Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘menulis buku’

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Iklan

Read Full Post »

Selasa pagi, 16 Mei 2017. Puluhan dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, menghadiri Sidang Pembakuan I UKBI (Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia) Badan Bahasa Kemdikbud di Hotel Sahira Butik Bogor. Dalam acara itu, mereka mendapatkan beragam materi tentang bahasa Indonesia dan motivasi menulis. Mentor Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – Dodi Mawardi, menjadi narasumber dengan materi motivasi menulis “Mahir Menulis dan Berkarya.”

Screenshot_2017-05-17-10-57-17_resized

Meski hanya berlangsung sekitar 90 menit, sesi motivasi menulis membuat peserta bergairah. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang semringah, dan bersemangat untuk menulis. Dodi Mawardi menyindir peserta yang belum menulis buku sebagai manusia primitif, karena hanya manusia primitiflah yang tidak menulis. Apalagi menulis buku. Peserta tampak tersinggung dan tertegun dengan sindiran tersebut yang diakhiri dengan senyum dan tertawa kecut.

Di sela-sela motivasi, penulis lebih dari 60 judul buku ini juga mengajak peserta untuk bermain kata. Menarik dan seru. Apalagi, Dodi juga menyediakan hadiah sejumlah buku untuk para pemenangnya.

 

Read Full Post »

Judul di atas adalah benar-benar sebuah pertanyaan, yang membutuhkan jawaban dari kalangan intelektual. Khususnya mereka yang sudah bergelar doktor (S3) dan menyandang predikat profesor. Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut. Melainkan merinci lebih jauh terkait pertanyaan tersebut. Kenapa?

Jumlah judul buku yang beredar di negeri ini setiap tahun berkisar 25.000 – 30.000 judul. Setara dengan jumlah judul buku yang beredar di Malaysia atau Vietnam, yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding Indonesia. Dari jumlah judul buku itu, tidak sampai setengahnya (dugaan kuat penulis) ditulis oleh mereka yang tidak menyandang gelar S3 atau profesor. Data dari pemerintah menguatkan dugaan itu.

kenapa-profesor-malas-menulis

Menurut pemerintah jumlah jurnal internasional hasil karya para doktor dan profesor di Indonesia hanya sekitar 9.000 judul pertahun. Juuuuh di bawah Malaysia yang lebih dari 23.000 judul. Kalah dari Singapura dan Thailand yang berkisar belasan ribu judul. Jangan bandingkan dengan negara maju. Malu. Terlalu jauh.

Padahal jumlah doktor dan profesor di Indonesia yang tercatat di kementrian sebanyak 31.000 orang. Jika kita anggap jurnal tersebut dibuat masing-masing oleh satu orang, maka masih ada 22.000 doktor dan profesor yang tidak menulis karya ilmiah di jurnal internasional. Mereka ngapain saja?

Tentu banyak alasan, kendala, hambatan dan tetek bengek lainnya yang bisa diajukan. Menurut para motivator, orang yang malas melakukan sesuatu pasti memiliki 1001 alasan untuk tidak melakukannya. Alasan untuk melakukan, kalah jauh baik secara kualitas maupun kuantitas dibanding alasan untuk tidak melakukan. Hal inilah yang tampaknya terjadi pada kaum intelektual Indonesia. Alasan untuk tidak membuat karya tulis di jurnal internasional, terlalu banyak dan terlalu mantap.

Kalau saya berdiskusi dengan teman-teman di kampus (akademisi), begitu banyak alasan tersebut. Mulai dari hal teknis, non teknis, psikologis, materi dan lain sebagainya. Banyak sekali. Padahal sebagian kampus – terutama kampus negeri – sudah mengalokasikan sejumlah dana, untuk mendukung penelitian dan pembuatan karya tulis. Dana yang masih dianggap terlalu kecil oleh teman-teman akademisi. Walaupun kalau dibandingkan dengan pemasukan saya – sebagai penulis profesional berbasis projek buku/artikel – jumlahnya lumayan juga. Alias tidak terlalu kecil. Ya, kalau diperbesar akan lebih baik, meski belum tentu juga mampu memacu mereka untuk menulis karya ilmiah.

Saya belum S2, walaupun bertekad menuju S3 pada beberapa tahun mendatang. Selama 10 tahun berkarir di bidang penulisan, sudah menghasilkan lebih dari 60 judul buku (setahun 6 buku, dua bulan 1 buku) dan ribuan artikel plus buku teks kuliah. Teman-teman saya penulis buku, sebagian besar masih S1, sebagian kecil S2 dan sebagian amat kecil S3. Kenapa yang S3 lebih sedikit menulis ya?

Apapun alasannya, apapun dalihnya, apapun kondisinya, faktanya adalah jumlah karya tulis yang dihasilkan oleh kaum tertinggi intelektual Indonesia yaitu para doktor dan profesor, masih sangat minim. Sulit dibantah. Baik dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk karya tulis di jurnal internasional.

Mungkin pak Jokowi perlu juga membuat secara khusus revolusi mental kalangan top intelektual tersebut, agar mau lebih rajin menghasilkan karya ilmiah dan tidak hanya mengerjakan proyek-proyek saja! Kaum top intelektual, mengemban tanggung jawab besar untuk menularkan ilmu pengetahuan, wawasan dan mindset positif mereka kepada generasi penerus bangsa ini.

Read Full Post »

Poster 1000 Guru Menulis Buku kcl

Yayasan Bhakti Suratto (YBS) bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) membuat program pelatihan menulis buku untuk guru SD, SMP, SMA/SMK/MAN secara gratis. Pelatihan ini terdiri dari dua jenis program yaitu tim YBS dan SMKI menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan gratis di sekolah masing-masing dan mengundang guru-guru sekolah untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan YBS/SMKI di kampus Sekolah Alam Cikeas.

 

Kedua jenis program tersebut sama-sama memberikan pelatihan lengkap tentang menulis buku untuk para guru, mulai dari menyiapkan mental sebagai penulis, penggalian ide, merancang buku, sampai berkenalan dengan penerbit. Tidak hanya sampai di situ, panitia juga akan melanjutkan program dengan metode mentoring sampai para guru mampu menerbitkan bukunya.

 

Setiap pertemuan terdiri dari 3 sesi masing-masing 90-120 menit, yaitu:

  1. Sesi membongkar mental blok dan sejumlah hambatan dalam menulis.
  2. Sesi merancang buku mulai dari penggalian ide yang layak terbit dan layak jual sampai membuat kerangka tulisan.
  3. Sesi latihan menulis.

 

Program ini akan dipandu secara langsung oleh Dodi Mawardi, penulis lebih dari 50 judul buku (termasuk Belajar Goblok dari Bob Sadino & Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas) yang juga Direktur Eksekutif YBS, serta pendiri SMKI, bersama sejumlah praktisi penulisan baik penulis profesional maupun jurnalis.

 

Manfaatkan program ini, dan silakan sebarkan informasi ini kepada yang membutuhkan.

Tidak ada syarat apapun untuk mengikuti program ini. Untuk tahap awal ini, program akan lebih terfokus untuk sekolah-sekolah di kawasan Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok.

 

 

Info lebih lanjut, hub:

081285874272 (sms saja)

sekolahmenulis@gmail.com

Read Full Post »

oleh Dodi Mawardi – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

“Anda benar-benar membakar saya…” ujar seorang alumnus kursus Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI).

“Panas dong  kalau terbakar…” balas saya berkelakar, sambil terkekeh.

Lalu dia melanjutkan ceritanya bahwa sejak ikut kursus, gejolak menulisnya melonjak-lonjak. Sejumlah fakta yang saya paparkan ternyata begitu dalam menghunjam lubuk hatinya. Salah satu yang paling dalam dan selalu diingatnya adalah fakta bahwa… hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis!

Dalam setiap workshop atau pelatihan, saya memang suka sekali menampilkan fakta tersebut, untuk menghancurkan mental blok para calon penulis. Selalu saja ada alasan dari mereka, untuk tidak jadi menulis walaupun awalnya bersemangat. Mulanya berkobar-kobar ibarat Bung Tomo yang berperang melawan tentara Sekutu. Tapi beberapa waktu kemudian melempem. Motivasi menulis lenyap entah kemana.

Namun, dengan fakta bahwa hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis, peserta sedikit banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku termasuk manusia primitif atau bukan?

Anda juga mungkin akan bertanya hal serupa. Jawabannya tergantung fakta apakah Anda sudah menulis buku atau belum. Saya fokus kepada buku, karena buku merupakan karya tulis dengan nilai intelektual tertinggi, yang terpublikasi secara massal dan tersimpan terhormat di perpustakaan-perpustakaan.

Jika Anda belum memiliki buku yang Anda tulis sendiri, maka Anda termasuk manusia primitif. Kalau sudah menulis buku, maka Anda masuk kategori manusia yang tercatat dalam sejarah peradaban dunia.

Coba telusuri masa lalu kita. Sejak kapan sejarah Mesir bisa kita ketahui jejaknya? Sejak kapan sejarah nabi Adam bisa kita pelajari? Jawabnnya sederhana, sejak adanya tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan.  Sebelum manusia mengenal tulisan, kita tidak bisa belajar tentang masa lalu. Semua gelap. Hanya mengira-ngira. Hanya belajar dari bekas-bekas perkakas, yang bentuknya pun antah berantah. Itulah peninggalan manusia-manusia primitif. Sedangkan manusia bersejarah meninggalkan jejak berupa tulisan.

Seperti peserta kursus tadi, terserah Anda mau jadi manusia primitif atau manusia bersejarah!

Read Full Post »

Oleh Dodi Mawardi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

3 cara

Cara terbaik untuk meningkatkan sebuah kemampuan adalah dengan terus melakukannya (praktik) dan berlatih. Seorang sopir akan mahir mengendarai mobilnya, bila setiap hari dia selalu berada di balik kemudi. Praktik, praktik dan praktik. Sesekali saja dia membaca buku atau bertanya kepada orang lain, untuk menyempurnakan caranya mengendarai. Sesekali pula dia melihat orang lain melakukannya, lalu dia tiru. Begitupun menulis. Menulislah terus, lalu baca buku orang lain, praktik, tiru cara orang lain, praktik dan seterusnya.

Saya pun memperbaiki kemampuan dengan cara itu. Saya selalu menulis setiap saat, bahkan ketika tidak ada media apapun yang saya miliki. Tidak ada kertas, pena apalagi smartphone, laptop dan komputer. Tapi saya tetap berupaya untuk selalu menulis setiap saat. Sekali lagi setiap saat. Saya masih punya satu media lagi, yang tidak akan pernah lepas hingga meregang nyawa, yaitu kepala yang di dalamnya terdapat mesin ultra canggih yang biasa disebut otak.

Menulis di kepala, demikian sejumlah pakar penulisan menyebutnya. Jadi meski tanpa media yang biasa dipakai buat menulis pun, saya tetap bisa melakukan kegiatan rutin yang tidak bersifat rutinitas yaitu menulis. Dengan cara itu, saya yakin kemampuan selalu berubah ke arah yang lebih baik. Tentu saja dengan sejumlah kegiatan penunjang lainnya.

Apa kegiatan penunjangnya?

Berikut ini, 3 kegiatan penunjang yang akan membuat praktik menulis Anda semakin baik.

  1. BERGAULLAH DI LINGKUNGAN PENULIS. Ini menjadi salah satu hukum alam, bahwa bila Anda selalu dekat dengan harimau, maka lama-lama Anda pun akan pintar mengaum atau mencakar. Jika Anda selalu akrab dengan pencopet, suatu saat Andapun akan pintar mencopet. Menulis pun demikian.
  1. MILIKILAH MENTOR. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk memiliki minimal satu mentor, untuk meningkatkan kemampuan Anda menulis. Jangan merasa berat dulu untuk mencari mentor, karena mentor bisa berarti macam-macam. Dengan memiliki mentor, maka Anda akan mendapatkan role model penulisan yang sudah terbukti manjur. Anda tidak akan menjadi kuda binal yang lepas kendali, punya nafsu besar dalam menulis tapi sama sekali tidak beraturan dan tidak terarah.
  1. BACA BUKU-BUKU TENTANG MENULIS. Atau buku lain yang Anda sukai. Bagaimanapun buku adalah jendela ilmu utama. Ironis bila seorang penulis tidak suka membaca buku. Maka, langkah jitu menjadi penulis adalah milikilah buku-buku terutama tentang penulisan. Dengan memiliki buku-buku tersebut, Anda akan mendapatkan sejumlah jurus baru dalam menulis. Atau paling tidak akan mampu menjaga motivasi Anda untuk selalu menulis.  Rajin juga datangi toko buku. Masak seorang penulis, malas ke toko buku?! Di rak buku saya, terdapat tidak kurang dari 50 judul buku tentang penulisan.

BUku buku penulisan

Saya pikir dengan ketiga langkah tersebut, plus praktik secara terus menerus, maka kemampuan menulis akan bisa terus meningkat. Terbukti buat saya sendiri, dengan melakukan hal-hal tersebut, saya merasa bisa terus memperbaiki diri dan terus menelurkan karya.

Selamat menulis!

Read Full Post »

 

Peluang bagi Penulis Pemula

 

“Naskah saya ditolak…” ujar seorang calon penulis lemas.

“Naskah saya sudah lebih dari sebulan di penerbit, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” kata seorang calon penulis lainnya, tidak kalah lesu. Penerbit seolah menutup peluang bagi penulis pemula, yang mau menerbitkan bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, semua penulis juga mengalami menjadi pemula pada awalnya…

 

Menjadi penulis bukan persoalan gampang bagi sebagian orang. Penolakan demi penolakan dari penerbit, seringkali membuat mental menciut dan semangat mengkerut. Sebaliknya buat sebagian orang lainnya, menjadi penulis terlihat lebih mudah. Tanpa banyak penolakan, tanpa banyak penderitaan, naskah mereka bisa masuk ke penerbit dengan leluasa.

 

Memang begitulah kenyataan hidup. Ada yang mudah dan ada yang susah. Ada yang butuh 100 penolakan sebelum sukses diterbitkan, tapi ada juga yang tanpa penolakan sama sekali. Naskah pertama langsung diterima penerbit. Bahkan sebagian kecil diantaranya, tanpa diduga, menjadi bestseller atau mega bestseller.

 

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan seorang pemula, agar lebih cepat menerbitkan naskahnya. Berikut ini saya berikan bocoran, sejumlah peluang bagi penulis pemula. Atau lebih tepatnya cara jitu bagaimana agar kita sebagai pemula bisa lebih cepat menerbitkan buku:

 

  1. Berkongsi atau berkolaborasi.                                                                                                                       – Berkongsi dengan penulis pemula lainnya.

Anda bisa mengajak sejumlah teman penulis pemula, untuk menulis bersama tentang suatu tema. Kemungkinan besar, proses penulisan akan lebih cepat jika dilakukan secara keroyokan. Daya tawar Anda di hadapan penerbit juga akan naik, sesuai dengan profil teman yang diajak berkongsi. Misal, jika mau menulis tentang agama, berkongsilah dengan teman yang menguasai tema agama (ustad/guru ngaji/guru agama). Jika menulis tentang kesehatan, berkongsilah dengan teman yang dokter atau perawat. Kalau mau menulis novel, berkongsilah…? Sebentar… kalau menulis novel agak susah berkongsi. Tapi masih bisa berkongsi dalam menulis cerpen. Sering lihat buku kumpulan cerpen bukan? Sok atuh, berkongsilah.

 

– Berkolaborasi dengan penulis senior.

Nah, cara ini lebih cepat lagi dalam menggapai impian menerbitkan buku. Berkongsilah dengan penulis senior. Senior bukan berarti harus sudah menulis puluhan buku. Penulis yang baru menerbitkan satu bukupun sudah bisa dianggap senior. Paling tidak, doi sudah berpengalaman menembus penerbit bukan? Jangan tunda-tunda, kenalan dengan penulis itu ajak berkongsi dan tentu Anda yang harus bekerja lebih keras…

 

– Berkongsi dengan penerbit.

Cara lainnya adalah berkongsi dengan penerbit. Berkenalanlah dengan editor penerbitkan, lalu tanya kepada mereka sedang butuh naskah apa? Penerbit pasti membutuhkan naskah dan mereka selalu mengikuti tren pasar. Sayangnnya, kadang mereka kesulitan mendapatkan penulis yang mau membuat naskah sesuai tren. Anda bisa masuk ke situ. Tentu setelah Anda tunjukkan bahwa kualitas tulisan Anda, memadai. Makanya, berlatihlah terus menulis. Jangan berhenti (berlatih) menulis meski naskah Anda tidak pernah diterbitkan. Anggap saja hal itu sebagai latihan. Lihatlah para atlet. Untuk bertanding kurang dari satu menit saja (spt renang, senam atau lari sprint), latihan mereka bisa berlangsung selama berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.

 

 

  1. Terbitkan Sendiri dan Jual Sendiri.

Butuh modal untuk menjalankan cara ini. Tapi, semua bisa disiasati. Seorang penulis kreatif di Bandung, menggunakan modal dari pembeli untuk mencetak naskahnya. Awalnya dia hanya membuat dummy (contoh buku) yang akan dijual, lalu dia tawarkan ke orang lain. Setelah mendapatkan kepastian pembelian dari sejumlah orang, barulah dia cetak buku tersebut. Tidak ada risiko bukan? Bahkan sudah pasti dapat keuntungan. Buat pemula, mendapatkan order buku 10 eksemplar sampai 100 eksemplar di awal, tentu sesuatuh. Apalagi jika di awal sudah dapat order 500 eksemplar. Wow banget. Harga tinggal diatur deh. Yang penting, marginnya menjanjikan.

 

Sejumlah pihak sudah sukses menjalankan hal ini. Dengan modal PEDE, NEKAT, dan sejenisnya, dia menawarkan dummy itu kepada orang terdekatnya. Dia rekrut orang lain, untuk ikut menjual juga (reseller) dengan iming-iming keuntungan menarik, sehingga semakin banyak yang membeli (calon) bukunya.

Ah banyak jalan menuju Roma deh.

 

 

  1. Bikin Ebook.

Cara yang satu ini dijamin hemat biaya dan hemat energi. Tinggal mencari tema yang diminati publik lalu tuliskan, buat dalam bentuk ebook dan juallah lewat blog Anda atau tawarkan lewat email, twitter, facebook dll. Oh sederhana sekali. Tidak perlu ada penolakan dari penerbit bukan?

 

Belum tahu cara bikin ebook? Duh, hari gini masih kesulitan bikin sesuatuh. Googling aja, sudah banyak orang baik yang siap mengajarkan Anda bagaimana cara membuat ebook yang menarik. Orang baik berseliweran di dunia maya, dan tidak meminta bayaran. Cukup rogoh kocek Rp 3000 per jam di warnet, sebagai modal Anda!

 

Banyak penulis pemula (antah berantah, tak dikenal) yang kemudian sukses meraup rezeki dari penjualan ebook. Tergantung tema yang ditawarkan. Makin sesuai kebutuhan dan keingingan publik, makin besar jumlah penjualannya. Seluruh margin keuntungan buat Anda. Tidak dibagi-bagi dengan pihak lain!

 

 

Yuk ah selami industri menulis yang masih terbuka lebar.

Siapa mau menulis keras, menulis cerdas dan kreatif, dialah yang akan meraih keberhasilan.

 

Semangat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Penulis Buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

 

 

Read Full Post »

 

 

Banyak orang yang bingung ketika memulai menulis buku.

“Apa yang mau ditulis?” begitu mereka biasanya bertanya.

Namun sebagian orang lainnya justru sukses besar dengan buku pertamanya. Sebut saja sahabat saya, Masbukhin Pradana, yang buku pertamanya “Karyawan Beromzet Miliaran” dicetak ulang sampai berkali-kali.

Apa yang dia tulis?

 

Cara-cara berbisnis buat mereka yang masih jadi karyawan. Sebuah tulisan tentang pengalamannya sendiri. Ya, pengalaman yang menjadikannya sebagai orang berhasil. Itulah salah satu tema terbaik yang bisa dijadikan buku. Pengalaman sendiri, keahlian sendiri, hobi, kondisi diri sendiri dan sendiri-sendiri lainnya.

 

Maka bila sekarang masih bingung juga mau membuat buku tentang apa, saran saya: Mulailah dari diri sendiri.

 

Jika Anda hobi merawat bunga, tulislah tentang bagaimana cara terbaik merawat bunga.

Bila Anda punya keahlian menggambar, tulislah buku tentang seluk beluk menggambar.

Kalau Anda punya pengalaman menarik, tuliskanlah.

Andai Anda tidak punya apa-apapun dan tidak punya pengalaman menarik, bisa menjadi sebuah tulisan dengan tema: Susahnya hidup tanpa punya apa-apa atau Merananya hidup tanpa pengalaman menarik.

 

Semua bisa menjadi bahan tulisan bukan?!

 

Selamat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

Read Full Post »

 

Jasa Konten Tulisan

 

  • Punya Web atau Blog? Masih Kosong? Atau Tidak Ada Waktu untuk Mengisinya?

Percayakan Kepada Ahlinya

  • Mau bikin majalah atau media online? Tidak perlu rekrut wartawan.

Percayakan Kepada Ahlinya

  • Mau bangun personal branding lewat tulisan di media internet?

Percayakan Kepada Ahlinya

 

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia membuka layanan baru jasa tulisan konten. Kami tujukan buat Anda yang punya kesibukan atau kegiatan lain, namun sangat ingin eksis di dunia tulis menulis. Atau Anda ingin meningkatkan brand personal/perusahaan Anda melalui tulisan. Atau Anda mau berbisnis di bidang tulisan seperti website informasi, majalah online, blog penarik iklan dan lain sebagainya. Bahkan bagi Anda yang mau menampilkan brand tertentu untuk personal, agar dikenal masyarakat. Misal sebagai pakar bidang tertentu.

 

Kami sudah berpengalaman mengisi sejumlah website pesanan, media online, media sosial, majalah dan buletin, serta beragam media tulisan lainnya. Tim penulis juga sudah menghasilkan puluhan karya tulis dalam bentuk buku populer.

 

Sudah terbukti dan sudah teruji!

 

Silakan kirimkan niat Anda menggunakan jasa kami lewat email sekolahmenulis@gmail.com

 Jasa Konten Tulisan

 

Read Full Post »

Mulai hari Kamis sampai Sabtu, 27 Feb – 1 Maret 2014, Sekolah Alam Cikeas menggelar pameran buku bertajuk “Book Fair 2014, Be A Writer Be An Entrepreneur.” Selama 3 hari, pengunjung bisa mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar menulis, workshop jurnalistik sampai belanja buku berkualitas dari beragam penerbit seperti Gramedia, MIzan dan lain sebagainya. Panitia juga akan meluncurkan lebih dari 50 judul buku, karya siswa, orang tua dan guru Sekolah Alam Cikeas.

Acara Book Fair SAC

Oh ya, ada juga seminar motivasi sukses bersama pendiri Kubik Leadership dan komunitas Sukses Mulia – Indrawan Nugroho. Sayang kalau dilewatkan. Sejumlah penulis juga akan hadir di acara ini, antara lain Dodi Mawardi (penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino – pengelola Sekolah Menulis Kreatif Indonesia), Inna Inong (penulis produktif buku anak), Achi TM (penulis novel) dan Imran Laha (penulis buku anak).

Yuk kunjungi Book Fair SAC! Ajak teman, saudara, anak dan semuanya ke Sekolah Alam Cikeas.

Tahun lalu, Book Fair di SAC meraup kesuksesan dengan tajuk Indonesia Digital Book Fair, berupa Rekor Dunia MURI untuk rekor penulisan buku tercepat.

Read Full Post »

Older Posts »