Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘om bob’

Sebuah buku baru. Sebuah buku karya Dodi Mawardi, berdasarkan hasil diskusi panjang lebar dengan Bob Sadino, pengusaha nyentrik. Om Bob, sudah tiada. Beliau meninggal dunia karena sakit pada 2015 lalu. Tapi ide, pemikiran dan tindak tanduk beliau selama menjadi pengusaha, tidak pernah mati. Akan selalu hidup dan menjadi panduan buat banyak orang dalam menjalankan usaha. Buku ini, 100 Wasiat Bisnis Bob Sadino, hadir di toko buku mulai Minggu 4 Juni 2017. Dicetak oleh penerbit Elex Media Komputindo, dan menyebar lewat toko buku Gramedia serta jaringan toko buku lainnya. Buku ini bolehlah disebut sebagai ‘adik’ dari buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, dan buku Mereka Bilang Saya Gila.

Om Bob memang unik. Spesial. Tidak ada duanya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya selalu penuh makna. Membuat pendengarnya geleng-geleng kepala, atau terpaksa mengangguk tanda setuju. Tindak tanduknya tak kalah istimewa. Hanya dengan celana jeans belel pendeknya saja, siapa pun yang bersua dengannya akan segan. Dia dihormati anak buahnya. Disegani kolega bisnisnya. Dan menjadi idola para pengusaha pemula, serta wirausahawan baru era Reformasi.

 

Dalam buku ini, sekitar 100 ucapan/pendirian dan gagasan Om Bob terangkum. Dengan membaca dan menyelami makna kalimat-kalimatnya saja, bisa membikin kita berpikir dan berkomtemplasi berulang-ulang.

 

Silakan baca juga resensi buku ini dari seorang pembaca di sini… (www.resensi.ilarizky.com)

 

 

Read Full Post »

Pertengahan April 2007. Sebuah rumah dengan nomor unik, 2121, menyambutku dengan teduh. Sudah tak sabar untuk masuk ke dalamnya dan bertemu dengan seorang hebat… Bob Sadino. Kehebatannya sudah meng-indonesia dan mungkin mendunia. Dia pengusaha agribisnis yang sukses dan nyentrik.

Begitu masuk ke rumahnya, sambutan beliau luar biasa. Sungguh amat hangat, tulus dan bersahaja. Senyum dan tawanya khas. Kebapakkan sekali. Klop dengan suasana rumah beliau yang amat asri, hijau, teduh dan luas. Luas rumahnya, luas pula halamannya. Ketika duduk di deretan kursi di luar bagian samping rumah… luasnya makin menjadi. Hamparan rumput hijau membentang di bawah sana. Mungkin luasnya tidak kalah dari satu hole lapangan golf.

“Silakan bedah saya. Ibarat sebuah gitar, saya ini adalah gitar tua yang siap dipetik oleh siapapun,” ujarnya menyambut niat kami untuk membukukan nilai-nilai hidup yang dimilikinya. Saya memang tidak sendirian saat itu, melainkan bertiga bersama pengusaha Budi Utoyo dan I Nyoman Londen. Kami bertigalah yang kemudian berkolaborasi dan menghasilkan buku berjudul “Belajar Goblok dari Bob Sadino” Rekan saya yang lain I Made Teddy bergabung kemudian sebagai tim fotografi proyek buku tersebut serta Edy Zaqeus sebagai penulis buku kedua “Mereka Bilang Saya Gila.”

Sungguh sebuah pengalaman tak terlupakan dan mengubah begitu banyak jalan hidup saya, ke arah yang sangat positif, selama proses dan setelah buku itu diterbitkan. Om Bob benar-benar manusia langka, unik, nyentrik namun memiliki nilai-nilai dan prinsip hidup yang sulit ditemukan pada manusia Indonesia kebanyakan. Dia wajar berhasil. Dia pantas sukses. Cara berpikirnya bukan hanya “out of the box” tapi mungkin “out of the world”. Sampai detik ini, saya belum pernah lagi berjumpa atau mengetahui orang dengan cara berpikir melebihi cara Om Bob berpikir. He is the only one and the one only.

Syarat Penulisan Buku

Beliau mengajukan syarat ketika niat kami membukukan nilai hidupnya. Pertama, tidak setuju dijadikan buku biografi. “Sudah banyak yang minta, tapi om tolak!” ujarnya tegas. Beliau menjelaskan, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan hidupnya. “Buat apa kisah hidup Om dibukukan…” kira-kira demikian alasannya. Yang kedua, “Kalau mau membedah om, jangan hanya oleh satu dua orang. Tapi kumpulkan banyak orang dari latar belakang berbeda, terus bedahlah bersama-sama…”

Dengan dua syarat itulah kemudian kami merancang buku tersebut. Saya amat sering berbincang dengan beliau selama beberapa bulan, baik hanya berdua maupun bersama rekan yang lain. Juga berdiskusi ramai-ramai, melibatkan sejumlah publik figur dan juga orang biasa. Pernah suatu hari datang seorang perempuan usia 30-an datang ke rumah 2121. Kami tidak mengenalnya. Saat itu, kami sedang berdiskusi ngalor ngidul.

Saya baru tahu bahwa selama ini sudah banyak orang seperti itu, yang tidak dikenal Om Bob, datang ke rumahnya. Om menerima dengan ramah. Diajaknya mengobrol ke sana ke mari. Bahkan sempat berfoto-foto juga. Setelah sekian lama berbincang, keluarlah tujuan utama perempuan tadi datang ke rumah Om Bob.

“Saya mau minta bantuan om. Saya sedang memulai usaha, mungkin om bisa bantu mencarikan modal atau memberi modal…” ujar perempuan itu.

Saya dan rekan-rekan kaget juga. Dalam hati agak dongkol mendengar permintaan perempuan tersebut. Baru kenal, sudah berani meminta modal. Tapi apa sikap dan jawaban Om Bob menjadi pelajaran berharga bagi kami. Dia tidak mengubah aura positifnya. Tetap ramah dan lembut serta penuh guyonan. “Kalau mau modal, kamu salah tempat. Di sini bukan tempat mencari modal. Gih sana kamu ke bank kalau mau cari modal,” ujar Om Bob tanpa nada kesal.

Keramahan beliau kepada semua orang, baik yang sudah dikenalnya atau belum, sungguh membekas di hati banyak orang. Sejumlah kawan dan kolega saya menceritakan pengalamannya bertemu dengan om Bob, dengan variasi kisah amat beragam tapi kesimpulan yang sama. Mereka merasa diistimewakan oleh Om Bob.

Begitu pun yang dialami para figur publik yang kami undang khusus untuk membedah beliau, pada suatu hari yang cerah di rumah 2121. Mereka berasal dari kalangan pengusaha, akademisi, pegawai, wartawan dan juga artis. Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Untuk mewakili cara pandang yang berbeda. Bak seorang dosen senior sekelas profesor, Om Bob memberikan penjelasan di depan kami tentang beragam nilai hidup yang diyakininya, khususnya dalam berbisnis.

Sonny Tulung, artis yang hadir pada saat itu, merasakan bagaimana dirinya mendapatkan hujatan berkali-kali dari Om Bob. “Goblok kamu…” ujar Om Bob, menanggapi pendapat Sonny tentang suatu hal. Kami semua terkekeh mendengarnya. Begitu pula yang dialami Ketut Teja, Wakil Rektor Swiss German University dan Ketut Suardhana Linggih, pemilik Ganeca Ecact. Mereka mendapatkan hujatan yang sama setiap kali memberikan komentar.

Sehari penuh kami membedah sang master. Seharian itu pula hujatan sang master memenuhi ruangan. Namun kami bahagia. Kami merasa diistimewakan oleh sang master. Jaya Setiabudi, pengusaha muda asal Batam yang kemudian sukses dengan buku “The Power of Kepepet” menjadi orang yang paling banyak mendapatkan kata “goblok”. Dia tampak sangat girang setiap kali kata itu keluar dari mulut om Bob untuknya. Ternyata, dia sudah membuat seminar di Batam dengan pembicara om Bob. Judul seminarnya adalah “Belajar Goblok dari Bob Sadino.” Dari judul seminar Jaya inilah kemudian yang menjadi judul buku hasil bedah sang master.

Aneh memang. Dihujat, diledek, disudutkan… tapi bahagia. Yang dihujat justru merasa diistimewakan. Hanya om Bob yang bisa melakukannya. Tidak yang lain.

Goblokkan Diri Sendiri Dulu

Om Bob tidak sembarangan gemar berkata goblok. Sebuah filosofi luhur terkandung di dalamnya. “Sebelum kamu menggoblokkan orang lain, goblokkan dulu diri sendiri,” ujarnya pada sesi yang lebih serius. “Ibarat gelas, kalau bertemu dengan orang lain, kosongkan dulu gelas kamu…” Kami semua terdiam. Merenung.

“Paham?” tanyanya membuyarkan renungan kami.

“Goblok, kalau nggak paham!”

Dan kami semua pun bahagia.

Sebelum bertemu dengan Om Bob, “Mr I Know” saya termasuk tinggi. Saya sadar hal negatif tersebut. Namun setelah berkali-kali mendapatkan virus “goblok” dari sang master, upaya saya menurunkan kadar “Mr I Know” dalam diri membuahkan hasil. Menjadi lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara. Menjadi lebih serius menyimak dibanding menyepelekannya. Lebih sering mengosongkan gelas, untuk kemudian terisi dan kosongkan kembali.

Terlalu banyak hal baik, selama setahun hubungan amat dekat dengan beliau, yang tidak mungkin dicerita satu persatu dalam satu kesempatan. Sesungguhnya masih ada setumpuk materi hasil hubungan tersebut yang masih bisa dijadikan beberapa buku lagi.

Saya ibaratkan, “Sekolam tinta pun tak akan cukup untuk menuliskan nilai-nilai hebat yang dimiliki Om Bob.”

Peran Istri

Hampir saya akhiri tulisan ini, sebelum sebuah bisikan mengatakan, “Jangan lupakan bagaimanan prinsip Om Bob dalam berkeluarga.” Ya, Om Bob layak menjadi teladan bukan hanya dalam urusan bisnis, tapi juga dalam hubungannya dengan keluarga, khususnya dengan sang istri Mami Sulami. Hubungan yang luar biasa, yang terjalin melalui proses panjang dan berliku. Mereka berdua sangat memahami peran masing-masing, dalam mendukung pasangannya. Ketika merintis usaha dengan berjualan telur ayam, Mami Sulami-lah yang menguatkan semangat Om Bob. Pun dalam banyak hal lainnya. Mami adalah jebolan Bank Indonesia yang tentu punya cara berpikir istimewa tentang urusan keuangan dan ekonomi.

Om Bob menyebutkan betapa pentingnya peran istrinya, berkali-kali dan dalam banyak kesempatan. Dia tidak mengada-ada atau sekadar ingin menyenangkan istrinya. Kalimatnya tulus dan penuh makna. Satu kalimat yang tak akan pernah saya lupakan tentang peran istri buat om Bob adalah, “I’m just like a shit on the table, without her.”  Sebuah kalimat yang njleb. Dalem. Mungkin buat sebagian orang terasa lebai. Tapi beliau mengucapkannya dengan kesungguhan hati. Saya tahu persis kalimat itu berasal dari sanubarinya paling dalam. Saya merenung dan membayangkan wajah istri saya. Saya merenung dan meresapinya.

Ucapan itu terbukti dengan kesetiaan cinta mereka sampai maut memisahkan. Hubungan mereka luar biasa dan layak diteladani. Mami Sulami lebih dulu wafat pada Juli 2014. Sebuah kehiilangan amat besar bagi Om Bob. Dia kehilangan salah satu sayapnya. Bung Karno mengatakan, “Suami istri itu seperti burung. Jika kedua sayapnya kuat maka bisa terbang setinggi mungkin. Sebaliknya, kalau salah satu sayapnya patah, dia tidak akan bisa terbang sama sekali.” Om Bob kehilangan salah satu sayapnya…

Hari Senin sore menjelang matahari terbenam, 19 Januari 2015, enam bulan setelah ditinggal Mami Sulami, Om Bob pun menyusul menghadap Sang Kuasa dan bertemu dengan belahan jiwanya.

Saya tak mampu membalas kebaikan dan “hujatan” Om Bob kepada kami semua. Kecuali ucapan terima kasih banyak dan doa yang selalu terpanjat baik selama hidupnya, maupun kini setelah beliau hidup damai di alam baka. Selamat jalan Om. Engkau manusia istimewa. Semoga kebaikan-kebaikanmu menjadi catatan amal yang membuatmu diterima di sisi-NYA. Amin.

Read Full Post »

Buku Belajar Goblok Dari Bob Sadino karya Dodi Mawardi terbitan Kintamani Publishing, sudah menyebar ke toko buku sejak Maret 2009. Tapi itu versi hard cover dengan harga Rp 99.000. Dalam tempo beberapa bulan saja, 5000 eksemplar buku tersebut habis terjual. Untuk kategori hardcover, buku itu layak disebut bestseller.
Awal Maret ini, buku Belajar Goblok versi soft cover mulai beredar di toko buku dengan harga Rp 52.500 atau hampir setengah harga hard cover.

Isinya lebih banyak dengan penambahan beberapa artikel baru tentang manajemen bisnis Bob Sadino. Lay outnya juga lebih cantik, meski kali ini tanpa CD.

Dapatkan segera di toko buku, karena produk langka ini, dicetak terbatas, hanya 5000 eksemplar.

Read Full Post »