Feeds:
Tulisan
Komentar

Masih bingung mau menulis mulai dari mana?
Masih takut tulisan ditolak penerbit?
Belum tahu cara paling mudah dan cepat dalam menulis buku?
Tertarik menulis skenario film dan sinetron?

Kami, Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia memberikan solusinya khusus untuk Anda, dengan membuka kelas baru kursus menulis:
1. Skenario Film dan Sinetron, setiap Sabtu jam 12.15 – 14.15, mulai 6 Februari 2010 sebanyak 12 pertemuan selama 3 bulan. Mentor: Dono Indarto (10 besar penulis skenario top Indonesia). Biaya Rp 3.500.000

2. Novel dan Cerpen, setiap Jumat jam 16.00 – 18.00, mulai 29 Januari 2010 sebanyak 12 pertemun selama 3 bulan. Mentor: ES. Ito (penulis novel Rahasia Meede) dll. Biaya Rp 2.500.000

3. Buku populer, setiap Sabtu jam 10.00 – 12.00, mulai 30 Januari 2010, sebanyak 12 pertemuan selama 3 bulan. Mentor: Dodi Mawardi (penulis buku Belajar Goblok Dari Bob Sadino). Biaya Rp 2.500.000

Catatan:
- Semua kelas ditambah biaya pendaftaran Rp 150.000.
- Pelajar, Mahasiswa strata 1 dan dibawahnya diskon 40% untuk semua kelas.
- Peserta workshop Metode 12 PAS, diskon 20%.

Benefit:
- Satu kelas hanya maksimal 10 peserta.
- Dibantu mencari tema sesuai pasar/penerbit.
- Dibimbing tahap demi tahap sampai selesai.
- Berkenalan langsung dengan penerbit/production house.
- Konsultasi seumur hidup.

Partner Penerbit:
1. Elex Media Komputindo
2. Penebar Swadaya
3. Erlangga
4. Grasindo
5. Andi Yogya
6. Dll

Segera daftarkan diri Anda karena jumlah peserta sangat terbatas.

Informasi:
Emma 021-33556975, 08158237831, email: emmarahmayanti@yahoo.com
Plasa Tendean Lt 3, Mampang Jakarta Selatan.
www.dodimawardi.com

“Pesertanya luar biasa…”
Hanya itu yang bisa kami ungkapkan ketika menyelenggarakan workshop Cara Cepat Menulis Buku Metode 12 PAS di Cikarang, 16 Januari lalu. Pesertanya sangat antusias.

Mau tahu laporan selengkapnya?
Klik:

http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/banjir-hadiah-di-sekolah-menulis-cikarang/

Pesan Awal Tahun Penulis

“Buku Gurita Cikeas, Laris Manis…”
Demikian salah satu judul artikel di sebuah portal berita internet. Isinya mengulas tentang sebuah buku yang ditulis oleh sosiolog Universitas Satya Wacana George Yunus Aditjondro, yang laku dan dicari banyak pembaca. Buku ini menarik perhatian masyarakat karena isinya menguliti praktik dugaan korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh presiden dan kroninya.

Buat saya dan seharusnya sebagian besar penulis buku, berita ini menjadi kabar baik. Kenapa kabar baik? Bukan, bukan kabar baik tentang upaya pembongkaran korupsi, melainkan kabar baik tentang besarnya animo masyarakat terhadap buku ini. Fenomena ini jelas bertolak belakang dengan persepsi selama ini yang mengatakan bahwa orang Indonesia malas membaca. Atau analisis lain yang menyebutkan daya beli orang Indonesia masih sangat rendah. Dua hal tersebut dibantah oleh hadirnya buku Gurita Cikeas. Dalam hitungan hari, buku ini terjual habis dan terus dicetak ulang. Artinya, masyarakat masih terus mencari buku ini, membelinya dan membacanya.

Nah, melihat fenomena tersebut, saya menyimpulkan lagi bahwa pasar buku di Indonesia sangat empuk. Beberapa tulisan saya sebelumnya sudah menyebutkan, bahwa pasar buku di Indonesia sangat potensial. Jauh lebih potensial dibanding pasar buku di negara maju. Buku Gurita memperkuat opini tentang potensialnya pasar Indonesia. Bayangkan saja, dalam tempo tidak lebih dari seminggu, buku yang dicetak ribuan eksemplar ludes diburu pembaca.

Sekali lagi, bagi saya dan mungkin Anda penulis buku atau calon penulis buku, pesan buku Gurita sangat jelas. Langkah kita menulis buku tidak keliru. Apapun tujuan kita dalam menulis, pasar buku memang sangat menjanjikan. Dengan syarat, menulis buku yang temanya sesuai dengan keinginan atau kebutuhan masyarakat, punya manfaat buat pembaca dan sesuai dengan norma serta kaidah yang berlaku.

Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis buku, atau menunda menulis buku atau mengurungkan niat atau melemahkan niat menulis buku. Segeralah tuntaskan buku Anda, dan rasakan dampak dasyatnya. Baik dampak berupa keuntungan materi/non materi, keuntungan melejitnya nama Anda maupun keuntungan mendapatkan pahala karena berbagi ilmu kepada sesama.

Tendean, 12 Januari 2010

Dodi Mawardi
Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Solusi Cetak Murah

Anda mau mengatasi masalah tingginya biaya alat promosi berupa brosur, flier, leaflet, kartu nama dan sebagainya? kunjungi www.cetakmudah.wordpress.com

Dijamin, masalah Anda akan teratasi.

Contoh:

Brosur 1/2 kuarto full color Rp 250.000/rim

Kartu nama full color perbox Rp 40.000

Pesan Akhir Tahun Penulis

Jangan Pernah Berhenti Menulis

Jangan menyerah…
Jangan menyerah…
Jangan menyerah…

Ungkapan ini begitu terkenal sebagai pidato paling singkat yang disampaikan Perdana Menteri Inggris – Winston Churchill ketika Perang Dunia II berkobar. Dua kata sakti ini kemudian dengan sangat cantik dilantunka dalam sebuah lagu oleh grup D’Massiv. Iramanya tidak berkobar seperti Perang Dunia II, tapi tetap pas menyemangati siapapun yang sedang berjuang.

Rasanya di akhir tahun ini dan menyongsong 2010, ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan bahwa kita harus tetap penuh semangat dalam menulis. Tentu banyak hambatan dan halangan dalam menjalankan kegiatan menulis, terutama buat mereka yang menjadikan menulis hanya sebagai sampingan, atau prioritas kesekian. Tapi jangan menyerah! Teruslah menulis, sampai titik tinta penghabisan.

Target 2010
Salah satu pemacu saya sebagai penulis adalah target. Setiap tahun, saya menargetkan akan menulis berapa buku. Dalam banyak kesempatan, sudah tersebar luas target jangka panjang saya yaitu menulis 1000 (seribu) judul buku. Nah, tentu target jangka panjang itu harus diurai menjadi target tahunan, bulanan dan harian. Secara matematika, maka dalam setahun saya harus menulis sebanyak 30-an buku, dengan estimasti usia saya sampai 60-an tahun. Berarti dalam sebulan, harus selesai 3 buku, dan dalam sehari 10 halaman, dengan estimasti rata-rata buku setebal 100-an halaman.

Tahun depan, target saya adalah 30 buku dengan rincian, 6 buku sendirian, 4 buku hasil kolaborasi dan 20 buku yang ikut saya bidani prosesnya. Mulai dari menjadi editor, menjadi mentor atau siswa di Sekolah Menulis Kre@tif yang saya kelola. Selama 2010, jumlah siswa SMKI minimal 100 orang sehingga tidak muluk mengharapkan sekitar 20 diantaranya mampu menyelesaikan bukunya tepat waktu.

Selain menulis, kegiatan saya juga setumpuk. Jadi kalau Anda menuduh saya tidak sibuk, keliru besar (sibuk bukan alasan untuk tidak menulis – itu intinya). Saya masih mengajar di tiga kampus, plus mengajar di sekolah menulis online, sekolah menulis kreatif dan berbagai pelatihan. Dalam seminggu, jumlah jam mengajar saya tidak kurang dari 30 jam. Plus mengurusi tetek benget tempat kursus, melayani konsultasi, kadang siaran juga dan mengurusi percetakan buku. Masih sempat menulis? Masih banyak waktu luang kok! Waktu luang untuk menulis….

Lalu apa target Anda?
Silahkan canangkan target Anda, khususnya dalam menulis. Terserah mau menulis berapa banyak buku, yang penting segera keluar dari status sebagai manusia pra sejarah, yang sampai matinya tidak pernah menghasilkan karya, seperti buku. Raihlah predikat manusia bersejarah atau pencetak sejarah dengan menulis, menulis buku.

Ingat bangsa ini masih butuh banyak tulisan bermutu dan bermanfaat. Sayangilah ilmu dan lestarikanlah dengan cara menuliskannya. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berpesta pora dalam keburukan.

Jangan berhenti menulis
Jangan berhenti menulis
Jangan berhenti menulis

Monumenkan tulisan Anda dalam bentuk buku, karena inilah karya tulis terbaik sepanjang massa.

Selamat menulis!

Dodi Mawardi
Pengelola dan Mentor Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia
kembali menggelar pelatihan menulis sehari.
Kali ini:

Kid Writing Tour
Belajar menulis sambil jalan-jalan ke penerbit, majalah dan percetakan

Waktu: Selasa, 22 Desember 2009
Jam: 08.30 – 17.00
Lokasi:
- Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Plasa Tendean Lt 3 Mampang.
- Majalah Mombi jalan Panjang Kebon Jeruk.
- Penerbit Elex Media Komputindo Gramedia Palmerah
- Percetakan Gramedia Palmerah.

Target peserta:
Anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, usia 9 – 15 tahun.
Atau siapapun anak-anak yang tertarik dunia tulis menulis.

Materi:
- Belajar menulis dan mengarang mulai dari kisah fiksi (cerpen) sampai pengalaman/pendapat pribadi (non fiksi).
- Mengenali industri penerbitan.
- Mengetahui industri penulisan.
- Bagaimana berhubungan dengan penerbit dan majalah.

Benefit:
- Berhubungan langsung dengan praktisi penulisan, penerbitan, media massa dan percetakan.
- Bergabung dalam komunitas penulis profesional.
- Konsultasi penulisan seumur hidup bersama Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
- Diskon 20% kursus menulis di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.
- Transportasi AC, Makan Siang, Paket Buku Gratis, Paket makanan ringan, Ice Cream Break dan hadiah serta doorprize.

Investasi:
Normal Rp 450.000
Early Bird Rp 400.000 – sebelum 16 Desember 2009.
(Putra-putri member Profec berlaku early bird)

Segera ajak anak Anda bergabung di sini dan berikan keterampilan masa depan buat mereka. Tempat sangat terbatas!

Pendaftaran hubungi:
Emma 021-33556975 atau sms di 08158237831.

Oleh Dodi Mawardi

Sekolah Menulis Kreatif Indonesia

Suatu sore (14/10/09), saya ngobrol dengan seorang mahasiswa peserta perkuliahan yang saya asuh. Seperti biasa, saya memang sering sharing berbagai masalah di luar mata kuliah. Dan tampaknya mahasiswa senang karena mendapat materi lain dan berbeda. Pada pertemuan pertama pekan lalu, saya bagi-bagi pengalaman tentang dunia penulisan, motivasi dan modal untuk hidup.

 

Nah hari ini, saya tanya seorang mahasiswa berumur sekitar 19 tahun. “Kamu merokok?” tanya saya serius. “Ya…” jawabnya santai. “Berapa banyak dalam sehari?” lanjut saya. Dia terdiam sejenak, seperti sungguh-sungguh menghitung. “Ya kira-kira habis sebungkus…”

 

Saya kaget. Ya kaget. Anak semuda itu sudah menghabiskan rokok sebungkus dalam sehari. Dari sisi manapun, konsumsi rokok sebanyak itu sangat merugikan. Yang untung hanyalah buruh pabrik rokok, pedagang rokok, distributor, pemerintah lewat cukai dan terutama pemilik perusahaan rokok. Bukankah para pemilik pabrik rokok itu berulangkali menjadi manusia terkaya di Indonesia? Hasil dari asap rokok yang dikepulkan oleh mahasiswa ini.

 

“Kalau dirupiahkan berapa tuh?” saya berusaha tenang dan terus bertanya.

“Ya 10 ribuan lah sehari,” jawabnya enteng sambil melanjutkan menulis tugas yang saya berikan. “Berarti dalam sebulan kamu menghabiskan Rp 300 ribu untuk rokok?” saya berusaha meyakinkan.

“Ya…” tukasnya cepat tanpa menghitung lagi.

 

“Dik,” ujar saya,”Andai uang itu kamu belikan buku, kira-kira kamu bisa mendapatkan 10 buku,” dia bengong. “Dan kalau kamu dalam sebulan membaca 10 buku, maka kamu akan menjadi manusia yang berbeda, yang lebih berkualitas dibanding sekarang.”

 

Dia tertegun.

 

Sebelumnya saya memang bertanya, “Berapa buku yang kamu baca dalam sebulan?”

Jawaban mahasiswa kebanyakan adalah TIDAK, atau satu, dua buku saja. Itupun buku wajib!

 

Dari obrolan itu saya mengambil kesimpulan. Bangsa ini bukan berdaya beli rendah terhadap buku, melainkan memang belum sadar betapa bermanfaatnya buku untuk mengubah hidup. Saya teringat ucapan seorang bijak,”Kamu tidak akan pernah berubah kecuali karena dua hal, orang yang kamu temui dan buku yang kamu baca.” Benar sekali, kita baru akan bisa berubah menjadi lebih baik jika kita menemui orang baru yang lebih pintar, lebih bijak dan lebih lebih lainnya, atau setelah membaca buku.

 

Sayangnya, kebanyakan kita tidak menyadari hal tersebut. Daya beli kita justru diperbesar untuk hal-hal yang manfaatnya minim. Hasil beberapa survey yang saya gabungkan dalam fakta dibawah ini bisa menjadi cermin betapa kelirunya bangsa ini dalam membelanjakan uangnya. Biaya makan sehari-hari lebih dari 10% dari penghasilan, biaya transportasi sekitar 10%, biaya beli rokok sekitar 3 – 4 %, biaya beli buku 0,1%, kebutuhan sehari-hari termasuk yang konsumtif lebih dari 50%.

 

Jadi, wajar kalau bangsa ini tetap jauh tertinggal dibanding negara lain bukan?

 

Buat pemerintah, jika melihat fakta ini seharusnya mampu membuat kebijakan yang bisa mengubah budaya membaca. Salah satunya dengan menurunkan berbagai pemberat buat industri penerbitan buku, agar harga buku menjadi lebih murah dan terjangkau, kalau perlu gratis. Selain itu, menggalakkan budaya membaca sejak dini. Seperti yang dilakukan Jepang pada 1945 lalu. Setelah dibom atom, mereka bangkit dalam waktu hanya 15 tahun. Salah satunya dengan gerakan membaca, menulis dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya ke negara yang lebih pintar. Seharusnya kita bisa mencontek.

 

Ah masih ngimpi kayaknya…

Tapi paling tidak saya sudah berani bermimpi ya!

 

 

Workshop Cara Cepat Menulis Buku Metode 12 Pas angkatan ke-8, sudah berlangsung Sabtu 21 November 2009 lalu. Namun banyak catatan menarik dari workshop tersebut. Salah satunya, hadirnya sejumlah peserta dari luar Jakarta. Bukan hanya dari Tangerang, Bogor atau Bekasi melainkan dari daerah yang lebih jauh. Bapak Agus SPH sengaja ikut workshop ini karena ada agenda lain di Jakarta, pada hari Seninnya. Dia datang dari Ternate, Jumat, karena Sabtunya ingin ikut workshop. Sekali jalan, dua tiga kegiatan bisa dilaluinya.
Ternate bukan lokasi yang dekat dari Jakarta. Jika naik pesawat, butuh waktu berjam-jam dengan persinggahan. Kalau naik kapal laut, bisa berhari-hari.

Selain pak Agus, sejumlah peserta juga datang dari beberapa kota berjauhan. Misalnya dari Gorontalo, yang kebetulan sedang tugas belajar di Jakarta. Atau dari Cirebon, yang sengaja datang hanya untuk workshop ini.

Doa kami dari panitia adalah… semoga niat mulia para peserta untuk menulis buku menjadi kenyataan. Ramaikanlah negeri ini bukan dengan gosip, konflik atau perilaku tercela, melainkan dengan tumbuhan ilmu dalam bentuk buku dan tulisan.

Amin.

peserta workshop menulis

Salam.
Kami segenap pengelola dan karyawan Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mendukung terselenggaranya Workshop Cara Cepat Menulis Buku Metode 12 Pas, pada 21 November kemarin.

Alhamdulilah, workshop berjalan lancar sesuai rencana tanpa halangan apapun. Semoga kebaikan dan dukungan bapak ibu sekalian mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

peserta workshop serius berlatih

 

Terima kasih khusus kami sampaikan kepada:
1. Bpk Aluisius Arisubagijo dari Elex Media Komputindo sebagai pembicara.
2. Ibu Ning Harmanto, juga pembicara yang membawa kekuatan penuh ke acara kami.
3. Ibu Lies Sudianti, founder Profec yang bersedia hadir full time dan sharing kisahnya.
4. Bpk Johannes Arifin Wijaya, penulis/motivator yang hadir dan memberikan sekilas kisahnya.
5. Ibu Rizka Moeslichan, yang mau sharing success storynya.
6. Segenap pengurus Profec dan Profec Authors Club atas dukungan penuhnya.
7. Seluruh peserta pelatihan yang berjumlah 38 orang, termasuk peserta dari Ternate, Gorontalo, Manado dan Cirebon.

Sampai jumpa dalam workshop berikutnya.
Semoga seluruh peserta segera merealisasikan karyanya.

Wasalam,

Dodi Mawardi
Mentor menulis Profec Authors Club
Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia
Penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” dan “Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 PAS”

Riset Novel ala E.S. Ito

Riset Novel Ala E.S. Ito
Oleh Dodi Mawardi, pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia

“Untuk sebuah paragraf tentang Papua, saya harus pergi ke sana riset selama beberapa hari,” ungkap E.S. Ito penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Meede dalam sebuah diskusi penulisan novel di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Plasa Tendean lt 3, Kamis (06/11). Ito adalah penulis novel yang membuat gebrakan membungkus karyanya dengan catatan sejarah. Menjadi menarik karena selama ini, belum banyak penulis yang mampu meramu sejarah dalam sebuah karya sastra yang indah. Ito berhasil melakukannya.

Salah satu keunggulan novel-novel karya pemuda kelahiran Sumatera Barat 1981 ini, adalah risetnya yang sangat mendalam tentang sejarah. Dia mampu menguraikan dengan sangat detil bagaimana kisah para pejabat VOC Belanda di Hindia Belanda. Ito juga sukses mengambarkan dengan gamblang terowongan kota tua di sebuah sudut Jakarta. Padahal, terowongan itu hanyalah sebuah masa lalu.

Mungkin kupasan tentang novel karya Ito ini sudah usang, namun kami di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia mendapatkan banyak pencerahan tentang bagaimana menulis sebuah novel dari perspektif yang berbeda. Ternyata, untuk membuat sebuah genre novel ini butuh riset yang sangat dalam tapi sekaligus mengasyikan. Bayangkan saja, penulisnya rela keluar masuk hutan, pindah dari satu kota ke kota lainnya hanya untuk mengejar sebuah fakta, yang kadang tidak sesuai dengan catatan sejarah.

Ito pernah mendatangi sebuah pelabuhan di Makasar, bertemu dengan sesepuh di sana dan mendapatkan cerita baru. Ia juga sengaja menemui para pemimpin Dewan Rakyat Papua untuk memperoleh semangat dan jiwa mereka. Dengan melihat dan mendengar langsung dari ‘aslinya’ penulis muda ini bisa mengukir kata yang punya makna sangat kuat dan jelas.

Dalam beberapa kesempatan lain, Ito juga mewawancarai para tokoh sejarah yang tahu persis tentang tindak tanduk para pemimpin negeri ini di masa lalu. Dalam konteks ini, penulis bukan hanya sebagai penebar kata, melainkan juga seorang wartawan pemburu fakta yang harus mendalam, atau biasa disebut sebagai indepth/investigative reporting. Tidak semua orang bisa melakukannya, tapi sudah banyak orang sukses menjalankannya, termasuk penulis ini.

Tantangan riset lumayan berat. Jika Anda tidak punya kenekatan, banyak malu, sering ragu dan lain sejenisnya, lebih baik jangan pernah melakukan riset seperti Ito. Banyak kendala yang dihadapi mulai dari kesulitan menembus narasumber sampai biaya besar yang harus dikeluarkan. “Untuk foto kopi di arsip nasional saja, ada yang perlembarnya dikenai biaya Rp 3.000,” ungkapnya. “Bahkan ada sebuah film pendek yang sekali tayang, kita harus membayar Rp 3-4 juta.”

Tentu sulit bagi penulis pemula melakukan riset dengan biaya besar dan tingkat kesulitan tinggi. Tapi Ito juga awalnya begitu. Sebelum menghasilkan dua novel larisnya, dia juga menghadapi semua kesulitan tersebut. Untungnya, Ito mengaku punya banyak teman, sehingga merasa lebih dimudahkan. Misal untuk masuk ke arsip nasional, ia sudah kenal baik dengan orang dalam lewat temannya, sehingga urusan foto kopi data bisa lebih mudah. Untuk melihat lokasi yang jauh di Belanda sana, dia pun tidak perlu datang ke negeri kincir angin tersebut. Cukup meminta temannya memotret beberapa sudut kota di sana, memberikan sekelumit cerita dan mengirimkannya. Ito mampu menerjemahkan kiriman temannya tersebut dengan baik.

Semua yang dilakukan Ito dalam menyiapkan novelnya tergolong sangat serius. Untuk novel pertama – Negara Kelima – ia menghabiskan waktu selama 10 bulan, sedangkan novel Rahasia Meede, menyedot dua tahun waktunya. Waktu itu termasuk riset dan penulisan, tapi belum termasuk proses percetakan. Tapi semua waktunya tersebut memberikan hasil maksimal. Negara Kelima dicetak ulang lebih dari 3 kali, sedangkan Rahasia Meede lebih hebat lagi karena sejak diluncurkan pada 2007 silam, sampai detik ini masih dicetak ulang.

Dengan prestasinya tersebut, jangan heran kalau Ito langsung dikontrak ekslusif oleh sebuah penerbitan…

Plasa Tendean, 7 November 2009.

Tulisan Sebelumnya »