Feeds:
Tulisan
Komentar

Riset Novel ala E.S. Ito

Riset Novel Ala E.S. Ito
Oleh Dodi Mawardi, pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

“Untuk sebuah paragraf tentang Papua, saya harus pergi ke sana riset selama beberapa hari,” ungkap E.S. Ito penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Meede dalam sebuah diskusi penulisan novel di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Plasa Tendean lt 3, Kamis (06/11). Ito adalah penulis novel yang membuat gebrakan membungkus karyanya dengan catatan sejarah. Menjadi menarik karena selama ini, belum banyak penulis yang mampu meramu sejarah dalam sebuah karya sastra yang indah. Ito berhasil melakukannya.

Salah satu keunggulan novel-novel karya pemuda kelahiran Sumatera Barat 1981 ini, adalah risetnya yang sangat mendalam tentang sejarah. Dia mampu menguraikan dengan sangat detil bagaimana kisah para pejabat VOC Belanda di Hindia Belanda. Ito juga sukses mengambarkan dengan gamblang terowongan kota tua di sebuah sudut Jakarta. Padahal, terowongan itu hanyalah sebuah masa lalu.

Mungkin kupasan tentang novel karya Ito ini sudah usang, namun kami di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia mendapatkan banyak pencerahan tentang bagaimana menulis sebuah novel dari perspektif yang berbeda. Ternyata, untuk membuat sebuah genre novel ini butuh riset yang sangat dalam tapi sekaligus mengasyikan. Bayangkan saja, penulisnya rela keluar masuk hutan, pindah dari satu kota ke kota lainnya hanya untuk mengejar sebuah fakta, yang kadang tidak sesuai dengan catatan sejarah.

Ito pernah mendatangi sebuah pelabuhan di Makasar, bertemu dengan sesepuh di sana dan mendapatkan cerita baru. Ia juga sengaja menemui para pemimpin Dewan Rakyat Papua untuk memperoleh semangat dan jiwa mereka. Dengan melihat dan mendengar langsung dari ‘aslinya’ penulis muda ini bisa mengukir kata yang punya makna sangat kuat dan jelas.

Dalam beberapa kesempatan lain, Ito juga mewawancarai para tokoh sejarah yang tahu persis tentang tindak tanduk para pemimpin negeri ini di masa lalu. Dalam konteks ini, penulis bukan hanya sebagai penebar kata, melainkan juga seorang wartawan pemburu fakta yang harus mendalam, atau biasa disebut sebagai indepth/investigative reporting. Tidak semua orang bisa melakukannya, tapi sudah banyak orang sukses menjalankannya, termasuk penulis ini.

Tantangan riset lumayan berat. Jika Anda tidak punya kenekatan, banyak malu, sering ragu dan lain sejenisnya, lebih baik jangan pernah melakukan riset seperti Ito. Banyak kendala yang dihadapi mulai dari kesulitan menembus narasumber sampai biaya besar yang harus dikeluarkan. “Untuk foto kopi di arsip nasional saja, ada yang perlembarnya dikenai biaya Rp 3.000,” ungkapnya. “Bahkan ada sebuah film pendek yang sekali tayang, kita harus membayar Rp 3-4 juta.”

Tentu sulit bagi penulis pemula melakukan riset dengan biaya besar dan tingkat kesulitan tinggi. Tapi Ito juga awalnya begitu. Sebelum menghasilkan dua novel larisnya, dia juga menghadapi semua kesulitan tersebut. Untungnya, Ito mengaku punya banyak teman, sehingga merasa lebih dimudahkan. Misal untuk masuk ke arsip nasional, ia sudah kenal baik dengan orang dalam lewat temannya, sehingga urusan foto kopi data bisa lebih mudah. Untuk melihat lokasi yang jauh di Belanda sana, dia pun tidak perlu datang ke negeri kincir angin tersebut. Cukup meminta temannya memotret beberapa sudut kota di sana, memberikan sekelumit cerita dan mengirimkannya. Ito mampu menerjemahkan kiriman temannya tersebut dengan baik.

Semua yang dilakukan Ito dalam menyiapkan novelnya tergolong sangat serius. Untuk novel pertama – Negara Kelima – ia menghabiskan waktu selama 10 bulan, sedangkan novel Rahasia Meede, menyedot dua tahun waktunya. Waktu itu termasuk riset dan penulisan, tapi belum termasuk proses percetakan. Tapi semua waktunya tersebut memberikan hasil maksimal. Negara Kelima dicetak ulang lebih dari 3 kali, sedangkan Rahasia Meede lebih hebat lagi karena sejak diluncurkan pada 2007 silam, sampai detik ini masih dicetak ulang.

Dengan prestasinya tersebut, jangan heran kalau Ito langsung dikontrak ekslusif oleh sebuah penerbitan…

Plasa Tendean, 7 November 2009.

Workshop
”CARA CEPAT MENULIS BUKU”
METODE 12 PAS
Angkatan ke-8

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia kembali menggelar seminar menulis buku angkatan ke-8, dengan semangat lebih membara dan menggebu-gebu! Lagi pula, momentnya bertepatan dengan hari guru. Jadi workshop kali ini, memberikan kado spesial buat para guru/dosen, berupa diskon!

Waktu: Hari Sabtu 21 November 2009 pukul 09.00 sampai 17.00
Tempat: Sekolah Menulis Kreatif Indonesia, Plaza Tendean Lt 3.
Jalan Kapten Tendean Mampang Jakarta Selatan.

Biaya pelatihan Rp 350.000 (umum), Rp 150.000 (mahasiswa, guru dan dosen).
Early bird sampai dengan 15 November 2009 Rp 300.000
Untuk member Profec berlaku biaya early bird.

Benefit:
- Memperoleh SERTIFIKAT (terutama untuk guru dan dosen)
- Mendapatkan MATERI dan CD tentang industri penulisan.
- Sejumlah EBOOK tentang penulisan, novel dan skenario.
- Diskon 20% kelas intensif kursus menulis di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
- Makan siang dan cofee break.

Layanan purna workshop:
- Masuk milist para penulis.
- Dikenalkan ke penerbit terkemuka.
- Konsultasi seumur hidup.

Dalam workshop ini Anda akan memelajari:
1. Dasar-dasar Penulisan Buku.
2. Menghancurkan Blocking Mental.
3. Mengenal Industri Buku dan Penerbit
4. Cara Menembus Penerbit
5. Menemukan Ide Sesuai Selera Pasar
6. Merancang Kerangka Tulisan.
7. Mengenal METODE penulisan 12 PAS

Pembicara:
1. Dodi Mawardi (Penulis/Pelatih Menulis, Dosen UI)
2. Aloysius Ari (Wakil GM Elex Media Komputindo)
3. Ning Harmanto (Penulis & pemilik usaha ”Mahkota Dewa”)

Untuk Informasi dan pendaftaran Hubungi:
Sdri. Emma 021-33556975 08158237831

Workshop ini didukung penuh oleh Profec Author Club (PAC)

Cara pembayaran:
Paling lambat tanggal 18 November 2009, ke rekening BCA an Rachmajanti no. 6070125836. Konfirmasi setelah melakukan pembayaran ke nomor di atas.

Royalti Menulis Kecil? Ah Massa!

Oleh Dodi Mawardi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Setiap kali saya bertanya kepada kolega tentang menulis buku, salah satu jawaban yang paling sering terlontar adalah “Royaltinya kecil sih.” Jawaban itu dianggapnya sebagai pembenaran terhadap kemasalannya dalam menulis. Atau keengganannya dalam menulis. Padahal mereka yang saya ajak atau dorong untuk menulis buku adalah mereka yang punya tingkat intelektualitas tinggi, berpengetahuan luas, memiliki keahlian dan kelebihan lainnya.

Sejumlah pakar pun seolah mengamini pendapat itu, seolah-olah memang benar, bahwa royalti penulis kecil. Mereka juga tidak segan menyalahkan penerbit yang dianggap sebagai perwakilan kaum imperialis atau pemilik modal. Benarkah demikian? Coba kita urai satu per satu dan kita bandingkan dengan negara lain atau industri lainnya.

Pertama, mari kita bandingkan dengan negara lain. Ternyata oh ternyata, di semua negara di dunia ini, royalti untuk penulis sama, yaitu berkisar antara 10 persen sampai 15 persen. Tidak lebih dan tidak kurang. Di Amerika, banyak penerbit yang menerapkan sistem royalti 10% untuk penulis pemula, atau untuk buku dengan angka penjualan sampai 5.000 eksemplar. Makin banyak jumlah buku terjual, prosentasi royaltinya pun bertambah sampai maksimal 15%.

Apakah sama dengan di Indonesia? Sama persis! Kira-kira memang sebesar itulah royalti yang diperoleh penulis. Emang mau dapat berapa sehingga angkanya menjadi besar? Oh, ada calon penulis sekali lagi calon penulis yang meminta 20% bahkan 25% atau lebih. Yeee, kalau mau sebesar itu terbitkan saja bukunya sendiri, tak usah memakai penerbit. Perlu kita ketahui bahwa keuntungan penerbit untuk sebuah buku tidak pernah lebih dari 15-20%. Malah banyak yang hanya mendapat 5-10%. Hasil penjualan habis untuk biaya produksi, rabat di toko buku, diskon untuk distributor dan royalti penulis.

Dari uraian pertama ini, sudah jelas keliru kalau menyebut royalti penulis kecil, karena di semua negarapun angkanya memang sebesar itu. Lalu kenapa penulis-penulis di Amerika atau negara lain lebih makmur dibanding di Indonesia? Hehe, jangankan penulis, di semua bidang lain pun memang keadaannya demikian bukan? Apakah artis Indonesia lebih makmur dibanding artis Amerika? Apakah olahragawan Indonesia lebih makmur dibanding atlet Amerika? Apakah penyanyi Indonesia lebih makmur dibanding penyanyi Amerika? Jawabannya sudah jelas, tidak!

Kondisi di sana sama sekali berbeda. Yang membuat penulis di Amerika bisa menikmati royalti besar karena jumlah buku yang terjual rata-rata lebih banyak. Kalau di Indonesia rata-rata hanya 3000 eksemplar, maka di Amerika rata-rata 10.000 eksemplar bahkan lebih. Pengeluaran orang Amerika untuk membeli buku jauh lebih tinggi dibanding orang Indonesia. Sebuah survey di negara itu menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika selama hidupnya membaca 1000 judul buku.

Kedua, mari kita bandingkan dengan industri musik yang juga banyak menggunakan sistem royalti. Secara kasat mata, tingkat kemakmuran artis jauh melebihi penulis. Kenapa bisa demikian? Apakah karena royalti mereka lebih besar? Perlu kita ketahui bahwa royalti penyanyi rata-rata hanya 5%. Penyanyi pendatang baru mungkin saja hanya dinilai 2,5% royalti. Sebaliknya penyanyi top, bisa mendapatkan maksimal 10%, sekali lagi maksimal. Jarang-jarang yang bisa mendapatkan royalti sebesar itu. Lalu kenapa mereka bisa lebih kaya dibanding penulis?

Ternyata jumlah kaset dan cd (sekarang ditambah ring back tone) jauh lebih besar daripada peredaran buku. Masyarakat Indonesia lebih menghargai karya musik dibanding karya tulis. Mereka rela mengeluarkan uang antara Rp 20.000 (kaset) sampai Rp 35.000 (untuk CD) dan Rp 7.000 (RBT/bulan). Sehingga jumlah edar sebuah album lagu, bisa menembus angka 50.000 (standar keberhasilan) sampai 2 juta copy. Jadi, wajar mereka makmur karena meski royaltinya hanya 5% tapi volumenya besar, sehingga nilainya juga besar.

Nah, sudah jelas bukan, uang yang didapatkan penulis cenderung sedikit bukan karena prosentase royaltinya yang kecil, melainkan karena jumlah peredaran bukunya yang masih minim. Kalau mau dapat royalti melimpah, tulislah karya yang disukai pembaca seperti Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Change, Quantum Ikhlas dll.

Selamatmenjadi penulis!

Masih dibuka!
Kursus menulis intensif selama 3 bulan fiksi (novel dan cerpen) dan non fiksi (buku populer) di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia. Pendaftaran ditutup hari Kamis, 22 Oktober 2009. Kursus ini sangat intensif dan memaksa Anda untuk menghasilkan karya selama kursus, karena dibimbing oleh praktisi penulisan. Satu kelas kursus jumlah peserta maksimal hanya 10 orang.

Kursus menulis fiksi
- Setiap Kamis, jam 18.30 – 20.30 mulai 22 Oktober 2009.
- Mentor: E.S. Ito (penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Meede) dan Jonru (pengelola situs penulislepas.com)
- Biaya kursus: Rp 2.500.000 (Sampai Oktober ini diskon 20%)

Kursus menulis non fiksi
- Setiap Jumat, jam 18.30 – 20.30 mulai 23 Oktober 2009.
- Mentor: Dodi Mawardi (penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino dan pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia).
- Biaya kursus: Rp 2.500.000 (sampai Oktober ini diskon 20%).

Layanan selama kursus:
- Mendapatkan bimbingan intensif di kelas dan di luar kelas.
- Mendapatkan materi kursus yang lengkap.
- Gratis buku “Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 PAS” karya Dodi Mawardi.
- Ruangan kelas yang sangat nyaman
- Gratis minuman dan makanan ringan

Layanan purna kursus:
- Konsultasi seumur hidup
- Karya peserta akan disalurkan ke penerbit bonafid (Elex Media, Penebar Swadaya, Tiga Serangkai dll).
- Jaminan karya diterbitkan!

Jangan sia-siakan kesempatan menulis buku sendiri dan belajar dari ahlinya.

Segera daftarkan ke:
Emma 08158237831, 021-33556975
Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia
Plasa Tendean lt 3.

SEMINAR MENULIS SKENARIO

Industri penulisan merupakan salah satu sektor yang paling prospektif, sesuai dengan terus meningkatnya intelektualitas masyarakat. Diantara bidang penulisan yang paling menjanjikan adalah penulisan skenario film dan sinetron. Dalam sehari, lebih dari 20 sinetron tayang di televisi dan dalam setahun puluhan (semoga kelak ratusan) judul film Indonesia diputar di bioskop. Industri ini butuh banyak penulis skenario!

Bagi Anda yang berminat memasuki industri penulisan skenario film/sinetron, jangan lewatkan seminar setengah hari, tentang seluk beluk industri ini dan trik/tips untuk terjun ke sana. Seminar ini akan memberikan wawasan dan bekal pengetahuan kepada Anda, bagaimana industri ini sesungguhnya. Bukan hanya itu, seminar juga memberikan tips dan trik jitu memulai karir sebagai penulis skenario serta memulai menulis.

Seminar “Tips & Trik Menjadi Penulis Skenario Film/Sinetron Andal”
Waktu: Sabtu, 17 Oktober 2009, jam 9.00 – 12.00 Wib.
Tempat: Hall Plasa Tendean Lt 4. Jl. Kapt Tendean Mampang Jakarta Selatan.
Investasi: Rp 100.000,-

Materi:
1. Mengenal industri penulisan khususnya skenario.
2. Trik dan tips memasuki industri penulisan.
3. Bagaimana memulai menjadi penulis skenario.
4. Tips dan trik menembus televisi dan production house.

Pembicara:
1. Dono Indarto (Penulis skenario > 1000 episode sinetron termasuk “Terlanjur Cinta” sedang tayang di SCTV).
2. Dodi Mawardi (Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia).

Fasilitas:
1. Seminar kit
2. Ruang nyaman karena baru diresmikan.
3. Snack dan minuman.

BONUS (untuk 25 pendaftar pertama):
1. Gratis CD tentang Industri Penulisan senilai Rp 25.000
2. Voucher kursus menulis di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
3. Voucher kursus menulis di Sekolah Menulis Online.

Cara pembayaran:
1. Transfer ke rekening BCA KCP Bina Mulya an Rachmajanti no. 6070125836, paling lambat 15 Oktober 2009.
2. Bayar di lokasi sebelum acara berlangsung.

Info lebih lanjut:
Emma 021-33556975 021-26870470 08158237831

Untuk Alumni Pelatihan Metode 12 PAS dan Profec Author Club (PAC) kami mengundang Anda untuk berpartisipasi sekalian reunian, dengan potongan investasi 50%. Milist Profec 20%. Untuk mahasiswa dan pelajar diskon 50%.

Kursus Menulis Gratis
(untuk Pengangguran, Anak Yatim Piatu dan Korban Bencana Alam)

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Sekolah Menulis Kre@tif (SMK) Indonesia menyediakan kursus menulis buku, GRATIS untuk kalangan tidak mampu (Pengangguran, anak yatim piatu dan korban bencana alam.) SMK Indonesia menerima 20 orang (2 kelas) untuk digembleng dalam kelas penulisan buku populer selama 3 bulan.

Kelas ini terbuka bagi siapapun dari kalangan tidak mampu atau korban bencana alam, yang berminat menjadi penulis buku populer sebagai bekal kehidupan di masa mendatang. Setiap peserta yang menghasilkan naskah menarik, akan langsung disalurkan ke penerbit.

Tempat: Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia, Plasa Tendean Lt 3, Mampang Jakarta Selatan.
Waktu: Mulai 5 November 2009, setiap hari Kamis, jam 10.00 – 12.00 dan/atau 13.00 – 15.00.
Durasi: 3 bulan (5 November 2009 – 28 Januari 2009).

Syarat dan ketentuan:
- Pengangguran (belum memiliki pekerjaan tetap dan berasal dari keluarga tidak/kurang mampu).
- Anak yatim piatu (maksimal berusia 21 tahun).
- Korban bencana alam (bencana dimanapun dan kapanpun).

Pendaftaran:
Hubungi Sdri. Emma telp. 021-33556975, 26870470, 08158237831. Atau datang langsung ke Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia, Plasa Tendean Lt 3, Mampang Jakarta Selatan.

NB:
Mohon kepada Anda yang memiliki hubungan dengan mereka (pengangguran, anak yatim piatu dan korban bencana) untuk menyampaikan informasi ini. Atau forwardkan ke milist Anda atau email kolega Anda.

Selamat Idul Fitri

Salam,
Segenap pengelola dan karyawan Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430H, mohon maaf lahir dan batin.

Lebaran

Press Release: Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Resmi Beroperasi 1 September

Suyukuran web pages 1

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia (SMKI) resmi beroperasi 1 September kemarin, ditandai dengan syukuran sekaligus buka puasa bersama di Plasa Tendean lt 3 Jalan Tendean Mampang Jakarta Selatan. SMK Indonesia merupakan tempat kursus menulis pertama yang membuka kelas semi formal dan permanen di sebuah tempat strategis di kawasan Tendean Jakarta Selatan. Selama ini, tempat kursus atau pelatihan menulis lebih banyak diselenggarakan secara parsial dan lokasinya pun berpindah-pindah.

Sebelum menjadi SMK Indonesia, pengelolanya merupakan mentor dan penyelenggara pelatihan menulis di Profec (sebuah milist untuk kalangan profesional dan entrepreneur), yang sudah berkegiatan sejak Desember 2008. Perkembangan industri menulis yang semakin bergairah, membuat pengelola yakin untuk membangun Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia. Apalagi, pemerintah juga sedang menggalakkan pendidikan kejuruan berupa kursus. Klop.

Penulis buku laris Sales Kaya Sales Miskin – Tirta Setiawan mengungkapkan, harapan ke depan, sekolah ini akan menjadi sebuah akademi menulis pertama di Indonesia. Paling tidak bisa menjadi sebuah perguruan tinggi sekelas politeknik. Tirta melihat potensi ke arah tersebut terbuka lebar. Namun ia mengingatkan agar pengelola SMK Indonesia, tetap fokus menjalankan kegiatannya.

Hadir dalam cara syukuran tersebut beberapa penulis buku laris lainnya seperti Valentino Dinsi (Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian), Wahyu Saidi (penulis 31 judul buku), Freddy Pieloor (Jangan Beli Unit Link), dan  Lisa Kuntjoro (Super Champion). Selain itu, hadir pula Ketua Yayasan Puri Cikeas Marsekal (purn) Drs. Suratto, yang ikut mendukung berdirinya pusat kursus ini. Mereka sepakat Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia akan mampu menjadi salah satu tempat yang menelurkan penulis-penulis penyebar ilmu pengetahuan di negeri ini.

Suyukuran web pages 2

Pusat kursus ini menyelenggarakan berbagai kelas menulis, yaitu menulis skenario sinetron, kursus menulis buku populer non fiksi, buku fiksi (novel/cerpen), kursus menulis untuk anak-anak, kursus untuk pensiunan, ibu rumah tangga, kursus menulis privat, inhouse training/mentoring, serta kelas menulis di internet/blog.

SMK Indonesia digawangi oleh penulis (spesialis penulis pendamping) Dodi Mawardi, dan didukung oleh sejumlah penulis senior sebagai tenaga pengajar, seperti Dono Indarto (penulis skenario), Jonru (penulisan fiksi), Joko Wibowo (Editor buku anak Elex Media Komputindo), Nyuwan SB (penulis dan editor Penebar Swadaya), Johannes Arifin Wijaya (penulis produktif) dan Ning Harmanto (penulis dan pengusaha Mahkota Dewa) dll.

Kunjungi:

www.dodimawardi.com

www.dodimawardi.wordpress.com

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Plasa Tendean Lt 3 Mampang Jaksel

021-33556975

Writing Camp on Ramadhan

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Plasa Tendean Lt 3, Mampang Jakarta Selatan

Mempersembahkan:

WRITING CAMP ON RAMADHAN

”NGABUBURIT SAMBIL MENUNTASKAN BUKU”

Ngabuburit Yuk!

Menunggu buka puasa akan lebih baik jika diisi dengan kegiatan positif, salah satunya dengan menuntaskan naskah buku Anda yang belum juga tuntas. Selama 4 hari pada 2 akhir pekan, setiap peserta akan dipacu untuk merampungkan semua bahan yang selama ini belum tersusun, menjadi sebuah naskah buku yang layak terbit. Kami menyediakan asisten untuk menyelesaikan naskah tersebut sehingga buku Anda DIJAMIN tuntas tas!

Bosan? Tidak, karena kami meramu semua program dengan metode yang menarik dan menyenangkan. Apalagi, setiap peserta pun akan dipandu tahap demi tahap dalam menyelesaikan sebuah buku oleh mentor berpengalaman dan asisten terlatih. Mulai dari brainstorming ide, membuat dan mengembangkan outline, sampai menuliskan semua bahannya. Naskah yang terpuji dan potensial akan langsung dikontrak oleh penerbit terkemuka!

Menulis dan memiliki buku sendiri, masih mimpi? Tidak lagi karena ada jalan keluarnya di WCoR. Sulit mengeluarkan ide? Bukan lagi hambatan. Susah mengembangkan cerita? Itu masa lalu. Mandek dan mentok ide? Itu juga sudah kuno!

Syarat mengikuti camp ini:

-         Sudah punya IDE layak terbit dan MENGUASAI tema yang akan ditulis minimal 80%. (Konsultasi ide layak terbit, hubungi dodimawardi@yahoo.com)

-         Disarankan membawa laptop/pda atau alat tulis elektronik lainnya.

-         Diutamakan tema buku non fiksi.

Fasilitas Writing Camp on Ramadhan:

  1. Menu buka puasa (makan siang dan makanan ringan bagi non muslim).
  2. Makan malam selepas buka puasa.
  3. Kelas ber-AC.
  4. Maksimal peserta hanya 12 orang.
  5. Alat tulis dan kertas.

Benefit Writing Camp on Ramadhan:

  1. Dibantu hubungan dengan penerbit sampai tahap tanda tangan kontrak.
  2. Diskon asistensi penulisan (pendampingan penulisan) sebesar 50%.
  3. Diskon editing naskah sebesar 75%.
  4. Gratis buku Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 PAS karya Dodi Mawardi senilai Rp 29.000.
  5. Gratis CD tentang ebook menulis dan penerbitan senilai Rp 50.000.
  6. Gratis konsultasi tentang menulis dan penerbitan seumur hidup.

Mentor dan Pengajar:

  1. Dodi Mawardi, penulis buku ”Belajar Goblok dari Bob Sadino” dan ”Sales Kaya Sales Miskin” serta 20-an judul buku lainnya, Dosen UI dan Interstudi, mentor di Profec Author Club, mentor di Sekolah Menulis Online, pendiri Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
  2. Jonru, penulis ”Menerbitkan Buku itu Gampang”, pendiri Sekolah Menulis Online, pemilik milis dan situs www.penulislepas.com.
  3. Aloysius Ari,  Wakil General Manager Elex Media Komputindo.*
  4. Nyuwan S. Budiana, penulis buku agribisnis, editor Penebar Swadaya.*

Tunggu apalagi, bergabunglah bersama kami dan wujudkan buku impian Anda!

Program: Writing Camp on Ramadhan “NGABUBURIT SAMBIL  MENUNTASKAN BUKU”

Tempat: Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Hari: Sabtu – Minggu, 5-6 dan 12-13 September 2009 (4 hari @5 jam)

Waktu: Pukul 13.00 – 18.00

Peserta: Maksimal 12 orang.

Biaya: Rp 750.000 per peserta.

Informasi pendaftaran:

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Plasa Tendean Lt 3, Jalan Kapten Tendean Mampang Jakarta Selatan.

Sdri. Emma 021-33556975, 021-26870470

www.dodimawardi.com, www.dodimawardi.wordpress.com

Menulis dengan Sendok

Menulis Dengan Sendok

Mungkin Anda bertanya-tanya, “Apa bisa menulis dengan sendok?” Ha ha ha (gaya Mbah Surip), saya juga terus berpikir apakah bisa menulis dengan sendok. Bisa saja kalau di ujung sendoknya terdapat mata pena. Boleh jadi, sendoknya bukan sendok sungguhan melainkan pena berbentuk sendok. Banyak bukan pena yang dikemas dalam beragam bentuk?

Bukan, bukan itu maksud dari judul artikel ini. Menulis biasanya menggunakan pulpen atau mesin ketik atau komputer. Jarang-jarang yang masih menulis dengan batang berbahan bambu yang diruncingkan lalu dicelup ke tinta. Sedangkan sendok, sama sekali tidak lajim dijadikan sarana untuk menulis. Biasanya di seluruh budaya masyarakat seantero bumi, sendok menjadi alat untuk makan. Hanya beberapa kalangan masyarakat – terutama yang masih terbelakang – yang belum memanfaatkan sendok untuk makan. Atau bagi Anda pecinta makanan khas seperti ala Sunda dengan lalapannya, mungkin tidak memakai sendok kala makan.

Menurut buku-buku sejarah, sendok pertama kali hadir dalam peradaban manusia pada masa Paleolitikum atau zaman batu tua. Wah, ini zaman setelah pra sejarah, ribuan tahun silam. Dalam bahasa Yunani, sendok dikenal dengan sebutan Cochlea, artinya kulit kerang berbentuk spiral. Konon, dulunya sendok tidak terbuat dari besi dan sejenisnya atau plastik. Paling elit terbuat dari kulit kerang. Hmm, bisa dibayangkan bentuk kulit kerang yang cekung dengan 1001 gerigi. Sedangkan bangsa barat, mengenal sendok ini dengan sebutan Spon (cikal bakal kata Spoon), yang bermakna sebagai potongan kayu. Pada masyarakat ini, sendok terbuat dari kayu. Jadi ingat di kampung dulu di perbatasan Cianjur – Bandung, masih sempat makan pakai sendok kayu.

Nah, bagi Anda yang biasa makan dengan sendok – makan apa saja boleh – berapa kali biasanya dalam sehari memegang dan menggunakan sendok? Satu kali, dua kali? Jawabannya tidak banyak pilihan, mungkin tiga kali, empat kali atau sejumlah jari di tangan, atau tidak sama sekali karena biasa makan langsung pakai tangan. Hasil pengamatan saya di lingkungan sekitar – rumah sendiri, kantor, kampus, tetangga dll – sebagian besar menggunakan sendok 3 kali sehari, sesuai frekuensi makan nasi. Tidak termasuk makan es buah, bakso, pempek dll.

Ini kok ngomongin sendok dan makan melulu ya, apa hubungannya dengan menulis? Ha ha ha… Saya membayangkan andai kita menulis menggunakan sendok! Ah, minimal dalam sehari kita akan menulis satu atau dua kali atau sesuai jumlah makan pokok, yaitu 3 kali dalam 24 jam. Jika makan pokok disamakan sebagai menulis sungguhan yang bisa dijadikan karya tercetak – semisal menulis artikel, diari, atau menulis buku – maka menyantap makanan kecil seperti es atau pempek bisa disamakan dengan menulis sms, email dan sejenisnya. Itu bukan tulisan pokok, ha ha ha…

Maknanya? Ya kata sebagian besar orang Indonesia, kalau belum makan nasi, maka belum dianggap sebagai makan. Sama… menulis juga kalau hanya sms, email dan sejenisnya, kepala seharusnya masih kelaparan… karena belum dianggap sebagai menulis. Saya sudah membiasakan diri menulis menggunakan ‘sendok’ biar selalu lapar, kalau belum menyendok nasi… eh menulis karya!

*Terinspirasi dari sebuah gambar buku yang disandingkan dengan sendok di www.philobiblon.com, ha ha ha.

Tulisan Sebelumnya »