Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sistem royalti’

 Pilih Royalti atau Jual Putus

Ayo siapa yang bisa jawab? Mana yang lebih menguntungkan buat penulis, pakai sistem royalti atau jual putus ke penerbit?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu butuh data tentang royalti buku dan tentang tarif jual putus. Setelah mengetahui data lengkap tentang kedua hal tersebut, barulah mungkin kita bisa memutuskan mana yang lebih baik buat penulis.

Besaran royalti buku secara umum sama yaitu 10% dari harga jual buku. Misal, kalau harga jual di toko buku adalah Rp 50.000,- maka penulis mendapatkan royalti Rp 5.000,- perbuku (Sebelum dipotong pajak pendapatan 15%, semoga pajaknya tidak naik ya, atau semoga pajak buat penyebar intelektual ini dihapus. Amin.) Ada juga penerbit yang menawarkan royalti hanya 8% kepada penulis pemula. Bahkan ada juga yang hanya memberikan royalti 5% dengan sejumlah syarat dan prasyarat. Tapi ada juga penerbit baik hati yang ‘menghibahkan’ royalti sebanyak 12%. Hal yang biasanya baru diberikan jika buku yang kita tulis, dicetak ulang berkali-kali.

Dengan besaran royalti seperti itu, jika buku cetakan pertama (sebanyak 3000 s/d 5000 eksemplar) laku semua, maka penulis mendapatkan total royalti sebanyak Rp 15.000.000,- sampai dengan Rp 25.000.000,-. Uang royalti ini dibayarkan 20-25% pada saat buku terbit, dan sisanya setelah semua buku laku. Penulis akan terus menerus mendapatkan royalti, sepanjang bukunya laku dan dicetak ulang. Contoh bagus bisa kita lihat pada buku Laskar Pelangi, yang dicetak ulang terus menerus sampai lebih dari 1 juta eksemplar. Kalau harga buku Rp 69.800, maka Andrea Hirata mendapatkan minimal Rp 6980 x 1.000.000 = Rp 6.980.000.000,- (baca: enam miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) sebelum dipotong pajak.

Sudah paham ya tentang royalti, besarannya, dan potensi pendapatannya.

Bagaimana dengan jual putus?

Zaman dulu, banyak sekali penulis yang menggunakan model ini. Mereka tidak tertarik dengan model royalti, karena merasa terlalu lama menunggu cairnya dana. Royalti memang baru cair semua setelah bukunya laku, yang biasanya baru terjadi pada bulan ke-3 atau ke-6 atau malah mungkin pada bulan ke-12. Mereka mau dapat uang instan, sehingga jual putus menjadi pilihan. Berapa harga jual putus?

Buat penulis pemula, harganya sama sekali tidak fantastis… kisarannya di bawah Rp 5.000.000,- per naskah. Jarang-jarang ada penerbit yang mau membayar penulis pemula, sebagus apapun naskahnya dengan harga di atas Rp 10.000.000,-/naskah. (Silakan bagikan informasi di sini ya, kalau ada teman penulis pemula yang naskah pertamanya ditawar di atas Rp 10 juta oleh penerbit). Setelah dana itu penulis terima, maka seluruh hak atas naskah (baik hak cipta maupun hak terbit) dipegang sepenuhnya oleh penerbit. Penulis tidak punya hak apapun atas naskahnya. (Hal ini yang harus diperhatikan oleh penulis). Dia akan gigit jari dan menyesal seumur hidup, jika naskahnya kemudian meledak di pasar, dan menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Hanya penerbit yang menikmatinya.

Bagi penulis produktif dan sudah punya nama, baik royalti maupun jual putus, sama-sama menariknya. Perlu strategi jitu untuk memilihnya, sesuai dengan momentum dan kebutuhan. Saya – misalnya – menerapkan strategi jual putus bukan ke penerbit, karena tahu persis jarang penerbit mau keluar uang banyak, tapi kepada pihak lain yang mau menggunakan jasa penulisan. Dia yang punya ide dan bahan, lalu saya yang menuliskannya (pilihan jasa ghost atau co-writer). Biasanya mereka adalah pengusaha, pembicara terkenal, atau pejabat dan mantan pejabat. Mereka bersedia investasi dana cukup besar, untuk penulisan buku. Tentu cukup menarik bukan kalau menulis sebuah buku dan dibayar Rp 50.000.000,-/naskah? Banyak penulis yang dibayar sampai Rp 100.000.000,-/naskah atau bahkan lebih.

Tapi pada saat tertentu, ada juga penulis produktif dan terkenal, jual putus ke penerbit. Kapan itu? Ketika penulis kepepet dan sedang sangat butuh uang!  Karena sudah punya reputasi, biasanya penerbit memberikan tawaran harga yang pantas buat naskah penulis terkenal. Buat penerbit sendiri, lebih menguntungkan dan adil menggunakan sistem royalti dibanding beli putus.

Silakan Anda putuskan, pakai sistem royalti atau jual putus. Kalau belum punya nama, naskah diterima penerbit saja sudah alhamdulillah ya, hehe…

Dodi Mawardi

Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino

Iklan

Read Full Post »