Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sekolah menulis’

 Pilih Royalti atau Jual Putus

Ayo siapa yang bisa jawab? Mana yang lebih menguntungkan buat penulis, pakai sistem royalti atau jual putus ke penerbit?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu butuh data tentang royalti buku dan tentang tarif jual putus. Setelah mengetahui data lengkap tentang kedua hal tersebut, barulah mungkin kita bisa memutuskan mana yang lebih baik buat penulis.

Besaran royalti buku secara umum sama yaitu 10% dari harga jual buku. Misal, kalau harga jual di toko buku adalah Rp 50.000,- maka penulis mendapatkan royalti Rp 5.000,- perbuku (Sebelum dipotong pajak pendapatan 15%, semoga pajaknya tidak naik ya, atau semoga pajak buat penyebar intelektual ini dihapus. Amin.) Ada juga penerbit yang menawarkan royalti hanya 8% kepada penulis pemula. Bahkan ada juga yang hanya memberikan royalti 5% dengan sejumlah syarat dan prasyarat. Tapi ada juga penerbit baik hati yang ‘menghibahkan’ royalti sebanyak 12%. Hal yang biasanya baru diberikan jika buku yang kita tulis, dicetak ulang berkali-kali.

Dengan besaran royalti seperti itu, jika buku cetakan pertama (sebanyak 3000 s/d 5000 eksemplar) laku semua, maka penulis mendapatkan total royalti sebanyak Rp 15.000.000,- sampai dengan Rp 25.000.000,-. Uang royalti ini dibayarkan 20-25% pada saat buku terbit, dan sisanya setelah semua buku laku. Penulis akan terus menerus mendapatkan royalti, sepanjang bukunya laku dan dicetak ulang. Contoh bagus bisa kita lihat pada buku Laskar Pelangi, yang dicetak ulang terus menerus sampai lebih dari 1 juta eksemplar. Kalau harga buku Rp 69.800, maka Andrea Hirata mendapatkan minimal Rp 6980 x 1.000.000 = Rp 6.980.000.000,- (baca: enam miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) sebelum dipotong pajak.

Sudah paham ya tentang royalti, besarannya, dan potensi pendapatannya.

Bagaimana dengan jual putus?

Zaman dulu, banyak sekali penulis yang menggunakan model ini. Mereka tidak tertarik dengan model royalti, karena merasa terlalu lama menunggu cairnya dana. Royalti memang baru cair semua setelah bukunya laku, yang biasanya baru terjadi pada bulan ke-3 atau ke-6 atau malah mungkin pada bulan ke-12. Mereka mau dapat uang instan, sehingga jual putus menjadi pilihan. Berapa harga jual putus?

Buat penulis pemula, harganya sama sekali tidak fantastis… kisarannya di bawah Rp 5.000.000,- per naskah. Jarang-jarang ada penerbit yang mau membayar penulis pemula, sebagus apapun naskahnya dengan harga di atas Rp 10.000.000,-/naskah. (Silakan bagikan informasi di sini ya, kalau ada teman penulis pemula yang naskah pertamanya ditawar di atas Rp 10 juta oleh penerbit). Setelah dana itu penulis terima, maka seluruh hak atas naskah (baik hak cipta maupun hak terbit) dipegang sepenuhnya oleh penerbit. Penulis tidak punya hak apapun atas naskahnya. (Hal ini yang harus diperhatikan oleh penulis). Dia akan gigit jari dan menyesal seumur hidup, jika naskahnya kemudian meledak di pasar, dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Hanya penerbit yang menikmatinya.

Bagi penulis produktif dan sudah punya nama, baik royalti maupun jual putus, sama-sama menariknya. Perlu strategi jitu untuk memilihnya, sesuai dengan momentum dan kebutuhan. Saya – misalnya – menerapkan strategi jual putus bukan ke penerbit, karena tahu persis jarang penerbit mau keluar uang banyak, tapi kepada pihak lain yang mau menggunakan jasa penulisan. Dia yang punya ide dan bahan, lalu saya yang menuliskannya (pilihan jasa ghost atau co-writer). Biasanya mereka adalah pengusaha, pembicara terkenal, atau pejabat dan mantan pejabat. Mereka bersedia investasi dana cukup besar, untuk penulisan buku. Tentu cukup menarik bukan kalau menulis sebuah buku dan dibayar Rp 50.000.000,-/naskah? Banyak penulis yang dibayar sampai Rp 100.000.000,-/naskah atau bahkan lebih.

Tapi pada saat tertentu, ada juga penulis produktif dan terkenal, jual putus ke penerbit. Kapan itu? Ketika penulis kepepet dan sedang sangat butuh uang!  Karena sudah punya reputasi, biasanya penerbit memberikan tawaran harga yang pantas buat naskah penulis terkenal. Buat penerbit sendiri, lebih menguntungkan dan adil menggunakan sistem royalti dibanding beli putus.

Silakan Anda putuskan, pakai sistem royalti atau jual putus. Kalau belum punya nama, naskah diterima penerbit saja sudah alhamdulillah ya, hehe…

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Iklan

Read Full Post »

 

 

Banyak orang yang bingung ketika memulai menulis buku.

“Apa yang mau ditulis?” begitu mereka biasanya bertanya.

Namun sebagian orang lainnya justru sukses besar dengan buku pertamanya. Sebut saja sahabat saya, Masbukhin Pradana, yang buku pertamanya “Karyawan Beromzet Miliaran” dicetak ulang sampai berkali-kali.

Apa yang dia tulis?

 

Cara-cara berbisnis buat mereka yang masih jadi karyawan. Sebuah tulisan tentang pengalamannya sendiri. Ya, pengalaman yang menjadikannya sebagai orang berhasil. Itulah salah satu tema terbaik yang bisa dijadikan buku. Pengalaman sendiri, keahlian sendiri, hobi, kondisi diri sendiri dan sendiri-sendiri lainnya.

 

Maka bila sekarang masih bingung juga mau membuat buku tentang apa, saran saya: Mulailah dari diri sendiri.

 

Jika Anda hobi merawat bunga, tulislah tentang bagaimana cara terbaik merawat bunga.

Bila Anda punya keahlian menggambar, tulislah buku tentang seluk beluk menggambar.

Kalau Anda punya pengalaman menarik, tuliskanlah.

Andai Anda tidak punya apa-apapun dan tidak punya pengalaman menarik, bisa menjadi sebuah tulisan dengan tema: Susahnya hidup tanpa punya apa-apa atau Merananya hidup tanpa pengalaman menarik.

 

Semua bisa menjadi bahan tulisan bukan?!

 

Selamat menulis!

 

 

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

 

Read Full Post »

Ide itu milik Tuhan. Dia berserak di alam semesta. Ada orang mengaku punya banyak ide, padahal jumlah ide dia tidak sampai seujung kuku ide milik Tuhan. Tapi ada juga orang kesulitan mendapatkan ide. Bingung dan buntu.

Sebagian lagi punya ide, tapi ketika ide itu dituangkan dalam tulisan, ternyata ide tersebut tidak disambut baik oleh orang lain.

Padahal sebagian orang lainnya, sukses menuangkan ide dan tulisannya diburu orang lain.

Lalu bagaimana menemukan ide yang tepat untuk tulisan Anda?
Seperti tema tulisan ini… apa idenya? Bagaimana menemukan ide. Kenapa Anda membacanya? Karena mungkin Anda butuh tulisan tentang tema ini. Mungkin selama ini Anda kesulitan mendapatkan ide. Atau belum juga menemukan ide yang tepat. Ide tulisan ini berangkat dari kebutuhan orang lain. Bukan kebutuhan penulisnya. Penulisnya sih sudah berhasil membuat banyak tulisan, dengan ide yang sesuai kebutuhan orang lain. Tapi, masih banyak orang yang belum mampu menemukan ide itu. Mereka (mungkin termasuk Anda) butuh masukan tentang bagaimana menemukan ide.

kill-post-idea

Sumber: http://www.hongkiat.com

Jadi, poin pertama adalah… kebutuhan orang lain. Cari apa saja kebutuhan orang lain di berbagai bidang. Banyak sekali bukan? Tapi sesuaikan dengan bidang yang Anda kuasai, sehingga ketika menemukan kebutuhan orang lain, Anda bisa memenuhinya dengan tepat.

Poin berikutnya apa? Sudahlah, poin pertama itu saja kalau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, Anda tidak akan pernah kehabisan ide. Observasi orang-orang di sekitar Anda, baca perkembangan terbaru di media massa, jalan-jalan ke toko buku, maka Anda akan menemukan apa yang sekarang sedang dibutuhkan orang lain. Khususnya di bidang yang Anda kuasai atau Anda sukai.

Selamat menulis!

Dodi Mawardi
Founder Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Read Full Post »

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) kembali membuka kesempatan kepada para eksekutif yang serius mau menulis buku, untuk mewujudkan keinginannya. SMKI mulai September 2014, buka kelas kursus 3 bulan jadi buku. Waktu kursus malam hari. Lokasi di komplek Sekolah Alam Cikeas, Puri Cikeas Indah, Cibubur.

Setiap peserta akan dibimbing oleh mentor profesional, untuk tahap demi tahap menuntaskan naskahnya, selama 3 bulan (12 kali tatap muka @90 menit).

Peserta akan dibimbing untuk:

1. Menentukan tema yang layak pasar dan layak terbit.

2. Merancang kerangka tulisan yang mudah dieksekusi.

3. Memastikan bahan terkumpul.

4. Menulis dengan cepat.

5. Menyelesaikan naskah.

6. Menerbitkan buku dan atau menembus penerbit.

7. Memasarkan buku. 

 

Tempat sangat terbatas, maksimal hanya 15 orang. Bahkan mungkin hanya 10 orang. 

Silakan hubungi mas Deni SMKI di 021-94800033 (telp/sms).

Promo 3 bulan Kursus Menulis Buku Non Fiksi

 

 

Read Full Post »

Kamis pagi (26/12/2013), jam 07.30.
Sebuah mobil memasuki halaman parkir Sekolah Alam Cikeas. Suasana masih sunyi. Tidak ada anak sekolah karena sedang liburan. Mobil tersebut berhenti di bawah pohon rambutan, yang berdiri kokoh di salah satu sudut tempat parkir. Tak lama kemudian, seorang wanita muda turun dan menghampiri ku, “Sudah bisa registrasi belum pak?” tanyanya. Saya tersenyum.

“Panitia registrasi belum datang mbak. Jadwalnya mulai registrasi jam 8.30,” jawabku yang disambut dengan raut muka sedikit kecewa, namun tetap tersenyum.
“Oh iya ya, kami kepagian ya…” tukasnya.

Tak lama kemudian, datang lagi sebuah mobil. Sepasang ibu bapak turun bersama dua orang anak perempuan. Mereka adalah peserta Kemah Anak Menulis. Pagi-pagi sebelum registrasi dibuka, mereka sudah tiba. Penuh semangat. Semangat yang sudah terpancar sejak awal. Luar biasa.

Di pepohonan

Dan… memang kemudian antusiasme itu terjadi sejak pembukaan Kemah. Para orang tua tidak beranjak dari ruang acara pembukaan. Mereka begitu penuh perhatian terhadap kegiatan anak-anaknya. Oh ya, anak anaknya juga antusias. Meski pembukaan berlangsung amat sederhana, dibuka dengan berdoa, lalu perkenalan peserta dan panitia. Orang tua meninggalkan ruangan dan tidak boleh berada di lokasi selama Kemah (3 hari dua malam), setelah kami “usir”, he he he…

Hari pertama diisi dengan sedikit teori menulis kreatif, yang harus memaksimalkan seluruh panca indera, otak dan hati, untuk mendapatkan input sebagai sumber tulisan.
Apa yang kamu lihat, itulah yang kamu tulis.
Apa yang kamu dengar, itulah yang kamu tulis. Apa yang kamu pikir, itulah yang kamu tulis.
Apa yang kamu rasakan, itulah yang kamu tulis.
Apa yang kamu imajinasikan, itulah yang kamu tulis.

Teori itulah yang menjadi doktrin peserta selama berkemah. Namun tidak dirasakan sebagai paksaan apalagi tekanan. Setelah teori itu, peserta diajak menonton sejumlah film pendek. Intinya adalah agar mata dan telinga peserta mendapatkan input lewat film. Setelah menonton, kamu berdiskusi, lalu membuat cerita pendek. Peserta menikmatinya.

Hari pertama belum usai. Kami mengajak peserta mendengarkan dongeng. Indera pendengaran menjadi sasaran kami. Indera pendengaran menjadi sumber dari theater of mind. Peserta terpacu untuk berimajinasi lewat dongeng. Selesai mendongeng, kami berdiskusi dan menulis dongeng.

Mereka bermain, mereka bercanda. Namun mereka mendapatkan pengalaman langsung praktik menulis. Kami mengajak mereka berkeliling Sekolah Alam Cikeas yang luasnya lebih dari 2 hektar. Sambil berjalan-jalan, di tangan mereka tersedia kertas dan pena yang menempel di papan jalan. Mereka melihat kandang kambing (dan kambingnya tentu saja) melihat kelinci, mendengar suaranya, mendengar suara jangkrik dan sebagainya. Indera penglihatan dan pendengaran, sedang menjalankan fungsinya.

Di kandang kelinci

Malam hari langsung istirahat? TIdak! Kami masih bermain. Kami sediakan mainan balon kata. Ketika balon dipecahkan, “dar” muncullah kertas berisi tulisan berupa sebuah kata. Dari kata yang muncul itulah kami belajar menambah kosa kata, belajar membuat kalimat dan bercerita. Plus sejumlah permainan lainnya sampai jam 9 malam. Ternyata sebagian besar anak-anak belum mengantuk. Sebelum tidur, kami ajak mereka merenung, tentang kebaikan seorang ibu. Hari pertama pun usai, dan peserta masuk ke tenda masing-masing.

Jumat, (27/12/2013), jam 4.30
Azan berkumandang di sekitar Sekolah Alam. Tidak ada suara ayam berkokok, karena perkampungan warga lumayan jauh dari lokasi sekolah. Anak-anak sudah mulai menggeliat. Kami pun melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Setelahnya, jadwalnya adalah berolahraga pagi dan sesi bersyukur. Namun, sebagian anak sudah bertanya-tanya, “Renungan yang semalam, mau saya tulis sekarang… boleh?”

Maka… jam 5 pagi, anak-anak itu sudah mulai menulis lagi, dalam suasana gembira. Renungan tentang kebaikan ibu. Peserta boleh bikin cerita, buat puisi atau surat untuk ibunya.

Jam 6 pagi, kami ajak mereka berjalan-jalan, setelah berolahraga. Kali ini keluar dari komplek Sekolah Alam. Kami datangi sebuah komplek makam keluarga pemilik perumahan Puri Cikeas. Sebuah komplek pemakaman yang indah, bernama Astana Cikeas. Anak-anak menikmati berada di situ. Suasananya tidak seperti di pemakaman biasa.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia (RPATKI). Sebuah tempat penampungan untuk anak-anak hasil hubungan gelap TKW yang bekerja di luar negeri. Anak-anak itu tidak berdosa, sehingga yayasan yang menaungi Sekolah Alam Cikeas, berinisiatif menampung anak-anak malang itu. Mereka masih berusia 0 tahun sampai 3 tahun. Masih lucu dan imut. Peserta Kemah senang berkunjung ke sana. Untuk menjadi penulis, kita memang harus peka terhadap masalah sosial dan kondisi lingkungan di sekitar kita.

Saatnya bertemu penerbit. Ya, kami ajak peserta bertemu penerbit, yaitu dari Elex Media Komputindo yang berpengalaman menerbitkan banyak sekali buku anak. Peserta diminta untuk membuat tema dan kemudian menawarkannya kepada penerbit. Peserta mendapatkan pengalaman berharga dari penerbit. Setelah itu, kami pun mendatangkan seorang penulis, mas Aryo Wicaksono, yang berbagi pengalamannya menulis kepada peserta. Asyik, bisa berjumpa penerbit sekaligus penulisnya dalam suasana yang penuh kegembiraan.

Permainan masih berlanjut dengan treasure hunt, edisi khusus dengan materi kata dan kalimat. Asyik, peserta menikmatinya, sekaligus berkeliling sekolah. Meski hujan turun rintik-rintik, anak-anak tetap bersemangat. Apalagi, kegiatan hari ini, diliput oleh tim Seputar Indonesia RCTI.

Kak Aryo 2

Malam harinya kami adakah acara hiburan. Bukan sekadar hiburan, namun kami berharap aspek pikiran dan hati peserta akan terpacu untuk tetap kreatif. Kreatif berkarya dan mencipta. Lagu-lagu itu berisi lirik lirik yang penuh dengan makna. Susunan kata dan kalimatnya dibuat dengan penuh pertimbangan pikir dan rasa.

Anak-anak pun bertanya, “Kak, outboundnya kapan?”

Memang dalam rancangan acara, kami memasukkan outbound. Namun, cuaca kerap menjadi faktor penting dalam melakukan outbound.

Sabtu (28/13/2013), hari terakhir Kemah.
Seperti kemarin, pagi sekali anak-anak sudah bangun dan sholat berjamaah. Kegiatan pagi setelahnya selain olahraga kami bebaskan. Boleh menulis, boleh bermain, sambil mandi dan makan pagi. Dan setelah itu… waktunya outbound!

Anak-anak senang sekali melakukan outbound meski hanya dua alat yang dinikmati, yaitu jembatan tali dan jaring laba-laba. Tapi tetap seru dan mengasyikkan. Meski mulai lelah, sedikit menyakitkan tangan dan kaki, namun mereka tetap penuh semangat. Bahkan, mereka masih sempat berpose meski sedang berjuang menuntaskan tantangan.

Setelah outbound, mereka beristirahat sejenak sebelum memasuki materi terakhir yaitu evaluasi! Inilah saatnya seluruh peserta, satu persatu akan dievaluasi dan diuji. Mereka tegang, karena harus berhadapan satu persatu dengan Kak Dodi Mawardi.

Dua kursi sudah ditata dalam bentuk seperti ruang studio di televisi, saling berhadapan. Lalu mereka pun ditanya berbagai hal seputar kemampuan menulisnya, praktik menulisnya dan apa yang mereka dapatkan selama Kemah. Dari hati ke hati secara personal… itulah evaluasi.

Ketegangan pun berubah menjadi kesenangan!

Sampai jumpa di Kemah Anak Menulis berikutnya. Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) akan terus memperbaiki kualitas dalam belajar menulis.

Read Full Post »

Di sebuah rumah sederhana, terlihat seorang anak sedang bercengkrama dengan ibunya. Rio, begitu nama anak itu dan Dinda nama ibunya.

“Ma, aku mau tahu ttg kakek Dodi dong…” ujar anak itu kepada ibunya.
“Eh tumben, Rio mau tahu cerita ttg Kakek Dodi,” jawab Dinda sambil memandangi huah hatinya yang baru kelas 3 SD.

“Rio kan nggak tahu kakek Dodi spt apa. Kakek kan sudah pindah ke surga,” jawab Rio polos. Sang ibu tersenyum. Memorinya terbang ke masa masa ketika mertuanya, Kakek Dodi masih hidup.

“Itu ambil saja buku di lemari, rak paling bawah dan yang paling kanan. Ada buku karya Kakekmu. Di buku itu, ada profil kakek Dodi…”
Tanpa pikir lama, Rio langsung mengambil buku itu dan membacanya. “Wah, kakek Dodi ternyata penulis buku ya… aku tahu banyak ttg kakek.”

“Terus kalau Kakek Doni aku bisa dapat ceritanya darimana Ma…” tanya Rio setelah selesai membaca profil kakek Dodi.

“Nah, itu di lemari paling atas ada buku ttg kakek Doni. Ambil dan baca saja…” jawab Dinda. Dia bangga juga melihat rasa ingin tahu anaknya.
Kedua kakek Rio memang sudah lama tiada.

“Ma, buku yang mana?” tanya Rio sambil melihat lihat jejeran buku di lemari bagian paling atas.
“Itu di depan kamu, yang dekat Al Quran,” kata Dinda sambil menunjuk ke arah lemari.

“Mana Ma, adanya cuma buku Yasin, mengenang meninggalnya kakek Doni…” jawab Rio sambil membaca sampul buku Yasin.
“Iya, hanya itu buku yang ada kakek Doninya…”

21 - buku yasin

 

Sahabat, itulah bedanya seorang yang menulis buku dan tidak menulis buku. Anak cucu Anda akan merasakan akibatnya.

Read Full Post »

 

Kisah Alumni SMKI yang Berhasil Menulis Buku

Tyas AN Sukses Menulis buku “A to Z Dunia Kuliner”

 

Wanita yang satu ini mengikuti kursus menulis di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) pada tahun 2011. Lokasi kursus waktu itu bukan di Plasa Tendean, kantor SMKI pertama, melainkan di kediaman seorang alumni SMKI yaitu ibu Dewi Kusuma (almarhum), yang terletak di kawasan Radio Dalam Jakarta Selatan. Dari kursus itulah, Tyas AN, atau biasa disapa Tyas, berhasil merampungkan buku pertamanya “A to Z Dunia Kuliner” dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia.

 

Menulis adalah sebuah proses. Begitu pula belajar menulisnya. Tyas harus rajin dan penuh komitmen mengikuti kursus sebanyak 12 kali pertemuan sesuai dengan Metode 12 PAS, yang dikembangkan pendiri SMKI, Dodi Mawardi. Selama itu pula, Tyas membuat kerangka tulisan tentang dunia kuliner. Ia juga harus wawancara dengan sejumlah pakar bidang kuliner untuk melengkapi bahan bukunya. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan Tyas sebelumnya. Ia juga dipertemukan oleh SMKI dengan editor-editor penerbit Elex Media (Gramedia Grup).

 

20 - Tyas AN

Dengan kerja keras dan mengikuti proses, Tyas berhasil menerbitkan buku tersebut pada 2013. Sebuah buku yang sudah diimpikannya sejak lama. Sebelum menulis buku tersebut, Tyas memang punya minat yang besar terhadap dunia kuliner (masakan). Ia sempat membuka cafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.

 

Selamat Tyas, semoga bukunya bermanfaat buat orang lain.

Ditunggu buku buku berikutnya!

 

 

 

 

Read Full Post »

Semangat pagi… semangat menulis buku.

Suatu hari, Yanti berkunjung ke toko buku Gramedia. Di pintu masuk ia sudah melihat berderet buku baru. Bagus bagus. Di sebelahnya berjejer pula buku buku laris. Yanti tak henti-hentinya memandangi seluruh karya karya itu. Namun belum ada satu pun yang menarik perhatiannya.

Dia bergerak ke belakang, menyusuri rak rak buku masakan. Yanti memang hobi memasak. Matanya tertuju pada sebuah buku, yang menurut logika Yanti, tidak bagus. “Hah.., buku seperti itu. Isinya? Duh, kalau hanya seperti ini, saya juga bisa nulis buku ini…”

17 - ejek buku

Yanti terus bergerak ke rak rak lainnya. Dia kembali menemukan sejumlah buku yang, “tidak deh.” Buku buku yang terlalu cetek ilmunya dan terlalu sederhana untuk menjadi buku. Yang menurutnya, kalau bikin buku buku seperti itu, dia juga bisa.

“Anda sendiri sudah menulis buku?” tanya saya.

“Belum…” jawabnya tersipu malu.

Sampai sekarang, bertahun tahun sejak pertemuan itu, Yanti belum juga menulis buku. Sedangkan naskah naskah sederhana, naskah naskah yang level keilmuannya cetek, terus menerus diproduksi penerbit menjadi buku dan dipajang di toko sampai sekarang. Kenapa? Karena sebagian besar pembaca berada pada level pemula.

Selamat menulis buku!

Catatan:
Di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI), siswa tidak diajarkan mengejek atau menghina buku. Siswa diajarkan untuk menghasilkan buku dan memberikan penghargaan kepadanya.

Read Full Post »

(Cikeas, 29 November 2013)

Bagi penulis buku, royalti adalah salah satu sumber pemasukan. Memang, bukan hanya dari royalti karena masih ada sejumlah sumber penghasilan lain untuk penulis profesional seperti jual putus, menjadi penulis pendamping (co writer), penulis bayangan (ghost writer), penulis artikel, ikut lomba dan lain sebagainya. Banyak sekali sumber pemasukan buat penulis profesional.

Namun, yang paling populer di kalangan penulis adalah royalti. Padahal, kedatangan royalti tidak setiap hari atau setiap bulan. Royalti berasal dari penerbit dengan sistem berkala, mulai dari setahun 4 kali (triwulanan), 3 kali (kwartal) atau 2 kali (semesteran). Setiap penerbit memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Meski tidak hadir setiap bulan, sebagian besar penulis masih mengandalkan royalti sebagai sumber pemasukan, sehingga karena datangnya jarang, banyak penulis yang mengalami kesulitan dalam mengatur keuangannya. (Soal ini nanti dibahas lebih lanjut pada artikel lainnya, dan dikupas tuntas dalam Program Penulis Profesional dan Writerpreneur).

Berikut ini adalah cara menghitung royalti yang dilakukan penerbit.

Besaran royalti antara paling kecil 5% sampai yang paling besar 12%, tergantung kualitas penulis dan prestasi penjualan buku. Rata-rata penerbit termasuk penerbit besar seperti Grup Gramedia menerapkan standar royalti 10%. Hitungan ini memakai asumsi rata-rata royalti yaitu 10%.

08 - Royalti Buku

BESARAN ROYALTI

Rumusnya:

Harga jual buku X jumlah cetakan X 10%

Kita anggap saja harga buku adalah Rp 50.000,-, dan buku yang dicetak sebanyak 3000 eksemplar. Standar jumlah cetakan setiap penerbit berbeda, namun biasanya antara 2500-4000. Jika yakin dengan kualitas buku dan prospeknya, bisa saja penerbit mencetak 10.000 ekesemplar.

Contoh:

Rp50.000,- X 3000 eksemplar X 10%

= Rp15.000.000,-

Royalti dibayarkan sesuai dengan kondisi penjualan buku. Mulai dari masuk ke toko buku, sampai buku habis. Pembayaran royalti sesuai dengan angka penjualan di toko buku. Namun, sejumlah penerbit menerapkan sistem uang muka royalti sebesar 20% (variasi antara 20%-25%) dari total royalti. Sisanya dibayar sesuai angka penjualan. Misal, dengan angka total Rp15.000.000, maka uang mukanya adalah Rp15.000.000 X 20% = Rp3.000.000. Uang muka dibayarkan ketika buku terbit atau surat perjanjian ditandatangani.

Oh ya jangan lupa, penulis adalah warga negara yang baik. Setiap royalti dipotong pajak sebesar 15% (bagi yang punya NPWP) dan 30% (bagi yang tidak punya NPWP). Jadi, Anda harus punya NPWP kalau mau menjadi penulis.

MENJADI PENULIS PRODUKTIF

Nah, kalau Anda mau menekuni dunia penulisan sebagai sumber penghasilan, maka Anda harus menetapkan dulu berapa banyak uang yang mau Anda peroleh setiap bulan. Sebut saja misalnya Rp5.000.000,- perbulan. Dengan angka itu, kita bisa menetapkan berapa buku yang harus ditulis selama setahun.

Rumusnya:

12 bulan X Rp 5.000.000,- : royalti per buku = jumlah buku.

Maka akan keluar angka 4 buku pertahun, dengan asumsi jumlah royalti perbuku adalah Rp 15.000.000,- Hitungan ini adalah hitungan di atas kertas. Kemungkinan meleset sangat besar, karena angka penjualan buku kita sulit diprediksi. Kadang bagus, kadang tidak. Bisa jadi semua cetakan terjual, bisa pula tidak, atau bisa juga dicetak ulang.

Silakan Anda hitung sendiri, berapa banyak Anda harus menulis dalam setahun, untuk mendapatkan pemasukan bulanan yang memadai. Jangan lupa pajak.

 

Catatan:
Di Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) setiap siswa diajari bagaimana menghitung royalti, mengetahui persis hak dan kewajiban sebagai penulis, dan bagaimana hubungan partnership dengan penerbit, sehingga penulis memiliki posisi yang setara dengan pihak lain.

Read Full Post »

Seorang kawan di milist, mempertanyakan biaya “kuliah” di SMKI. Berikut ini, kutipan emailnya:

Kenapa sekolah menulis menjadi mahal sekali seperti itu? sama seperti sekolah magister /S2 IPB.. 🙂
Idealnya sekolah itu mulai dari “prove it” dulu baru “profit” akan mengikuti.. maaf tidak bermaksud menggurui loooohhh…..
Apa jaminannya kalau setelah lulus masih aja blm bs nulis? Apakah uangnya bisa kembali?
Ada paket hemat lainnya tidak?
Atas jawaban yang memuaskan terima kasih yaaa…

DAN INILAH JAWABAN KAMI:
Terima kasiiiiiiiih banyak atas responnya.
Sekolah Menulis Kreatif Indonesia SMKI sudah beroperasi sejak 2009, dan menghasilkan lebih dari 400 alumni, melalui program kursus dan workshop. Kami sudah membuka kelas menulis dgn berbagai level, mulai dari yang mahal, sedang, murah bahkan gratis. Hasil kajian kami ternyata, makin tinggi biayanya makin serius seseorang belajar. Mungkin sayang ya, sudah bayar mahal masa nggak serius? Hehe… sedangkan makin murah, kok ya makin tidak serius pesertanya, bahkan banyak yg iseng2 saja. Kami merasa sayang, program kami yang serius dan dirancang dengan sungguh-sungguh hanya jadi arena keisengan. Malah yg gratis, dianggap enteng.

IMG2642A
Alhasil, sejak 2012 lalu, kami menerapkan biaya yg tinggi untuk menyeleksi peserta peserta yg serius. Selain tentu saja metode yg diperbaiki seiring dgn peningkatan kualitas. Memang benar, yang ikut adalah mrk yang serius mau belajar menulis, serius mau menulis buku dan atau serius mau menjadi penulis profesional.

Program ini lebih serius lagi, karena hanya menyaring mereka yang benar benar mau menjadi penulis profesional dan atau writerpreneur. Bagi mereka yang yakin bahwa menulis adalah profesi, bukan sekadar hobi apalagi iseng dan sambilan. Yang tidak serius, dilarang ikut.

Lagi pula mahal itu relatif. Di Jakarta dan kota besar, banyak sekali workshop sehari yang biayanya Rp 3juta atau pelatihan 2 hari dgn angka jutaan. Belum tentu juga lulusannya langsung naik jabatan atau dpt reward.

Kami 6 bulan, sebanyak 24x pertemuan, dengan 6 mata kuliah khusus, plus magang, pendampingan dan nempel (Magang khusus).

Lulusannya akan bisa menjadi penulis dan writerpreneur.

Jaminan kami pendampingan sampai jadi penulis dan writerpreneur.

Kami ingin menjadikan profesi menulis sebagai profesi sesungguhnya. Bukan profesi iseng!

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »