Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘panduan menulis’

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

Iklan

Read Full Post »

Penulis Kere - Sopir taksi

Tahukah Anda seberapa sering seorang sopir taksi bekerja dalam sebulan?

Tahukah Anda seberapa banyak produsen sepatu memproduksi sepatunya dalam sebulan?

 

Jawabannya:

Sopir taksi bekerja dalam sebulan hampir setiap hari. Di sebuah perusahaan taksi, sopir menggunakan rumus 2 – 1. Dua hari bekerja sehari libur. Setiap kali bekerja, bukan nine to five seperti orang kantoran, melainkan dari jam 5 pagi sampai jam 1 dinihari atau lebih. Hasilnya? Alhamdulillah, bisa menafkahi keluarga. Sebagian mampu menabung dan berinvestasi properti. Sebagian lainnya, bisa punya mobil taksi sendiri.

 

Bagaimana dengan perusahaan produsen sepatu? Ketika dia bisa menawarkan sepatu dengan model paling tren, maka sepatunya laris. Produksi makin banyak. Namun, kalau tidak sesuai tren dan tidak sesuai selera konsumen, produksi menurun. Perusahaan sepatu akan sukses dan bertahan, kalau terus menerus berproduksi karena sepatunya laku. Hasilnya, sang pengusaha akan menikmati keuntungan besar.

 

Seharusnya demikian pula penulis. Apakah dia seorang penulis profesi (seperti sopir taksi) atau penulis yang pebisnis seperti pengusaha sepatu. Kalau mau sukses dan mampu menafkahi keluarga dari kegiatan menulis, maka dia harus seperti sopir taksi dan pengusaha sepatu tadi. Bekerja rutin dan memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Produksi tulisan yang sesuai dengan pesanan atau klop dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sesungguhnya rumusnya sesederhana itu.

 

Sayang sekali, banyak penulis yang malas dan buta terhadap hukum alam. Belum tentu sebulan sekali mengirim naskah ke penerbit. Lah, mau makan apa? Hasil dari satu buku saja belum tentu mampu menghidupi keluarga untuk sebulan. Mikir dan berhitung dong. Belum tentu juga menulis artikel yang dibayar  (apakah media massa atau pihak lain) setiap hari. Lalu mau dapat pemasukan dari mana? Mikir dan berhitung dong.

 

Kenapa sopir taksi mampu menghidupi keluarganya setiap hari? Karena dia sudah berhitung atau dihitungkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, agar dia bekerja hampir setiap hari. Salah satu perusahaan taksi misalnya menjanjikan penghasilan sebesar Rp 165.000 per hari kepada sopirnya, atau sekitar Rp 3.000.000 per bulan. Lebih tinggi dari sebagian besar batas upah minimum.

 

Anda yang berprofesi penulis atau akan terjun di dunia menulis, berteriak-teriak susah menjadi penulis, tapi tidak setiap hari menulis? Tidak setiap hari berproduksi? Tidak setiap hari menawarkan jasa Anda? Tidak setiap hari menjajakan karya Anda? Tidak setiap hari bekerja keras, cerdas dan ikhlas?  Hmmm… mikir dan berhitung dong.

 

Kalau mau jadi penulis profesional yang mampu menafkahi keluarga dari menulis, mulai sekarang rajinlah menulis. Setiap hari harus menulis. Dan… tulisannya harus sudah pasti mendapatkan imbalan. Emang ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang secara gratisan? (Ada pas promo ya? Atau program PR perusahaan seperti Blue Bird tempo hari, he he).

Penulis Kere 2

Jika mau menjadi penulis pebisnis (writerpreneur), maka berpoduksilah setiap hari. Tawarkan dan jajakan karya Anda kepada pihak lain. Sesuaikan produk Anda dengan selera orang lain, dengan kualitas yang memadai. Kalau tulisan Anda buruk, siapa yang mau beli? Sama seperti produsen sepatu, siapa yang mau beli sepatu yang baru dipakai seminggu sudah rusak? Produsen sepatu juga memproduksi sepatu sesuai dengan optimalnya kapasitas pabrik.

 

Tips agar menjadi penulis keren bukan penulis kere:

  1. Harus menulis setiap hari.
  2. Rajinlah menulis yang hasilnya pasti dibayar.
  3. Berproduksilah sesering mungkin dengan kualitas terjaga.
  4. Jajakan dan tawarkan karya Anda sesering mungkin.
  5. Semakin kreatif dan cerdas (smart) dalam menulis dan menjual tulisan.

 

Selesai.

Read Full Post »

Poster 1000 Guru Menulis Buku kcl

Yayasan Bhakti Suratto (YBS) bekerjasama dengan Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) membuat program pelatihan menulis buku untuk guru SD, SMP, SMA/SMK/MAN secara gratis. Pelatihan ini terdiri dari dua jenis program yaitu tim YBS dan SMKI menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan gratis di sekolah masing-masing dan mengundang guru-guru sekolah untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan YBS/SMKI di kampus Sekolah Alam Cikeas.

 

Kedua jenis program tersebut sama-sama memberikan pelatihan lengkap tentang menulis buku untuk para guru, mulai dari menyiapkan mental sebagai penulis, penggalian ide, merancang buku, sampai berkenalan dengan penerbit. Tidak hanya sampai di situ, panitia juga akan melanjutkan program dengan metode mentoring sampai para guru mampu menerbitkan bukunya.

 

Setiap pertemuan terdiri dari 3 sesi masing-masing 90-120 menit, yaitu:

  1. Sesi membongkar mental blok dan sejumlah hambatan dalam menulis.
  2. Sesi merancang buku mulai dari penggalian ide yang layak terbit dan layak jual sampai membuat kerangka tulisan.
  3. Sesi latihan menulis.

 

Program ini akan dipandu secara langsung oleh Dodi Mawardi, penulis lebih dari 50 judul buku (termasuk Belajar Goblok dari Bob Sadino & Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas) yang juga Direktur Eksekutif YBS, serta pendiri SMKI, bersama sejumlah praktisi penulisan baik penulis profesional maupun jurnalis.

 

Manfaatkan program ini, dan silakan sebarkan informasi ini kepada yang membutuhkan.

Tidak ada syarat apapun untuk mengikuti program ini. Untuk tahap awal ini, program akan lebih terfokus untuk sekolah-sekolah di kawasan Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok.

 

 

Info lebih lanjut, hub:

081285874272 (sms saja)

sekolahmenulis@gmail.com

Read Full Post »

Kursus Spesial Privat dan Jadi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) selalu berinovasi dalam melayani kebutuhan belajar menulis kreatif. Setelah sukses dengan Kelas Penulis PRO dan Writerpreneur, kini SMKI membuka kelas SPESIAL PRIVAT dan JADI. Kelas ini khusus buat Anda yang sungguh-sungguh mau belajar menulis dan menerbitkan buku, dengan sentuhan lebih personal (modifikasi dari kelas Penulis PRO dan Writerpreneur). Anda akan dibimbing secara khusus oleh Dodi Mawardi – mentor penulis profesional yang sudah terbukti berhasil menulis dan menerbitkan puluhan judul buku, serta sudah sukses membimbing puluhan penulis baru.

Benefit kelas PRIVAT:

  1. Lebih personal
  2. Dibimbing secara ketat
  3. Metode mentoring dan coaching
  4. Naskah sampai jadi
  5. Didampingi bertemu dengan penerbit
  6. Waktu/jadwal pertemuan fleksibel

Jumlah pertemuan minimal 6X (tergantung kecepatan peserta dalam menuntaskan naskah)

Lokasi pertemuan di kelas SMKI komplek Sekolah Alam Cikeas – Cibubur.

Biaya hanya Rp 10.000.000,- (sekali bayar saja).

Benefit tambahan:

Gratis konsultasi penulisan seumur hidup melalui beragam media spt WA, SMS, email dll

Segera daftarkan diri Anda sekarang juga karena kuota tiap bulan sangat terbatas.

Hanya untuk Anda yang benar-benar serius mau belajar menulis dan menerbitkan buku.

Pendaftaran Hubungi:

sekolahmenulis@gmail.com

081285874272 (sms only)

Read Full Post »

oleh Dodi Mawardi – Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

“Anda benar-benar membakar saya…” ujar seorang alumnus kursus Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI).

“Panas dong  kalau terbakar…” balas saya berkelakar, sambil terkekeh.

Lalu dia melanjutkan ceritanya bahwa sejak ikut kursus, gejolak menulisnya melonjak-lonjak. Sejumlah fakta yang saya paparkan ternyata begitu dalam menghunjam lubuk hatinya. Salah satu yang paling dalam dan selalu diingatnya adalah fakta bahwa… hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis!

Dalam setiap workshop atau pelatihan, saya memang suka sekali menampilkan fakta tersebut, untuk menghancurkan mental blok para calon penulis. Selalu saja ada alasan dari mereka, untuk tidak jadi menulis walaupun awalnya bersemangat. Mulanya berkobar-kobar ibarat Bung Tomo yang berperang melawan tentara Sekutu. Tapi beberapa waktu kemudian melempem. Motivasi menulis lenyap entah kemana.

Namun, dengan fakta bahwa hanya manusia primitif yang tidak punya karya tulis, peserta sedikit banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku termasuk manusia primitif atau bukan?

Anda juga mungkin akan bertanya hal serupa. Jawabannya tergantung fakta apakah Anda sudah menulis buku atau belum. Saya fokus kepada buku, karena buku merupakan karya tulis dengan nilai intelektual tertinggi, yang terpublikasi secara massal dan tersimpan terhormat di perpustakaan-perpustakaan.

Jika Anda belum memiliki buku yang Anda tulis sendiri, maka Anda termasuk manusia primitif. Kalau sudah menulis buku, maka Anda masuk kategori manusia yang tercatat dalam sejarah peradaban dunia.

Coba telusuri masa lalu kita. Sejak kapan sejarah Mesir bisa kita ketahui jejaknya? Sejak kapan sejarah nabi Adam bisa kita pelajari? Jawabnnya sederhana, sejak adanya tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan.  Sebelum manusia mengenal tulisan, kita tidak bisa belajar tentang masa lalu. Semua gelap. Hanya mengira-ngira. Hanya belajar dari bekas-bekas perkakas, yang bentuknya pun antah berantah. Itulah peninggalan manusia-manusia primitif. Sedangkan manusia bersejarah meninggalkan jejak berupa tulisan.

Seperti peserta kursus tadi, terserah Anda mau jadi manusia primitif atau manusia bersejarah!

Read Full Post »

Oleh Dodi Mawardi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

3 cara

Cara terbaik untuk meningkatkan sebuah kemampuan adalah dengan terus melakukannya (praktik) dan berlatih. Seorang sopir akan mahir mengendarai mobilnya, bila setiap hari dia selalu berada di balik kemudi. Praktik, praktik dan praktik. Sesekali saja dia membaca buku atau bertanya kepada orang lain, untuk menyempurnakan caranya mengendarai. Sesekali pula dia melihat orang lain melakukannya, lalu dia tiru. Begitupun menulis. Menulislah terus, lalu baca buku orang lain, praktik, tiru cara orang lain, praktik dan seterusnya.

Saya pun memperbaiki kemampuan dengan cara itu. Saya selalu menulis setiap saat, bahkan ketika tidak ada media apapun yang saya miliki. Tidak ada kertas, pena apalagi smartphone, laptop dan komputer. Tapi saya tetap berupaya untuk selalu menulis setiap saat. Sekali lagi setiap saat. Saya masih punya satu media lagi, yang tidak akan pernah lepas hingga meregang nyawa, yaitu kepala yang di dalamnya terdapat mesin ultra canggih yang biasa disebut otak.

Menulis di kepala, demikian sejumlah pakar penulisan menyebutnya. Jadi meski tanpa media yang biasa dipakai buat menulis pun, saya tetap bisa melakukan kegiatan rutin yang tidak bersifat rutinitas yaitu menulis. Dengan cara itu, saya yakin kemampuan selalu berubah ke arah yang lebih baik. Tentu saja dengan sejumlah kegiatan penunjang lainnya.

Apa kegiatan penunjangnya?

Berikut ini, 3 kegiatan penunjang yang akan membuat praktik menulis Anda semakin baik.

  1. BERGAULLAH DI LINGKUNGAN PENULIS. Ini menjadi salah satu hukum alam, bahwa bila Anda selalu dekat dengan harimau, maka lama-lama Anda pun akan pintar mengaum atau mencakar. Jika Anda selalu akrab dengan pencopet, suatu saat Andapun akan pintar mencopet. Menulis pun demikian.
  1. MILIKILAH MENTOR. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk memiliki minimal satu mentor, untuk meningkatkan kemampuan Anda menulis. Jangan merasa berat dulu untuk mencari mentor, karena mentor bisa berarti macam-macam. Dengan memiliki mentor, maka Anda akan mendapatkan role model penulisan yang sudah terbukti manjur. Anda tidak akan menjadi kuda binal yang lepas kendali, punya nafsu besar dalam menulis tapi sama sekali tidak beraturan dan tidak terarah.
  1. BACA BUKU-BUKU TENTANG MENULIS. Atau buku lain yang Anda sukai. Bagaimanapun buku adalah jendela ilmu utama. Ironis bila seorang penulis tidak suka membaca buku. Maka, langkah jitu menjadi penulis adalah milikilah buku-buku terutama tentang penulisan. Dengan memiliki buku-buku tersebut, Anda akan mendapatkan sejumlah jurus baru dalam menulis. Atau paling tidak akan mampu menjaga motivasi Anda untuk selalu menulis.  Rajin juga datangi toko buku. Masak seorang penulis, malas ke toko buku?! Di rak buku saya, terdapat tidak kurang dari 50 judul buku tentang penulisan.

BUku buku penulisan

Saya pikir dengan ketiga langkah tersebut, plus praktik secara terus menerus, maka kemampuan menulis akan bisa terus meningkat. Terbukti buat saya sendiri, dengan melakukan hal-hal tersebut, saya merasa bisa terus memperbaiki diri dan terus menelurkan karya.

Selamat menulis!

Read Full Post »

 

Peluang bagi Penulis Pemula

 

“Naskah saya ditolak…” ujar seorang calon penulis lemas.

“Naskah saya sudah lebih dari sebulan di penerbit, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” kata seorang calon penulis lainnya, tidak kalah lesu. Penerbit seolah menutup peluang bagi penulis pemula, yang mau menerbitkan bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, semua penulis juga mengalami menjadi pemula pada awalnya…

 

Menjadi penulis bukan persoalan gampang bagi sebagian orang. Penolakan demi penolakan dari penerbit, seringkali membuat mental menciut dan semangat mengkerut. Sebaliknya buat sebagian orang lainnya, menjadi penulis terlihat lebih mudah. Tanpa banyak penolakan, tanpa banyak penderitaan, naskah mereka bisa masuk ke penerbit dengan leluasa.

 

Memang begitulah kenyataan hidup. Ada yang mudah dan ada yang susah. Ada yang butuh 100 penolakan sebelum sukses diterbitkan, tapi ada juga yang tanpa penolakan sama sekali. Naskah pertama langsung diterima penerbit. Bahkan sebagian kecil diantaranya, tanpa diduga, menjadi bestseller atau mega bestseller.

 

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan seorang pemula, agar lebih cepat menerbitkan naskahnya. Berikut ini saya berikan bocoran, sejumlah peluang bagi penulis pemula. Atau lebih tepatnya cara jitu bagaimana agar kita sebagai pemula bisa lebih cepat menerbitkan buku:

 

  1. Berkongsi atau berkolaborasi.                                                                                                                       – Berkongsi dengan penulis pemula lainnya.

Anda bisa mengajak sejumlah teman penulis pemula, untuk menulis bersama tentang suatu tema. Kemungkinan besar, proses penulisan akan lebih cepat jika dilakukan secara keroyokan. Daya tawar Anda di hadapan penerbit juga akan naik, sesuai dengan profil teman yang diajak berkongsi. Misal, jika mau menulis tentang agama, berkongsilah dengan teman yang menguasai tema agama (ustad/guru ngaji/guru agama). Jika menulis tentang kesehatan, berkongsilah dengan teman yang dokter atau perawat. Kalau mau menulis novel, berkongsilah…? Sebentar… kalau menulis novel agak susah berkongsi. Tapi masih bisa berkongsi dalam menulis cerpen. Sering lihat buku kumpulan cerpen bukan? Sok atuh, berkongsilah.

 

– Berkolaborasi dengan penulis senior.

Nah, cara ini lebih cepat lagi dalam menggapai impian menerbitkan buku. Berkongsilah dengan penulis senior. Senior bukan berarti harus sudah menulis puluhan buku. Penulis yang baru menerbitkan satu bukupun sudah bisa dianggap senior. Paling tidak, doi sudah berpengalaman menembus penerbit bukan? Jangan tunda-tunda, kenalan dengan penulis itu ajak berkongsi dan tentu Anda yang harus bekerja lebih keras…

 

– Berkongsi dengan penerbit.

Cara lainnya adalah berkongsi dengan penerbit. Berkenalanlah dengan editor penerbitkan, lalu tanya kepada mereka sedang butuh naskah apa? Penerbit pasti membutuhkan naskah dan mereka selalu mengikuti tren pasar. Sayangnnya, kadang mereka kesulitan mendapatkan penulis yang mau membuat naskah sesuai tren. Anda bisa masuk ke situ. Tentu setelah Anda tunjukkan bahwa kualitas tulisan Anda, memadai. Makanya, berlatihlah terus menulis. Jangan berhenti (berlatih) menulis meski naskah Anda tidak pernah diterbitkan. Anggap saja hal itu sebagai latihan. Lihatlah para atlet. Untuk bertanding kurang dari satu menit saja (spt renang, senam atau lari sprint), latihan mereka bisa berlangsung selama berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.

 

 

  1. Terbitkan Sendiri dan Jual Sendiri.

Butuh modal untuk menjalankan cara ini. Tapi, semua bisa disiasati. Seorang penulis kreatif di Bandung, menggunakan modal dari pembeli untuk mencetak naskahnya. Awalnya dia hanya membuat dummy (contoh buku) yang akan dijual, lalu dia tawarkan ke orang lain. Setelah mendapatkan kepastian pembelian dari sejumlah orang, barulah dia cetak buku tersebut. Tidak ada risiko bukan? Bahkan sudah pasti dapat keuntungan. Buat pemula, mendapatkan order buku 10 eksemplar sampai 100 eksemplar di awal, tentu sesuatuh. Apalagi jika di awal sudah dapat order 500 eksemplar. Wow banget. Harga tinggal diatur deh. Yang penting, marginnya menjanjikan.

 

Sejumlah pihak sudah sukses menjalankan hal ini. Dengan modal PEDE, NEKAT, dan sejenisnya, dia menawarkan dummy itu kepada orang terdekatnya. Dia rekrut orang lain, untuk ikut menjual juga (reseller) dengan iming-iming keuntungan menarik, sehingga semakin banyak yang membeli (calon) bukunya.

Ah banyak jalan menuju Roma deh.

 

 

  1. Bikin Ebook.

Cara yang satu ini dijamin hemat biaya dan hemat energi. Tinggal mencari tema yang diminati publik lalu tuliskan, buat dalam bentuk ebook dan juallah lewat blog Anda atau tawarkan lewat email, twitter, facebook dll. Oh sederhana sekali. Tidak perlu ada penolakan dari penerbit bukan?

 

Belum tahu cara bikin ebook? Duh, hari gini masih kesulitan bikin sesuatuh. Googling aja, sudah banyak orang baik yang siap mengajarkan Anda bagaimana cara membuat ebook yang menarik. Orang baik berseliweran di dunia maya, dan tidak meminta bayaran. Cukup rogoh kocek Rp 3000 per jam di warnet, sebagai modal Anda!

 

Banyak penulis pemula (antah berantah, tak dikenal) yang kemudian sukses meraup rezeki dari penjualan ebook. Tergantung tema yang ditawarkan. Makin sesuai kebutuhan dan keingingan publik, makin besar jumlah penjualannya. Seluruh margin keuntungan buat Anda. Tidak dibagi-bagi dengan pihak lain!

 

 

Yuk ah selami industri menulis yang masih terbuka lebar.

Siapa mau menulis keras, menulis cerdas dan kreatif, dialah yang akan meraih keberhasilan.

 

Semangat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Penulis Buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

 

 

Read Full Post »

 Pilih Royalti atau Jual Putus

Ayo siapa yang bisa jawab? Mana yang lebih menguntungkan buat penulis, pakai sistem royalti atau jual putus ke penerbit?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu butuh data tentang royalti buku dan tentang tarif jual putus. Setelah mengetahui data lengkap tentang kedua hal tersebut, barulah mungkin kita bisa memutuskan mana yang lebih baik buat penulis.

Besaran royalti buku secara umum sama yaitu 10% dari harga jual buku. Misal, kalau harga jual di toko buku adalah Rp 50.000,- maka penulis mendapatkan royalti Rp 5.000,- perbuku (Sebelum dipotong pajak pendapatan 15%, semoga pajaknya tidak naik ya, atau semoga pajak buat penyebar intelektual ini dihapus. Amin.) Ada juga penerbit yang menawarkan royalti hanya 8% kepada penulis pemula. Bahkan ada juga yang hanya memberikan royalti 5% dengan sejumlah syarat dan prasyarat. Tapi ada juga penerbit baik hati yang ‘menghibahkan’ royalti sebanyak 12%. Hal yang biasanya baru diberikan jika buku yang kita tulis, dicetak ulang berkali-kali.

Dengan besaran royalti seperti itu, jika buku cetakan pertama (sebanyak 3000 s/d 5000 eksemplar) laku semua, maka penulis mendapatkan total royalti sebanyak Rp 15.000.000,- sampai dengan Rp 25.000.000,-. Uang royalti ini dibayarkan 20-25% pada saat buku terbit, dan sisanya setelah semua buku laku. Penulis akan terus menerus mendapatkan royalti, sepanjang bukunya laku dan dicetak ulang. Contoh bagus bisa kita lihat pada buku Laskar Pelangi, yang dicetak ulang terus menerus sampai lebih dari 1 juta eksemplar. Kalau harga buku Rp 69.800, maka Andrea Hirata mendapatkan minimal Rp 6980 x 1.000.000 = Rp 6.980.000.000,- (baca: enam miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) sebelum dipotong pajak.

Sudah paham ya tentang royalti, besarannya, dan potensi pendapatannya.

Bagaimana dengan jual putus?

Zaman dulu, banyak sekali penulis yang menggunakan model ini. Mereka tidak tertarik dengan model royalti, karena merasa terlalu lama menunggu cairnya dana. Royalti memang baru cair semua setelah bukunya laku, yang biasanya baru terjadi pada bulan ke-3 atau ke-6 atau malah mungkin pada bulan ke-12. Mereka mau dapat uang instan, sehingga jual putus menjadi pilihan. Berapa harga jual putus?

Buat penulis pemula, harganya sama sekali tidak fantastis… kisarannya di bawah Rp 5.000.000,- per naskah. Jarang-jarang ada penerbit yang mau membayar penulis pemula, sebagus apapun naskahnya dengan harga di atas Rp 10.000.000,-/naskah. (Silakan bagikan informasi di sini ya, kalau ada teman penulis pemula yang naskah pertamanya ditawar di atas Rp 10 juta oleh penerbit). Setelah dana itu penulis terima, maka seluruh hak atas naskah (baik hak cipta maupun hak terbit) dipegang sepenuhnya oleh penerbit. Penulis tidak punya hak apapun atas naskahnya. (Hal ini yang harus diperhatikan oleh penulis). Dia akan gigit jari dan menyesal seumur hidup, jika naskahnya kemudian meledak di pasar, dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Hanya penerbit yang menikmatinya.

Bagi penulis produktif dan sudah punya nama, baik royalti maupun jual putus, sama-sama menariknya. Perlu strategi jitu untuk memilihnya, sesuai dengan momentum dan kebutuhan. Saya – misalnya – menerapkan strategi jual putus bukan ke penerbit, karena tahu persis jarang penerbit mau keluar uang banyak, tapi kepada pihak lain yang mau menggunakan jasa penulisan. Dia yang punya ide dan bahan, lalu saya yang menuliskannya (pilihan jasa ghost atau co-writer). Biasanya mereka adalah pengusaha, pembicara terkenal, atau pejabat dan mantan pejabat. Mereka bersedia investasi dana cukup besar, untuk penulisan buku. Tentu cukup menarik bukan kalau menulis sebuah buku dan dibayar Rp 50.000.000,-/naskah? Banyak penulis yang dibayar sampai Rp 100.000.000,-/naskah atau bahkan lebih.

Tapi pada saat tertentu, ada juga penulis produktif dan terkenal, jual putus ke penerbit. Kapan itu? Ketika penulis kepepet dan sedang sangat butuh uang!  Karena sudah punya reputasi, biasanya penerbit memberikan tawaran harga yang pantas buat naskah penulis terkenal. Buat penerbit sendiri, lebih menguntungkan dan adil menggunakan sistem royalti dibanding beli putus.

Silakan Anda putuskan, pakai sistem royalti atau jual putus. Kalau belum punya nama, naskah diterima penerbit saja sudah alhamdulillah ya, hehe…

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Read Full Post »

 

 

Banyak orang yang bingung ketika memulai menulis buku.

“Apa yang mau ditulis?” begitu mereka biasanya bertanya.

Namun sebagian orang lainnya justru sukses besar dengan buku pertamanya. Sebut saja sahabat saya, Masbukhin Pradana, yang buku pertamanya “Karyawan Beromzet Miliaran” dicetak ulang sampai berkali-kali.

Apa yang dia tulis?

 

Cara-cara berbisnis buat mereka yang masih jadi karyawan. Sebuah tulisan tentang pengalamannya sendiri. Ya, pengalaman yang menjadikannya sebagai orang berhasil. Itulah salah satu tema terbaik yang bisa dijadikan buku. Pengalaman sendiri, keahlian sendiri, hobi, kondisi diri sendiri dan sendiri-sendiri lainnya.

 

Maka bila sekarang masih bingung juga mau membuat buku tentang apa, saran saya: Mulailah dari diri sendiri.

 

Jika Anda hobi merawat bunga, tulislah tentang bagaimana cara terbaik merawat bunga.

Bila Anda punya keahlian menggambar, tulislah buku tentang seluk beluk menggambar.

Kalau Anda punya pengalaman menarik, tuliskanlah.

Andai Anda tidak punya apa-apapun dan tidak punya pengalaman menarik, bisa menjadi sebuah tulisan dengan tema: Susahnya hidup tanpa punya apa-apa atau Merananya hidup tanpa pengalaman menarik.

 

Semua bisa menjadi bahan tulisan bukan?!

 

Selamat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

Read Full Post »

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) kembali membuka kesempatan kepada para eksekutif yang serius mau menulis buku, untuk mewujudkan keinginannya. SMKI mulai September 2014, buka kelas kursus 3 bulan jadi buku. Waktu kursus malam hari. Lokasi di komplek Sekolah Alam Cikeas, Puri Cikeas Indah, Cibubur.

Setiap peserta akan dibimbing oleh mentor profesional, untuk tahap demi tahap menuntaskan naskahnya, selama 3 bulan (12 kali tatap muka @90 menit).

Peserta akan dibimbing untuk:

1. Menentukan tema yang layak pasar dan layak terbit.

2. Merancang kerangka tulisan yang mudah dieksekusi.

3. Memastikan bahan terkumpul.

4. Menulis dengan cepat.

5. Menyelesaikan naskah.

6. Menerbitkan buku dan atau menembus penerbit.

7. Memasarkan buku. 

 

Tempat sangat terbatas, maksimal hanya 15 orang. Bahkan mungkin hanya 10 orang. 

Silakan hubungi mas Deni SMKI di 021-94800033 (telp/sms).

Promo 3 bulan Kursus Menulis Buku Non Fiksi

 

 

Read Full Post »

Older Posts »