Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘penulis profesional’

 

Sebelum memutuskan menjadi pedagang pulsa pada awal tahun 2000-an lalu, Asep sudah lebih dulu melakukan riset di sekitar kampung halamannya. Meski berlokasi di pinggir sawah dan perbukitan, Asep melihat peluang yang tidak dilirik warga sekampungnya. Rata-rata warga sekitar hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau jajanan kampung. Asep tidak, dia justru menjual pulsa yang menurut hasil riset sederhananya akan dibutuhkan warga. Padahal saat itu, baru segelintir warga yang punya HP. Ada risiko besar di depan mata.

 

Asep rajin keluar kampungnya. Di kampung yang lebih dekat ke kota, sudah lebih banyak warga yang punya HP, sehingga di sana sudah ada pedagang pulsa. Menurut Asep, kampungnya pun akan begitu. Akan semakin banyak warga yang punya HP dan pasti membutuhkan pulsa. Insting bisnis Asep tepat. Dalam waktu relatif singkat, semakin banyak warga yang punya HP, dan tentu saja pasti butuh pulsa. Keputusan Asep berbisnis jualan pulsa, selangkah di depan warga sekampungnya. Asep punya mental wirausaha yang kuat. Dia berani mengambil risiko.

 

Keberanian mengambil risiko itu pula yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Sebagian besar penulis, menghasilkan karya yang ketika dipajang di toko buku, belum tentu laku. Ada risiko di sana. Apakah Anda siap menghadapi risiko, buku yang Anda tulis tidak laku? Bahkan sebelum naskah diterbitkan pun ada risiko pertama yaitu naskah ditolak penerbit karena tidak layak terbit dan tidak layak jual. Siapkah Anda?

Penulis Kere - Produsen Sepatu

Faktanya, lebih banyak yang tidak siap menghadapi sejumlah risiko itu. Berapa banyak penulis  yang melemah semangatnya karena tulisannya hanya dibaca sedikit orang? Lalu tidak/malas menulis lagi.

Berapa banyak calon penulis yang patah arang hanya karena 4-5 kali ditolak penerbit? Kemudian tak pernah mengirim naskah lagi.

Berapa banyak penulis yang mutung gara-gara lima buku pertamanya tidak laku-laku? Akhirnya, tak mau menulis buku lagi dan menyebut industri buku tidak menarik dan tidak menjanjikan!

 

Mereka semua tidak punya mental pengusaha. Pengusaha itu pantang menyerah. Pengusaha itu selalu mencoba dan mencoba lagi sampai berhasil. Setiap kali jatuh, setiap kali itu pula dia bangkit lagi. Pengusaha itu selalu siap menghadapi risiko seberat apapun. Dan faktanya, tidak ada satu orang pun pengusaha sukses yang belum pernah merasakan gagal. Bahkan, meminjam istilah Bob Sadino, keberhasilan itu adalah kumpulan dari segunung kegagalan.

 

Agar menjadi penulis yang tahan banting dalam menjalankan profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus bermental pengusaha. Bahkan sebelum membuat sebuah karya pun, penulis harus punya sikap seperti Asep. Dia tidak asal memilih usaha, tapi berdasarkan riset dan insting yang kuat. Nah, Anda ketika menulis sesuatu apakah sudah melakukan riset? Bukan hanya riset tentang isinya, melainkan juga riset tentang siapa calon pembaca naskah Anda? Berapa banyak jumlahnya? Apakah mereka pasti akan membaca karya Anda? Dan lain sebagainya.

 

Kalau tidak melakukan itu, lalu gagal ya wajar!

Jika Anda tidak siap dengan hal-hal semacam itu, sebaiknya tidak usah jadi penulis.

Apabila Anda tidak punya mental entrepreneur, lebih baik cukup jadi pembaca saja.

 

Jangan jadi penulis!

Iklan

Read Full Post »

“Profesi penulis itu sulit. Sulit dijadikan sumber pendapatan.”

 

Demikian pendapat seorang kawan non penulis, yang diamini seorang kawan lain yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Pendapat umum yang dipercayai kebenarannya bahwa profesi menulis memang tidak menjanjikan.

 

Masak sih?

Kok banyak juga yang berhasil menjadikan menulis sebagai profesinya?

Mereka penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai sumber utama penghidupan.

02 - penulis produktif

 

Ternyata, inilah sejumlah strategi jitu mereka, bagaimana bisa menjadikan menulis sebagai profesi utama yang menghasilkan dan mensejahterakan.

 

  1. Kuasai dulu dong ilmu (teori dan praktik) tentang menulis. Terserah Anda mau kuasai ilmu menulis akademis, populer, fiksi atau non fiksi. Pokoknya kuasai, sehingga sambil mata terpejampun Anda tetap bisa menulis.
  2. Tentukan tujuan. Misal mau menjadi penulis profesional yang … (tujuan materi atau non materi). Tujuan ini biasanya menjadi sumber motivasi utama dalam menjalani profesi apapun. Saya sendiri menentukan tujuan menjalani profesi menulis (awalnya) dengan patokan pendapatan di kantor lama. Tahun pertama, sama dengan pendapatan di kantor lama. Tahun kedua, dua kali lipat. Tahun ketiga, tiga kali lipat dan seterusnya.
  3. Rumuskan dan rencanakan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Contoh:

Anda punya target pendapatan sebagai seorang penulis pro adalah Rp 10.000.000,- setiap bulan. Sebuah angka yang lumayan tinggi bukan? Setara dengan gaji pokok pegawai pajak level staf deh, hehe… Maka, kita harus menentukan jenis tulisan apa yang bisa memenuhi target tersebut. Yuk kita rinci satu persatu.

 

Tulisan bentuk artikel/cerita pendek (cerpen), nilainya adalah sekitar Rp 200.000,- sampai Rp 3.000.000,- per tulisan. Kita ambil angka terendah yaitu Rp 200.000,-/artikel/cerpen. Berapa artikel yang harus ditulis dalam sebulan agar mampu menghasilkan Rp 10.000.000,-? Ambil kalkulator gih! Hitung… Harus mampu menulis 50 artikel/cerpen dalam sebulan. Atau 2 tulisan per hari. Mampukah? Secara teori bisa tapi praktiknya sulit. Anda harus mengirim ke media cetak/online yang berbeda-beda bukan?!

 

Berikutnya, naskah dalam bentuk buku/novel, dengan jumlah 150-250 halaman, nilainya adalah kisaran Rp 10.000.000 – Rp 25.000.000, (dihitung dari rata-rata harga buku Rp 30an rb – Rp 70an rb). Jumlah cetakan pertama berkisar 2000-5000 eksemplar. Dengan data tersebut, maka kita cukup menulis 1 judul buku setiap bulan, untuk meraih pendapatan sesuai target. Secara teori bisa, tapi praktiknya sulit. Walaupun banyak juga yang sudah mampu melakukannya, terutama yang sudah cukup senior. Hitungan ini belum termasuk jika buku/novelnya dicetak ulang. Tapi harus jaga-jaga juga, siapa tahu bukunya tidak laku…

 

08 - Royalti Buku

Dua bidang penulisan di atas adalah yang paling umum dikerjakan oleh penulis profesional. Untuk mencapai target, silakan utak-atik berapa jumlah artikel/cerpen berbayar yang harus ditulis dan berapa jumlah buku/novelnya. Jika dikombinasikan, hasilnya bisa saja cukup menulis 10 artikel/cerpen dan ¾ buku setiap bulannya. Atau mungkin harus 2 buku/novel perbulan. Silakan hitung hasilnya sesuai rumus pada paragraf sebelumnya dengan pertimbangan sejumlah kemungkinan, seperti tidak laku atau cetak ulang.

 

Dengan pengetahuan tentang tarif dan honor menulis, maka irama kerja kita menjadi lebih terarah. Apalagi pasti kita juga akan menemukan peluang-peluang lain di bidang penulisan yang bisa dimasuki.

 

Misal, menulis artikel di media sosial. Banyak pihak yang butuh branding. Media sosial menjadi salah satu jembatan pesan branding tersebut. Mereka berani membayar penulis, dengan prinsip ‘yang penting brandnya makin kuat dan terkenal’. Media sosial bukan hanya facebook dan twitter, tapi juga laman bebas isi seperti Kompasiana atau Detikforum.

 

Atau peluang menyediakan jasa penulisan naskah artikel/buku buat pihak lain. Anda menjadi penulis pendamping (co writer) atau penulis bayangan (ghost writer). Jangan bayangkan yang jau-jauh dan besar dulu. Karena semua penulis profesional dan senior, pada mulanya juga melalui tahap-tahap awal. Bantu orang lain dengan tarif murah dulu atau mungkin sharing royalti. Lama-lama nama kita akan naik nilanya, yang otomatis akan mendongkrak nilai kontrak!

 

Satu lagi, jangan lupa untuk selalu dekat dengan penerbit. Penerbit yang setiap bulan memproduksi banyak buku, bukan penerbit yang hanya terbitkan satu dua buku perbulan. Dengan penerbit Anda bisa bekerjasama. Penerbit butuh naskah dan biasanya mereka sudah punya daftar tema buku apa saja yang harus terbit selama setahun, selain tema-tema sesuai tren yang berkembang. Anda bisa menjadi penyedia naskah sesuai pesanan tema dari penerbit. Kalau Anda benar-benar serius menjalani profesi menulis, seharusnya bisa memenuhi pesanan 6-12 buku pertahun buat sebuah penerbit. Sudah banyak yang melakukan!

 

Kalau mau serius menjadi penulis profesional, ya memang harus sungguh-sungguh juga dalam melakukannya, plus strategi yang benar. Menjadi penulis profesional, bukan menjadi pekerja biasa seperti karyawan. Penulis profesional lebih mirip dengan penyanyi atau MC, yang biasa disebut self employee (pekerja independen). Dia kadang mirip seperti pengusaha. Memproduksi sesuatu, lalu memasarkannya. Sebuah produk kadang gagal kadang berhasil. Jadi, mental yang dibutuhkan seorang penulis profesional bukan mental karyawan/buruh, melainkan mental pengusaha, atau minimal mental pekerja independen.

 

Semoga bermanfaat!

 

 

 

Read Full Post »

Penulis Kere - Sopir taksi

Tahukah Anda seberapa sering seorang sopir taksi bekerja dalam sebulan?

Tahukah Anda seberapa banyak produsen sepatu memproduksi sepatunya dalam sebulan?

 

Jawabannya:

Sopir taksi bekerja dalam sebulan hampir setiap hari. Di sebuah perusahaan taksi, sopir menggunakan rumus 2 – 1. Dua hari bekerja sehari libur. Setiap kali bekerja, bukan nine to five seperti orang kantoran, melainkan dari jam 5 pagi sampai jam 1 dinihari atau lebih. Hasilnya? Alhamdulillah, bisa menafkahi keluarga. Sebagian mampu menabung dan berinvestasi properti. Sebagian lainnya, bisa punya mobil taksi sendiri.

 

Bagaimana dengan perusahaan produsen sepatu? Ketika dia bisa menawarkan sepatu dengan model paling tren, maka sepatunya laris. Produksi makin banyak. Namun, kalau tidak sesuai tren dan tidak sesuai selera konsumen, produksi menurun. Perusahaan sepatu akan sukses dan bertahan, kalau terus menerus berproduksi karena sepatunya laku. Hasilnya, sang pengusaha akan menikmati keuntungan besar.

 

Seharusnya demikian pula penulis. Apakah dia seorang penulis profesi (seperti sopir taksi) atau penulis yang pebisnis seperti pengusaha sepatu. Kalau mau sukses dan mampu menafkahi keluarga dari kegiatan menulis, maka dia harus seperti sopir taksi dan pengusaha sepatu tadi. Bekerja rutin dan memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Produksi tulisan yang sesuai dengan pesanan atau klop dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sesungguhnya rumusnya sesederhana itu.

 

Sayang sekali, banyak penulis yang malas dan buta terhadap hukum alam. Belum tentu sebulan sekali mengirim naskah ke penerbit. Lah, mau makan apa? Hasil dari satu buku saja belum tentu mampu menghidupi keluarga untuk sebulan. Mikir dan berhitung dong. Belum tentu juga menulis artikel yang dibayar  (apakah media massa atau pihak lain) setiap hari. Lalu mau dapat pemasukan dari mana? Mikir dan berhitung dong.

 

Kenapa sopir taksi mampu menghidupi keluarganya setiap hari? Karena dia sudah berhitung atau dihitungkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, agar dia bekerja hampir setiap hari. Salah satu perusahaan taksi misalnya menjanjikan penghasilan sebesar Rp 165.000 per hari kepada sopirnya, atau sekitar Rp 3.000.000 per bulan. Lebih tinggi dari sebagian besar batas upah minimum.

 

Anda yang berprofesi penulis atau akan terjun di dunia menulis, berteriak-teriak susah menjadi penulis, tapi tidak setiap hari menulis? Tidak setiap hari berproduksi? Tidak setiap hari menawarkan jasa Anda? Tidak setiap hari menjajakan karya Anda? Tidak setiap hari bekerja keras, cerdas dan ikhlas?  Hmmm… mikir dan berhitung dong.

 

Kalau mau jadi penulis profesional yang mampu menafkahi keluarga dari menulis, mulai sekarang rajinlah menulis. Setiap hari harus menulis. Dan… tulisannya harus sudah pasti mendapatkan imbalan. Emang ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang secara gratisan? (Ada pas promo ya? Atau program PR perusahaan seperti Blue Bird tempo hari, he he).

Penulis Kere 2

Jika mau menjadi penulis pebisnis (writerpreneur), maka berpoduksilah setiap hari. Tawarkan dan jajakan karya Anda kepada pihak lain. Sesuaikan produk Anda dengan selera orang lain, dengan kualitas yang memadai. Kalau tulisan Anda buruk, siapa yang mau beli? Sama seperti produsen sepatu, siapa yang mau beli sepatu yang baru dipakai seminggu sudah rusak? Produsen sepatu juga memproduksi sepatu sesuai dengan optimalnya kapasitas pabrik.

 

Tips agar menjadi penulis keren bukan penulis kere:

  1. Harus menulis setiap hari.
  2. Rajinlah menulis yang hasilnya pasti dibayar.
  3. Berproduksilah sesering mungkin dengan kualitas terjaga.
  4. Jajakan dan tawarkan karya Anda sesering mungkin.
  5. Semakin kreatif dan cerdas (smart) dalam menulis dan menjual tulisan.

 

Selesai.

Read Full Post »

Di sebuah rumah sederhana, terlihat seorang anak sedang bercengkrama dengan ibunya. Rio, begitu nama anak itu dan Dinda nama ibunya.

“Ma, aku mau tahu ttg kakek Dodi dong…” ujar anak itu kepada ibunya.
“Eh tumben, Rio mau tahu cerita ttg Kakek Dodi,” jawab Dinda sambil memandangi huah hatinya yang baru kelas 3 SD.

“Rio kan nggak tahu kakek Dodi spt apa. Kakek kan sudah pindah ke surga,” jawab Rio polos. Sang ibu tersenyum. Memorinya terbang ke masa masa ketika mertuanya, Kakek Dodi masih hidup.

“Itu ambil saja buku di lemari, rak paling bawah dan yang paling kanan. Ada buku karya Kakekmu. Di buku itu, ada profil kakek Dodi…”
Tanpa pikir lama, Rio langsung mengambil buku itu dan membacanya. “Wah, kakek Dodi ternyata penulis buku ya… aku tahu banyak ttg kakek.”

“Terus kalau Kakek Doni aku bisa dapat ceritanya darimana Ma…” tanya Rio setelah selesai membaca profil kakek Dodi.

“Nah, itu di lemari paling atas ada buku ttg kakek Doni. Ambil dan baca saja…” jawab Dinda. Dia bangga juga melihat rasa ingin tahu anaknya.
Kedua kakek Rio memang sudah lama tiada.

“Ma, buku yang mana?” tanya Rio sambil melihat lihat jejeran buku di lemari bagian paling atas.
“Itu di depan kamu, yang dekat Al Quran,” kata Dinda sambil menunjuk ke arah lemari.

“Mana Ma, adanya cuma buku Yasin, mengenang meninggalnya kakek Doni…” jawab Rio sambil membaca sampul buku Yasin.
“Iya, hanya itu buku yang ada kakek Doninya…”

21 - buku yasin

 

Sahabat, itulah bedanya seorang yang menulis buku dan tidak menulis buku. Anak cucu Anda akan merasakan akibatnya.

Read Full Post »

 

Kisah Alumni SMKI yang Berhasil Menulis Buku

Tyas AN Sukses Menulis buku “A to Z Dunia Kuliner”

 

Wanita yang satu ini mengikuti kursus menulis di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) pada tahun 2011. Lokasi kursus waktu itu bukan di Plasa Tendean, kantor SMKI pertama, melainkan di kediaman seorang alumni SMKI yaitu ibu Dewi Kusuma (almarhum), yang terletak di kawasan Radio Dalam Jakarta Selatan. Dari kursus itulah, Tyas AN, atau biasa disapa Tyas, berhasil merampungkan buku pertamanya “A to Z Dunia Kuliner” dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia.

 

Menulis adalah sebuah proses. Begitu pula belajar menulisnya. Tyas harus rajin dan penuh komitmen mengikuti kursus sebanyak 12 kali pertemuan sesuai dengan Metode 12 PAS, yang dikembangkan pendiri SMKI, Dodi Mawardi. Selama itu pula, Tyas membuat kerangka tulisan tentang dunia kuliner. Ia juga harus wawancara dengan sejumlah pakar bidang kuliner untuk melengkapi bahan bukunya. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan Tyas sebelumnya. Ia juga dipertemukan oleh SMKI dengan editor-editor penerbit Elex Media (Gramedia Grup).

 

20 - Tyas AN

Dengan kerja keras dan mengikuti proses, Tyas berhasil menerbitkan buku tersebut pada 2013. Sebuah buku yang sudah diimpikannya sejak lama. Sebelum menulis buku tersebut, Tyas memang punya minat yang besar terhadap dunia kuliner (masakan). Ia sempat membuka cafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.

 

Selamat Tyas, semoga bukunya bermanfaat buat orang lain.

Ditunggu buku buku berikutnya!

 

 

 

 

Read Full Post »

Semangat pagi… semangat menulis buku.

Suatu hari, Yanti berkunjung ke toko buku Gramedia. Di pintu masuk ia sudah melihat berderet buku baru. Bagus bagus. Di sebelahnya berjejer pula buku buku laris. Yanti tak henti-hentinya memandangi seluruh karya karya itu. Namun belum ada satu pun yang menarik perhatiannya.

Dia bergerak ke belakang, menyusuri rak rak buku masakan. Yanti memang hobi memasak. Matanya tertuju pada sebuah buku, yang menurut logika Yanti, tidak bagus. “Hah.., buku seperti itu. Isinya? Duh, kalau hanya seperti ini, saya juga bisa nulis buku ini…”

17 - ejek buku

Yanti terus bergerak ke rak rak lainnya. Dia kembali menemukan sejumlah buku yang, “tidak deh.” Buku buku yang terlalu cetek ilmunya dan terlalu sederhana untuk menjadi buku. Yang menurutnya, kalau bikin buku buku seperti itu, dia juga bisa.

“Anda sendiri sudah menulis buku?” tanya saya.

“Belum…” jawabnya tersipu malu.

Sampai sekarang, bertahun tahun sejak pertemuan itu, Yanti belum juga menulis buku. Sedangkan naskah naskah sederhana, naskah naskah yang level keilmuannya cetek, terus menerus diproduksi penerbit menjadi buku dan dipajang di toko sampai sekarang. Kenapa? Karena sebagian besar pembaca berada pada level pemula.

Selamat menulis buku!

Catatan:
Di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), siswa tidak diajarkan mengejek atau menghina buku. Siswa diajarkan untuk menghasilkan buku dan memberikan penghargaan kepadanya.

Read Full Post »

(Cikeas, 29 November 2013)

Bagi penulis buku, royalti adalah salah satu sumber pemasukan. Memang, bukan hanya dari royalti karena masih ada sejumlah sumber penghasilan lain untuk penulis profesional seperti jual putus, menjadi penulis pendamping (co writer), penulis bayangan (ghost writer), penulis artikel, ikut lomba dan lain sebagainya. Banyak sekali sumber pemasukan buat penulis profesional.

Namun, yang paling populer di kalangan penulis adalah royalti. Padahal, kedatangan royalti tidak setiap hari atau setiap bulan. Royalti berasal dari penerbit dengan sistem berkala, mulai dari setahun 4 kali (triwulanan), 3 kali (kwartal) atau 2 kali (semesteran). Setiap penerbit memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Meski tidak hadir setiap bulan, sebagian besar penulis masih mengandalkan royalti sebagai sumber pemasukan, sehingga karena datangnya jarang, banyak penulis yang mengalami kesulitan dalam mengatur keuangannya. (Soal ini nanti dibahas lebih lanjut pada artikel lainnya, dan dikupas tuntas dalam Program Penulis Profesional dan Writerpreneur).

Berikut ini adalah cara menghitung royalti yang dilakukan penerbit.

Besaran royalti antara paling kecil 5% sampai yang paling besar 12%, tergantung kualitas penulis dan prestasi penjualan buku. Rata-rata penerbit termasuk penerbit besar seperti Grup Gramedia menerapkan standar royalti 10%. Hitungan ini memakai asumsi rata-rata royalti yaitu 10%.

08 - Royalti Buku

BESARAN ROYALTI

Rumusnya:

Harga jual buku X jumlah cetakan X 10%

Kita anggap saja harga buku adalah Rp 50.000,-, dan buku yang dicetak sebanyak 3000 eksemplar. Standar jumlah cetakan setiap penerbit berbeda, namun biasanya antara 2500-4000. Jika yakin dengan kualitas buku dan prospeknya, bisa saja penerbit mencetak 10.000 ekesemplar.

Contoh:

Rp50.000,- X 3000 eksemplar X 10%

= Rp15.000.000,-

Royalti dibayarkan sesuai dengan kondisi penjualan buku. Mulai dari masuk ke toko buku, sampai buku habis. Pembayaran royalti sesuai dengan angka penjualan di toko buku. Namun, sejumlah penerbit menerapkan sistem uang muka royalti sebesar 20% (variasi antara 20%-25%) dari total royalti. Sisanya dibayar sesuai angka penjualan. Misal, dengan angka total Rp15.000.000, maka uang mukanya adalah Rp15.000.000 X 20% = Rp3.000.000. Uang muka dibayarkan ketika buku terbit atau surat perjanjian ditandatangani.

Oh ya jangan lupa, penulis adalah warga negara yang baik. Setiap royalti dipotong pajak sebesar 15% (bagi yang punya NPWP) dan 30% (bagi yang tidak punya NPWP). Jadi, Anda harus punya NPWP kalau mau menjadi penulis.

MENJADI PENULIS PRODUKTIF

Nah, kalau Anda mau menekuni dunia penulisan sebagai sumber penghasilan, maka Anda harus menetapkan dulu berapa banyak uang yang mau Anda peroleh setiap bulan. Sebut saja misalnya Rp5.000.000,- perbulan. Dengan angka itu, kita bisa menetapkan berapa buku yang harus ditulis selama setahun.

Rumusnya:

12 bulan X Rp 5.000.000,- : royalti per buku = jumlah buku.

Maka akan keluar angka 4 buku pertahun, dengan asumsi jumlah royalti perbuku adalah Rp 15.000.000,- Hitungan ini adalah hitungan di atas kertas. Kemungkinan meleset sangat besar, karena angka penjualan buku kita sulit diprediksi. Kadang bagus, kadang tidak. Bisa jadi semua cetakan terjual, bisa pula tidak, atau bisa juga dicetak ulang.

Silakan Anda hitung sendiri, berapa banyak Anda harus menulis dalam setahun, untuk mendapatkan pemasukan bulanan yang memadai. Jangan lupa pajak.

 

Catatan:
Di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) setiap siswa diajari bagaimana menghitung royalti, mengetahui persis hak dan kewajiban sebagai penulis, dan bagaimana hubungan partnership dengan penerbit, sehingga penulis memiliki posisi yang setara dengan pihak lain.

Read Full Post »

Seorang kawan di milist, mempertanyakan biaya “kuliah” di SMKI. Berikut ini, kutipan emailnya:

Kenapa sekolah menulis menjadi mahal sekali seperti itu? sama seperti sekolah magister /S2 IPB.. 🙂
Idealnya sekolah itu mulai dari “prove it” dulu baru “profit” akan mengikuti.. maaf tidak bermaksud menggurui loooohhh…..
Apa jaminannya kalau setelah lulus masih aja blm bs nulis? Apakah uangnya bisa kembali?
Ada paket hemat lainnya tidak?
Atas jawaban yang memuaskan terima kasih yaaa…

DAN INILAH JAWABAN KAMI:
Terima kasiiiiiiiih banyak atas responnya.
Sekolah Menulis Kreatif Indonesia SMKI sudah beroperasi sejak 2009, dan menghasilkan lebih dari 400 alumni, melalui program kursus dan workshop. Kami sudah membuka kelas menulis dgn berbagai level, mulai dari yang mahal, sedang, murah bahkan gratis. Hasil kajian kami ternyata, makin tinggi biayanya makin serius seseorang belajar. Mungkin sayang ya, sudah bayar mahal masa nggak serius? Hehe… sedangkan makin murah, kok ya makin tidak serius pesertanya, bahkan banyak yg iseng2 saja. Kami merasa sayang, program kami yang serius dan dirancang dengan sungguh-sungguh hanya jadi arena keisengan. Malah yg gratis, dianggap enteng.

IMG2642A
Alhasil, sejak 2012 lalu, kami menerapkan biaya yg tinggi untuk menyeleksi peserta peserta yg serius. Selain tentu saja metode yg diperbaiki seiring dgn peningkatan kualitas. Memang benar, yang ikut adalah mrk yang serius mau belajar menulis, serius mau menulis buku dan atau serius mau menjadi penulis profesional.

Program ini lebih serius lagi, karena hanya menyaring mereka yang benar benar mau menjadi penulis profesional dan atau writerpreneur. Bagi mereka yang yakin bahwa menulis adalah profesi, bukan sekadar hobi apalagi iseng dan sambilan. Yang tidak serius, dilarang ikut.

Lagi pula mahal itu relatif. Di Jakarta dan kota besar, banyak sekali workshop sehari yang biayanya Rp 3juta atau pelatihan 2 hari dgn angka jutaan. Belum tentu juga lulusannya langsung naik jabatan atau dpt reward.

Kami 6 bulan, sebanyak 24x pertemuan, dengan 6 mata kuliah khusus, plus magang, pendampingan dan nempel (Magang khusus).

Lulusannya akan bisa menjadi penulis dan writerpreneur.

Jaminan kami pendampingan sampai jadi penulis dan writerpreneur.

Kami ingin menjadikan profesi menulis sebagai profesi sesungguhnya. Bukan profesi iseng!

Read Full Post »

 

Belajar di mana kalau mau jadi penulis profesional?

Belajar di mana kalau mau jadi pengusaha bidang penulisan (writerpreneur)?

Adakah kampus atau perguruan tinggi yang memberikan pelajaran tentang menjadi penulis profesional?

Adakah kampus atau perguruan tinggi yang mengajari bagaimana menjadi pengusaha di bidang penulisan (writerpreneur)?

Adakah gelar atau sertifikat standar untuk profesi penulis profesional?

Jawabannya tidak ada!

Di Indonesia belum ada.

Padahal industri penulisan membutuhkan tenaga-tenaga terampil untuk posisi:

–          Penulis profesional yang produktif dan bukan penulis sambilan (freelance).

–          Editor terampil dan profesional, bukan editor sambilan.

–          Penulis bayaran (co writer) yang disewa sejumlah orang untuk menulis.

–          Penulis bayangan (ghost writer) untuk orang-orang terkenal.

Industri penulisan pun membuka peluang besar kepada siapapun yang mau terjun di bisnis ini. Bisnis penulisan dan penerbitan termasuk dalam industri kreatif yang sekarang dikembangkan oleh Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif. Industri kreatif adalah industri masa depan, yang tidak mengenal batas penghasilan.

Belum ada perguruan tinggi yang secara khusus memberikan pelajaran tentang keterampilan-keterampilan di bidang penulisan. Industri ini belum mendapatkan perhatian dari perguruan tinggi.

Omzet industri penulisan dan penerbitan di Indonesia tergolong LUMAYAN. Setiap tahun tidak kurang dari Rp5 triliun, berputar di dalamnya. Belum termasuk transaksi-transaksi tak tercatat dan tak resmi.

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia (SMKI) menjadi yang pertama, membuka kelas khusus untuk mencetak penulis profesional dan writerpreneur dengan metode pendidikan seperti di perguruan tinggi bersistem SKS (Satuan Kredit Semester).

Slide4

SMKI memberikan modal berupa keterampilan khusus bagi siapapun yang mau menjadikan menulis sebagai profesi, sebagai tulang punggung penghasilan. Bukan penulis sampingan, bukan pula sekadar hobi, dan bukan penulis yang hanya mengandalkan royalti. SMKI juga memberikan modal khusus berupa wawasan dan keterampilan bagaimana menjadi pengusaha di bidang penulisan.

Pendidikan berlangsung selama 6 bulan, di kampus yang nyaman, asri dan refresentatif yaitu di komplek Sekolah Alam Cikeas, Cibubur (Di sekitar kampus terdapat banyak sekali tempat kost dan rumah kontrakan). Kuliah berlangsung setiap hari Sabtu, jam 13.00 – jam 19.00, dengan 6 mata kuliah berjumlah 18 SKS. Setiap mata kuliah berisi materi teori, praktik dan magang. Setiap siswa wajib berinteraksi dengan para profesional di bidang penulisan, editor-editor di penerbitan, magang di percetakan/penerbitan dan mendapatkan mentor berkualitas dalam bisnis penulisan (link and match yang ketat).

Mata Kuliah Program Pendidikan Keahlian Khusus

Menjadi Penulis Profesional & Writerpreneur

  1. Pendidikan Dasar Karakter.
  2. Bahasa Indonesia untuk Penulisan.
  3. Tehnik Dasar Penulisan & Penyuntingan (Creative Writing)
  4. Tehnik Menulis Non Fiksi (Populer).
  5. Tehnik Menulis Fiksi (Novel/Cerpen/Puisi)
  6. Industri Penulisan (Wirausaha)

Program ini memberikan pengetahuan, skil dan sikap yang tepat untuk modal sebagai penulis profesional dan writerpreneur. Setelah mengikuti program ini selama 6 bulan, peserta akan mampu:

– Menulis artikel untuk koran dan majalah serta menghasilkan pemasukan.

– Menulis puisi dan cerpen serta mengirimkannya ke koran atau majalah.

– Menulis novel dan mengirimkannya ke penerbit.

– Menulis buku populer serta mengirimkannya ke penerbit.

– Menjadi penulis pendamping dan menghasilkan fee.

– Menjadi ghost writer dan menghasilkan fee.

– Menjadi pengusaha di bidang penulisan/penerbitan dan menghasilkan keuntungan dengan modal efisien.

Sebelum lulus, para peserta sudah bisa mulai mendapatkan penghasilan! Apalagi setelah lulus, karena peluang berserak di depan mata.

Peluang lainnya:

–      Menjadi pembicara di bidang penulisan atau di bidang keahlian yang tertulis di buku, dan mendapatkan honor sebagai pembicara.

–      Menjadi pelatih bidang penulisan.

Semua ini sudah terbukti, bukan hanya janji

atau sekadar mimpi.

Biaya program ini adalah:

1. Pendaftaran/formulir Rp 150.000,
2. Uang pangkal (di awal) Rp 6.200.000,
3. Spp bulanan Rp 800.000,

Jika mau bayar sekaligus di awal, mendapatkan potongan Rp 500.000,

Angkatan Pertama akan dimulai pada Januari 2014 dan Angkatan Kedua pada Juli 2014. Kalau mau jadi penulis pro dan writerpreneur, inilah program yang tepat buat Anda.

Belum lulus sudah bisa menghasilkan, karena kami akan libatkan siswa di dalam proyek2 penulisan tim pengajar dan terlibat langsung dalam dunia penerbitan.

Biaya pendidikan akan cepat kembali (balik modal)!

Pendaftaran hubungi:

021-94800033

email:

sekretariat@sekolahmenuliskreatif.com

sekolahmenulis@gmail.com.

FB: sekolah menulis kreatif indonesia

Twitter: @infomenulis

 

Tim Pengajar SMKI

  1. Dodi Mawardi, penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, penulis lebih dari 50 judul buku, pendiri Sekolah Menulis kre@tif Indonesia.
  2. Nyuwan S. Budiana, penulis lebih dari 40 judul buku, pengusaha jasa penulisan dan penerbitan.
  3. Jonru, pendiri Sekolah Menulis Online, penulis pro & writerpreneur.
  4. Aryo Wicaksono, penulis 5 judul buku, co writer dan ghost writer.
  5. Senda Irawan, penulis lebih dari 10 judul buku, co writer dan ghost writer.
  6. Editor Elex Media (Gramedia), Noura’s Book, Ufuk dll.
  7. Pengusaha Komunitas TDA (Tangan Di Atas).

Read Full Post »

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia membuka kelas tatap muka baru, yaitu Program Pendidikan Keahlian Khusus Menjadi Penulis Profesional dan Writerpreneur.  Program ini akan mendidik peserta menjadi penulis profesional di berbagai bidang (fiksi dan non fiksi), serta memiliki jiwa entrepreneur sehingga bisa menjadi pengusaha di bidang tulis-menulis dan penerbitan (writerpreneur).

Program ini memberikan pengetahuan, skil dan sikap yang tepat untuk modal sebagai penulis profesional dan writerpreneur. Setelah mengikuti program ini selama 6 bulan, peserta akan mampu:

– Menulis artikel untuk koran dan majalah.

– Menulis puisi dan cerpen.

– Menulis novel.

– Menulis buku populer.

– Menjadi penulis pendamping

– Menjadi ghost writer

– Menjadi pengusaha di bidang penulisan/penerbitan.

Sebelum lulus, para peserta sudah bisa mulai mendapatkan penghasilan! Apalagi setelah lulus, karena peluang berserak di depan mata.

Promo Program Keahlian Khusus Penulis Pro

Biaya pendidikan akan cepat kembali (balik modal)!

 

Sistem pendidikan disusun seperti perkuliahan, dengan enam mata kuliah berbeda. Dalam satu hari, setiap peserta minimal akan melahap 3 mata kuliah selama sekitar 6 jam dengan jeda sekian waktu.

 

Waktu kuliah setiap weekend/Sabtu selama 6 hulan (24x pertemuan), mulai jam 13 sampai selesai di komplek Sekolah Alam Cikeas, Cibubur. Peserta minimal sudah mengenyam pendidikan D3, sehingga program ini bisa disebut sebagai program profesi. Pengajar pengajarnya adalah penulis profesional dan pengusaha bidang penulisan.

 

 Biaya program ini adalah sebesar Rp 11.150.000,-, dengan cara pembayaran:

1. Pendaftaran/formulir Rp 150.000,
2. Uang pangkal (di awal) Rp 6.200.000,
3. Spp bulanan Rp 800.000,

Total selama 6 bulan adalah Rp11.150.000 Jika mau bayar sekaligus di awal mendapatkan potongan Rp 500.000,

Angkatan pertama akan dimulai pada Januari 2014. Kalau mau jadi penulis pro dan writerpreneur, inilah program yang tepat buat Anda.

Belum lulus sudah bisa menghasilkan, karena kami akan libatkan siswa di dalam proyek2 penulisan tim pengajar dan terlibat langsung dalam dunia penerbitan.

Pendaftaran hubungi: 021-94800033 atau email: sekolahmenulis@gmail.com.

 Wasalam,

Pengelola SMKI

 

Read Full Post »

Older Posts »