Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘naskah radio’

Berikut ini daftar media massa yang saya anggap lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya:

1. Smart FM: Menempati urutan pertama, karena isi siarannya penuh dengan ilmu pengetahuan, motivasi dan manfaat lainnya. Nyaris tidak ada mudharat dalam siarannya. Mereka juga tidak berafiliasi kepada kekuatan kelompok tertentu. Slogannya, “Spirit of Indonesia.”

2. Kompas: Tak bisa dimungkiri, Kompas merupakan media massa utama di negeri ini. Isi beritanya tidak pernah ekstrim, baik kanan, kiri maupun ektrim terhadap siapapun. Kecuali apa yang mereka anggap tidak benar, seperti dalam kasus Nurdin Halid dan PSSI-nya. Kritikan terhadap pemerintah selalu dilakukan dengan elegan.

3. Majalah Tempo: Media ini sangat kritis, tapi sifat kritisnya dituangkan dengan cara yang sangat cerdas. Isi informasinya penuh manfaat karena pendalaman yang memikat. Meski sangat kritis, sejauh ini majalah Tempo bebas dari kekuatan politik tertentu.

4. Daai TV: Sebuah televisi lokal yang ada di beberapa kota di Indonesia. Siarannya sangat menyejukkan, jauh dari huru hara televisi pada umumnya. Sebagian besar materi siaran berisi manfaat buat publik. Meski dikuasai oleh kelompok tertentu, tapi tetap menampilkan berbagai kepentingan kelompok lainnya.

Anda punya media yang penuh manfaat? Silahkan tambah daftarnya. Makin banyak media massa penuh manfaat, makin baik buat negeri ini.

Wasalam,

Dodi Mawardi
Pengajar Komunikasi UI dan Interstudi

Read Full Post »

“Rekan Achir, silahkan dengan laporan Anda,” ucap pembawa acara Liputan 6, Duma.
“Baik, Duma terima kasih. Saat ini, saya sedang berada di kawasan…”

Cuplikan dialog di atas merupakan salah satu penggalan proses laporan langsung berita di sebuah stasiun televisi. Sudah menjadi kebiasaan kebanyakan stasiun televisi atau radio, untuk berdialog atau membuat semacam kata pengantar sebelum laporan langsung terjadi. Mereka biasanya saling menyebut nama masing-masing, sebagai sapaan yang memperlancar proses dialog.

“Rekan Duma, sampai laporan ini kami sampaikan…” ucap Achir melanjutkan laporannya, “Kembali ditemukan seorang korban tewas…”

Kembali nama anchor disebut reporter dalam laporannya, ketika menjawab pertanyaan anchor. Di beberapa stasiun televisi dan radio, anchor atau penyiar seringkali memberikan pertanyaan lanjutan setelah reporter memberikan laporan langsungnya. Dan celakanya, mereka seperti berdialog berdua dan melupakan para penonton atau pendengar. Si reporter seolah-olah memberikan informasi kepada presenternya, bukan kepada pemirsa.

Mengabaikan Pendengar atau Penonton
Sebuah kesalahan fatal yang sering terjadi ketika reporter di lapangan dan penyiar di studio berdialog. Mereka seolah berbicara berdua saja, sedangkan penonton dan pendengar diabaikan. Padahal, laporan reporter bukan untuk penyiar melainkan bagi kepentingan publik (penonton dan pendengar). Seharusnya, mereka menyapa atau menyebut pemirsa dalam contoh kalimat di atas.

Misal:
“Ya pemirsa, sampai laporan ini kami informasikan kepada Anda, sudah kembali ditemukan satu korban tewas…”

Jadi, meski yang bertanya adalah penyiar, seorang reporter tetap harus memberikan jawaban buat pemirsa, bukan untuk penyiar. Kenapa? Karena mereka siaran untuk publik. Jangan pernah sekali-kali mengabaikan pemirsa.   Mereka butuh disapa, disentuh, dan diwakili kepentingannya. Setiap laporan, setiap informasi, setiap pertanyaan dari kru televisi, selalu dan harus mewakili kepentingan publik. Kita bisa melihat apakah pertanyaan seorang pembawa acara atau reporter, berkualitas atau tidak, dari isinya. Jika isinya mewakili pertanyaan publik, kita pasti akan senang dan menganggap pertanyaannya berkualitas. Sebaliknya, jika pertanyaannya kebanyakan pertanyaan titipan dari yang berkepentingan (bukan publik) yang biasanya tidak mewakili publik, kita pasti kecewa dan menganggap pertanyaannya tidak bermutu.

Demikian pula ketika reportase langsung. Seorang penyiar dan reporter di lapangan, seyogyanya berbicara kepada pemirsa mereka, bukan asyik berdialog antar mereka sendiri. Apalagi melaporkan apa yang dilihat, didengar dan diperolehnya di lapangan, untuk presenter di studio.

Salah kaprah!

Dodi Mawardi
Penulis, Pengajar dan Pengamat Media Mass Elektronik

Read Full Post »

“Demikian tadi sebuah lagu yang sangat indah dari Gita Gutawa berjudul Tak Perlu Keliling Dunia…”

Suara penyiar sebuah radio terdengar nyaring memberi tahu audiens tentang sebuah lagu yang baru saja berkumandang. Terdengar normal dan wajar. Sebagai pendengar, kita biasa disuguhi informasi tentang sebuah lagu. Meski kadang, banyak juga penyiar dan radio yang alpa memberi tahu judul lagu dan penyanyinya.

Tapi tahukah Anda bahwa informasi penyiar di atas membuat sejumlah orang bermuram durja? Siapa mereka? Coba Anda ingat-ingat siapa sajakah yang terlibat dalam proses pembuatan sebuah lagu? Dalam buku “Hits Maker, Panduan Lengkap Menjadi Produser Rekaman Jempolan” karya pemilik Musica Studio Sendjaja Widjaja, disebutkan banyak sekali pihak yang terlibat, mulai dari produser, penata musik, pemain musik, penyanyi sampai pencipta lagu. Nah, dalam sebagian besar siaran di radio, penyiar biasanya hanya menyebut nama penyanyi dan lagunya. Lalu bagaimana dengan pencipta lagunya?

Inilah yang menjadi penyebab murungnya para pencipta lagu. Karya mereka, buah kerja kreatif mereka, seolah-olah tidak diakui dan tidak dihargai. Yang melonjak popularitasnya hanyalah judul lagu dan penyanyinya. Sedangkan pencipta lagu, bagaikan habis manis sepah dibuang. Tak diperhitungkan sama sekali. Padahal, tanpa mereka tidak ada lagu tersebut.

Bandingkan dengan tayangan lagu di televisi. Sebut saja video klip yang banyak sekali muncul di berbagai stasiun televisi. Beberapa detik video klip tersaji sudah muncul sederet kalimat pemberitahuan kepada pemirsa, apa judul lagunya, siapa penyanyinya, recording company-nya plus nama pencipta lagunya. Lengkap. Pemberitahuan ini kembali diulang menjelang berakhirnya video klip tersebut. Sedangkan di radio tidak. Kenapa ya? Padahal, sejumlah pakar menyebut salah satu karakteristik radio adalah identik dengan musik. Tapi penghargaan insan radio terhadap musik tidak sebaik televisi.

Kasus Iwan Fals

Awal 2010 ini, penyanyi legendaris Iwan Fals mendapatkan cobaan lagi. Dia dituduh mengabaikan hak pihak lain karena mengklaim lagu “Bencana Alam” yang sering dinyanyikannya sebagai hasil karyanya sendiri. Padahal lagu itu merupakan karya Totok Gunarto. Dalam berbagai kesempatan, terutama ketika tampil di televisi, lagu tersebut ditulis sebagai ciptaan Iwan Fals. Totok Gunarto menggugat Iwan Fals dan meminta ganti rugi.

Jika menilik kasus tersebut – tak peduli apakah Iwan Fals benar atau salah – kita bisa belajar banyak. Bangsa ini memang harus belajar menghormati dan memahami hak cipta orang lain. Lebih khusus lagi buat media massa yang seharusnya menjadi penggerak utama sosialisasi dan edukasi berbagai hal untuk masyarakat. Radio memegang peranan kunci dalam hal edukasi tentang hak atas kekayaan intelektual bidang musik.

Alangkah indahnya jika setiap penyiar radio memahami hal ini, dan selalu menyebutkan sebuah lagu tidak hanya judul dan penyanyinya saja melainkan juga pencipta lagunya. Jangan hanya pencipta lagu yang terkenal sekelas Melly Guslaw, Beby Romeo, Dewiq atau Anang, yang disebutkan. Tapi pencipta lagu lain pun tetap disebutkan karena ada hak melekat pada setiap mereka atas lagu ciptaannya.

Seperti juga di televisi, sebaiknya setiap radio, setiap penyiar, menyebutkan judul, nama penyanyi dan penciptanya plus kalau perlu dengan perusahaan rekamannya, sebelum dan setelah lagu itu diputar. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebutkannya. Kecuali jika radio dan penyiarnya tidak mau belajar untuk lebih baik dan lebih baik lagi dalam menghargai karya orang lain.

Ciputat, 17 Februari 2010.

Read Full Post »

Mata Kuliah Produksi Berita Radio

Merancang News Buletin
– Konten/Isi Buletin
– Kemasan Isi Buletin
– Presentasi Buletin
– Benang merah Buletin
– Waktu penayangan
– Durasi

Konten/Isi Buletin
– Berita pendek
– Berita pendek berinsert
– Laporan langsung (live report)
– Interview
– Laporan panjang (News Feature, Feature, Investigasi dll)
– Editorial
– Dll

Kemasan Isi Buletin
– Dengan latar musik
– Tanpa latar musik
– Dengan banyak news reader
– Tanpa news reader
– Dengan banyak smash tune
– Tanpa smash tune
– Dll

Presentasi Buletin
– Live
– Recorded
– Satu penyiar (anchor/newspresenter)
– Dua penyiar atau lebih
– Dilengkapi dengan tune (Opening, Bridging, Closing dll)
– Tanpa tune
– Gaya bahasa
– Cara penyampaian

Benang Merah Buletin
– Ada benang merah (tema tertentu yang mendominasi)
– Tanpa benang merah (tidak ada tema isi buletin yang sama)
– Susunan/urutan berita
Waktu Penayangan
– Pagi, siang, sore atau malam.
– Sekali sehari
– Setiap jam
– Sekali sepekan?

Pertimbangan waktu penayangan adalah kebiasaan pendengar radio masing-masing.

Durasi
– 5 menit
– 10 menit
– 15 menit
– 30 menit
– 45 menit
– 60 menit

Pertimbangan durasi:
– Segmen pendengar, jenis radio, SDM, pengiklan.

Menyusun Urutan Berita
– Nilai berita (penting/menarik)
– Keterkaitan antar berita
– Keterkaitan dengan benang merah buletin
– Alur buletin

Latihan (Urutkan Berita di bawah ini)
Masyarakat lakukan Class Action kasus Situ Gintung.
Pemerintah Indonesia menangkan gugatan atas PT Newmont dalam sengketa divestasi saham.
Potensi konflik pemilu sangat besar.
Konflik Pekerja vs BUMN tahun ini naik.
Tur MU ke Indonesia Belum Jelas Waktunya.
Pemerintah akan bangun kembali Situ Gintung dan relokasi warga.
Gerindra janji berikan 1 laptop 1 mahasiswa jika menangi pemilu
Kepala Bappenas Paskah Suzeta bantah terima dana BLBI.
300 imigran gelap tewas di laut Libya.
3 Diva kebanjiran order pemilu.

“Try not to be a man/woman of success, but rather to be a man of value. ”  Albert Einstein

Read Full Post »

Dulu, banyak pendengar yang tergila-gila pada seorang penyiar radio. Semua itu terjadi hanya karena satu hal, ”Suara indah sang penyiar.” Tidak peduli wanita atau pria, ketika mendengarkan celoteh indah seorang penyiar, kepalanya langsung tidak rasional lagi. Suara itu begitu dekat, begitu hangat, dan sangat menyentuh perasaan. Tidak mendengar suaranya satu hari saja rasanya seperti setahun. Sangat tidak rasional.

Padahal para pendengar tahu, suara seringkali menipu. Di udara memang terdengar sangat merdu, berwibawa, dan memikat hati. Tapi begitu ’copy darat’ kesan indah tersebut sirna, karena ternyata si penyiar bersuara emas tersebut tampangnya tidak sesuai harapan. Beruntung bagi penyiar berwajah lumayan, mereka bisa dengan leluasa menikmati efek positif dari suara emasnya.

Tapi itu dulu. Sekali lagi dulu. Sekarang ceritanya berbeda, walaupun di beberapa kota kecil, kisah di atas masih bisa dijumpai. Kini, sebagian besar radio mulai kehilangan karakter personalnya. Sejumlah radio lebih berorientasi pada iklan ketimbang pendengarnya. Jika dulu pendengar sering dilibatkan dan kerapkali dimanjakan, maka sekarang tidak lagi. Pengelola radio mulai mengabaikan karakter personal yang sesungguhnya menjadi salah satu keunggulan radio dibanding media lain. Dan keunggulan ini tidak dimiliki oleh media massa lain. Mana ada pembaca koran tergila-gila pada wartawan?

Sebagai bukti mulai lenyapnya karakter personal di radio, bisa kita lihat dari dua sisi. Pertama gaya siaran, dan kedua kalimat sapaan kepada pendengar. Gaya siaran sekarang lebih terasa umum, tidak lagi personal. Misal, jumlah penyiar yang mengudara pada sebuah program lebih banyak dua orang ketimbang sendirian. Apalagi pada jam primetime. Bagaimana mungkin karakter personal muncul jika yang siaran berdua? Lebih heboh lagi karena biasanya penyiar yang berduet itu lebih sering asyik berdua ketimbang melibatkan pendengar. Silahkan buktikan sendiri…

Kedua, sapaan mereka kepada pendengar cenderung mengabaikan karakter personal. Ketika saya mendengar radio, maka saya akan sangat senang sekali jika penyiar menyapasaya secara khusus. Itulah mengapa, penyiar radio sering memanggil pendengar dengan kondisi yang berbeda seperti ”Buat kamu yang sedang di jalan, atau mungkin sudah sampai kantor” dll. Tapi banyak radio yang abai, karena menyebut pendengar dalam bentuk jamak. Misal ”Buat Anda semua,” ”Untuk kalian” dan sebagainya. Bagaimana mungkin saya merasa di’personal’kan jika panggilan dari penyiar seperti orang yang sedang berpidato atau ceramah.

Tapi lama-lama saya berpikir juga, apakah para pengelola radio sudah tidak peduli lagi dengan karakter personal?

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.077 pengikut lainnya.