Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ubud’

20151029_091924_resized

Perhelatan Ubud Writers and Readers Festival 2015 (UWRF) berlangsung semarak. Setiap venue acara selalu dipenuhi pengunjung. Selama festival 4 hari, panitia menyelenggarakan tidak kurang dari 200 acara, tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar tempat acara berdekatan. Kapasitas tempat acara bervariasi mulai dari 100 kursi sampai lebih dari 500 kursi.

Panitia seolah memanjakan pengunjung. Pada waktu bersamaan, terdapat 3 acara di tiga tempat berbeda. Pengunjung dipersilakan memilih acara yang disukainya. Pun demikian jika tidak suka dengan sebuah acara, bisa dengan mudah berganti tempat dengan mudah. Pengunjung hanya diharuskan membeli tiket terusan yang bisa digunakan untuk semua acara utama. Pada beberapa acara khusus, panitia mengenakan tiket berbeda.

Untuk pengunjung asal Indonesia, panitia menetapkan tarif Rp 600.000 untuk empat hari kegiatan. Sedangkan untuk warga negara asing non Asean berlaku tarif Rp 4.000.000,-.

20151029_094235_resized

Pada hari pertama UWRF ini, sebagian besar pengunjung berasal dari luar negeri. Hanya segelintir warga negara Indonesia. Mereka terutama berasal dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Sisanya berasal dari sejumlah negara Asia. Secara kasat mata, boleh dikatakan 80% pengunjung adalah warga asing.

Hal ini memang sesuai dengan tujuan panitia menyelenggarakan UWRF, yang dimulai pada 2003 lalu. Janet DeNeefe, pencetus acara ini, mengadakan festival untuk meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang sempat turun drastis pasca serangan teror bom pada 2002. Janet yang bersuamikan pria Bali (Ketut Suardhana) sudah lama tinggal di pulau Dewata dan bangga menyelenggarakan festival menulis di Indonesia. Di negeri asalnya – Australia – festival menulis merupakan sebuah acara tahunan yang ada hampir semua kota besar di sana.

Meski demikian, tentu saja sebagai tuan rumah, jumlah pengunjung asal Indonesia seharusnya lebih banyak. Di antara segelintir orang Indonesia tersebut, pengunjung yang asli orang Bali, lebih sedikit lagi. Budaya literasi dan melek ilmu pengetahuan memang masih menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia.

Orang Bali adalah tuan rumah dan panitia yang hebat dalam penyelenggaraan acara intelektual tersebut. Apresiasi yang tinggi buat mereka!

Dodi Mawardi

Penulis Profesional, Pengelola Sekolah Alam Cikeas

Iklan

Read Full Post »