

“Saya tidak mematok tarif biaya pembicara. Tapi syaratnya hanya membeli buku saya. Ada dari Lampung yang membeli 1000 buku, atau dari Palembang juga lebih dari 1000 buku sekali beli. Saya sekalian datang ke sana, memberikan pelatihannya…” ujar Alpi yang disambut rasa kagum oleh peserta Writer’s Note. Sampai saat ini, Alpi sudah berhasil merampungkan 6 judul buku.

10171668_10152958818593515_7204922915003568072_n

Alumni lain yang membagi pengalamannya adalah Tyas Arumsari (atau Tyas AN). Tyas berhasil menulis 3 buah buku bertema masak-memasak. “Tapi saya tidak pandai memasak dan bukan pakar memasak…” katanya polos.

Bagaimana mungkin seorang yang tidak pandai memasak berani menulis tentang dunia masakan?

“Saya mendekati chef terkenal dan mengajaknya bekerja sama…” ujarnya membuka salah satu rahasia suksesnya dalam menulis.

11138638_1052146211477321_5992275732605427566_n

Beragam informasi mengalir dalam acara yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam tersebut. Para penulis senior membagi pengalamannya kepada peserta yang belum menghasilkan buku. Para penulis pendamping (co writer dan ghost writer) juga menggambarkan bagaimana peluang besar di industri ini, yang masih terbuka lebar buat siapapun.

Alhamdulilah semua peserta dapat buku.

Acara yang seharusnya berakhir jam 12, melar sampai jam 2 siang. Mereka masih asyik untuk tukar cerita dan buka-bukaan tentang dunia penulisan. Memang mengasyikkan. Santai tapi penuh gizi. Salah seorang peserta,Adolf Siregar mengatakan, sangat senang mengikuti acara ini. “Semangat saya dalam menulis kembali membara…” ucapnya tegas.

 

Read Full Post »

Oleh Dodi Mawardi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

3 cara

Cara terbaik untuk meningkatkan sebuah kemampuan adalah dengan terus melakukannya (praktik) dan berlatih. Seorang sopir akan mahir mengendarai mobilnya, bila setiap hari dia selalu berada di balik kemudi. Praktik, praktik dan praktik. Sesekali saja dia membaca buku atau bertanya kepada orang lain, untuk menyempurnakan caranya mengendarai. Sesekali pula dia melihat orang lain melakukannya, lalu dia tiru. Begitupun menulis. Menulislah terus, lalu baca buku orang lain, praktik, tiru cara orang lain, praktik dan seterusnya.

Saya pun memperbaiki kemampuan dengan cara itu. Saya selalu menulis setiap saat, bahkan ketika tidak ada media apapun yang saya miliki. Tidak ada kertas, pena apalagi smartphone, laptop dan komputer. Tapi saya tetap berupaya untuk selalu menulis setiap saat. Sekali lagi setiap saat. Saya masih punya satu media lagi, yang tidak akan pernah lepas hingga meregang nyawa, yaitu kepala yang di dalamnya terdapat mesin ultra canggih yang biasa disebut otak.

Menulis di kepala, demikian sejumlah pakar penulisan menyebutnya. Jadi meski tanpa media yang biasa dipakai buat menulis pun, saya tetap bisa melakukan kegiatan rutin yang tidak bersifat rutinitas yaitu menulis. Dengan cara itu, saya yakin kemampuan selalu berubah ke arah yang lebih baik. Tentu saja dengan sejumlah kegiatan penunjang lainnya.

Apa kegiatan penunjangnya?

Berikut ini, 3 kegiatan penunjang yang akan membuat praktik menulis Anda semakin baik.

  1. BERGAULLAH DI LINGKUNGAN PENULIS. Ini menjadi salah satu hukum alam, bahwa bila Anda selalu dekat dengan harimau, maka lama-lama Anda pun akan pintar mengaum atau mencakar. Jika Anda selalu akrab dengan pencopet, suatu saat Andapun akan pintar mencopet. Menulis pun demikian.
  1. MILIKILAH MENTOR. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk memiliki minimal satu mentor, untuk meningkatkan kemampuan Anda menulis. Jangan merasa berat dulu untuk mencari mentor, karena mentor bisa berarti macam-macam. Dengan memiliki mentor, maka Anda akan mendapatkan role model penulisan yang sudah terbukti manjur. Anda tidak akan menjadi kuda binal yang lepas kendali, punya nafsu besar dalam menulis tapi sama sekali tidak beraturan dan tidak terarah.
  1. BACA BUKU-BUKU TENTANG MENULIS. Atau buku lain yang Anda sukai. Bagaimanapun buku adalah jendela ilmu utama. Ironis bila seorang penulis tidak suka membaca buku. Maka, langkah jitu menjadi penulis adalah milikilah buku-buku terutama tentang penulisan. Dengan memiliki buku-buku tersebut, Anda akan mendapatkan sejumlah jurus baru dalam menulis. Atau paling tidak akan mampu menjaga motivasi Anda untuk selalu menulis.  Rajin juga datangi toko buku. Masak seorang penulis, malas ke toko buku?! Di rak buku saya, terdapat tidak kurang dari 50 judul buku tentang penulisan.

BUku buku penulisan

Saya pikir dengan ketiga langkah tersebut, plus praktik secara terus menerus, maka kemampuan menulis akan bisa terus meningkat. Terbukti buat saya sendiri, dengan melakukan hal-hal tersebut, saya merasa bisa terus memperbaiki diri dan terus menelurkan karya.

Selamat menulis!

Read Full Post »

 

Peluang bagi Penulis Pemula

 

“Naskah saya ditolak…” ujar seorang calon penulis lemas.

“Naskah saya sudah lebih dari sebulan di penerbit, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” kata seorang calon penulis lainnya, tidak kalah lesu. Penerbit seolah menutup peluang bagi penulis pemula, yang mau menerbitkan bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, semua penulis juga mengalami menjadi pemula pada awalnya…

 

Menjadi penulis bukan persoalan gampang bagi sebagian orang. Penolakan demi penolakan dari penerbit, seringkali membuat mental menciut dan semangat mengkerut. Sebaliknya buat sebagian orang lainnya, menjadi penulis terlihat lebih mudah. Tanpa banyak penolakan, tanpa banyak penderitaan, naskah mereka bisa masuk ke penerbit dengan leluasa.

 

Memang begitulah kenyataan hidup. Ada yang mudah dan ada yang susah. Ada yang butuh 100 penolakan sebelum sukses diterbitkan, tapi ada juga yang tanpa penolakan sama sekali. Naskah pertama langsung diterima penerbit. Bahkan sebagian kecil diantaranya, tanpa diduga, menjadi bestseller atau mega bestseller.

 

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan seorang pemula, agar lebih cepat menerbitkan naskahnya. Berikut ini saya berikan bocoran, sejumlah peluang bagi penulis pemula. Atau lebih tepatnya cara jitu bagaimana agar kita sebagai pemula bisa lebih cepat menerbitkan buku:

 

  1. Berkongsi atau berkolaborasi.                                                                                                                       – Berkongsi dengan penulis pemula lainnya.

Anda bisa mengajak sejumlah teman penulis pemula, untuk menulis bersama tentang suatu tema. Kemungkinan besar, proses penulisan akan lebih cepat jika dilakukan secara keroyokan. Daya tawar Anda di hadapan penerbit juga akan naik, sesuai dengan profil teman yang diajak berkongsi. Misal, jika mau menulis tentang agama, berkongsilah dengan teman yang menguasai tema agama (ustad/guru ngaji/guru agama). Jika menulis tentang kesehatan, berkongsilah dengan teman yang dokter atau perawat. Kalau mau menulis novel, berkongsilah…? Sebentar… kalau menulis novel agak susah berkongsi. Tapi masih bisa berkongsi dalam menulis cerpen. Sering lihat buku kumpulan cerpen bukan? Sok atuh, berkongsilah.

 

– Berkolaborasi dengan penulis senior.

Nah, cara ini lebih cepat lagi dalam menggapai impian menerbitkan buku. Berkongsilah dengan penulis senior. Senior bukan berarti harus sudah menulis puluhan buku. Penulis yang baru menerbitkan satu bukupun sudah bisa dianggap senior. Paling tidak, doi sudah berpengalaman menembus penerbit bukan? Jangan tunda-tunda, kenalan dengan penulis itu ajak berkongsi dan tentu Anda yang harus bekerja lebih keras…

 

– Berkongsi dengan penerbit.

Cara lainnya adalah berkongsi dengan penerbit. Berkenalanlah dengan editor penerbitkan, lalu tanya kepada mereka sedang butuh naskah apa? Penerbit pasti membutuhkan naskah dan mereka selalu mengikuti tren pasar. Sayangnnya, kadang mereka kesulitan mendapatkan penulis yang mau membuat naskah sesuai tren. Anda bisa masuk ke situ. Tentu setelah Anda tunjukkan bahwa kualitas tulisan Anda, memadai. Makanya, berlatihlah terus menulis. Jangan berhenti (berlatih) menulis meski naskah Anda tidak pernah diterbitkan. Anggap saja hal itu sebagai latihan. Lihatlah para atlet. Untuk bertanding kurang dari satu menit saja (spt renang, senam atau lari sprint), latihan mereka bisa berlangsung selama berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.

 

 

  1. Terbitkan Sendiri dan Jual Sendiri.

Butuh modal untuk menjalankan cara ini. Tapi, semua bisa disiasati. Seorang penulis kreatif di Bandung, menggunakan modal dari pembeli untuk mencetak naskahnya. Awalnya dia hanya membuat dummy (contoh buku) yang akan dijual, lalu dia tawarkan ke orang lain. Setelah mendapatkan kepastian pembelian dari sejumlah orang, barulah dia cetak buku tersebut. Tidak ada risiko bukan? Bahkan sudah pasti dapat keuntungan. Buat pemula, mendapatkan order buku 10 eksemplar sampai 100 eksemplar di awal, tentu sesuatuh. Apalagi jika di awal sudah dapat order 500 eksemplar. Wow banget. Harga tinggal diatur deh. Yang penting, marginnya menjanjikan.

 

Sejumlah pihak sudah sukses menjalankan hal ini. Dengan modal PEDE, NEKAT, dan sejenisnya, dia menawarkan dummy itu kepada orang terdekatnya. Dia rekrut orang lain, untuk ikut menjual juga (reseller) dengan iming-iming keuntungan menarik, sehingga semakin banyak yang membeli (calon) bukunya.

Ah banyak jalan menuju Roma deh.

 

 

  1. Bikin Ebook.

Cara yang satu ini dijamin hemat biaya dan hemat energi. Tinggal mencari tema yang diminati publik lalu tuliskan, buat dalam bentuk ebook dan juallah lewat blog Anda atau tawarkan lewat email, twitter, facebook dll. Oh sederhana sekali. Tidak perlu ada penolakan dari penerbit bukan?

 

Belum tahu cara bikin ebook? Duh, hari gini masih kesulitan bikin sesuatuh. Googling aja, sudah banyak orang baik yang siap mengajarkan Anda bagaimana cara membuat ebook yang menarik. Orang baik berseliweran di dunia maya, dan tidak meminta bayaran. Cukup rogoh kocek Rp 3000 per jam di warnet, sebagai modal Anda!

 

Banyak penulis pemula (antah berantah, tak dikenal) yang kemudian sukses meraup rezeki dari penjualan ebook. Tergantung tema yang ditawarkan. Makin sesuai kebutuhan dan keingingan publik, makin besar jumlah penjualannya. Seluruh margin keuntungan buat Anda. Tidak dibagi-bagi dengan pihak lain!

 

 

Yuk ah selami industri menulis yang masih terbuka lebar.

Siapa mau menulis keras, menulis cerdas dan kreatif, dialah yang akan meraih keberhasilan.

 

Semangat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Penulis Buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

 

 

Read Full Post »

 Pilih Royalti atau Jual Putus

Ayo siapa yang bisa jawab? Mana yang lebih menguntungkan buat penulis, pakai sistem royalti atau jual putus ke penerbit?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu butuh data tentang royalti buku dan tentang tarif jual putus. Setelah mengetahui data lengkap tentang kedua hal tersebut, barulah mungkin kita bisa memutuskan mana yang lebih baik buat penulis.

Besaran royalti buku secara umum sama yaitu 10% dari harga jual buku. Misal, kalau harga jual di toko buku adalah Rp 50.000,- maka penulis mendapatkan royalti Rp 5.000,- perbuku (Sebelum dipotong pajak pendapatan 15%, semoga pajaknya tidak naik ya, atau semoga pajak buat penyebar intelektual ini dihapus. Amin.) Ada juga penerbit yang menawarkan royalti hanya 8% kepada penulis pemula. Bahkan ada juga yang hanya memberikan royalti 5% dengan sejumlah syarat dan prasyarat. Tapi ada juga penerbit baik hati yang ‘menghibahkan’ royalti sebanyak 12%. Hal yang biasanya baru diberikan jika buku yang kita tulis, dicetak ulang berkali-kali.

Dengan besaran royalti seperti itu, jika buku cetakan pertama (sebanyak 3000 s/d 5000 eksemplar) laku semua, maka penulis mendapatkan total royalti sebanyak Rp 15.000.000,- sampai dengan Rp 25.000.000,-. Uang royalti ini dibayarkan 20-25% pada saat buku terbit, dan sisanya setelah semua buku laku. Penulis akan terus menerus mendapatkan royalti, sepanjang bukunya laku dan dicetak ulang. Contoh bagus bisa kita lihat pada buku Laskar Pelangi, yang dicetak ulang terus menerus sampai lebih dari 1 juta eksemplar. Kalau harga buku Rp 69.800, maka Andrea Hirata mendapatkan minimal Rp 6980 x 1.000.000 = Rp 6.980.000.000,- (baca: enam miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) sebelum dipotong pajak.

Sudah paham ya tentang royalti, besarannya, dan potensi pendapatannya.

Bagaimana dengan jual putus?

Zaman dulu, banyak sekali penulis yang menggunakan model ini. Mereka tidak tertarik dengan model royalti, karena merasa terlalu lama menunggu cairnya dana. Royalti memang baru cair semua setelah bukunya laku, yang biasanya baru terjadi pada bulan ke-3 atau ke-6 atau malah mungkin pada bulan ke-12. Mereka mau dapat uang instan, sehingga jual putus menjadi pilihan. Berapa harga jual putus?

Buat penulis pemula, harganya sama sekali tidak fantastis… kisarannya di bawah Rp 5.000.000,- per naskah. Jarang-jarang ada penerbit yang mau membayar penulis pemula, sebagus apapun naskahnya dengan harga di atas Rp 10.000.000,-/naskah. (Silakan bagikan informasi di sini ya, kalau ada teman penulis pemula yang naskah pertamanya ditawar di atas Rp 10 juta oleh penerbit). Setelah dana itu penulis terima, maka seluruh hak atas naskah (baik hak cipta maupun hak terbit) dipegang sepenuhnya oleh penerbit. Penulis tidak punya hak apapun atas naskahnya. (Hal ini yang harus diperhatikan oleh penulis). Dia akan gigit jari dan menyesal seumur hidup, jika naskahnya kemudian meledak di pasar, dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Hanya penerbit yang menikmatinya.

Bagi penulis produktif dan sudah punya nama, baik royalti maupun jual putus, sama-sama menariknya. Perlu strategi jitu untuk memilihnya, sesuai dengan momentum dan kebutuhan. Saya – misalnya – menerapkan strategi jual putus bukan ke penerbit, karena tahu persis jarang penerbit mau keluar uang banyak, tapi kepada pihak lain yang mau menggunakan jasa penulisan. Dia yang punya ide dan bahan, lalu saya yang menuliskannya (pilihan jasa ghost atau co-writer). Biasanya mereka adalah pengusaha, pembicara terkenal, atau pejabat dan mantan pejabat. Mereka bersedia investasi dana cukup besar, untuk penulisan buku. Tentu cukup menarik bukan kalau menulis sebuah buku dan dibayar Rp 50.000.000,-/naskah? Banyak penulis yang dibayar sampai Rp 100.000.000,-/naskah atau bahkan lebih.

Tapi pada saat tertentu, ada juga penulis produktif dan terkenal, jual putus ke penerbit. Kapan itu? Ketika penulis kepepet dan sedang sangat butuh uang!  Karena sudah punya reputasi, biasanya penerbit memberikan tawaran harga yang pantas buat naskah penulis terkenal. Buat penerbit sendiri, lebih menguntungkan dan adil menggunakan sistem royalti dibanding beli putus.

Silakan Anda putuskan, pakai sistem royalti atau jual putus. Kalau belum punya nama, naskah diterima penerbit saja sudah alhamdulillah ya, hehe…

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Read Full Post »

 

 

Banyak orang yang bingung ketika memulai menulis buku.

“Apa yang mau ditulis?” begitu mereka biasanya bertanya.

Namun sebagian orang lainnya justru sukses besar dengan buku pertamanya. Sebut saja sahabat saya, Masbukhin Pradana, yang buku pertamanya “Karyawan Beromzet Miliaran” dicetak ulang sampai berkali-kali.

Apa yang dia tulis?

 

Cara-cara berbisnis buat mereka yang masih jadi karyawan. Sebuah tulisan tentang pengalamannya sendiri. Ya, pengalaman yang menjadikannya sebagai orang berhasil. Itulah salah satu tema terbaik yang bisa dijadikan buku. Pengalaman sendiri, keahlian sendiri, hobi, kondisi diri sendiri dan sendiri-sendiri lainnya.

 

Maka bila sekarang masih bingung juga mau membuat buku tentang apa, saran saya: Mulailah dari diri sendiri.

 

Jika Anda hobi merawat bunga, tulislah tentang bagaimana cara terbaik merawat bunga.

Bila Anda punya keahlian menggambar, tulislah buku tentang seluk beluk menggambar.

Kalau Anda punya pengalaman menarik, tuliskanlah.

Andai Anda tidak punya apa-apapun dan tidak punya pengalaman menarik, bisa menjadi sebuah tulisan dengan tema: Susahnya hidup tanpa punya apa-apa atau Merananya hidup tanpa pengalaman menarik.

 

Semua bisa menjadi bahan tulisan bukan?!

 

Selamat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

Read Full Post »

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) kembali membuka kesempatan kepada para eksekutif yang serius mau menulis buku, untuk mewujudkan keinginannya. SMKI mulai September 2014, buka kelas kursus 3 bulan jadi buku. Waktu kursus malam hari. Lokasi di komplek Sekolah Alam Cikeas, Puri Cikeas Indah, Cibubur.

Setiap peserta akan dibimbing oleh mentor profesional, untuk tahap demi tahap menuntaskan naskahnya, selama 3 bulan (12 kali tatap muka @90 menit).

Peserta akan dibimbing untuk:

1. Menentukan tema yang layak pasar dan layak terbit.

2. Merancang kerangka tulisan yang mudah dieksekusi.

3. Memastikan bahan terkumpul.

4. Menulis dengan cepat.

5. Menyelesaikan naskah.

6. Menerbitkan buku dan atau menembus penerbit.

7. Memasarkan buku. 

 

Tempat sangat terbatas, maksimal hanya 15 orang. Bahkan mungkin hanya 10 orang. 

Silakan hubungi mas Deni SMKI di 021-94800033 (telp/sms).

Promo 3 bulan Kursus Menulis Buku Non Fiksi

 

 

Read Full Post »

Setelah sukses dengan berbagai workshop dan kursus beberapa angkatan, Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia kembali membuka kelas baru.
1. Kelas menulis buku populer eksekutif, setiap Jumat malam pukul 18.30 – 20.30, sebanyak 12 kali pertemuan, mulai 5 Maret – 4 Juni 2010. Biaya Rp 3.000.000.

2. Kelas menulis buku populer reguler, setiap Jumat pukul 13.30 – 15.30, sebanyak 12 kali pertemuan, mulai 5 Maret – 4 Juni 2010. Biaya Rp 2.500.000.

3. Kursus menulis privat online via YM, setiap Selasa pukul 19.00 – 21.00, sebanyak 8 kali pertemuan, mulai 2 Maret – 27 April 2010. Biaya Rp 1.500.000. (Perbedaan dengan kursus online lainnya, kelas ini bersifat PRIVAT).

Mentor: Dodi Mawardi (Penulis >25 buku populer) dan Nyuwan S. Budiana (Penulis >20 buku dan Editor Penebar Swadaya/Grup Trubus) dll.

Biaya pendaftaran semua kelas Rp 150.000

Catatan Penting:
• Kursus ini lebih efektif dibanding workshop satu atau dua hari, karena memaksa peserta untuk selalu disiplin hadir di kelas dan disiplin dengan program yang ketat. Pengalaman menunjukkan, 90% peserta berhasil menyelesaikan naskahnya.
• Hanya untuk mereka yang sungguh-sungguh berniat menulis buku.

Benefit:
– Langsung praktik menulis proyek buku pertama yang temanya sudah disetujui oleh penerbit.
– Dibimbing oleh penulis profesional yang sudah berpengalaman, tahap demi tahap proses menulis buku.
– Berkenalan dengan berbagai penerbit (Elex Media Komputindo (Gramedia Grup), Penebar Swadaya (Grup Trubus), Airlangga dll.
– Mendapatkan sertifikat (bagi yang membutuhkan).
– Belajar berbagai tehnik menulis, termasuk tehnik menulis artikel dan tehnik menulis cepat.
– Kelas ber- AC, gratis minum dan makanan ringan.
– Jumlas siswa terbatas (maksimal hanya 10 orang) sehingga mirip kelas privat.
– Lokasi kelas strategi di Plasa Tendean Lt 3 (selokasi dengan Carrefour Market), Jalan Kapten Tendean Mampang Jakarta Selatan (Akan segera buka cabang di Bekasi, Cikarang, Depok dan Serpong).

Layanan purna kursus:
– Masuk komunitas penulis buku.
– Konsultasi seumur hidup.
– Ikut serta dalam berbagai kegiatan Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.

Kurikulum:
1. Membongkar mental blok dalam menulis dan berbagai solusinya.
2. Mencari, menentukan dan mengembangkan ide, sesuai dengan permintaan pasar/penerbit.
3. Membuat kerangka tulisan/outline yang benar.
4. Tehnik menguasai bahan tulisan.
5. Tehnik menulis cepat.
6. Tehnik menulis artikel.
7. Tehnik menulis jurnalistik.
8. Tehnik menulis “Write The Way You Talk.”
9. Tehnik 7 Langkah Efektif Mengedit Naskah.
10. Tehnik mempercantik/memoles naskah.
11. Kiat-kiat dan praktik menembus penerbitan.

Segera hubungi sdri. Emma 021-33556975 atau 08158237831.
Tempat sangat terbatas, pendaftaran terakhir pada 3 Maret 2010.
Kunjungi: http://www.dodimawardi.com atau http://www.dodimawardi.wordpress.com

Read Full Post »

Older Posts »