Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘peluang menulis’

Mengisi bulan Ramadhan tahun ini, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) menggelar serial seminar “Kiat Jitu Meraih Penghasilan Tambahan dari Menulis”, sebanyak tiga kali setiap Minggu, jam 13.00 – 17.00 di kawasan Rumah Sehat Cikeas Bogor. Seminar pertama dilaksanakan pada 4 Juni, lalu 11 Juni,  dan 18 Juni 2017. Peserta boleh memilih salah satu waktu seminar tersebut. Jumlah peserta sangat terbatas. Seminar ini akan dipandu langsung oleh pendiri dan mentor SMKI – Dodi Mawardi.

Seminar Sambil Ngabuburit - Kiat Jitu Raih Penghasilan Tambahan

Dodi Mawardi sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam industri penulisan. Memahami seluk beluk industri ini dari A sampai Z. Juga sebagai praktisi penulisan buku populer, ghost writer (penulis bayangan) dan co-writer yang membantu banyak tokoh serta perusahaan dalam menulis buku. Dodi juga aktif menulis artikel yang tersebar di media massa cetak serta media internet.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kiat-kiat bagaimana memanfaatkan menulis sebagai sumber penghasilan tambahan, wajib mengikuti seminar ini. Dodi akan membagi pengetahuan dan pengalamannya, bagaimana meraih penghasilan dari beragam peluang menulis, terutama dari buku dan internet.

Segera hubungi via SMS/WA 081511417289 sekarang juga sebelum kehabisan tempat.

Investasi hanya Rp 200.000,-.

Read Full Post »

  1.  

    1. Penulis buku non fiksi. Penulis buku akan mendapatkan penghasilan dari royalti buku dari penerbit, jual putus naskah dari penerbit, atau yang lebih menggiurkan lagi yaitu menjadi penulis pendamping (co writer) dan penulis bayangan (ghost writer). Bayaran untuk penulis pendamping dan penulis bayangan, cukup menggiurkan tergantung kualitas Anda. Di Indonesia, kisarannya mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 300 juta perbuku. Kalau mau bisnis bidang penulisan, maka jasa naskah untuk penerbit, co writer dan ghost writer cukup menjanjikan.

    2. Penulis novel. Penulis novel biasanya mendapatkan royalti dari penerbit. Makin rajin menulis novel makin besar peluang untuk mendapatkan royalti. Syukur-syukur jika salah satu atau seluruh novelnya menjadi bestseller. Satu novel dengan penjualan standar antara 5.000 – 10.000 eksemplar kira-kira menghasilkan pemasukan buat penulisnya pada kisaran angka Rp 5juta – Rp20juta per buku (tergantung harga jual).

    3. Penulis cerpen. Penulis cerpen mendapatkan pemasukan dari buku dan media cetak. Buku kumpulan cerpen meski kalah pamor dibanding novel, tetap diminati pembaca. Sedangkan pemasukan dari media cetak, berasal dari pemuatan cerpen oleh sejumlah media cetak yang memiliki rubrik cerpan pada setiap akhir pekan. Satu cerpen dihargai antara Rp 200ribu – Rp1.000.000 (tergantung kebijakan media cetaknya). Anda harus rajin menulis cerpen dan mengirimkannya ke media cetak di seluruh Indonesia jika ingin menerima pemasukan rutin setiap hari/bulan.
    4. Penulis artikel. Penulis artikel mendapatkan pemasukan dari media cetak/media online yang memuat artikel-artikelnya. Penulis artikel lebih punya peluang dibanding penulis cerpen di media cetak, karena media cetak menyediakan halaman setiap hari untuk artikel dan hanya akhir pekan untuk cerpen. Sebuah artikel dihargai Rp 200.000 – Rp 3.000.000 (tergantung kebijakan masing-masing media). Sekarang peluang penulis artikel bertambah dengan makin maraknya media internet.

    5. Penulis puisi. Penulis puisi mendapatkan pemasukan dari puisi-puisi yang dibukukan atau diterbitkan oleh media cetak. Dibanding novel dan cerpen, buku puisi memang kalah pamor dan rata-rata kalah dalam jumlah penjualan. Begitu pula peluang di media cetak, karena rubrik puisi relatif jarang. Namun, jika Anda rajin dan punya kualitas, profesi penulis puisi tetap menjanjikan.

    6. Penulis medsos. Hadirnya media sosial memberikan warna baru dalam industri penulisan di Indonesia. Peluang-peluang baru bermunculan. Saat ini banyak pihak yang rela membayar orang lain untuk mengisi medsosnya baik twitter, facebook atau medsos lainnya secara rutin setiap hari. Biasanya mereka yang berprofesi sebagai publik figur baik artis, pejabat maupun politisi.

    7. Penulis Perjalanan. Profesi yang baru hadir belakangan di Indonesia. Mereka biasanya freelancer yang menjual tulisannya kepada pihak lain, baik penerbit maupun media massa. Selain itu, kisah-kisah perjalanan mereka juga seringkali menjadi buku yang laris sehingga memberikan royalti lumayan buat penulisnya. Penulis perjalanan akan lebih mumpuni jika disertai dengan kemampuan fotografi yang memadai.

    8. Penulis Biografi. Sebenarnya profesi ini termasuk ke dalam penulis buku, namun belakangan makin spesifik karena hanya menggarap buku-buku biografi baik tokoh publik maupun non publik. Banyak orang dari berbagai kalangan, ingin memiliki buku biografi dan penulis jenis inilah yang memanfaatkan peluang tersebut. Kisaran biaya penulisan beragam mulai dari yang minim senilai Rp 25.000.000 sampai kelas jumbo senilai Rp 200juta atau lebih per proyek buku. Menggiurkan bukan?

    9. Penulis pidato. Ada ya penulis pidato? Oo ada. Meski jumlahnya tidak sebanyak profesi penulis yang lainnya. Sebagian lagi profesi ini disambi dengan pekerjaan lain. Profesor Yusril Ihza salah satu contoh penulis pidato, meski profesi utamanya bukan itu. Yang dituliskan pidatonya juga bukan sembarangan melainkan seorang presiden yaitu Soeharto. Presiden, gubernur, walikota dan pejabat tinggi publik lainnya biasanya memiliki penulis pidato masing-masing. Berapa penghasilan mereka? Tergantung kelasnya. Kalau sekelas Yusril, tentu penghasilan sekali menulis pidato, bisa jadi lebih besar daripada gaji seorang manajer!

    10. Penulis iklan. Jangan lupakan profesi yang satu ini, meski biasanya melekat pada seseorang yang bekerja di biro iklan. Mereka dibayar berdasarkan iklan yang tayang. Yang paling menantang dari penulis iklan adalah menciptakan tagline yang mudah diingat orang. Berapa penghasilan mereka? Secara umum, penghasilan orang iklan (termasuk penulis naskah) lebih besar dibanding penghasilan para penulis di bidang lain.

    11. Penulis naskah lagu. Profesi yang satu ini sudah ada sejak lama. Biasanya penulis lirik lagu juga menguasai musik, meski tidak harus demikian. Pada sejumlah lagu Bimbo misalnya, liriknya ditulis oleh sejumlah sastrawan atau penyair. Tapi musiknya dibikin oleh Bimbo sendiri. Akan lebih lengkap memang, jika penulis naskah lagu sekaligus mahir membuat musiknya. Dia adalah pencipta lagu.

    12. Jurnalis. Salah satu profesi penulis yang paling tua di kolong langit. Ada jurnalis yang bekerja tetap di sebuah perusahaan media massa, ada pula jurnalis yang bekerja parttime atau bahkan freelance.

    13. Penulis running text di TV. Profesi yang baru muncul belakangan setelah makin banyaknya jumlah stasiun televisi. Nyaris semua stasiun televisi baik tv berita maupun hiburan, tv nasional maupun lokal, memiliki program running text yaitu informasi terbaru singkat satu kalimat yang muncul bergerak dari kanan ke kiri di layar tv bagian bawah.

    14. Pelatih di bidang penulisan. Semakin maju peradaban dan tingkat intelektual sebuah bangsa, maka semakin besar kebutuhan akan tulisan. Setiap orang akan berlomba-lomba meningkatkan kualitas tulisannya dan menciptakan sebanyak mungkin karya tulis. Sebuah peluang besar bagi praktisi penulisan untuk terjun sebagai pelatihan bidang penulisan.

    Masih adakah profesi dan peluang lain di bidang penulisan? Silakan tambahkan.

    Atau mention @dodimawardi pada akun twitter Anda.

    Dapatkan pula #ilmumenulis setiap hari dari akun twitter @dodimawardi

Read Full Post »

 

Peluang bagi Penulis Pemula

 

“Naskah saya ditolak…” ujar seorang calon penulis lemas.

“Naskah saya sudah lebih dari sebulan di penerbit, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” kata seorang calon penulis lainnya, tidak kalah lesu. Penerbit seolah menutup peluang bagi penulis pemula, yang mau menerbitkan bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, semua penulis juga mengalami menjadi pemula pada awalnya…

 

Menjadi penulis bukan persoalan gampang bagi sebagian orang. Penolakan demi penolakan dari penerbit, seringkali membuat mental menciut dan semangat mengkerut. Sebaliknya buat sebagian orang lainnya, menjadi penulis terlihat lebih mudah. Tanpa banyak penolakan, tanpa banyak penderitaan, naskah mereka bisa masuk ke penerbit dengan leluasa.

 

Memang begitulah kenyataan hidup. Ada yang mudah dan ada yang susah. Ada yang butuh 100 penolakan sebelum sukses diterbitkan, tapi ada juga yang tanpa penolakan sama sekali. Naskah pertama langsung diterima penerbit. Bahkan sebagian kecil diantaranya, tanpa diduga, menjadi bestseller atau mega bestseller.

 

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan seorang pemula, agar lebih cepat menerbitkan naskahnya. Berikut ini saya berikan bocoran, sejumlah peluang bagi penulis pemula. Atau lebih tepatnya cara jitu bagaimana agar kita sebagai pemula bisa lebih cepat menerbitkan buku:

 

  1. Berkongsi atau berkolaborasi.                                                                                                                       – Berkongsi dengan penulis pemula lainnya.

Anda bisa mengajak sejumlah teman penulis pemula, untuk menulis bersama tentang suatu tema. Kemungkinan besar, proses penulisan akan lebih cepat jika dilakukan secara keroyokan. Daya tawar Anda di hadapan penerbit juga akan naik, sesuai dengan profil teman yang diajak berkongsi. Misal, jika mau menulis tentang agama, berkongsilah dengan teman yang menguasai tema agama (ustad/guru ngaji/guru agama). Jika menulis tentang kesehatan, berkongsilah dengan teman yang dokter atau perawat. Kalau mau menulis novel, berkongsilah…? Sebentar… kalau menulis novel agak susah berkongsi. Tapi masih bisa berkongsi dalam menulis cerpen. Sering lihat buku kumpulan cerpen bukan? Sok atuh, berkongsilah.

 

– Berkolaborasi dengan penulis senior.

Nah, cara ini lebih cepat lagi dalam menggapai impian menerbitkan buku. Berkongsilah dengan penulis senior. Senior bukan berarti harus sudah menulis puluhan buku. Penulis yang baru menerbitkan satu bukupun sudah bisa dianggap senior. Paling tidak, doi sudah berpengalaman menembus penerbit bukan? Jangan tunda-tunda, kenalan dengan penulis itu ajak berkongsi dan tentu Anda yang harus bekerja lebih keras…

 

– Berkongsi dengan penerbit.

Cara lainnya adalah berkongsi dengan penerbit. Berkenalanlah dengan editor penerbitkan, lalu tanya kepada mereka sedang butuh naskah apa? Penerbit pasti membutuhkan naskah dan mereka selalu mengikuti tren pasar. Sayangnnya, kadang mereka kesulitan mendapatkan penulis yang mau membuat naskah sesuai tren. Anda bisa masuk ke situ. Tentu setelah Anda tunjukkan bahwa kualitas tulisan Anda, memadai. Makanya, berlatihlah terus menulis. Jangan berhenti (berlatih) menulis meski naskah Anda tidak pernah diterbitkan. Anggap saja hal itu sebagai latihan. Lihatlah para atlet. Untuk bertanding kurang dari satu menit saja (spt renang, senam atau lari sprint), latihan mereka bisa berlangsung selama berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.

 

 

  1. Terbitkan Sendiri dan Jual Sendiri.

Butuh modal untuk menjalankan cara ini. Tapi, semua bisa disiasati. Seorang penulis kreatif di Bandung, menggunakan modal dari pembeli untuk mencetak naskahnya. Awalnya dia hanya membuat dummy (contoh buku) yang akan dijual, lalu dia tawarkan ke orang lain. Setelah mendapatkan kepastian pembelian dari sejumlah orang, barulah dia cetak buku tersebut. Tidak ada risiko bukan? Bahkan sudah pasti dapat keuntungan. Buat pemula, mendapatkan order buku 10 eksemplar sampai 100 eksemplar di awal, tentu sesuatuh. Apalagi jika di awal sudah dapat order 500 eksemplar. Wow banget. Harga tinggal diatur deh. Yang penting, marginnya menjanjikan.

 

Sejumlah pihak sudah sukses menjalankan hal ini. Dengan modal PEDE, NEKAT, dan sejenisnya, dia menawarkan dummy itu kepada orang terdekatnya. Dia rekrut orang lain, untuk ikut menjual juga (reseller) dengan iming-iming keuntungan menarik, sehingga semakin banyak yang membeli (calon) bukunya.

Ah banyak jalan menuju Roma deh.

 

 

  1. Bikin Ebook.

Cara yang satu ini dijamin hemat biaya dan hemat energi. Tinggal mencari tema yang diminati publik lalu tuliskan, buat dalam bentuk ebook dan juallah lewat blog Anda atau tawarkan lewat email, twitter, facebook dll. Oh sederhana sekali. Tidak perlu ada penolakan dari penerbit bukan?

 

Belum tahu cara bikin ebook? Duh, hari gini masih kesulitan bikin sesuatuh. Googling aja, sudah banyak orang baik yang siap mengajarkan Anda bagaimana cara membuat ebook yang menarik. Orang baik berseliweran di dunia maya, dan tidak meminta bayaran. Cukup rogoh kocek Rp 3000 per jam di warnet, sebagai modal Anda!

 

Banyak penulis pemula (antah berantah, tak dikenal) yang kemudian sukses meraup rezeki dari penjualan ebook. Tergantung tema yang ditawarkan. Makin sesuai kebutuhan dan keingingan publik, makin besar jumlah penjualannya. Seluruh margin keuntungan buat Anda. Tidak dibagi-bagi dengan pihak lain!

 

 

Yuk ah selami industri menulis yang masih terbuka lebar.

Siapa mau menulis keras, menulis cerdas dan kreatif, dialah yang akan meraih keberhasilan.

 

Semangat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Penulis Buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

 

 

Read Full Post »